UMM Resmi Sandang UNESCO Chair, Perkuat Kemitraan Global Bidang Ekosistem Air

Pemanfaatan dan pengelolaan air secara berkelanjutan mengantar UMM sebagai pemegang UNESCO Chair. Foto: dok.UMM. MAKLUMAT – Langkah besar ditorehkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di ranah global. Mulai 2026, kampus berjuluk Kampus Putih ini resmi dipercaya menjadi Chair and Host Institution dalam program Sustainable Water Ecosystem. Status tersebut menempatkan UMM sebagai pemegang UNESCO Chair, sekaligus mitra strategis lembaga dunia di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Penetapan itu bukan proses instan. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menjelaskan bahwa predikat UNESCO Chair diberikan kepada perguruan tinggi yang memiliki rekam jejak kuat dalam riset, inovasi, dan dampak sosial berkelanjutan. Implementasi Keberlanjutan Lingkungan “University Chair artinya kampus yang secara resmi dijadikan mitra dalam program-program UNESCO. Di Indonesia, kita termasuk yang ketiga. Ini kepercayaan global sekaligus tanggung jawab besar,” ujarnya, Jumat (27/2). Bagi UMM, kemitraan ini menjadi pintu masuk memperluas kontribusi dari level nasional ke ranah internasional. Selama ini, kampus tersebut mengembangkan berbagai inovasi seperti Green Farming, Smart Farming, hingga energi terbarukan mikrohidro. Program-program tersebut memang tidak secara langsung menyasar konservasi air, tetapi berdampak signifikan terhadap keberlanjutan ekosistem air. “Kita mungkin tidak secara khusus merawat air, tetapi lewat smart farming dan energi terbarukan, akhirnya air ikut terselamatkan. Yang sebelumnya terbuang, kini lebih terkelola,” terang Salis. Baca Juga  Reputasi Digital Bukan Klaim Sepihak, Tapi Apa yang Dikatakan Publik Dukungan Riset dan Inovasi Perjalanan menuju UNESCO Chair juga diperkuat pengalaman riset dan pengabdian masyarakat UMM di berbagai daerah. Salah satunya di Tabanan, Bali. Di kawasan pertanian terasering dengan sistem Subak yang diakui sebagai warisan dunia. Di lokasi ini, tim UMM mendampingi petani menghadapi ancaman alih fungsi lahan dan penggunaan pestisida yang berpotensi merusak daerah resapan air. “Kalau sawah berubah jadi vila dan petani berhenti bertani, resapan air hilang. Kalau tidak ada resapan, airnya dari mana?” katanya. Pentingnya Pengelolaan Air Sebagai pemegang UNESCO Chair, UMM memiliki mandat mendukung agenda global pelestarian air. Implementasinya telah dilakukan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Puluhan dosen diterjunkan membantu masyarakat menemukan sumber air sekaligus memperkuat ketahanan pangan. Menurut Salis, persoalan air menjadi akar berbagai problem sosial, termasuk kemiskinan dan stunting. “Di beberapa wilayah NTT, masalah utamanya memang air. Maka pendekatan kita dimulai dari situ,” ujarnya. Di internal kampus, komitmen keberlanjutan juga diterapkan melalui pengelolaan air berbasis hierarki penggunaan. Air diperlakukan sesuai fungsi dan prioritas agar tidak terbuang percuma. “Air itu ada prioritasnya. Untuk minum tentu berbeda dengan air untuk mencuci. Tidak boleh sekali pakai,” jelasnya. Baca Juga  Kadis PUPR Batu Dorong Alumni UMM Terus Berkontribusi bagi Masyarakat Salis menegaskan, pengakuan UNESCO Chair bukan soal capaian prestisius. Lebih dari itu, amanah tersebut harus dijawab dengan konsistensi inovasi dan keberpihakan pada masa depan lingkungan.

Safari Ramadan UMM Tekankan Ramadan Jadi Laboratorium Etika, Bukan Sekedar Tradisi Semata

Safari Ramadan UMM Tekankan Ramadan Jadi Laboratorium Etika, Bukan Sekedar Tradisi Semata MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Ramadan bukan sekadar jeda dari rutinitas makan dan minum. Ia adalah momentum koreksi diri bahkan kritik terhadap cara manusia memaknai ambisi, kuasa, dan hasratnya sendiri. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Malang pada 24 Februari lalu. Mengusung tema “Ramadhan Berkemajuan: Menguatkan Spiritualitas, Intelektualitas, dan Kepedulian Sosial”, giat ini menghadirkan Dr. M. Nurul Humaidi, M.Ag. yang menekankan bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan latihan sistematis untuk mengendalikan watak dasar manusia yang cenderung rakus terhadap kekuasaan dan kenikmatan dunia. Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa Ramadan berasal dari kata ar-ramadh yang berarti panas membakar. Namun, menurutnya, yang seharusnya terbakar bukan hanya dosa, melainkan juga keserakahan manusia. Ia mengaitkan hal tersebut dengan kisah awal manusia sejak Nabi Adam, yang jatuh akibat godaan keabadian dan kekuasaan. Dalam perspektif itu, puasa hadir sebagai pendidikan spiritual yang terus diulang setiap tahun agar manusia belajar menahan diri dari kecenderungan yang sama. “Inti puasa adalah pengendalian diri, bukan sekadar lapar dan haus. Orang yang makan atau minum karena lupa tetap sah puasanya. Artinya, esensi puasa bukan pada rasa lapar, tetapi kemampuan mengontrol diri. Siapa pun yang gagal menahan diri pasti jatuh baik pejabat, orang kaya, maupun rakyat biasa,” ujarnya. Dalam ceramahnya, ia juga menyoroti kecenderungan sebagian umat yang memahami ibadah secara kaku tanpa membuka ruang ijtihad pada aspek instrumental. Ia mencontohkan dinamika penentuan awal Ramadan di lingkungan Muhammadiyah yang bertransformasi dari rukyat menuju hisab hingga gagasan kalender hijriah global tunggal. Menurutnya, perubahan metode tersebut bukan inkonsistensi, melainkan keberanian intelektual membaca realitas dengan pendekatan ilmiah. Pembaruan, tegasnya, hanya berlaku pada instrumen, sementara substansi ibadah mahdhah tetap merujuk pada tuntunan Nabi Muhammad. Ia juga memaparkan tiga tingkatan puasa: jasmani, nafsani, dan ruhani. Puasa jasmani berkaitan dengan pengendalian fisik. Puasa nafsani menuntut disiplin lisan dan perilaku sosial, sedangkan puasa ruhani berorientasi pada kedekatan spiritual dengan Allah. “Jika seseorang masih gemar berdusta dan menyakiti orang lain, Allah tidak memiliki kepentingan dengan lapar dan dahaganya,” tegasnya. Tema Safari Ramadan dinilai relevan bagi dunia akademik yang kerap berada di antara dua ekstrem: spiritualitas tanpa intelektualitas yang berujung ritualisme kering, atau intelektualitas tanpa kepedulian sosial yang mudah melahirkan kesombongan akademik. Melalui kegiatan ini, kampus menegaskan diri bukan hanya sebagai ruang produksi ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter tempat mahasiswa dan akademisi belajar menahan diri dari penyalahgunaan kuasa, kerakusan jabatan, serta pengabaian terhadap sesama. Pada akhirnya, Ramadan diposisikan bukan sekadar tradisi yang berakhir bersama takbir Idulfitri, melainkan laboratorium etika yang melatih manusia agar tidak terjatuh pada nista. Safari Ramadan menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari capaian intelektual, tetapi dari keberhasilan manusia menundukkan dirinya sendiri.(ANS)

Rayz UMM Hotel Malang Usung Tema Maroko di Ramadan 2026

Times Indonesia – MALANG – Rayz UMM Hotel Malang kembali menghadirkan program iftar dengan konsep yang berbeda setiap tahunnya. Pada Ramadan 2026 ini, hotel bintang empat itu mengusung tema Asian Harmony dengan sentuhan authentic Moroccan sebagai sajian utama. Menurut Erik, perwakilan Food and Beverage Rayz UMM Hotel Malang, konsep iftar memang selalu berubah sejak pertama kali digelar pada 2022. “Setiap tahun temanya berbeda. Tahun lalu, 2025, kami pakai tema Asian Treasure yang lebih mengangkat menu nusantara. Tahun ini Asian Harmony lebih fokus ke masakan khas Maroko seperti nasi kebuli dan Moroccan chicken,” jelasnya, Kamis (27/2/2026). Menjemput Lailatul Qadar Sejak Awal Erik memaparkan bahwa setiap harinya untuk menu main course, soup, dan dessert selalu berbeda. Ia menambahkan, meskipun konsep utamanya Asian Harmony dengan sentuhan Morocco, variasi menu tetap disesuaikan setiap hari. Beberapa menu tambahan seperti cwie mie, soto, salad bar, hingga nasi kebuli menjadi daya tarik tersendiri. Untuk menu khas Morocco, roasted chicken menjadi salah satu yang paling diminati pengunjung. Sejumlah menu main course yang disajikan dalam program iftar Rayz UMM Hotel Malang. Menu utama tersebut berganti setiap hari dengan tetap mengusung konsep Asian Harmony. (foto: Evangeline Nasywa Khayyirah/TIMES Indonesia). Berlokasi strategis di Jalan Raya Sengkaling, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, hotel ini selalu menjadi favorit pengunjung, terbukti dari reservasi yang hampir penuh hingga akhir pekan, dengan hanya tersisa sedikit slot di hari tertentu. Selain itu, Erik menilai rasa makanan yang selalu konsisten dan nikmat menjadi daya tarik utama, didukung pula dengan ambience dan pelayanan yang baik yang dihadirkan oleh Rayz UMM Hotel. Selain area restoran utama, Rayz UMM Hotel Malang juga menyediakan paket private iftar bagi tamu yang ingin suasana lebih eksklusif. Paket tersebut tersedia di Sky Rooftop dengan minimal pemesanan 20 paket. Ruangan berkapasitas hingga 70 orang itu telah dilengkapi fasilitas smart TV, audio system, serta pendingin ruangan, sehingga cocok untuk acara komunitas, instansi, maupun keluarga besar. Untuk lebih menarik minat pengunjung, hotel juga menyediakan program undian grand prize berupa voucher menginap di villa private pool milik Rayz Hotel. Setiap pemesanan dengan minimal lima paket akan mendapatkan kesempatan mengikuti undian yang dilakukan setiap minggu. Hadiah tersebut berupa menginap selama satu hari satu malam di salah satu dari lima villa yang dilengkapi kolam renang pribadi dan air hangat. Stan untuk Wedhang Apel dan Wedhang Sereh, minuman tradisional yang menghangatkan tubuh pengunjung. (foto: Dina Ayu Wahidiyanti/TIMES Indonesia).  Untuk tamu keluarga, Rayz UMM Hotel Malang juga menghadirkan pilihan hidangan banyak digemari anak seperti pasta dan churros. Fasilitas playground yang tersedia di area hotel turut menjadi nilai tambah, sehingga si kecil dapat menikmati waktu bermain, sementara orang tua bisa berbuka dengan lebih nyaman. Erik menambahkan, respons pengunjung terhadap tema yang diusung tahun ini sejauh ini terbilang positif. Menurutnya, cita rasa makanan yang konsisten menjadi alasan utama tamu kembali berkunjung setiap Ramadan. “Harapannya semoga sampai akhir Ramadan tetap ramai dan tahun depan bisa menghadirkan konsep yang lebih menarik lagi,” ucapnya. (*) Pewarta: Dina Ayu Wahidiyanti/ Evangeline Nasywa Khayyirah/ Rainfall Akbar Ferdinand

UMM Jadi UNESCO Chair, Perkuat Misi Selamatkan Air Berkelanjutan

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro yang dimiliki oleh UMM. (Ist) Malangpariwara.com – Kabar membanggakan datang dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mulai 2026, kampus putih itu resmi dipercaya menjadi Chair and Host Institution dalam program Sustainable Water Ecosystem melalui kemitraan dengan UNESCO. Penunjukan ini menjadi pengakuan internasional atas konsistensi UMM dalam riset, inovasi pertanian berkelanjutan, hingga pengabdian masyarakat di berbagai wilayah. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD., menjelaskan bahwa status UNESCO Chair bukan sekadar gelar simbolis. Menurutnya, kepercayaan tersebut diberikan kepada perguruan tinggi yang dinilai memiliki rekam jejak nyata serta dampak sosial yang terukur dalam isu keberlanjutan. “University Chair itu artinya kampus yang secara resmi dijadikan mitra dalam program-program UNESCO. Di Indonesia, kita hitungannya yang ketiga,” ujarnya. “Bergabungnya UMM menandai langkah strategis kampus untuk memperluas kontribusi, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional,” lanjutnya. Bawakan Kontribusi Global Salis menuturkan, langkah menuju jejaring UNESCO berangkat dari visi kampus untuk membawa kontribusi global melalui inovasi berkelanjutan. Sejumlah program seperti Green Farming, Smart Farming, hingga pengembangan energi terbarukan mikrohidro menjadi pijakan penting. Pendekatan tersebut memang tidak secara langsung menyasar konservasi air, tetapi berdampak pada penjagaan ekosistem air secara menyeluruh. “Kita memang tidak secara khusus merawat air, tetapi melalui Smart Farming dan energi terbarukan itu akhirnya kita menyelamatkan air. Dari yang awalnya dibuang-buang, sekarang diperhatikan,” katanya. Kegiatan pengembangan dan pemeliharaan Subak Bali oleh UMM. (Ist) Salah satu momentum penting terjadi saat tim UMM melakukan riset dan pengabdian masyarakat di Tabanan, Bali. Wilayah dengan sistem pertanian Subak yang telah diakui sebagai warisan dunia itu menghadapi tantangan serius akibat penggunaan pestisida dan alih fungsi lahan menjadi kawasan pariwisata. “Kalau sawah berubah jadi vila dan petani tidak bertani lagi, daerah resapan air hilang. Kalau tidak ada resapan air, air itu dari mana?” ungkapnya. Sebagai mitra UNESCO, UMM juga memiliki tanggung jawab konkret dalam mendukung pelestarian air. Rektor UMM (kanan) saat meresmikan program air bersih berbasis masyarakat di Desa Tliu, NTT. (Ist) Upaya tersebut salah satunya dilakukan di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menerjunkan puluhan dosen untuk membantu masyarakat mencari sumber air sekaligus memperkuat ketahanan pangan. “Akar persoalan kemiskinan dan stunting di NTT itu karena tidak ada air. Maka kita membantu mencari titik-titik air di sana,” ujarnya. Komitmen Berkelanjutan di Lingkungan Kampus Di internal kampus, komitmen keberlanjutan diterapkan melalui pengelolaan air berbasis hierarki penggunaan agar tidak terbuang sia-sia. “Air itu sebenarnya ada kastanya. Air minum, air mandi, sampai air untuk mencuci. Jadi tidak boleh sekali pakai,” katanya. Bagi Salis, pengakuan dari UNESCO bukan sekadar capaian prestisius. Lebih dari itu, ia menyebutnya sebagai amanah untuk terus berada di garis depan isu keberlanjutan, sejalan dengan visi Muhammadiyah tentang Berkemajuan. “Kita tidak hanya berpikir hari ini, tetapi 50 tahun, 100 tahun, bahkan 500 tahun ke depan. Anak cucu kita tetap membutuhkan lingkungan yang sustain, termasuk air,” pungkasnya. (Djoko W) UNESCO Chair Universitas Muhammadiyah Malang Editor: Fitria Nurul Iman

UMM Dipercaya Jadi Chair UNESCO, Misi Besarnya Selamatkan Air untuk Masa Depan

Rektor UMM Resmikan Program Air Bersih Berbasis Masyarakat di Desa Tliu, NTT. (Humas UMM/PWMU.CO) pwmu.co – Mulai tahun 2026, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dipercaya menjadi Chair and Host Institution dalam program Sustainable Water Ecosystem setelah melalui perjalanan panjang penguatan riset, inovasi pertanian berkelanjutan, serta pengabdian masyarakat di berbagai daerah.Pengakuan tersebut diberikan melalui kemitraan resmi dengan UNESCO, lembaga internasional yang bergerak di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD., menjelaskan bahwa status UNESCO Chair merupakan bentuk kepercayaan global kepada perguruan tinggi yang dinilai mampu menjadi mitra strategis dalam menjalankan program keberlanjutan dunia. Menurutnya, posisi tersebut tidak mudah diraih karena membutuhkan rekam jejak nyata dalam riset dan dampak sosial. “University Chair itu artinya kampus yang secara resmi dijadikan mitra dalam program-program UNESCO. Di Indonesia, kita hitungannya yang ketiga. Bergabungnya UMM menandai langkah strategis kampus untuk memperluas kontribusi, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional,” ujarnya 27 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Salis menuturkan, upaya masuk dalam jejaring UNESCO berangkat dari visi kampus untuk menghadirkan kontribusi global melalui inovasi berkelanjutan. Berbagai program seperti Green Farming, Smart Farming, hingga pengembangan energi terbarukan mikrohidro menjadi fondasi utama. Meski tidak secara langsung berfokus pada konservasi air, pendekatan tersebut terbukti mampu menjaga ekosistem air secara menyeluruh. “Kita memang tidak secara khusus merawat air, tetapi melalui Smart Farming dan energi terbarukan itu akhirnya kita menyelamatkan air. Dari yang awalnya dibuang-buang, sekarang diperhatikan,” katanya. Momentum penting terjadi ketika tim UMM melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat di Tabanan, Bali, wilayah yang dikenal dengan sistem pertanian Subak sebagai warisan dunia. Saat itu, pertanian terasering menghadapi ancaman akibat penggunaan pestisida dan alih fungsi lahan menjadi kawasan pariwisata. “Kalau sawah berubah jadi vila dan petani tidak bertani lagi, daerah resapan air hilang. Kalau tidak ada resapan air, air itu dari mana?” ungkapnya. Sebagai mitra, UMM memiliki kewajiban mendukung program UNESCO, terutama terkait pelestarian air. Salah satu implementasinya dilakukan di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menerjunkan puluhan dosen untuk membantu masyarakat menemukan sumber air dan memperkuat ketahanan pangan. “Akar persoalan kemiskinan dan stunting di NTT itu karena tidak ada air. Maka kita membantu mencari titik-titik air di sana,” ujarnya. Di lingkungan kampus, komitmen tersebut diwujudkan melalui pengelolaan air berbasis hierarki penggunaan. Air dipandang memiliki prioritas sesuai fungsi agar tidak terbuang percuma. “Air itu sebenarnya ada kastanya. Air minum, air mandi, sampai air untuk mencuci. Jadi tidak boleh sekali pakai,” katanya. Terakhir, Salis menambahkan bahwa pengakuan UNESCO bukan sekadar prestasi, melainkan amanah untuk terus berada di barisan terdepan dalam isu keberlanjutan. Nilai tersebut selaras dengan visi Muhammadiyah tentang “Berkemajuan”, yakni memikirkan masa depan generasi mendatang. “Kita tidak hanya berpikir hari ini, tetapi 50 tahun, 100 tahun, bahkan 500 tahun ke depan. Anak cucu kita tetap membutuhkan lingkungan yang sustain, termasuk air,” pungkasnya.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Safari Ramadan UMM Tekankan Ramadan Bukan Sekedar Tradisi, Jadi Laboratorium Etika

Dr. M. Nurul Humaidi, M.Ag di Safari Ramadan UMM. (Humas UMM/PWMU.CO) pwmu.co –Ramadan bukan sekadar jeda dari rutinitas makan dan minum. Ia adalah momentum koreksi diri bahkan kritik terhadap cara manusia memaknai ambisi, kuasa, dan hasratnya sendiri.Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 24 Februari lalu. Mengusung tema “Ramadan Berkemajuan: Menguatkan Spiritualitas, Intelektualitas, dan Kepedulian Sosial”, giat ini menghadirkan Dr. M. Nurul Humaidi, M.Ag. yang menekankan bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan latihan sistematis untuk mengendalikan watak dasar manusia yang cenderung rakus terhadap kekuasaan dan kenikmatan dunia. Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa Ramadan berasal dari kata ar-ramadh yang berarti panas membakar. Namun, menurutnya, yang seharusnya terbakar bukan hanya dosa, melainkan juga keserakahan manusia. Ia mengaitkan hal tersebut dengan kisah awal manusia sejak Nabi Adam, yang jatuh akibat godaan keabadian dan kekuasaan. Dalam perspektif itu, puasa hadir sebagai pendidikan spiritual yang terus diulang setiap tahun agar manusia belajar menahan diri dari kecenderungan yang sama. “Inti puasa adalah pengendalian diri, bukan sekadar lapar dan haus. Orang yang makan atau minum karena lupa tetap sah puasanya. Artinya, esensi puasa bukan pada rasa lapar, tetapi kemampuan mengontrol diri. Siapa pun yang gagal menahan diri pasti jatuh baik pejabat, orang kaya, maupun rakyat biasa,” ujarnya. Dalam ceramahnya, ia juga menyoroti kecenderungan sebagian umat yang memahami ibadah secara kaku tanpa membuka ruang ijtihad pada aspek instrumental. Ia mencontohkan dinamika penentuan awal Ramadan di lingkungan Muhammadiyah yang bertransformasi dari rukyat menuju hisab hingga gagasan kalender hijriah global tunggal. Menurutnya, perubahan metode tersebut bukan inkonsistensi, melainkan keberanian intelektual membaca realitas dengan pendekatan ilmiah. Pembaruan, tegasnya, hanya berlaku pada instrumen, sementara substansi ibadah mahdhah tetap merujuk pada tuntunan Nabi Muhammad. Ia juga memaparkan tiga tingkatan puasa: jasmani, nafsani, dan ruhani. Puasa jasmani berkaitan dengan pengendalian fisik. Puasa nafsani menuntut disiplin lisan dan perilaku sosial, sedangkan puasa ruhani berorientasi pada kedekatan spiritual dengan Allah. “Jika seseorang masih gemar berdusta dan menyakiti orang lain, Allah tidak memiliki kepentingan dengan lapar dan dahaganya,” tegasnya. Tema Safari Ramadan dinilai relevan bagi dunia akademik yang kerap berada di antara dua ekstrem: spiritualitas tanpa intelektualitas yang berujung ritualisme kering, atau intelektualitas tanpa kepedulian sosial yang mudah melahirkan kesombongan akademik. Melalui kegiatan ini, kampus menegaskan diri bukan hanya sebagai ruang produksi ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter tempat mahasiswa dan akademisi belajar menahan diri dari penyalahgunaan kuasa, kerakusan jabatan, serta pengabaian terhadap sesama. Pada akhirnya, Ramadan diposisikan bukan sekadar tradisi yang berakhir bersama takbir Idulfitri, melainkan laboratorium etika yang melatih manusia agar tidak terjatuh pada nista. Safari Ramadan menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari capaian intelektual, tetapi dari keberhasilan manusia menundukkan dirinya sendiri.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim