Ciptakan Inovasi Cegah Komplikasi Kehamilan, Mahasiswa UMM Sabet Juara di Ajang Internasional

  pwmu.co – Langit Kuala Lumpur menjadi saksi langkah berani sekaligus bukti bahwa inovasi anak bangsa mampu bersaing di panggung dunia.Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi internasional melalui gagasan riset berbasis teknologi kesehatan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Sebagai Kampus Inovasi, Mandiri, dan Berdampak, UMM terus menunjukkan komitmennya dalam melahirkan generasi unggul yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi persoalan global. Komitmen tersebut kembali terbukti melalui raihan Silver Medal kategori Health pada ajang 2nd International Student Competition (ISC) 2026 yang diselenggarakan di Universiti Putra Malaysia (UPM), Kuala Lumpur, Malaysia. Kompetisi ilmiah internasional yang digelar oleh Centre for Entrepreneurial Development and Graduate Marketability (CEM) UPM pada 14–15 Februari 2026 ini menjadi wadah kolaborasi riset dan inovasi kewirausahaan mahasiswa dari berbagai negara. Sebanyak 100 tim finalis dari delapan negara berhasil melaju ke babak akhir, yakni Indonesia, Malaysia, Kazakhstan, Nigeria, Suriah, Brunei Darussalam, Somalia, dan Thailand. Ketua tim UMM, Vera Miftakul Rahma Kamal, mahasiswa Program Studi Kedokteran, menjelaskan bahwa kompetisi tersebut melalui proses seleksi yang ketat. “International Student Competition atau ISC merupakan kompetisi ilmiah internasional yang dimulai dari seleksi abstrak, dilanjutkan pengiriman paper lengkap, hingga presentasi final secara langsung di hadapan dewan juri,” ujarnya. Tim UMM terdiri atas empat mahasiswa lintas disiplin ilmu, yakni Vera Miftakul Rahma Kamali (Kedokteran), Wildan Hidayatullah (Farmasi), Hawa Restu Dwinanta (Pendidikan Bahasa Inggris), serta Khoirul Umar (Ilmu Komunikasi). Mereka dibimbing oleh dr. Desy Andari, M.Biomed. Kolaborasi multidisipliner tersebut menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan inovasi yang tidak hanya kuat secara konsep ilmiah, tetapi juga matang dari sisi komunikasi, implementasi, hingga keberlanjutan. Pada kategori Health, tim menghadirkan inovasi “NEOSENTIA: Real Time Maternal Risk Detection and Prevention through Multilingual AI Guardian Driven System.” “Aplikasi ini kami rancang sebagai pendamping ibu hamil berbasis artificial intelligence yang terhubung langsung dengan tenaga kesehatan serta menggunakan pendekatan data ilmiah,” jelas Rahma sapaan akrabnya. NEOSENTIA merupakan sistem deteksi risiko maternal berbasis AI yang bersifat non-invasif dan dirancang untuk mendukung pemantauan mandiri selama masa kehamilan secara proaktif. Platform ini mengintegrasikan data perangkat wearable, laporan gejala dari pengguna, serta rekam medis elektronik sehingga mampu melakukan analisis risiko secara berkelanjutan. Melalui sistem tersebut, potensi komplikasi kehamilan dapat terdeteksi lebih dini sehingga tenaga kesehatan dapat memberikan intervensi secara tepat waktu. Desain multibahasa yang diusung juga memperluas akses penggunaan di berbagai wilayah dan latar belakang pengguna. Selain itu, sistem berbasis website memungkinkan tenaga medis memantau kondisi pasien secara terintegrasi dan real time. Inovasi ini dinilai relevan dengan upaya peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, terutama dalam menekan risiko komplikasi kehamilan melalui pendekatan teknologi preventif. Bagi Rahma, pengalaman tampil di forum internasional memberikan pembelajaran penting tentang makna kompetisi yang sesungguhnya. “Kami belajar bahwa kompetisi bukan sekadar soal gengsi atau kemenangan, tetapi tentang keberanian keluar dari zona nyaman, bertukar perspektif dengan mahasiswa dunia, dan terus berkembang,” katanya. Di sisi lain, dosen pembimbing dr. Desy Andari, M.Biomed., menilai capaian tersebut menjadi bukti kesiapan mahasiswa UMM bersaing secara global sekaligus menunjukkan kualitas ekosistem akademik yang mendukung lahirnya inovasi berdampak. Ia berharap inovasi NEOSENTIA dapat terus dikembangkan menuju tahap implementasi nyata di layanan kesehatan serta dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional. Prestasi ini semakin memperkuat posisi kampus putih sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak yang konsisten mendorong kolaborasi lintas disiplin, riset aplikatif, serta keberanian mahasiswa untuk tampil dan memberi kontribusi nyata di level internasional. Melalui dukungan ekosistem pembelajaran yang adaptif dan berbasis solusi, UMM terus melahirkan inovator muda yang membawa gagasan lokal menuju manfaat global.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Mahasiswa KKN UMM Hidupkan Jodipan Lewat Inovasi Digital dan Pemberdayaan Warga

Malangpariwara.com – Sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menegaskan komitmennya. Yakni dengan menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat melalui program pengabdian Kuliah Kerja Nyata (KKN) UMM yang kali ini dilaksanakan di Kampung Warna-Warni Jodipan. Spirit tidak hanya bersifat seremonial, melainkan dirancang sebagai ruang implementasi gagasan kreatif, teknologi adaptif, dan pemberdayaan berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, kampus putih mendorong mahasiswanya menjadi agen perubahan yang mampu membaca potensi lokal sekaligus menguatkannya secara strategis. Program di Jodipan ini yang dijalankan tidak hanya memperkuat aspek estetika kawasan, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas warga sebagai pelaku utama pariwisata. Butuhkan Ide Kreatif untuk Bersaing Ketua Kelompok 13, Muhammad Syahva Putra Disa Rizki yang akrab disapa Syahva, memimpin perumusan program berbasis pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, kampung wisata membutuhkan sentuhan ide kreatif agar tetap hidup, relevan, dan mampu bersaing di tengah perkembangan zaman. Program kerja yang dijalankan meliputi Speaking Color, Sparkling Jodipan, dan Jodipan Clay. Speaking Color difokuskan pada pembelajaran bahasa sederhana bagi anak-anak agar lebih percaya diri saat berinteraksi dengan wisatawan. Program ini dinilai penting karena kemampuan komunikasi menjadi kunci utama dalam sektor pariwisata. “Program ini kami rancang untuk membantu memberdayakan warga, terutama agar mereka lebih siap dan percaya diri dalam menyambut serta berinteraksi dengan wisatawan,” ujar Syahva. Sementara itu, Sparkling Jodipan dan Jodipan Clay diarahkan pada pengembangan potensi ekonomi kreatif. Mahasiswa mendorong warga mengemas produk sederhana seperti minuman dan suvenir agar memiliki nilai tambah serta daya tarik baru bagi pengunjung. Upaya tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat sirkulasi ekonomi lokal berbasis kreativitas warga. Program unggulan yang paling mencuri perhatian adalah Warna Digital Jodipan. Inovasi ini menghadirkan kode QR pada mural-mural kampung. Setiap kode terhubung dengan cerita di balik lukisan, mulai dari tradisi lama masyarakat hingga simbol identitas lokal Malang. “Karena setiap lukisan memiliki QR tersendiri, pengunjung dapat langsung mengakses penjelasan. Sehingga mereka tidak hanya menikmati visualnya, tetapi juga memahami arti di balik karya tersebut,” jelasnya. Hadirkan Digitalisasi Mural Digitalisasi narasi mural tersebut menghadirkan pengalaman wisata yang lebih edukatif. Pengunjung tidak sekadar berfoto, tetapi juga memperoleh pemahaman tentang nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Inovasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa UMM dalam memadukan kreativitas, teknologi, dan kearifan lokal secara adaptif. Sebuah cerminan karakter kampus yang mendorong integrasi ilmu pengetahuan dengan kebutuhan riil masyarakat. Pendekatan