Lulusan Berdaya Saing Global: Kolaborasi Smamusix, Madtsamuda, dan UMM Resmi Wisuda Siswa Kelas IT

Prosesi wisuda bagi siswa program unggulan Kelas Informatika (IT). (Jamal Wahyudi/PWMU.CO) pwmu.co – Dunia pendidikan di Karangasem kembali mencatatkan sejarah baru dalam upaya mencetak generasi melek teknologi. SMA Muhammadiyah 6 Karangasem (Smamusix) dan MTs Muhammadiyah 2 Karangasem (Madtsamuda) sukses menggelar prosesi wisuda bagi siswa program unggulan Kelas Informatika (IT). Menariknya, wisuda ini bukan sekadar seremoni sekolah biasa, melainkan dikukuhkan langsung oleh pihak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai mitra strategis pendamping kurikulum. ​Acara yang berlangsung khidmat ini menandai keberhasilan sinergi lintas jenjang antara sekolah menengah dengan perguruan tinggi dalam menjawab tantangan era industri 4.0. Melalui program ini, para siswa tidak hanya mendapatkan ijazah formal, tetapi juga sertifikasi kompetensi yang diakui secara akademis dan industri. ​Sambutan Kepala Sekolah: Inovasi Tanpa Henti Dalam sambutannya, Kepala SMA Muhammadiyah 6 Karangasem, Siswati, M.Pd., tidak mampu menyembunyikan rasa bangganya atas pencapaian para wisudawan. Beliau menekankan bahwa program Kelas IT ini lahir dari kegelisahan terhadap pesatnya perkembangan teknologi yang menuntut adaptasi cepat dari dunia pendidikan. ​”Hari ini adalah bukti nyata bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang bagi siswa-siswi kami untuk menguasai teknologi masa depan. Melalui kolaborasi erat dengan UMM Malang, kami ingin memastikan bahwa lulusan Smamusix dan Madtsamuda memiliki ‘paspor’ keterampilan yang relevan dengan kebutuhan global,” ujar Ibu Siswati. ​Beliau juga menambahkan bahwa Kelas IT ini dirancang untuk membentuk karakter siswa yang tangguh, kreatif, dan solutif. “Kami tidak hanya mencetak operator komputer, tapi calon-calon inovator yang memiliki bekal iman, taqwa, dan keahlian digital yang mumpuni,” tegasnya di hadapan para wali murid dan tamu undangan. ​Standarisasi UMM Malang: Jaminan Kualitas ​Pihak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang hadir langsung dalam prosesi pengukuhan ini memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi Smamusix dan Madtsamuda. Perwakilan dari UMM Malang menyampaikan bahwa kurikulum yang diterapkan di Kelas IT ini telah melalui proses supervisi yang ketat agar selaras dengan standar perguruan tinggi. “Para wisudawan yang berdiri di sini hari ini adalah bibit unggul yang telah teruji. Kolaborasi ini memastikan bahwa apa yang dipelajari di tingkat sekolah menengah adalah dasar yang kuat untuk jenjang profesional maupun akademik yang lebih tinggi. Kami dari UMM berkomitmen untuk terus mengawal kualitas pendidikan digital di Karangasem agar lulusannya benar-benar berdaya saing global,” ungkap perwakilan tim ahli dari UMM. ​Pihak UMM juga menekankan pentingnya penguasaan literasi digital di usia muda. Dengan adanya pengakuan langsung dari universitas, para siswa kini memiliki rasa percaya diri lebih untuk bersaing di kancah internasional, baik dalam melanjutkan studi maupun memasuki dunia kerja kreatif. ​Menatap Masa Depan Digital Prosesi wisuda ditandai dengan penyerahan sertifikat kompetensi IT yang menjadi bukti kepakaran siswa dalam bidang pemrograman, desain, hingga manajemen jaringan. Kehadiran program ini diharapkan menjadi role model bagi sekolah-sekolah lain di wilayah Jawa Timur, khususnya di Karangasem, dalam mengintegrasikan kurikulum berbasis teknologi. ​Dengan dikukuhkannya angkatan ini, Smamusix dan Madtsamuda semakin memantapkan posisinya sebagai lembaga pendidikan Muhammadiyah yang progresif dan modern. Para lulusan kini siap melangkah dengan kepala tegak, membawa bekal keahlian IT yang telah tervalidasi oleh salah satu universitas terbaik di Indonesia.(*)

Dukung Women Empowerment, UMM Beri Ruang Setara pada Perempuan

