Kiprah Lulusan CoE UMM, Giyang Sukses Bangun Tambak Udang Sendiri

Di saat banyak sarjana muda masih sibuk mencari lowongan kerja, Muh Giyang Van Permana justru mantap membangun lapangan kerjanya sendiri. Alumni Program Studi Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini terbukti sukses mengelola tambak udang pribadinya di Desa Demung, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo. Kunci kesuksesannya bukanlah jalan pintas, melainkan buah dari tempaan ilmu praktis melalui program unggulan Center of Excellence (CoE) Udang di Kampus Putih. Pria yang akrab disapa Giyang ini sudah membidik jurusan perikanan sejak awal kuliah. Ia jeli melihat besarnya potensi pesisir tanah kelahirannya di Situbondo. Langkahnya untuk terjun ke industri ini semakin tajam saat ia memutuskan bergabung dengan kelas profesional CoE Udang UMM. Menurutnya, program inovatif tersebut memberikan ruang pembelajaran komprehensif yang jarang didapat di kelas teori konvensional. Giyang dibekali keahlian spesifik secara mendalam, mulai dari tata kelola kualitas air, manajemen budidaya, hingga praktik langsung menghadapi realitas lapangan. Bekal teknis tersebut menjadi senjata utama, ia saat ini mengelola tambaknya sendiri. Tak gentar saat harus berhadapan dengan dinamika cuaca ekstrem dan fluktuasi kondisi air tambak yang berisiko tinggi. Insting dan kemampuan analisisnya diuji langsung saat harus menjaga kestabilan air, menentukan racikan mineral dan probiotik yang presisi, hingga menjinakkan masalah plankton blooming. “Ilmunya benar-benar terpakai di dunia kerja. Apalagi untuk menjaga kualitas air dan menentukan treatment apa yang harus dipakai saat kondisi air berubah, itu semua menjadi lebih terarah berkat program CoE,” tegasnya. Meski demikian, merintis bisnis tambak mandiri bukan perkara ringan. Giyang mengaku sempat dihantui rasa kurang percaya diri saat harus memegang kendali penuh atas bisnis yang menuntut ketelitian dan adaptasi ketat ini. Namun, keraguannya terpatahkan oleh kuatnya dukungan keluarga dan jejaring solidaritas alumni UMM. “Awalnya saya sempat ragu karena merasa belum terlalu menguasai. Namun, berkat bimbingan senior-senior UMM yang sudah lebih dulu terjun menjadi teknisi tambak, ditambah pengalaman dari orang tua, saya jadi jauh lebih mudah beradaptasi dengan ritme kerjanya,” ujar Giyang. Kini, roda operasional tambak milik Giyang di Demung Barat terus berputar lancar. Strategi pemasarannya pun terbilang cerdik. Ia menerapkan sistem lelang panen kepada pengepul demi mengamankan harga jual tertinggi secara tunai. Pencapaian Giyang menjadi bukti autentik bahwa kurikulum praktis seperti CoE UMM tidak sekadar mencetak lulusan dengan ijazah, tetapi melahirkan wirausahawan tangguh yang siap bersaing di industri perikanan. Ia pun berharap mahasiswa lain mau memaksimalkan fasilitas dan program kampus agar memiliki daya saing yang sama. “Pesan saya, jangan pernah takut melangkah. Coba dulu saja, nanti kita pasti akan tahu hasilnya,” pungkasnya memotivasi.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Inovasi Mahasiswa UMM: Mesin Pengering Hemat Biaya untuk Tingkatkan Produksi UMKM Mie Kering

