Kisah Inspiratif Akhmad Sugiharto Warnai Wisuda ke-121 UMM: Dari Penjual Hasil Bumi Kini Menjadi Sekda

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Kisah inspiratif mewarnai wisuda ke-121 UMM yang berasal dari alumnusnya, Akhmad Sugiharto. Kesuksesan tidak pernah diraih dalam semalam menjadi prinsip yang dibuktikan oleh Akhmad Sugiharto, S.T., M.T., Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Demak. Akhmad mendapatkan kesempatan untuk membagikan kisah perjalanan hidupnya di hadapan ribuan lulusan pada pergelaran Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (23/4). Berawal dari anak rantau dengan keterbatasan ekonomi yang bahkan sempat berjualan hasil bumi, Akhmad kini sukses memegang jabatan birokrasi strategis berkat ketangguhan mental yang ia tempa di Kampus Putih. Masuk ke Fakultas Teknik Sipil UMM pada 1991, Akhmad merantau ke Malang dengan bekal pas-pasan. Menyadari bangku kuliah bukan sekadar tempat mengejar transkrip nilai, ia aktif berorganisasi dan sengaja memilih tempat kos yang memungkinkannya membaur dengan warga lokal. Ujian sesungguhnya datang pasca-kelulusan pada 1997. Penolakan lamaran kerja yang datang berkali-kali sempat memaksanya memutar otak dengan berjualan hasil bumi. Namun, berkat etos kerja keras warisan keluarga, ketaatan, serta doa orang tua, ia berhasil lolos seleksi CPNS pada 1998 dari titik nol. Titik balik karier puncaknya terjadi pada 2010. Mengawinkan keilmuan Teknik Sipil dari UMM dan kemampuan kolaborasi tim, ia mencetuskan inovasi pembangunan jalan beton (rigid pavement) di Demak. Inovasi yang terbukti jauh lebih awet dari aspal konvensional ini akhirnya sukses direplikasi oleh berbagai daerah di Jawa Tengah. “Pendidikan sejati di UMM adalah tentang belajar cara beradaptasi, bertahan di tengah kondisi yang sulit, serta membangun mentalitas pantang menyerah,” ungkap Akhmad. “Lulusan UMM harus memiliki ketahanan mental yang tangguh saat menghadapi realitas di lapangan. Jangan lupa untuk terus berinovasi, menjaga integritas, dan ingatlah bahwa kesuksesan sejati diukur dari seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain, bukan semata-mata dari tingginya jabatan,” imbaunya. Lahirnya alumni berdaya juang tinggi seperti Akhmad selaras dengan sistem pendidikan UMM yang terus bertransformasi. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. Thohir Luth, M.A., menyoroti program Center of Excellence (CoE) UMM sebagai ekosistem penting yang mendidik mahasiswa menghadapi dunia nyata. “Kehadiran program CoE ini menjadi bukti nyata bahwa UMM telah melaju dan terus berkembang secara pesat. Inovasi ini tidak hanya bertujuan membekali mahasiswa untuk memenangkan ketatnya persaingan di tingkat global, tetapi juga wujud nyata kontribusi Muhammadiyah dalam menghadirkan kebaikan bagi umat, bangsa, dan negara saat mereka terjun ditengah masyarakat,” tutur Thohir. Senada dengan hal tersebut, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan komitmen universitas untuk mencetak generasi Thrivers, sosok yang tidak sekadar mampu bertahan di bawah tekanan, tetapi berkembang menjadi pribadi utuh dan cerdas secara emosional. Rektor Nazaruddin menuntut lulusan UMM untuk memiliki jiwa juang kompetitif dan bertransformasi menjadi new collar workers yang lincah dan melek teknologi. “Pegang teguh semboyan student today, leaders tomorrow. Jangan hanya mengandalkan kecerdasan di atas kertas. Jadilah pembelajar tangguh yang siap menciptakan lapangan kerja produktif. Anggaplah UMM sebagai ibu kandung kedua kalian, jaga terus ikatan batin ini. Dengan bekal ketahanan mental, kemampuan kolaboratif, dan landasan takwa kepada Allah SWT, melangkahlah dengan penuh percaya diri menyongsong masa depan,” pesan Nazaruddin. ***

Dari Penjual Hasil Bumi hingga Sekda, Kisah Akhmad Sugiharto Warnai Wisuda ke-121 UMM

  pwmu.co – Kisah inspiratif datang dari Akhmad Sugiharto dalam pergelaran Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang. Di hadapan ribuan lulusan, ia membagikan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan—dari berjualan hasil bumi hingga kini menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Demak.Akhmad mengawali perjalanannya sebagai mahasiswa Teknik Sipil UMM pada tahun 1991. Ia merantau ke Malang dengan kondisi ekonomi terbatas. Bagi dirinya, kuliah bukan sekadar mengejar nilai akademik, tetapi juga proses pembentukan karakter. Ia aktif berorganisasi dan memilih tinggal di lingkungan yang membuatnya berinteraksi langsung dengan masyarakat. Ujian terbesar datang setelah lulus pada 1997, ketika berbagai lamaran kerja ditolak. Dalam kondisi tersebut, ia sempat berjualan hasil bumi untuk bertahan hidup. Namun, berkat kerja keras, doa orang tua, serta ketekunan, ia berhasil lolos seleksi CPNS pada tahun 1998 dari titik nol. Puncak kariernya terjadi pada 2010 saat ia mencetuskan inovasi pembangunan jalan beton (rigid pavement) di Demak. Inovasi ini terbukti lebih tahan lama dibandingkan aspal konvensional dan kemudian diadopsi oleh berbagai daerah di Jawa Tengah. “Pendidikan sejati di UMM adalah tentang belajar cara beradaptasi, bertahan di tengah kondisi yang sulit, serta membangun mentalitas pantang menyerah. Lulusan UMM harus memiliki ketahanan mental yang tangguh saat menghadapi realitas di lapangan. Jangan lupa untuk terus berinovasi, menjaga integritas, dan ingatlah bahwa kesuksesan sejati diukur dari seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain, bukan semata-mata dari tingginya jabatan,” tegasnya. Keberhasilan Akhmad dinilai sejalan dengan sistem pendidikan UMM yang terus berkembang. Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Thohir Luth, menyoroti program Center of Excellence (CoE) sebagai ekosistem penting dalam membekali mahasiswa menghadapi dunia nyata. “Kehadiran program CoE ini menjadi bukti nyata bahwa UMM telah melaju dan terus berkembang secara pesat. Inovasi ini tidak hanya bertujuan membekali mahasiswa untuk memenangkan ketatnya persaingan di tingkat global, tetapi juga wujud nyata kontribusi Muhammadiyah dalam menghadirkan kebaikan bagi umat, bangsa, dan negara saat mereka terjun ditengah masyarakat,”ungkapnya. Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menegaskan komitmen kampus dalam mencetak generasi thrivers—individu yang tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang di tengah tekanan. Ia mendorong lulusan UMM untuk menjadi new collar workers yang adaptif, kolaboratif, dan melek teknologi. “Pegang teguh semboyan student today, leaders tomorrow. Jangan hanya mengandalkan kecerdasan di atas kertas. Jadilah pembelajar tangguh yang siap menciptakan lapangan kerja produktif. Anggaplah UMM sebagai ibu kandung kedua kalian, jaga terus ikatan batin ini. Dengan bekal ketahanan mental, kemampuan kolaboratif, dan landasan takwa kepada Allah SWT, melangkahlah dengan penuh percaya diri menyongsong masa depan,” pesannya. Kisah Akhmad Sugiharto menjadi bukti bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh titik awal, melainkan oleh ketekunan, keberanian, dan kemampuan beradaptasi. UMM pun terus berkomitmen melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh dan berdaya saing tinggi. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Fisioterapi UMM Hadirkan Sport Physio, Layanan Sigap Cedera Olahraga

pwmu.co – Di balik sorak-sorai penonton dan gemilang prestasi atlet, terdapat ancaman tak kasat mata yang selalu mengintai: cedera olahraga. Dalam hitungan detik, karier seorang atlet dapat berubah drastis tanpa penanganan yang tepat. Dalam konteks inilah, peran fisioterapi menjadi krusial sebagai garda terdepan penanganan cedera di arena pertandingan.Menjawab urgensi tersebut, Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang menghadirkan Sport Physio sebagai layanan sigap penanganan cedera olahraga. Berada di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HIMATERA), Sport Physio UMM berkembang menjadi laboratorium terapan yang efektif. Peran mereka di lapangan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dalam menjaga keselamatan atlet. Saat tensi pertandingan meningkat, tim Sport Physio dituntut memiliki kepekaan tinggi untuk mendeteksi kondisi fisik atlet, mulai dari kelelahan hingga trauma ringan. Mereka juga menjadi pihak pertama yang memberikan pertolongan ketika atlet mengalami cedera, sekaligus menentukan apakah atlet dapat melanjutkan pertandingan atau harus segera mendapatkan penanganan lebih lanjut. Keterlibatan Sport Physio UMM dalam berbagai ajang olahraga, baik internal kampus maupun turnamen eksternal, menunjukkan kematangan peran mereka. Fokus utama komunitas ini mencakup penguatan keilmuan, aspek kemanusiaan, serta penanganan kegawatdaruratan. Tim ini juga berperan dalam pendampingan atlet melalui teknik stretching dan taping sebelum pertandingan, serta memberikan intervensi cepat saat terjadi insiden di lapangan. Ketua komunitas, Muhamad Abdilah Ibdaul Hakiki, menegaskan bahwa kesiapan tim tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses latihan yang matang. “Kami melakukan pembekalan materi dasar sport physiotherapy secara rutin sebelum terjun ke lapangan. Kesiapan alat medis, seperti perbaikan tandu hingga stok coolant spray dan perban, dipastikan dalam kondisi prima. Namun yang terpenting adalah kesiapan mental; kami melatih tim agar tetap tenang dan tidak panik di bawah tekanan atmosfer pertandingan yang provokatif,” Sementara itu, Pembina Sport Physio UMM, Arys Hasta Baruna, S.Ft., M.Kes., mengapresiasi komunitas ini sebagai wadah pembelajaran aplikatif bagi mahasiswa. Menurutnya, pengalaman di lapangan sangat penting dalam membangun clinical reasoning atau nalar klinis sebelum memasuki dunia profesional. Mahasiswa juga dilatih untuk mengelola tekanan saat harus mengambil keputusan cepat di hadapan publik. Ke depan, Sport Physio UMM diharapkan dapat terus berkembang sebagai rujukan layanan fisioterapi lapangan di Jawa Timur. Kehadirannya tidak hanya mencetak tenaga medis yang kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki empati tinggi dalam melindungi keselamatan dan masa depan atlet. Dengan sinergi antara teori akademik dan praktik profesional, Sport Physio UMM diharapkan menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem olahraga yang lebih aman dan berprestasi di Indonesia.(*) *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Garda Sunyi di Arena: Peran Vital Sport Physio UMM Lindungi Atlet dari Cedera

Malangpariwara.com – Di tengah euforia pertandingan dan gemuruh dukungan penonton, ada risiko tersembunyi yang selalu mengintai setiap atlet—cedera olahraga. Dalam sekejap, kondisi fisik seorang pemain bisa berubah drastis jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Peran inilah yang menjadikan tim fisioterapi sebagai elemen krusial di lapangan, hadir sebagai penolong pertama saat insiden terjadi. Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Sport Physio sebagai ujung tombak penanganan cedera olahraga. Di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HIMATERA), Sport Physio UMM berkembang menjadi wadah praktik nyata bagi mahasiswa. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap pertandingan, melainkan bagian penting dalam menjaga keselamatan atlet. Dengan kepekaan tinggi, tim ini mampu membaca tanda-tanda kelelahan hingga cedera ringan dari bahasa tubuh atlet. Saat insiden terjadi, mereka menjadi pihak pertama yang sigap memberikan pertolongan sekaligus menentukan langkah lanjutan, apakah atlet dapat melanjutkan pertandingan atau perlu penanganan lebih lanjut. Kiprah Sport Physio UMM semakin terlihat melalui keterlibatan aktif mereka dalam berbagai ajang olahraga, baik di tingkat kampus maupun luar kampus. Fokus mereka tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada nilai kemanusiaan dan penanganan kegawatdaruratan. Pendampingan dilakukan sejak sebelum pertandingan melalui persiapan fisik seperti stretching dan taping, hingga intervensi cepat ketika terjadi cedera di lapangan. Ketua komunitas, Muhamad Abdilah Ibdaul Hakiki, menjelaskan bahwa kesiapan tim tidak datang secara instan. “Kami rutin melakukan pembekalan materi sport physiotherapy sebelum turun ke lapangan. Selain itu, kesiapan alat seperti tandu, coolant spray, dan perban selalu kami pastikan dalam kondisi siap pakai. Yang tidak kalah penting adalah kesiapan mental agar tim tetap tenang dalam situasi penuh tekanan,” ungkapnya pada 22 April. Sementara itu, pembina Sport Physio UMM, Arys Hasta Baruna, S.Ft., M.Kes., menilai komunitas ini sebagai ruang belajar yang sangat penting bagi mahasiswa. Melalui pengalaman langsung di lapangan, mahasiswa dilatih mengasah kemampuan clinical reasoning serta mengelola tekanan saat harus mengambil keputusan cepat di hadapan publik. Ke depan, Sport Physio UMM diharapkan mampu memperluas perannya sebagai rujukan layanan fisioterapi olahraga di Jawa Timur. Tidak hanya mencetak tenaga profesional yang kompeten, tetapi juga menghadirkan sosok fisioterapis yang berempati tinggi dalam menjaga keselamatan dan masa depan atlet. Sinergi antara teori dan praktik menjadi fondasi kuat bagi Sport Physio UMM dalam mendukung terciptanya ekosistem olahraga yang aman dan berdaya saing di Indonesia.( Djoko W)

Prodi Fisioterapi UMM Kenalkan Sport Physio, Layanan Sigap Cedera Olahraga

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkenalkan Sport Physio sebagai garda terdepan penanganan cedera. Pengenalan ini penting ketika di balik sorak-sorai penonton dan gemilang prestasi para atlet, ada ancaman tak kasat mata yang selalu mengintai di arena olahraga yaitu cedera. Hanya dalam hitungan detik, karier seorang atlet bisa berubah drastis tanpa penanganan tepat. Di sinilah kehadiran tim fisioterapi menjadi sangat krusial sebagai pahlawan pertolongan pertama di arena. Berada di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HIMATERA), Sport Physio UMM telah bertransformasi menjadi laboratorium terapan yang efektif. Peran mereka di lapangan bukan sekadar pelengkap, melainkan penentu keselamatan atlet. Saat tensi pertandingan memuncak, tim ini dituntut memiliki ketajaman mata untuk mendeteksi gestur tubuh atlet yang mulai kelelahan atau mengalami trauma fisik ringan. Mereka adalah orang pertama yang berlari ke tengah lapangan saat seorang pemain terjatuh, membawa tanggung jawab besar untuk memutuskan apakah sang atlet layak melanjutkan perjuangan atau harus segera dievakuasi demi mencegah kerusakan permanen. Eksistensi Sport Physio UMM di berbagai ajang olahraga baik internal kampus maupun turnamen eksternal menunjukkan kematangan peran mereka. Fokus utama komunitas ini meliputi penguatan keilmuan, aspek kemanusiaan, dan kegawatdaruratan. Mereka bertugas melakukan pendampingan intensif, memastikan kesiapan fisik atlet melalui teknik stretching dan taping sebelum bertanding, serta memberikan intervensi cepat saat insiden terjadi. Ketua Komunitas, Muhamad Abdilah Ibdaul Hakiki, menekankan bahwa di balik aksi sigap di lapangan, terdapat persiapan yang sangat rigid. “Kami melakukan pembekalan materi dasar sport physiotherapy secara rutin sebelum terjun ke lapangan. Kesiapan alat medis, seperti perbaikan tandu hingga stok coolant spray dan perban, dipastikan dalam kondisi prima. Namun yang terpenting adalah kesiapan mental; kami melatih tim agar tetap tenang dan tidak panik di bawah tekanan atmosfer pertandingan yang provokatif,” ungkap Abdilah dikutip dari rilis resmi UMM (23/4). Pembina Sport Physio UMM, Arys Hasta Baruna, S.Ft., M.Kes., mengapresiasi komunitas ini sebagai wadah pembelajaran aplikatif. Menurutnya, pengalaman ini vital untuk membangun clinical reasoning atau nalar klinis mahasiswa sebelum memasuki dunia profesi. Mahasiswa belajar mengelola coping stress saat harus mengambil keputusan medis di depan ribuan penonton. Melalui Sport Physio UMM, pihak kampus mengharapkan adanya pelebaran sayap agar dapat menjadi rujukan utama layanan fisioterapi lapangan di Jawa Timur. Komunitas ini diharapkan UMM tidak hanya mencetak tenaga medis yang ahli secara teknis, tetapi juga memiliki empati tinggi dalam melindungi impian para atlet. Dengan sinergi antara teori akademik dan praktik profesional, Sport Physio UMM juga diproyeksikan untuk menjadi pilar utama dalam menciptakan ekosistem olahraga yang lebih aman dan berprestasi di Indonesia. ***

Garda Sunyi di Arena: Peran Vital Sport Physio UMM Lindungi Atlet dari Cedera

Malangpariwara.com – Di tengah euforia pertandingan dan gemuruh dukungan penonton, ada risiko tersembunyi yang selalu mengintai setiap atlet—cedera olahraga. Dalam sekejap, kondisi fisik seorang pemain bisa berubah drastis jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Peran inilah yang menjadikan tim fisioterapi sebagai elemen krusial di lapangan, hadir sebagai penolong pertama saat insiden terjadi. Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Sport Physio sebagai ujung tombak penanganan cedera olahraga. Di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HIMATERA), Sport Physio UMM berkembang menjadi wadah praktik nyata bagi mahasiswa. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap pertandingan, melainkan bagian penting dalam menjaga keselamatan atlet. Dengan kepekaan tinggi, tim ini mampu membaca tanda-tanda kelelahan hingga cedera ringan dari bahasa tubuh atlet. Saat insiden terjadi, mereka menjadi pihak pertama yang sigap memberikan pertolongan sekaligus menentukan langkah lanjutan, apakah atlet dapat melanjutkan pertandingan atau perlu penanganan lebih lanjut. Kiprah Sport Physio UMM semakin terlihat melalui keterlibatan aktif mereka dalam berbagai ajang olahraga, baik di tingkat kampus maupun luar kampus. Fokus mereka tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada nilai kemanusiaan dan penanganan kegawatdaruratan. Pendampingan dilakukan sejak sebelum pertandingan melalui persiapan fisik seperti stretching dan taping, hingga intervensi cepat ketika terjadi cedera di lapangan. Ketua komunitas, Muhamad Abdilah Ibdaul Hakiki, menjelaskan bahwa kesiapan tim tidak datang secara instan. “Kami rutin melakukan pembekalan materi sport physiotherapy sebelum turun ke lapangan. Selain itu, kesiapan alat seperti tandu, coolant spray, dan perban selalu kami pastikan dalam kondisi siap pakai. Yang tidak kalah penting adalah kesiapan mental agar tim tetap tenang dalam situasi penuh tekanan,” ungkapnya pada 22 April. Sementara itu, pembina Sport Physio UMM, Arys Hasta Baruna, S.Ft., M.Kes., menilai komunitas ini sebagai ruang belajar yang sangat penting bagi mahasiswa. Melalui pengalaman langsung di lapangan, mahasiswa dilatih mengasah kemampuan clinical reasoning serta mengelola tekanan saat harus mengambil keputusan cepat di hadapan publik. Ke depan, Sport Physio UMM diharapkan mampu memperluas perannya sebagai rujukan layanan fisioterapi olahraga di Jawa Timur. Tidak hanya mencetak tenaga profesional yang kompeten, tetapi juga menghadirkan sosok fisioterapis yang berempati tinggi dalam menjaga keselamatan dan masa depan atlet. Sinergi antara teori dan praktik menjadi fondasi kuat bagi Sport Physio UMM dalam mendukung terciptanya ekosistem olahraga yang aman dan berdaya saing di Indonesia.( Djoko W)

Prodi Fisioterapi UMM Kenalkan Sport Physio, Layanan Sigap Cedera Olahraga

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkenalkan Sport Physio sebagai garda terdepan penanganan cedera. Pengenalan ini penting ketika di balik sorak-sorai penonton dan gemilang prestasi para atlet, ada ancaman tak kasat mata yang selalu mengintai di arena olahraga yaitu cedera. Hanya dalam hitungan detik, karier seorang atlet bisa berubah drastis tanpa penanganan tepat. Di sinilah kehadiran tim fisioterapi menjadi sangat krusial sebagai pahlawan pertolongan pertama di arena. Berada di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HIMATERA), Sport Physio UMM telah bertransformasi menjadi laboratorium terapan yang efektif. Peran mereka di lapangan bukan sekadar pelengkap, melainkan penentu keselamatan atlet. Saat tensi pertandingan memuncak, tim ini dituntut memiliki ketajaman mata untuk mendeteksi gestur tubuh atlet yang mulai kelelahan atau mengalami trauma fisik ringan. Mereka adalah orang pertama yang berlari ke tengah lapangan saat seorang pemain terjatuh, membawa tanggung jawab besar untuk memutuskan apakah sang atlet layak melanjutkan perjuangan atau harus segera dievakuasi demi mencegah kerusakan permanen. Eksistensi Sport Physio UMM di berbagai ajang olahraga baik internal kampus maupun turnamen eksternal menunjukkan kematangan peran mereka. Fokus utama komunitas ini meliputi penguatan keilmuan, aspek kemanusiaan, dan kegawatdaruratan. Mereka bertugas melakukan pendampingan intensif, memastikan kesiapan fisik atlet melalui teknik stretching dan taping sebelum bertanding, serta memberikan intervensi cepat saat insiden terjadi. Ketua Komunitas, Muhamad Abdilah Ibdaul Hakiki, menekankan bahwa di balik aksi sigap di lapangan, terdapat persiapan yang sangat rigid. “Kami melakukan pembekalan materi dasar sport physiotherapy secara rutin sebelum terjun ke lapangan. Kesiapan alat medis, seperti perbaikan tandu hingga stok coolant spray dan perban, dipastikan dalam kondisi prima. Namun yang terpenting adalah kesiapan mental; kami melatih tim agar tetap tenang dan tidak panik di bawah tekanan atmosfer pertandingan yang provokatif,” ungkap Abdilah dikutip dari rilis resmi UMM (23/4). Pembina Sport Physio UMM, Arys Hasta Baruna, S.Ft., M.Kes., mengapresiasi komunitas ini sebagai wadah pembelajaran aplikatif. Menurutnya, pengalaman ini vital untuk membangun clinical reasoning atau nalar klinis mahasiswa sebelum memasuki dunia profesi. Mahasiswa belajar mengelola coping stress saat harus mengambil keputusan medis di depan ribuan penonton. Melalui Sport Physio UMM, pihak kampus mengharapkan adanya pelebaran sayap agar dapat menjadi rujukan utama layanan fisioterapi lapangan di Jawa Timur. Komunitas ini diharapkan UMM tidak hanya mencetak tenaga medis yang ahli secara teknis, tetapi juga memiliki empati tinggi dalam melindungi impian para atlet. Dengan sinergi antara teori akademik dan praktik profesional, Sport Physio UMM juga diproyeksikan untuk menjadi pilar utama dalam menciptakan ekosistem olahraga yang lebih aman dan berprestasi di Indonesia. ***

Universitas Muhammadiyah Malang Bidik Riset Global Hadirkan Teknologi Bioreaktor Otomatis

​MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memacu kapasitas riset internasionalnya. Melalui forum “Sharing Session: Microbial Growth and Data Analysis” yang digelar pada Senin (20/4), Kampus Putih menghadirkan dua peneliti muda asal Austria untuk membedah teknologi bioreaktor mutakhir di hadapan para dosen eksakta. ​Edo Damilyan, M.Sc., peneliti dari University of Vienna, menjelaskan bahwa memahami sel mikroba membutuhkan sudut pandang yang berbeda. Ia mengibaratkan kehidupan mikroba dengan sistem manajemen industri. ​”Biologi sel mengandung banyak proses ekonomi, di mana sel mengubah input menjadi output di bawah batasan tertentu untuk memaksimalkan keuntungan pertumbuhannya,” papar Edo. Ia menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi bioreaktor sangat krusial bagi peneliti farmasi agar eksperimen berjalan presisi tanpa membuang banyak tenaga manual. ​Sementara itu, Catalin Rusnac, M.Sc. dari IMC Krems University, mendemonstrasikan RepliFactory, sebuah bioreaktor otomatis berbasis open-source yang mampu menjalankan eksperimen selama berminggu-minggu tanpa henti. ​”Dengan alat ini, kita dapat menjalankan program eksperimen simulasi secara otomatis, dan memantaunya langsung dari mana saja melalui koneksi internet,” ungkap Catalin. Teknologi ini memungkinkan peneliti memantau mutasi genetik adaptif pada bakteri secara real-time melalui sensor cahaya yang canggih. ​Langkah strategis ini didukung penuh oleh jajaran pimpinan universitas. Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., berharap forum ini menjadi pintu pembuka bagi para dosen untuk berkarier di kancah global. ​”Pertemuan ini menjadi langkah awal. Harapannya, keluar dari ruangan ini para dosen memiliki motivasi yang tinggi untuk segera menempuh studi lanjut doktoral di luar negeri,” tegas Prof. Tri. ​Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor IV UMM, Dr. Muhammad Salis Yuniardi, Ph.D., menekankan bahwa penguasaan teknologi adalah kunci internasionalisasi. ​”Internasionalisasi tidak mungkin bisa dilakukan kalau kita selaku pengajar juga tidak memiliki kapasitas, kemampuan teknis, dan wawasan yang sifatnya benar-benar internasional,” pungkas Salis. (imm/udi)

Dulu Pedagang, Kini Jabat Sekda: Alumni Teknik Sipil UMM Menginspirasi Wisudawan

KLIKMU.CO – Kesuksesan tidak pernah diraih dalam semalam. Prinsip inilah yang dibuktikan oleh Akhmad Sugiharto, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Demak, saat membagikan kisah perjalanan hidupnya di hadapan ribuan lulusan pada Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (23/4/2026). Berawal sebagai anak rantau dengan keterbatasan ekonomi yang bahkan sempat berjualan hasil bumi, Akhmad kini sukses menempati jabatan birokrasi strategis berkat ketangguhan mental yang ia tempa di Kampus Putih. Masuk ke Fakultas Teknik Sipil UMM pada tahun 1991, Akhmad merantau ke Malang dengan bekal yang sangat terbatas. Menyadari bahwa bangku kuliah bukan sekadar tempat mengejar transkrip nilai, ia aktif berorganisasi dan sengaja memilih tempat kos yang memungkinkannya berbaur dengan warga sekitar. Ujian sesungguhnya datang setelah kelulusan pada 1997, ketika penolakan lamaran kerja berulang kali memaksanya berjuang dengan jadi pedagang hasil bumi. Namun, berkat etos kerja keras, ketaatan, serta doa orang tua, ia akhirnya lolos seleksi CPNS pada tahun 1998 dari titik nol. Titik balik kariernya terjadi pada tahun 2010. Menggabungkan keilmuan Teknik Sipil dari UMM dan kemampuan kolaborasi tim, ia mencetuskan inovasi pembangunan jalan beton (rigid pavement) di Demak. Inovasi yang terbukti lebih awet dibanding aspal konvensional itu kemudian direplikasi di berbagai daerah di Jawa Tengah. “Pendidikan sejati di UMM adalah tentang belajar beradaptasi, bertahan di tengah kondisi sulit, serta membangun mentalitas pantang menyerah. Lulusan UMM harus memiliki ketahanan mental yang tangguh saat menghadapi realitas di lapangan. Jangan lupa terus berinovasi, menjaga integritas, dan ingatlah bahwa kesuksesan sejati diukur dari seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain, bukan semata dari tingginya jabatan,” tegasnya. Lahirnya alumni berdaya juang tinggi seperti Akhmad selaras dengan sistem pendidikan UMM yang terus bertransformasi. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Prof Dr Thohir Luth MA menyoroti program Center of Excellence (CoE) UMM sebagai ekosistem penting yang membekali mahasiswa menghadapi dunia nyata. “Kehadiran program CoE ini menjadi bukti nyata bahwa UMM telah melaju dan terus berkembang secara pesat. Inovasi ini tidak hanya bertujuan membekali mahasiswa untuk memenangkan ketatnya persaingan di tingkat global, tetapi juga wujud nyata kontribusi Muhammadiyah dalam menghadirkan kebaikan bagi umat, bangsa, dan negara saat mereka terjun di tengah masyarakat,” ungkapnya. Senada dengan itu, Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi menegaskan komitmen universitas untuk mencetak generasi thrivers, yakni sosok yang tidak sekadar bertahan di bawah tekanan, tetapi berkembang menjadi pribadi utuh dan cerdas secara emosional. Ia menekankan pentingnya lulusan UMM memiliki jiwa juang kompetitif serta mampu bertransformasi menjadi new collar workers yang lincah dan melek teknologi. “Pegang teguh semboyan student today, leaders tomorrow. Jangan hanya mengandalkan kecerdasan di atas kertas. Jadilah pembelajar tangguh yang siap menciptakan lapangan kerja produktif. Anggaplah UMM sebagai ibu kandung kedua kalian, jaga terus ikatan batin ini. Dengan bekal ketahanan mental, kemampuan kolaboratif, dan landasan takwa kepada Allah SWT, melangkahlah dengan penuh percaya diri menyongsong masa depan,” pesannya. (Faqih/AS)