UMM Dipercaya TNI AD Rancang Sistem Pemusnahan Amunisi Ramah Lingkungan

Agroredaksi.com-Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapat kepercayaan dari Pusat Peralatan TNI Angkatan Darat (Puspalad) untuk merancang dan mengembangkan sistem pemusnahan amunisi yang lebih aman, modern, dan ramah lingkungan. Amanah ini melanjutkan kerja sama strategis yang telah resmi terjalin sejak 2024, setelah sebelumnya UMM dipercaya mengerjakan rancang bangun kendaraan khusus (ransus) yang dilengkapi pelepas runflat untuk panser Anoa. Kerja sama terbaru yang dijalankan sepanjang 2026 ini mencakup pengembangan sistem pemusnahan berbagai jenis munisi, mulai dari Munisi Kaliber Kecil (MKK), Munisi Kaliber Besar (MKB), hingga Munisi Khusus (Musus). Kolaborasi tersebut menjadi langkah penting dalam mendukung pengelolaan amunisi di lingkungan TNI yang lebih aman, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta tetap memperhatikan dampak lingkungan. Ketua tim ahli proyek, Ir. Iis Siti Aisyah, S.T., M.T., Ph.D., dosen Program Studi Teknik Mesin UMM, menjelaskan bahwa fokus utama kerja sama ini adalah menghadirkan sistem pemusnahan amunisi yang lebih modern dengan standar keamanan tinggi. “Fokus utama kerja sama ini adalah pengembangan sistem pemusnahan amunisi yang lebih modern, aman, dan juga memperhatikan dampak terhadap lingkungan,” ujarnya Menurutnya, salah satu komponen utama yang akan dikembangkan dalam proyek ini adalah insinerator untuk memusnahkan Munisi Kaliber Kecil (MKK) dengan ukuran diameter di bawah 20 milimeter. Sistem insinerator tersebut dirancang menggunakan metode pembakaran dalam dua ruang bakar atau chamber. Konsep dua ruang bakar ini memungkinkan proses pembakaran berlangsung lebih sempurna sehingga sisa-sisa bahan peledak dapat terurai dengan lebih efektif. “Proses pemusnahan dirancang menggunakan sistem pembakaran di dalam dua ruang bakar atau chamber. Sistem ini dilengkapi teknologi pengolahan air serta filtrasi gas buang beracun agar dampaknya terhadap lingkungan dapat diminimalkan,” jelasnya. Seiring dengan perkembangan proyek, cakupan kerja sama antara UMM dan Puspalad juga mengalami perluasan. Awalnya sistem yang dirancang hanya difokuskan untuk pemusnahan Munisi Kaliber Kecil (MKK). Namun dalam perkembangannya, hibah tersebut diperluas untuk menangani pemusnahan Munisi Kaliber Besar (MKB) serta Munisi Khusus (Musus). Perluasan cakupan ini tentu membutuhkan tambahan berbagai peralatan pendukung. Beberapa di antaranya meliputi mesin disassembly untuk membongkar komponen munisi kaliber besar, sistem conveyor untuk memindahkan material secara aman, alat press, alat ayakan untuk proses pemisahan material, hingga pembangunan sumur peledakan yang akan digunakan dalam proses penghancuran jenis munisi khusus detonator dan TNT yang tidak dapat dimusnahkan melalui pembakaran. Sementara itu, Kepala Bagian Penelitian Dan Pengembangan Senjata Optronik Dan Munisi Pusat TNI Angkatan Darat, Letkol Cpl Syaiful Bahri, S.T., menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin dengan kampus putih. “Kami mengapresiasi kerja sama dengan UMM karena melibatkan keahlian akademisi dalam pengembangan teknologi pemusnahan amunisi yang lebih aman dan modern. Kolaborasi ini sangat penting untuk mendukung peningkatan sistem pengelolaan amunisi di lingkungan TNI,” ungkapnya. Ia juga berharap kerja sama yang sudah terjalin sejak 2024 lalu ini dapat terus berlanjut, lebih luas antara institusi militer dan perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi pertahanan nasional di masa depan.(Sfl)

UMM Padukan Literasi, Batik Ecoprint, hingga Live Cooking dalam Ngabuburit Seru di Kayutangan

MALANG, PENAJATIM.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan konsep ngabuburit yang berbeda dengan memadukan literasi, kampanye ramah lingkungan, serta hiburan interaktif bagi masyarakat di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang, pada Selasa (10/3/2026). Kegiatan Ngabuburit ini menampilkan batik ecoprint karya dosen UMM yang dikenakan oleh putera-puteri kampus. Batik ecoprint merupakan teknik membatik yang memanfaatkan daun, bunga, dan bahan alami lainnya untuk menghasilkan motif unik pada kain. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.I.Kom., menjelaskan bahwa kehadiran batik ecoprint dalam kegiatan ini bukan sekadar pelengkap acara, tetapi merupakan bagian dari upaya edukasi publik mengenai gaya hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan. “Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa karya kreatif dari kampus juga bisa berpihak pada keberlanjutan, memanfaatkan bahan alami, dan tetap memiliki nilai seni yang tinggi,” ujar perempuan yang akrab disapa Rina. UMM Padukan Literasi, Batik Ecoprint, hingga Live Cooking dalam Ngabuburit Seru di Kayutangan. (Sumber Humas UMM). Kegiatan ini juga dirancang untuk menumbuhkan minat baca di kalangan generasi muda dengan menghadirkan mobil perpustakaan Kamis Membaca (Mobil KaCa). Kehadiran mobil perpustakaan ini memungkinkan pengunjung, khususnya anak-anak, membaca buku secara langsung di ruang terbuka sambil menikmati suasana ngabuburit. Kemeriahan acara semakin terasa dengan adanya sesi live cooking yang menghadirkan tim dari Hotel Rayz UMM. Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses memasak berbagai hidangan yang disiapkan menjelang waktu berbuka puasa. Antusiasme anak-anak terlihat ketika mereka membaca buku dari Mobil KaCa serta mengikuti berbagai fun game yang telah disiapkan panitia. Suasana kawasan Kayutangan pun terasa semakin hidup dengan kehadiran keluarga yang menikmati kegiatan edukatif sambil menunggu waktu berbuka. (Zai).

