UMM Jawab Krisis Iklim Dunia, Riset Penyerapan Karbon Raih Hibah Rp450 Juta

Universitas Muhammadiyah Malang menjawab tantangan ancaman anomali cuaca ekstrem, gelombang panas, dan krisis pemanasan global yang semakin nyata melalui langkah inovatif berbasis riset.( Ist) Malangpariwara.com – Di tengah ancaman anomali cuaca ekstrem, gelombang panas, dan krisis pemanasan global yang semakin nyata dirasakan masyarakat dunia, perguruan tinggi dituntut tidak hanya menjadi pusat teori, tetapi juga motor penggerak solusi nyata bagi lingkungan. Tantangan itulah yang dijawab serius oleh Universitas Muhammadiyah Malang melalui langkah inovatif berbasis riset yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Komitmen kampus yang dikenal sebagai Kampus Putih tersebut kembali dibuktikan lewat keberhasilan Dr. Ir. Nugroho Tri Waskitho, M.P., dosen Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM, yang sukses memperoleh pendanaan nasional Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) 2025–2026. Proposal penelitiannya berhasil lolos seleksi ketat dengan nilai hibah mencapai Rp450 juta. Riset bertajuk “Model Peningkatan Penyerapan Karbon di Kabupaten Malang” itu hadir bukan sekadar sebagai kajian akademik di atas meja, melainkan dirancang menjadi gerakan kolaboratif yang melibatkan masyarakat, pemerintah daerah, hingga kelompok tani hutan dalam upaya menekan emisi gas rumah kaca. Dr. Ir. Nugroho Tri Waskitho, M.P., dosen Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM.(Ist) Nugroho menjelaskan, pendekatan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep living lab atau laboratorium hidup. Melalui pendekatan tersebut, proses penelitian tidak berhenti pada pengumpulan data dan publikasi ilmiah, tetapi langsung diterapkan di lapangan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara nyata. “Sebetulnya penelitian mengenai penyerapan karbon sudah banyak, namun kebaruannya ada pada kolaborasi living lab. Kami mengintegrasikan peneliti, kelompok masyarakat, dan pemerintah daerah untuk menerapkannya langsung di lapangan serta memantau perkembangannya bersama-sama,” jelasnya. Melalui pendekatan ini, masyarakat tidak lagi diposisikan hanya sebagai objek penelitian, melainkan menjadi bagian aktif dalam proses mitigasi perubahan iklim. Tim peneliti UMM pun menggandeng sejumlah mitra strategis seperti Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, Yayasan Bakti Alam Sendang Biru, serta Kelompok Tani Hutan Pujon Hill. Tahap awal program akan difokuskan pada pemetaan potensi serapan karbon di sejumlah kawasan Kabupaten Malang. Setelah itu, masyarakat akan mendapatkan edukasi dan pelatihan teknis mengenai pengelolaan lahan berkelanjutan melalui skema agroforestri, rehabilitasi kawasan hijau, hingga penanaman vegetasi dengan daya serap karbon tinggi seperti mangrove. Langkah tersebut dinilai penting karena perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan persoalan nyata yang mulai berdampak pada sektor pertanian, sumber air, hingga stabilitas ekonomi masyarakat desa. Karena itu, penelitian ini juga dirancang agar mampu memberikan efek berantai terhadap peningkatan kesejahteraan warga. Petani lokal, misalnya, diarahkan untuk mengelola lahan secara produktif namun tetap ramah lingkungan. Dengan pola agroforestri, lahan tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga berfungsi sebagai penyerap karbon alami yang membantu mengurangi emisi penyebab pemanasan global. “Dampak dari penelitian ini memang menyasar cakupan Kabupaten Malang, namun problem perubahan iklim ini adalah isu global, sehingga aksi lokal kita ini kelak akan bermuara pada penyelamatan lingkungan secara internasional,” terangnya. Keberhasilan riset tersebut juga menjadi bukti penting bahwa dunia akademik memiliki peran strategis dalam menjawab persoalan global melalui solusi berbasis sains dan teknologi. Di balik capaian itu, terdapat kolaborasi enam akademisi lintas disiplin yang mendapat dukungan penuh dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM. Lebih jauh, Nugroho berharap program ini tidak berhenti sebagai proyek jangka pendek semata. Ia ingin hasil penelitian tersebut dapat diadopsi menjadi fondasi kebijakan pelestarian lingkungan daerah yang berkelanjutan dan memiliki dampak jangka panjang bagi masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi harus mulai mengubah orientasi penelitian agar tidak hanya mengejar publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan solusi konkret bagi persoalan publik. “Sering kali sebuah temuan hanya berujung menjadi publikasi jurnal, maka cobalah untuk selalu mengaitkan hasil riset agar manfaatnya bisa langsung diterapkan dan dirasakan nyata oleh masyarakat maupun industri,” pesannya. Di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia terhadap perubahan iklim, langkah yang dilakukan UMM menjadi gambaran bahwa perguruan tinggi dapat mengambil peran lebih besar sebagai pusat inovasi lingkungan. Dari Kabupaten Malang, sebuah gerakan kecil berbasis sains kini mulai diarahkan untuk memberi kontribusi terhadap penyelamatan bumi secara global.( Djoko W)
Mengenang Malik Fadjar, Tokoh UMM Penggagas Hari Buku Nasional

Tokoh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Menteri Pendidikan Nasional periode 2001-2004, Malik Fadjar. PARADIGMA.CO.ID – Di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI) dan masifnya arus informasi instan yang memicu krisis daya kritis masyarakat modern pada 2026, ancaman matinya nalar menjadi tantangan terberat bangsa. Dalam peringatan Hari Buku Nasional pada 17 Mei, ingatan publik patut dikembalikan pada sosok pencetus peringatan tersebut, mendiang Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. Tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pernah menjabat sebagai Rektor sekaligus Menteri Pendidikan Nasional ini, bukan sekadar birokrat biasa, melainkan sang visioner penyelamat nalar bangsa lewat dedikasinya pada literasi. Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute UMM, Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa sosok Malik Fadjar selalu memandang akar masalah bangsa ini bukan sekadar rendahnya angka minat baca, melainkan melemahnya tradisi berpikir di mana buku direduksi menjadi sekadar pelengkap bangku sekolah. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkapnya. Lebih jauh, Faizin memaparkan fakta sejarah bahwa keputusan Malik Fadjar untuk mencetuskan Hari Buku Nasional pada 2002 silam merupakan wujud rekayasa budaya yang disengaja. Mantan Rektor yang sukses membawa lompatan peradaban bagi UMM ini menjadikan momentum 17 Mei untuk menghubungkan buku dengan gerakan nasional serta menyadarkan publik bahwa literasi adalah pilar kebangsaan. “Sebagai pencetus, beliau senantiasa melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof. Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional, sehingga literasi benar-benar menjelma menjadi fondasi kokoh bagi demokrasi,” tegasnya. Kesadaran akan bahaya krisis nalar tersebut juga memicu kegelisahan Malik Fadjar hingga berjuang mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Demi memastikan ekosistem literasi tidak mati di kota pelajar tersebut, tokoh Muhammadiyah ini rela menghibahkan ribuan buku dari koleksi pribadinya agar dapat diakses secara luas oleh publik. “Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC. Beliau ingin ekosistem literasi ini terus terjaga dan menjadi nyala semangat yang tak boleh ditinggalkan oleh generasi muda,” kenang Faizin. Saat ini, tanggung jawab besar tersebut diteruskan oleh RBC A. Malik Fadjar Institute yang bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran dan pusat pembentukan nalar publik. Upaya mulia ini direalisasikan lewat empat program unggulan: Ruang Gagasan, Riset Pengembangan Mutu Pendidikan, Pendampingan Pengembangan Lembaga Pendidikan, serta Perpustakaan Keliling Mobil Bakti Untuk Bangsa. Perjalanan panjang dan keteladanan Sang Pencetus Hari Buku Nasional dari UMM ini meninggalkan pesan mendalam bagi lintas generasi. Merawat tradisi membaca di era post-truth bukanlah sekadar hobi, melainkan benteng pertahanan terakhir dari kebodohan. Memperingati Hari Buku Nasional sejatinya adalah memperbarui komitmen kolektif untuk menghidupkan budaya ilmu dan merawat akal sehat bangsa, demi meneruskan api perjuangan Malik Fadjar
UMM Rilis Rincian Biaya Kuliah Semua Jurusan Tahun Akademik 2026/2027

Universitas Muhammadiyah Malang termasuk salah satu kampus dengan jurusan S1 Hubungan Internasional terbaik di Indonesia. (Dok. UMM) Readers.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menetapkan rincian biaya kuliah untuk seluruh program studi pada tahun akademik 2026/2027. Besaran biaya ini menjadi acuan penting bagi calon mahasiswa baru yang ingin melanjutkan pendidikan di kampus swasta tersebut. Dilansir dari Edukasi, mekanisme pendanaan di UMM menerapkan sistem Biaya Studi Semester (BSS). Komponen BSS ini mencakup beberapa hal, mulai dari biaya Daftar Ulang, SPP, DPP, Layanan IT, hingga Layanan Perpustakaan. Bagi calon mahasiswa baru yang mendaftar melalui jalur reguler atau gelombang II, terdapat penyesuaian berupa kenaikan komponen DPP sebesar kurang lebih 10 persen. Biaya penyesuaian ini wajib dibayarkan sekali pada saat proses Daftar Ulang atau Her-Registrasi. Pihak kampus memberikan kelonggaran dengan membagi pembayaran BSS sebanyak tiga kali dalam setiap semester. Angsuran pertama dibayarkan saat Kartu Rencana Studi (KRS), angsuran kedua menjelang UTS, dan angsuran ketiga sebelum UAS dilaksanakan. Khusus untuk mahasiswa semester pertama, BSS angsuran kesatu wajib dilunasi ketika melakukan Daftar Ulang. Sementara itu, keperluan lain seperti KKN, Skripsi, Yudisium, dan Wisuda memiliki skema pembayaran tersendiri di luar BSS. Berikut adalah detail Biaya Studi Semester (BSS) untuk rumpun ilmu kesehatan di UMM: 1. Farmasi – BSS semester 1 reguler I: Rp 31,1 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 34,6 juta – BSS semester 2-3: Rp 29,1 juta – BSS semester 4-8: Rp 16,5 juta 2. Kedokteran – BSS semester 1 reguler I: Rp 103.350.000 – BSS semester 1 reguler II: Rp 123.350.000 – BSS semester 2-3: Rp 101,7 juta – BSS semester 4-8: Rp 27,3 juta 3. Ilmu Keperawatan – BSS semester 1 reguler I: Rp 17,350 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 19,6 juta – BSS semester 2-7: Rp 16,050 juta – BSS semester 8: Rp 12,3 juta 4. Fisioterapi – BSS semester 1 reguler I: Rp 15,7 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 17,7 juta – BSS semester 2-7: Rp 14,4 juta – BSS semester 8: Rp 11,1 juta Rumpun Ekonomi, Bisnis, dan Teknik Berikut rincian biaya untuk fakultas ekonomi dan teknik: 1. Manajemen – BSS semester 1 reguler I: Rp 11,55 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 14,7 juta – BSS semester 2-7: Rp 12,150 juta – BSS semester 8: Rp 7,5 juta Also Read ITB Tetapkan Iuran Pengembangan Institusi SSU 2026 Hingga Rp85 Juta 2. Akuntansi – BSS semester 1 reguler I: Rp 9,6 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 11,9 juta – BSS semester 2-7: Rp 10,2 juta – BSS semester 8: Rp 5,850 juta 3. Informatika – BSS semester 1 reguler I: Rp 10,5 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 14_000_000 – BSS semester 2-7: Rp 11,1 juta – BSS semester 8: Rp 6,3 juta 4. Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Industri – BSS semester 1 reguler I: Rp 9,450 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 11,3 juta – BSS semester 2-7: Rp 10,050 juta – BSS semester 8: Rp 5,850 juta 5. Teknik Sipil – BSS semester 1 reguler I: Rp 9,450 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 12,3 juta – BSS semester 2-7: Rp 10,050 juta – BSS semester 8: Rp 5,850 juta 6. Ekonomi Pembangunan – BSS semester 1 reguler I: Rp 8,7 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 11,3 juta – BSS semester 2-7: Rp 9,3 juta – BSS semester 8: Rp 5,850 juta Rumpun Sosial, Hukum, dan Humaniora Berikut rincian biaya untuk jurusan sosial, hukum, dan keagamaan: 1. Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, Psikologi, Hukum – BSS semester 1 reguler I: Rp 10.050.000 – BSS semester 1 reguler II: Rp 13,2 juta hingga Rp 13,550 juta – BSS semester 2-7: Rp 10,650 juta – BSS semester 8: Rp 6,3 juta 2. Ilmu Pemerintahan – BSS semester 1 reguler I: Rp 8,250 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 11,2 juta – BSS semester 2-7: Rp 8,850 juta – BSS semester 8: Rp 5,850 juta 3. Kesejahteraan Sosial, Sosiologi – BSS semester 1 reguler I: Rp 7,2 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 8,7 juta – BSS semester 2-7: Rp 7,8 juta – BSS semester 8: Rp 5,550 juta 4. Ekonomi Syariah, Pendidikan Bahasa Arab – BSS semester 1 reguler I: Rp 6,950 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 7,950 juta – BSS semester 2-7: Rp 7,2 juta – BSS semester 8: Rp 5,1 juta 5. Pendidikan Agama Islam, Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyah) – BSS semester 1 reguler I: Rp 6,6 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 7,6 juta – BSS semester 2-7: Rp 7,2 juta – BSS semester 8: Rp 5,1 juta Rumpun Keguruan dan Ilmu Pendidikan Berikut rincian biaya untuk program studi keguruan: 1. Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Pendidikan Biologi – BSS semester 1 reguler I: Rp 6,750 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 8,250 juta hingga Rp 8,750 juta – BSS semester 2-7: Rp 7,350 juta – BSS semester 8: Rp 5,1 juta 2. Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Guru Sekolah Dasar – BSS semester 1 reguler I: Rp 7,050 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 9,550 juta – BSS semester 2-7: Rp 7,650 juta – BSS semester 8: Rp 5,1 juta 3. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan – BSS semester 1 reguler I: Rp 6 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 8 juta – BSS semester 2-7: Rp 6,6 juta – BSS semester 8: Rp 5,1 juta
UMM Rilis Rincian Biaya Kuliah Semua Jurusan Tahun Akademik 2026/2027

Universitas Muhammadiyah Malang termasuk salah satu kampus dengan jurusan S1 Hubungan Internasional terbaik di Indonesia. (Dok. UMM) MEDIA KOMPETEN – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menetapkan rincian biaya kuliah untuk seluruh program studi pada tahun akademik 2026/2027. Informasi mengenai besaran dana yang perlu dipersiapkan oleh calon mahasiswa baru ini dilansir dari Edukasi. Komponen utama pembiayaan di kampus swasta ini bertumpu pada Biaya Studi Semester (BSS). Dana BSS tersebut mencakup beberapa elemen penting, mulai dari biaya daftar ulang, SPP, DPP, hingga fasilitas penunjang seperti Layanan IT dan Layanan Perpustakaan. Pihak kampus menerapkan kebijakan khusus bagi calon mahasiswa baru jalur reguler atau gelombang II. Mereka akan dikenai kenaikan komponen DPP sebesar kurang lebih 10 persen yang wajib dilunasi satu kali pada saat proses her-registrasi. Skema pembayaran BSS di UMM dirancang agar bisa diangsur sebanyak tiga kali dalam satu semester. Pembayaran angsuran pertama dilakukan saat pengisian KRS, angsuran kedua menjelang UTS, dan angsuran ketiga diselesaikan sebelum UAS. Bagi mahasiswa semester pertama, dana BSS angsuran kesatu wajib dibayarkan bersamaan dengan proses daftar ulang. Sementara itu, biaya untuk keperluan KKN, skripsi, yudisium, dan wisuda tidak termasuk dalam BSS dan ditagihkan secara terpisah. Besaran pembiayaan BSS bervariasi tergantung pada jurusan dan jalur gelombang yang dipilih oleh calon mahasiswa. Berikut adalah detail lengkap tarif BSS per semester untuk rumpun program studi kesehatan dan kedokteran. Pada program studi Farmasi, mahasiswa jalur reguler I dikenai BSS semester 1 sebesar Rp 31,1 juta, sedangkan reguler II sebesar Rp 34,6 juta. Memasuki semester 2-3 nilainya menjadi Rp 29,1 juta, lalu turun menjadi Rp 16,5 juta pada semester 4-8. Jurusan Kedokteran tercatat memiliki nominal tertinggi dengan BSS semester 1 reguler I senilai Rp 103.350.000 dan reguler II sebesar Rp 123.350.000. Untuk semester 2-3, biayanya sebesar Rp 101,7 juta, dan pada semester 4-8 ditetapkan Rp 27,3 juta. Program studi Ilmu Keperawatan menetapkan tarif semester 1 reguler I sebesar Rp 17,350 juta dan reguler II Rp 19,6 juta. Biaya semester 2-7 disesuaikan menjadi Rp 16,050 juta, kemudian pada semester 8 berkurang menjadi Rp 12,3 juta. Untuk jurusan Fisioterapi, beban biaya semester 1 bagi jalur reguler I adalah Rp 15,7 juta dan reguler II Rp 17,7 juta. Selanjutnya, perkuliahan semester 2-7 membutuhkan dana Rp 14,4 juta, serta semester 8 sebesar Rp 11,1 juta. Biaya Kuliah Rumpun Ilmu Sosial, Humaniora, dan Agama Rumpun program studi keagamaan dan sosial humaniora menawarkan struktur pembiayaan yang lebih terjangkau. Jurusan Pendidikan Agama Islam serta Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyah) menetapkan tarif seragam. Kedua jurusan keagamaan tersebut mematok BSS semester 1 reguler I sejumlah Rp 6,6 juta dan reguler II Rp 7,6 juta. Dana untuk semester 2-7 adalah Rp 