Malang, WISATA – Kendala cuaca yang tidak menentu serta mahalnya biaya operasional oven listrik masih menjadi persoalan klasik bagi pelaku UMKM, khususnya produsen mie kering. Proses pengeringan yang memakan waktu lama dan ketergantungan pada kondisi lingkungan sering kali menghambat produktivitas usaha. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan solusi inovatif berupa mesin pengering berbasis gas bernama Gas Heated Air Circulation Dryer. Inovasi ini digagas oleh tim mahasiswa Program Studi Teknik Industri yang dipimpin oleh Hanum Salsabila Djirimu bersama rekan-rekannya. Ide tersebut lahir dari hasil pengamatan langsung di lapangan, ketika mereka mendapati pelaku UMKM masih menggunakan oven listrik berkapasitas kecil dengan waktu pengeringan yang bisa mencapai lebih dari tiga jam. Kondisi ini dinilai tidak efisien dan berdampak pada rendahnya kapasitas produksi. Berbeda dari metode konvensional, mesin pengering ini memanfaatkan sumber panas dari gas yang dikombinasikan dengan sistem sirkulasi udara modern. Di dalam alat tersebut terdapat blower yang berfungsi menyebarkan panas secara merata ke seluruh ruang pengering. Dengan demikian, proses pengeringan menjadi lebih cepat dan hasilnya lebih konsisten. Tak hanya itu, alat ini juga dilengkapi sensor suhu otomatis dan timer yang membantu menjaga kestabilan suhu selama proses berlangsung. Keunggulan lainnya terletak pada aspek efisiensi biaya. Penggunaan bahan bakar gas dinilai lebih ekonomis dibandingkan listrik maupun panel surya yang membutuhkan investasi awal besar. Dengan biaya pembuatan prototipe sekitar tiga juta rupiah, mesin ini dinilai sangat terjangkau bagi pelaku usaha kecil. Efisiensi ini diharapkan mampu membantu UMKM menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan daya saing mereka di pasar. Dosen pembimbing tim, Adhi Nugraha, turut mengapresiasi hasil karya mahasiswa tersebut. Menurutnya, inovasi ini mencerminkan kemampuan mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu teknik secara nyata untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Ia juga menekankan bahwa keberhasilan ini tidak hanya dilihat dari sisi teknologi, tetapi juga dari pertimbangan aspek ekonomi yang membuat alat ini relevan untuk digunakan oleh pelaku UMKM. Lebih jauh, inovasi ini menunjukkan peran aktif dunia akademik dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat. Mesin pengering ini diharapkan tidak berhenti pada tahap prototipe, tetapi dapat segera diproduksi secara massal agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas. Dengan hadirnya Gas Heated Air Circulation Dryer, para pelaku UMKM, khususnya produsen mie kering, kini memiliki alternatif teknologi yang lebih praktis, hemat biaya, dan tidak lagi bergantung pada cuaca. Inovasi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan kepekaan sosial mampu melahirkan solusi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.

UMM Siapkan Zona KHAS, 25 Tenant Kuliner Ditarget Tersertifikasi Halal dan Higienis

MAKLUMAT — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat identitasnya sebagai kampus Islami. Salah satunya melalui inisiasi Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS). Program ini tak sekadar menempelkan label halal. UMM menggabungkan standar syariat dengan prinsip kesehatan pangan modern. Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS-P3H) UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP., menegaskan, Zona KHAS dirancang untuk memberi jaminan menyeluruh. “Bukan hanya halal, tapi juga higienis dan bergizi. Kami ingin pengunjung merasa tenang saat mengonsumsi makanan di lingkungan kampus,” ujar Elfi Anis Saati seperti dilansir laman UMM, Sabtu (18/4/2026). Langkah konkret dilakukan lewat Focus Group Discussion (FGD) Zona KHAS yang digelar Rabu (15/4). Kegiatan tersebut melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang sebagai mitra. Tiga Kantin Jadi Percontohan Program ini disiapkan sebagai agenda jangka panjang. Hal itu disampaikan Prof. Dr. Ir. Warkoyo, MP., IPM., saat membuka FGD. Persiapan sudah berlangsung sekitar delapan bulan. Selama periode tersebut, UMM menggelar workshop bagi pelaku UMKM kantin. Selain itu, pendampingan sertifikasi halal juga diberikan untuk tiga dapur hotel milik kampus. Pada tahap awal, ada tiga titik yang menjadi pilot project. Yakni kantin Fakultas Teknik di GKB III, Kantin Asri, dan kantin Rumah Sakit UMM. Ke depan, program ini akan diperluas ke area GKB I hingga kawasan wisata Sengkaling. Target 25 Tenant Tersertifikasi Ketua program, Dr. Ir. Asmah Hidayati, M.P., IPM., menjelaskan, dalam waktu dekat pihaknya akan menggelar pelatihan Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Selain itu, pengawasan kualitas pangan juga diperketat. Mulai dari pengecekan air hingga uji sampel makanan untuk memastikan tidak mengandung bahan berbahaya seperti boraks dan formalin. “Target awal sekitar 25 tenant kuliner di area prioritas bisa tersertifikasi,” jelasnya. Jika berjalan sesuai rencana, Zona KHAS UMM akan diluncurkan secara resmi oleh Gubernur Jawa Timur dalam dua hingga empat bulan mendatang.***

Jaring Pemimpin Muda, UMM Buka Beasiswa OSIS Tanpa Tes Masuk

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang kembali membuka peluang bagi pelajar berprestasi melalui program Beasiswa Jalur Prestasi Non Akademik (Minat dan Bakat). Program ini secara khusus menyasar siswa aktif organisasi seperti OSIS, MPK, dan IPM, dengan keunggulan utama berupa tanpa tes masuk.Program ini menjadi langkah strategis UMM dalam menjaring calon pemimpin muda yang telah memiliki pengalaman kepemimpinan sejak di bangku sekolah. Kampus yang dikenal sebagai “Kampus Putih” ini ingin memberikan ruang bagi talenta non-akademik untuk berkembang di pendidikan tinggi. Salah satu daya tarik utama program ini adalah keringanan biaya pendidikan. Penerima beasiswa akan mendapatkan potongan Biaya Studi Semester (BSS) pada semester pertama sebesar 50% hingga 75%, tergantung program studi yang dipilih. Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menjelaskan bahwa jalur ini dirancang khusus bagi siswa yang memiliki rekam jejak kepemimpinan di sekolah. “Melalui potongan biaya studi ini, kami berharap dapat menjaring dan mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh sebagai pionir pemimpin bangsa di masa depan,” ujarnya. Program beasiswa ini terbuka bagi lulusan SMA/sederajat tahun 2024 hingga 2026. Untuk mengikuti seleksi, calon mahasiswa diwajibkan melampirkan surat tugas atau bukti keaktifan sebagai pengurus organisasi dari sekolah. Selain itu, beberapa program studi seperti Biologi, Matematika, dan PGSD mensyaratkan surat keterangan dokter yang menyatakan tidak buta warna. Pendaftaran Beasiswa Jalur Prestasi ini telah dibuka sejak 1 April dan akan ditutup pada 25 Juni 2026. Calon pendaftar dapat memantau hasil seleksi secara berkala melalui laman resmi UMM setelah proses verifikasi berkas selesai dilakukan. “Mari bersama-sama mencetak sejarah baru dan menjadi pemimpin masa depan yang tangguh serta berdaya saing global melalui UMM,” tutup Juanda. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Vape Dilarang, Akademisi UMM: Solusi Final Atau Bom Waktu

MALANG POST – Wacana pemerintah untuk melarang peredaran rokok elektrik atau vape, kini menuai polemik yang tajam. Di satu sisi, langkah represif ini diklaim otoritas kesehatan sebagai tameng pelindung masyarakat, terutama untuk membendung tren penggunaan di kalangan remaja. Namun, kebijakan sapu bersih ini justru memicu sebuah pertanyaan fundamental. Apakah pelarangan mutlak ini benar-benar akan menjadi solusi final, atau sekadar bom waktu yang memindahkan krisis ke ruang gelap tak teregulasi sekaligus mematikan urat nadi perekonomian rakyat kecil? Wacana pengetatan produk tembakau alternatif ini sejatinya didorong kekhawatiran atas minimnya payung hukum dan dampak kesehatan. Sayangnya, rencana tersebut dinilai masih terlalu prematur. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. R. Iqbal Robbie, M.M., membedah isu kontroversial ini secara kritis dari kacamata ekonomi. Ia memperingatkan, kebijakan pelarangan tidak bisa dieksekusi dengan kacamata kuda, sebab ada ancaman konsekuensi finansial masif yang mengintai. Target pertama yang akan hancur lebur adalah pelaku usaha ritel yang napas operasionalnya bergantung penuh pada perputaran omzet harian. Ia menjelaskan bahwa tanpa masa transisi dan peta jalan regulasi pemerintah yang jelas, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak akan memiliki ruang untuk beradaptasi secara strategis. “Dampaknya bukan lagi sekadar grafik penjualan yang menukik, melainkan berpotensi memicu hilangnya sumber penghidupan pelaku usaha kecil yang selama ini menggantungkan hidupnya di sektor vape,” Lebih jauh, pakar manajemen ini menyoroti ancaman efek domino yang tampaknya luput dari kalkulasi otoritas. Tekanan pelarangan ini bukan cuma menghantam etalase toko ritel di hilir, melainkan bakal meluluhlantakkan seluruh ekosistem rantai pasok industri di hulu. Mulai dari pekerja peracik cairan (liquid), hingga produsen perangkat alat hisap (device), semuanya akan merasakan guncangan struktural yang sama. “Sistem industri ini hidup layaknya sebuah mesin. Ketika satu roda gigi dipaksa berhenti berputar, maka komponen lain dalam rantai tersebut akan ikut rontok.” “Industri ini memiliki jaring keterhubungan yang kuat, sehingga daya rusak dari pelarangan ini pasti meluas tak terkendali,” paparnya. Masalah lain yang tak kalah pelik adalah asimetri informasi. Iqbal menilai, selama ini publik dijejali narasi ketakutan yang cenderung satu arah. Minimnya edukasi komprehensif membuat vape selalu diposisikan sebagai musuh tunggal tanpa melihat aspek pengurangan bahayanya. “Masyarakat sangat perlu mendapatkan penjelasan yang lebih utuh dan objektif, bukan sekadar pelarangan buta, agar tidak terbentuk persepsi keliru di ruang publik,” urainya. Dari perspektif bisnis, larangan mutlak justru memicu anomali pasar. Para pelaku usaha secara naluriah akan mencari celah (loopholes) demi bertahan hidup. Termasuk bermanuver mengalihkan inovasi ke produk-produk modifikasi yang belum tersentuh radar regulasi. Pada akhirnya, sebuah kebijakan publik tidak seharusnya mengambil keputusan krusial secara sepihak dan arogan. “Apapun format kebijakannya, ruang dialog lintas sektoral untuk membicarakan hal ini adalah syarat mutlak. Dengan perumusan bersama, solusi yang dilahirkan tidak akan berpihak pada satu kubu saja, melainkan mampu mengakomodasi berbagai kepentingan yang lebih luas,” tutupnya. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

UMM Buka Beasiswa Jalur OSIS Tanpa Tes

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka pintu selebar-lebarnya bagi para pelajar berprestasi untuk meraih impian di bangku perguruan tinggi. Memberikan panggung bagi talenta kepemimpinan, kampus putih secara resmi membuka Beasiswa Jalur Prestasi Non Akademik (Minat dan Bakat) yang secara khusus menyasar para pemimpin muda di tingkat sekolah. Program unggulan ini ditujukan bagi para pelajar yang memiliki rekam jejak aktif sebagai pengurus organisasi, mencakup OSIS, MPK, maupun IPM. Menariknya, penerimaan melalui jalur beasiswa prestasi ini memungkinkan calon mahasiswa untuk masuk UMM tanpa harus melalui tahapan tes. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menjelaskan Jalur prestasi ini disediakan secara khusus bagi calon mahasiswa yang telah membuktikan dedikasinya sebagai pengurus organisasi di tingkat sekolah. UMM sangat menghargai jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemampuan kolaborasi yang diasah melalui keaktifan di OSIS. “Melalui potongan biaya studi ini, kami berharap dapat menjaring dan mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh sebagai pionir pemimpin bangsa di masa depan.” jelasnya Keuntungan yang ditawarkan melalui skema beasiswa ini sangat meringankan biaya pendidikan awal. Para penerima beasiswa berhak mendapatkan benefit berupa potongan Biaya Studi Semester (BSS) pada semester pertama dengan besaran mulai dari 50 persen hingga 75 persen. Besaran persentase potongan ini nantinya akan disesuaikan dengan program studi yang dipilih oleh calon mahasiswa. Kesempatan emas ini diperuntukkan bagi lulusan SMA/sederajat dari rentang kelulusan tahun 2024 hingga 2026. Bagi pendaftar yang ingin mengikuti seleksi ini, syarat administratif yang ditetapkan cukup terukur. Calon mahasiswa wajib membuktikan keaktifannya dengan melampirkan Surat Tugas kepengurusan organisasi dari sekolah. Beberapa program studi spesifik seperti Biologi, Matematika, dan PGSD juga mensyaratkan adanya Surat Keterangan Dokter tidak buta warna. Beasiswa Jalur Prestasi ini dibuka pada 1 April hingga ditutup pada 25 Juni 2026. Calon mahasiswa dapat memantau hasil pengumuman kelulusan seleksi secara berkala melalui laman resmi online.umm.ac.id setelah tim seleksi selesai melakukan proses validasi berkas. “Mari bersama-sama mencetak sejarah baru dan menjadi pemimpin masa depan yang tangguh serta berdaya saing global melalui Universitas Muhammadiyah Malang,” tutup Juanda.(imm/udi)

UMM Buka Beasiswa untuk Pengurus OSIS dan IPM: Tanpa Tes, Potongan Biaya hingga 75 Persen

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka kesempatan bagi pelajar berprestasi untuk melanjutkan studi melalui Beasiswa Jalur Prestasi Non Akademik (Minat dan Bakat). Program ini secara khusus menyasar pemimpin muda di tingkat sekolah seperti pengurus OSIS, MPK, maupun IPM. Melalui jalur ini, calon mahasiswa dapat diterima di UMM tanpa harus mengikuti tes masuk. Program tersebut menjadi bagian dari upaya kampus dalam menjaring talenta kepemimpinan sejak dini. Beasiswa yang ditawarkan memberikan potongan Biaya Studi Semester (BSS) pada semester pertama sebesar 50 hingga 75 persen. Besaran potongan disesuaikan dengan program studi yang dipilih. Program ini terbuka bagi lulusan SMA/sederajat tahun 2024 hingga 2026. Wakil Rektor II UMM Dr Ahmad Juanda Ak MM CA menjelaskan jalur ini diperuntukkan bagi calon mahasiswa yang memiliki pengalaman aktif dalam organisasi sekolah. “UMM menghargai jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemampuan kolaborasi yang dibentuk melalui keaktifan di organisasi seperti OSIS,” ujarnya. Dia menambahkan, melalui program ini UMM berharap dapat mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh sebagai calon pemimpin masa depan. Untuk mengikuti seleksi, pendaftar wajib melampirkan surat tugas atau bukti kepengurusan organisasi dari sekolah. Beberapa program studi seperti Biologi, Matematika, dan PGSD juga mensyaratkan surat keterangan tidak buta warna. Pendaftaran beasiswa dibuka mulai 1 April hingga 25 Juni 2026. Hasil seleksi dapat dipantau melalui laman resmi online.umm.ac.id setelah proses verifikasi berkas selesai. “Mari bersama mencetak pemimpin masa depan yang tangguh dan berdaya saing global melalui UMM,” pungkasnya. (Faqih/AS)