Ngabuburit di Kayutangan: Ada Buku, Ecoprint, hingga Dapur Live Cooking

UMM menghadirkan ngabuburit yang berbeda di Kayutangan Heritage: anak-anak membaca dari mobil perpustakaan, batik ecoprint tampil di ruang publik, dan live cooking menambah semarak menunggu azan Magrib. Tagar.co – Sore di Kayutangan Heritage, Kota Malang, Selasa (10/3/2026), tidak hanya diisi orang-orang yang menunggu azan magrib. Di salah satu sudut kawasan bersejarah itu, anak-anak tenggelam dalam buku bacaan, sementara kain bermotif daun dan bunga dipamerkan layaknya karya seni. Di tempat lain, wajan mulai mengepul dari sesi memasak langsung. Ngabuburit pun berubah menjadi ruang belajar, bermain, dan berkreativitas. Melalui kegiatan Ngebuburead, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan cara lain menikmati sore Ramadan. Bukan sekadar berjalan-jalan atau berburu takjil, pengunjung diajak menikmati perpaduan literasi, kreativitas ramah lingkungan, hingga pertunjukan memasak yang berlangsung di ruang publik. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah penampilan batik ecoprint karya dosen UMM yang dikenakan oleh putra-putri kampus. Motifnya terbentuk dari jejak daun dan bunga yang dicetak langsung pada kain, menghasilkan corak alami yang unik. Baca Juga:  Inspirasi Isra Mikraj: Salat sebagai Kompas Kesadaran Teknik ini dikenal sebagai metode membatik yang lebih ramah lingkungan karena memanfaatkan bahan-bahan alami tanpa pewarna kimia berbahaya. Selain menghadirkan nilai estetika, penampilan tersebut juga menjadi cara kreatif untuk memperkenalkan fesyen berkelanjutan kepada masyarakat yang hadir di Kayutangan. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.I.Kom., mengatakan bahwa kehadiran batik ecoprint dalam kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi elemen artistik acara. “Batik ecoprint ini kami hadirkan sebagai bagian dari kampanye gaya hidup ramah lingkungan. Kami ingin menunjukkan bahwa karya kreatif dari kampus juga bisa berpihak pada keberlanjutan, memanfaatkan bahan alami, dan tetap memiliki nilai seni yang tinggi,” ujarnya. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk menumbuhkan minat baca di tengah suasana santai ngabuburit. UMM menghadirkan Mobil Kamis Membaca (Mobil Kaca) yang membawa beragam koleksi buku bacaan anak dan remaja. Mobil perpustakaan tersebut diparkir di area kegiatan, memungkinkan anak-anak membaca buku secara langsung di ruang terbuka. Beberapa terlihat duduk lesehan, sementara yang lain membolak-balik halaman buku dengan penuh rasa ingin tahu. Baca Juga:  Ramadan sebagai Momentum Rekonstruksi Niat “Melalui Mobil Kasa, kami ingin membawa buku lebih dekat ke ruang publik. Literasi tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas atau perpustakaan, tetapi juga bisa tumbuh di tengah suasana ngabuburit yang hangat dan penuh kebersamaan,” tambah Maharina. Menjelang waktu berbuka, perhatian pengunjung juga tertuju pada sesi live cooking yang menghadirkan tim dari Hotel Rayz UMM. Hotel yang menjadi salah satu unit bisnis UMM itu juga berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran terapan bagi mahasiswa di bidang perhotelan dan kuliner. Dalam sesi tersebut, pengunjung dapat menyaksikan langsung proses memasak berbagai hidangan berbuka. Aroma masakan yang mulai tercium membuat suasana sore di Kayutangan semakin hidup. Salah satu pengunjung, Roudhodul Mufarikha, mengaku terkesan dengan konsep kegiatan yang ditawarkan. “Menurut saya, konsep ngabuburit seperti ini menarik karena bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak anak-anak membaca dan mengenal hal-hal positif. Jadi, sambil menunggu berbuka, ada pengalaman yang bermanfaat dan berkesan,” tuturnya. Melalui Ngebuburead, UMM mencoba menunjukkan bahwa menunggu waktu berbuka tidak selalu identik dengan keramaian kuliner. Di tengah ruang kota yang sarat sejarah seperti Kayutangan, ngabuburit juga bisa menjadi momen belajar, bermain, dan merayakan kreativitas bersama. (#)

Ngabuburit Seru di Kayutangan UMM Padukan Literasi, Batik Ecoprint, hingga Live Cooking