sosial menjadi fondasi utama pelaksanaan program. Mahasiswa membangun kedekatan dengan warga melalui dialog santai, membeli produk lokal, hingga mendampingi anak-anak belajar pada malam hari. Cara ini memperkuat kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan program berjalan partisipatif. Menurut Syahva, perubahan paling nyata terlihat dari meningkatnya kesiapan warga dalam menyambut wisatawan secara lebih profesional. Ia mengamati adanya perkembangan dalam cara warga berkomunikasi, memberikan informasi, serta membangun kesan pertama yang positif bagi pengunjung. Hal tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat daya tarik Jodipan sebagai destinasi yang ramah dan edukatif. “Kini warga lebih percaya diri saat berinteraksi dengan wisatawan, karena bahasa dan cara menyambut tamu adalah kunci utama bagi kampung wisata seperti Jodipan,” terangnya. Dorongan Berorientasi Pada Masyarakat Dosen pembimbing, Jamroji, S.Sos., M.Comms., menilai program tersebut relevan dengan kebutuhan aktivasi kawasan wisata. Ia menyebut mahasiswa didorong untuk berpikir kreatif, adaptif, dan berorientasi pada solusi nyata yang berkelanjutan. Selaras dengan visi UMM sebagai kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menghadirkan dampak sosial yang terukur. Program-program yang telah dirintis selanjutnya diserahkan kepada warga untuk dikelola secara mandiri. Tim KKN juga membuka ruang komunikasi lanjutan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan akademik. Melalui KKN tematik ini, UMM kembali menegaskan perannya sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak. Mahasiswa hadir bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, melainkan membawa gagasan, membangun kolaborasi. Juga erta meninggalkan fondasi pemberdayaan yang dapat terus dikembangkan oleh masyarakat secara berkelanjutan. (Djoko W)

Unik dan Kreatif! KKN UMM Kolaborasikan Patrol Sahur dengan Kesenian Tradisional di Kampung Budaya Polowijen

INDOZONE.ID – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) membuat inisiatif kreatif Sahur On The Road (SOTR) di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang. Alih-alih menggunakan pengeras suara atau musik modern, warga dibangunkan oleh kehadiran sosok penari Topeng Malangan yang melangkah anggun menyusuri gang-gang sempit pemukiman. Kegiatan yang berlangsung pada 20 Februari 2026 ini sengaja menggabungkan tradisi patrol sahur dengan sentuhan kesenian lokal untuk memberikan pengalaman yang berbeda bagi masyarakat. Iringan ritme kayu kentongan yang dipukul secara konsisten menjadi musik utama yang mengiringi gerak tari, menciptakan atmosfer sahur yang tidak hanya hidup, tetapi juga sarat akan makna budaya. Penggagas Kampung Budaya Polowijen, yang akrab disapa Ki Demang, memberikan apresiasi tinggi terhadap aksi tersebut. “Kegiatan ini menjadi pengalaman baru bagi warga. Selama ini belum pernah ada keliling kampung membangunkan sahur dengan iringan penari topeng seperti ini,” tuturnya. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa KKN UMM ini adalah bentuk nyata kepedulian generasi muda terhadap identitas lokal. Ki Demang menekankan bahwa budaya harus terus dihadirkan dalam ruang-ruang nyata agar tidak sekadar menjadi tontonan seremonial yang mulai terlupakan. Setelah berkeliling kampung, puncak acara berlanjut dengan pertunjukan Tari Topeng Malangan di sebuah lokasi yang disebut warga sebagai Pawon. Gerakan tari yang kuat dan berkarakter menjadi daya tarik utama sekaligus ruang edukasi bagi pemuda setempat mengenai warisan leluhur mereka. “Tari Topeng Malangan bukan hanya tontonan, tetapi warisan leluhur yang menyimpan nilai karakter dan jati diri masyarakat Malang. Begitu juga kentongan, bukan sekadar dipukul untuk membangunkan sahur, tetapi alat komunikasi warga yang memiliki makna sosial,” papar Ki Demang.

