UMM Sulap SOTR Jadi Ajang Pelestarian Budaya Malang, Bukan Sekadar Bangunkan Sahur

pwmu.co – Suara kentongan yang saling bersahutan memecah keheningan dini hari di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang.Di sela irama kayu yang dipukul ritmis, seorang penari Topeng Malangan berjalan menyusuri gang-gang kampung untuk membangunkan warga sahur dengan cara yang unik. Inilah konsep berbeda Sahur On The Road (SOTR) yang digagas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada 20 Februari 2026. Berbeda dari patroli sahur yang lazim menggunakan pengeras suara atau konvoi kendaraan, UMM memadukannya dengan unsur budaya lokal. Kentongan dijadikan alat utama, sementara penari Topeng Malangan tampil sebagai representasi identitas kampung. Kolaborasi ini menghadirkan suasana sahur yang lebih semarak sekaligus sarat nilai tradisi. Penggagas Kampung Budaya Polowijen, yang dikenal sebagai Ki Demang, menyebut kegiatan tersebut sebagai pengalaman baru bagi warga. Ia mengungkapkan bahwa baru kali ini sahur dibangunkan dengan iringan penari topeng berkeliling kampung. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar memeriahkan Ramadan, tetapi juga bentuk kepedulian mahasiswa terhadap pelestarian identitas budaya. Tradisi, kata dia, perlu dihadirkan dalam ruang-ruang aktual agar tetap hidup dan tidak berhenti sebagai seremoni semata. Usai berkeliling, acara dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Topeng Malangan di titik kampung yang disebut Pawon. Tarian dengan karakter topeng yang kuat tersebut menjadi puncak rangkaian kegiatan sekaligus sarana edukasi budaya bagi mahasiswa dan generasi muda. Ki Demang menegaskan bahwa Tari Topeng Malangan merupakan warisan leluhur yang mengandung nilai karakter dan jati diri masyarakat Malang. Begitu pula kentongan yang memiliki fungsi sosial sebagai alat komunikasi warga. Ketika keduanya dipadukan dalam patroli sahur, menurutnya, tercipta kontribusi bermakna bagi pelestarian budaya. Sementara itu, Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom, menjelaskan bahwa konsep SOTR tahun ini memang dirancang sebagai kolaborasi sosial dan kultural. Mahasiswa KKN diarahkan untuk membangun kedekatan dengan masyarakat berbasis kearifan lokal, tidak sekadar menjalankan kegiatan berbagi. Ia menambahkan, pengangkatan Tari Topeng dalam momentum sahur tidak hanya mempertegas identitas budaya, tetapi juga menghadirkan pengalaman spiritual yang menyatu dengan tradisi. Kentongan dimaknai sebagai simbol solidaritas, sedangkan tari topeng merepresentasikan warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat. Kegiatan kemudian ditutup dengan sahur bersama yang didukung Hotel Kapal Garden dan Sengkaling Kuliner. Mahasiswa dan warga duduk bersama menikmati hidangan, menciptakan suasana hangat penuh kebersamaan. Momen tersebut menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, melainkan juga ajang mempererat hubungan sosial. Melalui inisiatif ini, UMM menunjukkan bahwa gerakan sosial mahasiswa dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian budaya. Patroli sahur tidak lagi sekadar tradisi membangunkan warga, tetapi menjadi medium menjaga identitas lokal. Di Polowijen, bunyi kentongan dan gerak topeng bukan hanya simbol, melainkan denyut kebersamaan yang kembali dihidupkan.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Mau Daftar Beasiswa Prestasi UMM 2026? Cek Syarat Resminya

RADAR MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang merupakan Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia yang berdiri sejak 1964 saat masih menjadi cabang dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, tetapi setelah berdiri sendiri Universitas Muhammadiyah Malang berdiri pada tanggal 1 Juli 1968. Kampus utama Universitas Muhammadiyah Malang terletak di Kota Malang, tepatnya berlokasi di Jl. Raya Tlogomas No. 246, Malang. Universitas Muhammadiyah Malang selalu memiliki banyak peminat setiap tahunnya, memungkinkan akibat penawaran yang diberikan Universitas Muhammadiyah Malang mengenai kombinasi antara kualitas pengajaran dan reputasi yang baik. Universitas Muhammadiyah Malang merupakan salah satu kampus swasta terbaik dengan akreditasi A. Penawaran yang diberikan banyak menarik pendaftar setiap tahunnya. Perguruan Tinggi Swasta pada umumnya memiliki biaya yang lebih mahal dibandingkan Perguruan Tinggi Negeri, tetapi dengan penawaran yang diberikan Universitas Muhammadiyah Malang banyak calon mahasiswa yang berminat untuk melanjutkan studi di Universitas Muhammadiyah Malang. Di sisi lainnya, banyak calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di Perguruan Tinggi Swasta tetapi terkendala biaya. Mahasiswa tidak perlu risau soal biaya. Universitas Muhammadiyah Malang menawarkan beberapa program beasiswa. Program beasiswa dapat membantu mengurangi beban finansial, meningkatkan aksesibilitas pendidikan tinggi, serta mendukung pemerataan kesempatan belajar bagi mahasiswa berprestasi atau kurang mampu secara ekonomi. Universitas Muhammadiyah Malang menawarkan program beasiswa, salah satunya beasiswa prestasi. Jalur prestasi dibuka untuk semua fakultas kecuali Fakultas Kedokteran dan Farmasi. Beasiswa jalur prestasi yang diselenggarakan terdiri dari dua jalur, yaitu prestasi akademik yang diperuntukkan kepada siswa yang memiliki nilai rata-rata rapor 80 untuk semua program studi, kecuali Psikologi yang memiliki minimal 8,5 sejak semester 1–5. Selain itu, jalur prestasi lainnya merupakan jalur prestasi yang diperuntukkan kepada mahasiswa yang memiliki prestasi di bidang olahraga, seni, karya ilmiah, pengurus organisasi, keagamaan, serta influencer. Untuk mengetahui pendaftaran, simak syarat yang telah ditentukan oleh Universitas Muhammadiyah Malang. Informasi ini dilansir melalui website resmi UMM melalui laman pmb.umm.ac.id: Syarat Pendaftaran Jalur Beasiswa Prestasi Akademik dan Nonakademik Terdapat 6 syarat yang harus dipenuhi calon pendaftar beasiswa prestasi akademik dan nonakademik Universitas Muhammadiyah Malang. Calon pendaftar mengunggah foto nilai rapor semester 1–5 menjadi 1 file dalam bentuk PDF bagi beasiswa prestasi akademik. Fotokopi piagam maupun sertifikat yang dimiliki dengan minimal tingkat kota atau kabupaten yang telah dilegalisasi oleh kepala sekolah atau pengurus daerah/klub, syarat tersebut diperuntukkan kepada pendaftar jalur nonakademik. Surat keterangan dokter bahwa tidak memiliki riwayat buta warna bagi program studi Biologi, Matematika, dan PGSD. Khusus program studi D3 Ilmu Keperawatan dan Fisioterapi memiliki persyaratan antara lain tinggi badan laki-laki minimal 155 cm dan perempuan 150 cm serta tidak memiliki riwayat tuna fisik. Hasil seleksi jalur prestasi akademik dan nonakademik dapat dilihat melalui laman online.umm.ac.id secara berkala setelah proses validasi dari tim seleksi. Menjalani tes kesehatan di Rumah Sakit UMM atau menunjukkan hasil tes kesehatan dari Rumah Sakit Pemerintah Daerah setempat atau Rumah Sakit Muhammadiyah. Biaya bukanlah faktor utama untuk gagal melanjutkan ke perguruan tinggi. Banyak perguruan tinggi negeri maupun swasta menyediakan program beasiswa, salah satunya Universitas Muhammadiyah Malang. Universitas Muhammadiyah Malang menyediakan program beasiswa untuk membantu calon mahasiswa yang terkendala biaya dan memiliki prestasi untuk tetap melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Saat Penari Topeng Malangan Keliling Kampung Bangunkan Warga untuk Sahur…

MALANG, KOMPAS.com – Warga Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang, Jawa Timur, mendapat pengalaman sahur yang tak biasa pada Jumat (20/2/2026). Alih-alih disuguhkan dengan suara pengeras atau sound system yang kencang, warga justru dibangunkan dengan suara pukulan kentongan. Penari-penari Topeng Malangan juga turut berkeliling kampung untuk membangunkan sahur. Tabuhan kentongan terdengar bersahut-sahutan di sepanjang gang sempit kampung. Di sela bunyi kayu yang dipukul berirama, seorang penari dengan topeng khas Malangan melangkah menyusuri jalan, menyapa warga yang mulai menyalakan lampu rumahnya. Kegiatan itu merupakan bagian dari program Sahur On The Road (SOTR) yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berbeda dari patroli sahur pada umumnya yang identik dengan pengeras suara atau konvoi kendaraan, mahasiswa memilih menghadirkan sentuhan budaya lokal. Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Ki Demang, menyebut bahwa kegiatan tersebut menjadi pengalaman baru yang mengesankan bagi warga setempat. “Selama ini belum pernah ada keliling kampung membangunkan sahur dengan iringan penari topeng. Ini baru pertama kali terjadi di sini,” ujar Ki Demang, Jumat (20/2/2026). Menurutnya, kolaborasi itu bukan sekadar memeriahkan Ramadhan, melainkan upaya menghidupkan kembali identitas budaya kampung yang kian pudar. “Tradisi harus dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari agar tetap relevan dan tidak hanya menjadi tontonan seremonial,” ungkapnya. Setelah berkeliling kampung, mahasiswa dan warga berkumpul di satu titik yang dikenal sebagai Pawon. Di sana, pertunjukan Tari Topeng Malangan digelar sebagai puncak acara. Gerakan tegas dengan karakter topeng yang kuat menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi generasi muda yang menyaksikan. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro menjelaskan bahwa konsep SOTR tahun ini dirancang berbeda. Mahasiswa didorong membangun kedekatan dengan masyarakat melalui pendekatan budaya. “Mengangkat Tari Topeng dalam momentum sahur bukan hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga menghadirkan pengalaman spiritual yang menyatu dengan tradisi,” kata Maharina. Menurutnya, kehadiran kentongan dalan SOTR bukan sekadar alat pembuat bunyi. Sebab, di lingkungan masyarakat, kentongan memiliki fungsi sosial sebagai alat komunikasi warga sejak dahulu. Rangkaian kegiatan ditutup dengan santap sahur bersama antara mahasiswa dan warga. Mereka duduk berdampingan menikmati hidangan yang disediakan. “Melalui konsep ini, UMM menunjukkan bahwa gerakan sosial mahasiswa bisa berjalan beriringan dengan pelestarian budaya, seperti di Kampung Polowijen ini,” pungkas Maharina.

Sahur on The Road di Kampung Budaya Polowijen, Ada Patrol dan Tari Topeng

Bisnis.com, MALANG — Kegiatan Sahur on The Road di Kampung Budaya Polowijen sepanjang Jalan Cakalang dan Jalan Polowijen II, Malang, yang diselenggarakan mahasiswa KKN Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 2026 kelompok 14 diwarnai perpaduan syiar Ramadan dengan tradisi patrol gugah sahur yang sarat nilai budaya juga pentas tari topeng. Suasana sahur terasa lebih meriah karena dukungan dari Dormi Hostel dan Kuliner Sengkaling UMM yang membagikan nasi kotak kepada warga di sepanjang rute patrol. Aksi berbagi ini memperkuat makna solidaritas dan kepedulian sosial di bulan suci. Keunikan kegiatan ini tampak dari kehadiran penari Topeng Malang di barisan terdepan rombongan. Tradisi membangunkan sahur dipadukan dengan ekspresi seni, menjadikan patrol bukan sekadar rutinitas, melainkan perayaan budaya. Di barisan belakang, para mahasiswa dan warga menabuh kentongan, kendang perkusi, galon air, ompreng, dan berbagai perkakas dapur. Bunyi ritmis yang tercipta menghadirkan semangat kolektif sekaligus menghidupkan suasana kampung. “Sahur On The Road ini membawa spirit Ramadan untuk menghidupkan kembali kebersamaan, kekompakan, budaya gotong royong, dan saling berbagi. Tahun ini akan menyasar komunitas gang motor, pedagang pasar krempyeng, serta kampung tematik di Kota Malang. Semoga berjalan lancar dan mendapat berkah Allah SWT,” ujarnya. Bagi mahasiswa KKN Kelompok 14, ini adalah penyelenggaraan kedua dan terlihat semakin mahir memainkan alat patrol. Mereka sebelumnya mendapat workshop dari Aak Agus Wayan (Arca Tatasawara) serta berdiskusi dengan Redy Eko Prasetyo (Duo Etnicholic), pembakti Kampung Cempluk, dan Arik Sugiyanto, pelestari gamelan Malang dari Lesanpuro. Proses belajar tersebut memperkaya pemahaman mahasiswa bahwa patrol bukan hanya musik ritmis, tetapi warisan tradisi dengan nilai historis dan sosial yang kuat. Rangkaian kegiatan dimulai dan berakhir di Kampung Budaya Polowijen, dilanjutkan dengan penampilan Tari Topeng Grebeg Sabrang pada pukul 03.00 dini hari, suatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Maknan tarian tersebut, yakni  anak-anak muda tidak hanya “menyabrang” kampung untuk membangunkan sahur, tetapi juga menampilkan simbol keberanian dan semangat melalui tari Grebeg Sabrang. Ki Demang, penggagas Kampung Budaya Polowijen, menyampaikan apresiasi atas kepedulian UMM terhadap pelestarian tradisi patrol kentongan. “Kami berterima kasih karena UMM peduli pada pelestarian tradisi. Kentongan adalah alat komunikasi kewaspadaan dan informasi; setiap pukulan punya arti dan makna, selain sebagai kesenian musik tradisional,” ujarnya. Dia menambahkan bahwa menghidupkan kembali kentongan penting untuk mengimbangi perubahan patrol modern yang kini banyak menggunakan musik tong-tong bahkan sound horeg, agar akar budaya tetap terjaga. Kehadiran UMM dalam mendampingi Patrol Sahur On The Road di Kampung Budaya Polowijen, dia menilai, menjadi inspirasi bahwa Ramadan dapat menjadi momentum membangunkan bukan hanya warga untuk sahur, tetapi juga kesadaran generasi muda untuk menjaga tradisi dan warisan budaya Nusantara.

Saur On The Road Hidupkan Tradisi Patrol di Polowijen

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Suasana Jumat dini hari, 20 Februari 2026, di sepanjang Jalan Cakalang dan Jalan Polowijen II, Kota Malang, mendadak semarak. Ratusan warga menyambut giat Saur On The Road yang digelar mahasiswa KKN Tematik UMM 2026. Kegiatan ini memadukan syiar Ramadan dengan tradisi patrol gugah sahur yang sarat nilai budaya lokal. Memasuki hari kedua pelaksanaan, suasana semakin meriah dengan dukungan dari Dormi Hostel dan Kuliner Sengkaling UMM yang membagikan nasi box kepada warga di sepanjang rute patrol. Aksi berbagi tersebut memperkuat makna solidaritas sosial di bulan suci Ramadan. Keunikan Saur On The Road tahun ini tampak dari kehadiran penari Topeng Malang di barisan terdepan rombongan. Tradisi membangunkan sahur dipadukan dengan ekspresi seni, menjadikan patrol bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan perayaan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Di barisan belakang, mahasiswa dan warga kompak menabuh kentongan, kendang perkusi, galon air, ompreng, hingga perkakas dapur. Bunyi ritmis yang tercipta menghadirkan energi kolektif sekaligus menghidupkan suasana kampung. Nurul Hamida, Humas UMM, sebelum santap sahur bersama menyampaikan salam pimpinan universitas dan menegaskan makna kegiatan tersebut. “Saur On The Road ini membawa spirit Ramadan untuk menghidupkan kembali kebersamaan, kekompakan, budaya gotong royong, dan saling berbagi. Tahun ini akan menyasar komunitas gang motor, pedagang pasar krempyeng, serta kampung tematik di Kota Malang. Semoga berjalan lancar dan mendapat berkah Allah SWT,” ujarnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa kegiatan ini bukan agenda seremonial, melainkan bagian dari pengabdian sosial dan kultural UMM kepada masyarakat luas. Bagi mahasiswa ini merupakan penyelenggaraan kedua dan terlihat semakin piawai memainkan alat patrol. Sebelumnya, mereka mendapat workshop dari Aak Agus Wayan (Arca Tatasawara) serta berdiskusi dengan Dr. Redy Eko Prasetyo (Duo Etnicholic), pembakti Kampung Cempluk, dan Arik Sugiyanto, pelestari gamelan Malang dari Lesanpuro. Proses belajar tersebut memperkaya pemahaman mahasiswa bahwa patrol bukan sekadar musik ritmis, melainkan warisan tradisi dengan nilai historis dan sosial yang kuat. Rangkaian kegiatan dimulai dan berakhir di Kampung Budaya Polowijen. Acara dilanjutkan dengan penampilan Tari Topeng Grebeg Sabrang pada pukul 03.00 dini hari—sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ki Demang, penggagas Kampung Budaya Polowijen, mengapresiasi kepedulian UMM terhadap pelestarian tradisi patrol kentongan. “Kami berterima kasih karena UMM peduli pada pelestarian tradisi. Kentongan adalah alat komunikasi kewaspadaan dan informasi; setiap pukulan punya arti dan makna, selain sebagai kesenian musik tradisional,” ujarnya. Ia menambahkan, menghidupkan kembali kentongan penting untuk mengimbangi perubahan patrol modern yang kini banyak menggunakan musik tong-tong bahkan sound horeg, agar akar budaya tetap terjaga. (aim)

Kajian Ramadan UMM, Momentum Bangun Keikhlasan

MAKLUMAT – Bulan suci Ramadan dimaknai sebagai momentum membangun ulang arah hidup dan ketulusan dalam bekerja. Itulah pesan utama dalam kajian Ramadan yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Masjid A.R. Fachruddin, Kamis (19/2/2026). Kajian yang menjadi rangkaian kegiatan Ramadan kampus tersebut menghadirkan Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah menjadikan Ramadan bukan sekadar rutinitas menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai ruang “rekonstruksi niat” agar setiap aktivitas memiliki makna ibadah. “Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperbaiki niat. Niat itu dinamis, harus terus diarahkan menuju yang paling baik,” ujarnya di hadapan civitas akademika. Jembatan Peningkatan Etos Kerja Menurutnya, ibadah seperti puasa, zakat, dan infak bukan ritual spiritual, melainkan sarana membangun kekuatan ikhlas dalam diri. Niat yang lurus, lanjutnya, memberi dampak luas, baik bagi diri sendiri maupun pengaruh positif pada lingkungan sekitar. Dalam kajian tersebut, Nazar, sapaan lekatnya, memperkenalkan konsep empty motive. Yakni kondisi ketika seseorang tetap memiliki tujuan, namun hatinya bersih dari pamrih pujian atau imbalan manusia. Kemurnian niat inilah yang diyakini mampu meningkatkan kualitas amal sekaligus profesionalitas. Kajian Ramadan yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang ini juga menjadi sarana memperkuat etos kerja civitas akademika. Nazar menekankan pentingnya melepaskan ego sektoral dan individual demi kemajuan institusi. Pertebal Spiritualitas dan Peningkatan SDM “Kemajuan tertinggi adalah ketika kita mampu melepaskan ego. Tidak perlu ada yang tahu siapa paling berkontribusi. Yang penting institusi melahirkan yang terbaik lewat semangat gotong royong,” tegasnya. Ia juga menyinggung kemajuan sejumlah negara Asia seperti Jepang, Korea, dan China yang dinilainya lahir dari perubahan pola pikir kolektif untuk terus memperbaiki diri. Semangat itulah yang menurutnya perlu ditumbuhkan di lingkungan kampus. Menutup kajian, Nazar mengutip Surah Al-Bayyinah ayat 5 tentang pentingnya memurnikan ketaatan kepada Allah. Ia berharap nilai keikhlasan dapat menjadi pengawas dalam setiap tindakan, sehingga pekerjaan profesional sekalipun tetap bernilai ibadah. Melalui kajian Ramadan ini, Universitas Muhammadiyah Malang menegaskan komitmennya menjadikan bulan suci sebagai momentum memperkuat spiritualitas sekaligus integritas, demi membangun kemajuan bersama.

Budaya Saur On The Road UMM di KBP: Spirit Ramadan dan Pelestarian Tradisi

RRI.CO.ID, Malang – Sepanjang Jalan Cakalang dan Jalan Polowijen II, Malang, ramai oleh giat Saur On The Road yang diselenggarakan mahasiswa KKN Tematik UMM 2026 Kelompok 14, pada Jumat 20 Februari 2026. Kegiatan ini memadukan syiar Ramadan dengan tradisi patrol gugah sahur yang sarat nilai budaya. Memasuki hari kedua, suasana terasa lebih meriah karena dukungan dari Dormi Hostel dan Kuliner Sengkaling UMM yang membagikan nasi box kepada warga di sepanjang rute patrol. Aksi berbagi ini memperkuat makna solidaritas dan kepedulian sosial di bulan suci. Pemakaian alat tradisional kentongan, kenong, kendang, galon dan perkakas rumah tangga untuk patrol sahur on the road keliling Polowijen (Foto: KBP Malang) Keunikan kegiatan ini tampak dari kehadiran penari Topeng Malang di barisan terdepan rombongan. Tradisi membangunkan sahur dipadukan dengan ekspresi seni, menjadikan patrol bukan sekadar rutinitas, melainkan perayaan budaya. Di barisan belakang, para mahasiswa dan warga menabuh kentongan, kendang perkusi, galon air, ompreng, dan berbagai perkakas dapur. Bunyi ritmis yang tercipta menghadirkan semangat kolektif sekaligus menghidupkan suasana kampung. Nurul Hamida, Humas UMM, sebelum santap sahur bersama menyampaikan salam pimpinan universitas dan menegaskan makna kegiatan ini. “Saur On The Road ini membawa spirit Ramadan untuk menghidupkan kembali kebersamaan, kekompakan, budaya gotong royong, dan saling berbagi. Tahun ini akan menyasar komunitas gang motor, pedagang pasar krempyeng, serta kampung tematik di Kota Malang. Semoga berjalan lancar dan mendapat berkah Allah SWT,” ujarnya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari pengabdian sosial dan kultural UMM kepada masyarakat luas. Bagi mahasiswa KKN Kelompok 14, ini adalah penyelenggaraan kedua dan terlihat semakin mahir memainkan alat patrol. Mereka sebelumnya mendapat workshop dari Aak Agus Wayan (Arca Tatasawara) serta berdiskusi dengan Dr. Redy Eko Prasetyo (Duo Etnicholic), pembakti Kampung Cempluk, dan Arik Sugiyanto, pelestari gamelan Malang dari Lesanpuro. Proses belajar tersebut memperkaya pemahaman mahasiswa bahwa patrol bukan hanya musik ritmis, tetapi warisan tradisi dengan nilai historis dan sosial yang kuat. Rangkaian kegiatan dimulai dan berakhir di Kampung Budaya Polowijen, dilanjutkan dengan penampilan Tari Topeng Grebeg Sabrang pada pukul 03.00 dini hari—sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Penari Topeng Kampung Budaya Polowijen di arak patrol Saur On The Road UMM keliling Polowijen (Foto: KBP Malang) Maknanya mendalam: anak-anak muda tidak hanya “menyabrang” kampung untuk membangunkan sahur, tetapi juga menampilkan simbol keberanian dan semangat melalui tari Grebeg Sabrang. Ki Demang, penggagas Kampung Budaya Polowijen, menyampaikan apresiasi atas kepedulian UMM terhadap pelestarian tradisi patrol kentongan. “Kami berterima kasih karena UMM peduli pada pelestarian tradisi. Kentongan adalah alat komunikasi kewaspadaan dan informasi; setiap pukulan punya arti dan makna, selain sebagai kesenian musik tradisional,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa menghidupkan kembali kentongan penting untuk mengimbangi perubahan patrol modern yang kini banyak menggunakan musik tong-tong bahkan sound horeg, agar akar budaya tetap terjaga. Kehadiran UMM dalam mendampingi Patrol Saur On The Road di Kampung Budaya Polowijen menjadi inspirasi bahwa Ramadan dapat menjadi momentum membangunkan bukan hanya warga untuk sahur, tetapi juga kesadaran generasi muda untuk menjaga tradisi dan warisan budaya Nusantara. (Mey)

UMKM Desa Minim Literasi Digital, KKN UMM Dorong Transformasi Pemasaran Online

  pwmu.co – Di tengah percepatan digitalisasi ekonomi yang menuntut pelaku usaha beradaptasi, UMKM di desa masih kerap tertinggal dalam pemanfaatan teknologi dan perluasan akses pasar.Menanggapi kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan program penguatan penjualan berbasis digital bagi pelaku UMKM di Desa Beji, Kota Batu. Tak hanya sebatas sosialisasi, mereka juga menyiapkan pendampingan berkelanjutan serta merintis pembentukan Klinik UMKM sebagai ruang konsultasi terbuka bagi masyarakat. Program ini lahir dari besarnya potensi lokal Desa Beji yang dikenal dengan produk olahan tempe seperti tempe mentah, abon tempe, keripik tempe, hingga batik tempe. Selain itu, terdapat pula produk jamu, mie tempe, dan susu kedelai yang menopang perekonomian warga. Sayangnya, mayoritas pelaku usaha masih mengandalkan pemasaran konvensional dengan jangkauan terbatas. Ketua Tim KKN Desa Beji, Muhammad Fachri, mahasiswa Kesejahteraan Sosial angkatan 2023, menyampaikan bahwa fokus utama kegiatan adalah memperkuat digital branding agar produk UMKM mampu menembus pasar yang lebih luas. Menurutnya, potensi usaha di Desa Beji cukup besar, namun perlu didukung strategi pemasaran yang lebih modern. Karena itu, tim KKN membangun fondasi mulai dari penguatan identitas merek hingga pendampingan penggunaan media sosial. Kegiatan diawali dengan pelatihan digital marketing yang diikuti sejumlah pelaku UMKM. Instagram dikenalkan sebagai platform promosi yang mudah digunakan dan memiliki jangkauan luas. Sebelum mengoptimalkan media sosial, mahasiswa terlebih dahulu memberikan pelatihan fotografi produk guna meningkatkan kualitas visual promosi. Materi pelatihan meliputi teknik pengambilan gambar, pengaturan pencahayaan sederhana, serta pembuatan video promosi. Warga diajak memahami pentingnya tampilan visual dalam membangun kepercayaan konsumen di ranah digital. Pendampingan dilakukan secara bertahap, baik melalui diskusi kelompok maupun kunjungan langsung ke tempat usaha. Saat ini, enam UMKM aktif terlibat, antara lain produsen batik tempe, keripik tempe, tempe mentah, mie tempe, dan susu kedelai. Meski masih dalam tahap pelaksanaan, program ini mulai menunjukkan dampak positif berupa meningkatnya semangat dan kesadaran pelaku usaha untuk membangun branding yang lebih profesional. Untuk menjaga keberlanjutan program, mahasiswa menggagas pembentukan Klinik UMKM Desa Beji sebagai pusat konsultasi pemasaran, pengembangan merek, dan strategi usaha. Klinik ini diharapkan tetap berjalan meski masa KKN telah usai. Fachri berharap UMKM Desa Beji dapat berkembang lebih maju, baik dari sisi promosi, kualitas produk, maupun penguatan merek. Klinik tersebut dirancang agar pendampingan tidak berhenti setelah program KKN berakhir. Dosen Pembimbing Lapang, Moch Fuad Nasvian, M.I.Kom., menilai pelatihan pemasaran digital merupakan kebutuhan mendasar untuk membangun pola pikir adaptif pelaku UMKM terhadap perkembangan zaman. Menurutnya, aspek teknis memang dapat dipelajari secara mandiri, namun pembentukan mindset memerlukan pendampingan langsung. Ia berharap inisiatif ini dapat dikembangkan lebih sistematis oleh universitas melalui program desa binaan atau layanan berbasis kampus. Melalui program tersebut, mahasiswa KKN menegaskan peran strategisnya sebagai agen perubahan sosial. Tidak sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi turut menghadirkan solusi berkelanjutan yang mendorong UMKM Desa Beji menjadi lebih adaptif, kompetitif, dan siap menghadapi tantangan ekonomi digital.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Ramadan sebagai Momentum Rekonstruksi Niat, Rektor UMM Ajak Bangun Peradaban Lebih Baik

  pwmu.co – Bulan Ramadan dimaknai sebagai saat yang tepat untuk menata ulang arah hidup dan meluruskan ketulusan hati. Lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, Ramadan disebut sebagai ruang refleksi untuk melakukan “rekonstruksi niat” agar setiap aktivitas memiliki makna mendalam.Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam kajian Ramadan di Masjid A.R. Fachruddin UMM, Kamis (19/2/2026). Kajian ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Ramadan UMM yang dirancang untuk memperkuat spiritualitas sekaligus etos kerja civitas akademika. Bulan suci dijadikan momentum meneguhkan integritas, keikhlasan, dan semangat kemajuan bersama. Dalam ceramah yang berlangsung pada hari kedua Ramadan 1447 H itu, Nazar—sapaan akrabnya—mengajak jamaah bersyukur karena masih diberi kesempatan bertemu bulan penuh keberkahan dan nilai keikhlasan. Ia menegaskan bahwa niat bersifat dinamis dan perlu terus diperbarui. Puasa, zakat, dan infak disebutnya sebagai sarana melatih keikhlasan sekaligus membangun kualitas diri. Menurutnya, niat yang tulus tidak hanya berdampak pada diri pribadi, tetapi juga memberi pengaruh positif bagi lingkungan sekitar. Nazar menjelaskan bahwa niat harus senantiasa diarahkan menuju kebaikan tertinggi. Ketika niat yang baik diwujudkan dalam ibadah dan pekerjaan, manfaatnya akan terasa secara sosial. Dalam kesempatan itu, ia juga mengenalkan konsep empty motive, yakni kondisi ketika seseorang tetap memiliki tujuan, namun terbebas dari keinginan untuk dipuji atau memperoleh imbalan manusia. Kemurnian niat, menurutnya, akan memperkuat kualitas amal sekaligus profesionalitas. Lebih lanjut, ia menyinggung kemajuan sejumlah negara seperti Jepang, Korea, dan China yang dinilai berhasil bertransformasi melalui perubahan pola pikir dan budaya kerja. Kemajuan tersebut, katanya, lahir dari kesadaran kolektif untuk terus memperbaiki diri dan bergerak menuju tahap yang lebih tinggi. Dalam konteks kelembagaan, ia menekankan pentingnya keikhlasan sebagai fondasi kemajuan institusi. Seluruh civitas akademika UMM, baik dosen maupun tenaga kependidikan, diajak meninggalkan ego sektoral dan individual demi kepentingan bersama. Ia menegaskan bahwa kemajuan tertinggi tercapai ketika setiap individu mampu melepaskan ego pribadi. Bukan soal siapa yang paling berperan, melainkan bagaimana institusi dapat melahirkan capaian terbaik melalui semangat gotong royong dan kebersamaan. Menutup kajian, Nazar mengutip surah al-Bayyinah ayat 5 sebagai pengingat untuk memurnikan ketaatan kepada Allah. Ia berharap nilai keikhlasan dapat menjadi kontrol diri dalam setiap tindakan, sehingga seluruh aktivitas profesional bernilai ibadah dan memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Alumni Universitas Muhammadiyah Malang Ciptakan 4 Lagu Religi Bahasa Kedang Jelang Ramadhan, Viral di Media Sosial

LEMBATA, DELIKNTT.COM – Menyambut bulan suci Ramadhan 2026, dua alumni magister dari Universitas Muhammadiyah Malang kembali menorehkan karya inspiratif lewat empat lagu religi berbahasa Kedang yang kini mulai viral di media sosial. Muh. Rifai Aprianus Mukin, M.Pd dan Sudarjo Abd. Hamid, M.Pd dikenal sebagai sosok pendidik yang tak pernah berhenti berkarya. Selain aktif di dunia literasi, keduanya juga produktif menciptakan lagu lintas genre. Kali ini, mereka menghadirkan karya religi yang sarat nilai spiritual dan kearifan lokal masyarakat Kedang. Rifai yang berasal dari Nagi Larantuka mengaku memiliki kedekatan emosional dengan bahasa Kedang. Puluhan tahun mengajar dan pernah menjabat sebagai kepala madrasah di wilayah Kedang membuatnya akrab dengan bahasa tersebut. Dalam proyek lagu religi ini, Rifai berperan sebagai arranger atau pengatur instrumen untuk empat lagu berbahasa Kedang. Ia menata komposisi musik dengan penuh ketelitian agar menyatu dengan kekuatan lirik. Sementara itu, Sudarjo bertindak sebagai komposer. Uraian lirik yang ia tulis dinilai begitu menyentuh dan dekat dengan realitas kehidupan masyarakat Kedang, sehingga cepat mendapat respons positif dari warganet. Empat lagu yang telah beredar tersebut berjudul: “Ula Laleng” (Bulan Ramadhan) “Ula Laleng Adan Hawar” (Hadirnya Bulan Ramadhan) “Ino E’i Wowo Tokong” (Ibu Aku Tak Bersuara) “Sahor Pulung Ino Tokong” (Sahur Tiada Ibu) Keempat lagu religi ini lahir dari perenungan mendalam dan menjadi momen reflektif dalam menyongsong bulan penuh berkah. Saat ditemui awak media pada Jumat (20/02/2026), Rifai mengungkapkan bahwa beberapa lagu tersebut mulai viral di media sosial. “Beberapa lirik lagu sahabatku Sudarjo yang saat ini lumayan viral di medsos. Di akun saya dalam satu hari mencapai enam ratus penonton. Saya kira liriknya sangat kental dengan kehidupan masyarakat Kedang,” ujar Rifai. Menurutnya, karena lirik-lirik tersebut sangat khas daerah Kedang, ia harus bekerja ekstra dalam menentukan gaya musik yang tepat. “Tidak hanya sekali untuk mendapatkan style musik yang sesuai. Kadang guitar melodinya masuk, tapi tambur drumnya kurang enak di telinga. Kita ganti lagi sampai menemukan kesesuaian antara lirik lagu dan style musik,” jelasnya. Dalam proses produksi, Rifai mengaku masih menggunakan aplikasi musik versi standar atau gratis dengan kapasitas terbatas. “Apk musik yang digunakan pun masih standar atau gratisan, tentu kapasitasnya sangat kecil. Paling lima kali upload lirik lagu, setelahnya harus ganti email yang lain,” katanya sambil tertawa. Ia juga menegaskan bahwa hingga kini belum terpikir untuk menggunakan aplikasi premium. “Belum berpikir untuk memiliki apk yang berbayar atau premium. Karena kegiatan itu hanya iseng-iseng saja, walau cukup menyita waktu. Hahaha,” tambahnya. Meski demikian, Rifai menilai aplikasi musik yang tersedia saat ini memberikan ruang besar bagi siapa saja yang ingin mengembangkan bakat seni. “Apk musik ini memberikan ruang bagi mereka yang berbakat juga berminat mengembangkan potensi seni. Ada banyak apk yang bisa dicoba gratis maupun premium,” tutup Rifai. Rifai dan Sudarjo memang dikenal sebagai dua sahabat karib. Rifai saat ini menjabat sebagai pengawas PAI di sekolah, sedangkan Sudarjo merupakan guru PAI binaannya. Keduanya juga menuntaskan pendidikan magister di Universitas Muhammadiyah Malang pada tahun yang sama, yang semakin menguatkan kolaborasi mereka dalam dunia pendidikan dan seni.