UMM Padukan Literasi, Batik Ecoprint, hingga Live Cooking dalam Ngabuburit Seru di Kayutangan MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Ceria sore di Zebra cross menampak dari para Putra dan Putri Kampus UMM. Tawa anak-anak, motif batik dari daun dan bunga, hingga aktivitas edukatif mewarnai suasana ngabuburit di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang, pada Selasa (10/3/2026). Melalui kegiatan Ngebuburead, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan konsep menunggu waktu berbuka puasa yang berbeda dengan memadukan literasi, kampanye ramah lingkungan, serta hiburan interaktif bagi masyarakat. Salah satu daya tarik utama dalam kegiatan ini adalah penampilan batik ecoprint karya dosen UMM yang dikenakan oleh putera-puteri kampus. Batik ecoprint merupakan teknik membatik yang memanfaatkan daun, bunga, dan bahan alami lainnya untuk menghasilkan motif unik pada kain. Selain memiliki nilai estetika tinggi, teknik ini juga dikenal lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan kimia berbahaya. Penampilan tersebut sekaligus menjadi cara kreatif untuk memperkenalkan produk fesyen berbasis keberlanjutan kepada masyarakat yang hadir di kawasan Kayutangan. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.I.Kom., menjelaskan bahwa kehadiran batik ecoprint dalam kegiatan ini bukan sekadar pelengkap acara. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari upaya edukasi publik mengenai gaya hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan. “Batik ecoprint ini kami hadirkan sebagai bentuk kampanye gaya hidup ramah lingkungan. Kami ingin menunjukkan bahwa karya kreatif dari kampus juga bisa berpihak pada keberlanjutan, memanfaatkan bahan alami, dan tetap memiliki nilai seni yang tinggi,” ujarnya. Selain mengangkat isu keberlanjutan, kegiatan Ngebuburead juga dirancang untuk menumbuhkan minat baca di kalangan generasi muda. Untuk mendukung tujuan tersebut, UMM menghadirkan mobil perpustakaan Kamis Membaca (Mobil KaCa) yang membawa berbagai koleksi buku bacaan anak dan remaja. Kehadiran mobil perpustakaan ini memungkinkan pengunjung, khususnya anak-anak, membaca buku secara langsung di ruang terbuka sambil menikmati suasana ngabuburit. “Melalui Mobil KaCa, kami ingin membawa buku lebih dekat ke ruang publik. Literasi tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas atau perpustakaan, tetapi juga bisa tumbuh di tengah suasana ngabuburit yang hangat dan penuh kebersamaan,” tambah Maharina. Kemeriahan acara semakin terasa dengan adanya sesi live cooking yang menghadirkan tim dari Hotel Rayz UMM. Hotel yang merupakan salah satu unit bisnis UMM ini juga berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran terapan bagi mahasiswa, khususnya di bidang perhotelan dan kuliner. Dalam sesi tersebut, pengunjung dapat menyaksikan langsung proses memasak berbagai hidangan yang disiapkan menjelang waktu berbuka puasa. Antusiasme anak-anak terlihat ketika mereka membaca buku dari Mobil KaCa serta mengikuti berbagai fun game yang telah disiapkan panitia. Suasana kawasan Kayutangan pun terasa semakin hidup dengan kehadiran keluarga yang menikmati kegiatan edukatif sambil menunggu waktu berbuka. Salah satu pengunjung, Roudhodul Mufarikha, mengaku terkesan dengan konsep kegiatan yang dihadirkan. Menurutnya, Ngebuburead menjadi alternatif ngabuburit yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengalaman positif. “Menurut saya, konsep ngabuburit seperti ini sangat menarik karena bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak anak-anak membaca dan mengenal hal-hal positif. Jadi, sambil menunggu berbuka, ada pengalaman yang bermanfaat dan berkesan,” tuturnya.(Ans)

Islam Berkemajuan Bukan Hanya Soal Teknologi, Tapi Juga Memanusiakan Manusia

MALANG, Suara Muhammadiyah – Spirit Islam berkemajuan menjadi refleksi utama dalam kegiatan Safari Ramadhan pimpinan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang digelar di Hall Dome UMM (10/3). Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr H M Saad Ibrahim, MA, sebagai pembicara utama yang mengajak civitas akademika memahami Islam berkemajuan sebagai panduan menghadapi tantangan peradaban modern. Dalam pemaparannya, Saad menegaskan bahwa kemajuan dalam Islam tidak boleh dipahami hanya sebagai perkembangan teknologi dan sains. Ia menilai bahwa dunia modern menunjukkan fenomena di mana kemajuan ilmu pengetahuan tidak selalu diikuti oleh kemajuan moral dan kemanusiaan. Hal tersebut berpotensi melahirkan berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat. “Banyak negara maju secara teknologi, tetapi tidak selalu maju secara kemanusiaan. Karena itu Islam menekankan bahwa kemajuan harus berjalan bersama nilai spiritual, etika, dan tanggung jawab sosial. Tanpa keseimbangan itu, kemajuan justru bisa melahirkan masalah baru bagi kehidupan manusia,” ujarnya. Saad sapaan akranya menjelaskan bahwa Al-Qur’an sejak awal telah menempatkan ilmu pengetahuan sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia. Wahyu pertama yang memerintahkan membaca menjadi dasar bagi umat Islam untuk membangun tradisi literasi, riset, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Namun, menurutnya, literasi dalam Islam tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan semata, tetapi juga membentuk kesadaran moral dalam menggunakan ilmu tersebut. Ia menilai bahwa tantangan umat Islam saat ini bukan hanya persoalan ketertinggalan ilmu pengetahuan, tetapi bagaimana memastikan ilmu tersebut digunakan untuk kemaslahatan manusia. Di era digital, kemajuan teknologi sering kali menghadirkan paradoks sosial, seperti meningkatnya individualisme, penyebaran informasi yang tidak sehat, hingga melemahnya empati sosial. “Ilmu yang tidak dibimbing oleh nilai hanya akan melahirkan manusia yang pintar, tetapi tidak bijaksana. Inilah yang harus dihindari oleh dunia pendidikan. Kampus harus menjadi ruang yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter dan tanggung jawab moral,” tegasnya. Karena itu, Saad menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan intelektual dan pembentukan karakter. Kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan nilai yang memastikan ilmu tersebut digunakan untuk kepentingan kemanusiaan. Ia juga menekankan bahwa Ramadan menjadi momentum penting untuk menumbuhkan kesadaran sosial. Menurutnya, puasa merupakan latihan spiritual yang menumbuhkan empati terhadap masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. “Puasa itu bukan sekadar ibadah ritual, tetapi latihan spiritual yang membentuk empati terhadap kondisi masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. Dari empati itulah lahir kepedulian sosial yang menjadi dasar gerakan kemanusiaan dalam Islam,” terangnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa Safari Ramadhan menjadi bagian dari upaya kampus untuk memperkuat nilai spiritualitas di tengah dinamika aktivitas akademik. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan kepedulian sosial. “UMM berkomitmen menjadikan nilai spiritualitas, intelektualitas, dan kepedulian sosial sebagai fondasi dalam pengembangan pendidikan di kampus ini,” pungkasnya. (diko)

Ngabuburit Seru di Kayutangan, UMM Padukan Literasi, Batik Ecoprint, hingga Live Cooking

www.majelistabligh.id – Tawa anak-anak, motif batik dari daun dan bunga, hingga aktivitas edukatif mewarnai suasana ngabuburit di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang, pada Selasa (10/3/2026). Melalui kegiatan Ngebuburead, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan konsep menunggu waktu berbuka puasa yang berbeda dengan memadukan literasi, kampanye ramah lingkungan, serta hiburan interaktif bagi masyarakat. Salah satu daya tarik utama dalam kegiatan ini adalah penampilan batik ecoprint karya dosen UMM yang dikenakan oleh putera-puteri kampus. Batik ecoprint merupakan teknik membatik yang memanfaatkan daun, bunga, dan bahan alami lainnya untuk menghasilkan motif unik pada kain. Peragaan busana memakai batik ecoprint. (dok umm) Selain memiliki nilai estetika tinggi, teknik ini juga dikenal lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan kimia berbahaya. Penampilan tersebut sekaligus menjadi cara kreatif untuk memperkenalkan produk fesyen berbasis keberlanjutan kepada masyarakat yang hadir di kawasan Kayutangan. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, MIKom menjelaskan, kehadiran batik ecoprint dalam kegiatan ini bukan sekadar pelengkap acara. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari upaya edukasi publik mengenai gaya hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan. “Batik ecoprint ini kami hadirkan sebagai bentuk kampanye gaya hidup ramah lingkungan. Kami ingin menunjukkan bahwa karya kreatif dari kampus juga bisa berpihak pada keberlanjutan, memanfaatkan bahan alami, dan tetap memiliki nilai seni yang tinggi,” ujarnya. Selain mengangkat isu keberlanjutan, kegiatan Ngebuburead juga dirancang untuk menumbuhkan minat baca di kalangan generasi muda. Untuk mendukung tujuan tersebut, UMM menghadirkan mobil perpustakaan Kamis Membaca (Mobil KaCa) yang membawa berbagai koleksi buku bacaan anak dan remaja. Kehadiran mobil perpustakaan ini memungkinkan pengunjung, khususnya anak-anak, membaca buku secara langsung di ruang terbuka sambil menikmati suasana ngabuburit. “Melalui Mobil KaCa, kami ingin membawa buku lebih dekat ke ruang publik. Literasi tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas atau perpustakaan, tetapi juga bisa tumbuh di tengah suasana ngabuburit yang hangat dan penuh kebersamaan,” tambah Maharina. Kemeriahan acara semakin terasa dengan adanya sesi live cooking yang menghadirkan tim dari Hotel Rayz UMM. Hotel yang merupakan salah satu unit bisnis UMM ini juga berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran terapan bagi mahasiswa, khususnya di bidang perhotelan dan kuliner. Dalam sesi tersebut, pengunjung dapat menyaksikan langsung proses memasak berbagai hidangan yang disiapkan menjelang waktu berbuka puasa. Antusiasme anak-anak terlihat ketika mereka membaca buku dari Mobil KaCa serta mengikuti berbagai fun game yang telah disiapkan panitia. Suasana kawasan Kayutangan pun terasa semakin hidup dengan kehadiran keluarga yang menikmati kegiatan edukatif sambil menunggu waktu berbuka. Salah satu pengunjung, Roudhodul Mufarikha, mengaku terkesan dengan konsep kegiatan yang dihadirkan. Menurutnya, Ngebuburead menjadi alternatif ngabuburit yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengalaman positif. “Menurut saya, konsep ngabuburit seperti ini sangat menarik karena bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak anak-anak membaca dan mengenal hal-hal positif. Jadi, sambil menunggu berbuka, ada pengalaman yang bermanfaat dan berkesan,” tuturnya.(*/tim)

Nuzulul Qur’an Bukan Sekadar Seremonial, Dosen UMM Ajak Umat Hidupkan Nilai Al-Qur’an di Tengah Krisis Moral

Agroredaksi.com-Peringatan Nuzulul Qur’an pada bulan Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi umat Islam untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Momentum ini dinilai penting untuk meneguhkan kembali peran Al-Qur’an dalam membimbing kehidupan spiritual sekaligus sosial umat. Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (PBA UMM), Dr. Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag., menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya tidak berhenti pada aspek seremonial semata. Menurutnya, peristiwa turunnya wahyu pertama justru menjadi pengingat agar umat Islam terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. “Nilai-nilai Qur’ani memiliki potensi transformatif dalam membangun kehidupan yang lebih adil, beretika, dan berkeadaban,” ujarnya. Secara etimologis, Fatoni menjelaskan bahwa istilah Nuzulul Qur’an berasal dari kata Arab nazala yang berarti “turun”, sedangkan Al-Qur’an berasal dari kata qara’a yang bermakna “bacaan”. Istilah tersebut merujuk pada peristiwa turunnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi umat manusia. Peristiwa itu dimulai dengan turunnya wahyu pertama berupa Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Dalam kajian Ulumul Qur’an, turunnya wahyu dipahami sebagai proses penyampaian firman Allah kepada Nabi Muhammad, baik secara sekaligus maupun bertahap sesuai dengan kebutuhan dakwah pada masa itu. “Peristiwa ini menandai dimulainya risalah kenabian Nabi Muhammad SAW,” jelasnya. Mayoritas ulama tafsir juga berpendapat bahwa Nuzulul Qur’an terjadi pada malam 17 Ramadhan, sekitar tahun ke-13 sebelum Hijrah, ketika Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun. Peristiwa tersebut berlangsung di Gua Hira, Makkah, tempat Nabi melakukan perenungan spiritual sebelum menerima wahyu pertama. Ia menambahkan bahwa turunnya Al-Qur’an secara bertahap memiliki hikmah besar, salah satunya untuk memperkuat spiritualitas Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan misi kenabian serta memudahkan umat memahami ajaran Al-Qur’an secara kontekstual sesuai kondisi sosial masyarakat saat itu. “Proses turunnya wahyu yang bertahap memudahkan umat Islam memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an,” katanya. Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan momentum Nuzulul Qur’an sebagai sarana memperkuat hubungan spiritual dengan Allah melalui peningkatan kualitas ibadah, memperbanyak tilawah, memahami tafsir Al-Qur’an, serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Nuzulul Qur’an tidak hanya dipahami sebagai peristiwa historis dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai pengingat bagi umat Islam untuk terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah berbagai tantangan kehidupan modern.(Sfl)

Padukan Literasi dan Fesyen Lingkungan, UMM Gelar Ngabuburit Edukatif di Kayutangan Heritage

Portalbontang.com, Malang – Suasana sore hari menjelang waktu berbuka puasa di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang, terasa sangat berbeda dari biasanya. Pada Selasa (10/3/2026), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar sebuah kegiatan inspiratif bertajuk Ngebuburead. Kegiatan ngabuburit inovatif ini menghadirkan konsep yang memadukan gerakan literasi, kampanye ramah lingkungan, dan hiburan interaktif. Daya tarik utama yang menyita perhatian masyarakat sore itu adalah penampilan menawan dari para putera-puteri kampus. Mereka tampil mengenakan busana berbahan batik ecoprint yang merupakan hasil karya kreatif dari para dosen UMM. Teknik ecoprint ini memanfaatkan daun, bunga, dan bahan alami lainnya tanpa menggunakan bahan kimia yang berbahaya bagi lingkungan. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.I.Kom., menjelaskan bahwa kehadiran batik ini adalah wujud nyata edukasi kepada publik. “Batik ecoprint ini kami hadirkan sebagai bentuk kampanye gaya hidup ramah lingkungan. Kami ingin menunjukkan bahwa karya kreatif dari kampus juga bisa berpihak pada keberlanjutan, memanfaatkan bahan alami, dan tetap memiliki nilai seni yang tinggi,” ujarnya. Di samping kampanye keberlanjutan, acara ini menghadirkan inovasi Mobil perpustakaan Kamis Membaca (Mobil KaCa) untuk menumbuhkan minat baca. “Melalui Mobil KaCa, kami ingin membawa buku lebih dekat ke ruang publik. Literasi tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas atau perpustakaan, tetapi juga bisa tumbuh di tengah suasana ngabuburit yang hangat dan penuh kebersamaan,” tambah Maharina. Kemeriahan juga diisi dengan sesi live cooking dari tim Hotel Rayz UMM yang menyajikan aneka hidangan jelang berbuka puasa. Hotel Rayz UMM sendiri selama ini turut difungsikan sebagai laboratorium pembelajaran terapan bagi mahasiswa perhotelan. Live cooking dari tim Hotel Rayz UMM. (Humas UMM) Kegiatan positif ini mendapatkan apresiasi luar biasa dari masyarakat yang hadir menghabiskan waktu sore mereka. Salah satu pengunjung, Roudhodul Mufarikha, mengaku sangat terkesan dengan kolaborasi apik yang disajikan panitia. “Menurut saya, konsep ngabuburit seperti ini sangat menarik karena bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak anak-anak membaca dan mengenal hal-hal positif. Jadi, sambil menunggu berbuka, ada pengalaman yang bermanfaat dan berkesan,” tuturnya. ***

Dari Lumpia Kelas ke Pasar Global: Kisah Sukses Alumnus UMM

MALANG (SurabayaPost.id) – Abdullah Dzikri, alumnus Agribisnis UMM tahun 2017, membuktikan bahwa ilmu yang ditempa di bangku kuliah mampu menembus pasar global. Ia sukses mengembangkan usaha keripik buah dan sayur berbasis teknologi vacuum frying, dengan produk olahannya telah menembus pasar Singapura. Dzikri memulai usahanya dengan menjual lumpia di kelas, kemudian memperluas penjualannya hingga ke fakultas lain. Pengalaman tersebut membentuk keberanian serta daya juangnya dalam berbisnis. “Saya menjalankan usaha produksi keripik sayur dan buah dengan memanfaatkan teknologi vacuum frying, yaitu metode penggorengan dalam kondisi kedap udara dengan suhu rendah,” kata Dzikri, Sabtu (7/3/2026). Teknologi ini memungkinkan Dzikri menghasilkan produk dengan kualitas tinggi dan daya simpan yang lebih lama. Ia juga melibatkan pemberdayaan ibu-ibu di sekitar tempat usaha, menciptakan nilai ekonomi dan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Pada Oktober 2025, Dzikri melakukan ekspor perdana sebanyak 12.000 produk keripik ke Singapura. Saat ini, ia tengah menyiapkan berbagai sertifikasi tambahan untuk memperluas pasar hingga ke Australia dan kawasan Timur Tengah. “Pesan saya, mulailah sejak sekarang dan jangan menunggu usaha menjadi sempurna. Justru melalui proses memulai itulah kita belajar memahami dinamika usaha,” tegas Dzikri. (lil).