Ribuan mahasiswa UMM atasi persoalan desa pada KKN berdampak 2026

Komitmen menghadirkan pengabdian mahasiswa yang berdampak nyata terus diperkuat oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus inovasi yang mandiri dan berdampak, yang menempatkan kolaborasi ilmu pengetahuan, pemberdayaan masyarakat, serta solusi berkelanjutan sebagai bagian dari identitas pengembangan tridarma perguruan tinggi. Melalui semangat tersebut, UMM terus mendorong lahirnya program-program pengabdian yang tidak hanya responsif terhadap kebutuhan masyarakat, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan nyata dalam jangka panjang melalui inovasi mahasiswa. Tidak lagi sekadar menjalankan aktivitas rutin di desa, mahasiswa didorong menghasilkan karya inovatif serta solusi konkret atas berbagai persoalan masyarakat, mulai dari sektor pertanian, pariwisata, pendidikan hingga pemberdayaan sosial lintas negara. Hal tersebut terlihat dalam pameran produk dan inovasi mahasiswa KKN pada 25 Februari lalu yang menjadi rangkaian akhir program pengabdian tahun ini. Sebanyak 450 mahasiswa yang tergabung dalam 17 kelompok mempresentasikan berbagai hasil program yang lahir dari proses pendampingan langsung bersama masyarakat, termasuk satu kelompok yang menjalankan pengabdian internasional di Malaysia. Berbagai inovasi dan solusi nyata bagi masyarakat hadir melalui program KKN UMM, mulai dari optimalisasi sistem irigasi untuk membantu petani meningkatkan efisiensi distribusi air sekaligus menjaga produktivitas lahan melalui edukasi pengelolaan sumber daya air berbasis partisipasi warga. Di sektor pariwisata, mahasiswa turut menguatkan kembali eksistensi Kampung Warna-Warni Jodipan melalui pelatihan komunikasi bahasa asing dan pelayanan wisata bagi warga agar lebih siap menerima wisatawan mancanegara serta membuka peluang ekonomi baru. Pengabdian juga menjangkau tingkat internasional melalui pendampingan pendidikan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI) di Penang, Malaysia. Dengan membantu akses belajar, penguatan literasi dasar, motivasi pendidikan, hingga pelaksanaan kegiatan sosial kemasyarakatan sebagai wujud solidaritas dan pengabdian lintas negara. Wakil Rektor IV UMM, Prof. Dr. Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa konsep KKN Berdampak menjadi arah utama pengabdian mahasiswa setelah kampus kembali menghidupkan model KKN berbasis tinggal bersama masyarakat pascapandemi. “Program KKN harus memberi kontribusi yang tidak mungkin ada kalau mahasiswa itu tidak hadir. Jadi bukan sekadar kegiatan rutin seperti mengajar atau menjadi panitia kegiatan masyarakat, tetapi harus menghadirkan sesuatu yang baru,” ujarnya. Menurutnya, mahasiswa didorong menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat, baik melalui teknologi tepat guna, pengembangan metode pendidikan, hingga penguatan ekonomi lokal. Dampak program juga harus terukur sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Selain berdampak, keberlanjutan menjadi prinsip utama pelaksanaan KKN UMM. Kampus mulai menyusun data dasar sebagai baseline pengembangan desa agar program mahasiswa tidak berhenti setelah masa pengabdian selesai. “Minimal tiga sampai lima tahun ke depan kita ingin melihat perubahan nyata di lokasi KKN. Mahasiswa berikutnya tidak lagi memulai dari nol, tetapi melanjutkan solusi yang sudah dirintis sebelumnya,” tambahnya. Apresiasi juga datang dari pemerintah daerah. Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Malang, Dr. Ir. Ricky Meinardi, S.T., M.T., menyebut program KKN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai model pengabdian yang mampu menghadirkan inovasi berkelanjutan. “Mahasiswa tidak hanya menjalankan program saja, tetapi memberikan berbagai inovasi yang positif dan solusi terhadap permasalahan di desa. Kami berharap kontribusi ini dapat terus berlanjut dan semakin berkembang di tahun-tahun mendatang,” ungkapnya. Ia juga berharap sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah semakin diperkuat agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas. “Kolaborasi antara pemerintah daerah dengan perguruan tinggi seperti UMM ini sangat penting. Harapannya kerja sama ini terus terjalin sehingga inovasi mahasiswa benar-benar mampu memberikan sumbangsih nyata, tidak hanya bagi masyarakat desa, tetapi juga bagi pembangunan Kabupaten Malang secara keseluruhan,” pungkasnya.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Mahasiswa KKN UMM Edukasi Siswa SDN 1 Bandungrejo, Usung Tema Cegah Bullying, Intoleransi, dan Bijak Bermedia Sejak Dini

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Mahasiswa KKN Kelompok 2 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi bidang pengabdian masyarakat di SD Negeri 01 Bandungrejo, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Pelaksanaan KKN UMM tersebut dijelaskan Koordinator KKN Kelompok 2 UMM, Ahmad Safandi, kemarin. Menurut Ahmad Safandi program kerja KKN Kelompok 2 UMM  dilaksanakan Senin (9/2) 2026 hingga Jumat (13/2) 2026. Kegiatan ini difokuskan pada Sosialisasi Anti Bullying dan Intoleransi, sekaligus pendampingan berbagai aktivitas sekolah. Program kerja ini mengusung tema “Bersama Kita Saling Menghargai: Cegah Bullying, Intoleransi, dan Bijak Bermedia Sejak Dini.” Suasana penyampaian materi oleh mahasiswa KKN kelompok 2 UMM kepada siswa SDN 01 Bandungrejo, Bantur. Ahmad Safandi menjelaskan bahwa KKN kelompok 2 UMM ini terdiri dari 26 mahasiswa di bawah arahan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Yaris Adhial Fajrin, SH, MH. Program kerja tersebut dirancang sebagai langkah preventif dalam membangun karakter siswa agar memiliki sikap empati, toleransi, serta bijak dalam bersosial dan bermedia digital. Selama dua hari tersebut, kata Ahmad Safandi, mahasiswa KKN UMM melaksanakan sosialisasi inti Senin-Selasa (9-10/2) 2026. Pada hari pertama, mahasiswa KKN menyampaikan materi tentang bahaya bullying melalui pendekatan ceramah interaktif yang diselingi simulasi drama. Drama tersebut menggambarkan situasi perundungan di lingkungan sekolah beserta dampaknya terhadap korban. Sehingga siswa dapat memahami konsekuensi nyata dari perilaku tersebut. Suasana diskusi interaktif antara siswa SDN 01 Bandungrejo dengan mahasiswa KKN UMM. Menariknya, siswa SDN 01 Bandungrejo juga diajak berdiskusi dan refleksi bersama. Para siswa terlihat aktif menyampaikan pendapat dan pengalaman mereka, menunjukkan tingginya antusiasme terhadap materi yang diberikan. Pada hari kedua, materi membahas tentang intoleransi dan pentingnya menghargai perbedaan. Melalui diskusi kelompok (FGD), siswa diajak memahami bahwa perbedaan fisik, latar belakang keluarga, maupun kebiasaan bukanlah alasan untuk saling merendahkan. Mahasiswa KKN UMM juga menekankan pentingnya penggunaan media sosial secara bijak untuk mencegah cyber bullying sejak dini. Program kerja dilanjutkan tanggal (11-12/2) 2026, tambah Ahmad Safandi mahasiswa KKN UMM membantu kegiatan belajar mengajar di kelas. Mahasiswa mendampingi guru dalam proses pembelajaran serta memberikan motivasi kepada siswa. Bahkan mahasiswa KKN UMM ikut membantu pelaksanaan try out bagi siswa kelas VI. Mahasiswa KKN UMM membantu siswa melaksanakan try out ujian. Pendampingan tersebut dilakukan untuk memastikan kegiatan berjalan tertib dan lancar, sekaligus memberikan dukungan moral bagi siswa yang sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian. Kontribusi lainnya, Ahmad Safandi mengungkapkan mahasiswa KKN UMM (13/2) 2026 mengantarkan serta mendampingi siswa mengikuti lomba paskibra di SMP Negeri 1 Pagak. Pendampingan ini menjadi wujud perhatian terhadap pengembangan bakat dan kedisiplinan siswa di luar kegiatan akademik. Kehadiran mahasiswa KKN UMM memberikan semangat tambahan bagi peserta lomba, sekaligus membantu kelancaran akomodasi selama kegiatan berlangsung. Akhir dari program kerja KKN UMM, dikatakan Ahmad Safandi Adalah penyerahan plakat dan cinderamata kepada Kepala SDN Bandungrejo 1 Bantur, Bapak Gatot Santoso. Hal ini sebagai tanda terima kasih dan kenang-kenangan, mahasiswa KKN Kelompok 2 UMM telah dizinkan berpartisipasi dalam edukasi tematik di SDN 01 Bandungrejo Bantur. Sementara itu, Kepala SD Negeri 01 Bandungrejo, Bapak Gatot Santoso dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas dedikasi mahasiswa selama satu pekan penuh. Program kerja KKN UMM memberikan nilai edukatif yang sangat berarti bagi siswa. “Kami merasakan manfaat yang besar dari kehadiran adik-adik mahasiswa KKN. Materi yang disampaikan sangat relevan dengan kebutuhan siswa saat ini. Semoga nilai-nilai tentang saling menghargai dan menjauhi perundungan benar-benar tertanam dalam diri anak-anak kami. Terima kasih atas kerja sama, bantuan pembelajaran, serta pendampingan siswa dalam kegiatan lomba di SMPN 1 Pagak,” tuturnya. (penulis: faisal muqorrobin)