UMM Buktikan Keunggulan Sebagai Kampus Inovatif Dibidang Kehumasan

Kinerja luar biasa dan adaptasi teknologi dalam bidang kehumasan kembali mengantarkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih prestasi membanggakan. Kampus Putih sukses menyabet penghargaan bergengsi Innovative Public Relation and Information. Momen penyerahan penghargaan ini dilangsungkan pada Sabtu (25/4) bertempat di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., mengungkapkan rasa syukurnya. Ia menegaskan bahwa apresiasi ini memiliki makna mendalam dan menjadi pemacu semangat bagi UMM untuk terus menyajikan informasi yang cepat, akurat, dan berdampak. “Penghargaan ini memiliki makna yang sangat besar bagi UMM. Ini bukan sekadar trofi, melainkan pengakuan atas komitmen kami yang selalu berupaya relevan dengan perkembangan zaman. Ini adalah hasil kerja keras kolektif seluruh tim dalam membangun jembatan komunikasi yang efektif antara kampus dan masyarakat,” tegasnya. Menanggapi inovasi yang menjadi kunci keberhasilan UMM di bidang public relations, Maharina sapaan akrabnya menjelaskan bahwa kuncinya terletak pada keberanian melakukan konvergensi media. UMM tidak lagi sekadar mengandalkan rilis berita konvensional, melainkan aktif melakukan integrasi platform digital. Mulai dari pemanfaatan media sosial yang interaktif, produksi konten audio visual secara masif, hingga optimalisasi sistem informasi yang ramah pengguna. “Dampak dari strategi komunikasi yang kami bangun sangat terasa. Bagi civitas akademika, mereka kini lebih cepat mendapatkan akses informasi. Sementara bagi publik luas, mereka bisa melihat secara transparan berbagai capaian prestasi, riset, dan kontribusi nyata UMM bagi bangsa. Keterbukaan inilah yang membuat trust masyarakat kepada UMM terus meningkat,” tambahnya. Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa UMM telah menyiapkan sejumlah langkah strategis ke depan untuk terus mengembangkan inovasi informasi agar tidak tertinggal oleh disrupsi digital. “Ke depan, kami akan terus memperkuat ekosistem informasi dengan mengadopsi teknologi terbaru, termasuk kecerdasan buatan, untuk menganalisis tren publik. Kami ingin menciptakan inovasi informasi yang jauh lebih interaktif. Harapannya, UMM akan terus menjadi trendsetter dalam praktik public relations perguruan tinggi di tingkat nasional,” pungkasnya. Prestasi yang dianugerahkan oleh portal berita PWMU.co. ini pada akhirnya semakin mengukuhkan posisi Universitas Muhammadiyah Malang sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif dalam berkomunikasi. Melalui semangat tiada henti untuk berinovasi, Kampus Putih UMM berkomitmen untuk terus hadir memberikan pencerahan, inspirasi, dan menebar manfaat yang lebih luas bagi masyarakat melalui penyajian informasi yang profesional, relevan, dan tepercaya.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Diskusi UMM Bahas Konflik AS–Iran dan Dampaknya bagi Indonesia

Peserta diskusi diskusi kritis yang mengupas konflik Amerika Serikat–Iran. Foto: Istimewa/PWMU.CO pwmu.co –https://pwmu.co/diskusi-umm-bahas-konflik-as-iran-dan-dampaknya-bagi-indonesia/Forum Ruang Gagasan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menarik lebih dari 100 peserta dalam diskusi kritis yang mengupas konflik Amerika Serikat–Iran serta dampaknya terhadap stabilitas global dan posisi Indonesia. Digelar di RBC A. Malik Fadjar Institute, Kamis (23/4/2026), kegiatan ini menegaskan pentingnya literasi geopolitik dan sikap strategis Indonesia di tengah dinamika internasional yang semakin kompleks. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM bekerja sama dengan Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fadjar dan Program Studi Hubungan Internasional UMM. Hadir sebagai pembicara, Prof. Hikmahanto Juwana, Prof. Gonda Yumitro, dan Airlangga Pribadi. Ketiganya menyoroti bahwa konflik AS–Iran bukan sekadar persoalan bilateral, melainkan memiliki dampak luas terhadap stabilitas global, termasuk bagi Indonesia. Guru Besar Hukum Internasional, Prof. Hikmahanto Juwana, menilai posisi Indonesia berada dalam situasi yang tidak sederhana. “Sebagai negara nonblok, Indonesia berada dalam posisi dilematis. Namun, Indonesia tetap harus memiliki sikap yang jelas, terutama dalam melihat dampak kemanusiaan dari konflik yang terjadi,” ujarnya. Sementara itu, Prof. Gonda Yumitro, yang merupakan guru besar pada Prodi Hubungan Internasional UMM, mengungkapkan bahwa persepsi global masih menempatkan Indonesia sebagai negara yang konsisten dalam politik luar negeri bebas aktif. Diki Wahyudi, Sekretaris Pusat Studi Islam Berkemajuan UMM, menilai bahwa konflik Amerika–Iran tidak hanya persoalan geopolitik, tetapi juga krisis kemanusiaan yang berdampak luas terhadap kesejahteraan sosial masyarakat global. Dalam perspektif kesejahteraan sosial, eskalasi konflik Amerika–Iran harus dilihat sebagai ancaman serius terhadap keberlangsungan hidup masyarakat sipil. “Sekitar 65 persen publik global melihat Indonesia konsisten dengan prinsip bebas aktif. Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran terhadap dampak ekonomi, khususnya terkait energi dan rantai pasok,” jelasnya. Di sisi lain, Airlangga Pribadi menekankan pentingnya literasi geopolitik di kalangan generasi muda. “Diskusi seperti ini penting untuk membangun kesadaran bahwa konflik global harus dilihat tidak hanya dari aspek politik, tetapi juga kemanusiaan,” katanya. Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa penguatan literasi menjadi kunci dalam menghadapi derasnya arus informasi global. “Kampus harus menjadi pusat produksi gagasan. Tanpa literasi yang kuat, kita mudah terjebak pada informasi yang tidak utuh,” ujarnya. Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif peserta yang mengajukan berbagai pertanyaan kritis. Antusiasme tersebut menunjukkan tingginya perhatian akademisi dan mahasiswa terhadap isu-isu global yang semakin kompleks. Melalui forum ini, UMM mendorong penguatan tradisi intelektual sekaligus meningkatkan peran generasi muda dalam merespons dinamika geopolitik dunia secara kritis dan konstruktif. (*) *) Penulis : Abdus Salam
Board Game Lingkungan Antar Mahasiswa UMM Raih Penghargaan Internasional

Mahasiswa Magister Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang, Izza Amalia, berhasil meraih penghargaan Best Delegate dalam ajang International Youth Connection Batch 4 yang digelar di Singapura dan Malaysia pada 20–23 April 2026.(Ist) SINGAPURA–MALAYSIA Malangpariwara.com — Inovasi sederhana berbasis permainan papan justru mengantarkan prestasi besar di kancah internasional. Mahasiswa Magister Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang, Izza Amalia, berhasil meraih penghargaan Best Delegate dalam ajang International Youth Connection Batch 4 yang digelar di Singapura dan Malaysia pada 20–23 April 2026. Izza Amalia, berhasil meraih penghargaan Best Delegate dalam ajang International Youth Connection Batch 4.(Ist) Malang Pariwara – Capaian tersebut berangkat dari kegelisahan Izza terhadap metode edukasi lingkungan yang dinilai masih kaku dan kurang menarik bagi generasi muda. Ia kemudian menggagas sebuah board game edukatif bertajuk “Pahlawan PRIMA” sebagai alternatif pembelajaran yang lebih interaktif dan aplikatif. “Permainan ini saya rancang agar edukasi lingkungan tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendorong aksi nyata,” ujar Izza. Dalam permainan tersebut, pemain diajak masuk ke dalam cerita Pulau PRIMA—sebuah kawasan yang awalnya hijau dan seimbang, namun perlahan mengalami kerusakan akibat sampah, krisis air, dan bencana ekologis. Pemain kemudian berperan sebagai “pahlawan” yang harus mengambil keputusan strategis untuk menyelamatkan pulau. Setiap langkah dalam permainan memiliki konsekuensi langsung terhadap kondisi lingkungan di Pulau PRIMA. Hal ini membuat pemain tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga belajar mengambil keputusan berbasis solusi. Secara mekanisme, board game ini dilengkapi berbagai kartu interaktif, mulai dari kartu aksi yang mengajarkan perilaku ramah lingkungan, kartu tantangan yang mendorong praktik langsung, hingga kartu risiko yang memicu diskusi kelompok. Pendekatan ini membuat proses belajar menjadi lebih hidup dan kolaboratif. Izza menilai, metode berbasis permainan mampu meningkatkan keterlibatan peserta dibandingkan pendekatan konvensional. “Saya ingin menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan keseharian, sehingga pesannya bisa membekas dan mengubah perilaku,” tambahnya. Tak hanya meraih penghargaan individu, inovasi tersebut juga membawa tim Izza menyabet predikat Best Group dalam ajang yang sama. Prestasi ganda ini sekaligus menegaskan bahwa inovasi mahasiswa Indonesia mampu bersaing dan diakui di tingkat global, terutama dalam mendorong kesadaran lingkungan melalui pendekatan kreatif.(Djoko W)
