Pakar UMM: Eskalasi AS–Israel dan Iran Berpotensi Picu Inflasi serta Krisis Energi di Indonesia

Ilustrasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memuncak setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran dampak global (ist) JATIMTIMES – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memuncak setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran dampak global. Situasi tersebut tak hanya memantik spekulasi publik tentang kemungkinan perang besar, tetapi juga menimbulkan ancaman serius terhadap stabilitas ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Pakar Hubungan Internasional UMM, Dion Maulana P. menilai konflik yang terjadi bukan sekadar benturan militer sesaat. Ia menegaskan, akar persoalan sudah lama berada pada level ancaman eksistensial. Menurut Dion, dalam perspektif keamanan ontologis, kedua negara memandang satu sama lain sebagai ancaman mendasar terhadap keberlangsungan negara. Selama persepsi tersebut tidak berubah, ketegangan akan terus berulang dalam berbagai bentuk. “Iran itu ancaman bagi Israel, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ujarnya, Senin (2/3/2026). Ia menjelaskan, eskalasi terbaru dipicu kebuntuan negosiasi nuklir antara dan yang berlangsung sejak tahun lalu. Proses diplomasi yang sempat berjalan akhirnya kembali menemui jalan buntu, bahkan disusul serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran di tengah proses negosiasi. Dion menilai keputusan Presiden tidak semata didorong isu pengayaan nuklir. Faktor keamanan kawasan dan perlindungan terhadap sekutu Amerika di Timur Tengah, terutama Israel dan pangkalan militer AS, juga menjadi pertimbangan utama. “Alasannya dua. Pertama soal pengayaan nuklir yang dikhawatirkan menjadi senjata. Kedua, Iran dianggap mengancam sekutu Amerika di Timur Tengah, terutama Israel dan basis militer Amerika di kawasan,” katanya. Meski situasi memanas, Dion mengingatkan publik agar tidak serta-merta menyimpulkan konflik ini akan berkembang menjadi Perang Dunia Ketiga. Menurutnya, konflik global membutuhkan proses panjang dan melibatkan dinamika kompleks antarnegara besar. “Banyak informasi yang beredar harus dicek dan diverifikasi. Proses menuju perang dunia itu sangat kompleks, tidak sesederhana eskalasi regional,” tegasnya. Yang lebih mengkhawatirkan, lanjut Dion, adalah dampak ekonomi global setelah jalur energi strategis dunia di dilaporkan ditutup. Selat tersebut merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia. Gangguan pada jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak global. “Kalau Selat Hormuz ditutup, ekonomi dunia pasti terguncang. Ketika ekonomi negara besar terganggu, kebijakan luar negeri mereka biasanya menjadi lebih agresif,” ujarnya. Indonesia, sebagai negara yang masih bergantung pada impor energi, dinilai akan merasakan dampak langsung. Kenaikan harga minyak mentah berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Efek domino selanjutnya adalah naiknya harga kebutuhan pokok dan meningkatnya inflasi. “Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” kata Dion. Selain sektor energi, ketidakstabilan global juga dapat memengaruhi nilai tukar rupiah, biaya impor, serta stabilitas fiskal nasional. Terkait langkah diplomasi Indonesia, Dion turut menanggapi tawaran mediasi yang disampaikan Presiden . Ia menilai, dalam teori resolusi konflik, mediasi lazimnya dilakukan setelah kekerasan mereda. “Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” ujarnya. Lebih jauh, Dion juga menyoroti posisi Indonesia dalam forum internasional Board of Peace (BOP). Menurutnya, kredibilitas sebuah lembaga perdamaian harus diukur dari konsistensi antara pernyataan dan tindakan para anggotanya. Ia menilai serangan militer yang terjadi di tengah proses negosiasi justru bertentangan dengan semangat perdamaian yang diklaim forum tersebut. “Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengklaim membawa perdamaian justru dipimpin negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi? Itu tidak mencerminkan perdamaian,” tegasnya. Sebagai langkah strategis, Dion menyarankan Indonesia mengambil posisi diplomatik yang lebih tegas terhadap pelanggaran hukum internasional. “Indonesia harus berani bersikap tegas dan tidak boleh takut terintimidasi. Kalau hukum internasional terus diinjak-injak, tinggal menunggu waktu negara lain juga bisa menjadi korban,” pungkasnya.
Konflik AS-Iran Ancam Ekonomi Indonesia, Ini Pemicunya

Asap membumbung ke udara setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, Sabtu (28/2/2026). ANTARA/Anadolu/py/am. BeritaJejakFakta – Indonesia diperkirakan akan merasakan dampak langsung, khususnya pada sektor energi dan pangan, akibat konflik antara AS-Israel dan Iran. Dion Maulana P., pakar hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menekankan bahwa eskalasi konflik saat ini telah mencapai tahap yang lebih berbahaya setelah Selat Hormuz, jalur energi strategis dunia, dilaporkan ditutup. Penutupan jalur distribusi minyak yang sangat penting ini berpotensi menyebabkan guncangan ekonomi global, yang dampaknya dapat dirasakan oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Gangguan pada arus distribusi energi internasional dapat memicu lonjakan harga minyak dunia dan berpotensi mengubah kebijakan luar negeri negara-negara besar yang terkena dampak tekanan ekonomi. Menurut Dion, terganggunya distribusi minyak dapat memicu kenaikan harga BBM, yang kemudian diikuti oleh lonjakan harga kebutuhan pokok dan inflasi. “Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” ujarnya, Senin (2/3/2026). Dion mengkritisi tawaran mediasi yang diajukan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, resolusi konflik atau mediasi sulit dilakukan saat pertempuran masih berlangsung. “Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” katanya. Dion juga menilai Indonesia perlu mengevaluasi posisi diplomatiknya di forum internasional Board of Peace (BOP) setelah serangan terhadap Iran. Tindakan militer di tengah negosiasi bertentangan dengan semangat perdamaian. Kredibilitas forum internasional harus diukur dari tindakan nyata anggotanya, bukan retorika diplomatik. “Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengklaim membawa perdamaian justru dipimpin oleh negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi? Itu tidak mencerminkan perdamaian. Kita melihat negara atau lembaga itu dari kredibilitasnya. Kalau tindakan dan ucapannya berbeda, maka sulit dipercaya. Indonesia tidak boleh hanya ikut arus,” ujarnya. Sebagai langkah strategis, Indonesia disarankan untuk mengambil sikap diplomatik yang lebih tegas terhadap pelanggaran hukum internasional. “Indonesia harus berani bersikap tegas dan tidak boleh takut terintimidasi. Kalau hukum internasional terus diinjak-injak, tinggal menunggu waktu negara lain juga bisa menjadi korban,” ucapnya. Hubungan Israel dan Iran sejak lama berada dalam situasi saling mengancam. Dalam konsep keamanan ontologis (ontological security), kedua negara sulit mencapai rasa aman selama pihak lawan masih dianggap ancaman utama. “Iran itu ancaman bagi Israel, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ujarnya. Eskalasi terbaru dipicu oleh kebuntuan negosiasi nuklir antara Iran dan Washington yang berlangsung sejak tahun sebelumnya. Dialog yang sempat berjalan menemui jalan buntu hingga akhirnya terjadi serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran di tengah proses diplomasi. Keputusan ini dipengaruhi oleh isu pengayaan nuklir dan tekanan keamanan kawasan. “Alasannya dua. Pertama, soal pengayaan nuklir yang dikhawatirkan menjadi senjata. Kedua, Iran dianggap mengancam sekutu Amerika di Timur Tengah, terutama Israel dan basis militer Amerika di kawasan,” katanya. Meskipun demikian, masyarakat diminta untuk tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa konflik ini akan mengarah pada perang dunia ketiga karena proses menuju konflik global membutuhkan dinamika yang panjang. Klaim tentang keterlibatan negara besar seperti China, Rusia, atau Korea Utara perlu diverifikasi. “Banyak informasi yang beredar itu harus dicek dan ricek lagi. Tidak bisa langsung disimpulkan akan menjadi Perang Dunia Ketiga, karena proses menuju ke sana itu sangat kompleks,” ujarnya. Dion menambahkan, penutupan Selat Hormuz akan mengguncang ekonomi dunia. “Kalau Selat Hormuz ditutup, ekonomi dunia pasti terguncang. Kalau ekonomi negara besar terganggu, biasanya kebijakan luar negeri mereka menjadi lebih agresif,” kata Dion.
Sambut Gerhana Bulan Total, HKI UMM Tegaskan Integrasi Sains dan Keimanan

Menyambut fenomena gerhana bulan, Laboratorium Syariah Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Observasi Gerhana Bulan di Rooftop GKB V UMM pada Selasa (3/3/2026), pukul 16.00–21.00 WIB. Kegiatan ini menjadi ruang edukatif sekaligus reflektif yang mempertemukan dimensi akademik dan spiritual dalam satu momentum langit yang sarat makna. Fenomena gerhana bulan kembali menyita perhatian umat Islam. Bukan sekadar peristiwa astronomi yang dapat dijelaskan melalui perhitungan ilmiah, gerhana dimaknai sebagai momentum spiritual untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Bagi sivitas akademika Prodi HKI UMM, gerhana menjadi pengingat kebesaran Allah sekaligus ajakan untuk memperbanyak ibadah, khususnya shalat khusuf. Dosen Prodi HKI UMM, R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, M.H., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata integrasi pembelajaran ilmu falak dengan penguatan spiritualitas mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya memahami gerhana sebatas teori pergerakan benda langit dan perhitungan astronomis. “Kami tidak ingin mahasiswa hanya memahami gerhana sebagai fenomena sains yang kering dari makna. Melalui observasi langsung, mereka belajar bahwa sains dalam Islam bukan sesuatu yang terpisah dari nilai-nilai keimanan, melainkan sarana untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pembelajaran seperti ini menjadi bagian penting dalam membentuk karakter akademik yang utuh. Mahasiswa didorong memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual. Ketika mereka menyaksikan gerhana, lalu melaksanakan shalat khusuf dan memperbanyak doa, di situlah ilmu dan iman bertemu. “Inilah esensi pendidikan yang ingin kami hadirkan mengintegrasikan rasionalitas ilmiah dengan komitmen keislaman dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya. Lebih lanjut, Tanzil menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, gerhana bukanlah fenomena alam biasa. “Gerhana merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. Ia mengingatkan manusia bahwa seluruh alam semesta berada dalam kendali-Nya. Tidak ada yang terjadi tanpa izin dan kehendak-Nya,” tuturnya. Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga bayangan bumi menutupi cahaya bulan. Proses ini dapat dijelaskan secara rasional dan terukur melalui kajian astronomi. Namun dalam Islam, peristiwa tersebut juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir, doa, istighfar, serta melaksanakan shalat khusuf sebagai bentuk penghambaan dan refleksi diri. Menurut Tanzil, shalat khusuf merupakan sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan ketika terjadi gerhana, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan. Pelaksanaannya menjadi wujud ketaatan sekaligus kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang lemah di hadapan Sang Pencipta. Ia mengingatkan kembali sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Apabila kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, dirikanlah shalat, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis tersebut menegaskan bahwa gerhana bukanlah pertanda mistis atau berkaitan dengan nasib seseorang, melainkan murni tanda kebesaran Allah. Karena itu, ia mengimbau agar masyarakat tidak terjebak pada mitos yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, melainkan menjadikan gerhana sebagai momentum untuk memperkuat iman dan memperbaiki kualitas diri. Melalui kegiatan ini, Prodi HKI UMM berharap mahasiswa dan masyarakat dapat memaknai gerhana bulan bukan hanya sebagai peristiwa astronomi, tetapi juga sebagai panggilan spiritual untuk kembali mengingat kebesaran Allah dan meningkatkan kualitas penghambaan kepada-Nya. (faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Bara Timur Tengah dan Jebakan Hormuz: Ekonomi RI di Ujung Tanduk?

Ilustrasi perang Amerika Serikat-Isael melawan Iran (ist) Analisis mendalam dampak konflik Iran-Israel-AS bagi ekonomi Indonesia. Pakar HI UMM peringatkan ancaman penutupan Selat Hormuz dan lonjakan inflasi ekstrem. INDONESIAONLINE – Dunia sedang menahan napas. Eskalasi konflik yang meledak di jantung Timur Tengah pada akhir Februari lalu bukan lagi sekadar pertukaran tembakan roket atau retorika diplomatik di mimbar PBB. Ini adalah pergeseran tektonik dalam tatanan keamanan global yang menyeret tiga kekuatan besar—Amerika Serikat, Israel, dan Iran—ke bibir jurang perang terbuka. Di Indonesia, ribuan kilometer dari titik api, getarannya mulai terasa bukan pada dentuman bom, melainkan pada kecemasan di pasar saham dan ruang pengambil kebijakan fiskal. Di tengah hiruk-pikuk spekulasi tentang Perang Dunia Ketiga, suara akademisi memberikan perspektif yang lebih dingin namun menohok. Dion Maulana P., pakar Hubungan Internasional dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membedah situasi ini bukan sebagai peristiwa dadakan, melainkan kulminasi dari “keamanan ontologis” yang terganggu. Keamanan Ontologis: Lebih dari Sekadar Bertahan Hidup Dalam wawancara khusus pada Senin (2/3/2026), Dion menegaskan bahwa konflik ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan gencatan senjata semu. Akar masalahnya jauh lebih dalam, tertanam dalam DNA politik kedua negara yang bertikai. “Iran itu ancaman bagi Israel, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ujar Dion. Konsep keamanan ontologis (ontological security) yang dikutip Dion merujuk pada rasa aman yang berkaitan dengan identitas diri sebuah negara. Bagi Republik Islam Iran, perlawanan terhadap hegemoni Barat dan Zionisme adalah bagian dari identitas revolusi 1979. Sebaliknya, bagi Israel, keberadaan kekuatan nuklir di tangan Teheran dianggap sebagai ancaman pemusnahan total terhadap negara Yahudi tersebut. Buntunya negosiasi nuklir yang telah berlangsung alot sejak tahun lalu menjadi pemantik utama. Serangan terhadap fasilitas pengayaan uranium Iran di tengah proses diplomasi yang rapuh menjadi bukti bahwa trust atau kepercayaan sudah berada di titik nol. Washington, di bawah tekanan domestik dan lobi sekutu, mengambil langkah agresif dengan dalih perlindungan basis militer dan sekutu strategisnya di kawasan. “Alasannya dua. Pertama soal pengayaan nuklir yang dikhawatirkan menjadi senjata. Kedua, Iran dianggap mengancam sekutu Amerika di Timur Tengah,” tambah Dion. Mimpi Buruk di Selat Hormuz: Data dan Realitas Namun, ancaman terbesar bagi warga dunia—termasuk rakyat Indonesia di pelosok desa—bukanlah ledakan nuklir, melainkan tercekiknya jalur nadi energi dunia: Selat Hormuz. Dion menyoroti potensi penutupan selat ini sebagai skenario terburuk. “Kalau Selat Hormuz ditutup, ekonomi dunia pasti terguncang. Ketika ekonomi negara besar terganggu, kebijakan luar negeri mereka biasanya menjadi lebih agresif,” paparnya. Data menunjukkan betapa vitalnya jalur sempit ini. Berdasarkan data dari U.S. Energy Information Administration (EIA), Selat Hormuz dilalui oleh sekitar 21 juta barel minyak per hari, atau setara dengan 21% dari konsumsi cairan minyak bumi global. Bagi Indonesia, angka ini adalah lonceng peringatan. Indonesia bukan lagi negara kaya minyak yang bisa berpangku tangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian ESDM mencatat bahwa Indonesia adalah net importir minyak sejak 2004. Konsumsi BBM nasional mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari, sementara produksi siap jual (lifting) minyak bumi domestik terus merosot di bawah 600.000 barel per hari. Selisih menganga ini ditutup dengan impor, yang sebagian besar berasal dari kawasan Timur Tengah atau dipengaruhi harga patokan di sana. Jika Hormuz terblokir, harga minyak mentah dunia (Brent atau WTI) diprediksi bisa melonjak menembus USD 150 per barel. Bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia, setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar USD 1 per barel dapat menambah beban subsidi listrik dan LPG triliunan rupiah. Efek Domino: Inflasi Mengintai Dapur Rakyat Dion memberikan peringatan keras terkait dampak langsung ke masyarakat. “Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” tegasnya. Mekanisme ini dikenal sebagai cost-push inflation. Ketika harga energi naik, biaya transportasi logistik pangan melambung. Di negara kepulauan seperti Indonesia, biaya logistik adalah komponen harga yang signifikan. Beras, cabai, telur, hingga sayuran akan mengalami kenaikan harga bukan karena gagal panen, tapi karena truk pengangkutnya meminum solar yang mahal. Selain itu, ketidakstabilan global memukul nilai tukar Rupiah. Investor asing cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang (emerging markets) menuju aset aman (safe haven) seperti emas atau Dolar AS ketika perang meletus. Pelemahan Rupiah akan membuat biaya impor barang modal dan bahan baku industri semakin mahal, memukul sektor manufaktur dalam negeri. Di tengah kekacauan ini, posisi diplomatik Indonesia menjadi sorotan. Dion mengkritisi tawaran mediasi yang sempat dilontarkan pemerintah di tengah memanasnya situasi. Menurutnya, langkah tersebut secara teoritis kurang tepat waktu. “Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” jelasnya. Teori kematangan konflik (ripeness of conflict) dari I. William Zartman menyebutkan bahwa negosiasi baru efektif jika kedua belah pihak berada dalam situasi mutually hurting stalemate—sebuah jalan buntu yang menyakitkan di mana kedua pihak sadar bahwa mereka tidak bisa menang secara militer. Saat ini, baik AS, Israel, maupun Iran masih merasa memiliki opsi militer untuk menekan lawan. Kritik lebih tajam diarahkan Dion pada keanggotaan Indonesia dalam forum internasional Board of Peace (BOP). Forum yang seharusnya menjadi garda terdepan perdamaian ini dinilai kehilangan legitimasi ketika negara pemimpinnya justru menjadi inisiator serangan saat negosiasi berlangsung. “Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengklaim membawa perdamaian justru dipimpin negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi? Itu tidak mencerminkan perdamaian,” tegas Dion. Pernyataan ini menantang doktrin politik luar negeri “Bebas Aktif” Indonesia. Bebas bukan berarti netral tanpa sikap, melainkan bebas menentukan sikap berdasarkan nilai keadilan dan kemanusiaan. Dion mendorong Indonesia mengambil langkah berani: menolak standar ganda hukum internasional. Bukan Perang Dunia III, Tapi Perang Ekonomi Meski situasi mencekam, Dion mengajak publik untuk tetap rasional dan tidak terjebak dalam histeria Perang Dunia Ketiga. Narasi kiamat yang beredar di media sosial perlu disaring dengan bijak. “Banyak informasi yang beredar harus dicek dan diverifikasi. Proses menuju perang dunia itu sangat kompleks, tidak sesederhana eskalasi regional,” ujarnya. Sejarah membuktikan bahwa kekuatan besar sering kali menghindari konfrontasi nuklir langsung karena doktrin Mutually Assured Destruction (MAD). Yang lebih mungkin terjadi adalah perang proksi yang berkepanjangan dan perang ekonomi yang memiskinkan. Dalam skenario ini, senjata yang
Pengamat Wanti-wanti Perang AS-Israel vs Iran Ancam Krisis Energi ke RI

Bisnis.com, MALANG — Indonesia akan merasakan tekanan langsung, terutama dari sektor energi dan pangan, dengan adanya konflik AS-Israel dengan Iran. Pakar hubungan internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana P., mengingatkan bahwa eskalasi konflik saat ini telah memasuki fase yang lebih berbahaya setelah jalur energi strategis dunia di Selat Hormuz dilaporkan telah ditutup. Penutupan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia tersebut berpotensi memicu guncangan ekonomi global yang dampaknya dapat dirasakan hingga ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. “Terganggunya arus distribusi energi internasional tidak hanya akan memicu lonjakan harga minyak dunia, tetapi juga berpotensi mendorong perubahan sikap politik luar negeri negara-negara besar yang terdampak oleh tekanan ekonomi,” katanya, Senin (2/3/2026). Menurutnya, gangguan distribusi minyak berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak yang kemudian diikuti oleh lonjakan harga kebutuhan pokok hingga inflasi. “Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” ujarnya. Terkait langkah pemerintah Indonesia, Dion juga mengkritisi tawaran mediasi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Secara teori, resolusi konflik, mediasi sulit dilakukan selama pertempuran masih berlangsung. “Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” katanya. Selain itu, Dion menilai Indonesia perlu mengevaluasi posisi diplomatiknya dalam forum internasional Board of Peace (BOP) pascaserangan terhadap Iran. Menurutnya, tindakan militer yang terjadi di tengah proses negosiasi justru bertolak belakang dengan semangat perdamaian yang seharusnya dijunjung oleh lembaga tersebut. Ia menilai kredibilitas sebuah forum internasional harus diukur dari tindakan nyata para anggotanya, bukan sekadar retorika diplomatik. “Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengklaim membawa perdamaian justru dipimpin oleh negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi? Itu tidak mencerminkan perdamaian. Kita melihat negara atau lembaga itu dari kredibilitasnya. Kalau tindakan dan ucapannya berbeda, maka sulit dipercaya. Indonesia tidak boleh hanya ikut arus,” ujarnya. Sebagai langkah strategis, dia menyarankan Indonesia mengambil sikap diplomatik yang lebih tegas terhadap pelanggaran hukum internasional. “Indonesia harus berani bersikap tegas dan tidak boleh takut terintimidasi. Kalau hukum internasional terus diinjak-injak, tinggal menunggu waktu negara lain juga bisa menjadi korban,” ucapnya. Menurutnya, hubungan antara Israel dan Iran sejak lama berada dalam situasi saling mengancam secara fundamental. Dalam konsep keamanan ontologis (ontological security), kedua negara sulit mencapai rasa aman selama pihak lawan masih dianggap ancaman utama terhadap eksistensi negara. “Iran itu ancaman bagi Israel, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ujarnya. Dion menilai eskalasi terbaru dipicu kebuntuan negosiasi nuklir antara Iran dan Washington yang berlangsung sejak tahun sebelumnya. Dialog yang sempat berjalan kembali menemui jalan buntu hingga akhirnya terjadi serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung. Dia menyebut keputusan Presiden Donald Trump tidak hanya dipengaruhi oleh isu pengayaan nuklir, tetapi juga oleh tekanan keamanan kawasan. “Alasannya dua. Pertama, soal pengayaan nuklir yang dikhawatirkan menjadi senjata. Kedua, Iran dianggap mengancam sekutu Amerika di Timur Tengah, terutama Israel dan basis militer Amerika di kawasan,” katanya. Meski demikian, dia meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan konflik ini akan berujung pada perang dunia ketiga karena proses menuju konflik global membutuhkan dinamika panjang, berbeda dengan eskalasi konflik regional. Menurutnya, berbagai klaim yang menyebut keterlibatan negara besar seperti China, Rusia, maupun Korea Utara harus diverifikasi terlebih dahulu. “Banyak informasi yang beredar itu harus dicek dan ricek lagi. Tidak bisa langsung disimpulkan akan menjadi Perang Dunia Ketiga, karena proses menuju ke sana itu sangat kompleks,” ujarnya. “Kalau Selat Hormuz ditutup, ekonomi dunia pasti terguncang. Kalau ekonomi negara besar terganggu, biasanya kebijakan luar negeri mereka menjadi lebih agresif,” kata Dion.
Kisah Pemuda Asal Tulungagung Kuliah di Portugal: Lolos Beasiswa Erasmus karena “Motivation Letter” yang Menggugah

ilustrasi – Marco, penerima beasiswa Erasmus. (Ega Fansuri/Mojok.co) Perjuangan Marco Trisna Omar Farrasy, pemuda asal Tulungagung yang kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) penuh tantangan. Sampai ia berhasil lolos program beasiswa Erasmus Mundus Uni Eropa di University of Minho, Portugal. Salah satu alasan Marco memilih Jurusan Ilmu Komunikasi di UMM, karena ia menaruh minat besar pada aktivitas berskala internasional. Meskipun tidak berasal dari Jurusan Hubungan Internasional, Marco mengaku memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti konferensi internasional hingga terlibat dalam kegiatan organisasi akademik dengan relasi internasional. Menurutnya, interaksi lintas budaya menjadi bekal penting untuk membentuk karakter, wawasan, serta daya saing di tingkat global. Oleh karena itu, Marco berharap bisa mencicipi pendidikan di luar negeri. Marco pun mempersiapkan diri untuk mencari beasiswa. Alih-alih mendaftar LPDP, Marco memilih beasiswa Erasmus Mundus yang menurutnya punya peluang masuk lebih besar ketimbang LPDP yang pendaftarnya mencapai rekor tertinggi, yakni 79.126 orang, sementara hanya 4.295 orang (sekitar 5,43 persen) yang lolos. Berasal dari Tulungagung tak bikin Marco minder Walaupun tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Timur, Marco tak pernah malu untuk ikut kegiatan berskala internasional. Ia kerap mempresentasikan hasil penelitiannya dalam forum diskusi akademik lintas kampus. Tak hanya itu, Marco juga berhasil menembus publikasi internasional melalui Springer Book Chapter. Sebuah bab buku yang diterbitkan oleh penerbit internasional terkemuka. Melalui penelitian bibliometrik dan bibliografi analisis berbasis data Scopus, Marco memetakan tren penelitian sebelumnya untuk membantu para peneliti menemukan referensi yang relevan. Karyanya menjadi kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penguatan budaya riset di kalangan mahasiswa. Berdasarkan pengalamannya tersebut, Marco berhasil membangun portofolio akademik dan non-akademik miliknya untuk dipakai saat pendaftaran beasiswa Erasmus Mundus. Ia juga melengkapi curriculum vitae (CV)-nya dengan kegiatan organisasi, praktikum, hingga forum ilmiah internasional. Motivation letter untuk daftar Erasmus tak bisa dibuat asal Selain memenuhi persyaratan dari UMM, ia juga harus mengikuti prosedur dari pihak universitas mitra. Tahapan yang dilalui meliputi pengajuan dokumen secara daring, seleksi wawancara, penyusunan learning agreement bersama program studi, hingga pembuatan motivation letter untuk beasisiswa Erasmus. Syarat terakhir itu, kata Marco, adalah salah satu aspek paling krusial dalam proses seleksi. Karena tanpa motivation letter yang matang, bisa-bisa tulisannya tidak dilirik oleh penilai. Oleh karena itu, ia menyusun surat tersebut dengan gaya naratif yang menggugah emosi. “Saya ingin menunjukkan bahwa meskipun berasal dari daerah kecil, saya punya semangat besar untuk berkembang dan memberi dampak,” ujar Marco yang menceritakan latar belakangnya sebagai mahasiswa dari kota kecil di Jawa Timur, dikutip dari laman resmi UMM, Senin (2/3/2026). Pelajari minat sebelum daftar beasiswa Erasmus Selain menyusun dokumen, Marco juga menerapkan strategi dengan mengenali karakter kampus tujuan. Salah satu target kampus yang ia minati adalah University of Minho, Portugal di bidang komunitas riset. Menurutnya, kampus tersebut sesuai dengan minat dan pengalamannya yang juga ia tuangkan dalam motivation letter. Berdasarkan Times Higher Education (THE) 2026, subjek pendidikan di University of Minho menempati peringkat 176-200 di dunia. Artinya, program pendidikan di sana terbilang unggul dengan proses mengajar dan riset yang bagus. Hal itu sesuai dengan minat Marco untuk mempelajari riset di bidang Ilmu Komunikasi. Selama menempuh pendidikan di Portugal, ia mengambil sejumlah mata kuliah yang relevan dengan bidang Public Relations, seperti media literacy, marketing, dan specialized practice in public relations. Sistem pembelajaran yang diterapkan relatif serupa dengan UMM, yakni mengombinasikan teori dan praktik berbasis studi kasus. Hanya saja, kata Marco, perbedaannya terletak pada sistem evaluasi yang hanya diujikan pada Ujian Akhir Semester tanpa adanya Ujian Tengah Semester. Jalani perkuliahan di Portugal meski terkendala bahasa Berhasil lolos beasiswa Erasmus Mundus, bukan berarti Marco terhindar dari masalah pelik yakni bahasa. Meski bisa berbahasa Inggris, perkuliahan di University of Minho, Portugal lebih banyak pakai bahasa Portugis, yang mana pengucapannya lebih cepat. Untungnya, dosen pengajar Marco sangat terbuka dan selalu memberi kesempatan untuk Marco jika ingin diskusi lebih lanjut. Tak hanya itu, Marco juga bersyukur karena mendapat bantuan dari teman-temannya yang tergabung dalam Erasmus Volunteer untuk memahami materi perkuliahan. Bagi Marco, kesempatan belajar di luar negeri merupakan batu loncatan penting dalam membangun masa depan akademik dan profesional. Ia berharap pengalaman ini dapat membuka peluang karier sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani mencoba hal baru. “Saya ingin pengalaman ini menjadi stepping stone yang kuat untuk masa depan, sekaligus memotivasi teman-teman agar tidak takut mencari peluang internasional,” ujar mahasiswa penerima beasiswa Erasmus itu. Menutup kisahnya, Marco berpesan kepada mahasiswa dan anak muda agar tidak minder dengan keterbatasan yang dimiliki. Ia mengajak generasi muda untuk mengenali potensi diri, memaksimalkan kemampuan, serta selalu menjadi versi terbaik dengan tidak membandingkan diri dengan orang lain Kisah Marco sebagaimana dimuat dalam laman resmi UMM. Penulis: Aisyah Amira Wakang Editor: Muchammad Aly Reza
Safari Ramadan UMM: Membuka Ruang Ijtihad Pada Aspek Instrumental

MALANG POST – Ramadan bukan sekadar jeda dari rutinitas makan dan minum. Ia adalah momentum koreksi diri bahkan kritik terhadap cara manusia memaknai ambisi, kuasa, dan hasratnya sendiri. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Malang pada 24 Februari lalu. Mengusung tema “Ramadhan Berkemajuan: Menguatkan Spiritualitas, Intelektualitas, dan Kepedulian Sosial”, giat ini menghadirkan Dr. M. Nurul Humaidi, M.Ag. Nurul Humaidi menekankan bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan. Melainkan latihan sistematis untuk mengendalikan watak dasar manusia yang cenderung rakus terhadap kekuasaan dan kenikmatan dunia. Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa Ramadan berasal dari kata ar-ramadh yang berarti panas membakar. Namun, menurutnya, yang seharusnya terbakar bukan hanya dosa, melainkan juga keserakahan manusia. Ia mengaitkan hal tersebut dengan kisah awal manusia sejak Nabi Adam, yang jatuh akibat godaan keabadian dan kekuasaan. Dalam perspektif itu, puasa hadir sebagai pendidikan spiritual yang terus diulang setiap tahun agar manusia belajar menahan diri dari kecenderungan yang sama. “Inti puasa adalah pengendalian diri, bukan sekadar lapar dan haus. Orang yang makan atau minum karena lupa tetap sah puasanya. Artinya, esensi puasa bukan pada rasa lapar, tetapi kemampuan mengontrol diri. Siapa pun yang gagal menahan diri pasti jatuh baik pejabat, orang kaya, maupun rakyat biasa,” ujarnya. Dalam ceramahnya, ia juga menyoroti kecenderungan sebagian umat yang memahami ibadah secara kaku tanpa membuka ruang ijtihad pada aspek instrumental. Ia mencontohkan dinamika penentuan awal Ramadan di lingkungan Muhammadiyah yang bertransformasi dari rukyat menuju hisab hingga gagasan kalender hijriah global tunggal. Menurutnya, perubahan metode tersebut bukan inkonsistensi. Melainkan keberanian intelektual membaca realitas dengan pendekatan ilmiah. Pembaruan, tegasnya, hanya berlaku pada instrumen. Sementara substansi ibadah mahdhah tetap merujuk pada tuntunan Nabi Muhammad. Ia juga memaparkan tiga tingkatan puasa: jasmani, nafsani, dan ruhani. Puasa jasmani berkaitan dengan pengendalian fisik. Puasa nafsani menuntut disiplin lisan dan perilaku sosial, sedangkan puasa ruhani berorientasi pada kedekatan spiritual dengan Allah. “Jika seseorang masih gemar berdusta dan menyakiti orang lain, Allah tidak memiliki kepentingan dengan lapar dan dahaganya,” tegasnya. Tema Safari Ramadan dinilai relevan bagi dunia akademik yang kerap berada di antara dua ekstrem: spiritualitas tanpa intelektualitas yang berujung ritualisme kering, atau intelektualitas tanpa kepedulian sosial yang mudah melahirkan kesombongan akademik. Melalui kegiatan ini, kampus menegaskan diri bukan hanya sebagai ruang produksi ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter tempat mahasiswa dan akademisi belajar menahan diri dari penyalahgunaan kuasa, kerakusan jabatan, serta pengabaian terhadap sesama. Pada akhirnya, Ramadan diposisikan bukan sekadar tradisi yang berakhir bersama takbir Idul Fitri. Melainkan laboratorium etika yang melatih manusia agar tidak terjatuh pada nista. Safari Ramadan menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari capaian intelektual, tetapi dari keberhasilan manusia menundukkan dirinya sendiri. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Ngalam Mbois: Mural Jodipan Kini Bisa “Bercerita” Lewat Sentuhan Digital

Mahasiswa UMM solek kampung warna-warni lebih modern/Foto: Istimewa Detik.com, Jakarta – Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) Kota Malang kini punya cara baru untuk bercerita. Tak lagi sekadar menjadi latar foto yang estetik. Setiap sudut dinding di kampung ikonik ini sekarang menyimpan narasi mendalam yang bisa diakses hanya dengan satu sentuhan jari. Melalui program KKN Kelompok 13 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jodipan bersolek lebih modern. Di bawah komando Muhammad Syahva Putra Disa Rizki, tim mahasiswa ini menginisiasi program Warna Digital Jodipan. Inovasi ini menyematkan kode QR pada mural-mural di sepanjang gang kampung. “Setiap lukisan punya nyawa dan cerita, mulai dari tradisi lama hingga simbol identitas Malang. Dengan kode QR ini, pengunjung tidak hanya berfoto, tapi juga pulang membawa edukasi tentang makna di balik karya tersebut,” ujar Syahva kepada wartawan, Senin (2/3/2026). Transformasi yang dibawa tim KKN UMM tidak berhenti pada teknologi. Sadar bahwa kunci keberlanjutan wisata ada pada manusianya, Syahva dan tim merancang tiga program taktis yakni Speaking Color. Di mana fokus pada anak-anak Jodipan. Mereka diajarkan bahasa sederhana dan teknik komunikasi agar lebih percaya diri saat menyapa turis mancanegara. Selanjutnya adalah Sparkling Jodipan, sentuhan kreatif pada produk minuman lokal agar memiliki kemasan yang lebih menjual bagi wisatawan. Terakhir adalah Jodipan Clay yaitu pengembangan suvenir unik yang diharapkan mampu menjadi mesin ekonomi baru bagi warga setempat. “Kami ingin warga bukan hanya menjadi penonton, tapi pelaku utama. Kemampuan menyambut tamu dengan profesional adalah modal utama kampung wisata,” tambah Syahva. Baca juga: Ngalam Mbois: Produk Keripik Sumbang Ekspor Terbesar Kota Malang Keberhasilan program ini tak lepas dari pendekatan hati ke hati. Mahasiswa tidak datang sebagai instruktur yang kaku, melainkan sebagai bagian dari keluarga. Mereka rutin mendampingi anak-anak belajar di malam hari, berdialog santai di teras rumah warga, hingga melariskan dagangan lokal. Strategi ini terbukti ampuh. Warga kini lebih terbuka dan percaya diri. Perubahan gestur dalam menyambut tamu dan cara mengelola produk wisata menjadi bukti nyata dampak sosial yang dihasilkan. Dosen Pembimbing Lapangan Jamroji memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah taktis mahasiswanya. Menurutnya, program ini adalah manifestasi nyata dari visi UMM sebagai kampus yang solutif. “Mahasiswa dituntut berpikir kreatif dan adaptif. Apa yang mereka lakukan di Jodipan adalah solusi nyata yang berkelanjutan, bukan sekadar menggugurkan kewajiban akademik,” tegas Jamroji terpisah. Kini, estafet pengelolaan program telah diserahkan sepenuhnya kepada warga Jodipan. Mahasiswa telah meletakkan fondasi digital dan mental. Tugas warga selanjutnya adalah menjaga agar warna-warni Jodipan tetap menyala, baik di dinding maupun di hati para pengunjungnya.
AIESEC in UMM Laksanakan Kembali Program Local Volunteer Berbasis SDGs Quality Education Kepada Anak-Anak Sekolah di Malang

AIESEC in UMM Laksanakan Kembali Program Local Volunteer Berbasis SDGs Quality Education Kepada Anak-Anak Sekolah di Malang Good News From Indonesia – AIESEC in Universitas Muhammadiyah Malang pada winter kali ini kembali membawakan program Local Volunteer yang berbeda dibandingkan pada summer kemarin. Program kali ini membawakan tema yang berfokus pada penguatan dalam pemberian edukasi yang berlandaskan pada Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 yaitu tentang Quality Education, yang dimana fokus pada program ini adalah pembangunan berkelanjutan, kesadaran global, serta pemahaman lintas budaya. Tentunya program ini melibatkan pemuda lokal untuk dapat berkontribusi langsung pada kegiatan yang edukatif untuk dapat dirancang sebagai peningkatan wawasan, pola kritis, dan kepedulian terhadap masalah sosial di masyarakat. Pada zaman ini pendidikan tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan akademik yang formal, melainkan sebagai wadah untuk dapat membangun karakter, empati sosial, serta kesadaran terhadap isu-isu yang terjadi di masyarakat global. SDGs poin 4 memfokuskan kepada pentingnya pendidikan yang dapat membangun nilai-nilai yang berkelanjutan seperti toleransi, kewarganegaraan global, serta pemahaman tentang keberagaman budaya. Akan tetapi, pada kenyataannya pendidikan yang berbasis global masih tergolong terbatas bagi kalangan masyarakat, sehingga diperlukan ruang pembelajaran yang lebih untuk dapat memberikan kualitas pendidikan yang sama rata terhadap masyarakat di Indonesia. Melalui program Local Volunteer, para pemuda lokal terlibat pada aktivitas yang berbasis edukatif, seperti memberikan pembelajaran interaktif, diskusi tematik, kegiatan kreatif kepada murid-murid yang berada di sekolah tempat kita melakukan kegiatan volunteer. Program ini juga secara khusus menghadirkan kegiatan yang dimana adanya edukasi secara inklusif melalui pendampingan dan pengajaran kepada anak-anak disabilitas. Para relawan lokal berperan penting dalam program ini dalam menciptakan lingkungan belajar yang suportif, interaktif, dan adaptif sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan pada peserta didik. Keterlibatan volunteer dalam kegiatan bersama anak disabilitas menjadikan sebagai aspek yang penting dalam proses berjalannya program ini. Program ini selain memberikan pengalaman pembelajaran yang bermakna bagi para para murid, kegiatan ini juga dapat menumbuhkan empati sosial, kesadaran terhadap pendidikan yang inklusif, serta pemahaman bahwa pendidikan yang berkualitas harus bisa didapatkan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa pengecualian. Kehadiran Exchange Participants (EPs) dari berbagai negara mendukung program ini untuk dapat turut memperkaya dinamika pembelajaran, menciptakan pengalaman pertukaran budaya, serta memperluas wawasan terhadap isu global baik bagi para relawan maupun masyarakat. Organizing Committee President Program ini Alya Naura Tifani Ayu mengatakan: “Program ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada anak-anak tentang culture education dan juga care of environment berdasarkan SDGs poin 4.7. Program ini juga berfokus pada pengabdian masyarakat terlebih pada anak-anak untuk dapat memberikan lintas kebudayaan juga mengajak para volunteer untuk dapat mengetahui dan belajar tentang pariwisata dan kebudayaan yang di malang, tidak hanya itu secara ga langsung anak-anak yang diajar mendapatkan cross cultural education yang dibawakan oleh Exchange participant maupun Local volunteer.” Program yang dilaksanakan oleh AIESEC in UMM ini berlangsung selama 4 minggu yang dimulai pada tanggal 19 Januari 2026 hingga 15 Februari 2026. Para volunteer menjalankan berbagai kegiatan selama 4 minggu yang berfokus kepada pengembangan wawasan, peningkatan kesadaran sosial, serta penguatan nilai keberlanjutan melalui pendekatan yang edukatif. Salah satu Local Volunteer Fatinaura Shahira yang berpartisipasi dalam program ini membagikan pengalamannya, “Ikut program Local Volunteer ini bener-bener jadi salah satu pengalaman paling berkesan buat aku. Dari pengalaman mengajar, ngobrol, sampai ketemu orang-orang dengan latar belakang yang beda-beda dan budaya yang berbeda semuanya ngasih aku sudut pandang baru. Tanpa sadar aku belajar banyak hal tentang sabar, empati, dan dan gimana proses itu bikin aku lebih peka dan peduli sama sekitar. Banyak hal dan pengalaman positif yang aku dapetin dari program Local Volunteer ini” AIESEC in UMM mengharapkan dengan adanya program ini memberikan dampak yang positif kepada masyarakat terkait pembelajaran lintas budaya yang diberikan oleh Exchange Participants, serta pengalaman belajar yang lebih interaktif dan inklusif kepada para peserta didik. Bagi para volunteer, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana pengembangan diri, penguatan kepemimpinan, serta peningkatan keterampilan interpersonal. Dengan semangat para pemuda pada generasi sekarang, AIESEC in UMM berharap program ini dapat memberikan pandangan kepada anak muda bahwa perannya sebagai agen perubahan menjadi sangat penting untuk dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.
Kolaborasi Desa Binaan Krebet dan Happy Bus, AIESEC in UMM Bangun Edukasi Lingkungan

Kolaborasi Desa Binaan Krebet dan Happy Bus, AIESEC in UMM Bangun Edukasi Lingkungan Good News From Indonesia – AIESEC in Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Departemen Incoming Global Volunteer (IGV) menyelenggarakan Happy Bus Project sebagai salah satu kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) 4: Quality Education. Program ini dirancang untuk mendorong pendidikan yang inklusif dan setara, sekaligus memperkuat pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan melalui peningkatan kesadaran lingkungan, pengembangan keterampilan hidup, serta pembelajaran partisipatif berbasis kolaborasi lintas budaya dan pengalaman langsung di masyarakat. Dalam rangkaian kegiatan Happy Bus, peserta yang terdiri dari Exchange Participants, dan Local Volunteers melakukan kunjungan edukatif ke Desa Krebet, salah satu desa binaan NIHR UB (National Institute for Health and Care Research Universitas Brawijaya). Kunjungan ini dilaksanakan pada 26 Januari 2026 di Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, dan menjadi highlight dalam memperkenalkan pendekatan partisipatif pengelolaan sampah kepada Exchange Participants, dan Local Volunteers diproject Happy Bus kali ini. Desa Krebet dipilih atas rekomendasi NIHR UB karena merupakan percontohan sukses dengan bank sampah terintegrasi yang telah berjalan lama dan stabil. Kegiatan diawali dengan seminar pada 26 Januari 2026 oleh Dr. Rizka Amalia, S.K.Pm., M.Si., dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya sekaligus komisaris di NIHR UB. Beliau menyampaikan materi tentang pengelolaan sampah di Indonesia, termasuk isu-isu terkait, pendekatan partisipatif, dan pengenalan Companion Modelling (ComMod) untuk pembelajaran kolektif dan pengambilan keputusan dalam sistem kompleks. Pembahasan mencakup pemisahan sampah organik dan anorganik, hambatan sosio-lingkungan seperti rendahnya pemilahan sampah dan penegakan regulasi yang lemah, serta upcycling sampah menjadi bernilai tambah seperti pupuk kompos, pakan maggot/ternak, atau bahan daur ulang industri. Peserta kemudian diajak langsung ke lokasi bank sampah di Desa Krebet. Di bank sampah organik, mereka menyaksikan proses pengolahan sampah rumah tangga menjadi pupuk alami untuk pertanian, termasuk demonstrasi hasil panen rambutan organik yang subur, merah cerah, manis, dan bebas bahan kimia ditanam dan diolah dari pupuk sampah rumah tangga. Di bank sampah anorganik, peserta belajar pengumpulan plastik dan bahan non-organik yang dipotong kecil-kecil untuk diolah menjadi hiasan, kerajinan, atau dikirim ke perusahaan daur ulang. Lokasi yang berdekatan dengan sawah menunjukkan integrasi pengelolaan sampah dengan pertanian berkelanjutan. Kegiatan ini melibatkan interaksi langsung dengan ibu-ibu kader lingkungan yang sangat antusias, terorganisir, dan mindful terhadap lingkungan. Mereka menyediakan tempat, alat, serta simulasi pengelompokan sampah (organik, anorganik) melalui permainan interaktif, sehingga peserta dapat mempraktikkan dan memahami dampak perilaku individu terhadap tata kelola lingkungan. Desa Krebet yang rapi, sejuk, dan bersih menjadi inspirasi besar, bahkan peserta sering berfoto karena keindahannya. Pengalaman ini meningkatkan kesadaran peserta terhadap isu sampah, hal ini memperkuat rasa tanggung jawab generasi muda untuk lebih aware, mengedukasi masyarakat sekitar, dan mengajarkan anak-anak SD melalui kegiatan Mozaik art dari sampah bekas, agar mereka membangun tanggung jawab terhadap sampah sejak dini. Alya Naura Tifania Ayu selaku Organizing Committee President of Happy bus Project turut menyampaikan refleksinya terhadap pelaksanaan kegiatan ini. “Desa Krebet menunjukkan bahwa langkah kecil dari masyarakat, seperti ibu-ibu yang excited belajar dan berproses dapat menciptakan perubahan nyata. Amazing people in the world! Pengalaman ini membuat kami lebih paham bahwa mengatasi masalah bersama-sama menjadi jauh lebih mudah dan berdampak, sekaligus menumbuhkan kesadaran lingkungan serta pendidikan berkualitas bagi generasi muda.” Dalam kesempatan yang sama, Madu Bunga Lakey, salah satu peserta yang akrab disapa Kak Madu, turut membagikan kesannya “Seru banget, nambah pengetahuan aku banget, buat aware sama sampah dan lingkungan sekitar. Jadi paham sih sebenarnya cara ngatasin masalah kalau bareng-bareng tuh jadi gampang, dan apalagi dengan posisi ada kelompok gitu jadinya semuanya jalan gitu loh dan gampang.” Dengan keberhasilan kunjungan ini, Happy Bus Project menegaskan peran pemuda dalam mendukung pendidikan berkualitas yang mencakup kesadaran lingkungan, pengelolaan sampah berkelanjutan, dan pembelajaran partisipatif.