UMM Hadirkan Peneliti Austria Bedah Teknologi Bioreaktor

Mengubah ruang laboratorium menjadi pusat inovasi kelas dunia bukan lagi sekadar wacana bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Guna mendongkrak kapasitas riset dosen eksakta, “Kampus Putih” menggandeng dua ilmuwan muda asal Austria untuk membedah kecanggihan teknologi bioreaktor mutakhir. Gebrakan ini tersaji apik dalam forum “Sharing Session: Microbial Growth and Data Analysis” pada Senin (20/4/2026). Pada sesi pertama, Edo Damilyan, M.Sc., peneliti dari University of Vienna, Austria, mengupas tuntas rahasia biologi sel lewat analogi yang segar. Ia mengibaratkan sel mikroba layaknya sebuah sistem ekonomi pabrik yang harus mengatur efisiensi sumber daya demi bertahan hidup. “Biologi sel mengandung banyak proses ekonomi, di mana sel mengubah input menjadi output di bawah batasan tertentu untuk memaksimalkan keuntungan pertumbuhannya,” papar Edo. Menurutnya, pemahaman tentang fase steady-state (kondisi stabil) pada bakteri sangat krusial, terutama bagi para peneliti di bidang farmasi dan biologi. Kondisi ini dibutuhkan untuk meneliti produksi metabolit aktif secara akurat. Edo menekankan bahwa pemanfaatan teknologi bioreaktor mutlak diperlukan agar eksperimen berjalan presisi dan efisien, tanpa harus membuang banyak tenaga manual. Melengkapi paparan tersebut, Catalin Rusnac, M.Sc. dari IMC Krems University, Austria, tampil membawakan demonstrasi alat secara langsung. Ia memamerkan purwarupa RepliFactory, sebuah bioreaktor otomatis bersistem open-source. Catalin memperlihatkan cara kerja pergerakan cairan medium dan bagaimana sensor optical density (OD) menembakkan cahaya untuk mengukur pertumbuhan sel. Teknologi canggih ini memungkinkan peneliti mengatur tingkat stres pada bakteri guna memantau mutasi genetik adaptif. Tak pelak, demonstrasi ini memantik antusiasme luar biasa dari para dosen yang hadir. “Dengan alat ini, kita dapat menjalankan program eksperimen simulasi selama berminggu-minggu secara otomatis, dan memantaunya langsung dari mana saja melalui koneksi internet,” ungkap Catalin. Kehadiran praktisi Eropa ini sejalan dengan peta jalan UMM yang bersiap memasuki fase daya saing internasional secara utuh. Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., menegaskan bahwa forum saintifik ini adalah jembatan strategis untuk memecahkan kendala teknis metodologi riset sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) kampus. “Pertemuan ini menjadi langkah awal. Harapannya, keluar dari ruangan ini para dosen memiliki motivasi yang tinggi untuk segera menempuh studi lanjut doktoral di luar negeri,” tegas Tri. Ia juga memproyeksikan lahirnya peluang kolaborasi penelitian yang erat dan berkesinambungan antara UMM dengan kampus-kampus di daratan Eropa. Komitmen serupa disuarakan oleh Wakil Rektor IV UMM, Dr. Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Ia menyoroti bahwa fokus riset ilmu eksakta akan diproyeksikan menjadi ujung tombak publikasi UMM di masa depan. Pengajar didorong untuk tidak hanya mengandalkan literatur lokal, melainkan berani terpapar wawasan global. “Internasionalisasi tidak mungkin bisa dilakukan kalau kita selaku pengajar juga tidak memiliki kapasitas, kemampuan teknis, dan wawasan yang sifatnya benar-benar internasional,” pungkas Salis.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Memaknai Hari Kartini, Wisuda Ke-121 UMM Optimistis Lahirkan Perempuan yang Berdampak

KHIDMAT: Wisuda kr-121 UMM yang digelar di Hall Dome UMM. RADAR MALANG – Peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2026 ini menjadi konteks penting dalam pelaksanaan Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Momentum ini tidak hanya menandai kelulusan akademik, tetapi juga mengingatkan kembali pada gagasan emansipasi dan peran strategis perempuan dalam pembangunan bangsa. Di tengah meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi, pertanyaan mengenai kontribusi nyata mereka menjadi semakin relevan. Kegiatan yang digelar di Hall Dome UMM ini pun menghadirkan refleksi bahwa gelar akademik harus beriringan dengan tanggung jawab sosial yang konkret. Menumbuhkan Perempuan Pemimpin untuk Indonesia yang Makin Sejahtera, menjadi topik penting yang disampaikan Ira Puspadewi, Ph.D dalam orasinya. Ia menekankan bahwa kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas institusi dan sumber daya manusia, bukan semata faktor geografis. Ia menyoroti rendahnya keterlibatan perempuan pada level kepemimpinan strategis, meskipun berbagai riset menunjukkan bahwa kehadiran perempuan mampu meningkatkan kualitas keputusan dan kinerja organisasi. Advertisement KOMITMEN: Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik M.Si. Kondisi ini dinilai sebagai tantangan serius yang harus segera direspons, terutama oleh kalangan terdidik yang memiliki akses dan kapasitas untuk mendorong perubahan. “Jika kita ingin Indonesia maju, maka kualitas institusi harus diperbaiki, dan di dalamnya peran perempuan menjadi sangat penting. Wisudawan dan wisudawati hari ini adalah bagian dari kelompok kecil masyarakat terdidik yang memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perubahan. Perempuan harus berani meningkatkan kepercayaan diri terhadap kemampuannya, tidak terjebak dalam batasan sosial, serta memiliki role model yang kuat agar mampu tampil sebagai pemimpin,” ujarnya. Advertisement Lebih lanjut, wanita yang merupakam Direktur ASDP Periode 2017-2024 itu menegaskan bahwa tantangan terbesar tidak hanya pada struktur sosial, tetapi juga pada persepsi diri perempuan yang kerap meragukan kemampuannya sendiri. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan lingkungan, termasuk keluarga dan institusi pendidikan, dalam membentuk keberanian perempuan untuk tampil sebagai pemimpin. Menurutnya, keseimbangan antara iman dan kebebasan menjadi fondasi penting bagi setiap individu untuk bertahan dan berkembang di tengah tekanan sosial maupun profesional. DORONG PEMBERDAYAAN: Ira Puspadewi Ph.D saat menyampaikan orasi. Sementara itu, Sekretaris Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, Dr. Mukarromah, S.KM., M.Kes., dalam sambutannya mengingatkan bahwa wisuda bukanlah titik akhir, melainkan pintu awal untuk berkontribusi di tengah masyarakat. Ia menekankan pentingnya integrasi antara ilmu, keterampilan, dan nilai kejujuran sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. Selain itu, ia juga menyoroti peran perempuan sebagai pilar penting dalam menjaga nilai-nilai keagamaan sekaligus mendorong kemajuan bangsa. “Ilmu yang kalian peroleh harus dihidupkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi capaian akademik semata. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, terutama di era digital, menjadi kunci agar tidak tertinggal. Di sisi lain, adab dan etika harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap langkah, karena keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian, tetapi juga dari cara mencapainya,” ujarnya. Pandangan yang sejalan juga disampaikan oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa kampus berkomitmen menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat. Ia menjelaskan bahwa berbagai program pengembangan, termasuk Center of Excellence (CoE), dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dan adaptif terhadap perubahan global. Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus mendorong lahirnya inovator dan problem solver di masyarakat. BERDAMPAK: Mahasiswi UMM saat mengikuti prosesi wisuda. “Universitas Muhammadiyah Malang akan terus kami proyeksikan untuk melahirkan lulusan yang berkualitas karena prosesnya kami jamin, sekaligus membentuk insan dengan karakteristik yang mulia. Kami ingin melahirkan alumni yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menjadi problem solver di tengah masyarakat,” ujarnya. Di balik berlangsungnya prosesi wisuda yang khidmat, pesan yang mengemuka tidak berhenti pada capaian akademik semata. Para lulusan dihadapkan pada realitas bahwa tantangan sesungguhnya dimulai setelah menyandang gelar, ketika kemampuan, integritas, dan keberanian diuji di tengah masyarakat. Dengan demikian, wisuda tidak hanya menjadi penutup perjalanan pendidikan, tetapi juga titik awal untuk membuktikan peran nyata dalam mendorong kemajuan bangsa. Editor : A. Nugroho

Jaring Pemimpin Muda, UMM Buka Beasiswa Jalur OSIS Tanpa Tes Masuk

Perbesar Kampus UMM di Jl. Raya Tlogomas No.246, Kec. Lowokwaru, Kota Malang/Istimewa Bisnis.com, MALANG — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka Beasiswa Jalur Prestasi Non Akademik (Minat dan Bakat) yang secara khusus menyasar para pemimpin muda di tingkat sekolah, yakni para pelajar yang memiliki rekam jejak aktif sebagai pengurus organisasi, mencakup OSIS, Majelis Perwakilan Kelas (MPK), dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) melalui jalur beasiswa prestasi dan tanpa harus melalui tahapan tes. Wakil Rektor II UMM Ahmad Juanda menjelaskan keuntungan yang ditawarkan melalui skema beasiswa ini sangat meringankan biaya pendidikan awal. Para penerima beasiswa berhak mendapatkan benefit berupa potongan Biaya Studi Semester (BSS) pada semester pertama dengan besaran mulai dari 50% hingga 75%. “Besaran persentase potongan ini nantinya akan disesuaikan dengan program studi yang dipilih oleh calon mahasiswa,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026). Kesempatan ini, kata dia, diperuntukkan bagi lulusan SMA/sederajat dari rentang kelulusan 2024 hingga 2026. Jalur prestasi ini, ujar dia, disediakan secara khusus bagi calon mahasiswa yang telah membuktikan dedikasinya sebagai pengurus organisasi di tingkat sekolah. UMM sangat menghargai jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemampuan kolaborasi yang diasah melalui keaktifan di OSIS. “Melalui potongan biaya studi ini, kami berharap dapat menjaring dan mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh sebagai pionir pemimpin bangsa di masa depan,” jelasnya. Bagi pendaftar yang ingin mengikuti seleksi ini, syarat administratif yang ditetapkan cukup terukur. Calon mahasiswa wajib membuktikan keaktifannya dengan melampirkan Surat Tugas kepengurusan organisasi dari sekolah. Beberapa program studi spesifik seperti Biologi, Matematika, dan PGSD juga mensyaratkan adanya Surat Keterangan Dokter tidak buta warna. Beasiswa Jalur Prestasi ini dibuka pada 1 April hingga ditutup pada 25 Juni 2026. Calon mahasiswa dapat memantau hasil pengumuman kelulusan seleksi secara berkala melalui laman resmi online.umm.ac.id setelah tim seleksi selesai melakukan proses validasi berkas. “ Mari bersama-sama mencetak sejarah baru dan menjadi pemimpin masa depan yang tangguh serta berdaya saing global melalui Universitas Muhammadiyah Malang,” ucapnya. Penulis : Choirul Anam Editor : Restu Wahyuning Asih

UMM Buka Beasiswa Jalur Pemimpin Muda Tanpa Tes Bagi Pengurus OSIS

Kampus UMM di Jl. Raya Tlogomas No.246, Kec. Lowokwaru, Kota Malang/Istimewa BERITA JEJAK FAKTA – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi membuka pendaftaran beasiswa jalur prestasi non-akademik bagi para pemimpin muda di tingkat sekolah menengah atas pada Sabtu (18/4/2026). Program ini menyasar pelajar yang memiliki pengalaman aktif sebagai pengurus OSIS, MPK, maupun IPM untuk masuk perguruan tinggi tanpa melalui tahapan tes seleksi. Skema bantuan pendidikan ini menawarkan keringanan biaya awal yang signifikan bagi calon mahasiswa baru. Dilansir dari Bisnis.com melalui Surabaya, para penerima beasiswa berhak mendapatkan potongan Biaya Studi Semester (BSS) pada semester pertama dengan rentang 50 persen hingga 75 persen. Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menjelaskan bahwa penentuan besaran persentase potongan biaya tersebut akan disesuaikan dengan program studi yang dipilih. Kesempatan pendaftaran ini terbuka bagi lulusan SMA atau sederajat dari angkatan tahun 2024 hingga 2026. “Besaran persentase potongan ini nantinya akan disesuaikan dengan program studi yang dipilih oleh calon mahasiswa,” ujar Ahmad Juanda, Wakil Rektor II UMM pada Sabtu (18/4/2026). Pihak kampus menekankan bahwa jalur khusus ini disediakan sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi pelajar dalam berorganisasi. UMM menilai kemampuan kolaborasi, tanggung jawab, dan jiwa kepemimpinan yang diasah di sekolah merupakan modal penting bagi mahasiswa masa depan. Secara administratif, calon mahasiswa diwajibkan melampirkan Surat Tugas kepengurusan organisasi dari sekolah asal sebagai bukti keaktifan. Persyaratan tambahan berupa Surat Keterangan Dokter tidak buta warna juga diberlakukan khusus untuk pendaftar program studi Biologi, Matematika, dan PGSD.

Di Balik Layar yang Penuh Fitur, Kreativitas Kita Justru Membeku

Ilustrasi Di Balik Layar yang Penuh Fitur, Kreativitas Kita Justru Membeku (Al) Pelajar yang kreatif tidak lahir dari kelas yang serba digital, tapi dari kelas yang berani memberi ruang untuk gagal, mencoba ulang, dan akhirnya menemukan cara mereka sendiri. Oleh Larasati Apriliya Wicaksono, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Modern, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tagar.co – Pernahkah kamu merasa sudah mengerjakan tugas, tetapi tidak merasa lelah sama sekali? Bukan karena tugasnya mudah, melainkan karena semuanya telah dikerjakan oleh AI. Tautan dibagikan, laptop dibuka, pertanyaan diketik, jawaban disalin—selesai. Tidak ada ide yang diperdebatkan, tidak ada proses yang benar-benar dirasakan. Hasilnya memang terlihat baik, tetapi di balik itu ada kekosongan yang jarang kita sadari. Inilah sisi lain dari pembelajaran berbasis teknologi yang nyaris tidak pernah kita pertanyakan. Padahal, salah satu dimensi penting yang ingin dicapai pendidikan kita adalah melahirkan pelajar yang kreatif, sebagaimana tertuang dalam Profil Pelajar Pancasila. Seorang pelajar kreatif bukan sekadar mampu mengoperasikan aplikasi, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan yang orisinal, mengekspresikan diri secara autentik, dan menciptakan sesuatu yang benar-benar bermakna. Baca Juga:  Ketika Lagu ‘Stop Bullying’ Menggema dan Anak Desa Wiyurejo Belajar Saling Menjaga Pertanyaannya, apakah pembelajaran yang kita jalani saat ini benar-benar mengarah ke sana? Teknologi dalam pembelajaran memang menawarkan banyak kemungkinan. Presentasi dapat dibuat lebih menarik dengan Canva. Diskusi dapat berlangsung lintas ruang melalui platform digital. Materi dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Secara teoretis, semua ini seharusnya memberi siswa lebih banyak ruang untuk berkreasi. Namun, yang terjadi di kelas sering kali berbeda dari teorinya. Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara pembelajaran dirancang. Ketika tugas hanya meminta siswa mencari informasi lalu menyajikannya ulang, dengan atau tanpa teknologi, tidak ada kreativitas yang benar-benar diasah di sana. Terlalu banyak kemudahan justru membuat siswa tidak memiliki alasan untuk berpikir lebih jauh. Mereka terbiasa berhenti pada titik “selesai”, bukan pada titik “bermakna”. Ambil contoh sederhana yang sering terjadi: seorang siswa diberi tugas membuat presentasi tentang perubahan iklim. Ia membuka AI, mengetikkan topiknya, lalu menyalin hasilnya ke dalam slide Canva yang sudah tersedia templatnya. Dalam 20 menit, tugasnya selesai. Secara tampilan, presentasinya rapi dan informatif. Namun, ketika diminta menjelaskan lebih lanjut di depan kelas, ia kesulitan memaparkan isi materinya sendiri karena sejak awal tidak pernah benar-benar memprosesnya. Di sinilah letak masalah yang sesungguhnya: teknologi digunakan untuk menghasilkan, bukan untuk berpikir. Kondisi ini sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan siswa. Sistem pembelajaran yang tidak secara eksplisit mengajarkan cara berkreasi dengan teknologi turut berperan besar. Ada perbedaan mendasar antara menggunakan teknologi sebagai alat eksplorasi dan menggunakannya sebagai jalan pintas. Namun, perbedaan itu jarang sekali menjadi bahan diskusi di kelas. Guru yang sekadar memindahkan metode konvensional ke platform digital tanpa mengubah cara merancang pembelajaran sejatinya belum memanfaatkan teknologi secara bermakna. Yang dibutuhkan bukan sekadar integrasi teknologi, melainkan perancangan pembelajaran yang secara sadar memberi ruang bagi siswa untuk bertanya, bereksperimen, dan menciptakan—bukan hanya mengonsumsi dan menyalin. Ketika seorang guru merancang tugas yang mendorong siswa menghasilkan solusi nyata atas masalah di lingkungan sekitar mereka, atau menyuarakan pendapat melalui media yang mereka pilih sendiri, proses itulah yang sesungguhnya menghidupkan dimensi kreatif dalam diri siswa. Lebih jauh lagi, jika kebiasaan ini dibiarkan tanpa koreksi, dampaknya tidak berhenti di ruang kelas. Siswa yang terbiasa bergantung pada teknologi untuk berpikir akan tumbuh menjadi individu yang kesulitan menghadapi situasi yang menuntut solusi baru. Di dunia kerja yang terus berubah, kemampuan untuk menciptakan—bukan sekadar mengoperasikan—adalah yang paling dicari. Kreativitas bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Jika fondasi itu tidak dibangun sejak bangku sekolah, gelar dan nilai tinggi pun tidak akan cukup untuk mengisi kekosongan tersebut. Pelajar yang kreatif tidak lahir dari kelas yang serba digital, melainkan dari kelas yang berani memberi ruang untuk gagal, mencoba ulang, dan akhirnya menemukan cara mereka sendiri. Teknologi hanyalah medium; inti kreativitas tetap terletak pada bagaimana pembelajaran membentuk keberanian siswa untuk mencipta. Layar yang penuh fitur seharusnya menjadi kanvas, bukan sekadar alat untuk mempercepat sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dipikirkan. Dan tugas pembelajaran kitalah untuk memastikan siswa memahami perbedaannya. (#) Penyunting Ichwan Arif.

UMM Bangun Zona Kuliner Halal di Lingkungan Kampus

UMM mengembangkan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS) sebagai upaya membangun ekosistem wisata kuliner halal di lingkungan kampus. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Ketenangan batin saat menyantap hidangan kini menjadi prioritas utama di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) terbaik se-Indonesia, Kampus Putih terus memperkuat identitasnya sebagai kampus Islami melalui inisiasi Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS). Langkah strategis ini bukan sekadar pemenuhan label, melainkan wujud nyata visi UMM dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan standar kesehatan internasional. Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS-P3H) UMM Prof Anis Saati menegaskan bahwa Zona KHAS hadir untuk menjamin setiap suapan yang dikonsumsi civitas akademika dan tamu kampus telah memenuhi standar syariat sekaligus prosedur higienitas yang ketat. “Kami ingin memastikan ketenangan batin bagi siapa pun yang berkunjung. Melalui Zona KHAS, kualitas gizi dan keamanan pangan terjaga, sementara ekosistem wisata halal di lingkungan kampus semakin kuat,” ujarnya. Sebagai langkah konkret, UMM menggelar Focus Group Discussion (FGD) Zona KHAS pada Rabu (15/4) di Ruang Sidang Wakil Rektor V. Kegiatan ini menjadi ajang kolaborasi lintas sektor yang menghadirkan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang sebagai mitra pendukung. Sementara itu, Prof Warkoyo saat membuka acara menyatakan bahwa rintisan ini merupakan komitmen jangka panjang. Persiapan telah dimulai sejak delapan bulan lalu melalui serangkaian workshop bagi pelaku UMKM kantin dan pendampingan sertifikasi halal untuk tiga dapur hotel milik UMM. Dekan Fakultas Pertanian Peternakan UMM itu menyebutkan bahwa untuk tahap awal, terdapat tiga titik prioritas yang akan menjadi pilot project, yakni Kantin Fakultas Teknik di GKB III, Kantin Asri, dan kantin Rumah Sakit UMM. Ke depannya, program ini akan diperluas hingga ke area GKB I dan kawasan wisata Sengkaling. Di sisi lain, Ketua Program Dr Asmah Hidayati menjelaskan bahwa dalam waktu dekat akan dilakukan pelatihan Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi para pengelola kantin. Tak hanya itu, pengecekan kualitas air dan pengujian sampel makanan dari bahan tambahan berbahaya seperti boraks dan formalin juga akan dilakukan secara berkala. Targetnya, sekitar 25 tenant kuliner di area prioritas akan segera tersertifikasi. Jika seluruh tahapan berjalan lancar, Zona KHAS UMM dijadwalkan akan diluncurkan secara resmi oleh Gubernur Jawa Timur dalam kurun waktu 2 hingga 4 bulan ke depan. Melalui rintisan ini, UMM tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi pelaku usaha lokal, tetapi juga memantapkan posisinya sebagai pionir kampus yang menyediakan ekosistem halal yang profesional dan penuh keberkahan. (Faqih/AS)

Lulusan CoE UMM, Giyang Sukses Bangun Tambak Udang Mandiri

pwmu.co – Di saat banyak sarjana muda masih mencari pekerjaan, Giyang Van Permana justru memilih menciptakan peluangnya sendiri. Alumni Program Studi Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang ini sukses mengelola tambak udang miliknya di Desa Demung, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo. Keberhasilan tersebut tidak diraih secara instan. Giyang menempa kemampuan melalui program unggulan Center of Excellence (CoE) Udang UMM yang memberikan pembelajaran berbasis praktik langsung di lapangan. Sejak awal kuliah, Giyang sudah menargetkan bidang perikanan dengan melihat potensi besar wilayah pesisir di kampung halamannya. Keputusan bergabung dengan kelas profesional CoE Udang semakin memantapkan langkahnya di industri ini. Menurut Giyang, program CoE memberikan pengalaman belajar yang jauh lebih komprehensif dibandingkan perkuliahan konvensional. Ia dibekali berbagai keahlian teknis, mulai dari pengelolaan kualitas air, manajemen budidaya, hingga praktik menghadapi tantangan nyata di tambak. Kemampuan tersebut kini menjadi modal utama dalam mengelola tambak secara mandiri, termasuk menghadapi perubahan cuaca ekstrem dan fluktuasi kondisi air yang berisiko tinggi. “Ilmunya benar-benar terpakai di dunia kerja. Apalagi untuk menjaga kualitas air dan menentukan treatment apa yang harus dipakai saat kondisi air berubah, itu semua menjadi lebih terarah berkat program CoE,” tegasnya. Merintis usaha tambak tidaklah mudah. Giyang mengaku sempat merasa ragu saat harus mengelola usaha secara mandiri. Namun, dukungan keluarga dan jaringan alumni UMM menjadi faktor penting dalam proses adaptasinya. “Awalnya saya sempat ragu karena merasa belum terlalu menguasai. Namun, berkat bimbingan senior-senior UMM yang sudah lebih dulu terjun menjadi teknisi tambak, ditambah pengalaman dari orang tua, saya jadi jauh lebih mudah beradaptasi dengan ritme kerjanya,” ujar Giyang. Saat ini, operasional tambak milik Giyang di Demung Barat berjalan stabil. Ia juga menerapkan strategi pemasaran melalui sistem lelang panen kepada pengepul untuk mendapatkan harga terbaik secara tunai. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pendekatan pembelajaran praktis seperti CoE mampu mencetak lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja. Giyang pun berpesan kepada mahasiswa agar berani mencoba dan memanfaatkan peluang yang ada. “Pesan saya, jangan pernah takut melangkah. Coba dulu saja, nanti kita pasti akan tahu hasilnya,” pungkasnya.

Kartini Bloom Ajak Generasi Muda ‘Mekar’ dan Berani Tampil

WADAH TALENTA: Memperingati Hari Kartini 2026, Rayz UMM Hotel Malang menggelar Kartini Bloom sebagai wadah talenta anak-anak mengekspresikan diri. (ist) Rayz Hotel UMM Malang Malang Posco Media, Malang – Rayz UMM Hotel Malang sukses menyelenggarakan acara bertajuk “Kartini Bloom” di area amphiteater outdoor, Sabtu (18/4). Acara ini digelar sebagai wadah bagi talenta anak-anak untuk mengekspresikan diri dalam rangka memperingati Hari Kartini. Marketing Communication Manager Rayz UMM Hotel Malang, Gustam Duga Praseta menjelaskan konsep “Bloom” diambil sebagai simbol mekarnya potensi generasi muda. “Kartini Bloom menjadi simbol bagaimana anak-anak mulai ‘mekar’ menjadi sosok Kartini masa kini yang penuh semangat, percaya diri, serta berani mengekspresikan potensi mereka,” ungkapnya. Semangat tersebut terpancar jelas melalui berbagai penampilan, mulai dari menyanyi, tarian tradisional, hingga modern dance yang memukau para penonton. Selain itu, suasana semakin meriah dengan adanya lomba fashion show kebaya. Para peserta tampil anggun memadukan unsur tradisional dan modern, menunjukkan kreativitas yang luar biasa sejak usia dini. Untuk melengkapi pengalaman pengunjung, tim Food & Beverage Rayz UMM Hotel Malang turut menyajikan beragam pilihan hidangan spesial sepanjang acara. Kolaborasi bersama Key Entertainment ini pun sukses menarik perhatian banyak pengunjung yang antusias mengikuti jalannya acara hingga selesai. Melalui Kartini Bloom, Rayz UMM Hotel Malang berharap dapat terus menjadi ruang inspiratif yang mendukung generasi muda untuk tumbuh, berkembang, dan menunjukkan jati diri mereka melalui kegiatan-kegiatan positif di masa depan. (sam/nda)

Mahasiswi UMM Ciptakan Gas Heated Air Circulation Dryer: Solusi Bagi UMKM Mie Kering

MALANG POST – Cuaca yang tak menentu dan tingginya biaya operasional oven listrik seringkali menjadi hambatan utama bagi produktivitas UMKM, khususnya produsen mie kering. Merespons kebutuhan mendesak masyarakat ini, tim mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan inovasi Gas Heated Air Circulation Dryer. Ini adalah solusi mesin pengering canggih, ekonomis, dan praktis yang dirancang khusus untuk mendongkrak kapasitas produksi UMKM secara masif. Ketua tim, Hanum Salsabila Djirimu, memaparkan bahwa karya ini lahir dari empati dan observasi langsung. Bersama tim solidnya yakni Berlinda Amalia Diami, Aisyah Leilani Salsabillah, Nadhea Aurelie Salsabila dan Frisca Shannon Alexandra. Mereka blusukan memantau pelaku UMKM mie kering. “Kami melihat mereka masih kewalahan menggunakan oven listrik berkapasitas kecil, di mana waktu pengeringannya bisa menyita waktu lebih dari tiga jam. Dari keresahan itulah, kami bertekad merancang jalan keluar yang lebih efisien,” papar Hanum. Berbeda dengan metode konvensional, alat ini cerdas memadukan sumber panas gas dengan sistem sirkulasi udara mutakhir. Blower di dalamnya memastikan panas tidak hanya mengendap di bawah, tetapi menyebar merata ke seluruh sudut ruang pengering. Lebih canggih lagi, mesin ini dibekali sensor pintar penstabil suhu dan timer otomatis. “Kalau suhu melebihi batas, sistem akan otomatis menyesuaikan. Hasil pengeringan pun jauh lebih konsisten dan pelaku usaha tidak perlu lagi pusing memikirkan cuaca buruk,” tambahnya. Aspek ekonomi juga dipikirkan matang-matang. Tim menyimpulkan bahan bakar gas jauh lebih ramah kantong bagi UMKM ketimbang listrik atau panel surya yang menuntut modal awal fantastis. Prototipe yang menghabiskan dana produksi sekitar tiga juta rupiah ini terbukti ampuh memangkas biaya operasional, menjadikannya investasi yang sangat realistis bagi usaha kecil. Terobosan ini kembali menegaskan komitmen Kampus Putih UMM yang terus mendorong mahasiswanya untuk peka dan hadir memberikan solusi nyata atas persoalan masyarakat. “Kuncinya hanya berani mencoba dan peka terhadap masalah di sekitar kita. Dari sanalah, inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas bisa lahir,” pungkas Hanum memberikan pesan inspiratif. Keberhasilan tim ini tentu tidak lepas dari tangan dingin sang dosen pembimbing, Adhi Nugraha S.T., M.BA. Ia mengaku sangat bangga melihat anak didiknya mampu menerjemahkan teori-teori keteknikan di ruang kelas menjadi sebuah mesin tepat guna yang langsung menyelesaikan persoalan riil di masyarakat. Menurutnya, analisis tajam yang dilakukan oleh tim membuktikan kematangan mahasiswa dalam melihat masalah, tidak hanya dari segi teknis mesin, tetapi juga dari kacamata keberlangsungan bisnis UMKM. “Saya sangat mengapresiasi kepekaan sosial dan kerja keras tim ini. Mereka tidak sekadar mengejar gengsi dalam berinovasi, tapi juga memikirkan aspek keekonomian agar alat ini benar-benar realistis, bisa dijangkau, dan langsung diaplikasikan oleh pelaku usaha kecil. Inilah esensi sebenarnya dari pendidikan teknik kita, yakni hadir membawa solusi praktis yang mendorong ekonomi warga,” tegasnya. Pada akhirnya, lahirnya inovasi Gas Heated Air Circulation Dryer ini menjadi bukti nyata kontribusi nyata civitas akademika UMM dalam mendukung kemandirian sektor UMKM. Harapannya, mesin pengering ramah kantong ini tidak hanya berhenti pada etalase pameran atau tahap prototipe, melainkan dapat segera diproduksi massal dan menjadi angin segar bagi para pelaku usaha kecil di seluruh penjuru negeri untuk terus berkembang dan naik kelas.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Mengembangkan Kepemimpinan Pemuda, AIESEC in UMM Gelar AFL 8.0 Bluetopia Summer Sprint

Mengembangkan Kepemimpinan Pemuda, AIESEC in UMM Gelar AFL 8.0 Bluetopia Summer Sprint goodnewsformindonesia – AIESEC in Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan AIESEC Future Leaders (AFL) 8.0 dengan tema “Bluetopia Summer Sprint: Follow Judy to World Leads Central” pada periode April hingga Juni 2026 di Kota Malang, Jawa Timur. Program pengembangan kepemimpinan berbasis komunitas ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengasah potensi diri melalui pembinaan soft skill dan hard skill, sekaligus berfungsi sebagai entry point menuju program exchange AIESEC. Dengan mengusung semangat kolaborasi dan experiential learning, AFL 8.0 terinspirasi dari perjalanan Judy dalam kartun Zootopia. Peserta diajak mengeksplorasi kepemimpinan melalui pengalaman langsung, problem-solving, serta keberanian menghadapi tantangan. Program ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 (Quality Education) dan 8 (Decent Work & Economic Growth), dengan mengintegrasikan pembelajaran digital business dan digital marketing agar pemuda siap menghadapi era ekonomi digital serta menciptakan peluang karier dan usaha. Selama dua bulan pelaksanaan, program yang mayoritas offline (sekitar 6 sesi) ini menghadirkan rangkaian kegiatan: Induction, Capacity Building (4 sesi kelas dengan pemateri), Coaching Session, International Networking Space, National Networking Space, Activating Leadership Support (ALS), Special Track Activity, Final Project, hingga AFL Graduation. Melalui pendekatan project-based learning, coaching & mentoring, serta collaborative learning, peserta akan mengidentifikasi masalah di kota, merancang solusi digital, berinteraksi langsung dengan masyarakat, serta mengadaptasi strategi nyata. Keunikan AFL 8.0 tahun ini terletak pada storytelling theme berbasis Zootopia, integrasi digital business & branding, real case problem-solving, serta fokus pada leadership, digital capability, dan social impact. Jumlah sesi offline yang lebih banyak juga memungkinkan bonding yang lebih kuat antar peserta. Target peserta adalah sekitar 50 mahasiswa usia 18–21 tahun (tahun 1–3) dari berbagai jurusan yang memiliki minat pada leadership dan social impact. Melalui program ini, diharapkan peserta memperoleh insight maksimal, meningkatkan kesiapan dunia kerja, serta melanjutkan perjalanan mereka bersama AIESEC, khususnya melalui program Global Volunteer. Anisah Fitri, Team Leader of Program and Quality Development AIESEC in UMM menyampaikan “AIESEC Future Leaders hadir bukan hanya sebagai program pengembangan diri, tetapi sebagai ruang bagi pemuda untuk menemukan potensi terbaiknya, berani mengambil peran sebagai leader, serta menciptakan dampak nyata bagi masyarakat.” Salwa, Team Leader of Customer Experience AIESEC in UMM menambahkan “AIESEC Future Leaders (AFL) 8.0 adalah program pengembangan kepemimpinan yang kami selenggarakan di AIESEC in UMM sebagai wadah bagi pemuda Malang untuk mengasah potensi diri. Program ini menjadi entry point bagi delegates agar dapat melanjutkan journey mereka ke program exchange AIESEC. Dengan tema Bluetopia Summer Sprint yang terinspirasi dari Zootopia, kami menghadirkan experiential learning melalui 4 sesi capacity building bersama pemateri, final project, serta sekitar 6 sesi offline yang memungkinkan bonding lebih kuat antar peserta. Kami berharap para delegates dapat mengambil sebanyak-banyaknya insight dan mengimplementasikannya di masa depan dalam perjalanan mereka bersama AIESEC, khususnya melalui Global Volunteer.”