Overparenting Jadi Tren Ortu Zaman Modern: Pakar Usul Buku Saku Parenting dan Digital Detox

Pakar Pendidikan UMM, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd (Anggara Sudiongko/JatimTIMES) JATIMTIMES – Gelombang modernisasi yang membawa kemudahan ekonomi, teknologi digital, dan pola hidup serba praktis ternyata memunculkan problem baru dalam dunia pengasuhan. Banyak orang tua masa kini dinilai terjebak dalam pola overparenting, yakni kasih sayang berlebihan yang justru membuat anak kurang tangguh, miskin inisiatif, dan lemah mengambil keputusan. Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd, menilai fenomena tersebut semakin nyata di tengah keluarga urban maupun kelas menengah yang ingin memberi kenyamanan total kepada anak. Baca Juga : Long Weekend Bawa Berkah, Hunian Hotel Malang Tembus Angka Tinggi Menurutnya, niat baik orang tua memberi perlindungan penuh sering kali berubah menjadi pola asuh yang terlalu mengontrol setiap langkah anak. Akibatnya, anak tumbuh patuh tetapi kurang memiliki keberanian menentukan pilihan. “Kadang anak sedikit-sedikit bertanya ke ibunya, ‘Mi, aku harus gimana?’ Semua harus konfirmasi. Bagus karena hormat kepada orang tua, tetapi sisi inisiatif dan pengambilan keputusannya menjadi kurang terasah,” ujar Dr. Arina, Minggu, (3/5/2026). Ia mengaku melihat langsung fenomena itu, termasuk dari pengamatan di lingkungan sekolah dasar. Bahkan, menurutnya, sebagian orang tua saat ini cenderung lebih memanjakan anak dibanding generasi sebelumnya. Padahal, karakter tangguh justru lahir dari pengalaman kecil sehari-hari, seperti menyelesaikan masalah sendiri, bermain di luar rumah, hingga menghadapi situasi yang tidak selalu nyaman. Dr. Arina menyoroti kecenderungan orang tua modern yang terlalu khawatir terhadap aktivitas fisik anak. Kehujanan dilarang, bermain tanah dianggap kotor, dan beraktivitas luar ruang dibatasi karena takut sakit. Padahal, menurutnya, anak membutuhkan stimulasi alami untuk membangun daya tahan tubuh dan kecerdasan motorik. “Hujan itu tidak selalu buruk. Anak-anak kalau diajak kehujanan justru senang. Dulu kita hujan-hujanan happy sekali. Sekarang sedikit kena hujan langsung dianggap bahaya,” katanya. Ia menjelaskan, anak-anak generasi lama banyak berinteraksi dengan lingkungan alam. Bermain tanah, bergerak aktif, berlari, berkeringat, hingga terkena cuaca alami justru menjadi bagian dari proses tumbuh kembang yang sehat. “Tanah itu bisa menjadi terapi sensorik untuk menstimulasi psikomotorik anak. Kalau ada anak pendiam, kurang aktif, coba banyak diajak gerak. Itu bisa membantu nafsu makan, perkembangan motorik, bahkan mencegah stunting,” jelasnya. Menurut Dr. Arina, terlalu sterilnya lingkungan anak masa kini membuat paparan mikroba baik berkurang. Imunitas menjadi tidak terlatih, sehingga tubuh lebih rentan terhadap perubahan cuaca maupun lingkungan. Karena itu, ia mendorong orang tua kembali memberi ruang eksplorasi sehat. Anak yang terlihat kurang aktif, sulit makan, atau kurang berkembang secara fisik sebaiknya lebih sering diajak beraktivitas luar ruang dan terkena sinar matahari pagi. “Outdoor activity itu penting. Kena sinar matahari, bergerak, bermain, itu booster alami bagi tumbuh kembang anak,” tegasnya. Selain overparenting, Dr. Arina menilai tantangan terbesar keluarga modern saat ini adalah screen dependency atau ketergantungan layar. Teknologi digital memang memiliki sisi positif, namun tanpa kontrol justru dapat melemahkan kualitas generasi muda. Ia menegaskan, konten edukatif seperti video pembelajaran bahasa Inggris, bahasa Jepang, sains, atau kreativitas digital tetap bermanfaat jika digunakan proporsional. “Kalau anak menonton materi belajar, kartun berbahasa Inggris, itu