UMM Rilis Rincian Biaya Kuliah Semua Jurusan Tahun Akademik 2026/2027

Universitas Muhammadiyah Malang termasuk salah satu kampus dengan jurusan S1 Hubungan Internasional terbaik di Indonesia. (Dok. UMM) Babelinsight – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah merilis rincian biaya kuliah untuk seluruh program studi pada tahun akademik 2026/2027. Komponen pendanaan di kampus swasta ini menerapkan sistem BSS atau Biaya Studi Semester, seperti dilansir dari Edukasi. Bagi mahasiswa baru jalur reguler atau gelombang II, terdapat penyesuaian berupa kenaikan BSS pada komponen DPP sebesar kurang lebih 10 persen yang wajib dilunasi satu kali saat proses daftar ulang. Skema Biaya Studi Semester mencakup beberapa poin pengeluaran, yaitu dana daftar ulang, SPP, DPP, serta fasilitas layanan IT dan perpustakaan. Mahasiswa dapat mengangsur BSS sebanyak tiga kali dalam satu semester, dengan rincian pembayaran pada saat KRS, menjelang UTS, dan sebelum pelaksanaan UAS. Pembayaran untuk keperluan KKN, penyusunan skripsi, pelaksanaan yudisium, hingga prosesi wisuda diatur secara terpisah di luar komponen BSS utama tersebut. Berikut adalah rincian Biaya Studi Semester untuk semester 1 (reguler I dan II), semester 2-3, serta semester 4-8 di berbagai jurusan UMM: Daftar Biaya Studi Semester (BSS) Kampus UMM Tahun Akademik 2026/2027 Jurusan / Program Studi Semester 1 (Reguler I) Semester 1 (Reguler II) Semester 2-3 (per Semester) Semester 4-8 (per Semester) Rp 31,1 juta Rp 34,6 juta Rp 29,1 juta Rp 16,5 juta Rp 103.350.000 Rp 123.350.000 Rp 101,7 juta Rp 27,3 juta Rp 6,6 juta Rp 7,6 juta Rp 7,2 juta Rp 5,1 juta Rp 6,950 juta Rp 7,950 juta Rp 7,2 juta Rp 5,1 juta Rp 7,2 juta Rp 8,7 juta Rp 7,8 juta Rp 5,550 juta Rp 10.050.000 Rp 13,550 juta Rp 10,650 juta Rp 6,3 juta Rp 8,250 juta Rp 11,2 juta Rp 8,850 juta Rp 5,850 juta Rp 6,750 juta Rp 8,250 juta Rp 7,350 juta Rp 5,1 juta Rp 6 juta Rp 8` juta Rp 6,6 juta Rp 5,1 juta Rp 6,750 juta Rp 8,750 juta Rp 7,350 juta Rp 5,1 juta Rp 7,050 juta Rp 9,550 juta Rp 7,650 juta Rp 5,1 juta Rp 9,450 juta Rp 11,3 juta Rp 10,050 juta Rp 5,850 juta Rp 9,450 juta Rp 12,3 juta Rp 10,050 juta Rp 5,850 juta Rp 10,5 juta Rp 14 juta Rp 11,1 juta Rp 6,3 juta Rp 11,55 juta Rp 14,7 juta Rp 12,150 juta Rp 7,5 juta Untuk jurusan Akuntansi, BSS semester 1 kelompok reguler I ditetapkan senilai Rp 9,6 juta dan reguler II sebesar Rp 11,9 juta. Selanjutnya, beban studi Akuntansi pada semester 2 hingga 7 adalah Rp 10,2 juta, yang kemudian menurun menjadi Rp 5,850 juta pada semester akhir. Pada program studi Ekonomi Pembangunan, mahasiswa dikenakan biaya semester pertama sebesar Rp 8,7 juta untuk reguler I dan Rp 11,3 juta untuk reguler II. Biaya operasional semester 2 sampai 7 untuk Ekonomi Pembangunan mencapai Rp 9,3 juta, dan menyisakan Rp 5,850 juta pada semester 8. Sektor pendidikan di bidang Peternakan menetapkan tarif BSS semester awal senilai Rp 7,8 juta untuk reguler I serta Rp 9,2 juta bagi kelas reguler II. Also Read Rieke Diah Pitaloka Lunasi Biaya Pendidikan Anak-Anak Fanny Fadillah Fase studi semester 2 hingga 7 di jurusan Peternakan membutuhkan dana Rp 8,4 juta, sedangkan masa akhir semester 8 dipatok Rp 5,625 juta. Bagi peminat jurusan Psikologi dan Hukum, universitas menetapkan BSS semester 1 reguler I Rp 10.050.000 dan reguler II Rp 13,2 juta. Masa perkuliahan lanjutan semester 2 sampai 7 di kedua rumpun ilmu tersebut memerlukan Rp 10,650 juta, diikuti biaya semester 8 sebesar Rp 6,3 juta. Pada rumpun kesehatan, Ilmu Keperawatan memasang tarif semester 1 reguler I senilai Rp 17,350 juta dan kelas reguler II mencapai Rp 19,6 juta. BSS Keperawatan untuk masa semester 2 hingga 7 berada pada angka Rp 16,050 juta, dan menyusut menjadi Rp 12,3 juta di semester pamungkas. Terakhir, program studi Fisioterapi menentukan besaran biaya semester pertama sebesar Rp 15,7 juta untuk reguler I dan Rp 17,7 juta bagi reguler II.
Mengenang Jejak Malik Fadjar, Tokoh UMM Penggagas Hari Buku Nasional

IBTimes.ID – Di tengah derasnya arus informasi instan dan dominasi kecerdasan buatan (AI) yang kian memengaruhi pola berpikir masyarakat modern, peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei kembali mengingatkan publik pada sosok Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. Tokoh pendidikan Muhammadiyah sekaligus mantan Menteri Pendidikan Nasional itu dikenal sebagai penggagas Hari Buku Nasional yang lahir pada 2002 silam. Bagi Malik Fadjar, buku bukan sekadar media bacaan, melainkan fondasi penting untuk menjaga daya kritis dan membangun peradaban bangsa. Pemikiran tersebut dinilai semakin relevan di tengah fenomena menurunnya budaya membaca dan melemahnya kemampuan berpikir kritis masyarakat di era digital. Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa Malik Fadjar melihat persoalan bangsa bukan hanya rendahnya minat baca, tetapi juga melemahnya tradisi berpikir masyarakat. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkapnya. Menurut Faizin, keputusan Malik Fadjar mencetuskan Hari Buku Nasional merupakan langkah strategis untuk membangun kesadaran publik bahwa literasi adalah bagian penting dari pembangunan bangsa dan demokrasi. Baca Juga: Menghidupkan Obrolan Ndakik-Ndakik Literasi sebagai Benteng Akal Sehat Bangsa Faizin menambahkan, Malik Fadjar meyakini bahwa masyarakat yang memiliki tradisi membaca akan tumbuh menjadi pribadi yang rasional, toleran, dan kritis dalam menghadapi berbagai persoalan sosial. “Sebagai pencetus, beliau senantiasa melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof. Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional, sehingga literasi benar-benar menjelma menjadi fondasi kokoh bagi demokrasi,” tegasnya. Kesadaran itulah yang kemudian mendorong Malik Fadjar mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di Kota Malang. Ia bahkan menghibahkan ribuan koleksi buku pribadinya agar dapat diakses masyarakat luas sebagai bagian dari upaya menjaga budaya literasi tetap hidup di tengah perubahan zaman. “Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC. Beliau ingin ekosistem literasi ini terus terjaga dan menjadi nyala semangat yang tak boleh ditinggalkan oleh generasi muda,” kenang Faizin. Kini, RBC A. Malik Fadjar Institute UMM terus melanjutkan warisan pemikiran tersebut melalui berbagai program literasi dan pendidikan publik, seperti Ruang Gagasan, riset pengembangan mutu pendidikan, pendampingan lembaga pendidikan, hingga perpustakaan keliling Mobil Bakti Untuk Bangsa. Peringatan Hari Buku Nasional tahun ini pun menjadi momentum untuk kembali menghidupkan budaya membaca sebagai benteng menjaga akal sehat bangsa di tengah tantangan era post-truth dan banjir informasi digital. (NS)
Tekan Emisi Gas Rumah Kaca, Living Lab Dosen UMM Jadikan Alam laboratorium Karbon
Mengenang Kiprah Malik Fadjar, Tokoh UMM Pencetus Hari Buku Nasional

Abdul Malik Fadjar, Pencetus Hari Buku Nasional (Suara ‘Aisyiyah.id) Malang, Suara ‘Aisyiyah – Di tengah gempuran Artificial Intelligence (AI) dan masifnya arus informasi instan yang memicu krisis daya kritis masyarakat modern pada 2026, ancaman matinya nalar menjadi tantangan terberat bangsa. Memperingati Hari Buku Nasional pada 17 Mei 2026 ini, ingatan publik patut dikembalikan pada sosok pencetus peringatan tersebut. Dialah Abdul Malik Fadjar. Tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pernah menjabat sebagai Rektor sekaligus Menteri Pendidikan Nasional. Dia bukan sekadar birokrat biasa, melainkan sang visioner penyelamat nalar bangsa lewat dedikasinya pada literasi. Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute UMM, Faizin, menjelaskan bahwa sosok Malik Fadjar selalu memandang akar masalah bangsa ini bukan sekadar rendahnya angka minat baca, melainkan melemahnya tradisi berpikir, di mana buku direduksi menjadi sekadar pelengkap bangku sekolah. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar peringatan. Ini adalah alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkapnya. Lebih jauh, Faizin memaparkan fakta sejarah bahwa keputusan Malik Fadjar untuk mencetuskan Hari Buku Nasional pada 2002 silam merupakan wujud rekayasa budaya yang disengaja. Literasi adalah Pilar Bangsa Faizin menambahkan, bahwa mantan Rektor yang sukses membawa lompatan peradaban bagi UMM itu menjadikan momentum 17 Mei untuk menghubungkan buku dengan gerakan nasional, serta menyadarkan publik bahwa literasi adalah pilar kebangsaan. “Sebagai pencetus, beliau senantiasa melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof. Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional, sehingga literasi benar-benar menjelma menjadi fondasi kokoh bagi demokrasi,” tegasnya. Kesadaran akan bahaya krisis nalar tersebut juga memicu kegelisahan Malik Fadjar hingga berjuang mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Demi memastikan ekosistem literasi tidak mati di kota pelajar tersebut, tokoh Muhammadiyah ini rela menghibahkan ribuan buku dari koleksi pribadinya agar dapat diakses secara luas oleh publik. “Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC. Beliau ingin ekosistem literasi ini terus terjaga dan menjadi nyala semangat yang tak boleh ditinggalkan oleh generasi muda,” kenang Faizin. Saat ini, tanggung jawab besar tersebut diteruskan oleh RBC A. Malik Fadjar Institute yang bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran dan pusat pembentukan nalar publik. Upaya mulia ini direalisasikan lewat empat program unggulan: Ruang Gagasan, Riset Pengembangan Mutu Pendidikan, Pendampingan Pengembangan Lembaga Pendidikan, serta Perpustakaan Keliling Mobil Bakti Untuk Bangsa. Perjalanan panjang dan keteladanan Sang Pencetus Hari Buku Nasional dari UMM ini meninggalkan pesan mendalam bagi lintas generasi. Merawat tradisi membaca di era post-truth bukanlah sekadar hobi, melainkan benteng pertahanan terakhir dari kebodohan. Memperingati Hari Buku Nasional sejatinya adalah memperbarui komitmen kolektif untuk menghidupkan budaya ilmu dan merawat akal sehat bangsa, demi meneruskan api perjuangan Malik Fadjar.
Mengenang Kiprah Malik Fadjar, Tokoh UMM Pencetus Hari Buku Nasional

Mengenang Kiprah Malik Fadjar, Tokoh UMM Pencetus Hari Buku Nasional pwmu.co –Di tengah derasnya arus kecerdasan buatan (AI) dan banjir informasi instan yang memicu krisis daya kritis masyarakat modern pada 2026, ancaman matinya nalar menjadi tantangan serius bangsa Indonesia. Momentum Hari Buku Nasional yang diperingati setiap 17 Mei pun menjadi pengingat penting akan sosok pencetusnya, Abdul Malik Fadjar. Tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pernah menjabat sebagai rektor sekaligus Menteri Pendidikan Nasional tersebut dikenal sebagai visioner literasi yang menjadikan buku sebagai alat pembebasan berpikir dan fondasi kemajuan bangsa. Direktur RBC A. Malik Fadjar Institute, Faizin, menjelaskan bahwa Malik Fadjar memandang persoalan bangsa bukan sekadar rendahnya minat baca, melainkan melemahnya tradisi berpikir akibat buku yang hanya dianggap pelengkap pendidikan formal. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkapnya. Menurut Faizin, keputusan Malik Fadjar mencetuskan Hari Buku Nasional pada 2002 bukanlah langkah seremonial biasa. Gagasan tersebut merupakan rekayasa budaya untuk membangun kesadaran nasional bahwa literasi adalah pilar utama kehidupan berbangsa. “Sebagai pencetus, beliau selalu melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof. Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional,” jelasnya. Tokoh Muhammadiyah itu juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap pembangunan ekosistem literasi. Salah satu bentuk nyatanya ialah pendirian Rumah Baca Cerdas (RBC) di Kota Malang sebagai ruang hidup bagi budaya membaca dan pengembangan pemikiran masyarakat. Kecintaan Malik Fadjar terhadap dunia literasi tidak berhenti pada gagasan. Ia bahkan menghibahkan ribuan koleksi buku pribadinya demi menjaga semangat membaca tetap hidup di tengah masyarakat. “Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC,” kenang Faizin. Kini, RBC A. Malik Fadjar Institute berkembang menjadi laboratorium pemikiran sekaligus pusat pembentukan nalar publik melalui berbagai program seperti Ruang Gagasan, riset pendidikan, pendampingan lembaga pendidikan, hingga perpustakaan keliling Mobil Bakti Untuk Bangsa. Perjalanan hidup Malik Fadjar meninggalkan pesan kuat bahwa membaca bukan sekadar hobi, tetapi benteng terakhir menjaga akal sehat bangsa di era post-truth dan banjir informasi digital. Peringatan Hari Buku Nasional pun sejatinya menjadi momentum memperbarui komitmen kolektif untuk terus merawat budaya ilmu, memperkuat tradisi membaca, dan menjaga daya kritis generasi muda Indonesia. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Refleksi Hari Buku Nasional: Bangsa yang Tidak Akrab dengan Buku Akan Mudah Hilang Arah

Abdul Malik Fadjar, tokoh Muhammadiyah pencetus Hari Buku Nasional yang diperingati setiap 17 Mei. Foto: RBC A. Malik Fadjar Institute MAKLUMAT — Bangsa yang tidak akrab dengan buku adalah bangsa yang akan mudah kehilangan arah. Begitulah salah satu pesan dari mendiang Prof Abdul Malik FadjarAbdul Malik Fadjar, Tokoh Muhammadiyah Pencetus Hari Buku Nasional, tokoh pencetus Hari Buku Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei. Pesan itu kembali disampaikan oleh Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Faizin. Menurutnya, pesan tersebut sangat penting direfleksikan bersama di tengah berbagai tantangan literasi hari ini. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” katanya kepada wartawan Maklumat.id pada Ahad (17/5/2026). Ia menjelaskan bahwa sosok Malik Fadjar selalu memandang akar masalah bangsa ini bukan sekadar rendahnya angka minat baca, melainkan melemahnya tradisi berpikir. Hal ini kerap menjadikan buku direduksi menjadi sekadar pelengkap bangku sekolah. Mengenang Sosok Malik Fadjar Faizin mengenang sosok Malik Fadjar sebagai sang visioner penyelamat nalar bangsa lewat dedikasinya pada literasi. Malik Fadjar sendiri adalah tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pernah menjabat sebagai Rektor. Baca Juga Universitas Muhammadiyah Malang, Perguruan Tinggi Modern Berbasis Tradisi Agung Tokoh Muhammadiyah tersebut mencetuskan Hari Buku Nasional pada tahun 2002 saat menjabat Menteri Pendidikan Nasional di era Presiden Megawati Soekarnoputri. Adapun keputusan Malik Fadjar mencetuskan Hari Buku Nasional merupakan langkah yang dirancang untuk membangun budaya literasi secara lebih luas. “Mantan Rektor yang sukses membawa lompatan peradaban bagi UMM ini menjadikan momentum 17 Mei untuk menghubungkan buku dengan gerakan nasional serta menyadarkan publik bahwa literasi adalah pilar kebangsaan,” ujar Faizin. “Sebagai pencetus, beliau senantiasa melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional, sehingga literasi benar-benar menjelma menjadi fondasi kokoh bagi demokrasi,” imbuhnya. Kegelisahan terhadap tantangan literasi juga mendorong Malik Fadjar mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Faizin menjelaskan bahwa langkah itu bertujuan untuk memastikan ekosistem literasi tidak mati di kota pelajar tersebut. “Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC. Beliau ingin ekosistem literasi ini terus terjaga dan menjadi nyala semangat yang tak boleh ditinggalkan oleh generasi muda,” ujarnya. Baca Juga PMM UMM Gelar Sosialisasi di SMA Muhammadiyah 1 Blitar, Seluruh Siswa Ikut Deklarasi Anti-Bullying Meneruskan Api Perjuangan Berdiri sejak 30 November 2005, RBC memang dimaksudkan untuk menghidupkan dan merawat budaya literasi maupun pemikiran sosial keagamaan yang progresif. Sepeninggal Malik Fadjar, RBC kemudian berkembang menjadi RBC Institute A. Malik Fadjar. RBC A. Malik Fadjar Institute kini telah bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran dan pusat pembentukan nalar publik. Faizin menjelaskan bahwa tujuan itu kini tengah direalisasikan lewat empat program unggulan. Keempat program tersebut yakni Ruang Gagasan, Riset Pengembangan Mutu Pendidikan, Pendampingan Pengembangan Lembaga Pendidikan, serta Perpustakaan Keliling Mobil Bakti untuk Bangsa. Faizin menjelaskan, berbagai upaya yang dilakukan RBC A. Malik Fadjar Institute merupakan bagian dari menjaga semangat perjuangan Malik Fadjar dalam merawat budaya literasi. Menurutnya, keteladanan pencetus Hari Buku Nasional itu telah meninggalkan pesan penting bagi lintas generasi bahwa tradisi membaca perlu terus dijaga di tengah tantangan era post-truth dan derasnya arus informasi instan. “Memperingati Hari Buku Nasional sejatinya adalah memperbarui komitmen kolektif untuk menghidupkan budaya ilmu dan merawat akal sehat bangsa, demi meneruskan api perjuangan Malik Fadjar,” tandasnya. *) Penulis: M Habib Muzaki
Masyarakat Peringati Hari Buku Nasional untuk Kenang Abdul Malik Fadjar

POJOK PAPUA – Masyarakat Indonesia memperingati momentum Hari Buku Nasional pada Minggu, 17 Mei 2026 sebagai pengingat penting akan sosok pencetusnya, Abdul Malik Fadjar, di tengah tantangan krisis daya kritis akibat arus kecerdasan buatan dan banjir informasi instan. Tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pernah menjabat sebagai rektor sekaligus Menteri Pendidikan Nasional tersebut dinilai sebagai visioner literasi yang menjadikan buku sebagai alat pembebasan berpikir dan fondasi kemajuan bangsa. Direktur RBC A. Malik Fadjar Institute, Faizin, menjelaskan bahwa Malik Fadjar memandang persoalan bangsa bukan sekadar rendahnya minat baca, melainkan melemahnya tradisi berpikir akibat buku yang hanya dianggap pelengkap pendidikan formal. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkap Faizin, Direktur RBC A. Malik Fadjar Institute. Menurut penjelasan Faizin, keputusan Malik Fadjar mencetuskan Hari Buku Nasional pada tahun 2002 merupakan sebuah langkah rekayasa budaya untuk membangun kesadaran nasional bahwa literasi adalah pilar utama kehidupan berbangsa, bukan sekadar langkah seremonial biasa. “Sebagai pencetus, beliau selalu melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof. Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional,” jelas Faizin, Direktur RBC A. Malik Fadjar Institute. Tokoh Muhammadiyah tersebut juga mewujudkan perhatian besarnya terhadap pembangunan ekosistem literasi melalui pendirian Rumah Baca Cerdas (RBC) di Kota Malang sebagai ruang hidup bagi budaya membaca dan pengembangan pemikiran masyarakat. Kecintaan Malik Fadjar terhadap dunia literasi dibuktikan secara nyata dengan menghibahkan ribuan koleksi buku pribadinya demi menjaga semangat membaca tetap hidup di tengah masyarakat. “Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC,” kenang Faizin, Direktur RBC A. Malik Fadjar Institute. Saat ini, RBC A. Malik Fadjar Institute telah berkembang menjadi laboratorium pemikiran sekaligus pusat pembentukan nalar publik melalui berbagai program seperti Ruang Gagasan, riset pendidikan, pendampingan lembaga pendidikan, hingga perpustakaan keliling Mobil Bakti Untuk Bangsa.
Hari Buku Nasional dan Warisan Literasi Abdul Malik Fadjar

Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia (2001–2004) Bahasa Kita – Hari Buku Nasional kembali diperingati pada 17 Mei di tengah derasnya arus kecerdasan buatan atau AI dan banjir informasi instan yang memengaruhi daya kritis masyarakat. Situasi tersebut membuat warisan literasi Abdul Malik Fadjar kembali menjadi sorotan, terutama terkait gagasannya menjadikan buku sebagai fondasi menjaga nalar publik di Indonesia. Abdul Malik Fadjar dikenal sebagai tokoh pendidikan nasional sekaligus figur sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia pernah menjabat sebagai rektor UMM dan Menteri Pendidikan Nasional. Pada 2002, ia mencetuskan Hari Buku Nasional sebagai bagian dari upaya membangun budaya membaca di Indonesia. Menurut Direktur RBC A. Malik Fadjar Institute, Faizin, Malik Fadjar melihat persoalan literasi bukan sekadar rendahnya minat baca. Yang menjadi perhatian utama justru melemahnya tradisi berpikir masyarakat akibat buku hanya diposisikan sebagai pelengkap pendidikan formal. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkap Faizin. Baca Juga : Kaleidoskop MBG: Antara Ambisi Gizi dan Tata Kelola Hari Buku Nasional dan Gagasan Literasi Abdul Malik Fadjar Faizin menjelaskan, keputusan Abdul Malik Fadjar mencetuskan Hari Buku Nasional tidak lahir sebagai agenda seremonial tahunan. Gagasan tersebut dirancang sebagai langkah kebudayaan untuk memperkuat kesadaran nasional mengenai pentingnya literasi dalam kehidupan berbangsa. Dalam pandangan Malik Fadjar, buku memiliki fungsi lebih besar dibanding sumber pengetahuan biasa. Ia memandang buku sebagai alat pembebasan berpikir sekaligus sarana membangun masyarakat yang rasional dan toleran. “Sebagai pencetus, beliau selalu melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof. Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional,” jelas Faizin. Yang menarik, gagasan tersebut terus relevan di tengah perkembangan teknologi digital. Arus informasi cepat dinilai mempermudah masyarakat menerima berbagai informasi tanpa proses penyaringan kritis yang memadai. Dalam konteks tersebut, budaya membaca dianggap menjadi salah satu cara menjaga kemampuan berpikir masyarakat agar tidak mudah terpengaruh provokasi maupun informasi menyesatkan. Rumah Baca Cerdas Jadi Ruang Menjaga Budaya Membaca Perhatian Abdul Malik Fadjar terhadap dunia literasi tidak berhenti pada gagasan dan kebijakan. Ia juga membangun ekosistem membaca melalui pendirian Rumah Baca Cerdas atau RBC di Kota Malang. Baca Juga : Hari Buku Nasional 2026 dan Upaya Pontianak Hidupkan Budaya Membaca RBC dikembangkan sebagai ruang hidup bagi budaya membaca dan pengembangan pemikiran masyarakat. Di tempat tersebut, berbagai program literasi dijalankan untuk memperkuat tradisi berpikir publik. Program Literasi RBC A. Malik Fadjar Institute Saat ini, RBC A. Malik Fadjar Institute menjalankan sejumlah program seperti Ruang Gagasan, riset pendidikan, pendampingan lembaga pendidikan, hingga perpustakaan keliling Mobil Bakti Untuk Bangsa. Tak hanya itu, Malik Fadjar juga menghibahkan ribuan koleksi buku pribadinya untuk memenuhi rak perpustakaan RBC. Langkah tersebut dilakukan agar budaya membaca tetap hidup di tengah perubahan zaman dan dominasi informasi digital. “Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC,” kenang Faizin. Di sisi lain, perjalanan hidup Abdul Malik Fadjar meninggalkan pesan bahwa membaca bukan sekadar aktivitas pribadi. Dalam praktiknya, membaca dipandang sebagai benteng menjaga akal sehat masyarakat pada era post-truth dan derasnya informasi digital yang sulit dikendalikan.
Mengenang Kiprah Malik Fadjar, Cendekiawan Universitas Muhammadiyah Malang Pencetus Hari Buku Nasional

Mengenang Kiprah Malik Fadjar, Cendekiawan Universitas Muhammadiyah Malang Pencetus Hari Buku Nasional MALANG, Kabar Muhammadiyah – Di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI) dan masifnya arus informasi instan yang memicu krisis daya kritis masyarakat modern pada 2026, ancaman matinya nalar menjadi tantangan terberat bangsa. Menyambut peringatan Hari Buku Nasional pada 17 Mei, ingatan publik patut dikembalikan pada sosok pencetus peringatan tersebut, mendiang Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. Tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pernah menjabat sebagai Rektor sekaligus Menteri Pendidikan Nasional ini, bukan sekadar birokrat biasa, melainkan sang visioner penyelamat nalar bangsa lewat dedikasinya pada literasi. Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute UMM, Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa sosok Malik Fadjar selalu memandang akar masalah bangsa ini bukan sekadar rendahnya angka minat baca, melainkan melemahnya tradisi berpikir di mana buku direduksi menjadi sekadar pelengkap bangku sekolah. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkapnya. Lebih jauh, Faizin memaparkan fakta sejarah bahwa keputusan Malik Fadjar untuk mencetuskan Hari Buku Nasional pada 2002 silam merupakan wujud rekayasa budaya yang disengaja. Mantan Rektor yang sukses membawa lompatan peradaban bagi UMM ini menjadikan momentum 17 Mei untuk menghubungkan buku dengan gerakan nasional serta menyadarkan publik bahwa literasi adalah pilar kebangsaan. “Sebagai pencetus, beliau senantiasa melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof. Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional, sehingga literasi benar-benar menjelma menjadi fondasi kokoh bagi demokrasi,” tegasnya. Kesadaran akan bahaya krisis nalar tersebut juga memicu kegelisahan Malik Fadjar hingga berjuang mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Demi memastikan ekosistem literasi tidak mati di kota pelajar tersebut, tokoh Muhammadiyah ini rela menghibahkan ribuan buku dari koleksi pribadinya agar dapat diakses secara luas oleh publik. “Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC. Beliau ingin ekosistem literasi ini terus terjaga dan menjadi nyala semangat yang tak boleh ditinggalkan oleh generasi muda,” kenang Faizin. Saat ini, tanggung jawab besar tersebut diteruskan oleh RBC A. Malik Fadjar Institute yang bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran dan pusat pembentukan nalar publik. Upaya mulia ini direalisasikan lewat empat program unggulan: Ruang Gagasan, Riset Pengembangan Mutu Pendidikan, Pendampingan Pengembangan Lembaga Pendidikan, serta Perpustakaan Keliling Mobil Bakti Untuk Bangsa. Perjalanan panjang dan keteladanan Sang Pencetus Hari Buku Nasional dari UMM ini meninggalkan pesan mendalam bagi lintas generasi. Merawat tradisi membaca di era post-truth bukanlah sekadar hobi, melainkan benteng pertahanan terakhir dari kebodohan. Memperingati Hari Buku Nasional sejatinya adalah memperbarui komitmen kolektif untuk menghidupkan budaya ilmu dan merawat akal sehat bangsa, demi meneruskan api perjuangan Malik Fadjar.
Pendidikan Mengenang Kiprah Malik Fadjar, Tokoh UMM Pencetus Hari Buku Nasional

Agroredaksi.com-Di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI) dan masifnya arus informasi instan yang memicu krisis daya kritis masyarakat modern pada 2026, ancaman matinya nalar menjadi tantangan terberat bangsa. Menyambut peringatan Hari Buku Nasional pada 17 Mei, ingatan publik patut dikembalikan pada sosok pencetus peringatan tersebut, mendiang Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. Tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pernah menjabat sebagai Rektor sekaligus Menteri Pendidikan Nasional ini, bukan sekadar birokrat biasa, melainkan sang visioner penyelamat nalar bangsa lewat dedikasinya pada literasi. Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute UMM, Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa sosok Malik Fadjar selalu memandang akar masalah bangsa ini bukan sekadar rendahnya angka minat baca, melainkan melemahnya tradisi berpikir di mana buku direduksi menjadi sekadar pelengkap bangku sekolah. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkapnya. Lebih jauh, Faizin memaparkan fakta sejarah bahwa keputusan Malik Fadjar untuk mencetuskan Hari Buku Nasional pada 2002 silam merupakan wujud rekayasa budaya yang disengaja. Mantan Rektor yang sukses membawa lompatan peradaban bagi UMM ini menjadikan momentum 17 Mei untuk menghubungkan buku dengan gerakan nasional serta menyadarkan publik bahwa literasi adalah pilar kebangsaan. “Sebagai pencetus, beliau senantiasa melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof. Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional, sehingga literasi benar-benar menjelma menjadi fondasi kokoh bagi demokrasi,” tegasnya. Kesadaran akan bahaya krisis nalar tersebut juga memicu kegelisahan Malik Fadjar hingga berjuang mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Demi memastikan ekosistem literasi tidak mati di kota pelajar tersebut, tokoh Muhammadiyah ini rela menghibahkan ribuan buku dari koleksi pribadinya agar dapat diakses secara luas oleh publik. “Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC. Beliau ingin ekosistem literasi ini terus terjaga dan menjadi nyala semangat yang tak boleh ditinggalkan oleh generasi muda,” kenang Faizin. Saat ini, tanggung jawab besar tersebut diteruskan oleh RBC A. Malik Fadjar Institute yang bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran dan pusat pembentukan nalar publik. Upaya mulia ini direalisasikan lewat empat program unggulan: Ruang Gagasan, Riset Pengembangan Mutu Pendidikan, Pendampingan Pengembangan Lembaga Pendidikan, serta Perpustakaan Keliling Mobil Bakti Untuk Bangsa. Perjalanan panjang dan keteladanan Sang Pencetus Hari Buku Nasional dari UMM ini meninggalkan pesan mendalam bagi lintas generasi. Merawat tradisi membaca di era post-truth bukanlah sekadar hobi, melainkan benteng pertahanan terakhir dari kebodohan. Memperingati Hari Buku Nasional sejatinya adalah memperbarui komitmen kolektif untuk menghidupkan budaya ilmu dan merawat akal sehat bangsa, demi meneruskan api perjuangan Malik Fadjar.(Sfl/umm)