UMM Gelar Kejuaraan Karate Nasional 2026, Siapkan Hadiah Puluhan Juta dan Golden Ticket Mahasiswa Baru

UMM Open Karate Championship 2026 akan digelar Mei, sediakan hadiah uang puluhan juta dan golden ticket menjadi mahasiswa baru Kampus Putih./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat eksistensinya di bidang olahraga dengan menggelar ajang bergengsi bertajuk UMM Open Karate Championship 2026. Turnamen yang dijadwalkan berlangsung pada 2 Mei 2026 mendatang, merupakan kejuaraan karate terbuka perdana yang diselenggarakan oleh Kampus Putih sebagai tuan rumah. Ketua Pelaksana Kejuaraan, Ir. Ary Bakhtiar, M.Si., IPM., ASEAN Eng., menyatakan bahwa persiapan telah dilakukan secara maksimal guna menyambut ribuan karateka dari berbagai penjuru tanah air. Walau secara administratif merupakan kejuaraan tingkat regional, kualitas peserta yang berkomitmen hadir telah mencapai level nasional. Tercatat, atlet dari lima provinsi besar telah mengonfirmasi kehadiran mereka, yakni dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, Bali, hingga Papua. “Kami menyiapkan yang terbaik untuk kegiatan ini. Ini adalah event open perdana di UMM, tidak hanya untuk cabang olahraga karate, tetapi juga menjadi pionir bagi cabang olahraga lainnya. Target kami jelas, yakni sukses penyelenggaraan, sukses prestasi bagi kontingen UMM sendiri, serta sukses penjaringan bibit atlet berprestasi,” ujar Ary Bakhtiar kepada Humas UMM, Senin (27/4). Kejuaraan ini akan diikuti oleh sekitar 1.200 atlet yang akan berlaga di dua kategori utama, yaitu kategori Festival dan kategori Open. Tingginya minat peserta menunjukkan bahwa UMM Open Karate Championship telah menjadi magnet baru bagi pegiat olahraga bela diri di Indonesia. Selain memperebutkan podium juara, panitia telah menyiapkan total hadiah uang pembinaan sebesar Rp 24 juta. Daya tarik lainnya yang paling dinantikan oleh para atlet pelajar adalah ketersediaan Golden Ticket untuk masuk menjadi mahasiswa UMM. Program ini secara khusus dirancang untuk menjaring atlet berbakat agar dapat menempuh pendidikan di Kampus Putih, terutama pada Program Studi Kepelatihan Olahraga maupun program studi lainnya melalui jalur prestasi. Ary menjelaskan bahwa sebelumnya kegiatan karate di UMM hanya terbatas pada lingkup internal, seperti Rektor Cup. Kejuaraan terbuka ini diharapkan menjadi pemantik bagi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lainnya di lingkungan UMM untuk berani menyelenggarakan acara serupa dengan skala yang lebih luas. “Harapannya, turnamen ini memberikan awalan yang baik bagi kawan-kawan UKM untuk membuat event sekaliber ini. Setelah karate, kami sudah menyiapkan rangkaian kegiatan susulan untuk cabang bela diri lain seperti Tapak Suci dan Taekwondo,” bebernya. Melalui ajang ini, UMM membuktikan komitmennya dalam mendukung pengembangan bakat generasi muda sekaligus menciptakan ekosistem olahraga yang kompetitif dan profesional di lingkungan universitas. *** Editor: YAN
Membangun Lulusan Bernalar Kritis di Tengah Budaya Hafalan

Membangun Lulusan Bernalar Kritis di Tengah Budaya Hafalan (Al) Permasalahan ini juga tidak lepas dari pola pembelajaran yang masih berpusat pada guru. Dalam model seperti ini, guru menjadi sumber utama informasi, sementara siswa lebih banyak mendengar, mencatat, dan menghafal. Oleh Lovilia Sukma Wardiana Putri, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tagar.co – Fenomena pembelajaran yang masih menekankan hafalan dibandingkan pemahaman merupakan salah satu permasalahan mendasar dalam dunia pendidikan. Dalam banyak praktik di kelas, siswa masih diposisikan sebagai penerima informasi yang pasif. Mereka diminta mengingat berbagai konsep, definisi, dan rumus tanpa benar-benar memahami makna di balik materi tersebut. Akibatnya, proses belajar menjadi sekadar aktivitas mengisi ingatan jangka pendek, bukan membangun pengetahuan yang dipahami secara mendalam. Kondisi ini berpengaruh langsung terhadap kemampuan berpikir siswa. Ketika pembelajaran hanya berfokus pada hafalan, siswa tidak terbiasa menganalisis, menilai, atau bahkan mempertanyakan informasi yang mereka terima. Mereka cenderung menerima informasi secara mentah tanpa proses berpikir lebih dalam. Hal ini menjadi masalah, terutama di era modern yang menuntut kemampuan berpikir kritis dan kreatif dalam menghadapi berbagai persoalan. Baca Juga: Makna Kerja Sama dan Ketangguhan Diri Selain itu, kebiasaan menghafal tanpa memahami membuat siswa kesulitan saat harus menerapkan pengetahuan dalam situasi yang berbeda. Misalnya, siswa mungkin mampu mengerjakan soal yang serupa dengan contoh di buku, tetapi mengalami kebingungan ketika dihadapkan pada permasalahan yang sedikit berbeda atau lebih kontekstual. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran belum berhasil membekali siswa dengan keterampilan berpikir yang fleksibel dan adaptif. Permasalahan ini juga tidak lepas dari pola pembelajaran yang masih berpusat pada guru. Dalam model seperti ini, guru menjadi sumber utama informasi, sementara siswa lebih banyak mendengar, mencatat, dan menghafal. Interaksi di kelas pun cenderung satu arah, sehingga kesempatan bagi siswa untuk bertanya, berdiskusi, atau menyampaikan pendapat menjadi terbatas. Dampaknya, potensi berpikir kritis siswa tidak berkembang secara optimal. Di sisi lain, tuntutan zaman justru bergerak ke arah yang berbeda. Dunia kerja dan kehidupan sosial saat ini membutuhkan individu yang mampu berpikir analitis, kreatif, serta terampil memecahkan masalah. Tidak cukup hanya “tahu”, tetapi juga harus mampu mengolah pengetahuan tersebut dalam berbagai situasi. Jika pembelajaran tidak segera berubah, akan muncul kesenjangan antara hasil pendidikan dan kebutuhan nyata di masyarakat. Baca Juga: Media Sosial: Teman atau Musuh Remaja? Oleh karena itu, pembelajaran perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih berpusat pada siswa (student-centered learning). Guru perlu berperan sebagai fasilitator yang mendorong siswa untuk aktif berpikir dan terlibat dalam proses belajar. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan ruang diskusi di kelas. Melalui diskusi, siswa belajar menyampaikan pendapat, menghargai pandangan orang lain, serta membangun argumen secara logis. Selain itu, penggunaan analisis kasus dapat menjadi alternatif yang efektif. Dengan menghadirkan masalah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, siswa didorong untuk mengaitkan materi pelajaran dengan realitas. Proses ini tidak hanya meningkatkan pemahaman, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis dan analitis. Siswa tidak lagi sekadar menghafal konsep, melainkan belajar bagaimana konsep tersebut digunakan dalam situasi nyata. Pendekatan berbasis pemecahan masalah juga penting untuk diterapkan dalam pembelajaran. Dalam metode ini, siswa dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan melalui proses berpikir yang sistematis. Mereka belajar mengidentifikasi masalah, mencari informasi yang relevan, menganalisis berbagai kemungkinan solusi, serta menentukan keputusan yang paling tepat. Kegiatan seperti ini secara langsung melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi yang sangat dibutuhkan di masa depan. Baca Juga: Adaptasi Mental Siswa Pascaliburan Dengan demikian, pergeseran dari pembelajaran berbasis hafalan menuju pembelajaran berbasis pemahaman dan keterampilan berpikir kritis merupakan suatu keharusan. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada hasil akhir berupa nilai, tetapi juga pada proses berpikir yang dialami siswa. Jika perubahan ini dilakukan secara konsisten, pendidikan akan mampu menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kritis, kreatif, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan. (#) Penyunting Ichwan Arif.
Dua Toga, Satu Perjalanan: Kisah Pasangan Suami Istri Raih Gelar Doktor Bersama di Kampus Putih

Dr M Wahid Nur Tualeka dan Dr Imtihanatul Ma’isyatuts Tsalitsah, pasangan suami istri yang sama-sama meraih gelar doktor pada Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang. (Istimewa/Klikmu.co) Akhmad Isa Nasrullah SPsi klikmu – Ada yang berbeda di antara ribuan wajah bahagia dalam Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang yang digelar di Dome UMM, 21 April 2026. Di tengah riuh tepuk tangan, toga-toga yang berayun, dan senyum keluarga yang merekah, terselip sebuah kisah yang tidak banyak diketahui—kisah tentang dua insan yang menempuh perjalanan akademik panjang, bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai satu kesatuan: suami dan istri. Mereka adalah Dr M Wahid Nur Tualeka SThI MPdI dan Dr Imtihanatul Ma’isyatuts Tsalitsah SUd MPd—dua nama yang hari itu resmi disematkan gelar doktor dalam momen yang sama. Bukan sekadar kelulusan, tetapi pertemuan dua jalan panjang yang ditempuh dalam diam, doa, dan kesabaran yang tak selalu terlihat oleh publik. Wisuda Kampus Putih yang dipimpin Rektor Prof Dr Nazaruddin Malik MSi bersama jajaran pimpinan universitas menjadi saksi bagaimana capaian akademik dapat terjalin seirama dengan perjalanan hidup. Turut hadir Wakil Rektor I Prof Akhsanul In’am PhD, Wakil Rektor II Dr Ahmad Juanda AkM MCA, Wakil Rektor III Dr Nur Subeki ST MT, Wakil Rektor IV Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD, serta Wakil Rektor V Prof Dr Tri Sulistyaningsih MSi, beserta direktur pascasarjana, para dekan, kepala biro, dan dosen yang turut menyaksikan momentum istimewa tersebut. Namun yang menarik bukan hanya siapa yang hadir, melainkan apa yang mereka capai. Dr Wahid Nur Tualeka mengangkat tema yang relevan dengan dinamika keberagamaan kontemporer melalui disertasinya berjudul “Moderasi Beragama Perspektif Dakwah Elit Muhammadiyah di Kota Surabaya.” Penelitian ini kemudian melahirkan buku “Membangun Moderasi Beragama: Peran Dakwah Elit di Surabaya,” sebagai refleksi tentang bagaimana narasi moderasi dibangun melalui gerakan dakwah yang strategis dan berpengaruh. Sementara itu, Dr Imtihanatul Ma’isyatuts Tsalitsah menghadirkan pendekatan yang tak kalah menarik melalui disertasinya berjudul “Pengembangan Bahan Ajar Integratif Multidisipliner pada Mata Kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dengan Ilmu Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya.” Karyanya melahirkan dua buku sekaligus, “Integrasi Islam dan Psikologi” serta buku ajar “Islam dan Psikologi.” Sebuah upaya menyatukan dua dunia yang selama ini kerap berjalan beriringan namun belum sepenuhnya menyatu. Dua disertasi, dua bidang kajian, tetapi satu benang merah: integrasi. Integrasi antara ilmu dan nilai, antara dakwah dan realitas sosial, antara psikologi dan spiritualitas. Dan mungkin, tanpa disadari, juga integrasi antara dua perjalanan hidup yang saling menguatkan. Tidak banyak yang tahu bagaimana proses itu berlangsung. Tentang malam-malam panjang yang dipenuhi diskusi, tentang lelah yang mungkin datang bersamaan, atau tentang doa-doa yang saling dipanjatkan dalam diam. Namun justru di situlah letak kekuatan cerita ini—ia tidak selalu tampak, tetapi terasa. Kisah ini bukan hanya tentang pencapaian akademik, tetapi tentang makna kebersamaan dalam perjuangan. Bahwa ilmu tidak selalu ditempuh sendirian, dan keberhasilan tidak selalu berdiri di atas satu nama saja. Di Dome UMM hari itu, dua gelar doktor disematkan. Namun lebih dari itu, ada sebuah pesan yang tertinggal: bahwa perjalanan ilmu, ketika dijalani bersama iman dan kesabaran, dapat melahirkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar gelar—ia menjadi cerita, inspirasi, dan jejak yang akan dikenang. (*)
UMM Gelar Diskusi Konflik AS–Iran, Soroti Dampak Global hingga Posisi Indonesia

Sesi foto bersama usai pelaksanaan dialog. (foto: for harianjatim) Reporter: harianjatim Malang-harianjatim.com. Lebih dari 100 peserta mengikuti forum “Ruang Gagasan” yang mengulas dinamika konflik Amerika Serikat–Iran serta implikasinya terhadap stabilitas global dan posisi Indonesia. Diskusi tersebut berlangsung di RBC A. Malik Fadjar Institute, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (23/4/2026). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM bekerja sama dengan Rumah Baca Cerdas Abdul Malik Fadjar dan Program Studi Hubungan Internasional UMM. Sejumlah akademisi hadir sebagai pembicara, antara lain Guru Besar Hukum Internasional Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hubungan Internasional UMM Gonda Yumitro, serta pengamat politik Airlangga Pribadi. Mereka menilai konflik AS–Iran tidak semata persoalan bilateral, melainkan memiliki dampak luas terhadap tatanan global. Hikmahanto mengatakan, posisi Indonesia dalam merespons konflik tersebut tidak sederhana. Sebagai negara dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif, Indonesia dinilai berada dalam situasi dilematis. “Indonesia tetap harus memiliki sikap yang jelas, terutama dalam melihat dampak kemanusiaan dari konflik yang terjadi,” ujarnya. Sementara itu, Gonda Yumitro menilai persepsi global masih menempatkan Indonesia sebagai negara yang konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Namun, konsistensi tersebut juga diuji oleh dinamika geopolitik dan kepentingan ekonomi global. Sekretaris PSIB UMM, Diki Wahyudi, menambahkan bahwa konflik Amerika–Iran tidak hanya berdampak secara geopolitik, tetapi juga berimplikasi pada krisis kemanusiaan dan kesejahteraan sosial masyarakat global. “Sekitar 65 persen publik global melihat Indonesia konsisten dengan prinsip bebas aktif. Namun, terdapat kekhawatiran terhadap dampak ekonomi, terutama pada sektor energi dan rantai pasok,” kata Diki. Airlangga Pribadi menekankan pentingnya peningkatan literasi geopolitik, khususnya di kalangan generasi muda. Menurut dia, pemahaman yang komprehensif diperlukan agar konflik global tidak dilihat semata dari aspek politik, melainkan juga dari sisi kemanusiaan. Rektor UMM Nazaruddin Malik menyatakan kampus memiliki peran strategis dalam membangun literasi kritis di tengah derasnya arus informasi global. “Kampus harus menjadi pusat produksi gagasan. Tanpa literasi yang kuat, masyarakat mudah terjebak pada informasi yang tidak utuh,” ujarnya. Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif peserta yang mengajukan berbagai pertanyaan. Antusiasme tersebut mencerminkan tingginya perhatian kalangan akademisi dan mahasiswa terhadap isu-isu global yang kian kompleks. Melalui forum ini, UMM mendorong penguatan tradisi intelektual sekaligus meningkatkan peran generasi muda dalam merespons dinamika geopolitik secara kritis dan konstruktif.
Inisiasi Board Game Edukasi Lingkungan, Mahasiswa UMM Sabet Gelar Best Delegate di Kancah Internasional

Mahasiswa Magister Sosiologi UMM, Izza Amalia, sukses menyabet penghargaan Best Delegate dalam ajang International Youth Connection Batch 4 di Singapura dan Malaysia, pada 20–23 April 2026 (Foto: humas UMM/PWMU.CO) pwmu.co –Siapa sangka, sebuah permainan papan (board game) bisa membawa harum nama bangsa sekaligus menanamkan kepedulian ekologis bagi generasi muda. Berkat inovasi board game edukasi lingkungan bertajuk “Pahlawan PRIMA”, Izza Amalia, sukses menyabet penghargaan Best Delegate dalam ajang International Youth Connection Batch 4. Mahasiswa Magister Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini meraihnya dalam ajang di Singapura dan Malaysia, pada 20–23 April 2026. Capaian membanggakan tersebut berawal dari keresahan Izza melihat metode edukasi lingkungan yang kerap kali terasa kaku. Melalui inisiasi pribadinya, ia merancang Pahlawan PRIMA sebagai terobosan metode pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan berdampak nyata. “Board game Pahlawan PRIMA ini saya inisiasi sebagai media edukasi yang tidak hanya menyenangkan. Tetapi juga mendorong pemain untuk benar-benar memahami dan melakukan aksi nyata dalam menjaga lingkungan,” ujar Izza. Permainan ini membawa pemain masuk ke dalam narasi Pulau PRIMA. Sebuah kawasan yang awalnya asri, seimbang, dan penuh kehidupan dengan air jernih serta pepohonan subur. Namun, kondisi itu perlahan rusak akibat tumpukan sampah, krisis air, dan bencana alam yang dipicu oleh minimnya kesadaran manusia. Di sinilah para pemain ditantang untuk mengambil peran sebagai “pahlawan” penyelamat pulau. Setiap keputusan yang diambil dalam permainan akan langsung berdampak pada nasib Pulau PRIMA, sehingga merangsang nalar kritis sekaligus menuntut tindakan yang solutif. Secara mekanis, “Pahlawan PRIMA” dirancang dengan berbagai kartu interaktif yang saling melengkapi. Terdapat kartu aksi untuk memperagakan perilaku positif, kartu tantangan yang mendorong pemain melakukan aksi nyata secara langsung, hingga kartu risiko yang memicu pemain untuk berdiskusi memecahkan masalah dalam kelompok. Kombinasi ini membuat proses pembelajaran menjadi lebih hidup, kolaboratif, dan aplikatif. Pendekatan ini menjadikan proses belajar tidak sekadar berhenti pada tataran teoritis, melainkan memberikan pengalaman langsung yang membekas. Izza menilai, metode pembelajaran berbasis permainan mampu meningkatkan keterlibatan sekaligus kesadaran peserta secara jauh lebih efektif. “Saya melihat bahwa edukasi lingkungan sering kali terasa membosankan. Karena itu, saya ingin menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian, sehingga pesan yang disampaikan bisa lebih membekas dan mendorong perubahan perilaku,” tambahnya. Menariknya, di akhir kompetisi, inovasi ini tidak hanya mengantarkan Izza meraih penghargaan individu. Tim yang digawanginya juga berhasil dinobatkan sebagai Best Group. Prestasi ganda ini kian menegaskan bahwa inovasi yang diusung mahasiswa UMM memiliki nilai kolaboratif tinggi dan dampak kuat yang diakui di tingkat internasional. Editor : Muhkholidas
Muhammadiyah Miliki 23 Fakultas Kedokteran Terbanyak di Dunia

Ilustrasi logo Muhammadiyah. Bank Syariah Matahari. BPR Syariah Matahari. Bank Muhammadiyah.(umko.ac.id) readers – Muhammadiyah mencatatkan pencapaian luar biasa dalam sektor pendidikan dan kesehatan global. Organisasi ini resmi menjadi lembaga Islam dengan kepemilikan fakultas kedokteran terbanyak di dunia. Dikutip dari Cahaya, data hingga April 2026 menunjukkan bahwa organisasi yang berdiri sejak 1912 ini telah mengelola sedikitnya 23 Fakultas Kedokteran di seluruh Indonesia. Keberhasilan ini didorong oleh jaringan luas yang mencakup 163 Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) serta 129 Rumah Sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA) yang saling terintegrasi. Ketua PP Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, memberikan penegasan mengenai posisi organisasi tersebut di kancah internasional. “Jumlah tersebut menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan dengan fakultas kedokteran terbanyak di dunia,” kata Muhadjir Effendy. Eksistensi puluhan fakultas kedokteran ini berakar pada konsep tauhid fungsional. Prinsip ini memandang iman sebagai energi untuk melakukan aksi nyata dalam aspek sosial dan kemanusiaan. Melalui pendekatan ini, institusi kesehatan tidak hanya didirikan untuk memenuhi kuantitas tenaga medis, tetapi sebagai bentuk dakwah sosial yang menghadirkan keadilan layanan kesehatan. Sistem pendidikan di lingkungan ini juga menggabungkan teori akademis dengan praktik lapangan secara langsung di jaringan rumah sakit milik organisasi. Daftar Sebaran Fakultas Kedokteran Muhammadiyah Jaringan fakultas kedokteran ini tersebar luas dari wilayah barat hingga timur Indonesia, mencakup berbagai universitas besar di berbagai provinsi. Daftar Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah yang Memiliki Fakultas Kedokteran No Nama Perguruan Tinggi Lokasi/Singkatan Universitas Ahmad Dahlan UAD Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta UNISA Universitas Muhammadiyah Gorontalo UM Gorontalo Universitas Muhammadiyah Jakarta UMJ Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur UMKT Universitas Muhammadiyah Makassar UNISMUH Universitas Muhammadiyah Purwokerto UMP Universitas Muhammadiyah Riau UMRI Universitas Muhammadiyah Semarang UNIMUS Universitas Muhammadiyah Sidoarjo UMSIDA Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara UMSU Universitas Muhammadiyah Surabaya UMSURA Universitas Muhammadiyah Malang UMM Universitas Muhammadiyah Mataram UMMAT Universitas Muhammadiyah Metro UM Metro Selain program kedokteran umum, beberapa kampus juga telah mengembangkan program spesialis serta Fakultas Kedokteran Gigi dengan standar akreditasi unggul secara nasional. Ekspansi Strategis ke Wilayah Papua Muhammadiyah kini mulai mengarahkan fokus pengembangan pendidikan kesehatan ke wilayah Indonesia Timur guna memeratakan akses layanan medis bagi masyarakat lokal. Rencana strategis terbaru mencakup pendirian Fakultas Kedokteran di Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong yang terletak di Provinsi Papua Barat Daya. Jika proyek ini terealisasi, institusi tersebut akan menjadi perguruan tinggi swasta pertama di Papua yang memiliki fasilitas pendidikan dokter secara mandiri. Langkah ekspansi ini dipandang sebagai kontribusi nyata organisasi dalam menjawab tantangan kekurangan tenaga medis profesional di daerah-daerah terpencil dan tertinggal.
Muhammadiyah Kelola 23 Fakultas Kedokteran Terbanyak di Dunia

Ilustrasi logo Muhammadiyah. Bank Syariah Matahari. BPR Syariah Matahari. Bank Muhammadiyah.(umko.ac.id) infonasional – Organisasi Islam Muhammadiyah mencatatkan pencapaian signifikan dengan mengelola 23 Fakultas Kedokteran di seluruh Indonesia hingga Senin, 27 April 2026. Data tersebut menempatkan lembaga yang berdiri sejak 1912 ini sebagai organisasi keagamaan dengan jumlah fakultas kedokteran terbanyak di tingkat global. Ekspansi institusi pendidikan medis ini didukung oleh jaringan luas yang mencakup 163 Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) serta 129 Rumah Sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA). Berdasarkan laporan dari Cahaya, integrasi antara sektor pendidikan dan layanan kesehatan menjadi pilar utama strategi organisasi. Penyebaran fakultas kedokteran ini menjangkau berbagai wilayah dari barat hingga timur Indonesia, termasuk rencana strategis pembangunan di Sorong, Papua Barat Daya. Fokus pengembangan ini bertujuan untuk memeratakan akses pendidikan tinggi medis dan penyediaan tenaga dokter di daerah terpencil. Daftar Perguruan Tinggi Muhammadiyah dengan Fakultas Kedokteran No Nama Perguruan Tinggi 1 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) 2 Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta 3 Universitas Muhammadiyah (UM) Gorontalo 4 Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) 5 Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) 6 Universitas Muhammadiyah (UNISMUH) Makassar 7 Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) 8 Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) 9 Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) 10 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) 11 Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU) 12 Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) 13 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 14 Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) 15 Universitas Muhammadiyah (UM) Metro 16 Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR) 17 Universitas Muhammadiyah (UM) Palembang 18 Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA) 19 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) 20 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) 21 Universitas Muhammadiyah (UM) Kendari 22 Universitas Muhammadiyah (UM) Palu 23 Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) Ketua PP Muhammadiyah menekankan posisi organisasi dalam skala internasional terkait kepemilikan jumlah fakultas medis tersebut. “Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan dengan fakultas kedokteran terbanyak di dunia” tegas Muhadjir Effendy, Ketua PP Muhammadiyah. Sistem pendidikan ini menerapkan konsep tauhid fungsional yang menggabungkan nilai keimanan dengan aksi nyata di sektor sosial. Selain program dokter umum, organisasi ini juga mengelola Fakultas Kedokteran Gigi dan program pendidikan dokter spesialis dengan standar akreditasi nasional.