malah bagus. Teknologi bisa jadi alat akselerasi belajar,” ujarnya. Namun persoalan muncul ketika anak terlalu lama bermain gim digital seperti Roblox atau larut dalam tontonan video tanpa batas waktu. Menurutnya, beberapa gim memang melatih ketelitian, logika, dan respons cepat. Tetapi jika durasinya berlebihan, anak menjadi kehilangan kontrol waktu, tidak responsif terhadap panggilan orang tua, dan minim interaksi sosial. “Dipanggil orang tua saja tidak dengar karena fokus bermain. Ini tanda bahwa manajemen penggunaan teknologi di rumah belum berjalan,” katanya. Baca Juga : Rakerda Golkar Situbondo: Ali Mufthi Tekankan Sinergi Partai dan Pemerintah Daerah Dr. Arina juga mengingatkan paparan gawai berlebihan pada usia dini dapat memicu keterlambatan bicara, malas berkomunikasi, kurang sosialisasi, dan tumpulnya kreativitas. “Anak hanya menerima stimulus. Dia menikmati tontonan, menerima instruksi, tetapi tidak tumbuh inisiatif. Ini berbahaya untuk masa depan,” ujarnya. Ia menyebut kondisi tersebut dapat berkembang menjadi anak yang sangat cerdas secara individual, tetapi tertutup secara sosial. Dalam beberapa kasus, anak menjadi introvert ekstrem, merasa cukup dengan dunianya sendiri, dan enggan berinteraksi dengan lingkungan. “Kadang ada anak yang cepat paham, berpikir kritis, bahkan genius. Tetapi sisi sosialnya lemah. Dia merasa sudah tahu, jadi tidak mau mendengar guru atau orang lain,” katanya. Fenomena itu, lanjutnya, harus dijawab dengan kebijakan yang lebih progresif. Ia mendorong pemerintah tidak hanya membenahi kurikulum sekolah formal, tetapi juga menyiapkan kurikulum parenting nasional bagi keluarga Indonesia. Dr. Arina melanjutkan, bahwa rumah adalah ekosistem pendidikan pertama. Sekolah yang bagus tidak cukup jika atmosfer rumah tidak mendukung. “Ibu adalah madrasah pendidikan di rumah. Kalau sekolah sudah bagus, maka di rumah tinggal distimulus. Harus selaras,” tegasnya. Salah satu langkah konkret yang ia usulkan ialah menghadirkan buku saku parenting untuk orang tua. Isinya berupa panduan sederhana namun aplikatif tentang pola asuh modern, batas penggunaan gawai, komunikasi keluarga, nutrisi anak, stimulasi tumbuh kembang, hingga penguatan karakter. “Walaupun sekarang ada YouTube dan teknologi, buku saku untuk orang tua itu keren. Tidak hanya untuk ibu, tetapi juga untuk ayah,” ujarnya. Ia menilai peran ayah selama ini belum maksimal dalam sistem pengasuhan. Padahal keterlibatan ayah, terutama terhadap anak perempuan, berdampak besar pada pembentukan rasa percaya diri. “Anak perempuan yang dekat dengan ayah biasanya punya self confidence tinggi. Dia tidak mudah insecure dan keberaniannya berbeda,” katanya. Dr. Arina juga mengusulkan penerapan digital detox keluarga, yakni hari tanpa gawai di rumah, khususnya setiap akhir pekan. “Kalau bisa hari Minggu full anak tidak menggunakan handphone. Orang tua juga harus memberi contoh. Dari situ bonding keluarga tumbuh dan nasihat akan lebih mudah diterima,” ucapnya. Menurutnya, keluarga Indonesia dulu memang dikenal lebih sederhana, bahkan kadang otoriter. Namun ada nilai positif yang tidak boleh hilang, yakni kedisiplinan, kebersamaan, penghormatan pada orang tua, serta rutinitas spiritual dan sosial yang kuat. Kini, tantangannya adalah meramu nilai lama dengan pendekatan baru yang lebih sehat, demokratis, dan adaptif terhadap zaman. “Ini investasi jangka panjang. Kalau rumah tertata, komunikasi tertata, kelembutan tertata, maka kepribadian anak juga akan tertata,” pungkasnya. Ia menegaskan, generasi emas Indonesia tidak cukup dibangun lewat gedung sekolah dan kurikulum negara. Fondasi utamanya tetap berada di ruang keluarga, ketika orang tua mampu menjadi navigator, bukan sekadar penyedia fasilitas.

Hardiknas 2026, Rektor UMM Tegaskan Posisi Kampus sebagai Pusat Layanan Unggul

Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Nazaruddin Malik MSi memberikan amanat pada Hardiknas 2026. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Transformasi budaya serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang terjadi bersamaan dengan menipisnya daya dukung sumber daya alam (SDA) menjadi tantangan modern yang harus dipecahkan oleh sektor pendidikan. Hal tersebut ditegaskan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Nazaruddin Malik MSi dalam amanat upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Sabtu (2/5/2026) yang diikuti ribuan dosen dan karyawan Kampus Putih. Pernyataan ini menjadi penekanan utama yang membuka refleksi arah pendidikan di tengah perubahan global yang semakin kompleks. Ia menempatkan pendidikan sebagai aktor kunci yang tidak hanya merespons, tetapi juga menyelesaikan persoalan zaman. Nazar, sapaan akrabnya, menekankan bahwa tantangan global saat ini tidak bisa lagi dihadapi dengan pendekatan pendidikan yang konvensional. Ia menyoroti keterbatasan SDA di tengah meningkatnya kebutuhan dasar manusia sebagai ancaman serius bagi kualitas kehidupan. Kondisi ini menuntut pendidikan untuk bertransformasi menjadi lebih adaptif, inovatif, dan berorientasi pada solusi. “Pendidikan tinggi harus menjadi solution center excellence. UMM harus hadir sebagai pusat layanan unggul, mitra solusi industri, serta inkubator inovasi dan talenta. Peran tersebut hanya dapat dicapai melalui perbaikan kualitas pendidikan secara menyeluruh, mulai dari proses pembelajaran, tata kelola institusi, hingga relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menjadikan pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai fondasi pendidikan nasional yang harus diterjemahkan secara kontekstual dalam menghadapi tantangan modern. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada simbol historis semata, melainkan menjelma menjadi kekuatan transformasi sosial. Untuk mewujudkan hal tersebut, UMM menetapkan tiga pilar strategis pengembangan universitas. Ketiga pilar tersebut meliputi Service Excellence Hub yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas layanan pendidikan, Industry Solution Partner yang berperan aktif dalam menjawab kebutuhan riil dunia industri, serta Innovation and Talent Incubator yang bertujuan mendorong lahirnya inovasi dan pengembangan talenta unggul. “Ketiga pilar ini adalah jaminan mutu universitas yang sesungguhnya. Ini bukan sekadar konsep, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata. Implementasi pilar tersebut menjadi indikator keberhasilan perguruan tinggi dalam menjawab tantangan zaman. Universitas tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat,” tegasnya. Sebagai bagian dari rangkaian upacara peringatan Hardiknas, UMM turut memberikan penghargaan kepada sivitas akademika berprestasi. Penghargaan diberikan kepada dosen dengan capaian Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak sekaligus peraih rekor MURI 2026. Selain itu, apresiasi juga dianugerahkan kepada dosen dengan masa pengabdian 25 tahun, humas terbaik tingkat fakultas dan program studi, serta mahasiswa berprestasi tingkat universitas. Momentum Hardiknas di UMM tahun ini mempertegas bahwa pendidikan tidak bisa lagi berjalan dalam pola status quo. Pidato rektor menjadi penanda kuat bahwa perguruan tinggi dituntut bergerak lebih kritis, responsif, dan solutif. Di tengah dinamika global, pendidikan harus hadir sebagai jawaban nyata, bukan sekadar wacana. (Faqih/AS)

Rektor UMM: Hardiknas harus jadi `solution center excellence`

By :  Sigit Kurniawan Update: 2026-05-02 16:10 GMT Sumber foto: AH Sugiha Transformasi budaya dan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang terjadi bersamaan dengan menipisnya daya dukung sumber daya alam (SDA) merupakan tantangan modern yang harus dipecahkan oleh sektor pendidikan. “Tantangan global saat ini tidak bisa lagi dihadapi dengan pendekatan pendidikan yang konvensional. Ia menyoroti keterbatasan SDA di tengah meningkatnya kebutuhan dasar manusia sebagai ancaman serius bagi kualitas kehidupan. Kondisi ini menuntut pendidikan untuk bertransformasi menjadi lebih adaptif, inovatif, dan berorientasi pada solusi. Pendidikan tinggi harus menjadi solution center excellence. UMM harus hadir sebagai pusat layanan unggul, mitra solusi industri serta inkubator inovasi dan talenta. Peran tersebut hanya dapat dicapai melalui perbaikan kualitas pendidikan secara menyeluruh, mulai dari proses pembelajaran, tata kelola institusi, hingga relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat,” kata Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik saat memberikan sambutan pada upacara Nasional (Hardiknas), Sabtu (2/5/2026) di Lapangan Helipad UMM yang diikuti ribuan dosen dan karyawan kampus putih. Lebih lanjut, dikatakan Nazaruddin, pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai fondasi penting pendidikan nasional yang harus diterjemahkan secara kontekstual dalam menghadapi tantangan modern. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada simbol historis semata, melainkan menjelma menjadi kekuatan transformasi sosial. Untuk mewujudkan hal tersebut, UMM menetapkan tiga pilar strategis pengembangan universitas. Ketiga pilar tersebut meliputi Service Excellence Hub yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas layanan pendidikan, Industry Solution Partner yang berperan aktif dalam menjawab kebutuhan riil dunia industri, serta Innovation and Talent Incubator yang bertujuan mendorong lahirnya inovasi dan pengembangan talenta-talenta unggul. “Ketiga pilar ini adalah jaminan mutu universitas yang sesungguhnya. Ini bukan sekadar konsep, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata. Implementasi pilar tersebut menjadi indikator keberhasilan perguruan tinggi dalam menjawab tantangan zaman. Universitas tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat,” ujarnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, AH Sugiharto, Sabtu (2/5). Sebagai bagian dari rangkaian upacara peringatan Hardiknas, UMM turut memberikan penghargaan kepada sivitas akademika yang berprestasi. Penghargaan diberikan kepada dosen dengan capaian Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak sekaligus peraih rekor MURI tahun 2026. Selain itu, apresiasi juga dianugerahkan kepada dosen dengan masa pengabdian 25 tahun, humas terbaik tingkat fakultas dan program studi, serta mahasiswa berprestasi tingkat universitas. “Momentum Hardiknas di UMM tahun ini mempertegas bahwa pendidikan tidak bisa lagi berjalan di jalur yang sama (status quo). Pidato Rektor menjadi penanda kuat bahwa perguruan tinggi dituntut untuk bergerak lebih kritis, responsif, dan solutif. Di tengah dinamika global, pendidikan harus hadir sebagai jawaban yang nyata, bukan sekadar wacana,” tandas Nazaruddin.

Unggul di Sektor Industri dan Riset Berdampak, UMM Sabet Top 15 Nasional THE Asia University Rankings 2026

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan yang mempertegas kualitasnya di kancah pendidikan internasional. Berdasarkan rilis resmi lembaga pemeringkat bergengsi Times Higher Education (THE) Asia University Rankings 2026 pada 23 April 2026 lalu, Kampus Putih sukses mengamankan posisi yang sangat kompetitif. Keberhasilan UMM dalam meraih posisi elit pada THE AUR 2026 ini menandai raihan International Competitiveness sebagai milestone UMM tahun 2026-2030 Kepala Unit Pelaksana Teknis Akreditasi dan Pemeringkatan UMM, Dr. Rina Wahyu Setyaningrum, M.Ed., menegaskan bahwa pencapaian ini murni merupakan wujud pengakuan pemeringkatan internasional. “Tahun lalu kita di peringkat 1501+, kali ini UMM berhasil menempati kelompok peringkat 801+ di kawasan Asia. Prestasi di tingkat nasional pun tak kalah gemilang, di mana UMM menduduki peringkat ke-15 se-Indonesia secara keseluruhan (PTN dan PTS), serta kukuh di peringkat ke-7 khusus untuk kategori Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Di lingkup Perguruan Tinggi Muhammadiyah, UMM meraih posisi ketiga. Hebatnya lagi, di antara PTN, UMM menjadi satu-satunya PTS di Jawa Timur dan Malang Raya yang sukses menembus pemeringkatan THE pada tahun ini,” jelasnya di sela peringatan Hardiknas pada tim Humas UMM. Keberhasilan ini tidak lepas dari evaluasi ketat THE melalui 5 indikator utama, yakni Teaching, Research Environment, Research Quality, Industry, dan International Outlook. Keunggulan paling mencolok dari UMM terletak pada sektor Industry Income. Rina sapaan akrabnya menjelaskan bahwa tingginya poin di sektor ini didukung oleh atmosfer kampus yang baik berkat keberadaan unit bisnis, seperti rumah sakit. Fasilitas tersebut dinilai tidak sekadar mendatangkan pendapatan bagi institusi, tetapi juga berperan penting sebagai laboratorium akademis bagi sivitas kampus. Selain itu, melalui pendekatan terapan (applied) yang adaptif terhadap kebutuhan pasar, hubungan antara UMM dan dunia industri pun terbangun dengan sangat kuat. Selain itu, UMM dinilai unggul berkat kualitas risetnya yang berfokus pada impact. Penilaian ini tidak hanya menghitung jumlah artikel yang dipublikasikan dosen, melainkan pada tingginya angka sitasi dari peneliti lain. Meski meraih posisi mentereng, UMM tetap objektif melakukan evaluasi. Jika disandingkan dengan perguruan tinggi negeri ternama, skala publikasi secara kuantitas serta indikator riset dan sitasi masih menjadi area yang terus didorong perkembangannya. Terakhir, ia menerangkan bahwa pemeringkatan ini adalah bentuk nyata rekognisi internasional atas dedikasi kinerja akademik UMM. Diharapkan, momentum kebanggaan ini tidak sekadar menjadi selebrasi, melainkan menjadi pemicu untuk terus meningkatkan kualitas pada kelima indikator aktivitas akademik kampus putih di masa mendatang.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman