Raup Ratusan Juta dari Arang Briket, Alumnus UMM Sukses Tembus Pasar Ekspor

Mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga berani merintis peluang nyata di lapangan. Hal ini dibuktikan oleh Abdurrahman Sayuti, alumnus Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2020, yang sukses meniti karier sebagai eksportir arang briket dengan jangkauan pasar internasional. Kesuksesan pria yang akrab disapa Sayuti ini tidak diraih dalam semalam. Perjalanannya dimulai dari nol pada tahun 2022, saat ia masih duduk di bangku semester tiga. Menariknya, modal awal bisnis ini bukan berasal dari privilese, melainkan dari hasil keringatnya memutar uang lewat bisnis jual-beli motor bekas dan suku cadang. “Modal pertama saya itu murni dari jual-beli motor dan suku cadang. Dari situ saya mulai menabung dan akhirnya berani banting setir membangun perusahaan arang briket,” ungkap Sayuti. Di tahap awal merintis usaha, Sayuti tak segan turun ke lapangan. Sepulang kuliah, ia menjajakan produknya secara langsung di pasar-pasar tradisional. Pengalaman di tingkat akar rumput ini menjadi kawah candradimuka baginya untuk memahami selera dan dinamika pasar. Kerja kerasnya menemui titik terang saat ia aktif membangun jejaring. Titik balik usahanya terjadi ketika Sayuti mengikuti forum bisnis nasional yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur. Kolaborasi dengan pelaku industri profesional di forum tersebut sukses mengantarkannya pada ekspor perdana ke Singapura pada tahun 2023. Kini, skala bisnisnya melesat tajam. Untuk satu kali pengiriman, usahanya mampu memenuhi permintaan pasar ekspor hingga 15 ton arang briket. Angka keuntungan yang diraih pun tidak main-main. “Kalau kita hitung omzet bersih, itu berkisar antara Rp90 juta hingga Rp130 juta untuk sekali transaksi. Angka ini bahkan bisa lebih besar untuk pengiriman dalam skala partai besar,” jelasnya. Di balik deretan angka fantastis tersebut, Sayuti menekankan bahwa relasi atau networking adalah kunci paling krusial untuk bertahan di sektor ekspor. Selain itu, ia mengakui bahwa wawasan akademik yang ia peroleh di UMM khususnya dari mata kuliah Bisnis Internasional memberikan fondasi berpikir yang tajam dalam memetakan peluang pasar global. Sebagai penutup, pengusaha muda ini menitipkan pesan penting bagi kalangan mahasiswa agar berani keluar dari zona nyaman dan tidak hanya terkungkung di ruang kelas. “Sebagai mahasiswa, selain ambisius terhadap nilai akademik, kita juga harus ambisius terhadap pengalaman. Pintar-pintarlah mengambil kesempatan dan memperluas relasi. Dari situlah peluang besar akan terbuka,” pungkasnya.(*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Cetak Rekor MURI, Guru Besar UMM Kuasai Mimbar Diskusi Islam Internasional

Konsistensi tanpa henti membuahkan prestasi bertaraf dunia. Guru Besar Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ishomuddin, M.Si., resmi mencatatkan namanya di Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai panelis diskusi daring internasional berkesinambungan terbanyak. Penghargaan bergengsi yang diserahkan pada April lalu menjadi bukti pengakuan atas dedikasi luar biasa. Usai melalui proses verifikasi ketat, ia tercatat telah tampil sebagai panelis sebanyak 97 kali hingga Januari 2026 dalam forum International Deliberation on Islam, dan angka ini masih terus bertambah. International Deliberation on Islam adalah panggung strategis yang mempertemukan ulama, akademisi, dan cendekiawan sejagat. Setiap sesinya menyedot perhatian 400 hingga 500 peserta dari berbagai belahan dunia, yang mayoritas merupakan profesor dan doktor. Di hadapan ratusan cendekiawan inilah, gagasannya terus menggema sejak ia mulai aktif pada 2018. Dalam berbagai diskusinya, ia secara tajam membedah epistemologi Islam. Ia memaparkan tiga paradigma utama studi Islam yakni Bayani (teks), Burhani (logika), dan Irfani (spiritual). Menariknya, ia memberikan penekanan khusus pada pendekatan Irfani yang membumikan praktik spiritual dalam kehidupan sehari-hari. “Pendekatan Irfani ini sering kali terabaikan, padahal ia memiliki kedalaman makna yang sangat krusial dalam memahami Islam secara komprehensif,” tegasnya. Dedikasinya tidak berhenti di podium internasional. Gagasan Irfani ini juga terus ia sebarluaskan kepada mahasiswa, dosen, hingga cendekiawan di tingkat lokal dan nasional. Ketajaman intelektualnya terbukti nyata secara tertulis. Selain menjadi panelis dunia, ia adalah seorang akademisi yang sangat produktif. Sejak tahun 2013, ia telah melahirkan sekitar 100 karya yang tercatat resmi sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Rekam jejak ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai ilmuwan yang berdedikasi penuh pada riset dan pengabdian masyarakat. Melalui kiprahnya di puluhan forum dunia, dosen Fakultas Agama Islam UMM itu mengemban misi besar yakni menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat dan inklusif. Ia berharap ruang-ruang dialog internasional ini terus menjadi mesin penggerak keilmuan bagi umat Islam global. Pencapaian monumental ini sekaligus menegaskan posisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai institusi pendidikan yang tak henti mendorong sivitas akademikanya untuk mendobrak batasan dan memberikan kontribusi nyata di kancah dunia.(*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Para Pakar Isi Seminar Internasional PPG UMM, Bongkar Ketimpangan Pendidikan Global

Para pakar pendidikan mengisi Seminar Internasional PPG Universitas Muhammadiyah Malang (5/5). Mereka membongkar ketimpangan pendidikan global yang masih terjadi./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang menggelar Seminar Internasional yang melalui Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang bekerja sama dengan Deakin University Australia dan Universitas Sanata Dharma, 5 Mei 2026. Tema Inklusi Transformatif: Mewujudkan Keadilan Pendidikan di Era Polarisasi Global diusung dalam seminar ini untuk menanggapi situasi dewasa ini. Yaitu, fragmentasi sosial global yang menguat sekaligus ketimpangan akses terhadap pengetahuan yang menempatkan pendidikan pada titik krusial. Melalui forum ini menegaskan bahwa inklusi tidak cukup berhenti sebagai jargon kebijakan, melainkan harus hadir sebagai praktik yang membongkar ketimpangan secara nyata. Perspektif awal disampaikan oleh, Dirjen GTK Kemendidkdasmen RI, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., yang menjelaskan terkait arah kebijakan makro. Nunuk Suryani menempatkan pendidikan inklusif sebagai keharusan moral sekaligus sistemik di tengah dunia yang kian terpolarisasi. Dapat ditegaskan jika posisi negara dalam memastikan pendidikan sebagai hak fundamental yang harus dijamin secara menyeluruh. “Pendidikan inklusif adalah sebuah keharusan moral dan sistemik. Kami mengusung visi pendidikan bermutu untuk semua, dengan penegasan bahwa tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal, apa pun latar belakang sosial, budaya, bahasa, maupun kondisinya,” ungkap Nunuk. Ia menekankan bahwa transformasi menuju keadilan pendidikan memerlukan kolaborasi lintas sektor dan lintas negara. Kebijakan afirmatif, penguatan peran guru pendidikan khusus, serta pengembangan ekosistem inklusif menjadi bagian dari strategi nasional yang terus diakselerasi. “Dengan demikian, keadilan pendidikan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi bergerak menjadi praktik nyata yang menjawab tantangan global secara berkelanjutan,” tegasnya. Dr. Junny Ebenhaezer, Ph.D., dari Daekin University Australia kemudian menyoroti bahwa eksklusi dalam pendidikan kerap bekerja secara laten melalui praktik pedagogi yang tidak sensitif terhadap keberagaman. Maka, transformasi pendidikan harus dimulai bagaimana cara mengajar serta penguatan kapasitas guru. Cara ini akan merespons kebutuhan belajar yang beragam secara kontekstual. “Saya meyakini bahwa keadilan pendidikan harus dimulai dari membuka akses yang setara dan memberdayakan guru sebagai kunci perubahan. Jika kita membekali satu guru dengan kompetensi yang tepat, dampaknya dapat menjangkau ratusan bahkan ribuan siswa,” ucap Ebenhaezer. Menurutnya, dalam pedagogi, perlu kembali pada tiga pilar utama, yaitu purpose, process, dan people. Seorang guru tidak hanya dituntut memahami tujuan pembelajaran, tetapi juga proses yang tepat serta siapa peserta didiknya. Ia menyebutkan pertanyaan mendasar yang harus diajukan adalah, apakah kita benar-benar mengenal siswa kita, latar belakangnya, dan cara mereka belajar. Artinya, inklusi tidak boleh berhenti pada tataran simbolik, melainkan harus bergerak menuju praktik yang substantif dan adaptif. Diferensiasi pembelajaran, asesmen yang responsif, serta pemanfaatan teknologi yang mempertimbangkan kesenjangan akses menjadi kunci. Kemudian, Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D., dari Universitas Sanata Dharma membahas keadilan pendidikan di dunia yang terpolarisasi dengan menyoroti krisis resiliensi dan kebutuhan inovasi. Sarkim menempatkan pendidikan sebagai sebagai hal yang membangun ketahanan sosial di tengah tekanan global. Menurutnya, tanpa inovasi yang berkelanjutan, pendidikan beresiko tertinggal dalam merespons dinamika zaman. Dilanjut dengan pernyataan Prof. Dr. Trisakti Handayani, M. M. dari UMM yang menegaskan, capaian pendidikan tidak dapat semata diukur secara kuantitatif, terutama ketika kesenjangan antar wilayah dan kelompok sosial masih tinggi. Realitas global menunjukkan masih jutaan anak belum memperoleh akses pendidikan yang layak, sehingga transformasi kebijakan menjadi kebutuhan mendesak dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. “Pendidikan berkeadilan merupakan inti dari tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDGs keempat, yang menegaskan pentingnya pendidikan inklusif, berkualitas, dan pembelajaran sepanjang hayat bagi semua,” tegas Handayani. Pendidikan inklusif yang transformatif disebutnya harus dimulai dari perubahan paradigma, yakni memandang perbedaan sebagai sumber daya pembelajaran. “Keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, serta masyarakat sipil menjadi prasyarat penting dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif dan berdaya saing global,” imbuhnya. Pandangan pada standar profesi guru juga dijelaskan oleh Neneng Haryati, S.Si, M.M., yang memaparkan jika guru harus ditempatkan sebagai fondasi utama dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Pada konteks ini, PPG menjadi bagian integral dari tata kelolah guru secara nasional. Guru dituntut untuk terus mengembangkan diri melalui pelatihan pembelajaran yang berkelanjutan, riset praktik pembelajaran, serta kolaborasi riset lintas pendidikan agar mampu menjawab tantangan global. *** Dokumentasi kegiatan (dok. UMM): *** Editor: YAN
UKM Karate UMM Sapu Bersih 16 Medali dan Rajai Kejuaraan Nasional 2026

UKM Karate UMM Sapu Bersih 16 Medali dan Rajai Kejuaraan Nasional 2026 pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang kembali menorehkan prestasi gemilang melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate. Bertanding di Hall Dome UMM, tim karate berhasil meraih gelar Juara Umum kategori Mahasiswa dalam ajang Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026. Kejuaraan yang berlangsung pada Sabtu (2/5/2026) ini menjadi bukti ketangguhan para atlet UMM. Keberhasilan tersebut sekaligus menegaskan posisi Kampus Putih sebagai salah satu lumbung atlet bela diri berprestasi di Indonesia. Ketua Umum UKM Karate UMM, Fadil Inayatullah, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil dari komitmen panjang seluruh anggota tim. Mahasiswa program studi Manajemen angkatan 2023 itu menjelaskan bahwa persiapan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari latihan fisik, pendalaman teknik, hingga penguatan mental bertanding. “Gelar juara umum ini adalah bukti nyata bahwa kedisiplinan dan kekompakan tim mampu menghasilkan prestasi yang mengharumkan nama UMM di bidang olahraga,” tegas Fadil. Dalam kompetisi tersebut, kontingen UMM menunjukkan dominasi di berbagai nomor pertandingan, baik individu maupun beregu. Total 16 medali berhasil diraih, terdiri dari 3 medali emas, 5 medali perak, dan 8 medali perunggu. Prestasi ini semakin memperkuat posisi UMM sebagai kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif mengembangkan potensi mahasiswa di bidang olahraga. Pembina UKM Karate UMM, Havidz Ageng Prakoso, M.A, menyoroti tantangan yang dihadapi para atlet dalam menyeimbangkan peran sebagai mahasiswa dan atlet. “Tantangan sejauh ini adalah membagi waktu antara tugas akademik dan porsi latihan yang cukup menguras tenaga,” ungkap Havidz. Ia juga menegaskan bahwa dukungan universitas menjadi faktor penting dalam keberhasilan ini, mulai dari fasilitas hingga kemudahan birokrasi bagi mahasiswa berprestasi. “UKM Karate UMM ke depannya akan semakin baik dengan perbaikan manajerial internal dan seleksi yang ketat bagi calon mahasiswa baru yang ingin bergabung,” pungkasnya. Keberhasilan ini diharapkan mampu menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berprestasi. UMM tidak hanya menjadi tempat belajar di ruang kelas, tetapi juga menjadi wadah pembinaan atlet berprestasi di tingkat nasional. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Pohon Harapan Pendidikan UMM Ajang Kritik Penghapusan Program Studi

MALANG POST – Di tengah wacana penghapusan sejumlah program studi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri, peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru hadir sebagai ruang kritik yang terbuka. Bertempat di jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, sivitas akademika diajak menyuarakan argumen, kegelisahan dan harapan mereka terkait arah pendidikan nasional melalui medium “Pohon Harapan Pendidikan”. Rangkaian acara ini dikemas sarat makna sosial dan intelektual, melampaui sekadar kegiatan seremonial. Dimulai dengan menyanyikan lagu-lagu nasional, penulisan aspirasi, hingga penampilan musikalisasi puisi oleh dosen dan mahasiswa. Semuanya dirancang sebagai medium artikulasi publik kampus yang menggabungkan ekspresi estetis dengan kritik sosial. Wakil Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM sekaligus penanggung jawab kegiatan, Dr. Faizin, M.Pd.,menjelaskan bahwa tema “Menguatkan Pendidikan, Membangun Masa Depan” dipilih untuk membangun kesadaran kolektif. Ia menegaskan, wacana penghapusan program studi perlu dikritisi lebih jauh, apakah benar berorientasi pada peningkatan kualitas, atau sebatas efisiensi struktural. Menurutnya, kualitas pendidikan tidak bisa diukur semata dari relevansi jangka pendek terhadap kebutuhan industri. “Pendidikan memiliki dimensi kultural dan ideologis yang lebih luas, yang tidak selalu dapat diakomodasi oleh logika pasar. Refleksi ini adalah upaya mencegah pendidikan direduksi menjadi kepentingan pragmatis semata,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pendidikan yang unggul adalah hasil kerja kolektif lintas sektor, mulai dari keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, hingga sistem sosial. “Jika tidak disadarkan secara kolektif, capaian pendidikan unggul tidak akan pernah muncul. Kebijakan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri tanpa keterlibatan berbagai elemen,” tegasnya. Dalam kegiatan tersebut, “Pohon Harapan Pendidikan” menjadi titik partisipasi yang paling dinamis. Medium ini dipenuhi berbagai tulisan dari sivitas akademika, yang tidak hanya berisi harapan normatif, tetapi juga kritik tajam terhadap sistem pendidikan yang dirasa semakin administratif dan kehilangan substansinya. “Pendidikan bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan lahirnya generasi penerus bangsa yang intelektual,” tulis Erika Firdayanti, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia. Pesan Erika merepresentasikan penolakan mahasiswa yang tidak ingin hanya menjadi objek kebijakan. Melainkan subjek aktif yang menuntut terjaganya esensi pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya. Peringatan Hardiknas di UMM tahun ini membuktikan bahwa kampus masih memegang teguh perannya sebagai arena dialektika yang sehat. Di tengah kuatnya arus pragmatisme dan efisiensi pasar, inisiatif ini menjadi pengingat bahwa pendidikan harus selalu berpijak pada nilai, nalar kritis, dan kesadaran kolektif untuk membangun masa depan bangsa yang berkelanjutan.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Karate UMM Sapu Bersih 16 Medali dan Rebut Juara Umum Kejurnas 2026

Tim UKM Karate UMM berfoto bersama usai meraih gelar juara umum dengan torehan 16 medali pada Kejurnas 2026. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Hall Dome menjadi saksi ketangguhan para atlet Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada kejuaraan yang digelar Sabtu (2/5/2026), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM tampil dominan dan berhasil meraih gelar Juara Umum kategori mahasiswa. Capaian ini sekaligus mempertegas posisi Kampus Putih sebagai salah satu lumbung atlet bela diri berprestasi di Tanah Air, setelah sukses mendominasi kejuaraan karate tingkat nasional, Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026. Ketua Umum UKM Karate UMM Fadil Inayatullah menyebut keberhasilan ini merupakan hasil dari komitmen panjang seluruh anggota tim. Mahasiswa Program Studi Manajemen angkatan 2023 itu menjelaskan, persiapan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari latihan fisik, pendalaman teknik, hingga penguatan mental bertanding. Menurutnya, suasana latihan yang suportif namun tetap disiplin menjadi kunci kekompakan tim sejak masa persiapan hingga hari pertandingan. “Gelar juara umum ini adalah bukti bahwa kedisiplinan dan kekompakan tim mampu menghasilkan prestasi yang mengharumkan nama UMM di bidang olahraga,” ujarnya. Dalam kompetisi tersebut, kontingen UMM menunjukkan kekuatan merata di berbagai kelas, baik nomor perorangan maupun beregu. Mereka berhasil memboyong total 16 medali, terdiri atas 3 emas, 5 perak, dan 8 perunggu. Prestasi ini turut menegaskan komitmen UMM sebagai kampus inovatif dan mandiri dalam memfasilitasi pengembangan minat dan bakat mahasiswa secara inklusif. Di balik capaian tersebut, terdapat tantangan besar dalam menyeimbangkan peran sebagai mahasiswa dan atlet. Hal ini disampaikan Pembina UKM Karate UMM, Havidz Ageng Prakoso MA. Menurutnya, para atlet dituntut memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik. “Tantangan sejauh ini adalah membagi waktu antara tugas akademik dan porsi latihan yang cukup menguras tenaga,” ungkapnya. Dia menambahkan, dukungan universitas sangat berperan dalam menjaga motivasi atlet. Fasilitas yang memadai serta kemudahan birokrasi bagi mahasiswa berprestasi menciptakan atmosfer kompetisi yang sehat dan progresif di lingkungan kampus. Ke depan, Havidz menegaskan bahwa regenerasi atlet akan terus diperkuat melalui seleksi yang ketat guna menjaga tradisi juara. “UKM Karate UMM ke depannya akan semakin baik dengan perbaikan manajerial internal dan seleksi ketat bagi calon mahasiswa baru yang ingin bergabung,” pungkasnya. Kemenangan ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lain untuk terus berprestasi. UMM tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga kawah candradimuka bagi lahirnya atlet-atlet berprestasi. (Faqih/AS)
UMM Raih Juara Umum Karate Championship 2026

Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si Saat Membuka Ajang Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026. ( Foto: Dokumentasi Panitia). RRI.CO.ID, Malang- Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih juara umum kategori mahasiswa dalam ajang Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026 yang digelar pada Sabtu, 2 Mei 2026. Sekretaris Panitia, Matronji, menyampaikan bahwa UMM tampil unggul dalam kategori antar mahasiswa hingga berhasil meraih gelar juara umum. “Untuk juara umum mahasiswa diraih oleh UMM Malang,” ujarnya kepada RRI, Selasa ( 5/5/2026). Ia juga memastikan pelaksanaan kejuaraan berlangsung dengan baik tanpa kendala berarti. “Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar dan aman,” jelasnya. Matronji menambahkan, kejuaraan ini diikuti oleh ratusan atlet dari berbagai daerah dengan jumlah peserta yang cukup besar. “Untuk total keseluruhan atlet 825, dengan kelas pertandingan sebanyak 982,” ungkapnya. Ajang ini tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga sarana pembinaan atlet serta meningkatkan semangat sportivitas di kalangan mahasiswa dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional. (Meuthia)
Sisterpreneur: Inovasi Dosen UMM untuk Dorong UMKM Perempuan Naik Kelas lewat Inovasi Pemasaran Digital

Dosen UMM saat melaksanakan Sisterpreneur bagi kader Nasyiatul ‘Aisyiyah Se-Jatim (Suara ‘Aisyiyah.id) Surabaya, Suara ‘Aisyiyah – Minimnya pemanfaatan media sosial oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perempuan di Jawa Timur, mendorong tiga Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan program “Sisterpreneur”. Inovasi tersebut digagas sebagai solusi peningkatan kapasitas pemasaran digital. Tiga dosen Ilmu Komunikasi UMM yakni Maharina Novi, Arum Martikasari, dan Rahmania Santoso, menggelar kegiatan pemberdayaan bertajuk “Sisterpreneur: Inovasi Pemasaran Digital untuk Peningkatan Daya Saing UMKM Perempuan Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur Kegiatan yang berlangsung di Surabaya ini diikuti puluhan peserta dari Pimpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah Se-Jawa Timur, Ahad, (26/4/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan kapasitas pelaku UMKM perempuan yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA). Para peserta dibekali keterampilan pemasaran digital agar mampu bersaing secara lebih luas di tengah perkembangan teknologi komunikasi. Dorong Optimalisasi Pemasaran di Sosial Media Ketua tim pengabdian, Maharina Novi, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi kurangnya omset pada penjualan yang dimiliki UMKM perempuan di Nasyiatul Aisyiyah. Setelah dilakukan riset singkat, ternyata tidak semua menggunakan media sosial secara maksimal, sehingga market hanya terbatas pasa penjualan konvensional. Menurutnya, optimalisasi media digital sangat penting dalam meningkatkan penjualan dan memperluas jangkauan pasar. Hal tersebut disinyalir akan memberikan dampak pada kenaikan omset. “Kami melihat para pelaku UMKM perempuan di PWNA Jawa Timur akan bisa lebih optimal jika memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran. Padahal, jika dimanfaatkan dengan baik, hal ini dapat memberikan nilai tambah dan membuat mereka lebih siap bersaing dengan UMKM lainnya,” ujarnya. Ia menambahkan, kemampuan tersebut perlu terus diasah dan dirawat agar pelaku UMKM perempuan tidak tertinggal dalam persaingan yang semakin ketat. Dengan strategi yang tepat, pelaku usaha di bawah naungan APUNA harapannya mampu meningkatkan daya saingnya secara berkelanjutan. Rumus PCBA dalam Menyusun Konten Sementara itu, narasumber Arum Martikasari, menekankan pentingnya strategi pemasaran yang adaptif. Ia menyampaikan bahwa pelaku UMKM perempuan harus mampu bersaing secara masif, baik melalui kanal offline maupun online. Dalam sesi materinya, Arum memperkenalkan rumus PCBA (Perkenalkan, Ceritakan, Buktikan, dan Ajakan) sebagai pendekatan dalam menyusun konten media sosial yang efektif. “Melalui formula ini, pelaku UMKM dapat membangun komunikasi yang lebih terarah dengan audiens di sosial media, sehingga produk yang ditawarkan lebih dikenal dan diminati,” jelasnya. Selain itu, Arum juga mengajak untuk praktik melakukan optimasi sosial media melalui pemanfaat AI. Bukan sekedar teori, dua dosen yang lain yang turut hadir juga mendampingi satu persatu pelaku UMKM tersebut sehingga peserta bisa jelas dan tidak bingung dalam menggunakannya. Peserta kegiatan pun menunjukkan antusiasme tinggi. Yunik, anggota APUNA asal Trenggalek, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari pelatihan tersebut. “Saya jadi lebih tahu bagaimana memanfaatkan media sosial terlebih AI untuk promosi. Sekarang saya juga lebih percaya diri membuat konten karena sudah memahami caranya,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, tim dosen UMM berharap para pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur mampu mengoptimalkan pemasaran digital sebagai strategi utama dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha mereka. (Mnz)-Nely
Kawal Target Pusat Halal Dunia 2026, UMM Buka Jalur Sertifikasi di Negeri Tirai Bambu

Mempertegas posisinya sebagai kampus Islam kelas dunia, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperluas kiprah internasionalnya. Melalui Pusat Studi Pusat Pendampingan dan Pengembangan Halal (PS. P3Halal), Kampus Putih resmi menggandeng Fuyao University of Science and Technology (FYUST) Cina untuk mengembangkan produk halal-thoyyib dan pangan sehat. Penandatanganan kerja sama strategis ini dilaksanakan langsung di kampus megah FYUST, Cina, bersama Dekan sekaligus representasi Yayasan FYUST, Giong Lin, pada Rabu (22/4/2026). Kepala PS. P3Halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP., menjelaskan bahwa langkah ini merupakan respons proaktif atas target Indonesia menjadi pusat kepemimpinan halal dunia pada 2026. Terlebih, potensi industri halal global diproyeksikan melonjak hingga mencapai US$ 9 triliun pada 2030 mendatang. “Kerja sama ini adalah wujud nyata dari semangat Muhammadiyah Berkemajuan. Kami tidak hanya berfokus pada peringkat akademik, tetapi mengimplementasikan konsep ‘Kampus Berdampak’ dari Kemdiktisaintek. UMM hadir melintasi batas negara untuk memberi solusi dan inovasi berkelanjutan, khususnya dalam memperkuat daya saing produk halal lokal di pasar global,” tegasnya. Selain penandatanganan MoU, delegasi UMM juga melakukan peninjauan langsung ke Laboratorium Halal milik FYUST serta fasilitas kantin asrama yang melayani kebutuhan nutrisi ribuan civitas akademika setempat. Sinergi riset menjadi salah satu poin utama dalam kerja sama ini. Saat ini, FYUST tengah mengembangkan produk berbasis polifenol, wortel, umbi-umbian, hingga pengujian deteksi titik kritis kehalalan seperti DNA babi dan etanol. Fokus tersebut rupanya sangat selaras dengan deretan riset unggulan para peneliti UMM. Elfi sapaan akrabnya, saat ini tengah memimpin riset pigmen antosianin dari bunga dan ubi jalar ungu untuk aplikasi suplemen yang mampu mereduksi mikroplastik pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Riset pangan fungsional dan bahan bioaktif sebagai obat herbal juga terus dikembangkan oleh pakar UMM lainnya, seperti Prof. Damat, Prof. Warkoyo, Prof. Ely Purwanti, Dr. dr. Meddy Setiawan, Dr. dr. Sulistyo Mulyo Agustini, dan Dr. Ahmad Shobrun Jamil. Ke depannya, kolaborasi internasional ini tidak akan berhenti di atas meja laboratorium. UMM dan FYUST sepakat untuk memperluas cakupan kerja sama melalui kolaborasi riset dosen dan mahasiswa, pengembangan kosmetik dan obat herbal halal, serta pendampingan sertifikasi bagi perusahaan mitra FYUST di Cina. “Puncaknya, kita juga membidik pembentukan lembaga halal sejenis Lembaga Pemeriksa Halal Luar Negeri (LHLN) di kampus FYUST, sehingga ekosistem halal di sana dapat terstandarisasi sesuai dengan regulasi negara Indonesia,” pungkasnya.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Jadikan Hardiknas Mimbar Kritik Pendidikan

SUPPORT: Mahasiswa UMM menandatangani petisi untuk mendukung sistem pendidikan yang lebih baik di Indonesia MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berlangsung beda. Di saat jagat pendidikan tinggi sedang diguncang wacana penghapusan sejumlah program studi (prodi) yang dianggap tak relevan dengan kebutuhan industri, UMM justru menyulap jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 menjadi mimbar kritik yang terbuka. Melalui medium bertajuk “Pohon Harapan Pendidikan”, ratusan mahasiswa dan dosen berkumpul bukan untuk sekadar seremoni, melainkan menyuarakan kegelisahan mereka terhadap arah pendidikan nasional yang dianggap semakin menjauh dari substansi kemanusiaan. Rangkaian acara ini dikemas sarat makna sosial dan intelektual, dimulai dari menyanyikan lagu nasional hingga penampilan musikalisasi puisi oleh dosen dan mahasiswa sebagai bentuk artikulasi publik yang menggabungkan ekspresi estetis dengan kritik sosial. Dr. Faizin, M.Pd., Wakil Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM sekaligus penanggung jawab kegiatan, menjelaskan bahwa tema “Menguatkan Pendidikan, Membangun Masa Depan” sengaja dipilih untuk membangun kesadaran kolektif terhadap tantangan zaman. Dalam orasinya, Dr. Faizin secara tajam menyoroti wacana penghapusan prodi yang kini tengah hangat diperbincangkan. Ia menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak bisa diukur semata dari relevansi jangka pendek terhadap kebutuhan pasar. “Pendidikan memiliki dimensi kultural dan ideologis yang lebih luas, yang tidak selalu dapat diakomodasi oleh logika pasar. Refleksi ini adalah upaya mencegah pendidikan direduksi menjadi kepentingan pragmatis semata,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pendidikan yang unggul adalah hasil kerja kolektif, dan jika kebijakan pendidikan berdiri sendiri tanpa keterlibatan berbagai elemen, maka capaian pendidikan unggul tidak akan pernah muncul.Keriuhan di jembatan GKB 1 semakin dinamis saat para sivitas akademika mulai memadati “Pohon Harapan Pendidikan”. Pohon tersebut dipenuhi berbagai tulisan yang tidak hanya berisi harapan normatif, tetapi juga kritik tajam terhadap sistem pendidikan yang dirasa semakin administratif dan kehilangan substansinya. Salah satu suara kritis datang dari Erika Firdayanti, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, yang menuliskan aspirasinya secara lugas. “Pendidikan bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan lahirnya generasi penerus bangsa yang intelektual,” tulis Erika. Pesan tersebut merepresentasikan suara mahasiswa yang menolak hanya menjadi objek kebijakan, melainkan subjek aktif yang menuntut terjaganya esensi pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya. Peringatan Hardiknas di UMM tahun ini membuktikan bahwa kampus masih memegang teguh perannya sebagai arena dialektika yang sehat. Di tengah kuatnya arus pragmatisme dan efisiensi pasar, inisiatif ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa pendidikan harus selalu berpijak pada nilai, nalar kritis, dan kesadaran bersama untuk membangun masa depan bangsa yang berkelanjutan. (imm/udi)