Dosen UMM Dorong UMKM Perempuan Jatim Naik Kelas Lewat Inovasi Pemasaran Digital

Tiga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadirkan program “Sisterpreneur” sebagai solusi peningkatan kapasitas pemasaran digital di Surabaya (26/4). Surabaya, JatimUPdate.id – Minimnya pemanfaatan media sosial oleh pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur, dorong tiga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadirkan program “Sisterpreneur” sebagai solusi peningkatan kapasitas pemasaran digital di Surabaya (26/4). Tiga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Maharina Novi, Arum Martikasari, dan Rahmania Santoso, menggelar kegiatan pemberdayaan bertajuk “Sisterpreneur: Inovasi Pemasaran Digital untuk Peningkatan Daya Saing UMKM Perempuan di Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur”. Kegiatan yang berlangsung di Surabaya ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan kapasitas pelaku UMKM perempuan yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA). Para peserta dibekali keterampilan pemasaran digital agar mampu bersaing secara lebih luas di tengah perkembangan teknologi komunikasi. Ketua tim pengabdian, Maharina Novi, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi kurangnya omset pada penjualan yang dimiliki umkm perempuan di Nasyiatul Aisyiyah, setelah dilakukan riset singkat ternyata tidak semua menggunakan media sosial secara maksimal sehingga market hanya terbatas pasa penjualan konfensional Menurutnya, optimalisasi media digital sangat penting dalam meningkatkan penjualan dan memperluas jangkauan pasar. Hal tersebut disinyalir akan memberikan dampak pada kenaikan omset. “Kami melihat para pelaku UMKM perempuan di PWNA Jawa Timur akan bisa lebih optimal jika bisa memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran. Padahal, jika dimanfaatkan dengan baik, hal ini dapat memberikan nilai tambah dan membuat mereka lebih siap bersaing dengan UMKM lainnya,” ujarnya.Ia menambahkan, kemampuan tersebut perlu terus diasah dan dirawat agar pelaku UMKM perempuan tidak tertinggal dalam persaingan yang semakin ketat. Dengan strategi yang tepat, pelaku usaha di bawah naungan APUNA diharapkan mampu meningkatkan daya saingnya secara berkelanjutan. Sementara itu, narasumber Arum Martikasari, M.Med.Kom, menekankan pentingnya strategi pemasaran yang adaptif. Ia menyampaikan bahwa pelaku UMKM perempuan harus mampu bersaing secara masif, baik melalui kanal offline maupun online. Dalam sesi materinya, Arum memperkenalkan rumus PCBA (Perkenalkan, Ceritakan, Buktikan, dan Ajakan) sebagai pendekatan dalam menyusun konten media sosial yang efektif. “Melalui formula ini, pelaku UMKM dapat membangun komunikasi yang lebih terarah dengan audiens di sosial media, sehingga produk yang ditawarkan lebih dikenal dan diminati,” jelasnya. Selain itu, Arum juga mengajak untuk praktek melakukan optimasi sosial media melalui pemanfaat AI, bukan sekedar teori dua dosen yang lain yang turut hadir juga mendampingi satu persatu pelaku umkm tersebut sehingga peserta bisa jelas dan tidak bingung dalam menggunakanya. Peserta kegiatan pun menunjukkan antusiasme tinggi. Yunik, anggota APUNA asal Trenggalek, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari pelatihan tersebut. “Saya jadi lebih tahu bagaimana memanfaatkan media sosial terlebih AI untuk promosi. Sekarang saya juga lebih percaya diri membuat konten karena sudah memahami caranya,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, tim dosen UMM berharap para pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur mampu mengoptimalkan pemasaran digital sebagai strategi utama dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha mereka. (ries/yh) Editor : Yuris. T. Hidayat
Peringatan Hardiknas 2026, Rektor UMM Tekankan Visi Solution Center Excellence

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di lapangan helipad UMM, pada Sabtu (2/5/2026). MALANG, BERITAKATA.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di lapangan helipad UMM, pada Sabtu (2/5/2026). Dalam momentum tersebut, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si., menekankan pentingnya penguatan visi kampus sebagai pusat solusi unggulan atau Solution Center Excellence. Upacara yang berlangsung di halaman helipad kampus III UMM tersebut juga dirangkaikan dengan pemberian penghargaan kepada sejumlah sivitas akademika yang dinilai berprestasi. Dalam sambutannya, Prof. Nazaruddin Malik memaparkan tiga pilar utama yang menjadi pondasi pelaksanaan proses pendidikan di UMM. Ketiga pilar tersebut dirancang untuk menjamin mutu institusi sebagai universitas yang memberikan dampak riil. “Kita harus menjadi solution center excellent, yaitu membangun tiga pilar utama di dalam pelaksanaan proses pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yaitu menjadikan UMM sebagai service excellent hub,” ujar Prof. Nazaruddin pada Sabtu (2/5/2026). Ia menjelaskan bahwa melalui pilar service excellent hub, penyelenggaraan dan layanan kualitas pendidikan di UMM wajib diperbaiki secara berkelanjutan. Sementara itu, dua pilar pendukung lainnya adalah penguatan kemitraan dengan industri dan pengembangan potensi mahasiswa. “Pilar kedua, UMM harus menjadi industry solution partner, serta pilar ketiga yaitu menjadi innovation and talent incubator. Ketiga pilar ini adalah jaminan mutu dalam status universitas yang sebenarnya atau riil,” tegasnya. Ditemui usai kegiatan, Prof. Nazaruddin mengatakan bahwa Hardiknas merupakan momen penting untuk mengenang jasa pahlawan sekaligus memperkokoh tekad memajukan kualitas pendidikan. Ia merinci bahwa Service Excellence Hub menuntut sumber daya manusia (SDM) kampus untuk mampu memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh pemangku kepentingan (stakeholder). Terkait pilar kedua dan ketiga, ia menyebutkan bahwa kampus memiliki tanggung jawab besar dalam melahirkan inovasi dan mengasah bakat generasi muda. “Kampus itu harus melahirkan kekuatan untuk membentuk talent-talent muda menjadi inkubator untuk melakukan inovasi. Dan yang ketiga tentu memberikan solusi kepada problem-problem yang dihadapi masyarakat, bukan menambah problem,” terangnya dalam sesi wawancara. Sebagai bagian dari rangkaian evaluasi tahunan, UMM memberikan penghargaan khusus kepada para dosen dan karyawan yang memiliki prestasi menonjol di bidangnya masing-masing. Prof. Nazaruddin menyebutkan bahwa pemberian penghargaan ini merupakan tradisi kampus untuk mengapresiasi personel yang berkontribusi pada citra positif universitas. “Tentu ada personal-personal UMM, baik dosen, karyawan, yang memiliki prestasi-prestasi khusus yang kuat, yang di bidangnya dia memberikan citra terkait dengan Solution Center Excellence itu tadi,” pungkasnya.
PDM Batu-UMM Matangkan Formula Beasiswa Lintas Satuan Pendidikan
Rektor UMM: Pendidikan Tinggi Harus Menjadi Solution Center Excellence
Bangun Kecerdasan Fisik dan Mental di Momen Hardiknas, UMM Gelar Kejuaraan Karate Nasional

Bangun Kecerdasan Fisik dan Mental di Momen Hardiknas, UMM Gelar Kejuaraan Karate Nasional pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang menggelar ajang bergengsi Kejuaraan Karate Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026 di Dome UMM, Sabtu (2/5/2026). Kegiatan ini bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional dan diikuti ratusan atlet dari berbagai daerah di Indonesia. Gemuruh teriakan dan hentakan langkah para atlet memenuhi arena pertandingan, menciptakan suasana kompetisi yang penuh semangat. Ajang ini menjadi wadah bagi atlet muda untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mengasah mental bertanding. Rektor UMM, Nazaruddin Malik, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., dalam sambutannya menegaskan pentingnya olahraga dalam membentuk kualitas generasi masa depan. “Hari ini kita mengenang jasa para pahlawan pendidikan. Semangat itu kami manifestasikan melalui olahraga. Kami berharap dari Dome UMM ini akan lahir bibit-bibit talenta baru yang nantinya tidak hanya mengharumkan nama Indonesia di kancah nasional, tetapi juga di panggung internasional,” tegasnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (PB FORKI) atas dukungan terhadap penyelenggaraan kejuaraan ini. UMM berkomitmen menjadikan ajang ini sebagai agenda tahunan nasional. “Event ini menjadi sarana penting bagi para atlet untuk mengukur kualifikasi mereka. Kami memohon maaf jika masih ada kekurangan dalam teknis penyelenggaraan, namun kami bertekad untuk terus memperbaiki kualitas agar kejuaraan ini menjadi kalender tetap karate di tingkat nasional,” tambahnya. Ketua Panitia Pelaksana, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan bahwa kejuaraan ini tidak hanya berfokus pada aspek kompetisi, tetapi juga pembinaan berkelanjutan. “Tujuan utama kami adalah menciptakan tolak ukur pembinaan karate yang terstruktur. Kami ingin memberikan kontribusi positif dalam mengembangkan tidak hanya kecerdasan fisik, tetapi juga intelektual, mental, dan spiritual generasi muda Indonesia,” ujarnya. Antusiasme peserta terlihat dari jumlah peserta yang mencapai 825 atlet dari 63 kontingen. Mereka bertanding dalam 974 kelas pertandingan yang mencakup berbagai kategori, mulai dari usia dini, pra-pemula, pemula, cadet, junior, under-21, hingga senior. Peserta berasal dari berbagai daerah seperti Bali, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur yang mewakili dojo, klub, serta pengurus cabang FORKI. Melalui kejuaraan ini, UMM menegaskan komitmennya dalam mendukung kemajuan olahraga nasional sekaligus mencetak generasi muda yang tangguh secara fisik dan mental. Ajang ini diharapkan menjadi wadah lahirnya atlet-atlet berprestasi yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

qoo10 – Minimnya pemanfaatan media sosial di kalangan pelaku UMKM perempuan Jawa Timur mendorong tiga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turun tangan. Mereka membawa program “Sisterpreneur” sebagai upaya menaikkan kapasitas pemasaran digital dan memperkuat daya saing usaha perempuan di daerah itu. Kegiatan pemberdayaan tersebut digelar di Surabaya dan diikuti puluhan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Program ini menyasar anggota Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA) di bawah Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur. Dorongan dari masalah omzet dan pemakaian media sosial
Wacana Penghapusan Sarjana Pendidikan Mengemuka, Akademisi UMM: Kampus Bukan Pabrik Pekerja

Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. M. Isnaini, M.Pd. | Foto: Humas UMM Portalbontang.com, Malang – Dunia pendidikan tinggi di Indonesia tengah dihangatkan oleh sebuah perdebatan serius di ranah kebijakan akademik. Perdebatan publik tersebut mencuat menyusul munculnya wacana penghapusan program studi (prodi) di bidang keguruan. Usulan kontroversial tersebut secara terbuka dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sekjen Kemdiktisaintek) RI. Adapun dasar dari pemikiran Sekjen tersebut dilandaskan pada alasan pencapaian relevansi lulusan dengan kebutuhan sektor industri. Namun, kebijakan pragmatis tersebut dinilai sangat berisiko karena dapat menyederhanakan makna pendidikan yang sesungguhnya. Kebijakan tersebut juga dikhawatirkan dapat mengancam masa depan pembentukan karakter generasi penerus bangsa. Kritik tajam atas wacana ini langsung datang dari kalangan akademisi yang melihatnya sebagai sebuah bentuk ‘tragedi kalkulator pendidikan’. Istilah tersebut merujuk pada cara pandang pragmatis yang menilai keberhasilan lembaga pendidikan hanya melalui angka statistik dan tingkat serapan kerja semata. Jika logika statistik ini terus digunakan, peran perguruan tinggi dikhawatirkan akan tereduksi menjadi sekadar ‘pabrik’ pemasok tenaga kerja bagi industri. Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. M. Isnaini, M.Pd., menyatakan bahwa wacana tersebut menunjukkan ketidaksiapan pemerintah. Pemerintah dinilai tidak siap dalam memetakan arah pendidikan nasional secara komprehensif ke depannya. Menurut Dr. Isnaini, kampus memiliki tanggung jawab strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti tren pasar kerja saat ini. “Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri,” ujarnya pada tanggal 29 April lalu kepada Tim Humas UMM. Jika logika ini terus digunakan, peran perguruan tinggi dikhawatirkan akan tereduksi menjadi sekadar ‘pabrik’ pemasok tenaga kerja bagi industri semata. “Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis,” tegasnya. ***
UMM Gelar Kejuaraan Karate Nasional, Bangun Kecerdasan Fisik dan Mental di Momen Hardiknas

Kejuaraan Karate Nasional UMM MALANG | KEJORANEWS.COM: Gemuruh suara teriakan dan dentuman langkah kaki di atas matras memenuhi atmosfer kemegahan Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu, 02 Mei 2026. Bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, Kampus Putih secara resmi menggelar perhelatan bergengsi bertajuk “Kejuaraan Karate Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026” yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai daerah. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., dalam sambutannya menekankan signifikansi penyelenggaraan acara ini yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Menurutnya, olahraga bela diri adalah elemen penting dalam memajukan kualitas manusia di masa depan. “Hari ini kita mengenang jasa para pahlawan pendidikan. Semangat itu kami manifestasikan melalui olahraga. Kami berharap dari Dome UMM ini akan lahir bibit-bibit talenta baru yang nantinya tidak hanya mengharumkan nama Indonesia di kancah nasional, tetapi juga di panggung internasional,” tegasnya. Lebih lanjut, ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pengurus Besar (PB) FORKI yang telah memberikan restu atas terselenggaranya ajang ini. UMM berkomitmen menjadikan Rektor Cup Karate Championship sebagai agenda tahunan yang dinanti oleh para atlet Karate-Do di seluruh Indonesia. “Event ini menjadi sarana penting bagi para atlet untuk mengukur kualifikasi mereka. Kami memohon maaf jika masih ada kekurangan dalam teknis penyelenggaraan, namun kami bertekad untuk terus memperbaiki kualitas agar kejuaraan ini menjadi kalender tetap karate di tingkat nasional,” tambahnya. Ajang ini bukan sekadar kompetisi fisik, melainkan menjadi panggung pembuktian bagi ratusan atlet muda untuk menunjukkan hasil latihan keras mereka. Dalam laporannya, Ketua Panitia Pelaksana, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan bahwa kejuaraan ini dirancang sebagai sistem pembinaan yang berkesinambungan. “Tujuan utama kami adalah menciptakan tolak ukur pembinaan karate yang terstruktur. Kami ingin memberikan kontribusi positif dalam mengembangkan tidak hanya kecerdasan fisik, tetapi juga intelektual, mental, dan spiritual generasi muda Indonesia,” ujarnya. Antusiasme peserta pada edisi kali ini tergolong luar biasa. Tercatat sebanyak 825 atlet dari 63 kontingen turut berpartisipasi. Mereka memperebutkan medali di 974 kelas pertandingan yang terbagi dalam berbagai kategori, mulai dari usia dini, pra-pemula, pemula, cadet, junior, under-21, hingga kategori senior. Tak hanya dari Jawa Timur, para peserta berasal dari lintas provinsi, meliputi Bali, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, yang mewakili dojo, klub, hingga pengurus cabang FORKI. Melalui perhelatan akbar ini, UMM kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung kemajuan olahraga nasional. Kejuaraan Karate Piala Rektor 2026 diharapkan mampu menjadi kawah candradimuka yang melahirkan atlet-atlet profesional bermental juara. Pada akhirnya, tempaan fisik dan mental di atas matras ini akan menjadi bekal berharga bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan masa depan, baik di kancah nasional maupun global.(Ans)
Dosen UMM Ajak Pengusaha Nasyiah Optimalkan Pemasaran Digital agar Bisa Naik Kelas

Dosen Ilmu Komunikasi UMM memberikan pelatihan pemasaran digital kepada pengusaha Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur. (Maharina/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Minimnya pemanfaatan media sosial oleh pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur mendorong tiga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan program “Sisterpreneur” sebagai solusi peningkatan kapasitas pemasaran digital di Surabaya, Sabtu (26/4). Tiga dosen tersebut, yakni Maharina Novi, Arum Martikasari, dan Rahmania Santoso, menggelar kegiatan pemberdayaan bertajuk “Sisterpreneur: Inovasi Pemasaran Digital untuk Peningkatan Daya Saing UMKM Perempuan di Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur”. Kegiatan ini diikuti puluhan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan kapasitas pelaku UMKM perempuan yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA). Para peserta dibekali keterampilan pemasaran digital agar mampu bersaing lebih luas di tengah perkembangan teknologi komunikasi. Ketua tim pengabdian Maharina Novi menjelaskan, kegiatan ini dilatarbelakangi minimnya omzet penjualan UMKM perempuan di lingkungan Nasyiah, sebutan Nasyiatul Aisyiyah. Berdasarkan riset singkat, tidak semua pelaku usaha memanfaatkan media sosial secara maksimal sehingga pasar masih terbatas pada penjualan konvensional. Menurutnya, optimalisasi media digital sangat penting untuk meningkatkan penjualan dan memperluas jangkauan pasar. Hal tersebut dinilai dapat berdampak pada kenaikan omzet. “Kami melihat pelaku UMKM perempuan di PWNA Jawa Timur bisa lebih optimal jika memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran. Jika digunakan dengan baik, hal ini dapat memberikan nilai tambah dan membuat mereka lebih siap bersaing,” ujarnya. Dia menambahkan, kemampuan tersebut perlu terus diasah agar pelaku UMKM perempuan tidak tertinggal dalam persaingan yang semakin ketat. Dengan strategi yang tepat, pelaku usaha di bawah naungan APUNA diharapkan mampu meningkatkan daya saing secara berkelanjutan. Sementara itu, narasumber Arum Martikasari menekankan pentingnya strategi pemasaran yang adaptif. Ia menyampaikan bahwa pelaku UMKM perempuan harus mampu bersaing, baik melalui kanal offline maupun online. Dalam sesi materinya, Arum memperkenalkan rumus PCBA (Perkenalkan, Ceritakan, Buktikan, dan Ajakan) sebagai pendekatan dalam menyusun konten media sosial yang efektif. “Melalui formula ini, pelaku UMKM dapat membangun komunikasi yang lebih terarah dengan audiens di media sosial, sehingga produk yang ditawarkan lebih dikenal dan diminati,” jelasnya. Dosen Ilmu Komunikasi UMM bersama para peserta program Sisterpreneur berfoto bersama usai pelatihan pemasaran digital bagi pengusaha Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur. (Maharina/Klikmu.co) Selain itu, peserta juga diajak praktik mengoptimalkan media sosial melalui pemanfaatan AI. Dua dosen lainnya turut mendampingi peserta secara langsung sehingga materi lebih mudah dipahami dan diterapkan. Peserta kegiatan pun menunjukkan antusiasme tinggi. Yunik, anggota APUNA asal Trenggalek, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari pelatihan tersebut. “Saya jadi lebih tahu bagaimana memanfaatkan media sosial dan AI untuk promosi. Sekarang saya juga lebih percaya diri membuat konten karena sudah memahami caranya,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, tim dosen UMM berharap para pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur mampu mengoptimalkan pemasaran digital sebagai strategi utama dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha mereka. (Mnz/AS)
Rektor UMM Kritik Wacana Penutupan Prodi

Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik. (Foto: Heri Prasetyo) CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Prof Dr Nazaruddin Malik mengkritik wacara penutupan program studi (prodi) yang tidak relevan dengan kebutuhan industri. Menurutnya, kebijakan tersebut terlalu menyederhanakan fungsi pendidikan tinggi yang sejatinya tidak hanya berorientasi pada kebutuhan pasar tenaga kerja. Nazaruddin menegaskan tidak ada disiplin ilmu yang kehilangan relevansi hingga layak dihentikan. Pendidikan tinggi memiliki mandat yang lebih luas dari pada sekadar mencetak lulusan untuk profesi tertentu. “Kalau pendidikan hanya dipandang dari sisi keterhubungan langsung dengan pekerjaan, cara pandang itu terlalu sempit,” kata Nazaruddin, usai upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional, Sabtu (2/5/2026). Ia menjelaskan konsep link and match memang penting. Namun tidak bisa bermakna linear bahwa lulusan hanya harus bekerja sesuai bidang akademiknya. Perguruan tinggi harus membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir, daya adaptasi dan keterampilan hidup agar mampu bertahan di berbagai dinamika zaman. “Yang harus dibangun bukan hanya kompetensi teknis, tetapi juga karakter, kemampuan intelektual, dan life skill. Dengan bekal itu, lulusan bisa berkontribusi di berbagai bidang,” ujarnya. Nazaruddin menilai ukuran keberhasilan pendidikan bukan dari seberapa banyak lulusan terserap di sektor yang linier dengan jurusannya. Ia mencontohkan, banyak lulusan yang justru berkembang di bidang berbeda karena memiliki kapasitas berpikir kritis dan kemampuan beradaptasi. “Yang perlu dievaluasi adalah kualitas proses pendidikannya, bukan langsung mengambil langkah penutupan. Pendidikan harus dilihat secara komprehensif,” tegasnya. Ia menegaskan hingga saat ini tidak memiliki rencana melakukan penutupan prodi. Sebaliknya, kampus akan terus memperluas pengembangan keilmuan melalui pembukaan program-program studi baru yang bersifat multidisipliner dan responsif terhadap perkembangan global. “Justru kami terus mengembangkan program studi baru, termasuk yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu seperti energi terbarukan dan bidang-bidang strategis lainnya,” katanya. Menurutnya, kampus harus menjadi inkubator talenta, mitra strategis dan hadir untuk menjawab persoalan masyarakat.