7,2 juta, yang kemudian menyusut menjadi Rp 5,1 juta pada semester akhir. Skema serupa berlaku untuk Ekonomi Syariah dan Pendidikan Bahasa Arab. Mahasiswa reguler I membayar Rp 6,950 juta dan reguler II Rp 7,950 juta pada semester awal, dilanjutkan Rp 7,2 juta untuk semester 2-7, serta Rp 5,1 juta pada semester 8. Bagi peminat Kesejahteraan Sosial dan Sosiologi, BSS awal berada pada angka Rp 7,2 juta (reguler I) dan Rp 8,7 juta (reguler II). Biaya semester berikutnya dipatok Rp 7,8 juta untuk semester 2-7 dan Rp 5,550 juta untuk semester 8. Program studi Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, serta Psikologi dan Hukum memiliki rincian biaya yang identik. Semester 1 reguler I dikenai Rp 10.050.000, reguler II Rp 13,2 juta hingga Rp 13,550 juta, semester 2-7 Rp 10,650 juta, dan semester 8 sebesar Rp 6,3 juta. Untuk Ilmu Pemerintahan, pihak UMM menetapkan tarif semester 1 reguler I senilai Rp 8,250 juta dan reguler II Rp 11,2 juta. Angsuran semester 2-7 dipatok Rp 8,850 juta, disusul semester 8 sebesar Rp 5,850 juta. Tarif Pembiayaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Kepelatihan Olahraga, serta Pendidikan Biologi memiliki kemiripan tarif. Biaya awal reguler I berkisar antara Rp 6,750 juta hingga Rp 6,750 juta, sedangkan reguler II berkisar Rp 8,250 juta sampai Rp 8,750 juta. Memasuki semester 2-7, mahasiswa keempat jurusan tersebut menyetor dana sebesar Rp 7,350 juta, dan ditutup dengan Rp 5,1 juta pada semester akhir. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan memiliki tarif lebih rendah, yakni reguler I Rp 6 juta dan reguler II Rp 8 juta. Sementara itu, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) mematok BSS awal Rp 7,050 juta (reguler I) dan Rp 9,550 juta (reguler II). Biaya kelanjutan untuk semester 2-7 adalah Rp 7,650 juta, dan semester 8 sebesar Rp 5,1 juta. Anggaran Kuliah Fakultas Teknik dan Ekonomi Rumpun Teknik yang meliputi Teknik Mesin, Teknik Elektro, dan Teknik Industri menetapkan biaya semester 1 reguler I sebesar Rp 9,450 juta dan reguler II Rp 11,3 juta. Biaya semester 2-7 dipatok Rp 10,050 juta dan semester 8 sebesar Rp 5,850 juta. Jurusan Teknik Sipil mengikuti struktur yang hampir sama, namun jalur reguler II semester 1 sedikit lebih tinggi yaitu Rp 12,3 juta. Untuk program studi Informatika, BSS semester 1 reguler I mencapai Rp 10,5 juta dan reguler II sebesar Rp 14 juta. Fakultas Ekonomi menempatkan jurusan Manajemen dengan tarif semester 1 reguler I Rp 11,55 juta dan reguler II Rp 14,7 juta. Akuntansi menetapkan reguler I Rp 9,6 juta dan reguler II Rp 11,9 juta, sedangkan Ekonomi Pembangunan mematok reguler I Rp 8,7 juta dan reguler II Rp 11,3 juta.
Hari Buku Nasional dan Fenomena Membaca Masyarakat Saat Ini

Fathurrahim Syuhadi. (Istimewa/PWMU.CO) Oleh : Fathurrahim SyuhadiPenulis Buku, Redaksi PWMU.CO PWMU – Setiap tanggal 17 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Buku Nasional. Peringatan ini ditetapkan pada tahun 2002 oleh Prof Abdul Malik Fadjar, MSc Menteri Pendidikan dan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat itu sebagai upaya meningkatkan minat baca masyarakat dan menumbuhkan budaya literasi di negeri ini. Tanggal tersebut dipilih bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 1980. Momentum ini sejatinya bukan hanya seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas literasi masyarakatnya. Di tengah perkembangan teknologi digital yang begitu cepat, fenomena membaca masyarakat Indonesia mengalami perubahan yang cukup kompleks. Di satu sisi, akses terhadap bahan bacaan semakin mudah. Buku elektronik, artikel digital, jurnal, hingga media sosial menyediakan informasi dalam hitungan detik. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut justru menghadirkan tantangan baru berupa menurunnya budaya membaca secara mendalam. Saat ini masyarakat lebih banyak membaca secara singkat, cepat, dan instan. Judul berita sering kali dibaca tanpa memahami isi secara utuh. Potongan video pendek lebih menarik perhatian dibandingkan membaca buku berlembar-lembar. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan memahami persoalan secara mendalam perlahan mengalami penurunan. Budaya “scrolling” lebih dominan daripada budaya membaca serius. Fenomena ini terlihat jelas di kalangan generasi muda. Tidak sedikit pelajar yang lebih akrab dengan media sosial dibandingkan perpustakaan. Buku pelajaran sering dianggap beban, sedangkan gawai menjadi kebutuhan utama. Padahal membaca bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan jalan untuk memperluas wawasan, membangun karakter, dan menguatkan daya pikir seseorang. Ironisnya, Indonesia dikenal memiliki tingkat penggunaan media sosial yang tinggi, tetapi belum sebanding dengan budaya membaca buku. Banyak orang mampu menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar telepon pintar, namun merasa berat membaca beberapa halaman buku. Ini menunjukkan bahwa persoalan literasi bukan semata kurangnya akses, melainkan juga soal kebiasaan dan budaya. Hari Buku Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Membaca tidak boleh dipahami hanya sebagai kewajiban sekolah, tetapi kebutuhan hidup. Bangsa yang besar lahir dari masyarakat yang gemar membaca. Buku adalah jendela pengetahuan yang mampu membuka cakrawala berpikir manusia. Dari buku, seseorang dapat mengenal sejarah, ilmu pengetahuan, budaya, bahkan memahami kehidupan dengan lebih bijak. Karena itu, budaya membaca perlu ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga. Anak-anak yang tumbuh di rumah yang akrab dengan buku akan memiliki kedekatan emosional dengan aktivitas membaca. Orang tua memiliki peran penting sebagai teladan. Sulit mengajak anak gemar membaca apabila orang tua sendiri lebih sibuk dengan gawai daripada buku. Sekolah juga harus menjadi ruang yang menyenangkan bagi tumbuhnya budaya literasi. Perpustakaan jangan hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi pusat pembelajaran yang hidup. Guru perlu menghadirkan metode pembelajaran yang kreatif dan mendorong siswa mencintai bacaan. Gerakan literasi sekolah hendaknya tidak berhenti pada formalitas membaca lima belas menit sebelum pelajaran, tetapi benar-benar membangun kebiasaan berpikir melalui bacaan. Selain itu, perkembangan teknologi sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk menguatkan budaya membaca. Platform digital bisa menjadi sarana memperluas literasi jika digunakan secara bijak. Buku digital, aplikasi perpustakaan daring, dan forum diskusi literasi dapat menjadi jembatan agar generasi muda lebih dekat dengan bacaan. Tantangannya adalah bagaimana menghadirkan konten yang mendidik di tengah banjir hiburan digital yang begitu masif. Peringatan Hari Buku Nasional juga mengingatkan pentingnya keberpihakan negara terhadap dunia literasi. Harga buku yang terjangkau, perpustakaan yang nyaman, distribusi buku hingga pelosok desa, dan dukungan terhadap penulis menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat pembaca. Literasi bukan hanya urusan individu, tetapi investasi peradaban bangsa. Slogan “Literasi Menguatkan Generasi” memiliki makna yang sangat mendalam. Generasi yang kuat bukan hanya generasi yang cakap teknologi, tetapi juga generasi yang mampu berpikir kritis, bijak menyikapi informasi, dan memiliki keluasan wawasan. Semua itu tumbuh melalui budaya membaca. Pada akhirnya, Hari Buku Nasional tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan penuh spanduk dan slogan. Peringatan ini harus menjadi gerakan nyata untuk menghidupkan kembali kecintaan masyarakat terhadap buku. Sebab di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh informasi, membaca tetap menjadi jalan penting untuk menjaga kejernihan berpikir dan kematangan peradaban. Buku mungkin terlihat sederhana, tetapi dari lembar-lembar itulah lahir pemikiran besar yang mampu mengubah dunia. (*) Editor : Alfain jalaluddin ramadlan
Berawal dari Membukukan Skripsi, Dosen Komunikasi UMM Nurudin Konsisten Menulis dan Terbitkan 24 Buku

KETIK, BATU – Berawal dari keinginan membukukan skripsi semasa kuliah pada 1996, Nurudin kini menjelma menjadi penulis produktif dengan puluhan karya buku bertema komunikasi, media sosial, hingga budaya populer. Konsistensinya menulis juga turut menginspirasi mahasiswa untuk berkarya melalui buku. Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu telah menghasilkan puluhan buku dan ratusan artikel yang dipublikasikan di berbagai media cetak lokal maupun nasional. Selain aktif mengajar, Nurudin juga dikenal sebagai editor buku serta trainer kepenulisan. Ketertarikan terhadap dunia menulis ternyata telah tumbuh sejak masih menjadi mahasiswa. Ia mengaku mulai serius menulis ketika menyusun skripsi pada tahun 1996. “Sejak zaman mahasiswa saya sudah tertarik menulis buku. Saat membuat skripsi tahun 1996, saya punya keinginan membukukannya. Namun baru bisa terwujud setelah menjadi dosen. Skripsi itu menjadi karya pertama yang diterbitkan dari program studi saya di Universitas Sebelas Maret Surakarta,” ujarnya, Sabtu, 16 Mei 2026. Semangat menulis tersebut terus ia pertahankan hingga sekarang. Menurut Dosen yang sudah bergelar Doktor ini, karya tulis bukan sekadar bentuk aktualisasi diri, tetapi juga sarana memberikan manfaat kepada masyarakat luas. “Saya ingin tulisan bisa memberi manfaat bagi orang lain. Bahkan dalam proses mengajar, saya juga mendorong mahasiswa agar menghasilkan karya tulis. Luaran mata kuliah yang saya ampu sering kali berupa buku kumpulan tulisan mahasiswa,” katanya. Tidak hanya produktif secara individu, Nurudin juga dikenal aktif memelopori penerbitan buku mahasiswa sebagai hasil akhir pembelajaran di kampus. Hingga kini, sudah sekitar 54 judul buku kelas berhasil diterbitkan bersama mahasiswa. Dari puluhan buku yang telah diterbitkan, Nurudin menyebut salah satu buku yang paling berpengaruh dalam perjalanan hidup dan kariernya adalah buku berjudul Think and Grow Rich karya Napoleon Hill. Sementara itu, tantangan terbesar yang ia hadapi sebagai penulis justru terletak pada manajemen waktu di tengah kesibukannya sebagai dosen. “Soal manajemen waktu memang menjadi tantangan terbesar. Sebab pekerjaan dosen banyak berkaitan dengan urusan teknis dan administratif,” jelas Pak Nur, sapaan akrab para mahasiswanya. Dalam mencari ide tulisan, Pak Nur mengaku lebih banyak memperoleh inspirasi dari pengalaman pribadi, hasil membaca, hingga pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari. “Pengalaman adalah sumber gagasan yang sangat penting. Selain itu, membaca apa saja juga akan sangat berguna bagi penulis. Calon penulis tidak boleh membatasi diri hanya membaca satu tema tertentu saja,” ungkapnya. Ia menilai kebiasaan membaca menjadi modal penting untuk menjaga produktivitas menulis. Menurutnya, semakin banyak seseorang membaca, maka semakin mudah pula menemukan ide dan sudut pandang baru. “Calon penulis harus yakin bahwa apa yang dibaca suatu saat akan berguna. Cepat atau lambat, semua bacaan akan membantu proses menulis,” tambah Dosen yang gemar bulutangkis ini. Selain membaca, pengamatan terhadap lingkungan sekitar juga menjadi bagian penting dalam membangun ide tulisan. “Mengamati kejadian di sekitar kita sangat dianjurkan bagi calon penulis. Akan lebih baik lagi jika hasil pengamatan itu dicatat atau ditulis,” katanya. Meski memiliki kesibukan tinggi, Nurudin tetap memasang target minimal menerbitkan satu buku setiap tahun. “Minimal satu buku dalam satu tahun. Memang tidak mudah, tapi saya merasa harus punya target,” ujarnya. Konsistensi, menurut Pak Nur, menjadi kunci utama bagi siapa saja yang ingin berkembang di dunia kepenulisan. Ia mengingatkan penulis pemula agar tidak cepat merasa puas terhadap kemampuan yang dimiliki. “Penulis yang baik tidak boleh cepat puas. Harus terus membaca dan terus melatih kemampuan menulis. Dunia sangat dinamis, sehingga kita juga harus terus berkembang,” tegasnya. Daftar buku individu karya Nurudin yang telah dipublikasikan antara lain: 1. Free Writing, Menulis Dulu Salah Belakangan (Selaksa Media, terbit Juni 2026) 2. Agama itu Bernama K-Pop, Kesetiaan, Euforia dan Imperialisme Budaya Populer (Selaksa Media, 2026) 3. Behind the Glamour, Identitas Baru K-Popers (UMM Press, 2025) 4. Andai Pemerintah Mau (Inteligensia Media, 2021) 5. Komunikasi Politik dalam Masyarakat Tidak Tulus (Prenada, Jakarta, 2020) 6. Agama Saya adalah Uang (Intrans, Malang, 2020) 7. Media Sosial, Agama Baru Masyarakat Milenial (Intrans, Jakarta, 2019) 8. Perkembangan Teknologi Komunikasi (Rajawali, Jakarta, 2017) 9. Ilmu Komunikasi, Ilmiah Populer (Rajawali, Jakarta, 2016). 10. Media Sosial Baru dan Munculnya Revolusi Proses Komunikasi, Buku Litera, Yogyakarta 2012) 11. Tuhan Baru Masyarakat Cyber di Era Digital (Aditya Media Publishing, Yogyakarta, 2012) 12. Jurus Jitu Nulis Artikel yang Baik dan Benar (Ghalia, Jakarta 2011) 13. Citizen Journalism Sebagai Katarsis Baru Masyarakat (Buku Litera, Yogyakarta 2010) 14. Jurnalisme Kemanusiaan, Membedah Pemikiran Jakob Oetama tentang Pers dan Jurnalisme (UMM Press, Malang 2010) 15. Dasar-Dasar Penulisan (UMM Press, Malang 2010) 16. Jurnalisme Masa Kini (Rajawali Pers, Jakarta 2009) 17. Kiat Meresensi Buku di Media Cetak (Murai Kencana, Jakarta 2009) 18. Hubungan Media, Konsep dan Aplikasi (Rajawali Pers, Jakarta 2008) 19. Pengantar Komunikasi Massa (Rajawali Pers, Jakarta 2007) 20. Sistem Komunikasi Indonesia (Rajawali Pers, Jakarta 2004) 21. Pers Dalam Lipatan Kekuasaan (Tragedi Pers Tiga Zaman) (UMM Press, Malang 2003)
Inovasi Clove Separator Mahasiswa UMM, Tingkatkan Produtivitas Petani Cengkeh

Di tengah tuntutan efisiensi biaya pertanian dan ancaman tingginya inflasi bahan pokok yang membayangi kesejahteraan petani lokal, inovasi teknologi tepat guna menjadi kunci kelangsungan usaha tani. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan mesin pemisah cengkeh semi-otomatis bernama Clove Separator EVO. Inovasi ini hadir sebagai solusi konkret bagi petani cengkeh di Dusun Karanggongso, Trenggalek, yang selama ini terbebani oleh tingginya biaya tenaga kerja dan lambatnya proses panen secara manual. Mesin ini merupakan karya inovatif Risqi Andy Sulbi Sasmita dan timnya dari Program Studi Teknik Industri UMM angkatan 2022. Sebelumnya, proses pemisahan bunga dan tangkai cengkeh secara tradisional memakan waktu sangat lama, di mana tenaga manusia hanya sanggup menghasilkan maksimal dua kilogram per jam. Risqi menjelaskan bahwa inovasi mesin ini dirancang secara khusus untuk mendongkrak kapasitas produksi petani hingga puluhan kali lipat namun dengan harga beli yang ramah di kantong. “Tujuan utama kami memang untuk meningkatkan kapasitas produksi petani hingga berkali-kali lipat dibandingkan cara manual. Apalagi, alat ini kami proyeksikan memiliki harga jual yang jauh lebih kompetitif, yaitu sekitar enam hingga tujuh juta rupiah, dibandingkan mesin serupa di pasaran yang bisa mencapai belasan juta,” ujar Risqi. Melalui Clove Separator EVO, kapasitas pengolahan melonjak drastis hingga 50 kilogram per jam dengan hanya membutuhkan satu hingga dua operator. Mesin ini beroperasi secara sistematis; bunga cengkeh yang masuk ke dalam corong akan melewati rotor penggilingan, lalu disaring menggunakan sistem ayakan bergetar untuk memisahkan bunga dan tangkai secara utuh. Tim mahasiswa UMM ini juga memastikan rancangan alat tersebut tetap memperhatikan kenyamanan dan keselamatan pengguna berkat arahan langsung dari para dosen pembimbing. Alat yang lahir dari proyek mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu (PST) ini juga menawarkan kemudahan perawatan harian. Rencananya, purwarupa Clove Separator EVO akan dikirim ke Desa Tasikmadu pada bulan Juni mendatang untuk menjalani uji coba lapangan secara langsung saat masa panen raya. Ia berharap karya mahasiswa dari Kampus Putih UMM ini bisa memantik semangat sivitas akademika lain untuk terus berkreasi memecahkan persoalan riil di masyarakat. “Kami berharap mahasiswa lain tidak perlu mencari ide terlalu jauh, cukup peka dengan kebutuhan di sekitar kita. Sebab, sekecil apa pun inovasi yang kita buat sangat berarti bagi masyarakat,” pungkasnya. Kehadiran Clove Separator EVO menjadi bukti nyata bahwa hilirisasi riset di lingkungan perguruan tinggi bukan sekadar wacana akademis. Kolaborasi antara kepekaan sosial mahasiswa dan dukungan fasilitas kampus terbukti mampu menghadirkan teknologi tepat guna yang berdampak langsung pada peningkatan ekonomi kerakyatan. Harapannya, inovasi ini segera mendapatkan dukungan untuk diproduksi secara massal agar kesejahteraan petani cengkeh di berbagai pelosok Nusantara dapat terus melesat.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Ahmad Faqih Wafir Rahman
UMM Rilis Rincian Biaya Kuliah Semua Jurusan Tahun Akademik 2026/2027

Universitas Muhammadiyah Malang termasuk salah satu kampus dengan jurusan S1 Hubungan Internasional terbaik di Indonesia. (Dok. UMM) Pojok Papua – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menetapkan rincian biaya kuliah untuk seluruh program studi pada tahun akademik 2026/2027. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Edukasi, komponen pendanaan utama di kampus swasta ini menggunakan sistem Biaya Studi Semester (BSS). Sistem BSS tersebut mencakup beberapa elemen pengeluaran. Komponen di dalamnya meliputi biaya daftar ulang, SPP, DPP, serta biaya layanan teknologi informasi dan perpustakaan. Manajemen kampus memberikan keringanan berupa skema pembayaran secara bertahap. BSS dapat diangsur sebanyak tiga kali dalam satu semester, yakni saat pengisian KRS, menjelang UTS, dan menjelang UAS. Calon mahasiswa baru yang masuk melalui jalur reguler gelombang II akan dikenai penyesuaian tarif. Terdapat kenaikan komponen DPP sebesar kurang lebih 10 persen yang wajib dilunasi saat her-registrasi. Pihak kampus memisahkan beberapa pengeluaran akademik lain di luar paket BSS. Biaya untuk pelaksanaan KKN, penyusunan skripsi, pelaksanaan yudisium, hingga prosesi wisuda akan ditagihkan secara tersendiri. Besaran tarif BSS semester pertama dibedakan berdasarkan jalur gelombang masuk. Sementara untuk semester berikutnya, skema tarif disesuaikan dengan tahapan studi program masing-masing jurusan. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Program Studi Kedokteran mencatatkan nilai BSS tertinggi. Pada semester 1 reguler I, biayanya mencapai Rp 103.350.000, sedangkan jalur reguler II sebesar Rp 123.350.000. Memasuki semester 2-3, tarifnya menjadi Rp 101,7 juta dan turun menjadi Rp 27,3 juta pada semester 4-8. Untuk Program Studi Farmasi, tarif semester 1 reguler I ditetapkan Rp 31,1 juta dan reguler II Rp 34,6 juta. Biaya semester 2-3 sebesar Rp 29,1 juta, kemudian menjadi Rp 16,5 juta pada semester 4-8. Program Studi Ilmu Keperawatan menetapkan tarif semester 1 reguler I Rp 17,350 juta dan reguler II Rp 19,6 juta. Semester 2-7 dikenai Rp 16,050 juta, lalu semester 8 sebesar Rp 12,3 juta. Program Studi Fisioterapi memiliki rincian semester 1 reguler I Rp 15,7 juta dan reguler II Rp 17,7 juta. Untuk semester 2-7 dikenai Rp 14,4 juta, serta semester 8 sebesar Rp 11,1 juta. Fakultas Teknik dan Informatika Program Studi Informatika menetapkan tarif semester 1 reguler I sebesar Rp 10,5 juta dan reguler II Rp 14 juta. Biaya untuk semester 2-7 adalah Rp 11,1 juta, sedangkan semester 8 sebesar Rp 6,3 juta. Rumpun Teknik Mesin, Teknik Elektro, dan Teknik Industri memiliki besaran yang seragam. Semester 1 reguler I sebesar Rp 9,450 juta, reguler II Rp 11,3 juta, semester 2-7 sebesar Rp 10,050 juta, dan semester 8 Rp 5,850 juta. Program Studi Teknik Sipil memberlakukan tarif semester 1 reguler I Rp 9,450 juta dan reguler II Rp 12,3 juta. Biaya semester 2-7 senilai Rp 10,050 juta, sementara semester 8 sebesar Rp 5,850 juta. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Manajemen menetapkan biaya semester 1 reguler I Rp 11,55 juta dan reguler II Rp 14,7 juta. Semester 2-7 dikenai Rp 12,150 juta, sedangkan semester 8 sebesar Rp 7,5 juta. Program Studi Akuntansi memberlakukan tarif semester 1 reguler I Rp 9,6 juta dan reguler II Rp 11,9 juta. Biaya semester 2-7 dipatok Rp 10,2 juta, lalu semester 8 sebesar Rp 5,850 juta. Program Studi Ekonomi Pembangunan memiliki rincian semester 1 reguler I Rp 8,7 juta dan reguler II Rp 11,3 juta. Untuk tarif semester 2-7 sebesar Rp 9,3 juta, serta semester 8 senilai Rp 5,850 juta. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Rumpun Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, Psikologi, dan Hukum memiliki besaran biaya yang identik. Semester 1 reguler I dipatok Rp 10.050.000, sedangkan reguler II sebesar Rp 13,550 juta untuk Ilmu Komunikasi dan Hubungan Internasional, serta Rp 13,2 juta untuk Psikologi dan Hukum. Semester 2-7 dikenai Rp 10,650 juta, dan semester 8 sebesar Rp 6,3 juta. Program Studi Ilmu Pemerintahan menetapkan tarif semester 1 reguler I Rp 8,250 juta dan reguler II Rp 11,2 juta. Biaya untuk semester 2-7 adalah Rp 8,850 juta, lalu semester 8 sebesar Rp 5,850 juta. Program Studi Kesejahteraan Sosial dan Sosiologi memberlakukan biaya semester 1 reguler I Rp 7,2 juta dan reguler II Rp 8,7 juta. Tarif semester 2-7 sebesar Rp 7,8 juta, sedangkan semester 8 senilai Rp 5,550 juta. Fakultas Agama Islam dan Keguruan Program Studi Pendidikan Agama Islam dan Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyah) menetapkan tarif semester 1 reguler I Rp 6,6 juta dan reguler II Rp 7,6 juta. Biaya semester 2-7 sebesar Rp 7,2 juta, dan semester 8 Rp 5,1 juta. Program Studi Ekonomi Syariah dan Pendidikan Bahasa Arab memberlakukan tarif semester 1 reguler I Rp 6,950 juta dan reguler II Rp 7,950 juta. Semester 2-7 dikenai Rp 7,2 juta, serta semester 8 sebesar Rp 5,1 juta. Program Studi Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Kepelatihan Olahraga memiliki tarif semester 1 reguler I Rp 6,750 juta, reguler II Rp 8,250 juta, semester 2-7 Rp 7,350 juta, dan semester 8 Rp 5,1 juta. Program Studi Pendidikan Biologi menetapkan tarif semester 1 reguler I Rp 6,750 juta dan reguler II Rp 8,750 juta. Biaya semester 2-7 sebesar Rp 7,350 juta, sedangkan semester 8 senilai Rp 5,1 juta. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) mengumumkan tarif semester 1 reguler I Rp 7,050 juta dan reguler II Rp 9,550 juta. Semester 2-7 dipatok Rp 7,650 juta, dan semester 8 Rp 5,1 juta. Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan memiliki rincian terendah dengan tarif semester 1 reguler I Rp 6 juta dan reguler II Rp 8 juta. Untuk semester 2-7 dikenai Rp 6,6 juta, sementara semester 8 sebesar Rp 5,1 juta.
Akademisi UMM Nilai Dua Kandidat Ini Paling Layak Jadi Sekda Kota Batu

Akademisi UMM Prof. Wahyudi sebut ada 2 sosok kandidat kuat yang layak jabat Sekda Kota Batu. Foto: Dok Kota Batu, Tugumalang.id – Perebutan kursi Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batu memasuki babak krusial dengan menyisakan enam kandidat terbaik. Dari sejumlah nama yang mengikuti proses seleksi, akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menilai ada dua figur yang dinilai ideal untuk menduduki posisi strategis tersebut. Di tengah menguatnya dua nama itu, publik berharap sosok Sekda definitif Kota Batu nantinya tidak hanya memiliki kemampuan administratif yang baik, tetapi juga mampu menjadi penghubung yang solid antara birokrasi dan kepala daerah. Pengamat Sosial Politik UMM, Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, menegaskan bahwa integritas dan rekam jejak bersih menjadi syarat utama bagi calon pimpinan tertinggi ASN di lingkungan Pemkot Batu. Selain itu, figur Sekda juga harus mampu mengakselerasi visi dan misi kepala daerah. “Sekda yang ideal harus memiliki rekam jejak yang bersih, berpengalaman, serta mempunyai jiwa pengabdian yang tinggi. Komitmen, loyalitas, dan integritasnya tidak boleh diragukan lagi, baik dalam kedinasan maupun kehidupan pribadi,” kata Wahyudi, Minggu (17/5/2026). Dua Nama Dinilai Paling Berpeluang Jadi Sekda Kota Batu Menurut Wahyudi, dari enam kandidat yang masih bertahan, peta persaingan mulai mengerucut pada dua figur yang dinilai memiliki peluang besar berkat pengalaman dan kapasitas di bidang masing-masing. Figur pertama adalah Alfi Nurhidayat yang saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu. Ia dikenal sebagai ASN yang memiliki kemampuan lapangan dan dekat dengan masyarakat. Pengalamannya saat memimpin Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Batu juga menjadi nilai tambah tersendiri. “ Saya menilai sosok ini (Alfi, red) merupakan salah satu ASN dengan komitmen dan loyalitas tinggi terhadap pimpinan maupun lembaga,” ujarnya. Sementara itu, kandidat kedua adalah Mohammad Nur Adhim yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Batu. Adhim dinilai memiliki kekuatan pada penguasaan sektor pengelolaan pendapatan daerah, khususnya optimalisasi pajak dan retribusi daerah. “Meski dalam hal ini, keempat kandidat lainnya juga tidak kalah kompetitif dan punya kemampuan di ranah strategis masing-masing,” imbuhnya. Baca juga: 6 Kandidat Lolos Seleksi Sekda Kota Batu Tahap Pertama, Siapa Saja? Akademisi UMM Soroti Independensi Pansel Sekda Kota Batu Selain menyoroti kualitas kandidat, Prof. Wahyudi juga menekankan pentingnya independensi Panitia Seleksi (Pansel) dalam menentukan Sekda Kota Batu definitif. Menurutnya, menjaga objektivitas di wilayah seperti Malang Raya bukan perkara mudah karena potensi kedekatan personal maupun konflik kepentingan selalu ada. “Dalam tradisi di Indonesia, mencari personalia pansel yang benar-benar tidak memiliki hubungan dengan kandidat itu tidak mudah. Karena itu, semuanya kembali pada komitmen pribadi pansel dan pemegang kekuasaan,” jelasnya. Ia berharap seluruh pihak mampu menekan kepentingan pribadi demi melahirkan pemimpin birokrasi terbaik bagi Kota Batu. Sebelumnya, keenam kandidat telah menyelesaikan asesmen manajerial dan sosial kultural (mansoskul) di BKD Provinsi Jawa Timur pada Senin (11/5/2026). Dalam tahapan tersebut, para peserta menjalani analisis studi kasus, simulasi persoalan pemerintahan, hingga tes intelektual. Selanjutnya, para kandidat masih harus menjalani tahapan penting berupa pemaparan makalah dan wawancara akhir di hadapan Pansel yang dijadwalkan berlangsung di Balai Kota Among Tani pada Senin, 18 Mei 2026. Setelah itu, mereka juga akan menjalani pemeriksaan kesehatan jasmani dan rohani di RSUD Karsa Husada sebelum penetapan Sekda definitif Kota Batu pada Kamis, 21 Mei 2026.
Dua Mahasiswa Prodi HKI UMM Raih Runner-up LKTI VOSICO 2026 Tingkat Nasional

Foto bersama Ramzan dan Aysyiyah Fitri di ruangan Prodi HKI UMM pwmu.co –Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang dalam ajang nasional Volcano Scientific Competition (VOSICO) 2026 yang diselenggarakan di Universitas Negeri Malang. Tim mahasiswa HKI UMM berhasil meraih posisi runner-up pada cabang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Mahasiswa setelah bersaing dengan berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia. Dua mahasiswa yang berhasil membawa pulang Juara II tersebut adalah Ramzan Rashiful Fikri dan Aysyiyah Fitri Ken Pandansari Sekar Pembayun, mahasiswa angkatan 2023 Prodi HKI UMM. Dalam kompetisi tersebut, panitia menetapkan lima finalis terbaik dari berbagai perguruan tinggi besar, yakni: Universitas Negeri Malang Universitas Diponegoro Institut Teknologi Bandung Universitas Muhammadiyah Malang Universitas Brawijaya Setelah melalui proses presentasi dan penjurian yang ketat pada Sabtu (16/5/2026), tim HKI UMM berhasil menempati posisi kedua nasional. Sekretaris Prodi HKI UMM, R. Tanzil Fawwaiq Sayyaf, menyampaikan rasa bangga atas capaian kedua mahasiswa tersebut yang mampu bersaing di level nasional. “Prodi dan kampus sangat bangga dengan pencapaian ini. Semoga prestasi ini menjadi inspirasi untuk terus berkarya, berprestasi, dan membawa nama baik Prodi HKI UMM ke tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya. Ia juga memberikan motivasi kepada mahasiswa HKI agar terus mengembangkan kemampuan akademik dan inovasi ilmiah. “Teruslah melangkah dan buktikan bahwa mahasiswa HKI mampu bersaing dalam dunia akademik dan inovasi ilmiah,” lanjutnya. Sementara itu, Aysyiyah Fitri mengaku tidak menyangka dapat meraih Juara II mengingat persaingan yang sangat ketat dari kampus-kampus besar lainnya. “Kami tidak menyangka bisa meraih Juara II karena presentasi dari kampus lain juga sangat bagus. Alhamdulillah, kami bersyukur atas hasil ini,” ungkapnya. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa HKI UMM mampu menunjukkan kualitas akademik, kreativitas, dan daya saing di tingkat nasional. Keberhasilan ini juga diharapkan menjadi motivasi lahirnya karya-karya ilmiah inspiratif dari generasi muda yang peduli terhadap masa depan bangsa dan kemanusiaan. *) Penulis : Khoen Eka