Suasana dialog dalam webinar “Give to Gain” yang membahas penguatan akses dan partisipasi perempuan di masyarakat. (Tangkapan layar/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Momentum International Women’s Day (Hari Perempuan Internasional) kembali dimanfaatkan sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen untuk memperluas akses dan partisipasi perempuan di berbagai sektor. Upaya tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Pusat Studi Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PSP2A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), serta Asosiasi Studi Wanita dan Gender Indonesia (ASWGI). Sinergi ini dikemas dalam webinar nasional bertajuk “Give to Gain: Membangun Akses dan Partisipasi Bermakna bagi Perempuan” pada Kamis (12/3/2026). Mendapat dukungan penuh dari Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik MSi, webinar ini diikuti ratusan akademisi, mahasiswa, peneliti, dan pegiat isu gender dari seluruh Indonesia. Kegiatan secara resmi dibuka oleh Rektor UMJ Prof Ma’mun Murod MSi. Dia menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghadirkan ruang yang inklusif. “Kampus harus memberikan kesempatan setara bagi perempuan. Esensi kesetaraan gender adalah memperluas peran perempuan agar memiliki akses setara terhadap sumber daya, pendidikan, hingga pengambilan keputusan,” tegasnya. Diskusi utama menyoroti pendidikan sebagai instrumen penting dalam pemberdayaan perempuan (women empowerment). Tim Dewan Pakar PSP2A UMM Dr Tutik Sulistyowati MSi menegaskan bahwa akses pendidikan merupakan langkah awal yang tidak bisa ditawar dalam membangun kapasitas perempuan. “Pendidikan dan partisipasi bermakna adalah fondasi paling esensial dalam mewujudkan kesetaraan. Pendidikan merupakan kunci utama untuk membangun kapasitas perempuan, sehingga mereka tidak hanya sekadar hadir, tetapi benar-benar mampu berperan aktif dan memberikan dampak nyata di berbagai sektor kehidupan,” paparnya. Isu tersebut diperdalam oleh Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif Daerah 3T Dr Rita Pranawati SS MA. Ia menyoroti pentingnya pemerataan akses pendidikan hingga wilayah terpencil yang masih menghadapi banyak keterbatasan. “Kita tidak boleh menutup mata terhadap berbagai tantangan di wilayah 3T, mulai dari keterbatasan infrastruktur, kondisi geografis, hingga hambatan sosial budaya yang masih membatasi kesempatan perempuan untuk belajar. Memperluas akses pendidikan bagi perempuan di wilayah terpencil dan tertinggal bukanlah sebuah pilihan, melainkan bagian mutlak dari agenda pembangunan yang inklusif,” tegasnya. Sesi diskusi berlangsung dinamis. Salah satu peserta, Trisakti Handayani, memantik dialog mengenai pengukuran kemajuan kesetaraan gender dalam pendidikan agar selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk terkait dukungan anggaran pemerintah serta peran masyarakat sipil dalam pengawasan kebijakan. Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, PSP2A UMM, PSGA UMJ, dan ASWGI berharap sinergi tidak berhenti pada forum diskusi akademik, tetapi dapat bertransformasi menjadi langkah nyata dalam memperluas akses pendidikan dan memperkuat partisipasi perempuan demi terwujudnya masyarakat yang inklusif, setara, dan berkeadilan. (Faqih/AS)

UMM Buka Jalur Beasiswa Khusus Aktivis OSIS/MPK/IPM

Kampus UMM UMM membuka jalur beasiswa bagi siswa aktif OSIS, MPK, dan IPM, dengan seleksi berbasis rekam jejak kepemimpinan di sekolah. Program ini menyasar calon mahasiswa yang teruji dalam organisasi serta memiliki kemampuan kolaborasi, tanggung jawab, dan inisiatif. Tagar.co — Ada pesan yang ingin ditegaskan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun ini: kepemimpinan bukan sekadar aktivitas tambahan di sekolah, melainkan modal utama masa depan. Melalui skema Beasiswa Jalur Prestasi Non Akademik (Minat dan Bakat), kampus yang dikenal sebagai “Kampus Putih” itu membuka jalur masuk tanpa tes bagi para penggerak organisasi seperti OSIS, MPK, dan IPM. Langkah ini bukan sekadar strategi penerimaan mahasiswa baru. UMM sedang “menjemput bola” — memburu pelajar yang sejak dini telah teruji dalam dinamika organisasi: mengelola program, memimpin tim, hingga mengambil keputusan di bawah tekanan. Mereka inilah yang dinilai memiliki fondasi kuat sebagai calon pemimpin