Daur Ulang 92% Sampah Organik, UMM Buktikan Sebagai Pelopor Kampus Hijau
Pakar UMM Ungkap Ciri Hewan Kurban Layak dan Aman Dikonsumsi

Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., (Foto : UMM) Pangannews.id – Menjelang Hari Raya Iduladha, aktivitas jual beli hewan kurban mulai meningkat di berbagai daerah. Di tengah tingginya permintaan, masyarakat diingatkan agar tidak hanya melihat ukuran tubuh hewan saat membeli sapi atau kambing kurban. Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., mengatakan kondisi kesehatan hewan harus menjadi perhatian utama karena berkaitan dengan kelayakan kurban dan keamanan daging untuk dikonsumsi. Menurut Prof. Lili, pemeriksaan sederhana bisa dilakukan langsung oleh calon pembeli sebelum memutuskan membeli hewan kurban. “Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” kata Prof. Lili. Ia menjelaskan, hewan yang mengalami pincang atau cacat fisik tidak memenuhi syarat sebagai hewan kurban. Selain postur tubuh, masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi mata dan kulit hewan. Mata yang keruh atau terdapat selaput putih dapat menjadi tanda gangguan kesehatan. Sementara pada bagian kulit, hewan sebaiknya terbebas dari kudis maupun scabies. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” ujarnya. Lili juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai gejala penyakit menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan antraks. Gejala PMK pada hewan biasanya ditandai keluarnya lendir berlebihan dari mulut, luka pada gusi dan lidah, hingga luka di sela kuku kaki. Sedangkan hewan yang terjangkit antraks umumnya mengalami kejang disertai pendarahan dari hidung atau anus. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” katanya. Menurutnya, hewan sehat biasanya memiliki nafsu makan baik dan terlihat aktif. Hewan berbadan gemuk juga lebih disarankan karena menghasilkan daging lebih banyak. Meski demikian, usia hewan tetap harus memenuhi ketentuan syariat, yakni minimal dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. Selain soal kesehatan, Prof. Lili menyoroti pentingnya masa istirahat bagi hewan yang baru menempuh perjalanan jauh sebelum disembelih. Ia menjelaskan, hewan yang kelelahan rentan mengalami sindrom DFD (Dark, Firm, Dry) yang membuat kualitas daging menurun karena teksturnya menjadi gelap, keras, dan kering. Melalui edukasi tersebut, masyarakat diharapkan lebih teliti saat memilih hewan kurban sehingga ibadah yang dijalankan tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga menghasilkan daging yang aman dan berkualitas. Editor : Adi Permana
UMM Olah 92 Persen Sampah Organik Menjadi Pupuk dan Eko-Enzim Kampus

UMM vermikompos, Universitas Muhammadiyah Malang memperkuat komitmen lingkungan melalui pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular. (Foto:umm.ac.id) SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Universitas Muhammadiyah Malang memperkuat komitmen lingkungan melalui pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular. Kampus tersebut berhasil mengolah sisa makanan menjadi pupuk dan eko-enzim untuk mendukung ruang terbuka hijau di lingkungan kampus. Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, menjelaskan bahwa program tersebut mampu mengurangi sampah organik sekaligus memenuhi kebutuhan pupuk secara mandiri. Karena itu, UMM terus mengembangkan sistem pengelolaan limbah berkelanjutan. UMM Terapkan Sistem Pengolahan Sampah Berkelanjutan UMM mencatat total sampah organik mencapai 438 ton sepanjang 2025. Namun, kampus berhasil mengolah 402,9 ton atau sekitar 92 persen melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus III. Menurut Sandi, program vermikompos menjadi inti pengelolaan sampah organik di lingkungan kampus. Melalui sistem tersebut, UMM mengubah limbah makanan menjadi pupuk bernutrisi tinggi. “Melalui program ini, UMM tidak hanya memangkas drastis jumlah sampah organik yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga memperkuat komitmen nyata terhadap kelestarian lingkungan,” ujar Sandi Wahyudiono. Sampah Kantin Diolah Menjadi Vermikompos Proses pengolahan dimulai dari pemilahan sampah organik di kantin, taman, dan kebun edukasi. Petugas kemudian mencacah sisa makanan, sayur, dan buah hingga berukuran kecil. Selanjutnya, petugas mencampur material tersebut dengan sekam padi dan mengatur tingkat kelembapan. Setelah itu, tim melakukan fermentasi selama 7 hingga 14 hari di dalam reaktor tertutup. Hasil fermentasi kemudian masuk ke unit modular vermikompos. Pada tahap ini, cacing tanah jenis Eisenia fetida mengurai material organik hingga berubah menjadi pupuk kaya nutrisi. Teknologi Kampus Dukung Pengolahan Sampah Organik UMM menggunakan berbagai mesin pengolahan hasil pengembangan internal kampus. Fasilitas tersebut meliputi mesin pencacah berkapasitas 200 kilogram per jam, saringan kompos, dan granulator. Selain itu, staf profesional mengelola seluruh proses pengolahan di TPST Kampus III. Setelah 40 hingga 60 hari, kompos organik siap digunakan untuk taman kampus, kebun edukasi, dan lahan pertanian mitra. UMM Produksi Eko-Enzim dari Limbah Sayur UMM juga mengolah kulit sayur dan buah menjadi cairan eko-enzim. Kampus memproduksi lebih dari lima liter eko-enzim setiap hari melalui program edukasi di UMM Edupark. Program tersebut memperkuat langkah UMM dalam membangun kampus hijau berkelanjutan. Selain itu, sistem pengolahan mandiri ini juga menjadi contoh pengelolaan sampah ramah lingkungan bagi institusi pendidikan lain. Keberhasilan mengolah 92 persen sampah organik menegaskan posisi UMM dalam aksi lingkungan dan keberlanjutan. Melalui inovasi tersebut, UMM ingin membangun model pengelolaan kampus hijau yang dapat diterapkan lebih luas di Indonesia.
UMM Daur Ulang 92 Persen Sampah Organik: Bukti Pelopor Kampus Hijau

MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan tajinya sebagai kampus inovasi mandiri yang senantiasa memberikan dampak dalam mewujudkan ekosistem berkelanjutan. Melalui tata kelola sirkular yang terintegrasi, Kampus Putih kini sukses menyulap sisa makanan menjadi nutrisi bagi seluruh ruang terbuka hijaunya. Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, MT., menegaskan bahwa siklus mandiri ini ibarat peribahasa sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, sebuah inovasi berdampak yang menyelesaikan dua masalah besar sekaligus. “Melalui program ini, UMM tidak hanya memangkas drastis jumlah sampah organik yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga memperkuat komitmen nyata terhadap kelestarian lingkungan,” tegas Sandi. Sebagai kampus inovasi mandiri, UMM membuktikan bahwa dengan tata kelola melingkar ini, urusan limbah kantin tuntas teratasi, dan di saat yang sama kebutuhan pupuk tanaman kampus pun beres terpenuhi dari dalam kampus itu sendiri. Keberhasilan ekosistem ini dibuktikan dengan angka yang fantastis. Pada tahun 2025, total volume sampah organik yang dihasilkan di seluruh fasilitas UMM tercatat mencapai 438 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 402,9 ton atau setara dengan 92% berhasil diselamatkan dan diolah secara optimal melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus III. “Kuncinya ada pada implementasi program vermikompos yang menjadi jantung dari upaya pengelolaan sampah berkelanjutan kami,” paparnya. Bagaimana keajaiban ekologis ini bekerja? Siklus ramah lingkungan tersebut bermula langsung dari meja makan mahasiswa. Sampah organik berupa sisa makanan, sayur, dan buah yang terkumpul dari kantin, taman, serta kebun edukasi dipilah secara ketat lalu dicacah hingga berukuran 2–3 sentimeter. Material cacahan ini kemudian memasuki tahap fermentasi, di mana sampah dicampur dengan bahan karbon seperti sekam padi dan diatur kelembapannya pada kisaran 60–70%. Setelah difermentasi di dalam reaktor tertutup selama 7–14 hari, hasil olahan tersebut dipindahkan ke unit modular. Di sinilah proses vermikompos terjadi, di mana olahan sampah organik tadi disajikan sebagai hidangan utama yang akan diurai dan dimakan oleh cacing tanah jenis Eisenia fetida hingga menjadi pupuk yang kaya nutrisi. Proses masif ini didukung oleh fasilitas dan mesin mutakhir hasil pengembangan kampus, mulai dari mesin pencacah berkapasitas 200 kg/jam, saringan kompos 100 kg/jam, hingga granulator 100 kg/jam yang dikelola oleh staf profesional. Pasca 40–60 hari, kompos organik berkualitas tinggi siap dipanen untuk menyuburkan taman kampus, kebun edukasi, dan lahan pertanian mitra. Tak berhenti pada kompos, limbah spesifik kantin seperti kulit sayur dan buah juga didaur ulang menjadi cairan kaya manfaat, yakni eko-enzim. Melalui program edukatif yang berjalan setiap hari di UMM Edupark, kampus ini sanggup memproduksi lebih dari 5 liter cairan eko-enzim per harinya. Kesuksesan mengolah 92% sampah organik ini menjadi bukti nyata bahwa operasional kampus berskala besar dapat berjalan harmonis dengan alam. Sebagai kampus inovasi mandiri yang berdampak lead, capaian ini menegaskan posisi UMM di garda terdepan dalam aksi iklim. Melalui inovasi dan kemandirian ini, UMM tidak sekadar merawat lingkungan kampusnya sendiri, melainkan tengah memimpin dengan membangun cetak biru (blueprint) inspiratif bagi institusi pendidikan lain di Indonesia untuk bersama-sama melangkah menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Sukses Ujian dan Pameran Proyek, Siswa Mamsaka Dikukuhkan di UMM

kegiatan ujian sekaligus pameran proyek siswa Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Karangasem Paciran. Foto: Istimewa/PWMU.CO pwmu.co –Suasana bangga dan haru menyelimuti rangkaian kegiatan ujian sekaligus pameran proyek siswa Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Karangasem Paciran. Setelah melewati proses panjang penuh perjuangan, para siswa akhirnya resmi dikukuhkan dalam kegiatan yang berlangsung pada Senin (11/5/2026) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 Universitas Muhammadiyah Malang. Kegiatan tersebut menjadi puncak proses pembelajaran berbasis proyek yang selama beberapa waktu terakhir dijalani para siswa. Berbagai karya inovatif ditampilkan dalam pameran proyek yang dipadati pengunjung. Banyak mahasiswa tertarik menyaksikan hasil kreativitas siswa yang dipamerkan dengan konsep menarik dan edukatif. Program proyek tersebut merupakan bentuk kerja sama antara Mamsaka dan UMM. Melalui program itu, siswa mendapatkan pendampingan dalam pengembangan keterampilan teknologi dan inovasi berbasis proyek. Siswa yang berhasil menyelesaikan seluruh tahapan program juga memperoleh sertifikat setara Diploma 1 (D1) sebagai bentuk pengakuan atas kompetensi yang telah dicapai. Sejak pagi, para siswa tampak sibuk mempersiapkan proyek masing-masing. Mereka dengan antusias menjelaskan fungsi, proses pembuatan, hingga manfaat proyek yang dikerjakan. Tidak sedikit pengunjung yang berhenti cukup lama untuk melihat langsung cara kerja proyek berbasis teknologi yang ditampilkan para siswa. Salah satu proyek yang menarik perhatian pengunjung adalah alat pendeteksi suasana hati melalui sidik jari dan wajah. Proyek tersebut memadukan teknologi sensor sidik jari dengan pembacaan ekspresi wajah menggunakan sistem digital sederhana. Saat seseorang mencoba alat tersebut, sistem akan membaca data yang ditangkap dan menampilkan hasil analisis suasana hati pengguna, seperti senang, sedih, tegang, atau rileks. Selain itu, berbagai proyek lain juga tidak kalah menarik. Ada robot soccer yang mampu bergerak dan menggiring bola secara otomatis, alat pengatur suhu ruangan otomatis, hingga sistem lampu otomatis yang dapat menyala dan mati sesuai kondisi sekitar. Para siswa juga menampilkan proyek brankas digital dengan sistem keamanan modern serta alat pendeteksi banjir yang dirancang untuk memberikan peringatan dini ketika ketinggian air meningkat. Proyek-proyek tersebut menjadi pusat perhatian pengunjung. Banyak tamu mencoba langsung alat-alat karya siswa Mamsaka sambil mendengarkan penjelasan mengenai proses pembuatan dan cara kerjanya. Inovasi yang dipamerkan menunjukkan kemampuan siswa dalam menggabungkan kreativitas dengan pemanfaatan teknologi berbasis Arduino dan pemrograman sederhana. Di balik suksesnya kegiatan itu, tersimpan perjuangan panjang para siswa. Selama persiapan ujian proyek, mereka rela menghabiskan waktu hingga malam hari untuk menyempurnakan hasil karya masing-masing. Ruang kelas bahkan tetap ramai hingga malam karena para siswa terus melakukan revisi, pengujian alat, dan penyempurnaan presentasi. Guru pembimbing proyek, Fitnah Amaluddin S.T., M.T., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar ujian akhir, tetapi juga wadah untuk membentuk mental kreatif, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama. Menurutnya, siswa tidak hanya belajar teori di dalam kelas, tetapi juga dituntut mampu menghadirkan solusi nyata melalui karya yang dibuat. “Anak-anak menunjukkan semangat luar biasa. Mereka belajar menghadapi tantangan, mencari solusi saat alat mengalami kendala, hingga berani mempresentasikan hasil karya di depan banyak orang,” ujarnya. Prosesi pengukuhan di GKB 4 UMM menjadi momen paling berkesan dalam rangkaian kegiatan tersebut. Dengan penuh kebanggaan, para siswa mengikuti prosesi sebagai tanda telah menyelesaikan tahapan ujian dan pameran proyek dengan baik. Kepala Mamsaka berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal penting bagi siswa dalam menghadapi jenjang pendidikan maupun dunia kerja di masa depan. (*) *) Penulis : Wahidul Qohar | Editor : Wildan Nanda Rahmatullah
UMM Perkuat Kelas Dunia, Pakar Thailand Kupas Penanganan Gagal Ginjal Kronis

Ketua Prodi Keperawatan UMM, Nur Aini, M.Kep., Ph.D ajak Mahasiswa Keperawatan dan Profesi Ners FIKES UMM memahami tantangan penyakit tidak menular (PTM), khususnya gagal ginjal kronis, yang kini terus mengalami peningkatan di Indonesia.(Ist) Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang melalui Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) terus memperkuat kualitas pendidikan kesehatan bertaraf internasional. Salah satunya dengan menggelar kuliah tamu internasional bertema penanganan gagal ginjal kronis yang menghadirkan akademisi dan praktisi kesehatan dari dalam maupun luar negeri. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid, daring dan luring, itu mendapat antusiasme tinggi dari sekitar 350 peserta yang terdiri dari mahasiswa Keperawatan dan Profesi Ners FIKES UMM. Dalam forum tersebut, mahasiswa diajak memahami tantangan penyakit tidak menular (PTM), khususnya gagal ginjal kronis, yang kini terus mengalami peningkatan di Indonesia. Ketua Prodi Keperawatan UMM, Nur Aini, M.Kep., Ph.D., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya kampus dalam menyiapkan lulusan berkompetensi global sekaligus responsif terhadap persoalan kesehatan masyarakat. “Kasus penyakit tidak menular, terutama gagal ginjal kronis, meningkat cukup signifikan. Karena itu mahasiswa perlu dibekali wawasan yang luas, tidak hanya teori di kelas tetapi juga pengalaman dan perspektif dari para ahli,” ujarnya, Senin (11/5/2026). Menurutnya, menghadirkan pemateri internasional menjadi langkah strategis untuk membuka cakrawala mahasiswa terhadap perkembangan dunia keperawatan global. Dengan begitu, lulusan UMM diharapkan mampu bersaing di tingkat internasional. Kuliah tamu tersebut menghadirkan Ketua Pengurus Pusat Ikatan Perawat Dialisis Indonesia (IPDI), Syamsul Bahri, M.Kep., serta akademisi asal Thailand, Dr. Surachal Maninet. Keduanya membahas tema “Chronic Kidney Disease: A Continuum of Care from Lifestyle to Dialysis Strengthening the Role of Nursing Care.” Materi yang disampaikan menyoroti pentingnya pendampingan pasien gagal ginjal kronis secara berkelanjutan, mulai dari perubahan gaya hidup sehat hingga tindakan dialisis. Para peserta juga diajak memahami pendekatan keperawatan modern yang mengedepankan kualitas hidup pasien. Selain memperkaya pengetahuan klinis, kegiatan ini juga menanamkan nilai empati dan pendekatan humanis dalam pelayanan kesehatan. Nur Aini menilai seorang perawat tidak cukup hanya memiliki kemampuan medis, tetapi juga harus mampu memberikan dukungan psikologis kepada pasien. “Mahasiswa harus memiliki kepedulian dan ketulusan saat merawat pasien. Pendekatan humanis sangat penting agar pasien merasa lebih nyaman dan kualitas hidupnya meningkat,” katanya. Melalui kuliah tamu internasional ini, Prodi Keperawatan UMM berharap dapat terus mencetak tenaga kesehatan profesional yang unggul secara kompetensi, berwawasan global, sekaligus memiliki kepedulian sosial tinggi terhadap masyarakat.(Djoko W)
UMM Berhasil Sulap 92 Persen Sampah Organik Jadi Pupuk Kompos

Kampus UMM menyulap 92 persen sampah organik menjadi pupuk kompos yang bermanfat bagi lingkungan. Foto: dok.UMM. MAKLUMAT – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat inovasi mandiri untuk memberi dampak terhadap ekosistem berkelanjutan. Salah satunya menyulap sampah sisa makanan menjadi nutrisi bagi seluruh ruang terbuka hijau kampus. Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, menegaskan bahwa siklus mandiri ini ibarat peribahasa, ‘sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui’. “Peribahasa ini tak lepas dari upaya kampus memangkas sampah organik ke tempat pembuangan akhir, sekaligus memperkuat komitmen terhadap kelestarian lingkungan,” kata Sandi, sapaannya. Proses Sederhana, Manfaat Luar Biasa Ekonomi sirkular, atau tata kelola melingkar diawali dari limbah kantin. Seluruh sisa makanan diolah menjadi pupuk organik yang saat ini permintaannya terus meningkat. Di satu sisi, pihak kampsus berusaha memenuhi pupuk organik guna mendukung kelestarian lingkungan. Proses yang dilakukan cukup sederhana. Seluruh sampah sisa makanan yang meliputi sayur, buah, ikan, dan lainnya dari kantin dipilah kemudian dicacah berukuran 2–3 sentimeter. Material cacahan ini dimasukkan ke tahap fermentasi, di mana sampah dicampur dengan bahan karbon seperti sekam padi dan diatur kelembapannya pada kisaran 60–70 persen. Upaya Pangkas Sampah Organik “Setelah difermentasi di dalam reaktor tertutup selama 7–14 hari, hasil olahan dipindahkan ke unit modular,” jelasnya. Baca Juga Keren! UMM Masuk Deretan Kampus Terbaik Asia Di sinilah proses vermikompos terjadi, di mana olahan sampah organik akan diurai dan dimakan cacing tanah jenis eisenia fetida. Selanjutnya menjadi pupuk yang kaya nutrisi. Keberhasilan ini dibuktikan dengan memangkas volume sampah organik kampus. Pada 2025, produksi sampah organik mencapai 438 ton. Sebanyak 402,9 ton atau setara 92 persen sampah, diubah menjadi pupuk organik di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus III. Parameter Keberhasilan Program “Kuncinya ada pada implementasi program vermikompos yang menjadi jantung dari upaya pengelolaan sampah berkelanjutan kami,” lanjutnya. Tak berhenti pada kompos. Limbah spesifik kantin seperti kulit sayur dan buah juga didaur ulang menjadi eko-enzim. Melalui program edukatif yang berjalan setiap hari di UMM Edupark, kampus sanggup memproduksi lebih dari 5 liter cairan eko-enzim per harinya. Kesuksesan mengolah 92 persen sampah organik ini menjadi bukti bahwa operasional kampus berskala besar dapat berjalan harmonis dengan alam. Sebagai kampus inovasi mandiri yang berdampak lead, capaian ini menegaskan posisi UMM di garda terdepan dalam aksi iklim.
Dari Sisa Makanan ke Taman Kampus: UMM Sulap 402 Ton Sampah Jadi Emas Hijau, Daur Ulang 92% Limbah Organik

sisa nasi, kulit buah, dan sayur dari piring mahasiswa berubah jadi pupuk Kompos.(Foto: ist) Malangpariwara.com – Bayangkan sisa nasi, kulit buah, dan sayur dari piring mahasiswa berubah jadi pupuk yang menyuburkan seluruh taman kampus. Itulah yang terjadi di Universitas Muhammadiyah Malang. UMM resmi membuktikan diri sebagai pelopor kampus hijau dengan mendaur ulang 92% sampah organik sepanjang 2025. Di sinilah pasukan cacing berpesta, mengurai limbah jadi pupuk organik premium dalam 40–60 hari.(Foto:ist) Dari total 438 ton limbah makanan, sayur, dan buah, sebanyak 402,9 ton berhasil “diselamatkan” dari TPA dan disulap jadi kompos kaya nutrisi lewat Tempat Pengolahan Sampah Terpadu di Kampus III. “Ini ibarat sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Urusan limbah kantin beres, kebutuhan pupuk taman kampus juga terpenuhi dari dalam kampus sendiri,” tegas Sandi Wahyudiono, M.T., Ketua Tim GreenMetric UMM. *Dapur Ekologis: Cacing Jadi ‘Karyawan’ Terbaik UMM* Rahasia di balik angka 92% itu bernama vermikompos. Jantung dari ekosistem sirkular UMM ini bekerja dengan ‘mempekerjakan’ ribuan cacing tanah Eisenia fetida. Siklusnya dimulai dari meja makan: sampah kantin dipilah, dicacah 2–3 cm, lalu difermentasi 7–14 hari bersama sekam padi di reaktor tertutup. Setelah matang, ‘hidangan’ itu masuk ke unit modular. Di sinilah pasukan cacing berpesta, mengurai limbah jadi pupuk organik premium dalam 40–60 hari. Mesin cacah sisa makanan hasil karya mahasiswa UMM.(Foto:ist) Proses masif ini ditopang mesin buatan kampus: pencacah 200 kg/jam, saringan 100 kg/jam, hingga granulator. Semua dikelola staf profesional. Hasilnya? Kompos siap pakai untuk taman, kebun edukasi, sampai lahan pertanian mitra. *Tak Cuma Kompos, UMM Juga ‘Panen’ Eko-Enzim 5 Liter Sehari* UMM tak berhenti di kompos. Kulit sayur dan buah dari kantin diolah jadi eko-enzim lewat program edukatif harian di UMM Edupark. Produksinya tembus 5 liter per hari – cairan serbaguna untuk pembersih alami hingga pupuk cair. “UMM tidak hanya memangkas drastis sampah ke TPA, tapi memberi bukti nyata bahwa kampus besar bisa hidup harmonis dengan alam,” tambah Sandi. Capaian ini menempatkan Kampus Putih di garda depan aksi iklim. Lebih dari sekadar merawat lingkungan sendiri, UMM sedang menulis blueprint bagi kampus lain di Indonesia: bahwa kemandirian dan inovasi bisa mengubah limbah jadi berkah.(Djoko W) Kampus putih Universitas Muhammadiyah Malang
Inovasi aplikasi AI deteksi anemia lewat foto mata tanpa tusuk jarum

ANTARA – Universitas Muhammadiyah Malang mengembangkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan atau AI yang mampu mendeteksi anemia hanya melalui foto konjungtiva mata menggunakan ponsel. Aplikasi dengan akurasi mencapai 86 persen ini diharapkan dapat mempermudah deteksi dini anemia tanpa prosedur tusuk jarum yang menimbulkan rasa sakit dan kecemasan pada pasien. (Achmad Saif Hajarani/Rayyan/Hilary Pasulu)
Kantongi Lisensi HKI, PPG UMM Resmi Lahirkan Empat Model Pembelajaran Inovatif

Upaya peningkatan kualitas pendidikan terus dibuktikan melalui dedikasi para calon guru masa depan. Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025 berhasil menorehkan prestasi akademik dengan melahirkan empat karya inovatif berupa model pembelajaran. Keempat karya strategis yang dirancang khusus untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini tersebut telah resmi mengantongi lisensi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang ditetapkan secara serentak pada 15 April lalu. Dosen PPG UMM, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa meskipun luaran visual dari karya-karya ini disajikan dalam bentuk desain poster, esensi utama dan bobot keilmuannya terletak pada rancangan model pendekatan pendidikan di baliknya. Terdapat empat model spesifik yang telah diakui oleh HKI. Pertama adalah Model Profiling Kunci Pembelajaran Adaptif dan Inklusif, yang disusun untuk merespons keragaman karakter dan kebutuhan siswa di dalam kelas. Kedua, Model Simfoni Kelas Harmoni melalui Deep Learning, sebuah metode yang bertujuan menyelaraskan iklim belajar secara komprehensif. Ketiga, Model Pendekatan Holistik Pembelajaran E-learning, yang dirancang agar sangat relevan dengan masifnya arus digitalisasi pendidikan saat ini. Terakhir, Model Transformasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2024 dengan Memanusiakan dan Membangun Potensi Siswa, yang menjadi wujud kontribusi nyata terhadap visi besar pendidikan nasional. Lebih lanjut, Arina memaparkan bahwa pengembangan dan perolehan HKI atas keempat model ini dilatarbelakangi oleh visi yang kuat untuk mencetak pendidik profesional dengan kompetensi global. Tujuan utamanya adalah memastikan lulusan program profesi ini siap menghadapi dinamika kelas modern. “Tujuannya karena calon pendidik di program profesi guru itu harus bisa melahirkan kompetensi 4C, yaitu creative (kreatif), collaborative (kolaboratif), communication (komunikasi), dan critical thinking (berpikir kritis),” jelasnya merinci luaran kompetensi yang disasar. Dengan merancang model-model pembelajaran tersebut, para mahasiswa didorong agar tidak sekadar mampu mentransfer ilmu, tetapi juga sanggup menciptakan ekosistem belajar yang adaptif. Pencapaian dari angkatan 2025 ini menjadi bukti bahwa program PPG UMM secara konsisten berhasil menjadi inkubator bagi lahirnya inovator pendidikan yang siap mewujudkan pembelajaran yang memanusiakan siswa.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman