BRIN apresiasi UMM bertransformasi menjadi “Innovation University”

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria menerima cinderamata dari REktor UMM, Prof Nazaruddin Malik setelah memberikan kuliah tamu bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM di Malang, Sabtu (9/5/2026). ANTARA/HO-UMM Malang Raya (ANTARA) – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria mengapresiasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sedang bertransformasi menjadi Innovation University. Arif Satria dalam kuliah tamu bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM di Malang, Sabtu, mengatakan sebagai perguruan tinggi swasta UMM yang paling agresif dan progresif dalam membangun kolaborasi konkret dengan dunia industri. “UMM itu saya lihat sebagai perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif soal berhubungan dengan industri. Sesuai dengan mottonya, Inovasi Mandiri dan Berdampak, ini menunjukkan tanda-tanda kuat bahwa UMM sedang bertransformasi menjadi Innovation University,” kata Arif di hadapan pimpinan dan puluhan peneliti UMM. Menurut dia, transisi menuju Innovation University menuntut institusi pendidikan untuk tidak sekadar berkutat pada penciptaan pengetahuan dasar (basic research) atau membangun advanced laboratorium. Kampus dituntut untuk memperkuat applied research dan industrial engagement. Langkah agresif UMM dinilai sangat tepat guna menjembatani fenomena Valley of Death (lembah kematian riset), sebuah kondisi di mana banyak hasil inovasi kampus layu sebelum berkembang, karena gagal diserap oleh kebutuhan riil pasar. Arif memaparkan urgensi riset di tengah ancaman krisis iklim, perubahan geopolitik dan disrupsi teknologi masif seperti Agentic AI dan transisi energi. Ia secara terbuka mengundang UMM untuk memaksimalkan fasilitas BRIN dan memanfaatkan skema pendanaan bersama. Ia juga secara spesifik menantang peneliti UMM untuk menggarap pengolahan critical mineral, seperti rare earth yang terkandung di dalam lumpur Lapindo, mengingat lokasi operasional UMM yang strategis di Jawa Timur. Merespons tantangan dan apresiasi BRIN tersebut, Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik menyatakan bahwa UMM sedang mengonsolidasikan seluruh potensinya menjadi sebuah ekosistem Solution Center of Excellence (CoE). Melalui terobosan micro-credential serta keberadaan unit strategis seperti Direktorat Saintek dan PT Hilirisasi Teknologi (PT Hintek), UMM berupaya keras mengawal inovasi mahasiswa dan dosen langsung ke sektor hilir. “Kita ingin mendalami produk yang sudah ada di pasar, memodifikasinya agar kualitasnya lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan industri. Saat ini, fondasi pertumbuhan ekonomi nasional masih rapuh, karena didominasi sektor konsumsi,” urai Nazaruddin. Ia menekankan jika perguruan tinggi berani menginisiasi inovasi yang menguatkan sektor riil, seperti industri pertanian, UMKM lokal, dan teknologi terapan, kampus dapat menjadi lokomotif penggerak tren ekonomi. “Katakanlah kita dorong dan naikkan 1-2 persen saja menuju struktur ekonomi investment based yang berbasis riset dan inovasi, bangsa ini pasti akan berubah pesat. Ke sanalah UMM melangkah,” ucapnya. Kolaborasi strategis antara UMM dan BRIN diharapkan menjadi akselerator agar riset tidak lagi sekadar menumpuk di perpustakaan sebagai literatur, melainkan terhilirisasi menjadi solusi ekonomi dan teknologi bagi kemajuan Indonesia. Pewarta: Endang Sukarelawati Editor : Vicki Febrianto

Pakar UKM Dorong Resiliensi Mental Generasi Z di Universitas Muhammadiyah Malang

Pakar Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Assoc Prof.  Nasrudin Subhi, saat memberikan kuliah tamu internasional bertajuk “From Risk to Resilience: Psychological Approaches in Youth Development” di Aula GKB IV lantai 4 Universitas Muhammadiyah Malang, Berita Jejak Fakta – Pakar dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Assoc Prof. Nasrudin Subhi, menekankan pentingnya pembangunan resiliensi mental bagi Generasi Z dalam kuliah tamu di Universitas Muhammadiyah Malang pada Jumat (8/5/2026). Langkah ini diperlukan guna menghadapi tantangan siber dan tekanan sosial yang kian kompleks. Dilansir dari Kabar24, fenomena generasi stroberi yang dianggap rapuh di bawah tekanan menjadi perhatian utama dalam diskusi bertajuk From Risk to Resilience tersebut. Nasrudin menyebutkan bahwa ancaman bagi pemuda saat ini telah bergeser dari sekadar tugas akademik menjadi masalah perundungan daring dan risiko penyalahgunaan zat. Faktor pola asuh keluarga modern yang cenderung memanjakan anak dinilai menjadi akar dari kerentanan mental tersebut. Kondisi ini sering kali memicu guncangan budaya atau culture shock yang berat ketika mahasiswa dituntut untuk hidup mandiri di lingkungan perkuliahan. Nasrudin memperingatkan bahwa kegagalan dalam mengelola krisis transisi ini dapat berakibat fatal bagi kesehatan jiwa. Dampak yang mungkin muncul meliputi depresi hingga perilaku agresif yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. “Ingat, kita harus memiliki sifat asertif. Artinya, Anda tahu kapan harus mengatakan ‘ya’ dan punya keberanian mutlak untuk menolak demi kebaikan diri sendiri,” kata Nasrudin Subhi, Pakar Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Selain kemampuan bersikap tegas, regulasi emosi yang stabil juga menjadi kunci pertahanan diri bagi mahasiswa. Nasrudin menyarankan para pemuda untuk lebih selektif dalam membangun jejaring dukungan sosial di lingkungan kampus. Dukungan sosial yang kuat harus terdiri dari kelompok pertemanan yang mampu memberikan teguran konstruktif saat menghadapi kesulitan, bukan sekadar teman saat senang. Penguatan mental ini diharapkan mampu membentuk karakter pemuda yang tangguh dalam menghadapi dinamika zaman.

BRIN Apresiasi Agresivitas UMM dalam Transformasi Menuju Innovation University

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan apresiasi tinggi kepada Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) atas langkah agresifnya bertransformasi menjadi Innovation University, menjembatani riset dengan kebutuhan industri dan pasar. (AntaraNews) merdeka.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan apresiasi terhadap Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah bertransformasi menjadi Innovation University. Apresiasi ini disampaikan langsung oleh Kepala BRIN, Arif Satria, dalam sebuah kuliah tamu yang bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM, Malang, pada Sabtu. Arif Satria menyoroti UMM sebagai perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif dalam membangun kolaborasi konkret dengan dunia industri. Keberanian UMM dalam menjalin kemitraan ini menjadi salah satu faktor utama pengakuan BRIN terhadap upaya transformasi tersebut. Transformasi UMM menjadi Innovation University dinilai sangat relevan dengan kebutuhan riset dan inovasi nasional. Langkah ini diharapkan dapat mengatasi berbagai tantangan global, termasuk krisis iklim, perubahan geopolitik, dan disrupsi teknologi masif yang sedang terjadi. BRIN Soroti Peran Agresif UMM dalam Inovasi Industri Kepala BRIN, Arif Satria, secara tegas menyatakan bahwa UMM merupakan perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif dalam menjalin hubungan dengan industri. Hal ini sejalan dengan motto UMM, yaitu “Inovasi Mandiri dan Berdampak,” yang menunjukkan komitmen kuat kampus dalam mengembangkan inovasi yang relevan. Menurut Arif, transisi menuju Innovation University menuntut institusi pendidikan untuk tidak hanya fokus pada penciptaan pengetahuan dasar atau pembangunan laboratorium canggih. Kampus harus memperkuat applied research dan industrial engagement agar hasil riset dapat memberikan dampak nyata. Pendekatan UMM yang agresif ini dinilai sangat tepat untuk menjembatani fenomena “Valley of Death” riset. Kondisi ini seringkali menyebabkan banyak hasil inovasi kampus tidak berkembang karena gagal diserap oleh kebutuhan riil pasar. Menjembatani “Valley of Death” Riset Nasional Langkah agresif UMM dalam mendekatkan riset dengan industri merupakan strategi krusial untuk mengatasi “Valley of Death.” Fenomena ini menggambarkan situasi di mana inovasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi seringkali tidak mampu mencapai tahap komersialisasi atau pemanfaatan di pasar. Arif Satria juga memaparkan urgensi riset di tengah berbagai ancaman global yang kompleks. Krisis iklim, perubahan geopolitik, dan disrupsi teknologi masif seperti Agentic AI serta transisi energi, menuntut adanya inovasi berkelanjutan dari dunia pendidikan dan riset. Menanggapi hal ini, BRIN secara terbuka mengundang UMM untuk memaksimalkan fasilitas yang dimiliki BRIN dan memanfaatkan skema pendanaan bersama. BRIN bahkan menantang peneliti UMM untuk menggarap pengolahan critical mineral, seperti rare earth yang terkandung di dalam lumpur Lapindo, mengingat lokasi strategis UMM di Jawa Timur. UMM Kembangkan Ekosistem Solusi Berbasis Inovasi Merespons apresiasi dan tantangan dari BRIN, Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, menyatakan bahwa UMM sedang mengonsolidasikan seluruh potensinya. Tujuannya adalah untuk membentuk sebuah ekosistem “Solution Center of Excellence” (CoE) yang terintegrasi. Melalui terobosan micro-credential dan keberadaan unit strategis seperti Direktorat Saintek dan PT Hilirisasi Teknologi (PT Hintek), UMM berupaya keras mengawal inovasi mahasiswa dan dosen langsung ke sektor hilir. Ini memastikan bahwa hasil riset tidak hanya berhenti di tataran akademis. Nazaruddin menjelaskan bahwa UMM ingin mendalami produk yang sudah ada di pasar, kemudian memodifikasinya agar kualitasnya lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan industri. Ia menyoroti bahwa fondasi pertumbuhan ekonomi nasional saat ini masih rapuh karena didominasi oleh sektor konsumsi. Visi UMM untuk Transformasi Ekonomi Nasional Rektor UMM menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai lokomotif penggerak tren ekonomi. Ini dapat terwujud jika kampus berani menginisiasi inovasi yang secara langsung menguatkan sektor riil, seperti industri pertanian, UMKM lokal, dan teknologi terapan. Nazaruddin optimis bahwa peningkatan struktur ekonomi nasional menuju investment based yang berbasis riset dan inovasi, meskipun hanya 1-2 persen, akan membawa perubahan pesat bagi bangsa. Ke sanalah UMM melangkah dengan berbagai program inovasinya. Kolaborasi strategis antara UMM dan BRIN diharapkan menjadi akselerator penting. Tujuannya agar riset tidak lagi hanya menumpuk di perpustakaan sebagai literatur, melainkan dapat terhilirisasi menjadi solusi ekonomi dan teknologi konkret bagi kemajuan Indonesia. Sumber: AntaraNews

Siswa Mamsaka Unjuk Inovasi Robotika: Dari Smart Home hingga Green House Otomatis

Suasana ujian proyek siswa kelas XI Program Information Technology Class Program (ITCP) Mamsaka, Sabtu (09/05/2026). (Ahmad Ribhan/PWMU.CO). pwmu.co –Suasana laboratorium dan ruang kelas di Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Karangasem (Mamsaka) Paciran mendadak berubah layaknya pusat riset teknologi mini. Kabel, sensor, lampu indikator, miniatur bangunan, hingga robot bergerak memenuhi meja ujian proyek siswa kelas XI Program Information Technology Class Program (ITCP). Dalam kegiatan tersebut, para siswa menampilkan berbagai karya robotika dan otomasi yang terancang secara mandiri. Hal ini merupakan bagian dari ujian proyek sekaligus persiapan sertifikasi teknologi tingkat dasar dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Aktif Masuki Teknologi Terapan Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pendidikan madrasah kini tidak hanya berfokus pada pembelajaran teori, tetapi juga mulai aktif memasuki dunia teknologi terapan dan rekayasa digital. Para siswa diajak memahami bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu kehidupan manusia, meningkatkan efisiensi, hingga menjadi solusi atas berbagai persoalan modern. Beragam proyek yang dipamerkan menunjukkan kreativitas sekaligus kemampuan teknis siswa dalam bidang elektronika, sensor, pemrograman, dan otomasi berbasis mikrokontroler seperti Arduino. Menariknya, tidak hanya siswa putra, para siswa putri juga tampak aktif dalam proses perancangan, perakitan, hingga pemrograman perangkat robotika tersebut. Adapun karya yang dipresentasikan meliputi smart home berbasis sensor, simulasi mitigasi gempa, penyiram tanaman otomatis, mobil pemadam kebakaran mini, tempat sampah otomatis, hingga green house pintar. Selain itu, terdapat pula proyek brankas digital, celengan pintar, kelas otomatis, serta kipas dan lampu otomatis berbasis sensor. Melalui pendekatan Project-Based Learning, siswa tidak hanya mempelajari teori pemrograman dan elektronika di dalam kelas. Tetapi langsung menerapkannya dalam bentuk solusi nyata. Mereka belajar menyusun logika sistem, memahami cara kerja sensor, memperbaiki kesalahan rangkaian, hingga melakukan pengujian alat secara bertahap. Berawal dari Persoalan Sederhana Menariknya, banyak proyek siswa lahir dari persoalan sederhana di lingkungan sekitar. Seperti upaya menghemat listrik, membantu penyiraman tanaman, meningkatkan keamanan rumah, hingga menciptakan simulasi mitigasi bencana. Dari situ, robotika tidak lagi dipandang sekadar teknologi hiburan, melainkan sarana membangun kepedulian sosial berbasis inovasi. Program ITCP sendiri menjadi bukti bahwa pendidikan madrasah mampu berjalan seiring dengan perkembangan teknologi modern tanpa meninggalkan nilai karakter dan etika. Para siswa diarahkan agar teknologi digunakan untuk memberi manfaat, membantu masyarakat, serta menjaga lingkungan. Ujian proyek tersebut juga menjadi langkah awal bagi siswa menghadapi tantangan industri digital, otomasi, dan kecerdasan buatan di masa depan. Selain itu, kegiatan ini merupakan persiapan menuju Ujian Sertifikasi D-1 dari UMM yang diharapkan mampu menambah nilai akademis sekaligus memperkuat kredibilitas lulusan program ITCP Mamsaka. *) Penulis : Ahmad Ribhan Editor : Danar Trivasya Fikri

Jelang Idul Adha, Pakar UMM Ingatkan Masyarakat: Pilih Hewan Kurban Jangan Hanya Terkecoh Ukuran

Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., pakar UMM yang mengimbau masyarakat teliti dan mengetahui ketentuan memilih hewan kurban untuk Idul Adha./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, masyarakat mulai disibukkan dengan perburuan hewan kurban. Namun, masyarakat diimbau oleh pakar UMM untuk lebih teliti dan tidak sekadar tergiur oleh ukuran tubuh hewan yang besar atau harga yang mahal. Kondisi kesehatan hewan menjadi faktor paling krusial agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi. Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., membagikan panduan bagi masyarakat untuk mendeteksi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik sederhana. Menurut Lili, langkah pertama yang bisa dilakukan pembeli adalah mengamati postur dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. “Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ungkap Prof Lili kepada Tim Humas UMM, 7 Mei lalu. Ia menegaskan bahwa hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat. Selain postur, kejernihan mata dan kebersihan kulit juga menjadi indikator penting. Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh. Kulit hewan juga harus dipastikan bersih dari penyakit seperti kudis atau scabies. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” imbuhnya. Lili juga meminta masyarakat mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks. Hewan yang terindikasi PMK umumnya menunjukkan gejala berupa keluarnya lendir berlebihan dari mulut, adanya luka pada gusi dan lidah, hingga radang kemerahan dan luka di sela kuku kaki. Kemudian, hewan yang terkena Antraks biasanya mengalami kejang-kejang yang kerap disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). Daging dari hewan ini sangat berbahaya jika dikonsumsi. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegasnya. Indikator kesehatan lainnya dapat dilihat dari nafsu makan hewan. Hewan yang sehat akan aktif makan dan terlihat bugar. Agar daging yang dihasilkan lebih banyak dan manfaatnya maksimal, ia menyarankan masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk. Tak lupa, usia hewan juga harus dipastikan sudah memenuhi ketentuan syariat, yakni minimal berusia dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. Ilustrasi sapi dan kambing sehat dan layak menjadi hewan kurban./dok. Istimewa Ilustrasi kambing sehat dan dapat menjadi hewan kurban./dok. Istimewa Lili mengingatkan sebuah prosedur yang sering terlewatkan, yakni masa istirahat hewan sebelum disembelih. Hewan ternak yang baru menempuh perjalanan jauh wajib diistirahatkan terlebih dahulu untuk menghindari stres. Kelelahan pada hewan dapat memicu sindrom DFD (Dark, Firm, Dry), sebuah kondisi yang membuat kualitas daging menurun drastis karena teksturnya berubah menjadi gelap, keras, dan kering. Melalui edukasi ini, Lili berharap masyarakat dapat menjadi pembeli yang cerdas. Sebab, ibadah kurban bukan sekadar kegiatan pemotongan hewan tahunan, melainkan wujud keikhlasan yang juga mengajarkan kepedulian terhadap kualitas pangan yang dikonsumsi bersama. *** Editor: YAN

BRIN: UMM adalah Kampus Swasta Paling Agresif-Progresif Berkolaborasi dengan Industri

Foto: Republika.co.id Kampus UMM di Tlogomas, Kota Malang, Jawa Timur. REPUBLIKA.CO.ID, MALANG — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Arif Satria memuji Universitas Muhammadiyah Malang yang terus bertransformasi menjadi universitas berbasis inovasi (innovation university). Menurut dia, kampus yang masyhur dikenal sebagai UMM itu adalah perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif dalam membangun kolaborasi konkret dengan dunia industri. “UMM itu saya lihat sebagai perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif soal berhubungan dengan industri. Sesuai dengan mottonya, ‘Inovasi Mandiri dan Berdampak,’ ini menunjukkan tanda-tanda kuat bahwa UMM sedang bertransformasi menjadi innovation university,” ujar Prof Arif dalam kuliah tamu bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM di Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (9/5/2026).

BRIN: UMM adalah kampus swasta paling agresif-progresif berkolaborasi dengan industri

Kampus UMM di Tlogomas, Kota Malang, Jawa Timur.© Republika.co.id REPUBLIKA.CO.ID, MALANG — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Arif Satria memuji Universitas Muhammadiyah Malang yang terus bertransformasi menjadi universitas berbasis inovasi (innovation university). Menurut dia, kampus yang masyhur dikenal sebagai UMM itu adalah perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif dalam membangun kolaborasi konkret dengan dunia industri. “UMM itu saya lihat sebagai perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif soal berhubungan dengan industri. Sesuai dengan mottonya, ‘Inovasi Mandiri dan Berdampak,’ ini menunjukkan tanda-tanda kuat bahwa UMM sedang bertransformasi menjadi innovation university,” ujar Prof Arif dalam kuliah tamu bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM di Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (9/5/2026). Transisi menuju innovation university mengharuskan sebuah institusi pendidikan untuk tidak sekadar berkutat pada penciptaan pengetahuan dasar (basic research) atau membangun advanced laboratorium. Kampus pun mesti memperkuat riset terapan (applied research) dan keterkaitan dengan dunia industri (industrial engagement). Arif mengapresiasi langkah agresif UMM yang dinilainya sangat tepat guna menjembatani fenomena valley of death (lembah kematian riset). Itu merujuk pada kondisi yang di dalamnya banyak hasil inovasi kampus “layu sebelum berkembang” karena gagal diserap oleh kebutuhan riil pasar. Arif memaparkan urgensi riset di tengah ancaman krisis iklim, perubahan geopolitik dan disrupsi teknologi masif, seperti agentic artificial intelligence dan transisi energi. Ia secara terbuka mengundang UMM untuk memaksimalkan fasilitas BRIN dan memanfaatkan skema pendanaan bersama. Secara spesifik, mantan rektor IPB University ini menantang para peneliti UMM untuk menggarap pengolahan critical mineral, seperti rare earth yang terkandung di dalam lumpur Lapindo. Lebih-lebih, lokasi operasional tersebut tidak begitu jauh dari kampus UMM, yakni sama-sama di Jawa Timur. Merespons tantangan dan apresiasi BRIN tersebut, Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik menyatakan, UMM sedang mengonsolidasikan seluruh potensinya menjadi sebuah ekosistem solution center of excellence (CoE).

BRIN apresiasi UMM bertransformasi menjadi “Innovation University”

Antara jatim – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria mengapresiasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sedang bertransformasi menjadi Innovation University. Arif Satria dalam kuliah tamu bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM di Malang, Sabtu, mengatakan sebagai perguruan tinggi swasta UMM yang paling agresif dan progresif dalam membangun kolaborasi konkret dengan dunia industri. “UMM itu saya lihat sebagai perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif soal berhubungan dengan industri. Sesuai dengan mottonya, Inovasi Mandiri dan Berdampak, ini menunjukkan tanda-tanda kuat bahwa UMM sedang bertransformasi menjadi Innovation University,” kata Arif di hadapan pimpinan dan puluhan peneliti UMM. Menurut dia, transisi menuju Innovation University menuntut institusi pendidikan untuk tidak sekadar berkutat pada penciptaan pengetahuan dasar (basic research) atau membangun advanced laboratorium. Kampus dituntut untuk memperkuat applied research dan industrial engagement. Langkah agresif UMM dinilai sangat tepat guna menjembatani fenomena Valley of Death (lembah kematian riset), sebuah kondisi di mana banyak hasil inovasi kampus layu sebelum berkembang, karena gagal diserap oleh kebutuhan riil pasar. Arif memaparkan urgensi riset di tengah ancaman krisis iklim, perubahan geopolitik dan disrupsi teknologi masif seperti Agentic AI dan transisi energi. Ia secara terbuka mengundang UMM untuk memaksimalkan fasilitas BRIN dan memanfaatkan skema pendanaan bersama. Ia juga secara spesifik menantang peneliti UMM untuk menggarap pengolahan critical mineral, seperti rare earth yang terkandung di dalam lumpur Lapindo, mengingat lokasi operasional UMM yang strategis di Jawa Timur. Merespons tantangan dan apresiasi BRIN tersebut, Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik menyatakan bahwa UMM sedang mengonsolidasikan seluruh potensinya menjadi sebuah ekosistem Solution Center of Excellence (CoE). Melalui terobosan micro-credential serta keberadaan unit strategis seperti Direktorat Saintek dan PT Hilirisasi Teknologi (PT Hintek), UMM berupaya keras mengawal inovasi mahasiswa dan dosen langsung ke sektor hilir. “Kita ingin mendalami produk yang sudah ada di pasar, memodifikasinya agar kualitasnya lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan industri. Saat ini, fondasi pertumbuhan ekonomi nasional masih rapuh, karena didominasi sektor konsumsi,” urai Nazaruddin. Ia menekankan jika perguruan tinggi berani menginisiasi inovasi yang menguatkan sektor riil, seperti industri pertanian, UMKM lokal, dan teknologi terapan, kampus dapat menjadi lokomotif penggerak tren ekonomi. “Katakanlah kita dorong dan naikkan 1-2 persen saja menuju struktur ekonomi investment based yang berbasis riset dan inovasi, bangsa ini pasti akan berubah pesat. Ke sanalah UMM melangkah,” ucapnya. Kolaborasi strategis antara UMM dan BRIN diharapkan menjadi akselerator agar riset tidak lagi sekadar menumpuk di perpustakaan sebagai literatur, melainkan terhilirisasi menjadi solusi ekonomi dan teknologi bagi kemajuan Indonesia. Pewarta: Endang Sukarelawati Editor : Vicki Febrianto

Psikologi UMM Kuliah Internasional: Hadirkan Pakar Universiti Kebangsaan Malaysia

MALANG POST – Generasi Z sering kali dilabeli sebagai generasi stroberi. Layaknya buah stroberi yang tampak segar dan memikat di luar, mereka dianggap sangat rentan memar dan hancur ketika mendapat sedikit saja tekanan. Stigma ini seolah menjadi bayang-bayang kelam yang terus mengikuti anak muda di tengah kerasnya arus tuntutan zaman. Menyadari fenomena krisis tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menolak untuk diam. Kampus inovasi ini berupaya menulis ulang narasi itu dengan tekad mencetak mahasiswa yang tangguh secara mental. Pada Jumat (8/5/2026), Fakultas Psikologi UMM secara khusus menggelar kuliah tamu internasional bertajuk “From Risk to Resilience: Psychological Approaches in Youth Development” di Aula GKB IV lantai 4. Menghadirkan pakar dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Assoc Prof. Dr. Nasrudin Subhi, forum ini membedah anatomi ketahanan jiwa di era digital. Dalam paparannya, ia menbedah realitas bahwa ancaman bagi mahasiswa saat ini telah bermutasi secara drastis. “Ancaman nyata yang dihadapi generasi muda sekarang bukan lagi sekadar setumpuk tugas makalah atau ujian akhir yang menegangkan. Kalian berhadapan dengan monster siber seperti perundungan online hingga jebakan penyalahgunaan zat berbahaya yang siap menggerus mental,” paparnya. Lebih jauh, ia menyoroti akar masalah yang kerap bermula dari pola asuh keluarga modern yang terlalu memanjakan anak. Akibatnya, saat remaja masuk ke dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian ekstrem, benturan realitas atau culture shock tidak dapat dielakkan. Jika krisis transisi ini dibiarkan tanpa kendali, dampaknya bisa sangat fatal, mulai dari memicu depresi hingga tindakan agresi. Untuk memutus rantai kerentanan itu, pria itu menawarkan penawar berupa resiliensi mental. Langkah esensial pertama adalah berani membangun sikap asertif di lingkungan pertemanan kampus. “Ingat, kita harus memiliki sifat asertif. Artinya, Anda tahu kapan harus mengatakan ‘ya’ dan punya keberanian mutlak untuk menolak demi kebaikan diri sendiri,” tegasnya. Selain regulasi emosi yang proporsional, pertahanan diri ini wajib ditopang oleh jejaring dukungan sosial (social support). “Jangan asal bergaul. Carilah teman yang tidak hanya hadir saat senang, tetapi kelompok sahabat yang bersedia menemani dan saling menegur di waktu susah,” pesannya. Langkah strategis menghadirkan akademisi mancanegara ini merupakan wujud nyata visi besar kampus. Ketua Program Studi Psikologi UMM, Hanif Akhtar, S.Psi., M.A., menuturkan kolaborasi dengan kampus dari negeri jiran tersebut dirancang agar mahasiswa siap menghadapi realitas zaman. “Mahasiswa saat ini hidup di tengah tantangan yang luar biasa kompleks. Oleh sebab itu, mereka perlu dibekali cara mengenali faktor risiko sekaligus membangun resiliensi agar dapat berkembang secara adaptif,” urainya. Pada akhirnya, UMM membuktikan komitmennya melalui langkah preventif ini. “Melalui forum kolaborasi ini, kami tidak hanya mentransfer pengetahuan teoritis semata, melainkan juga membekali mereka dengan jejaring wawasan global,” pungkasnya.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

UMM Perkuat Resiliensi Mental Mahasiswa lewat Kuliah Tamu Internasional

Kuliah Tamu Internasional UMM, Resiliensi Mahasiswa. (Istimewa/PWMU.CO) pwmu.co –Generasi Z kerap mendapat stigma sebagai generasi stroberi, yakni generasi yang terlihat kuat dan menarik dari luar, tetapi dianggap mudah rapuh ketika menghadapi tekanan. Di tengah derasnya tuntutan era digital, stereotip tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi anak muda masa kini. Melihat kondisi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berupaya membangun ketahanan mental mahasiswa melalui pendekatan psikologis yang adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman. Sebagai bentuk komitmen tersebut, Fakultas Psikologi UMM menggelar kuliah tamu internasional bertajuk “From Risk to Resilience: Psychological Approaches in Youth Development” di Aula GKB IV lantai 4 pada Jumat (8/5/2026). Kegiatan ini menghadirkan akademisi dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Nasrudin Subhi. Dalam pemaparannya, Nasrudin menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi mahasiswa saat ini tidak lagi sebatas tugas kuliah atau tekanan akademik. Menurutnya, generasi muda kini juga dihadapkan pada ancaman di ruang digital, seperti perundungan siber hingga penyalahgunaan zat berbahaya yang dapat memengaruhi kondisi mental. Ia juga menyoroti pola asuh modern yang dinilai terlalu protektif sehingga membuat sebagian remaja kesulitan beradaptasi ketika memasuki dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian. Kondisi tersebut dapat memicu culture shock dan berpotensi menimbulkan berbagai persoalan psikologis apabila tidak ditangani dengan baik. Untuk menghadapi tantangan tersebut, Nasrudin menekankan pentingnya membangun resiliensi mental sejak dini. Salah satu langkah utama yang perlu dimiliki mahasiswa adalah sikap asertif, yakni kemampuan untuk menentukan batasan dan berani mengatakan “tidak” demi kebaikan diri sendiri. Selain itu, ia menilai dukungan sosial atau social support memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental mahasiswa. Menurutnya, lingkungan pertemanan yang sehat dapat menjadi ruang saling menguatkan, terutama ketika menghadapi masa-masa sulit. Sementara itu, Ketua Program Studi Psikologi UMM, Hanif Akhtar, menyampaikan bahwa kolaborasi internasional tersebut merupakan bagian dari upaya kampus dalam membekali mahasiswa menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. “Mahasiswa saat ini hidup di tengah tantangan yang sangat dinamis. Karena itu, mereka perlu memahami faktor risiko sekaligus memiliki kemampuan resiliensi agar mampu berkembang secara adaptif,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, UMM tidak hanya menghadirkan wawasan akademik, tetapi juga memperluas perspektif mahasiswa melalui jejaring internasional. Forum tersebut diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk membangun mental yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman Editor : Zahrah Khairani Karim