Tak Sekadar Percantik Kampung, KKN UMM Angkat Kualitas Warga Jodipan di Sektor Wisata

indikatorindonesia, MALANG – Sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menegaskan komitmennya menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat melalui program pengabdian. Spirit tersebut tercermin dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang tidak hanya bersifat seremonial, melainkan dirancang sebagai ruang implementasi gagasan kreatif, teknologi adaptif, dan pemberdayaan berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, UMM mendorong mahasiswanya menjadi agen perubahan yang mampu membaca potensi lokal sekaligus menguatkannya secara strategis. Kampus putih yang konsisten mengusung semangat inovasi dan kemandirian, mahasiswa KKN UMM kembali menghadirkan gagasan strategis untuk menghidupkan potensi wisata lokal. Melalui program di Kampung Warna-Warni Jodipan, tim KKN tidak hanya memperkuat aspek estetika kawasan, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas warga sebagai pelaku utama pariwisata. Ketua Kelompok 13, Muhammad Syahva Putra Disa Rizki yang akrab disapa Syahva memimpin perumusan program berbasis pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, kampung wisata membutuhkan sentuhan ide kreatif agar tetap hidup, relevan, dan mampu bersaing di tengah perkembangan zaman. Program kerja yang dijalankan meliputi Speaking Color, Sparkling Jodipan, dan Jodipan Clay. Speaking Color difokuskan pada pembelajaran bahasa sederhana bagi anak-anak agar lebih percaya diri saat berinteraksi dengan wisatawan. Program ini dinilai penting karena kemampuan komunikasi menjadi kunci utama dalam sektor pariwisata. “Program ini kami rancang untuk membantu memberdayakan warga, terutama agar mereka lebih siap dan percaya diri dalam menyambut serta berinteraksi dengan wisatawan,” ujar Syahva, 25 Februari 2026 Tak Sekadar Percantik Kampung, KKN Sementara itu, Sparkling Jodipan dan Jodipan Clay diarahkan pada pengembangan potensi ekonomi kreatif. Mahasiswa mendorong warga mengemas produk sederhana seperti minuman dan suvenir agar memiliki nilai tambah serta daya tarik baru bagi pengunjung. Upaya tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat sirkulasi ekonomi lokal berbasis kreativitas warga. Program unggulan yang paling mencuri perhatian adalah Warna Digital Jodipan. Inovasi ini menghadirkan kode QR pada mural-mural kampung. Setiap kode terhubung dengan cerita di balik lukisan, mulai dari tradisi lama masyarakat hingga simbol identitas lokal Malang. “Karena setiap lukisan memiliki QR tersendiri, pengunjung dapat langsung mengakses penjelasan, sehingga mereka tidak hanya menikmati visualnya, tetapi juga memahami arti di balik karya tersebut,” jelasnya. Digitalisasi narasi mural tersebut menghadirkan pengalaman wisata yang lebih edukatif. Pengunjung tidak sekadar berfoto, tetapi juga memperoleh pemahaman tentang nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Inovasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa UMM dalam memadukan kreativitas, teknologi, dan kearifan lokal secara adaptif. Sebuah cerminan karakter kampus yang mendorong integrasi ilmu pengetahuan dengan kebutuhan riil masyarakat. Pendekatan sosial menjadi fondasi utama pelaksanaan program. Mahasiswa membangun kedekatan dengan warga melalui dialog santai, membeli produk lokal, hingga mendampingi anak-anak belajar pada malam hari. Cara ini memperkuat kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan program berjalan partisipatif. Menurut Syahva, perubahan paling nyata terlihat dari meningkatnya kesiapan warga dalam menyambut wisatawan secara lebih profesional. Ia mengamati adanya perkembangan dalam cara warga berkomunikasi, memberikan informasi, serta membangun kesan pertama yang positif bagi pengunjung. Hal tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat daya tarik Jodipan sebagai destinasi yang ramah dan edukatif. “Kini warga lebih percaya diri saat berinteraksi dengan wisatawan, karena bahasa dan cara menyambut tamu adalah kunci utama bagi kampung wisata seperti Jodipan,” terangnya. Dosen pembimbing, Jamroji, S.Sos., M.Comms., menilai program tersebut relevan dengan kebutuhan aktivasi kawasan wisata. Ia menyebut mahasiswa didorong untuk berpikir kreatif, adaptif, dan berorientasi pada solusi nyata yang berkelanjutan, selaras dengan visi UMM sebagai kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menghadirkan dampak sosial yang terukur. Program-program yang telah dirintis selanjutnya diserahkan kepada warga untuk dikelola secara mandiri. Tim KKN juga membuka ruang komunikasi lanjutan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan akademik. Melalui KKN tematik ini, UMM kembali menegaskan perannya sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak. Mahasiswa hadir bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, melainkan membawa gagasan, membangun kolaborasi, serta meninggalkan fondasi pemberdayaan yang dapat terus dikembangkan oleh masyarakat secara berkelanjutan.

Monitoring dan Evaluasi KKN untuk Penguatan Ekonomi Kreatif Desa Lebakharjo

kumparan – Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan bagian penting dalam rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pengawasan administratif, tetapi juga sebagai sarana refleksi untuk menilai efektivitas, relevansi, dan keberlanjutan program yang telah dilaksanakan. Pelaksanaan monev KKN di Desa Lebakharjo menjadi momentum strategis untuk memastikan bahwa seluruh program kerja mahasiswa berjalan sesuai dengan perencanaan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kegiatan tersebut dihadiri oleh dosen pembimbing lapangan, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta mahasiswa peserta KKN, dengan agenda utama meninjau capaian program sekaligus mendiskusikan berbagai temuan di lapangan. Dalam pelaksanaan KKN, mahasiswa memfokuskan program pada penguatan potensi unggulan desa yang berbasis budaya, ekonomi kreatif, dan pariwisata. Salah satu potensi utama yang dikembangkan adalah Batik Piren Sewu, sebagai representasi identitas kultural masyarakat setempat. Batik ini tidak sekadar produk kerajinan, melainkan simbol nilai filosofis dan kreativitas warga desa. Namun demikian, tantangan yang dihadapi pelaku usaha batik terletak pada keterbatasan pemasaran dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi digital. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa melaksanakan pendampingan pemasaran digital, penyusunan katalog produk, optimalisasi media sosial, serta pelatihan pengemasan yang lebih modern dan kompetitif. Pendekatan ini dilakukan secara partisipatif agar pelaku UMKM tidak hanya menjadi objek program, tetapi juga subjek yang aktif dalam proses transformasi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman pelaku usaha terhadap strategi promosi digital, meskipun keberlanjutan pendampingan tetap diperlukan agar dampaknya dapat berlangsung secara konsisten. Selain sektor budaya, potensi wisata alam desa juga menjadi perhatian dalam program KKN. Pantai Licin dikenal memiliki panorama yang masih alami dan daya tarik visual yang kuat. Potensi ini dinilai strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal berbasis pariwisata. Mahasiswa berkontribusi melalui penataan informasi kawasan wisata, pembuatan papan informasi edukatif, serta promosi berbasis digital guna meningkatkan eksposur destinasi. Upaya tersebut dilandasi pemahaman bahwa akses informasi yang memadai merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing destinasi wisata. Dalam sesi monitoring, tim penilai mengapresiasi kreativitas mahasiswa dalam mengemas potensi wisata menjadi lebih informatif dan komunikatif. Meski demikian, evaluasi juga menekankan pentingnya sinergi berkelanjutan antara pemerintah desa dan masyarakat untuk menjaga kebersihan, tata kelola, serta kualitas pelayanan wisata. Di sisi lain, identitas Desa Lebakharjo sebagai Desa Pramuka turut menjadi landasan dalam perancangan program pembinaan generasi muda. Mahasiswa berkolaborasi dengan pembina dan anggota Pramuka desa untuk menyelenggarakan pelatihan kepemimpinan, edukasi lingkungan, serta kegiatan sosial yang melibatkan anak-anak dan remaja. Program ini diarahkan untuk memperkuat karakter, meningkatkan rasa tanggung jawab, dan menumbuhkan semangat gotong royong. Dalam perspektif pembangunan desa berkelanjutan, investasi pada pembinaan karakter generasi muda merupakan aspek fundamental yang berkontribusi pada ketahanan sosial masyarakat. Tim monev menilai bahwa kegiatan ini berjalan partisipatif dan mendapat respons positif dari peserta, serta direkomendasikan untuk terus dikembangkan sebagai program rutin desa. Secara keseluruhan, hasil monitoring dan evaluasi menunjukkan bahwa pelaksanaan KKN di Desa Lebakharjo telah berjalan sesuai dengan rencana dan menyentuh aspek strategis pembangunan desa, mulai dari pemberdayaan ekonomi, penguatan budaya lokal, pengembangan pariwisata, hingga pembinaan karakter generasi muda. Evaluasi juga menegaskan bahwa keberhasilan program pengabdian tidak semata diukur dari terlaksananya kegiatan, melainkan dari keberlanjutan dan dampak jangka panjangnya bagi masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan komitmen bersama antara pemerintah desa, masyarakat, dan perguruan tinggi untuk menjaga kesinambungan program yang telah dirintis. Monitoring dan evaluasi dalam konteks ini bukan sekadar agenda formal, melainkan instrumen strategis untuk memastikan bahwa kehadiran mahasiswa melalui KKN benar-benar menghadirkan kontribusi yang terukur, relevan, dan berkelanjutan bagi pembangunan desa.

KH Ahmad Dahlan “Hadir” di Taman Merjosari, NgabubuRead UMM Bikin Suasana Jadi Edukatif

Sosok KH. Ahmad Dahlan tampak menyapa pengunjung di tengah keramaian di Taman Merjosari, Rabu (25/2/2026). Meski hanya dalam bentuk cosplay, kehadiran pendiri Muhammadiyah bersama istrinya, Siti Walidah, sukses mencuri perhatian ratusan warga yang memadati kegiatan serta memunculkan spirit perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam tradisi literasi, pendidikan, dan kepedulian sosial terasa hidup di tengah kegiatan NgabubuRead garapan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menunggu waktu berbuka puasa pun berubah menjadi pengalaman berbeda, tidak sekadar berburu takjil, tetapi diisi dengan aktivitas literasi, hiburan edukatif, hingga aksi berbagi yang menjadikan taman kota tersebut sebagai ruang belajar terbuka yang hangat dan penuh keceriaan. Kegiatan ini menghadirkan konsep ngabuburit produktif melalui musikalisasi puisi, mini game golf, serta berbagai aktivitas membaca bersama. Kehadiran cosplay Ahmad Dahlan dan Siti Walidah menjadi simbol penguatan nilai literasi sekaligus kepedulian sosial yang diwariskan dalam sejarah gerakan Muhammadiyah. Antusiasme masyarakat terlihat sejak sore hari. Puluhan anak-anak tampak memadati booth UMM untuk mengikuti berbagai permainan edukatif dan membaca buku yang disediakan. Keseruan semakin terasa saat Mobil Kamis Membaca perpustakaan keliling milik UMM hadir membawa ratusan koleksi bacaan yang dapat diakses gratis oleh pengunjung. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom, mengatakan NgabubuRead dirancang sebagai ruang produktif bagi masyarakat untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum tepat untuk memperkuat kebiasaan membaca sekaligus membangun ruang diskusi yang sehat di tengah masyarakat. “NgabubuRead bukan sekadar aktivitas menunggu waktu berbuka, tetapi menjadi gerakan bersama untuk menguatkan spirit literasi sebagai fondasi kemajuan bangsa. Ramadan adalah waktu yang tepat memperkaya diri, baik secara spiritual maupun intelektual,” ujarnya. Ia menambahkan, kegiatan tersebut tidak berhenti pada aktivitas membaca di taman. Setelah acara utama selesai, peserta dan panitia melanjutkan kegiatan dengan membagikan makanan kepada masyarakat di jalan sebagai bentuk kepedulian sosial. Menurut Maharina, aksi berbagi itu menjadi simbol penguatan spirit Al-Ma’un yang diajarkan KH Ahmad Dahlan, yakni nilai keberagamaan yang diwujudkan melalui tindakan nyata membantu sesama. Literasi, kata dia, tidak hanya berhenti pada membaca buku, tetapi juga harus melahirkan empati sosial. “Melalui NgabubuRead, UMM ingin menanamkan pesan bahwa membaca, berbagi ilmu, dan menumbuhkan kepedulian sosial adalah satu kesatuan gerakan yang saling menguatkan,” katanya. Di antara puluhan anak yang memadati area kegiatan, Naufal mengaku sangat menikmati seluruh rangkaian kegiatan yang disediakan. Ia datang bersama teman-temannya dan langsung tertarik melihat mobil perpustakaan keliling yang dipenuhi buku cerita bergambar. Baginya, membaca di taman sambil menunggu berbuka menjadi pengalaman baru yang menyenangkan. Menurut Naufal, mini game golf dan berbagai permainan di booth UMM membuat suasana semakin seru. Ia juga mengaku senang bisa melihat cosplay tokoh sejarah secara langsung karena sebelumnya hanya mengenalnya dari cerita di sekolah. “Rasanya seperti belajar tapi sambil bermain,” katanya dengan wajah antusias. Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar pada Ramadan berikutnya. Selain mendapat banyak teman baru, Naufal merasa kegiatan tersebut membuat waktu menunggu berbuka terasa lebih cepat dan bermanfaat. “Kalau ada lagi, saya mau ikut lagi. Soalnya seru dan bisa baca banyak buku,” ujarnya.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Menu Buka Puasa Ini Ternyata Bisa Bikin Gula Darah Melonjak, Hindari yang Nomor 1!

Liputan6.com, Jakarta – Hati-hati dalam memilih menu buka puasa selama Ramadan. Jika salah pilih, bukan hanya berat badan yang naik, risiko gangguan metabolik pun meningkat. Berbuka puasa memang jadi momen paling ditunggu setelah seharian menahan lapar dan haus. Meja makan penuh gorengan, kolak, es manis, hingga aneka camilan menggoda. Namun, Dosen Program Studi Pendidikan Dokter di Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Fatimah Masyhur, mengingatkan, pilihan menu buka puasa yang salah justru bisa bikin gula darah melonjak drastis. “Pola makan saat berbuka sangat menentukan kondisi tubuh selama Ramadan,” katanya seperti dikutip dari umm.ac.id pada Kamis, 26 Februari 2026. 1. Gorengan, Nomor Satu yang Perlu Dibatasi Gorengan hampir selalu jadi ‘menu wajib’ saat berbuka. Padahal, makanan ini tinggi kalori dan lemak jenuh. Fatimah menjelaskan bahwa konsumsi gorengan berlebihan dapat berdampak pada sistem kardiovaskular. Makanan yang digoreng dengan minyak banyak cenderung mengandung lemak jenuh tinggi. Jika dikonsumsi rutin, kondisi ini dapat membebani kerja jantung dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Selain itu, gorengan juga sering dikombinasikan dengan makanan atau minuman manis, yang semakin memperparah lonjakan gula darah setelah puasa seharian. 2. Makanan dan Minuman Tinggi Gula Menu buka puasa identik dengan rasa manis. Kolak, sirup, teh manis, es campur, hingga kue manis menjadi favorit banyak orang. Masalahnya, setelah berpuasa lebih dari 12 jam, tubuh memang membutuhkan energi cepat. Namun, jika langsung diberi asupan gula sederhana dalam jumlah besar, kadar gula darah bisa naik tajam. Lonjakan ini berisiko terutama bagi penderita diabetes atau pradiabetes. Bahkan, pada orang sehat, pola ini bisa memicu rasa lemas setelahnya karena gula darah turun kembali secara cepat. 3. Junk Food dan Karbohidrat Sederhana Makanan cepat saji atau junk food juga sering jadi pilihan praktis saat berbuka. Padahal, makanan ini umumnya tinggi karbohidrat sederhana, garam, dan lemak. Karbohidrat sederhana lebih cepat dicerna tubuh dan memicu kenaikan gula darah secara drastis. Jika dikonsumsi terus-menerus selama Ramadan, risiko kenaikan berat badan dan gangguan metabolisme makin besar. Pilih Menu Buka Puasa Seimbang Agar tubuh tetap bugar selama Ramadan 2026, kunci utamanya adalah memilih menu buka puasa dengan gizi seimbang. Idealnya, menu berbuka terdiri dari: Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, roti gandum, atau ubi jalar Protein hewani dan nabati seperti ayam tanpa kulit, ikan, telur, tahu, dan tempe Sayuran beragam warna untuk serat dan vitamin Buah-buahan seperti kurma, melon, semangka, atau pisang Air putih minimal 8 gelas per hari untuk mencegah dehidrasi Protein berperan penting dalam memperbaiki jaringan tubuh, menjaga keseimbangan cairan, serta mendukung sistem imun selama puasa. Alternatif Menu Lebih Sehat Jika ingin tetap menikmati hidangan manis, ada pilihan yang lebih sehat, seperti: Sup buah tanpa santan Bubur kacang hijau dengan gula minimal Kolak pisang dengan pemanis alami seperti madu atau stevia Smoothie buah dan sayur tanpa tambahan gula Bagi penderita diabetes, asam urat, atau kondisi kesehatan tertentu, pemilihan menu buka puasa harus lebih selektif. Konsultasi dengan dokter juga penting, terutama terkait pengaturan jadwal minum obat selama Ramadan.

Berkah Ramadan! Ini Daftar Masjid Kampus Malang yang Menyediakan Takjil Gratis

MALANG, Tugumalang.id – Berikut ini daftar masjid kampus Malang yang menyediakan takjil gratis selama bulan suci Ramadan yang diperuntukkan tidak hanya bagi mahasiswa tetapi juga masyarakat. Adanya takjil gratis ini tidak hanya untuk merasakan kenikmatan berbuka puasa bersama, tapi juga mempererat silaturahmi sebagai sesama umat Muslim. Selama menunggu adzan Maghrib sebagai penanda waktu berbuka puasa. Mahasiswa dan juga masyarakat dapat beribadah dengan khusyu serta mengikuti berbagai kegiatan keagamaan yang digelar di masjid kampus. Takjil gratis ini sangat membantu bagi mahasiswa untuk mengobati rasa rindu menikmati Ramadan di kampung halaman dan juga menekan pengeluaran untuk membeli takjil. Setiap hari selama Ramadan, masjid kampus menyediakan aneka hidangan berbuka seperti kurma, kolak, buah, hingga nasi kotak yang dibagikan setiap sore menjelang waktu berbuka puasa. Berikut ini daftar masjid kampus di Malang yang menyediakan takjil gratis selama bulan suci Ramadan ini. Daftar Masjid Kampus Malang yang Menyediakan Takjil Gratis 1. Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya (UB) · Lokasi: Jalan Kampus Universitas Brawijaya, Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. · Informasi: Menyediakan takjil gratis setiap hari selama Ramadan, ada 500 – 1.000 porsi harian, termasuk makanan ringan seperti kurma, kolak, dan nasi kotak untuk buka puasa. Jemaah dapat mengikuti kajian agama, tadarus, dan salat berjamaah untuk suasana ibadah lebih khusyu sembari menunggu waktu berbuka puasa. 2. Masjid A.R. Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) · Lokasi: Jalan Raya Tlogomas No.246 Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. · Informasi: Menyediakan takjil gratis selama Ramadan, menjadi favorit mahasiswa dan masyarakat umum karena lokasinya yang strategis di pinggir jalan utama Malang – Batu. Takjil gratis di masjid ini terintegrasi dengan kegiatan pengajian, kajian Ramadan, dan Salat Tarawih berjamaah untuk suasana ibadah lebih hidup. 3. Masjid Al Hikmah Universitas Negeri Malang (UM) · Lokasi: Jalan Kampus Universitas Negeri Malang, Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. · Informasi: Masjid Al Hikmah UM menyediakan takjil gratis selama bulan Ramadan dan menjadi opsi favorit bagi mahasiswa maupun masyarakat umum mencari menu berbuka puasa. Tersedia aneka menu takjil seperti kurma, kolak, es campur, dan juga nasi kotak yang dapat diambil menjelang waktu berbuka puasa. Selama menunggu waktu berbuka puasa dapat mengikuti kajian Ramadan hingga Salat Tarawih berjamaah, sehingga nuansa Ramadan semakin khusyuk. 4. Masjid Raya An-Nur Politeknik Negeri Malang (Polinema) · Lokasi: Jalan Soekarno Hatta No.9 Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. · Informasi: Masjid Raya An-Nur di Polinema menyediakan takjil gratis selama Ramadan, menjadi pilihan favorit mahasiswa dan warga sekitar berkat suasana nyaman dan kebersamaannya. Dibagikan menjelang adzan Maghrib, terintegrasi dengan salat berjamaah, tarawih, dan juga kajian Ramadan sehingga menjalani ibadah dengan lebih khusyuk. Demikian informasi daftar masjid kampus di Malang yang menyediakan takjil gratis selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah atau tahun 2026 ini.

Tarawih 8 atau 20 Rakaat? Pakar UMM Jelaskan Akar Historis dan Metodologinya

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Perbedaan jumlah rakaat salat tarawih kerap menjadi perbincangan hangat setiap Ramadan. Tak jarang, perbedaan angka seolah menjadi tolok ukur sah atau tidaknya ibadah. Padahal, di balik variasi tersebut tersimpan khazanah ijtihad yang panjang, argumentatif, dan kaya dalam tradisi fikih Islam. Dosen Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, M.H., menegaskan bahwa perbedaan itu bukan bentuk pertentangan, melainkan konsekuensi logis dari perbedaan metodologi dalam memahami sumber hukum Islam. “Perbedaan jumlah rakaat tarawih terjadi karena adanya perbedaan interpretasi dan kontekstualisasi terhadap dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, ijma’, dan qiyas. Al-Qur’an memang memerintahkan salat melalui ayat-ayat seperti aqimus shalah, tetapi tidak menyebutkan secara eksplisit jumlah rakaat tarawih. Karena itu, hadis berfungsi sebagai bayan tafsir atau penjelas terhadap ayat-ayat yang bersifat global. Selama argumentasinya kuat dan sanad hadisnya valid, maka perbedaan tersebut tidak menjadi persoalan,” ujarnya 24 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Lebih jauh, Tanzil sapaan akrabnya menjelaskan secara historis umat Islam merujuk pada imam-imam mazhab yang memiliki metode istinbat hukum berbeda, sehingga melahirkan variasi praktik yang sama-sama memiliki landasan. Mazhab Hanafi menetapkan 20 rakaat berdasarkan ijma’ sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Mazhab Maliki menetapkan 36 rakaat dengan merujuk pada praktik penduduk Madinah. Sementara itu, Mazhab Syafi’i dan Hanbali cenderung menetapkan 20 rakaat dengan dasar hadis mauquf dan amalan sahabat pascawafat Nabi. Sedangkan Majelis Tarjih Muhammadiyah menetapkan 11 rakaat dengan merujuk pada hadis Aisyah tentang praktik salat malam Rasulullah. “Dalam hadis riwayat Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat, baik di Ramadan maupun di luar Ramadan. Riwayat muttafaq ‘alaih itu menjelaskan bahwa Nabi salat empat rakaat dengan panjang dan kekhusyukan yang luar biasa, lalu empat rakaat berikutnya dengan kualitas serupa, kemudian ditutup tiga rakaat witir. Dari sinilah dipahami formasi 4-4-3 yang menjadi dasar praktik 11 rakaat di kalangan Muhammadiyah,” jelasnya. Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa konsep Qiyamul Ramadan pada dasarnya identik dengan Qiyamul Lail. Karena itu, tarawih tidak terlepas dari witir sebagai penutup salat malam. Variasi seperti 2-2-2-2-1 atau 4-4-3 merupakan bentuk teknis pelaksanaan yang tetap berada dalam koridor dalil sahih. Dalam beberapa riwayat, Nabi juga pernah melaksanakan witir sembilan rakaat atau dengan formasi lainnya. Dalam perspektif qiyas, karena salat malam tidak dibatasi jumlahnya, maka komposisi rakaat tarawih dipahami secara fleksibel selama tidak menyelisihi prinsip-prinsip dasar syariat. “Yang menjadi persoalan justru ketika suatu amalan tidak memiliki dalil, atau dalilnya lemah bahkan maudhu’. Itu yang harus dihindari. Karena itu, umat Islam seharusnya tidak menjadikan perbedaan jumlah rakaat sebagai sumber perpecahan. Keragaman tersebut menunjukkan keluasan ijtihad dan dinamika intelektual dalam Islam. Perbedaan antara empat mazhab dan Muhammadiyah bukan perpecahan, melainkan kekayaan dalam memahami dalil,” tegasnya. Pada akhirnya, Tanzil menekankan bahwa esensi tarawih bukan terletak pada angka, melainkan pada kekhusyukan, keikhlasan, dan konsistensi dalam menghidupkan malam Ramadan. Ia juga mengingatkan bahwa semangat qiyamul lail tidak seharusnya berhenti setelah Ramadan usai, sebab salat malam merupakan sunnah yang dicontohkan Nabi sepanjang tahun. Dengan demikian, perbedaan jumlah rakaat hendaknya dipahami sebagai ruang toleransi ilmiah, bukan alasan untuk saling menyalahkan dalam menjalankan ibadah.(*)

Perbedaan Rakaat Salat Tarawih, UMM: Itu Kekayaan Ijtihad dan Bukan Perpecahan

MAKLUMAT – Perbedaan jumlah rakaat dalam salat tarawih kerap memantik perdebatan setiap Ramadan. Ada yang memilih 11 rakaat, sebagian lain 20, bahkan ada yang 36 rakaat. Namun, perbedaan tersebut sejatinya bukan soal benar atau salah, melainkan hasil dari ragam ijtihad ulama dalam memahami dalil. Dosen Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, M.H., menegaskan bahwa variasi dalam salat tarawih merupakan konsekuensi logis dari perbedaan metodologi istinbat hukum Islam. “Al-Qur’an memerintahkan salat melalui ayat seperti aqimus shalah, tetapi tidak menjelaskan secara rinci jumlah rakaat tarawih. Karena itu, hadis menjadi penjelas. Selama dalilnya sahih dan argumentasinya kuat, perbedaan itu tidak jadi soal,” ujarnya. Dasar Penggunaan Ijma Menurut Tanzil, dalam sejarahnya umat Islam merujuk pada imam-imam mazhab yang memiliki metode pengambilan hukum berbeda. Perbedaan pendekatan itulah yang melahirkan variasi praktik salat tarawih di tengah masyarakat. Mazhab Hanafi menetapkan 20 rakaat berdasarkan ijma’ sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Mazhab Maliki menetapkan 36 rakaat dengan merujuk praktik penduduk Madinah. Sementara Mazhab Syafi’i dan Hanbali cenderung pada 20 rakaat berdasar hadis mauquf dan praktik sahabat. Di sisi lain, Majelis Tarjih Muhammadiyah menetapkan 11 rakaat. Dasarnya adalah hadis riwayat Aisyah yang menyebut Nabi Muhammad tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat, baik di Ramadan maupun di luar Ramadan. Dalam hadis tersebut dijelaskan formasi 4-4-3, empat rakaat dengan kekhusyukan panjang, dilanjut empat rakaat serupa, lalu ditutup tiga rakaat witir. Formasi inilah yang kemudian dipraktikkan sebagian umat Islam hingga kini. Tegak Lurus Koridor Sahih Tanzil menjelaskan, konsep qiyamul ramadan sejatinya identik dengan qiyamul lail atau salat malam. Karena itu, witir menjadi bagian tak terpisahkan sebagai penutup. Variasi seperti 2-2-2-2-1 maupun 4-4-3 hanyalah teknis pelaksanaan yang tetap berada dalam koridor dalil sahih. Ia menambahkan, dalam perspektif qiyas, salat malam tidak dibatasi jumlah rakaatnya. Selama tidak menyelisihi prinsip syariat dan memiliki dasar yang kuat, praktik tersebut dapat diterima. “Yang perlu dihindari adalah amalan yang tidak memiliki dalil atau bersandar pada hadis lemah bahkan palsu. Bukan perbedaan rakaatnya yang jadi masalah,” tegasnya. Menurutnya, menjadikan perbedaan jumlah rakaat salat tarawih sebagai sumber perpecahan justru bertentangan dengan semangat Islam, yang menjunjung keluasan ijtihad. Keragaman antara empat mazhab dan Muhammadiyah menunjukkan dinamika intelektual yang hidup dalam tradisi fikih.

Mahasiswa UMM Adakan Sosialisasi Anti Bullying di SDN 02 Badungrejo

pwmu.co – Suasana penuh semangat dan kebersamaan menyelimuti SD Negeri 02 Bandungrejo selama sepekan, mulai Senin (9/2/2026) hingga Jumat (13/2/2026), dalam rangka pelaksanaan program Sosialisasi Anti Bullying dan Intoleransi oleh mahasiswa KKN Kelompok 2 Universitas Muhammadiyah Malang. Kegiatan yang mengusung tema “Bersama Kita Saling Menghargai: Cegah Bullying, Intoleransi, dan Bijak Bermedia Sejak Dini” ini bertujuan menanamkan nilai empati, toleransi, serta kesadaran untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik. Dua Hari Edukasi Anti Bullying dan Intoleransi Rangkaian sosialisasi dilaksanakan selama dua hari, yakni Senin dan Selasa (9–10/2/2026). Pada hari pertama, mahasiswa KKN menghadirkan materi tentang bahaya bullying melalui metode ceramah interaktif, studi kasus, serta drama singkat yang diperankan langsung oleh anggota KKN. Drama tersebut menggambarkan dampak perundungan terhadap korban, sehingga siswa dapat memahami pentingnya saling menghargai. Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi anti bullying serta menyanyikan lagu bertema persahabatan sebagai bentuk komitmen bersama. Antusiasme siswa terlihat dari partisipasi aktif mereka dalam menjawab pertanyaan dan berbagi pengalaman. Pada hari kedua, fokus materi beralih pada intoleransi dan pentingnya menghormati perbedaan. Melalui Forum Group Discussion (FGD), siswa diajak berdiskusi tentang sikap saling menghargai tanpa membedakan latar belakang, kondisi fisik, maupun kebiasaan teman sebaya. Materi juga menyinggung pentingnya bijak dalam menggunakan media digital untuk mencegah cyber bullying. Program ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman siswa mengenai bullying dan intoleransi, membentuk perubahan sikap yang lebih positif, serta menumbuhkan komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif. Mendukung Kegiatan Sekolah dan Try Out Kelas VI Tidak hanya fokus pada sosialisasi, mahasiswa KKN juga turut membantu kegiatan belajar mengajar pada Rabu dan Kamis (11–12/2/2026). Mereka mendampingi guru dalam proses pembelajaran di kelas serta membantu pelaksanaan try out bagi siswa kelas VI pada hari Kamis. Kehadiran mahasiswa KKN memberikan dukungan tambahan bagi sekolah, terutama dalam mempersiapkan siswa menghadapi evaluasi akademik. Bantuan tersebut disambut baik oleh para guru dan siswa yang merasa terbantu dengan pendampingan intensif selama kegiatan berlangsung. Pada Jumat (13/2/2026), mahasiswa KKN kembali menunjukkan kontribusinya dengan membantu mengantarkan serta mendampingi siswa yang mengikuti lomba paskibra di SMP Negeri Pagak. Pendampingan ini menjadi bentuk dukungan moral sekaligus memastikan siswa dapat mengikuti lomba dengan tertib dan percaya diri. Sebagai bentuk apresiasi dan kenang-kenangan, mahasiswa KKN Kelompok 2 menyerahkan vandel atau plakat kepada pihak sekolah disertai ucapan terima kasih atas kerja sama yang terjalin selama satu minggu kegiatan. Kepala SD Negeri 02 Bandungrejo dalam sambutannya menyampaikan harapan agar program yang telah dilaksanakan memberikan manfaat berkelanjutan. Ia menyampaikan bahwa pihak sekolah sangat mengapresiasi kontribusi mahasiswa KKN. “Kami berharap seluruh rangkaian sosialisasi yang telah dilaksanakan dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan karakter siswa. Kami juga mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan bantuan mahasiswa KKN selama satu minggu ini, termasuk dukungan dalam mendampingi serta memfasilitasi siswa yang mengikuti lomba paskibra di SMPN Pagak,” ungkapnya. Membangun Generasi Berkarakter Sejak Dini Selama kegiatan berlangsung, suasana terlihat hangat dan penuh interaksi positif antara mahasiswa KKN, guru, dan siswa. Program ini tidak hanya menjadi ajang edukasi, tetapi juga momentum membangun kedekatan emosional serta menanamkan nilai-nilai kemanusiaan sejak dini. Dengan berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan, mahasiswa KKN Kelompok 2 Universitas Muhammadiyah Malang berhasil menghadirkan program pengabdian yang tidak hanya edukatif, tetapi juga kolaboratif dan bermakna bagi warga sekolah. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya sekolah yang bebas bullying, menjunjung tinggi toleransi, serta memperkuat karakter generasi muda di Desa Bandungrejo, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang.

Mahasiswa UMM Ciptakan Teknologi Deteksi Risiko Kehamilan dan Sabet Medali Internasional

CampusNet – Generasi muda Indonesia kembali berprestasi di panggung dunia. Tim mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih medali perak dalam kompetisi internasional International Student Competition (ISC) 2026 berkat inovasi teknologi yang membantu deteksi risiko maternal atau komplikasi kehamilan secara lebih dini. Inovasi ini dipresentasikan di depan dewan juri pada ajang yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, dan berhasil bersaing ketat dengan lebih dari 100 tim mahasiswa dari berbagai negara di Asia dan Afrika. Solusi Teknologi untuk Risiko Kehamilan Teknologi yang dikembangkan oleh tim mahasiswa ini menggunakan pendekatan ilmiah dan digital untuk memantau kondisi kesehatan ibu hamil, dengan tujuan mengantisipasi risiko komplikasi kehamilan sejak dini. Inovasi semacam ini menjadi penting karena komplikasi selama masa kehamilan masih menjadi tantangan kesehatan global yang memengaruhi keselamatan ibu dan bayi. Tim yang meraih penghargaan perak ini berasal dari berbagai latar disiplin ilmu, termasuk kedokteran, farmasi, pendidikan bahasa, dan komunikasi. Kolaborasi antarbidang ini menunjukkan kekuatan pendekatan interdisciplinary research dalam menciptakan solusi kesehatan yang relevan dan aplikatif. Kompetisi Internasional dan Prestasi Indonesia International Student Competition (ISC) 2026 merupakan ajang ilmiah yang diselenggarakan oleh Universiti Putra Malaysia (UPM). Kompetisi ini menantang mahasiswa dari berbagai negara untuk mempresentasikan paper dan demo solusi inovatif yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Keikutsertaan tim UMM dalam kompetisi ini menunjukkan bahwa talenta teknologi dan riset dari Indonesia kini mampu bersaing secara global. Prestasi ini tidak hanya membanggakan bagi kampus, tetapi juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkarya melalui riset dan inovasi. Dampak Teknologi Deteksi Risiko Maternal Inovasi teknologi deteksi risiko kehamilan ini berpotensi memberikan manfaat nyata di banyak wilayah, khususnya di komunitas yang memiliki akses layanan kesehatan terbatas. Jika dikembangkan lebih lanjut, solusi ini bisa: Meningkatkan deteksi dini tanda bahaya kehamilan Mendukung tenaga kesehatan dalam pengambilan keputusan klinis Mengurangi angka kematian maternal dan neonatal di masyarakat Kolaborasi multidisiplin mahasiswa UMM dalam menciptakan teknologi ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi di Indonesia tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga pada solusi nyata yang berkontribusi pada sustainable development bidang kesehatan.

Kiprah Noegroho Darmo Samodra, Alumnus UMM yang Bangun Citra Indonesia Lewat Seni di Amerika Latin

KLIKMU.CO — Dari ruang kelas menuju panggung diplomasi internasional, perjalanan Noegroho Darmo Samodra membuktikan bahwa keberanian mengambil peluang dapat membuka jalan menuju karier global. Alumni Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2013 itu kini dipercaya mengemban tugas sebagai Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia Quito, Ekuador. Kiprahnya menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana UMM sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak terus melahirkan lulusan yang mampu berkontribusi di level internasional. Lingkungan akademik yang mendorong mahasiswa aktif berorganisasi, berpikir kritis, serta berani mencoba peluang baru menjadi bekal penting dalam perjalanan kariernya. Karier internasionalnya bermula pada 2020 ketika ia memberanikan diri mengikuti seleksi pegawai setempat di lingkungan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Berbekal kemampuan bahasa Spanyol, ia mengirimkan curriculum vitae dan mengikuti seluruh tahapan seleksi hingga akhirnya diterima dan ditempatkan di Kedutaan Besar Republik Indonesia Santiago, Chile. Di sana, ia bertugas pada Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya dengan tanggung jawab mengelola informasi diplomatik sekaligus memperkuat citra Indonesia melalui pendekatan budaya dan pendidikan. Berbagai kegiatan diplomasi pun ia tangani, mulai dari konser gamelan, pertunjukan seni tari, hingga kolaborasi kerja sama antarperguruan tinggi Indonesia dan Amerika Latin. “Diplomasi tidak selalu berbicara soal politik. Lewat seni dan budaya, masyarakat bisa mengenal Indonesia lebih dekat. Dari situ hubungan antarnegara menjadi lebih hangat,” jelasnya, Minggu (22/2/2026). Sejak masa kuliah, Noegroho mengaku aktif mengembangkan kapasitas kepemimpinan melalui organisasi kemahasiswaan. Ia pernah menjabat sebagai Koordinator Olahraga, Seni, dan Budaya di BEM FISIP UMM sebelum dipercaya menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di BEM Universitas. “Pengalaman organisasi di kampus sangat membentuk cara saya bekerja sekarang. Saya belajar mengelola tim, berkomunikasi dengan banyak pihak, dan menghadapi berbagai tantangan,” ujarnya. Menurutnya, tantangan dunia kerja jauh berbeda dibanding masa kuliah. Jika tugas akademik berdampak pada individu, maka pekerjaan diplomatik membawa tanggung jawab yang lebih luas. “Setiap keputusan dalam pekerjaan bisa berdampak pada institusi bahkan negara. Karena itu saya belajar disiplin mengatur waktu antara pekerjaan, olahraga, dan istirahat,” katanya. Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah keterlibatan dalam proyek film kontemporer lintas negara yang menggunakan gamelan Indonesia sebagai soundtrack. Ia bahkan turut memainkan gamelan bersama musisi asal Chile. “Rasanya bangga ketika budaya Indonesia hadir dalam karya seni internasional. Di situ saya merasa benar-benar membawa identitas Indonesia,” kenangnya. Ia pun berpesan kepada generasi muda agar tidak takut mencoba peluang. “Membangun karier memang tidak mudah. Tapi kalau ada kesempatan, jalani saja. Kita tidak pernah tahu jalan ke depan seperti apa. Yang penting ikhtiar dulu,” tutupnya. (Faqih/AS)