bangsa. Baca Juga:  Wisuda Ke-121 UMM di Hari Kartini Tekankan Peran Strategis Perempuan Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menegaskan bahwa jalur ini dirancang khusus untuk mengapresiasi kerja nyata siswa di luar kelas. Menurutnya, pengalaman berorganisasi membentuk karakter yang tidak selalu bisa diukur lewat ujian tulis. “Kami ingin menjaring calon mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemampuan kolaborasi,” ujarnya, Sabtu (18/4/ 2026). Potongan Biaya hingga 75 Persen Daya tarik utama program ini terletak pada kemudahan akses dan insentif finansial yang signifikan. Penerima beasiswa berhak memperoleh potongan Biaya Studi Semester (BSS) sebesar 50 hingga 75 persen pada semester pertama. Besaran potongan disesuaikan dengan program studi yang dipilih. Program ini terbuka bagi lulusan SMA/sederajat tahun 2024 hingga 2026 — memberi ruang bagi lulusan baru maupun gap year yang tetap aktif dalam kegiatan organisasi selama sekolah. Syarat Terukur, Fokus pada Bukti Kepemimpinan Berbeda dari jalur akademik konvensional, seleksi ini lebih menekankan rekam jejak. Calon pendaftar diwajibkan melampirkan surat tugas atau bukti resmi keaktifan sebagai pengurus organisasi sekolah. Baca Juga:  UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan Untuk beberapa program studi seperti Biologi, Matematika, dan PGSD, terdapat tambahan syarat berupa surat keterangan tidak buta warna dari dokter—memastikan kesiapan mahasiswa mengikuti proses pembelajaran secara optimal. Dibuka Hingga 25 Juni 2026 Pendaftaran telah dibuka sejak 1 April dan akan berlangsung hingga 25 Juni 2026. Hasil seleksi dapat dipantau secara berkala melalui laman resmi UMM di online.umm.ac.id setelah proses verifikasi berkas selesai dilakukan. Lebih dari sekadar beasiswa, program ini menjadi sinyal kuat bahwa dunia perguruan tinggi mulai memberi tempat lebih besar pada soft skills — khususnya kepemimpinan. Di tengah persaingan global yang semakin kompleks, UMM tampaknya ingin memastikan satu hal: masa depan tidak hanya milik mereka yang pintar di atas kertas, tetapi juga bagi mereka yang terbiasa memimpin sejak muda. “Ini momentum bagi para aktivis sekolah untuk melangkah lebih jauh,” kata Juanda. (#) Penyunting Mohammad Nurfatoni

UMM Ajarkan Cara Perempuan Ambil Peran Nyata di Masyarakat, Tepis Slogan Women Empowerment Sekadar Tren

20 April 2026 | 17.09 WIB Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si., selaku Tim Dewan Pakar PSP2A Universitas Muhammadiyah Malang dalam webinar nasional IWD 2026./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Salah satu pakar dari tim Pusat Studi Pemberdayaan Perempuan dan Anak Universitas Muhammadiyah Malang, Tutik Sulistyowati mengungkapkan bagaimana cara perempuan dapat berkontribusi nyata di lingkungan masyarakat. Pembuktian tersebut menjadi upaya untuk menepis tajuk pemberdayaan perempuan (women empowerment) hanya berhenti sebagai tren bukan implementasi nyata dan berkelanjutan. Pernyataan ini disampaikan Tutik dalam webinar nasional bertajuk ‘Give to Gain: Membangun Akses dan Partisipasi Bermakna bagi Perempuan’, pada Kamis, 12 Maret lalu. Webinar ini diselenggarakan dalam momentum International Women’s Day yang kembali dimanfaatkan sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen untuk memperluas akses dan partisipasi perempuan di berbagai sektor. Mewujudkan hal tersebut, Pusat Studi Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PSP2A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) serta Asosiasi Studi Wanita dan Gender Indonesia (ASWGI) untuk menggelar webinar ini. Agenda ini mendapat dukungan penuh dari Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si., dan dihadiri oleh ratusan akademisi, mahasiswa, peneliti, dan pegiat isu gender dari seluruh Indonesia. Kegiatan ini dibuka oleh Rektor UMJ, Prof. Ma’mun Murod, M.Si., yang menegaskan tanggung jawab perguruan tinggi dalam menghadirkan ruang inklusif. “Kampus harus memberikan kesempatan setara bagi perempuan. Esensi kesetaraan gender adalah memperluas peran perempuan agar memiliki akses setara terhadap sumber daya, pendidikan, hingga pengambilan keputusan,” ujar Ma’mun, yang dikutip dari rilis UMM (15/4). Diskusi utama dalam webinar ini memfokuskan secara tajam pada urgensi pendidikan sebagai instrumen utama pemberdayaan perempuan. Tim Dewan Pakar PSP2A UMM, Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si., menegaskan bahwa akses pendidikan adalah langkah awal yang tidak bisa ditawar dalam membangun kapasitas perempuan. “Pendidikan dan partisipasi bermakna adalah fondasi paling esensial dalam mewujudkan kesetaraan. Pendidikan merupakan kunci utama untuk membangun kapasitas perempuan, sehingga mereka tidak hanya sekadar hadir, tetapi benar-benar mampu berperan aktif dan memberikan dampak nyata di berbagai sektor kehidupan,” beber Tutik. Isu tersebut kemudian diperdalam oleh Dr. Rita Pranawati, S.S., M.A., Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Ia menyoroti secara khusus krusialnya realisasi pemerataan akses pendidikan tersebut hingga ke pelosok negeri yang kerap luput dari perhatian. “Kita tidak boleh menutup mata terhadap berbagai tantangan di wilayah 3T, mulai dari keterbatasan infrastruktur, kondisi geografis, hingga hambatan sosial budaya yang masih membatasi kesempatan perempuan untuk belajar. Memperluas akses pendidikan bagi perempuan di wilayah terpencil dan tertinggal bukanlah sebuah pilihan, melainkan bagian mutlak dari agenda pembangunan yang inklusif,” ungkap Rita. Webinar nasional yang dihelat dalam momen International Women’s Day 2026./dok. UMM Sesi diskusi berlangsung sangat dinamis. Salah satu peserta, Trisakti Handayani, memantik dialog komprehensif mengenai bagaimana cara mengukur kemajuan kesetaraan gender dalam pendidikan agar sesuai dengan target Sustainable Development Goals (SDGs). Ia juga menyoroti ketersediaan dukungan anggaran pemerintah serta peran krusial masyarakat sipil dalam mengawasi implementasi kebijakan tersebut di lapangan. Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, PSP2A UMM, PSGA UMJ, dan ASWGI berharap sinergi yang terbangun tidak berhenti pada forum diskusi akademik semata. Lebih dari itu, gagasan ini diharapkan mampu bertransformasi menjadi langkah nyata dalam memperluas akses pendidikan dan memperkuat partisipasi perempuan demi mewujudkan bangsa yang inklusif, setara, dan berkeadilan. *** Editor: YAN

Memaknai Hari Kartini, Wisuda ke-121 UMM Optimis Lahirkan Perempuan yang Berdampak

Peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2026 ini menjadi konteks penting dalam pelaksanaan Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Momentum ini tidak hanya menandai kelulusan akademik, tetapi juga mengingatkan kembali pada gagasan emansipasi dan peran strategis perempuan dalam pembangunan bangsa. Di tengah meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi, pertanyaan mengenai kontribusi nyata mereka menjadi semakin relevan. Kegiatan yang digelar di Hall Dome UMM ini pun menghadirkan refleksi bahwa gelar akademik harus beriringan dengan tanggung jawab sosial yang konkret. Menumbuhkan Perempuan Pemimpin untuk Indonesia yang Makin Sejahtera, menjadi topik penting yang disampaikan Ira Puspadewi, Ph.D dalam orasinya. Ia menekankan bahwa kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas institusi dan sumber daya manusia, bukan semata faktor geografis. Ia menyoroti rendahnya keterlibatan perempuan pada level kepemimpinan strategis, meskipun berbagai riset menunjukkan bahwa kehadiran perempuan mampu meningkatkan kualitas keputusan dan kinerja organisasi. Kondisi ini dinilai sebagai tantangan serius yang harus segera direspons, terutama oleh kalangan terdidik yang memiliki akses dan kapasitas untuk mendorong perubahan. “Jika kita ingin Indonesia maju, maka kualitas institusi harus diperbaiki, dan di dalamnya peran perempuan menjadi sangat penting. Wisudawan dan wisudawati hari ini adalah bagian dari kelompok kecil masyarakat terdidik yang memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perubahan. Perempuan harus berani meningkatkan kepercayaan diri terhadap kemampuannya, tidak terjebak dalam batasan sosial, serta memiliki role model yang kuat agar mampu tampil sebagai pemimpin,” ujarnya. Lebih lanjut, wanita yang merupakam Direktur ASDP Periode 2017-2024 itu menegaskan bahwa tantangan terbesar tidak hanya pada struktur sosial, tetapi juga pada persepsi diri perempuan yang kerap meragukan kemampuannya sendiri. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan lingkungan, termasuk keluarga dan institusi pendidikan, dalam membentuk keberanian perempuan untuk tampil sebagai pemimpin. Menurutnya, keseimbangan antara iman dan kebebasan menjadi fondasi penting bagi setiap individu untuk bertahan dan berkembang di tengah tekanan sosial maupun profesional. Sementara itu, Sekretaris Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, Dr. Mukarromah, S.KM., M.Kes., dalam sambutannya mengingatkan bahwa wisuda bukanlah titik akhir, melainkan pintu awal untuk berkontribusi di tengah masyarakat. Ia menekankan pentingnya integrasi antara ilmu, keterampilan, dan nilai kejujuran sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. Selain itu, ia juga menyoroti peran perempuan sebagai pilar penting dalam menjaga nilai-nilai keagamaan sekaligus mendorong kemajuan bangsa. “Ilmu yang kalian peroleh harus dihidupkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi capaian akademik semata. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, terutama di era digital, menjadi kunci agar tidak tertinggal. Di sisi lain, adab dan etika harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap langkah, karena keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian, tetapi juga dari cara mencapainya,” ujarnya. Pandangan yang sejalan juga disampaikan oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa kampus berkomitmen menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat. Ia menjelaskan bahwa berbagai program pengembangan, termasuk Center of Excellence (CoE), dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dan adaptif terhadap perubahan global. Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus mendorong lahirnya inovator dan problem solver di masyarakat. “Universitas Muhammadiyah Malang akan terus kami proyeksikan untuk melahirkan lulusan yang berkualitas karena prosesnya kami jamin, sekaligus membentuk insan dengan karakteristik yang mulia. Kami ingin melahirkan alumni yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menjadi problem solver di tengah masyarakat,” ujarnya. Di balik berlangsungnya prosesi wisuda yang khidmat, pesan yang mengemuka tidak berhenti pada capaian akademik semata. Para lulusan dihadapkan pada realitas bahwa tantangan sesungguhnya dimulai setelah menyandang gelar, ketika kemampuan, integritas, dan keberanian diuji di tengah masyarakat. Dengan demikian, wisuda tidak hanya menjadi penutup perjalanan pendidikan, tetapi juga titik awal untuk membuktikan peran nyata dalam mendorong kemajuan bangsa.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia |  Editor:Faqih Ahmad Wafir Rahman

Wisuda Ke-121 UMM di Hari Kartini Tekankan Peran Strategis Perempuan

Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang digelar di Hall Dome, 21 April 2026, berlangsung khidmat bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Wisuda Ke-121 UMM bertepatan Hari Kartini menegaskan pentingnya peran strategis perempuan, mendorong lulusan tampil sebagai pemimpin berdaya, adaptif, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa di masa depan. Tagar.co – Momentum Hari Kartini dimaknai secara reflektif dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 21 April 2026. Di tengah prosesi kelulusan yang berlangsung di Hall Dome UMM, muncul penegasan bahwa gelar akademik tidak cukup berhenti sebagai capaian pribadi, tetapi harus berlanjut menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat—terutama dalam mendorong peran strategis perempuan bagi kemajuan bangsa. Isu Menumbuhkan Perempuan Pemimpin untuk Indonesia yang makin Sejahtera menjadi sorotan utama dalam orasi Ira Puspadewi, Ph.D. Ia menegaskan bahwa kemajuan bangsa tidak semata ditentukan oleh faktor geografis, melainkan kualitas institusi dan sumber daya manusia. Dalam paparannya, Ira menyoroti masih rendahnya keterlibatan perempuan pada level kepemimpinan strategis, meskipun berbagai riset menunjukkan bahwa kehadiran perempuan mampu meningkatkan kualitas keputusan dan kinerja organisasi. Kondisi ini, menurutnya, merupakan tantangan serius yang perlu segera direspons oleh kelompok terdidik. “Jika kita ingin Indonesia maju, maka kualitas institusi harus diperbaiki, dan di dalamnya peran perempuan menjadi sangat penting. Wisudawan dan wisudawati hari ini adalah bagian dari kelompok kecil masyarakat terdidik yang memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perubahan. Perempuan harus berani meningkatkan kepercayaan diri terhadap kemampuannya, tidak terjebak dalam batasan sosial, serta memiliki role model yang kuat agar mampu tampil sebagai pemimpin,” ujarnya. Ira Puspadewi, Ph.D menyampaikan orasi pada Wisuda Ke-121 UMM, menyoroti pentingnya peran perempuan dalam kepemimpinan strategis dan pembangunan bangsa. Lebih lanjut, perempuan yang merupakan Direktur ASDP periode 2017–2024 tersebut menekankan bahwa tantangan tidak hanya berasal dari struktur sosial, tetapi juga dari persepsi diri perempuan yang kerap meragukan kemampuannya sendiri. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan lingkungan, baik keluarga maupun institusi pendidikan, dalam membentuk keberanian perempuan untuk tampil sebagai pemimpin. Menurutnya, keseimbangan antara iman dan kebebasan menjadi fondasi penting agar individu mampu bertahan dan berkembang di tengah tekanan sosial maupun profesional. Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, Dr. Mukarromah, S.KM., M.Kes., dalam sambutannya mengingatkan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan gerbang awal pengabdian di tengah masyarakat. Ia menekankan pentingnya integrasi antara ilmu, keterampilan, dan nilai kejujuran sebagai bekal menghadapi masa depan. Selain itu, ia juga menegaskan peran perempuan sebagai pilar penting dalam menjaga nilai keagamaan sekaligus mendorong kemajuan bangsa. “Ilmu yang kalian peroleh harus dihidupkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi capaian akademik semata. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, terutama di era digital, menjadi kunci agar tidak tertinggal. Di sisi lain, adab dan etika harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap langkah, karena keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian, tetapi juga dari cara mencapainya,” ujarnya. Rektor UMM Nazaruddin Malik menyampaikan sambutan dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-121, menegaskan komitmen kampus mencetak lulusan unggul, adaptif, dan berkarakter di tengah tantangan global. Pandangan tersebut diperkuat oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., yang menegaskan komitmen kampus dalam melahirkan lulusan unggul secara akademik sekaligus berkarakter kuat. Ia menjelaskan bahwa berbagai program pengembangan, termasuk Center of Excellence (CoE), dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dan adaptif terhadap dinamika global. Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus melahirkan inovator dan problem solver di tengah masyarakat. “Universitas Muhammadiyah Malang akan terus kami proyeksikan untuk melahirkan lulusan yang berkualitas karena prosesnya kami jamin, sekaligus membentuk insan dengan karakteristik yang mulia. Kami ingin melahirkan alumni yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menjadi problem solver di tengah masyarakat,” ujarnya. Di balik khidmatnya prosesi wisuda, tersirat pesan kuat bahwa capaian akademik bukanlah tujuan akhir. Para lulusan kini dihadapkan pada realitas baru, di mana kemampuan, integritas, dan keberanian akan diuji dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, wisuda menjadi lebih dari sekadar penutup perjalanan pendidikan—ia adalah titik awal pembuktian peran nyata dalam mendorong kemajuan bangsa. (*) Penyunting Mohammad Nurfatoni

Kiprah Lulusan CoE UMM, Giyang Sukses Bangun Tambak Udang Sendiri

Di saat banyak sarjana muda masih sibuk mencari lowongan kerja, Muh Giyang Van Permana justru mantap membangun lapangan kerjanya sendiri. Alumni Program Studi Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini terbukti sukses mengelola tambak udang pribadinya di Desa Demung, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo. Kunci kesuksesannya bukanlah jalan pintas, melainkan buah dari tempaan ilmu praktis melalui program unggulan Center of Excellence (CoE) Udang di Kampus Putih. Pria yang akrab disapa Giyang ini sudah membidik jurusan perikanan sejak awal kuliah. Ia jeli melihat besarnya potensi pesisir tanah kelahirannya di Situbondo. Langkahnya untuk terjun ke industri ini semakin tajam saat ia memutuskan bergabung dengan kelas profesional CoE Udang UMM. Menurutnya, program inovatif tersebut memberikan ruang pembelajaran komprehensif yang jarang didapat di kelas teori konvensional. Giyang dibekali keahlian spesifik secara mendalam, mulai dari tata kelola kualitas air, manajemen budidaya, hingga praktik langsung menghadapi realitas lapangan. Bekal teknis tersebut menjadi senjata utama, ia saat ini mengelola tambaknya sendiri. Tak gentar saat harus berhadapan dengan dinamika cuaca ekstrem dan fluktuasi kondisi air tambak yang berisiko tinggi. Insting dan kemampuan analisisnya diuji langsung saat harus menjaga kestabilan air, menentukan racikan mineral dan probiotik yang presisi, hingga menjinakkan masalah plankton blooming. “Ilmunya benar-benar terpakai di dunia kerja. Apalagi untuk menjaga kualitas air dan menentukan treatment apa yang harus dipakai saat kondisi air berubah, itu semua menjadi lebih terarah berkat program CoE,” tegasnya. Meski demikian, merintis bisnis tambak mandiri bukan perkara ringan. Giyang mengaku sempat dihantui rasa kurang percaya diri saat harus memegang kendali penuh atas bisnis yang menuntut ketelitian dan adaptasi ketat ini. Namun, keraguannya terpatahkan oleh kuatnya dukungan keluarga dan jejaring solidaritas alumni UMM. “Awalnya saya sempat ragu karena merasa belum terlalu menguasai. Namun, berkat bimbingan senior-senior UMM yang sudah lebih dulu terjun menjadi teknisi tambak, ditambah pengalaman dari orang tua, saya jadi jauh lebih mudah beradaptasi dengan ritme kerjanya,” ujar Giyang. Kini, roda operasional tambak milik Giyang di Demung Barat terus berputar lancar. Strategi pemasarannya pun terbilang cerdik. Ia menerapkan sistem lelang panen kepada pengepul demi mengamankan harga jual tertinggi secara tunai. Pencapaian Giyang menjadi bukti autentik bahwa kurikulum praktis seperti CoE UMM tidak sekadar mencetak lulusan dengan ijazah, tetapi melahirkan wirausahawan tangguh yang siap bersaing di industri perikanan. Ia pun berharap mahasiswa lain mau memaksimalkan fasilitas dan program kampus agar memiliki daya saing yang sama. “Pesan saya, jangan pernah takut melangkah. Coba dulu saja, nanti kita pasti akan tahu hasilnya,” pungkasnya memotivasi.(rik)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Memaknai Hari Kartini, Wisuda Ke-121 UMM Optimistis Lahirkan Perempuan yang Berdampak

Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang digelar di Hall Dome, 21 April 2026, berlangsung khidmat bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Wisuda Ke-121 UMM bertepatan Hari Kartini menegaskan pentingnya peran strategis perempuan, mendorong lulusan tampil sebagai pemimpin berdaya, adaptif, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa di masa depan. Tagar.co – Momentum Hari Kartini dimaknai secara reflektif dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 21 April 2026. Di tengah prosesi kelulusan yang berlangsung di Hall Dome UMM, muncul penegasan bahwa gelar akademik tidak cukup berhenti sebagai capaian pribadi, tetapi harus berlanjut menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat—terutama dalam mendorong peran strategis perempuan bagi kemajuan bangsa. Isu Menumbuhkan Perempuan Pemimpin untuk Indonesia yang makin Sejahtera menjadi sorotan utama dalam orasi Ira Puspadewi, Ph.D. Ia menegaskan bahwa kemajuan bangsa tidak semata ditentukan oleh faktor geografis, melainkan kualitas institusi dan sumber daya manusia. Dalam paparannya, Ira menyoroti masih rendahnya keterlibatan perempuan pada level kepemimpinan strategis, meskipun berbagai riset menunjukkan bahwa kehadiran perempuan mampu meningkatkan kualitas keputusan dan kinerja organisasi. Kondisi ini, menurutnya, merupakan tantangan serius yang perlu segera direspons oleh kelompok terdidik. Baca Juga:  Perempuan Super Itu Mitos: Kartini Tidak Pernah Mengajarkannya “Jika kita ingin Indonesia maju, maka kualitas institusi harus diperbaiki, dan di dalamnya peran perempuan menjadi sangat penting. Wisudawan dan wisudawati hari ini adalah bagian dari kelompok kecil masyarakat terdidik yang memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perubahan. Perempuan harus berani meningkatkan kepercayaan diri terhadap kemampuannya, tidak terjebak dalam batasan sosial, serta memiliki role model yang kuat agar mampu tampil sebagai pemimpin,” ujarnya. Ira Puspadewi, Ph.D menyampaikan orasi pada Wisuda Ke-121 UMM, menyoroti pentingnya peran perempuan dalam kepemimpinan strategis dan pembangunan bangsa. Lebih lanjut, perempuan yang merupakan Direktur ASDP periode 2017–2024 tersebut menekankan bahwa tantangan tidak hanya berasal dari struktur sosial, tetapi juga dari persepsi diri perempuan yang kerap meragukan kemampuannya sendiri. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan lingkungan, baik keluarga maupun institusi pendidikan, dalam membentuk keberanian perempuan untuk tampil sebagai pemimpin. Menurutnya, keseimbangan antara iman dan kebebasan menjadi fondasi penting agar individu mampu bertahan dan berkembang di tengah tekanan sosial maupun profesional. Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, Dr. Mukarromah, S.KM., M.Kes., dalam sambutannya mengingatkan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan gerbang awal pengabdian di tengah masyarakat. Ia menekankan pentingnya integrasi antara ilmu, keterampilan, dan nilai kejujuran sebagai bekal menghadapi masa depan. Selain itu, ia juga menegaskan peran perempuan sebagai pilar penting dalam menjaga nilai keagamaan sekaligus mendorong kemajuan bangsa. Baca Juga:  Dari “Pupur, Dapur, Sumur” ke Ruang Karya, Smamdela Rayakan Kartini lewat Pasar PON “Ilmu yang kalian peroleh harus dihidupkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi capaian akademik semata. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, terutama di era digital, menjadi kunci agar tidak tertinggal. Di sisi lain, adab dan etika harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap langkah, karena keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian, tetapi juga dari cara mencapainya,” ujarnya. Rektor UMM Nazaruddin Malik menyampaikan sambutan dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-121, menegaskan komitmen kampus mencetak lulusan unggul, adaptif, dan berkarakter di tengah tantangan global. Pandangan tersebut diperkuat oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., yang menegaskan komitmen kampus dalam melahirkan lulusan unggul secara akademik sekaligus berkarakter kuat. Ia menjelaskan bahwa berbagai program pengembangan, termasuk Center of Excellence (CoE), dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dan adaptif terhadap dinamika global. Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus melahirkan inovator dan problem solver di tengah masyarakat. “Universitas Muhammadiyah Malang akan terus kami proyeksikan untuk melahirkan lulusan yang berkualitas karena prosesnya kami jamin, sekaligus membentuk insan dengan karakteristik yang mulia. Kami ingin melahirkan alumni yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menjadi problem solver di tengah masyarakat,” ujarnya. Di balik khidmatnya prosesi wisuda, tersirat pesan kuat bahwa capaian akademik bukanlah tujuan akhir. Para lulusan kini dihadapkan pada realitas baru, di mana kemampuan, integritas, dan keberanian akan diuji dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, wisuda menjadi lebih dari sekadar penutup perjalanan pendidikan—ia adalah titik awal pembuktian peran nyata dalam mendorong kemajuan bangsa. (*)