UMM Hidupkan Tradisi Literasi Lewat NgabubuRead di Taman Merjosari

UMM hadirkan NgabubuRead yang mendapat antusias bagi anak-anak di taman Merjosari Kota Malang. (Foto : Humas UMM) Peweimalang.com, Kota Malang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghidupkan tradisi literasi lewat giat NgabubuRead di taman Merjosari Kota Malang. Hal tersebut ditandai dengan kehadiran sosok KH. Ahmad Dahlan di tengah keramaian di Taman Merjosari. Meski hanya dalam bentuk cosplay, kehadiran pendiri Muhammadiyah bersama istrinya, Siti Walidah, sukses mencuri perhatian warga. Kampus Putih ini memang berupaya memunculkan spirit perjuangan KH Ahmad Dahlan. Terutama dalam tradisi literasi, pendidikan, dan kepedulian sosial yang hidup di tengah kegiatan NgabubuRead. Baca juga:Kampung Budaya Polowijen Gelar Audisi Tari untuk Pembukaan Porprov Jatim 2025 Menunggu waktu berbuka puasa pun berubah menjadi pengalaman berbeda, tidak sekadar berburu takjil, tetapi diisi dengan aktivitas literasi, hiburan edukatif. Termasuk pula dengan aksi berbagi yang menjadikan taman kota tersebut. Hingga taman Merjosari nampak sebagai ruang belajar terbuka yang hangat dan penuh keceriaan. Kegiatan ini menghadirkan konsep ngabuburit produktif melalui musikalisasi puisi, mini game golf, serta berbagai aktivitas membaca bersama. Kehadiran cosplay Ahmad Dahlan dan Siti Walidah menjadi simbol penguatan nilai literasi. Sekaligus kepedulian sosial yang diwariskan dalam sejarah gerakan Muhammadiyah. Antusiasme masyarakat terlihat sejak sore hari. Puluhan anak-anak tampak memadati booth UMM untuk mengikuti berbagai permainan edukatif dan membaca buku yang disediakan. Keseruan semakin terasa saat Mobil Kamis Membaca perpustakaan keliling milik UMM hadir membawa ratusan koleksi bacaan gratis. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom, mengatakan NgabubuRead dirancang sebagai ruang produktif bagi masyarakat untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum tepat untuk memperkuat kebiasaan membaca sekaligus membangun ruang diskusi yang sehat di tengah masyarakat. “NgabubuRead bukan sekadar aktivitas menunggu waktu berbuka, tetapi menjadi gerakan bersama untuk menguatkan spirit literasi. Momen Ramadan adalah waktu yang tepat memperkaya diri, baik secara spiritual maupun intelektual,” ujarnya. Ia menambahkan, kegiatan tersebut tidak berhenti pada aktivitas membaca di taman. Setelah acara utama selesai, peserta dan panitia melanjutkan kegiatan dengan membagikan makanan sebagai bentuk kepedulian. Menurut Maharina, aksi berbagi itu menjadi simbol penguatan spirit Al-Ma’un yang diajarkan KH Ahmad Dahlan. Yakni nilai keberagamaan yang diwujudkan melalui tindakan nyata membantu sesama. Literasi, kata dia, tidak hanya berhenti pada membaca buku, tetapi juga harus melahirkan empati sosial. “Melalui NgabubuRead, UMM ingin menanamkan pesan bahwa membaca, berbagi ilmu, dan menumbuhkan kepedulian sosial, adalah satu kesatuan gerakan yang saling menguatkan,” katanya. Di antara puluhan anak yang memadati area kegiatan, Naufal mengaku sangat menikmati seluruh rangkaian kegiatan yang disediakan. Ia datang bersama teman-temannya dan langsung tertarik melihat mobil perpustakaan keliling. Baginya, membaca di taman sambil menunggu berbuka menjadi pengalaman baru yang menyenangkan. Menurut Naufal, mini game golf dan berbagai permainan di booth UMM membuat suasana semakin seru. Ia juga mengaku senang bisa melihat cosplay tokoh sejarah secara langsung karena sebelumnya hanya mengenalnya dari cerita di sekolah. “Rasanya seperti belajar tapi sambil bermain,” ungkapnya. Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar pada Ramadan berikutnya. Selain mendapat banyak teman baru, Naufal merasa kegiatan tersebut membuat waktu menunggu berbuka terasa lebih cepat dan bermanfaat. “Kalau ada lagi, saya mau ikut lagi. Soalnya seru dan bisa baca banyak buku,” ujarnya Penulis: Redaksi Editor: PWI Malang Raya
Rektor UMM Ajak Civitas Akademika Perkuat Niat di Bulan Ramadan

Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si MALANG (SurabayaPost.id) – Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si, mengajak seluruh civitas akademika untuk memperkuat niat di bulan Ramadan. Ajakan ini disampaikan dalam kajian Ramadan di Masjid A.R. Fachruddin UMM, Kamis (19/2/2026). Nazar menekankan bahwa niat bukan sesuatu yang statis, melainkan dinamis dan harus terus diperbaiki. Menurutnya, ibadah puasa, zakat, dan infak merupakan sarana penting untuk membangun kekuatan ikhlas dalam diri manusia. “Kemurnian niat inilah yang akan memperkuat kualitas amal dan profesionalitas seseorang,” kata Nazar. Ia juga mencontohkan bagaimana bangsa-bangsa seperti Jepang, Korea, dan China mampu mencapai kemajuan besar melalui perubahan pola pikir dan budaya. Ia menilai, kemajuan tersebut berawal dari kesadaran kolektif untuk terus memperbaiki diri dan bergerak menuju tahap yang lebih baik. Dalam konteks institusi, ia menekankan bahwa keikhlasan merupakan fondasi penting bagi kemajuan bersama. Ia mengajak seluruh civitas akademika UMM, baik dosen maupun tenaga kependidikan, untuk melepaskan ego sektoral dan individual demi kemajuan institusi. “Kemajuan tertinggi adalah ketika kita melepaskan ego. Tidak perlu ada yang tahu siapa yang paling berkontribusi, yang penting institusi kita melahirkan yang terbaik melalui semangat gotong royong atau berjamaah,” tegasnya. (lil).
Kisah Mantan Menhan Timor-Leste Pulang ke UMM Rampungkan Doktoral

Kisah Mantan Menhan Timor-Leste Pulang ke UMM Rampungkan Doktoral. (Sumber Humas UMM). MALANG (SurabayaPost.id) – Perjalanan akademik Julio Tomas Pinto seolah kembali ke titik awal. Setelah lama berkecimpung di dunia politik dan pemerintahan Timor-Leste, ia kembali ke bangku kampus tempat masa mudanya ditempa, yakni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di kampus itulah ia akhirnya meraih gelar doktor melalui riset tentang transformasi militer negaranya. Bagi Julio, UMM bukan sekadar tempat belajar. Ia menyebut kampus di Kota Malang itu sebagai rumah kedua yang membentuk perjalanan intelektual dan kepemimpinannya. “Saya sudah tahu tradisi akademik di kampus ini, jadi tidak ada alasan untuk tidak memilih UMM,” kata Julio, 14 Februari lalu saat gala dinner dengan pimpinan UMM. Julio pertama kali datang ke Malang pada 1993 sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan. Di masa itu, ia dikenal aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi. Aktivitas organisasi tersebut menjadi ruang belajar politik sekaligus kepemimpinan yang kelak membawanya masuk ke pemerintahan Timor-Leste. Setelah lulus pada 1998, Julio melanjutkan studi Magister Ilmu Politik di Universitas Indonesia. Minatnya pada isu pertahanan dan keamanan semakin kuat seiring perjalanan bangsanya menuju negara merdeka. Ia kemudian terlibat langsung dalam pemerintahan dan pernah dipercaya menjadi Menteri Muda Pertahanan. Kini ia juga menjabat penasihat Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta serta anggota Dewan Tinggi Pertahanan dan Keamanan. Meski aktif di dunia politik, Julio tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia akademik. Ia mengajar di beberapa universitas dan menulis sejumlah buku mengenai keamanan nasional serta hubungan sipil–militer. Kerinduan untuk kembali belajar akhirnya membawanya pulang ke UMM. Ia memilih menempuh program doktoral dengan fokus pada sosiologi militer di bawah bimbingan Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Julio ingin meneliti perjalanan militer negaranya sendiri, terutama transformasi pasukan gerilya FALINTIL menjadi angkatan bersenjata nasional Falintil–Forças de Defesa de Timor-Leste (F-FDTL). “Saya kembali ke UMM karena sudah mengenal kultur akademiknya. Selain itu, saya memang tertarik meneliti sosiologi militer dan ingin belajar langsung dari pak Muhadjir Effendy,” kata Julio. Kisah Mantan Menhan Timor-Leste Pulang ke UMM Rampungkan Doktoral. (Sumber Humas UMM). Dalam penelitiannya, ia menyoroti bagaimana profesionalisme militer dibangun dalam konteks negara kecil yang baru keluar dari konflik. Menurutnya, profesionalisme militer tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga merupakan praktik sosial yang dipengaruhi sejarah, budaya, serta relasi kekuasaan. “Tidak ada model transformasi profesionalisme militer yang tunggal. Negara kecil pascakonflik seperti Timor-Leste memiliki caranya sendiri dalam membangun tentara nasional,” jelasnya. Dari riset tersebut, Julio merumuskan konsep professionalismo militar híbrido, yakni model profesionalisme militer yang memadukan dimensi historis, politik, institusional, hingga relasi internasional. Selama penelitian, ia mengaku relatif mudah memperoleh data karena memiliki kedekatan dengan banyak tokoh penting di negaranya, termasuk Perdana Menteri Xanana Gusmão. Ujian doktornya di Malang pun terasa istimewa. Sejumlah pejabat tinggi Timor-Leste hadir menyaksikan sidang promosi tersebut. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan terhadap kontribusi akademik yang diharapkan bermanfaat bagi negara tersebut. Bagi Julio, gelar doktor bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia berharap penelitian tersebut dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan profesionalisme militer serta kebijakan keamanan di Timor-Leste. “Secara teoritik riset ini memperkaya kajian sosiologi militer, dan secara praktis bisa membantu reformasi sektor keamanan yang lebih sesuai dengan konteks sosial dan sejarah negara kami,” tutupnya. (**).
Ribuan mahasiswa UMM atasi persoalan desa pada KKN berdampak 2026

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berdampak 2026 Jnews.KotaMalang – Komitmen menghadirkan pengabdian mahasiswa yang berdampak nyata terus diperkuat oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus inovasi yang mandiri dan berdampak, yang menempatkan kolaborasi ilmu pengetahuan, pemberdayaan masyarakat, serta solusi berkelanjutan sebagai bagian dari identitas pengembangan tridarma perguruan tinggi. Melalui semangat tersebut, UMM terus mendorong lahirnya program-program pengabdian yang tidak hanya responsif terhadap kebutuhan masyarakat, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan nyata dalam jangka panjang melalui inovasi mahasiswa. Tidak lagi sekadar menjalankan aktivitas rutin di desa, mahasiswa didorong menghasilkan karya inovatif serta solusi konkret atas berbagai persoalan masyarakat, mulai dari sektor pertanian, pariwisata, pendidikan hingga pemberdayaan sosial lintas negara. Hal tersebut terlihat dalam pameran produk dan inovasi mahasiswa KKN pada 25 Februari lalu yang menjadi rangkaian akhir program pengabdian tahun ini. Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berdampak 2026 Sebanyak 450 mahasiswa yang tergabung dalam 17 kelompok mempresentasikan berbagai hasil program yang lahir dari proses pendampingan langsung bersama masyarakat, termasuk satu kelompok yang menjalankan pengabdian internasional di Malaysia. Berbagai inovasi dan solusi nyata bagi masyarakat hadir melalui program KKN UMM, mulai dari optimalisasi sistem irigasi untuk membantu petani meningkatkan efisiensi distribusi air sekaligus menjaga produktivitas lahan melalui edukasi pengelolaan sumber daya air berbasis partisipasi warga. Di sektor pariwisata, mahasiswa turut menguatkan kembali eksistensi Kampung Warna-Warni Jodipan melalui pelatihan komunikasi bahasa asing dan pelayanan wisata bagi warga agar lebih siap menerima wisatawan mancanegara serta membuka peluang ekonomi baru. Pengabdian juga menjangkau tingkat internasional melalui pendampingan pendidikan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI) di Penang, Malaysia. Dengan membantu akses belajar, penguatan literasi dasar, motivasi pendidikan, hingga pelaksanaan kegiatan sosial kemasyarakatan sebagai wujud solidaritas dan pengabdian lintas negara. Wakil Rektor IV UMM, Prof. Dr. Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa konsep KKN Berdampak menjadi arah utama pengabdian mahasiswa setelah kampus kembali menghidupkan model KKN berbasis tinggal bersama masyarakat pascapandemi. “Program KKN harus memberi kontribusi yang tidak mungkin ada kalau mahasiswa itu tidak hadir. Jadi bukan sekadar kegiatan rutin seperti mengajar atau menjadi panitia kegiatan masyarakat, tetapi harus menghadirkan sesuatu yang baru,” ujarnya. Menurutnya, mahasiswa didorong menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat, baik melalui teknologi tepat guna, pengembangan metode pendidikan, hingga penguatan ekonomi lokal. Dampak program juga harus terukur sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Selain berdampak, keberlanjutan menjadi prinsip utama pelaksanaan KKN UMM. Kampus mulai menyusun data dasar sebagai baseline pengembangan desa agar program mahasiswa tidak berhenti setelah masa pengabdian selesai. “Minimal tiga sampai lima tahun ke depan kita ingin melihat perubahan nyata di lokasi KKN. Mahasiswa berikutnya tidak lagi memulai dari nol, tetapi melanjutkan solusi yang sudah dirintis sebelumnya,” tambahnya. Apresiasi juga datang dari pemerintah daerah. Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Malang, Dr. Ir. Ricky Meinardi, S.T., M.T., menyebut program KKN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai model pengabdian yang mampu menghadirkan inovasi berkelanjutan. “Mahasiswa tidak hanya menjalankan program saja, tetapi memberikan berbagai inovasi yang positif dan solusi terhadap permasalahan di desa. Kami berharap kontribusi ini dapat terus berlanjut dan semakin berkembang di tahun-tahun mendatang,” ungkapnya. Ia juga berharap sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah semakin diperkuat agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas. “Kolaborasi antara pemerintah daerah dengan perguruan tinggi seperti UMM ini sangat penting. Harapannya kerja sama ini terus terjalin sehingga inovasi mahasiswa benar-benar mampu memberikan sumbangsih nyata, tidak hanya bagi masyarakat desa, tetapi juga bagi pembangunan Kabupaten Malang secara keseluruhan,” pungkasnya.(*)
KH Ahmad Dahlan “Hadir” di Taman Merjosari, NgabubuRead UMM Bikin Suasana Jadi Edukatif

0 SHARES 4 VIEWS Share on FacebookShare on Twitter kegiatan NgabubuRead garapan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), hadirkan sosok KH. Ahmad Dahlan tampak menyapa pengunjung di tengah keramaian di Taman Merjosari, Rabu (25/2/26) Jnews.KotaMalang – Sosok KH. Ahmad Dahlan tampak menyapa pengunjung di tengah keramaian di Taman Merjosari, Rabu (25/2/2026). Meski hanya dalam bentuk cosplay, kehadiran pendiri Muhammadiyah bersama istrinya, Siti Walidah, sukses mencuri perhatian ratusan warga yang memadati kegiatan serta memunculkan spirit perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam tradisi literasi, pendidikan, dan kepedulian sosial terasa hidup di tengah kegiatan NgabubuRead garapan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menunggu waktu berbuka puasa pun berubah menjadi pengalaman berbeda, tidak sekadar berburu takjil, tetapi diisi dengan aktivitas literasi, hiburan edukatif, hingga aksi berbagi yang menjadikan taman kota tersebut sebagai ruang belajar terbuka yang hangat dan penuh keceriaan. Kegiatan ini menghadirkan konsep ngabuburit produktif melalui musikalisasi puisi, mini game golf, serta berbagai aktivitas membaca bersama. Kehadiran cosplay Ahmad Dahlan dan Siti Walidah menjadi simbol penguatan nilai literasi sekaligus kepedulian sosial yang diwariskan dalam sejarah gerakan Muhammadiyah. Antusiasme masyarakat terlihat sejak sore hari. Puluhan anak-anak tampak memadati booth UMM untuk mengikuti berbagai permainan edukatif dan membaca buku yang disediakan. Keseruan semakin terasa saat Mobil Kamis Membaca perpustakaan keliling milik UMM hadir membawa ratusan koleksi bacaan yang dapat diakses gratis oleh pengunjung. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom, mengatakan NgabubuRead dirancang sebagai ruang produktif bagi masyarakat untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum tepat untuk memperkuat kebiasaan membaca sekaligus membangun ruang diskusi yang sehat di tengah masyarakat. kegiatan NgabubuRead garapan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), hadirkan sosok KH. Ahmad Dahlan tampak menyapa pengunjung di tengah keramaian di Taman Merjosari, Rabu (25/2/26) “NgabubuRead bukan sekadar aktivitas menunggu waktu berbuka, tetapi menjadi gerakan bersama untuk menguatkan spirit literasi sebagai fondasi kemajuan bangsa. Ramadan adalah waktu yang tepat memperkaya diri, baik secara spiritual maupun intelektual,” ujarnya. Ia menambahkan, kegiatan tersebut tidak berhenti pada aktivitas membaca di taman. Setelah acara utama selesai, peserta dan panitia melanjutkan kegiatan dengan membagikan makanan kepada masyarakat di jalan sebagai bentuk kepedulian sosial. Menurut Maharina, aksi berbagi itu menjadi simbol penguatan spirit Al-Ma’un yang diajarkan KH Ahmad Dahlan, yakni nilai keberagamaan yang diwujudkan melalui tindakan nyata membantu sesama. Literasi, kata dia, tidak hanya berhenti pada membaca buku, tetapi juga harus melahirkan empati sosial. “Melalui NgabubuRead, UMM ingin menanamkan pesan bahwa membaca, berbagi ilmu, dan menumbuhkan kepedulian sosial adalah satu kesatuan gerakan yang saling menguatkan,” katanya. Di antara puluhan anak yang memadati area kegiatan, Naufal mengaku sangat menikmati seluruh rangkaian kegiatan yang disediakan. Ia datang bersama teman-temannya dan langsung tertarik melihat mobil perpustakaan keliling yang dipenuhi buku cerita bergambar. Baginya, membaca di taman sambil menunggu berbuka menjadi pengalaman baru yang menyenangkan. Menurut Naufal, mini game golf dan berbagai permainan di booth UMM membuat suasana semakin seru. Ia juga mengaku senang bisa melihat cosplay tokoh sejarah secara langsung karena sebelumnya hanya mengenalnya dari cerita di sekolah. “Rasanya seperti belajar tapi sambil bermain,” katanya dengan wajah antusias. Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar pada Ramadan berikutnya. Selain mendapat banyak teman baru, Naufal merasa kegiatan tersebut membuat waktu menunggu berbuka terasa lebih cepat dan bermanfaat. “Kalau ada lagi, saya mau ikut lagi. Soalnya seru dan bisa baca banyak buku,” ujarnya.(*/ARM)
Akademisi UMM Soroti Arah Kebijakan LPDP, Tekankan Pentingnya Keseimbangan STEM dan Humaniora

Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, dalam menyampaikan penilainnya terkait kebijakan LPDP. (Ist) Malangpariwara.com – Kebijakan Beasiswa LPDP yang memprioritaskan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dibandingkan ilmu sosial-humaniora mendapat perhatian serius dari Akademisi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si. Ia menilai, polemik yang mencuat ke ruang publik tidak bisa dipandang sekadar sebagai kebijakan teknis pendidikan. Melainkan cerminan arah pembangunan nasional yang tengah dipertaruhkan. Dalam keterangannya kepada Tim Humas UMM pada 2 Maret lalu, Wahyudi menyebut dinamika seputar LPDP sebagai fenomena sosial yang mengindikasikan perlunya pembenahan. Terutama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia menyoroti fenomena sebagian penerima beasiswa yang setelah lama menempuh studi di luar negeri justru memilih menetap di sana dan perlahan menjauh dari ikatan kebangsaan. “Peristiwa itu menjadi evidence sosial bahwa ada yang perlu dibenahi. Ini bukan sekadar persoalan individu. Tetapi menunjukkan bahwa orientasi pembangunan dan penguatan nasionalisme kita belum sepenuhnya kokoh,” ujarnya. Dijunjungnya Ilmu Eksakta Dibanding Ilmu Sosial Menurutnya, prioritas terhadap STEM lahir dari paradigma lama yang menempatkan ilmu eksakta sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi. Sementara ilmu sosial-humaniora dianggap sebagai pelengkap. Padahal, dalam perspektif sosiologi pembangunan, kemajuan tidak hanya diukur dari angka dan inovasi teknologi. Tetapi juga dari terbentuknya etika publik, kesadaran kolektif, serta kohesi sosial yang menopang keberlanjutan bangsa. Ia menegaskan bahwa dikotomi antara eksakta dan sosial perlu diakhiri. Ilmu sosial-humaniora, katanya, berperan penting dalam mengasah kepekaan nurani serta membangun keseimbangan antara rasionalitas, iman, dan nilai kemanusiaan. “Manusia tidak cukup hanya cerdas secara teknis, tetapi juga harus matang secara moral,” tegasnya. Arah Pembangunan Indonesia Wahyudi juga mengaitkan arah pembangunan Indonesia dengan arus global sejak era Millennium Development Goals hingga Sustainable Development Goals. Ia menilai kebijakan nasional kerap selaras dengan prioritas lembaga internasional seperti International Monetary Fund dan World Bank. Di mana secara tidak langsung memengaruhi strategi penyiapan sumber daya manusia berbasis kebutuhan pasar global. Menurutnya, jika tidak berhati-hati, Indonesia berisiko hanya menjadi pengikut arus pemikiran global tanpa merumuskan arah sendiri. Dampaknya, struktur sosial bisa semakin timpang karena akses pendidikan unggul dan jejaring internasional cenderung dinikmati kelompok tertentu. Sehingga kesenjangan sosial-ekonomi berpotensi melebar. Ia juga mengingatkan bahaya lahirnya generasi teknokratik yang kaku apabila dominasi STEM tidak diimbangi perspektif humanistik. Wahyudi merujuk pada positivisme Auguste Comte yang terlalu menekankan rasionalitas empiris. Menurutnya, pendekatan yang terlalu positivistik dapat mengikis sensitivitas kemanusiaan. Sebagai solusi, ia mendorong negara menyeimbangkan inovasi teknologi dengan penguatan nilai melalui paradigma profetik yang diperkenalkan Kuntowijoyo. Pembangunan, katanya, tidak cukup berhenti pada strategi dan target pertumbuhan, tetapi harus menyentuh keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, dan martabat manusia. Di akhir pernyataannya, Wahyudi menekankan bahwa kebijakan LPDP dan pendidikan nasional semestinya tidak terjebak pada logika angka semata. Tanpa sentuhan nilai dan kepekaan sosial, pembangunan berisiko melahirkan generasi yang unggul secara teknis namun miskin empati. Padahal tujuan sejati pembangunan adalah memerdekakan dan memartabatkan manusia Indonesia secara utuh. (Djoko W)
Prodi Agribisnis UMM Bagi-bagi Takjil Sayuran ke Pengguna Jalan

Indonesiandaily.com – Program Studi (Prodi) Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membagi-bagi takjil berupa sayuran ke pengguna jalan. Konsep berbagi ini menjadi warna baru dalam semarak Ramadan di lingkungan kampus. Jika sebelumnya takjil identik dengan makanan instan atau minuman manis, Agribisnis UMM menghadirkan “reformasi berbagi”. Yakni melalui paket sayur segar yang telah disesuaikan dengan menu masakan sehat untuk berbuka puasa. Ketua Prodi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan SP MSc menjelaskan bahwa kegiatan berbagi paket sayur ini menjadi bentuk nyata penerapan nilai keilmuan. Dengan yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Takjil berupa sayur mayur dibagikan mahasiswa Prodi Agribisnis UMM. (Foto : Hms UMM) Dalam pelaksanaannya, Agribisnis UMM turut menggandeng PT Bumiaji Sejahtera sebagai mitra strategis. Perusahaan tersebut juga merupakan salah satu mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam program Center of Excellent (CoE). Diantaranya dengan mendukung penguatan pembelajaran berbasis praktik serta kolaborasi antara kampus dan industri. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam memastikan kualitas produk pertanian yang dibagikan. Sekaligus memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam memahami rantai agribisnis secara langsung. “Kegiatan ini merupakan implementasi nilai agribisnis yang menekankan aspek keberlanjutan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan produk pertanian,” ungkapnya. Berbagi sayur-mayur di bulan Ramadan menjadi simbol bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa keilmuan agribisnis tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif. Sebanyak sekitar 200 paket sayur berhasil disiapkan oleh mahasiswa. Antusiasme masyarakat pun tinggi. Dalam waktu singkat, seluruh paket habis dibagikan, menunjukkan bahwa inovasi berbagi dalam bentuk bahan pangan segar mendapat respons positif. Unik, mahasiswa Agribisnis UMM bagi-bagi takjil Ramadhan menggunakan sayur mayur kepada pengguna jalan. Keunikan lainnya terletak pada konsep pengemasan yang telah disesuaikan berdasarkan satu menu masakan. Setiap paket dirancang menjadi satu hidangan lengkap, seperti sop, sayur asam, sayur bayam, hingga capcay. Konsep ini memudahkan penerima untuk langsung mengolahnya menjadi sajian berbuka yang sehat dan praktis. “Kami sudah paketkan sayur-sayurannya berdasarkan satu menu sayur,” tambahnya. Melalui kegiatan ini, Agribisnis UMM menegaskan bahwa sektor pertanian bukan sekadar produksi komoditas, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat. Reformasi berbagi dari makanan instan menuju bahan pangan segar menjadi simbol bahwa pertanian dapat hadir sebagai solusi ketahanan pangan. sekaligus penggerak gaya hidup sehat masyarakat. Ke depan, inovasi berbagi berbasis produk pertanian ini diharapkan terus berlanjut dan menjadi ciri khas Agribisnis UMM dalam menghadirkan kontribusi nyata. Dimana yang menyatukan akademik, pemberdayaan ekonomi lokal, kemitraan industri, serta nilai kemanusiaan di bulan suci Ramadan.
Prioritas LPDP STEM Dipertanyakan, Akademisi UMM Ingatkan Risiko Krisis Nilai Bangsa

Kebijakan Beasiswa LPDP yang memprioritaskan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dibandingkan ilmu sosial-humaniora menuai sorotan tajam dari Akademisi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si. Ia menegaskan bahwa polemik LPDP yang belakangan ramai diperbincangkan tidak bisa dibaca semata sebagai kebijakan teknis pendidikan, melainkan sebagai refleksi arah pembangunan nasional yang sedang dipertaruhkan, terutama dalam cara negara memaknai peran ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter bangsa di tengah arus globalisasi yang semakin kuat. “Peristiwa yang ramai soal LPDP itu menjadi evidence sosial bahwa ada yang perlu dibenahi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Melihat fenomena sebagian penerima beasiswa yang setelah lama menempuh studi di luar negeri justru merasa lebih nyaman menetap di sana dan perlahan menjauh dari ikatan kebangsaan. Itu bukan sekadar persoalan individu, tetapi tanda bahwa orientasi pembangunan dan penguatan nasionalisme kita belum sepenuhnya kokoh,” ujarnya. 02 Maret lalu pada Tim Humas UMM. Ia menjelaskan bahwa prioritas terhadap STEM lahir dari paradigma lama yang menganggap ilmu eksakta sebagai motor utama pembangunan ekonomi, sementara ilmu sosial dan humaniora ditempatkan sebagai pelengkap yang tidak mendesak, padahal dalam perspektif sosiologi pembangunan sejatinya tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan angka dan kemajuan teknologi, tetapi juga menyangkut pembentukan etika publik, kesadaran kolektif, serta kohesi sosial yang menjadi fondasi keberlanjutan sebuah bangsa. “Paradigma dikotomi antara eksakta dan sosial itu harus diubah karena tidak mungkin ilmu sosial diabaikan dalam mengawal pembangunan. Karena menekankan bahwa ilmu sosial-humaniora berfungsi mengasah kepekaan nurani dan membangun keseimbangan antara rasionalitas, iman, dan nilai kemanusiaan. Ilmu sosial itu menyentuh hati, menyentuh religiositas atau spiritualitas, sehingga manusia tidak hanya cerdas secara teknis tetapi juga matang secara moral,” tegasnya. Wahyudi juga melihat bahwa orientasi pembangunan Indonesia tidak berdiri sendiri, melainkan mengikuti arus global sejak era Millennium Development Goals hingga Sustainable Development Goals, di mana arah kebijakan nasional kerap selaras dengan prioritas lembaga internasional seperti International Monetary Fund dan World Bank yang secara tidak langsung memengaruhi strategi penyiapan sumber daya manusia berbasis kebutuhan pasar global dan daya saing ekonomi. “Risikonya, kita hanya menjadi potret dari pemikiran dunia, bukan perumus arah kita sendiri melainkan struktur sosial yang timpang. Mobilitas vertikal akan semakin sulit dijangkau oleh kelompok kelas menengah ke bawah jika akses pendidikan unggul dan jejaring global hanya terbuka bagi segelintir orang, sehingga kesenjangan sosial-ekonomi berpotensi melebar sebagai konsekuensi logis dari pembangunan yang kurang sensitif terhadap realitas kelas,” ujarnya. Ia pun mengingatkan bahaya lahirnya generasi teknokratik yang kaku apabila dominasi STEM tidak diimbangi perspektif humanistik, dengan merujuk pada positivisme Auguste Comte yang terlalu menekankan rasionalitas empiris. Menurutnya, jika hanya berpikir positifistik, orang bisa kehilangan sensitivitas kemanusiaan dan terjebak pada parameter-parameter rasional semata, padahal manusia harus tetap berjalan di wilayah kemanusiaannya. “Maka dari itu, negara perlu menyeimbangkan inovasi teknologi dengan penguatan nilai melalui paradigma profetik sebagaimana diperkenalkan Kuntowijoyo, karena pembangunan tidak cukup berhenti pada aturan, strategi, dan target pertumbuhan, tetapi harus menyentuh hakikat keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, serta martabat manusia sebagai tujuan akhir,” ujarnya. Pada akhirnya, Wahyudi mengingatkan bahwa LPDP dan kebijakan pendidikan nasional seharusnya tidak terjebak pada logika angka dan pertumbuhan ekonomi semata, sebab tanpa sentuhan nilai dan kepekaan sosial, pembangunan hanya akan melahirkan generasi yang unggul secara teknis tetapi miskin empati, sementara tujuan sejati pembangunan adalah memerdekakan dan memartabatkan manusia Indonesia secara utuh. (vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Konflik Iran dan AS-Israel Selat Hormuz Ditutup, Apa Imbas bagi Indonesia?

Konflik Iran dan AS-Israel: Pakar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana P., M.Hub.Int, Ph.D (cand.)., Foto: Koleksi Pribadi Konflik Iran dan AS-Israel Selat Hormuz Ditutup, Apa Imbas bagi Indonesia? MALANG, Tugujatim.id – Konflik Iran dan AS-Israel memicu kekhawatiran dampak secara global, dan potensi mengganggu stabilitas ekonomi Indonesia. Situasi geopolitik di Timur Tengah terus meningkat, bahkan tidak menunjukkan tanda mereda dalam waktu singkat. Pakar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana P., M.Hub.Int, Ph.D (cand.)., menilai konflik tersebut bukan sekadar persoalan militer sesaat, melainkan akumulasi rivalitas panjang yang berakar pada persoalan keamanan eksistensial antarnegara. Hubungan antara Israel dan Iran sejak lama berada dalam situasi saling mengancam secara fundamental. Dalam konsep keamanan ontologis (ontological security), kedua negara sulit mencapai rasa aman selama pihak lawan masih dianggap ancaman utama terhadap eksistensi negara. “Iran itu ancaman bagi Israel, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ujar Dion Maulana P. dalam keterangan tertulisnya, dikutip Tugujatim.id Selasa (3/3/2026). Dion menilai eskalasi terbaru dipicu kebuntuan negosiasi nuklir antara Iran dan Washington. Dialog yang sempat berjalan kembali menemui jalan buntu hingga akhirnya terjadi serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung. Presiden AS, Donald Trump tidak hanya dipengaruhi isu pengayaan nuklir, tetapi juga tekanan keamanan kawasan. “Alasannya dua. Pertama soal pengayaan nuklir yang dikhawatirkan menjadi senjata. Kedua, Iran dianggap mengancam sekutu Amerika di Timur Tengah, terutama Israel dan basis militer Amerika di kawasan,” katanya. Meski demikian, Dion meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan konflik ini akan berujung pada perang dunia ketiga. Ia menilai proses menuju konflik global membutuhkan dinamika panjang, berbeda dengan eskalasi konflik regional. Berbagai klaim yang menyebut keterlibatan negara besar seperti China, Rusia, maupun Korea Utara harus diverifikasi terlebih dahulu. “Banyak informasi yang beredar itu harus dicek dan ricek lagi. Tidak bisa langsung disimpulkan akan menjadi Perang Dunia Ketiga, karena proses menuju ke sana itu sangat kompleks,” ujarnya. Dion mengingatkan eskalasi konflik saat ini telah memasuki fase yang lebih berbahaya setelah jalur energi strategis dunia di Selat Hormuz dilaporkan telah ditutup. Penutupan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia tersebut berpotensi memicu guncangan ekonomi global yang dampaknya dapat dirasakan hingga ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Gangguan arus distribusi energi internasional tidak hanya akan memicu lonjakan harga minyak dunia, tetapi juga berpotensi mendorong perubahan sikap politik luar negeri negara-negara besar yang terdampak tekanan ekonomi. “Kalau Selat Hormuz ditutup, ekonomi dunia pasti terguncang. Kalau ekonomi negara besar terganggu, biasanya kebijakan luar negeri mereka menjadi lebih agresif,” kata Dion. Dampaknya Indonesia juga akan merasakan tekanan langsung, terutama dari sektor energi dan pangan. Gangguan distribusi minyak berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak yang kemudian diikuti lonjakan harga kebutuhan pokok hingga inflasi. “Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” ujarnya. Terkait langkah pemerintah Indonesia, Dion juga mengkritisi tawaran mediasi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai secara teori resolusi konflik, mediasi sulit dilakukan selama pertempuran masih berlangsung. “Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” katanya. Selain itu, Dion menilai Indonesia perlu mengevaluasi posisi diplomatiknya dalam forum internasional Board of Peace (BOP) pasca serangan terhadap Iran. Menurutnya, tindakan militer yang terjadi di tengah proses negosiasi justru bertolak belakang dengan semangat perdamaian yang seharusnya dijunjung oleh lembaga tersebut. Ia menilai kredibilitas sebuah forum internasional harus diukur dari tindakan nyata para anggotanya, bukan sekadar retorika diplomatik. “Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengklaim membawa perdamaian justru dipimpin negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi? Itu tidak mencerminkan perdamaian. Kita melihat negara atau lembaga itu dari kredibilitasnya. Kalau tindakan dan ucapannya berbeda, maka sulit dipercaya. Indonesia tidak boleh hanya ikut arus,” katanya. Sebagai langkah strategis, ia menyarankan Indonesia mengambil sikap diplomatik yang lebih tegas terhadap pelanggaran hukum internasional. “Indonesia harus berani bersikap tegas dan tidak boleh takut terintimidasi. Kalau hukum internasional terus diinjak-injak, tinggal menunggu waktu negara lain juga bisa menjadi korban,” pungkasnya.
Menjadikan Puasa Laboratorium Etika