Cerita Fahmi, Mahasiswa UMM Kalahkan Puluhan Ribu Pesaing Dalam Program Google Stundent Ambasador

Di tengah derasnya arus perkembangan Artificial Intelligence (AI), mahasiswa kini tidak lagi punya kemewahan untuk sekadar duduk manis sebagai penikmat teknologi. Mereka dituntut untuk bisa memahami, mengelola, sekaligus mengedukasi sekitarnya agar teknologi tidak hanya lewat sebagai tren sesaat. Tantangan besar inilah yang kini dipikul oleh Fahmi Daud Ibrahim, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2023 dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Prestasinya tak main-main: ia berhasil terpilih sebagai peserta fully funded inauguration Google Student Ambassador (GSA) 2026. GSA adalah program bergengsi dari Google untuk mencari mahasiswa dengan jiwa kepemimpinan, kecakapan komunikasi, dan visi kuat di bidang teknologi digital. Tingkat persaingannya pun luar biasa ketat. Dari 81.000 pendaftar di seluruh Indonesia, hanya 2.000 peserta yang lolos seleksi awal. Hebatnya, Fahmi menembus daftar 150 mahasiswa elit yang mendapat undangan dibiayai penuh untuk pelantikan di Jakarta, dan menjadi satu-satunya perwakilan UMM. “Kami jadi jembatan antara Google dan kampus. Jadi bukan cuma belajar teknologi, tapi juga mengedukasi mahasiswa lain tentang ekosistem Google, khususnya Gemini,” ujar Fahmi. Selama inagurasi di MGP Space Jakarta, ia tidak hanya mengikuti pelantikan, tetapi juga berkesempatan melakukan office tour ke kantor Google Indonesia, berjejaring, hingga mengikuti talkshow eksklusif membahas masa depan AI. Di balik euforia pencapaiannya, Fahmi memiliki pandangan kritis terhadap tren AI di kalangan mahasiswa. Ia menyoroti fenomena di mana AI kerap disalahgunakan sebatas “mesin penjawab instan”, yang memicu budaya copy-paste tanpa proses analitis. “AI seharusnya menjadi partner diskusi buat riset, brainstorming, atau ngembangin ide. Bukan menggantikan otak sepenuhnya,” tegasnya. Jalan menuju kursi GSA tentu bukan proses instan. Fahmi harus menaklukkan serangkaian seleksi ketat, mulai dari penilaian administrasi, portofolio, wawancara rekaman, hingga wawancara langsung yang membedah pemahamannya soal AI dan kepemimpinan. Sebagai penentu akhir, personal branding digitalnya diuji melalui screening media sosial dan LinkedIn. Untuk tahapan ini, Fahmi mengandalkan rekam jejak profesionalnya sebagai content creator dan tim Marketing Communication di Telkomsel. Bagi Google, rekam jejak digital sangat krusial karena tugas seorang GSA adalah mempengaruhi audiens melalui edukasi yang tepat sasaran. Kini, ia mengemban tanggung jawab besar untuk menyelesaikan misi mingguan seperti membuat konten edukasi tentang fitur mutakhir Google (Gemini Canvas dan Deep Research), serta menginisiasi berbagai acara teknologi di lingkungan kampus. Kunci menyeimbangkan tugas GSA, rutinitas kuliah, dan magang ada pada manajemen waktu. Fahmi rutin menyusun timeline mingguan yang sangat detail untuk memastikan tidak ada tanggung jawab yang terbengkalai. Baginya, capaian ini adalah sebuah pembuktian diri. “Menang dari 81 ribu orang bikin aku sadar kalau nggak ada yang nggak mungkin. Aku pengen mahasiswa lain terutama dari daerah juga percaya kalau kesempatan itu selalu terbuka lebar, asalkan kita berani mulai dan mau belajar hal baru,” pungkas Fahmi penuh inspirasi.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Sukses Daur Ulang 92% Sampah Organik, UMM Buktikan Diri Sebagai Pelopor Kampus Hijau

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan tajinya sebagai kampus inovasi mandiri yang senantiasa memberikan dampak dalam mewujudkan ekosistem berkelanjutan. Melalui tata kelola sirkular yang terintegrasi, Kampus Putih kini sukses menyulap sisa makanan menjadi nutrisi bagi seluruh ruang terbuka hijaunya. Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, MT., menegaskan bahwa siklus mandiri ini ibarat peribahasa sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, sebuah inovasi berdampak yang menyelesaikan dua masalah besar sekaligus. “Melalui program ini, UMM tidak hanya memangkas drastis jumlah sampah organik yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga memperkuat komitmen nyata terhadap kelestarian lingkungan,” tegas Sandi. Sebagai kampus inovasi mandiri, UMM membuktikan bahwa dengan tata kelola melingkar ini, urusan limbah kantin tuntas teratasi, dan di saat yang sama kebutuhan pupuk tanaman kampus pun beres terpenuhi dari dalam kampus itu sendiri. Keberhasilan ekosistem ini dibuktikan dengan angka yang fantastis. Pada tahun 2025, total volume sampah organik yang dihasilkan di seluruh fasilitas UMM tercatat mencapai 438 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 402,9 ton atau setara dengan 92% berhasil diselamatkan dan diolah secara optimal melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus III. “Kuncinya ada pada implementasi program vermikompos yang menjadi jantung dari upaya pengelolaan sampah berkelanjutan kami,” paparnya. Bagaimana keajaiban ekologis ini bekerja? Siklus ramah lingkungan tersebut bermula langsung dari meja makan mahasiswa. Sampah organik berupa sisa makanan, sayur, dan buah yang terkumpul dari kantin, taman, serta kebun edukasi dipilah secara ketat lalu dicacah hingga berukuran 2–3 sentimeter. Material cacahan ini kemudian memasuki tahap fermentasi, di mana sampah dicampur dengan bahan karbon seperti sekam padi dan diatur kelembapannya pada kisaran 60–70%. Setelah difermentasi di dalam reaktor tertutup selama 7–14 hari, hasil olahan tersebut dipindahkan ke unit modular. Di sinilah proses vermikompos terjadi, di mana olahan sampah organik tadi disajikan sebagai hidangan utama yang akan diurai dan dimakan oleh cacing tanah jenis Eisenia fetida hingga menjadi pupuk yang kaya nutrisi. Proses masif ini didukung oleh fasilitas dan mesin mutakhir hasil pengembangan kampus, mulai dari mesin pencacah berkapasitas 200 kg/jam, saringan kompos 100 kg/jam, hingga granulator 100 kg/jam yang dikelola oleh staf profesional. Pasca 40–60 hari, kompos organik berkualitas tinggi siap dipanen untuk menyuburkan taman kampus, kebun edukasi, dan lahan pertanian mitra. Tak berhenti pada kompos, limbah spesifik kantin seperti kulit sayur dan buah juga didaur ulang menjadi cairan kaya manfaat, yakni eko-enzim. Melalui program edukatif yang berjalan setiap hari di UMM Edupark, kampus ini sanggup memproduksi lebih dari 5 liter cairan eko-enzim per harinya. Kesuksesan mengolah 92% sampah organik ini menjadi bukti nyata bahwa operasional kampus berskala besar dapat berjalan harmonis dengan alam. Sebagai kampus inovasi mandiri yang berdampak lead, capaian ini menegaskan posisi UMM di garda terdepan dalam aksi iklim. Melalui inovasi dan kemandirian ini, UMM tidak sekadar merawat lingkungan kampusnya sendiri, melainkan tengah memimpin dengan membangun cetak biru (blueprint) inspiratif bagi institusi pendidikan lain di Indonesia untuk bersama-sama melangkah menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Tak Semua Hewan Gemuk Layak Kurban, Ini Penjelasan Pakar UMM

Ilustrasi sapi kurban di Kota Malang pada 2026. (KOMPAS.com/ Putu Ayu Pratama Sugiyo) MALANG, KOMPAS.com — Menjelang Idul Adha 2026, masyarakat diingatkan agar tidak memilih hewan kurban hanya berdasarkan ukuran tubuh atau harga mahal, tetapi juga memastikan kondisi kesehatannya. Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang, Prof Dr drh Lili Zalizar, mengatakan masih banyak masyarakat menilai kualitas hewan kurban hanya dari tampilan fisik. Padahal, menurut dia, ada sejumlah indikator penting yang harus diperhatikan sebelum membeli hewan kurban, termasuk faktor kesehatan. “Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujar Lili, Senin (11/5/2026). Lili menjelaskan, hewan yang mengalami cacat fisik seperti pincang tidak memenuhi syarat sebagai hewan kurban sesuai ketentuan syariat. Kasus Influenza Meningkat di Tengah Cuaca Panas, Berikut Penjelasan Ahli Artikel Kompas.id Selain itu, calon pembeli juga perlu memperhatikan kondisi mata hewan. Menurut dia, mata hewan yang sehat tampak jernih dan tidak memiliki selaput putih atau keruh yang menandakan adanya gangguan penglihatan. Baca juga: Waspada 78.000 Warga Banten Terjangkit Pneumonia, Dinkes Ingatkan Deteksi Dini Gejala Batuk Waspadai PMK dan Antraks Lili juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kondisi kulit hewan dan memastikan bebas dari penyakit seperti kudis atau scabies. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” tambahnya. Ia meminta masyarakat waspada terhadap penyakit menular berbahaya pada ternak seperti Penyakit Mulut dan Kuku serta Antraks. Baca juga: Suhu Arab Saudi Tembus 40 Derajat, CJH Jember Diminta Bawa Ini Menurut dia, hewan yang terindikasi PMK biasanya mengeluarkan lendir berlebihan dari mulut, mengalami luka pada gusi dan lidah, serta luka kemerahan di sela kuku kaki. Sementara itu, hewan yang terkena antraks umumnya menunjukkan gejala kejang disertai pendarahan dari hidung atau anus. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegasnya. Baca juga: Sapi Jumbo 1 Ton Lebih Milik Peternak Sukoharjo Dibeli Prabowo untuk Kurban Perhatikan Usia dan Kondisi Hewan Selain kondisi fisik, masyarakat juga diminta memperhatikan nafsu makan dan kebugaran hewan. Lili mengatakan, hewan yang sehat umumnya aktif makan dan bergerak lincah. Menurut dia, hewan berbadan gemuk lebih disarankan karena menghasilkan daging lebih banyak sehingga manfaat kurban dapat dirasakan lebih luas. Baca juga: Cara Mencegah Hantavirus Menurut Epidemiolog, Bisa Dimulai dari Rumah Ia juga mengingatkan bahwa usia hewan harus memenuhi syariat, yakni minimal dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. Di sisi lain, Lili menyoroti pentingnya masa istirahat bagi hewan yang baru menempuh perjalanan jauh sebelum disembelih. Menurut dia, hewan yang kelelahan rentan mengalami stres yang dapat menurunkan kualitas daging. “Kelelahan pada hewan dapat memicu sindrom DFD atau dark, firm, dry. Kondisi ini membuat tekstur daging menjadi gelap, keras, dan kering,” pungkasnya.
Jangan Terkecoh Ukuran, Simak Tips Pakar Memilih Hewan Kurban

Ilustrasi Pexels metrotvnews – Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Lili Zalizar, mengimbau masyarakat untuk lebih teliti. Kondisi kesehatan hewan menjadi faktor paling krusial agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi. Mengutip laman umm.ac.id, Lili membagikan panduan bagi masyarakat untuk mendeteksi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik sederhana. Amati postur hewan Lili menerangkan, langkah pertama yang bisa dilakukan pembeli adalah mengamati postur dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang. Ia menegaskan bahwa hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat. Selain postur, kejernihan mata dan kebersihan kulit juga menjadi indikator penting. “Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh,” terangnya. Cek keberasihan dan kesehatan Lili melanjutkan, kulit hewan juga harus dipastikan bersih dari penyakit seperti kudis atau skabies. Pilih hewan kurban dengan kulitnya mulus. Ia juga meminta masyarakat mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks. Hewan yang terindikasi PMK umumnya menunjukkan gejala berupa keluarnya lendir berlebihan dari mulut, adanya luka pada gusi dan lidah, hingga radang kemerahan dan luka di sela kuku kaki. Sementara itu, hewan yang terkena Antraks biasanya mengalami kejang-kejang yang kerap disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). Daging dari hewan ini sangat berbahaya jika dikonsumsi. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” katanya. Indikator kesehatan lainnya dapat dilihat dari nafsu makan hewan. Hewan yang sehat akan aktif makan dan terlihat bugar. Agar daging yang dihasilkan lebih banyak dan manfaatnya maksimal, ia menyarankan masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk. “Tak lupa, usia hewan juga harus dipastikan sudah memenuhi ketentuan syariat, yakni minimal berusia dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba,” tuturnya. Ilustrasi Pexels Pastikan masa istirahat hewan Di akhir penjelasannya, Lili mengingatkan sebuah prosedur yang sering terlewatkan, yakni masa istirahat hewan sebelum disembelih. Hewan ternak yang baru menempuh perjalanan jauh wajib diistirahatkan terlebih dahulu untuk menghindari stres. Kelelahan pada hewan dapat memicu sindrom Dark, Firm, Dry (DFD), sebuah kondisi. Kondisi tersebut membuat kualitas daging menurun drastis karena teksturnya berubah menjadi gelap, keras, dan kering. Melalui edukasi ini, ia berharap masyarakat dapat menjadi pembeli yang cerdas. Sebab, ibadah kurban bukan sekadar kegiatan pemotongan hewan tahunan, melainkan wujud keikhlasan yang juga mengajarkan kepedulian terhadap kualitas pangan yang dikonsumsi bersama.
Mengapa Generasi Z Perlu Resiliensi Mental untuk Hadapi Tantangan 2026

selfd.di – Generasi Z saat ini sering mendapatkan label sebagai “generasi stroberi”. Istilah ini menggambarkan sosok yang tampak memikat dari luar, namun sangat rentan hancur saat menerima tekanan. Pakar dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Assoc Prof. Nasrudin Subhi, menyoroti fenomena ini dalam kuliah tamu internasional di Universitas Muhammadiyah Malang, Jumat (8/5/2026). Ia menekankan perlunya resiliensi mental agar generasi muda memiliki mental baja dalam menghadapi tantangan hidup. Ancaman Nyata bagi Generasi Muda Saat Ini Tantangan yang dihadapi kaum muda saat ini telah bergeser jauh dari sekadar tugas akademik. Mahasiswa kini berada dalam kepungan risiko yang jauh lebih kompleks dan berbahaya. Ancaman tersebut meliputi perundungan online atau cyberbullying yang intens hingga jebakan penyalahgunaan zat berbahaya. Hal-hal ini menjadi “monster siber” yang siap menggerus kesehatan mental anak muda di tahun 2026. Akar Masalah dan Dampak Psikologis Pola asuh keluarga modern yang cenderung terlalu memanjakan anak kerap menjadi akar masalah utama. Dampaknya baru terasa saat remaja memasuki dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian tinggi. Benturan realitas atau culture shock menjadi tantangan yang sulit dihindari oleh mahasiswa baru. Jika krisis transisi ini tidak dikelola dengan baik, dampaknya bisa sangat fatal bagi kondisi psikologis mereka. Perbandingan Dampak Krisis Transisi Aspek Kondisi Tanpa Resiliensi Kondisi dengan Resiliensi Respon Tekanan Rentan hancur/depresi Mampu beradaptasi Penyelesaian Masalah Cenderung agresif Menggunakan sikap asertif Kesehatan Mental Menurun drastis Tetap terjaga dan stabil Langkah Membangun Resiliensi Mental Untuk memutus rantai kerentanan, setiap individu perlu membangun pertahanan diri yang kokoh. Resiliensi mental menjadi kunci utama agar generasi muda mampu bertahan di tengah tuntutan zaman. Baca Juga Sikap Mensesneg Prasetyo Hadi Terkait Upaya Penurunan Eskalasi Konflik Timur Tengah Berikut adalah langkah praktis untuk membangun resiliensi menurut Assoc Prof. Nasrudin Subhi: Membangun Sikap Asertif: Anda harus berani mengatakan “ya” atau “tidak” secara tegas demi kebaikan diri sendiri. Regulasi Emosi: Melatih kemampuan untuk mengatur emosi secara proporsional agar tidak mudah meledak saat menghadapi tekanan. Selektif dalam Bergaul: Membangun jejaring dukungan sosial (social support) yang sehat di lingkungan kampus. Mencari Sahabat Sejati: Pilihlah kelompok pertemanan yang tidak hanya hadir saat senang, tetapi juga bersedia menegur saat Anda berada dalam kesulitan. Kesimpulan Resiliensi mental bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi Gen Z di tahun 2026. Dengan sikap asertif dan dukungan sosial yang tepat, generasi muda dapat bertransformasi menjadi individu bermental baja. Upaya ini menjadi kunci penting untuk menangkis dampak depresi maupun tindakan agresi akibat tekanan lingkungan. Perubahan pola pikir dan keberanian untuk bersikap tegas akan menentukan keberhasilan transisi masa muda.
Gen Z Disebut “Generasi Stroberi”, Pakar UKM Tekankan Pentingnya Resiliensi Mental Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Gen Z Disebut “Generasi Stroberi”, Pakar UKM Tekankan Pentingnya Resiliensi Mental”, Klik selengkapnya di sini: https://kabar24.bisnis.com/read/20260509/79/1972605/gen-z-disebut-generasi-stroberi-pakar-ukm-tekankan-pentingnya-resiliensi-mental. Penulis : Choirul Anam – Bisnis.com Download aplikasi Bisnis.com terbaru untuk akses lebih cepat dan nyaman di sini: Android: http://bit.ly/AppsBisniscomPS iOS: http://bit.ly/AppsBisniscomIOS

Pakar Universiti Kebangsaan Malaysia, Assoc Prof. Nasrudin Subhi, saat memberikan kuliah tamu internasional bertajuk “From Risk to Resilience: Psychological Approaches in Youth Development” di Aula GKB IV lantai 4 Universitas Muhammadiyah Malang, Jumat (8/5/2026)./Dok. Istimewa Bisnis.com, MALANG — Generasi Z sering kali dilabeli sebagai generasi stroberi. Layaknya buah stroberi yang tampak segar dan memikat di luar, mereka dianggap sangat rentan memar dan hancur ketika mendapat sedikit saja tekanan sehingga perlu penawar berupa resiliensi mental agar dapat bermental baja menghadapi tantangan. Pakar Universiti Kebangsaan Malaysia, Assoc Prof. Nasrudin Subhi, mengatakan ancaman nyata yang dihadapi generasi muda sekarang bukan lagi sekadar setumpuk tugas makalah atau ujian akhir yang menegangkan. “Kalian berhadapan dengan monster siber seperti perundungan online hingga jebakan penyalahgunaan zat berbahaya yang siap menggerus mental,” paparnya saat memberikan kuliah tamu internasional bertajuk “From Risk to Resilience: Psychological Approaches in Youth Development” di Aula GKB IV lantai 4 Universitas Muhammadiyah Malang, Jumat (8/5/2026). Dia menyoroti akar masalah yang kerap bermula dari pola asuh keluarga modern yang terlalu memanjakan anak. Akibatnya, saat remaja masuk ke dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian ekstrem, benturan realitas atau culture shock tidak dapat dielakkan. Jika krisis transisi ini dibiarkan tanpa kendali, dampaknya bisa sangat fatal, mulai dari memicu depresi hingga tindakan agresi. Untuk memutus rantai kerentanan itu, dia menawarkan penawar berupa resiliensi mental. Langkah esensial pertama adalah berani membangun sikap asertif di lingkungan pertemanan kampus. “Ingat, kita harus memiliki sifat asertif. Artinya, Anda tahu kapan harus mengatakan ‘ya’ dan punya keberanian mutlak untuk menolak demi kebaikan diri sendiri,” tegasnya. Selain regulasi emosi yang proporsional, pertahanan diri ini wajib ditopang oleh jejaring dukungan sosial (social support). “Jangan asal bergaul. Carilah teman yang tidak hanya hadir saat senang, tetapi kelompok sahabat yang bersedia menemani dan saling menegur di waktu susah,” pesannya.
Pakar UKM: Resiliensi Mental Jadi ‘Senjata’ Generasi Z Hadapi Tekanan Zaman

Pakar Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Assoc Prof. Nasrudin Subhi, saat memberikan kuliah tamu internasional di Universitas Muhammadiyah Malang/int Halopedeka.com – Generasi Z saat ini kerap dijuluki sebagai “Generasi Stroberi“—tampak menarik di luar namun dianggap rapuh saat menghadapi tekanan. Menanggapi fenomena ini, pakar dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Assoc. Prof. Nasrudin Subhi, menekankan pentingnya pembangunan resiliensi sebagai penawar utama agar kaum muda memiliki mental baja. Dalam kuliah tamu internasional bertajuk From Risk to Resilience: Psychological Approaches in Youth Development di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (8/5/2026), Nasrudin menjelaskan bahwa tantangan pemuda masa kini telah bergeser. Monster Siber dan Pola Asuh Menurut Nasrudin, ancaman bagi mahasiswa bukan lagi sekadar beban akademik. “Kalian berhadapan dengan monster siber seperti perundungan online hingga jebakan penyalahgunaan zat berbahaya yang siap menggerus mental,” paparnya di hadapan peserta di Aula GKB IV. Ia mengidentifikasi bahwa salah satu akar kerentanan ini berasal dari pola asuh keluarga modern yang cenderung terlalu memanjakan anak. Ketika remaja ini memasuki dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian penuh, mereka sering mengalami benturan realitas atau culture shock. Jika tidak ditangani, krisis transisi ini berisiko memicu depresi hingga tindakan agresif. Membangun Benteng Pertahanan Diri Untuk memutus rantai kerentanan tersebut, Nasrudin menawarkan strategi resiliensi mental melalui dua langkah utama: Sikap Asertif: Mahasiswa harus berani menetapkan batasan dalam pergaulan. “Ingat, kita harus memiliki sifat asertif. Artinya, Anda tahu kapan harus mengatakan ‘ya’ dan punya keberanian mutlak untuk menolak demi kebaikan diri sendiri,” tegasnya. Dukungan Sosial yang Berkualitas: Regulasi emosi perlu didukung oleh lingkungan pertemanan yang sehat. Nasrudin mengingatkan agar mahasiswa selektif dalam memilih lingkaran sosial. “Jangan asal bergaul. Carilah teman yang tidak hanya hadir saat senang, tetapi kelompok sahabat yang bersedia menemani dan saling menegur di waktu susah,” pungkasnya. Melalui kombinasi ketegasan diri dan jejaring sosial yang suportif, diharapkan Generasi Z mampu bertransformasi dari sosok yang rapuh menjadi pribadi yang tangguh menghadapi dinamika zaman.
Pakar Ingatkan Bahaya PMK dan Antraks Saat Memilih Hewan Kurban untuk Iduladha

dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang, Lili Zalizar. (Sumber: UMM) RIAUCERDAS.COM – Menjelang Hari Raya Iduladha, masyarakat diingatkan untuk mewaspadai penyakit berbahaya pada hewan kurban seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks. Hewan yang terindikasi penyakit tersebut tidak layak dijadikan kurban karena dapat membahayakan kesehatan dan menurunkan kualitas daging. Peringatan itu disampaikan dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Lili Zalizar, dalam edukasi mengenai pemilihan hewan kurban sehat menjelang Iduladha. Menurut Lili, masyarakat sebaiknya tidak hanya terpaku pada ukuran tubuh hewan atau harga yang mahal. Kondisi kesehatan hewan justru menjadi aspek utama agar ibadah kurban sesuai syariat dan aman dikonsumsi. “Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujarnya dikutip dari laman UMM, Sabtu (9/5/2026). Ia menjelaskan, hewan yang mengalami cacat fisik seperti pincang tidak diperbolehkan untuk kurban. Selain itu, pembeli juga perlu memperhatikan kondisi mata dan kulit hewan. Hewan kurban yang sehat ditandai dengan mata jernih serta tidak mengalami gangguan penglihatan seperti mata keruh atau muncul selaput putih. Kulit hewan juga harus bersih dan bebas dari penyakit kulit seperti kudis atau scabies. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” tambahnya. Lili juga mengingatkan masyarakat agar mengenali gejala PMK pada hewan. Penyakit tersebut biasanya ditandai keluarnya lendir berlebihan dari mulut, luka pada gusi dan lidah, serta adanya radang dan luka di sela kuku kaki. Sementara itu, hewan yang terpapar Antraks umumnya mengalami kejang-kejang disertai pendarahan dari hidung atau anus. Menurutnya, daging dari hewan tersebut sangat berbahaya jika dikonsumsi. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” kata dia. Selain kondisi fisik, kesehatan hewan juga bisa dilihat dari nafsu makan dan tingkat kebugarannya. Hewan yang aktif makan dan berbadan gemuk dinilai lebih baik karena menghasilkan daging lebih banyak. Ia juga mengingatkan pentingnya memastikan usia hewan telah memenuhi syariat, yakni minimal dua tahun untuk sapi dan satu tahun bagi kambing atau domba. Di akhir keterangannya, Lili menyoroti pentingnya masa istirahat hewan sebelum penyembelihan, terutama bagi ternak yang baru menempuh perjalanan jauh. Menurut Lili, hewan yang stres dan kelelahan dapat mengalami sindrom DFD (Dark, Firm, Dry) yang membuat kualitas daging menjadi gelap, keras, dan kering. Melalui edukasi tersebut, Lili berharap masyarakat semakin teliti memilih hewan kurban agar ibadah yang dijalankan tidak hanya sah secara agama, tetapi juga menjamin kualitas pangan yang dikonsumsi bersama. (*)
Pakar UKM: Resiliensi Mental Jadi ‘Senjata’ Generasi Z Hadapi Tekanan Zaman

Pakar Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Assoc Prof. Nasrudin Subhi, saat memberikan kuliah tamu internasional di Universitas Muhammadiyah Malang/int Halopedeka.com – Generasi Z saat ini kerap dijuluki sebagai “Generasi Stroberi”—tampak menarik di luar namun dianggap rapuh saat menghadapi tekanan. Menanggapi fenomena ini, pakar dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Assoc. Prof. Nasrudin Subhi, menekankan pentingnya pembangunan resiliensi sebagai penawar utama agar kaum muda memiliki mental baja. Dalam kuliah tamu internasional bertajuk From Risk to Resilience: Psychological Approaches in Youth Development di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (8/5/2026), Nasrudin menjelaskan bahwa tantangan pemuda masa kini telah bergeser. Monster Siber dan Pola Asuh Menurut Nasrudin, ancaman bagi mahasiswa bukan lagi sekadar beban akademik. “Kalian berhadapan dengan monster siber seperti perundungan online hingga jebakan penyalahgunaan zat berbahaya yang siap menggerus mental,” paparnya di hadapan peserta di Aula GKB IV. Ia mengidentifikasi bahwa salah satu akar kerentanan ini berasal dari pola asuh keluarga modern yang cenderung terlalu memanjakan anak. Ketika remaja ini memasuki dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian penuh, mereka sering mengalami benturan realitas atau culture shock. Jika tidak ditangani, krisis transisi ini berisiko memicu depresi hingga tindakan agresif. Membangun Benteng Pertahanan Diri Untuk memutus rantai kerentanan tersebut, Nasrudin menawarkan strategi resiliensi mental melalui dua langkah utama: Sikap Asertif: Mahasiswa harus berani menetapkan batasan dalam pergaulan. “Ingat, kita harus memiliki sifat asertif. Artinya, Anda tahu kapan harus mengatakan ‘ya’ dan punya keberanian mutlak untuk menolak demi kebaikan diri sendiri,” tegasnya. Dukungan Sosial yang Berkualitas: Regulasi emosi perlu didukung oleh lingkungan pertemanan yang sehat. Nasrudin mengingatkan agar mahasiswa selektif dalam memilih lingkaran sosial. “Jangan asal bergaul. Carilah teman yang tidak hanya hadir saat senang, tetapi kelompok sahabat yang bersedia menemani dan saling menegur di waktu susah,” pungkasnya. Melalui kombinasi ketegasan diri dan jejaring sosial yang suportif, diharapkan Generasi Z mampu bertransformasi dari sosok yang rapuh menjadi pribadi yang tangguh menghadapi dinamika zaman.
Pakar UKM Menilai Pola Asuh Memanjakan Anak Memicu Munculnya Generasi Strawberry

Generasi Z disebut sebagai generasi strawberry. (FOTO: Canva) MALANG, Times Indonesia – Generasi-Z (Gen-Z) kerap dilabeli sebagai generasi strawberry. Layaknya buah strawberry yang tampak menarik dan segar dari luar, tetapi buah tersebut mudah hancur apabila mendapatkan sedikit tekanan. Begitulah masyarakat menilai generasi ini. Stigma ini menjadi bayang-bayang kelam bagi generasi muda saat ini di tengah tuntutan zaman yang semakin keras, terutama bagi mahasiswa. Pakar Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Assoc Prof. Dr. Nasrudin Subhi menjelaskan bahwa akar permasalahan ini terletak pada pola asuh orang tua yang terlalu memanjakan anak sejak mereka masih kecil. Advertisement Akibatnya, ketika anak dewasa dan menghadapi dunia yang menuntut kemandirian, mereka akan kaget dengan bentura realitas yang berbanding terbalik tersebut. Apabila hal tersebut dibiarkan dan tirak terkontrol, maka dapat memberikan efek fatal seperti memicu depresi hingga tindakan agresi. “Pola pengasuhan orang tua modern yang terlalu memanjakan anak dapat berakibat anak akan culture shock menghadapi kehidupan dewasa yang menuntut kemandirian,” ujarnya melalui forum kuliah tamu internasional di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (8/5/2026). Ia juga menambahkan bahwa ancaman generasi muda saat ini meningkat drastis daripada generasi sebelumnya. Menurutnya, tantangan digital dan arus informasi yang masif juga menjadi ancaman apabila tidak terkelola dengan baik. “Ancaman generasi muda, terutama mahasiswa saat ini bukan sekadar setumpuk tugas, lebih dari itu ada monster siber lainnya,” tambahnya. Lanjutnya, monster siber adalah ancaman akibat perkembangan arus digital saat ini. Seperti perundungan online hingga jebakan penyalahgunaan narkoba. Advertisement Atas berbagai tantangan tersebut, Prof. Nasrudin menyarankan untuk membentuk “resiliensi mental” dengan membangun asertif, atau sikap berani dan tahu kapan mengatakan “ya” dan “tidak” di lingkungan kampus. Seain itu, pertahanan diri yang dibarengi dengan dukungan sosial (sosial support) juga menjadi hal krusial. Seperti mencari lingkungan pertemanan yang tidak hanya ada ketika senang, tetapi juga mau menemani ketika susah. “Cari lingkungan pertemanan yang tidak hanya ada ketika senang, tetapi mau menemani ketika susah dan bisa mengingatkan ketika salah,” imbuhnya. Ketua Program Studi Psikologi UMM, Hanif Akhtar, S.Psi., M.A., menambahkan, bahwa tantangan kompleks yang dihadapi generasi muda saat ini memerlukan pembekalan khusus sebagai langkah preventif. “Mereka perlu dibekali cara mengenali faktor risiko dan membangun resiliensi mental supaya dapat berkembang secara adaptif,” ucapnya. (*)