Dampak Kurs Rupiah Melemah: Ancaman Biaya Hidup dan Strategi Adaptasi Finansial Keluarga

Dollar menguat, rupiah melemah (Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto) PORTAL7.CO.ID – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat telah mencapai level Rp17.630 per dolar AS, sebuah kondisi yang menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi rumah tangga masyarakat Indonesia. Fenomena ini dipicu oleh kombinasi faktor, termasuk gejolak geopolitik global dan kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat. Kondisi ini menjadi sorotan utama dalam pemberitaan ekonomi pada Senin, 18 Mei 2026, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Nilai tukar yang tertekan ini memberikan tekanan langsung pada daya beli masyarakat dan struktur pengeluaran bulanan keluarga. Dampak pelemahan rupiah ini menimbulkan efek berantai yang signifikan terhadap biaya hidup masyarakat, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia pada komoditas impor. Hal ini dijelaskan oleh Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan Syaifullah. “Tentu harga bahan pokok yang naik, seperti tahu tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri. Kemudian BBM dan transportasi naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, hingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal,” ungkap Yunan. Dampak ini bersifat universal, artinya masyarakat yang tidak secara langsung mengonsumsi barang impor tetap akan merasakan kenaikan biaya hidup. Kenaikan biaya produksi di sektor industri lokal, yang bergantung pada bahan baku impor, akan turut menaikkan harga jual akhir. Yunan Syaifullah menegaskan bahwa tidak ada lapisan masyarakat yang sepenuhnya terbebas dari dampak ini, meskipun konsumsi barang impor mereka minim. “Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor, mereka akan tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik. Kenaikan dolar ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” tegas Yunan. Menghadapi fluktuasi kurs ini, para ahli menyarankan masyarakat untuk mengambil langkah proaktif dalam mengelola keuangan pribadi. Prioritas utama adalah mengamankan dana darurat dan menunda segala bentuk konsumsi yang tidak mendesak. Selain itu, untuk menjaga nilai aset jangka panjang di tengah inflasi, disarankan untuk melakukan diversifikasi tabungan ke instrumen investasi yang bersifat defensif. “Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan tunda pembelian. Namun, untuk menjaga nilai aset jangka panjang, sebagian tabungan bisa didiversifikasi ke emas, reksadana, dan saham sektor defensif secukupnya saja untuk mengurangi risiko,” jelas Yunan. Yunan juga memberikan peringatan keras mengenai meningkatnya penggunaan layanan kredit instan atau fitur paylater yang dianggap berisiko menciptakan ilusi stabilitas finansial. “Kebiasaan masyarakat kita seperti hobi paylater ini membuat terlena. Kebiasaan ini membuat ilusi kita punya uang lebih padahal itu utang. Bunga dan denda jika terlambat membayar dapat menguras habis uang kita,” tambahnya. Panduan Langkah Demi Langkah Memilih Saham Perbankan Unggulan di Mei 2026 Meskipun situasi ini menantang, Yunan melihat adanya peluang baru bagi generasi muda yang memiliki keahlian digital. Kondisi pelemahan rupiah dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pendapatan dalam mata uang asing. “Sekarat anak muda bisa mempelajari skill digital dan membangun side hustle sesuai minat, misalnya menjadi konten kreator atau copywriter. Skill yang bisa menghasilkan pendapatan dolar saat ini justru menjadi peluang saat Rupiah melemah,” urai Yunan. Sebagai langkah mitigasi segera, masyarakat diminta untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap arus kas pribadi mereka. Langkah konkret seperti menghentikan langganan layanan digital yang tidak krusial dan mengurangi gaya hidup konsumtif sangat diperlukan untuk menjaga kestabilan keuangan di masa sulit ini.

Menjaga buku dan nyala literasi di tengah kebisingan informasi

Warga bersama siswa SD membaca buku di Perpustakaan Sabha Widya Sradha, Desa Sumerta Kelod, Denpasar, Bali, Minggu (17/5/2026). Kegiatan dalam memperingati Hari Perpustakaan Nasional tersebut mengusung tema literasi desa melalui kearifan lokal dengan menggelar acara gerakan membaca dan edukasi yang diikuti ratusan siswa SD serta warga setempat. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/nym. Selamat Hari Buku, mari menjaga buku dan menyalakan kembali literasi di tengah kebisingan informasi yang serba instan! Jakarta (ANTARA) – Setiap 17 Mei, Indonesia memperingati Hari Buku Nasional. Tanggal itu dipilih karena bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980, sementara peringatannya mulai digagas pada 2002, di tengah kegelisahan tentang rendahnya minat baca dan lemahnya ekosistem perbukuan nasional. Artinya, Hari Buku sejak awal bukan sekadar seremoni, melainkan lahir dari sebuah kecemasan, bahwa bangsa ini ingin maju, tetapi belum sungguh-sungguh menjadikan buku sebagai bagian dari napas sehari-hari. Namun, pertanyaan yang paling penting hari ini bukan apakah orang masih membaca buku, melainkan apakah kita masih punya kesabaran untuk tinggal lebih lama bersama gagasan dalam sebuah buku? Kebisingan informasi Kita hidup dalam dunia yang semakin bising oleh informasi. Notifikasi di layar ponsel muncul sebelum pikiran selesai. Berita berubah dalam hitungan menit, sementara opini beredar sebelum peristiwa benar-benar dipahami. Di media sosial, orang bisa berdebat keras atas sesuatu yang baru dibaca sekilas, seolah semua orang tampak tahu banyak hal, tetapi sering kali tidak punya cukup waktu untuk memahami sesuatu secara utuh. Dalam suasana yang seperti itu, buku menjadi sesuatu yang terasa kuno. Sebab, buku tidak bergerak cepat, tidak bisa di-scroll dengan ringan, juga tidak memberi kepuasan instan, seperti video pendek. Sebaliknya, buku menuntut waktu, perhatian, dan kesediaan untuk masuk pelan-pelan ke dalam pikiran orang lain. Melalui buku, seseorang belajar menunda kesimpulan, melatih kesabaran, memasuki pikiran orang lain, dan menyusun ulang pandangannya sendiri. Di sinilah buku memiliki peran yang berbeda dengan bacaan di media sosial dari layar ponsel. Buku tidak hanya memberi informasi, tapi membentuk cara berpikir. Membaca buku membuat seseorang belajar mengikuti alur argumentasi, mengenali kompleksitas, memahami konteks, dan menerima bahwa tidak semua hal bisa dijelaskan dalam satu kalimat pendek. Buku mengajarkan bahwa pengetahuan tidak selalu datang sebagai jawaban cepat. Pengetahuan kadang datang sebagai proses panjang yang pelan-pelan mengubah cara kita melihat dunia. Karena itu, nasib buku sejatinya adalah nasib kebudayaan berpikir. Generasi hari ini hidup dalam arus informasi yang sangat deras. Bisa mengakses apa saja dalam hitungan detik, tetapi akses terhadap informasi tidak otomatis berarti kedalaman pengetahuan. Banyak orang membaca potongan, ringkasan, kutipan, unggahan pendek, dan komentar. Meski semua itu berguna, tetapi tidak selalu cukup untuk membentuk daya pikir yang utuh. Masyarakat yang tidak terbiasa membaca panjang akan lebih mudah terseret oleh slogan pendek. Masyarakat yang tidak akrab dengan buku akan lebih mudah puas dengan kesimpulan instan. Padahal kehidupan terlalu rumit untuk dibaca singkat. Masalah kemiskinan, pendidikan, lingkungan, politik, agama, perang, teknologi, dan ketimpangan tidak bisa dipahami hanya lewat potongan informasi. Data Program Penilaian Siswa Internasional (PISA) 2022 memberi peringatan keras. Rata-rata skor membaca siswa Indonesia usia 15 tahun hanya 359, jauh di bawah rata-rata dunia sebesar 476. Lebih mencemaskan lagi, hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam kemampuan membaca. Artinya, sekitar tiga dari empat siswa belum mencapai kompetensi minimum untuk memahami gagasan utama, menemukan informasi eksplisit, dan merefleksikan tujuan teks secara sederhana. Data ini menunjukkan bahwa problem literasi kita bukan hanya soal rendahnya minat membaca buku, tetapi juga melemahnya kemampuan memahami bacaan secara mendalam. Angka itu memang tidak boleh dibaca sebagai vonis terhadap generasi muda. Lebih tepat, jika dibaca sebagai cermin reflektif bagi kita bersama. Negara-negara yang serius membangun budaya baca memahami hal ini. Mereka tidak memandang buku hanya sebagai barang dagangan, tetapi sebagai infrastruktur peradaban. Negara lain Finlandia, misalnya, menempatkan budaya baca sebagai bagian dari strategi literasi nasional yang inklusif. Tujuannya bukan sekadar menaikkan skor membaca, tetapi membangun budaya baca yang kuat, beragam, dan mendukung kualitas hidup warga. Jepang juga sejak lama membangun kebiasaan membaca anak melalui perpustakaan sekolah, toko buku, manga, dan budaya membaca di ruang publik. Di sana, membaca diperlakukan sebagai kebijakan jangka panjang, bukan sekadar lomba pidato, poster tahunan, atau seremoni literasi. Di Korea Selatan, negara hadir melalui kebijakan promosi budaya membaca yang melihat literasi sebagai bagian dari kualitas warga negara. Melalui Reading Culture Promotion Act, negara menempatkan budaya membaca sebagai bagian dari peningkatan daya intelektual, kesehatan emosional, pembelajaran sepanjang hayat, dan kesempatan yang setara bagi warga untuk terlibat dalam aktivitas membaca. Norwegia, bahkan menunjukkan bahwa menjaga buku juga berarti menjaga ekosistem perbukuan. Sejak 1 Januari 2024, Book Law di Norwegia memberlakukan sistem harga tetap untuk buku baru selama 12 bulan sejak pertama kali diterbitkan dalam format tertentu. Tujuannya, antara lain menjaga keberagaman literatur, mendukung penulis dan penerbit, serta memastikan toko buku di daerah kecil tetap bisa bertahan. Pengalaman negara-negara itu memberi pelajaran penting, bahwa budaya baca tidak tumbuh hanya dari nasihat moral, tapi perlu ditopang oleh ekosistem. Minat baca bukan semata urusan niat individu, tapi juga hasil dari lingkungan sosial yang membuat buku mudah ditemukan, menyenangkan untuk disentuh, dan wajar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Negara yang serius menjaga buku pada dasarnya sedang menjaga kualitas percakapan publiknya. Sebab, buku membentuk warga, memperluas imajinasi sosial, dan menjaga kemampuan masyarakat untuk berdialog dengan masa lalu, memahami masa kini, serta membayangkan masa depan. Menyalakan literasi Dalam konteks Indonesia, persoalannya memang berlapis. Kita memiliki Perpustakaan Nasional, perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah, taman bacaan masyarakat, komunitas literasi, penerbit independen, penulis, guru, pustakawan, dan pembaca-pembaca sunyi yang terus bekerja tanpa banyak sorotan. Perpusnas juga memiliki layanan digital, seperti iPusnas, yang memungkinkan orang membaca dan berbagi bacaan secara daring. Namun, tantangannya adalah bagaimana semua inisiatif itu tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi ekosistem nasional yang lebih kuat. Menyalakan kembali literasi berarti mengubah cara kita memandang buku. Buku perlu dikembalikan sebagai pengalaman hidup. Sekolah perlu memberi ruang membaca bebas, bukan hanya membaca untuk ujian. Perpustakaan perlu menjadi ruang sosial yang nyaman, bukan gudang sunyi yang hanya dikunjungi saat butuh referensi. Pemerintah daerah perlu melihat perpustakaan sebagai investasi peradaban, bukan sekadar pelengkap administrasi pembangunan. Kita juga perlu berdamai dengan teknologi. Musuh buku bukan selalu gawai. Hal yang menjadi masalah adalah ketika

Rupiah Jatuh ke Rp17.630, Harga Hidup Naik, Pak Yunan Beri Tips

BISIK.ID – Nilai tukar rupiah terus menurun akibat ketegangan geopolitik global dan suku bunga tinggi di Amerika Serikat. Pada akhir bulan, rupiah menembus Rp 17.630 per dolar AS, menandakan tekanan signifikan bagi ekonomi Indonesia. Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan Syaifullah, menegaskan bahwa pelemahan rupiah bukan sekadar angka di pasar keuangan. Ia menilai hal itu menjadi ancaman nyata bagi kondisi ekonomi rumah tangga. Menurut Yunan, penguatan dolar memicu efek berantai yang meningkatkan biaya hidup. Indonesia masih sangat bergantung pada bahan impor, sehingga kenaikan harga barang pokok dan transportasi langsung memengaruhi pengeluaran bulanan masyarakat. “Tentu harga bahan pokok yang naik, seperti tahu tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri. Kemudian BBM dan transportasi naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, hingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal,” ungkap Yunan kepada wartawan, Senin, 18 Mei 2026. Seringkali, masyarakat merasa aman karena tidak membeli barang impor secara langsung. Namun Yunan menegaskan bahwa biaya hidup mereka tetap akan membengkak seiring melonjaknya biaya produksi di sektor industri lokal. “Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor, mereka akan tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik. Kenaikan dolar ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya. Dalam menghadapi fluktuasi ini, Yunan menyarankan agar masyarakat tidak panik. Langkah pertama adalah memastikan dana darurat aman dan menunda konsumsi yang tidak mendesak. Ia menekankan pentingnya memprioritaskan kebutuhan primer dan mengerem keinginan membeli barang yang harganya sensitif terhadap pergerakan dolar. “Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan tunda pembelian. Namun, untuk menjaga nilai aset jangka panjang, sebagian tabungan bisa didiversifikasi ke emas, reksadana, dan saham sektor defensif secukupnya saja untuk mengurangi risiko,” jelas Yunan. Yunan juga memperingatkan bahaya tersembunyi dari kebiasaan menggunakan layanan kredit instan. Menurutnya, fitur-fitur seperti itu sering menciptakan ilusi finansial yang dapat menguras tabungan masyarakat di masa sulit. “Kebiasaan masyarakat kita seperti hobi paylater ini membuat terlena. Kebiasaan ini membuat ilusi kita punya uang lebih padahal itu utang. Bunga dan denda jika terlambat membayar dapat menguras habis uang kita,” tambahnya. Meski situasinya menantang, Yunan mendorong generasi muda untuk tidak pesimistis. Ia melihat penguatan dolar sebagai momentum untuk memanfaatkan pasar global secara mandiri. “Sekarang anak muda bisa mempelajari skill digital dan membangun side hustle sesuai minat, misalnya menjadi konten kreator atau copywriter. Skill yang bisa menghasilkan pendapatan dolar saat ini justru menjadi peluang saat Rupiah melemah,” urai Yunan. Sebagai langkah penyelamatan kilat, ia mengimbau masyarakat untuk segera mengevaluasi total arus kas pribadi. Berhenti berlangganan layanan digital yang tidak krusial serta memangkas gaya hidup konsumtif menjadi tindakan darurat yang wajib diambil saat ini. Dalam kondisi kurs yang tengah bergejolak, stabilitas ekonomi seseorang tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa besar penghasilan yang didapat. Keberhasilan tergantung pada seberapa sehat dan rasional mereka dalam mengelola keuangan.

Sempat Mengais Limbah di Eropa, Alumnus UMM Ini Jadi Bos Spa Beromzet Ratusan Juta

Membangun bisnis spa beromzet ratusan juta rupiah per bulan di Polandia bukanlah pencapaian instan bagi Galang. Alumnus Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2011 ini harus merintis karirnya di Eropa dari titik terendah, yakni dengan memeras keringat sebagai petugas kebersihan gudang dan mengurus sisa limbah demi bertahan hidup. Keberangkatannya ke Eropa pada Mei 2021 bukanlah perjalanan yang mulus. Setelah berkali-kali gagal menembus visa kerja ke Australia, Selandia Baru, dan Kanada sejak 2017, ia membidik Polandia yang saat itu minim lirikan pekerja Indonesia. Setibanya di sana, kenyataan keras langsung menyapanya. Galang mengungkapkan bahwa pengalaman awalnya di Eropa sangatlah berat karena ia harus bekerja kasar tanpa modal bahasa asing yang mumpuni. “Sesampainya di Polandia, saya bekerja sebagai petugas kebersihan gudang tanpa membutuhkan kemampuan bahasa khusus. Mulai dari membersihkan area produksi, mengangkut kardus, hingga membersihkan sisa limbah kerja setiap hari. Pengalaman itu memang berat, tetapi justru menjadi fase penting untuk belajar bertahan, memahami budaya kerja Eropa, dan membentuk mental sebagai perantau,” tegasnya 18 Mei lalu pada Tim Humas UMM. Tak ingin selamanya menjadi pekerja kasar, Galang beralih profesi menjadi pegawai di sebuah restoran kebab selama hampir tiga setengah tahun. Di sanalah ia mulai menyerap bahasa Polandia, sistem pajak, legalitas usaha, dan celah bisnis di Eropa. Ia menyadari bahwa kesuksesan di luar negeri membutuhkan kejelian melihat peluang, bukan sekadar bekerja dan menerima gaji. “Banyak orang datang ke luar negeri hanya bekerja biasa, tapi ada juga yang mencoba membangun sesuatu yang lebih besar,” katanya. Peluang emas itu ia temukan pada bisnis relaksasi bertema Asia yang masih langka di Polandia. Galang kemudian menggandeng terapis asal Bali untuk merintis usaha spa, meski harus membagi waktu dengan pekerjaannya di restoran kebab. Ia menjelaskan bahwa membuka usaha di Eropa menuntut pemahaman regulasi yang sangat ketat dan perhitungan finansial yang matang. “Membangun usaha di Eropa tidak sesederhana membuka bisnis di Indonesia. Saya harus memahami regulasi yang sangat detail, mulai dari pajak perusahaan, keamanan pelanggan, administrasi usaha, hingga kewajiban menggunakan jasa lawyer dan akuntan,” jelas Galang. Kini, berkat insting bisnis yang telah terasah sejak menjadi sales di Indonesia, usaha “Tera Thai Salon Day Spa” miliknya melesat. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, bisnis tersebut meraup omzet Rp500 hingga Rp600 juta per bulan dan bersiap membuka cabang baru di Kota Gdansk. Kisah inspiratif Galang ini memberikan pesan kuat bagi generasi muda bahwa kesuksesan di negeri orang bukanlah undian berhadiah, melainkan hasil dari ketahanan mental, kemauan beradaptasi, dan keberanian mengambil risiko. “Kadang kita tidak pernah tahu rezeki ada di mana kalau tidak berani mencoba dan terus belajar,” pungkasnya menutup cerita.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Pengamat Ekonomi UMM Sebut Pelemahan Rupiah Berdampak ke Semua Lapisan Masyarakat

Istimewa NILAI RUPIAH – Pengajar ekonomi pembangunan Universitas Muhammadiyah malang, Yunan Syaifullah. Ia meyakini bahwa pelemahan Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat berdampak pada kebutuhan rumah tangga masyarakat, khususnya di Kota Malang, Senin, (18/5/2026). Ringkasan Berita: Pelemahan Rupiah terhadap Dollar AS dinilai berdampak pada kebutuhan rumah tangga masyarakat. Harga komoditas berbahan impor seperti kedelai berpotensi naik dan memengaruhi produk tahu tempe. Masyarakat diminta lebih bijak mengelola keuangan dan mengurangi penggunaan paylater. Laporan Wartawan TribunJati.com, Benni Indo TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Pengajar ekonomi pembangunan Universitas Muhammadiyah malang, Yunan Syaifullah meyakini bahwa pelemahan Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat berdampak pada kebutuhan rumah tangga masyarakat, khususnya di Kota Malang. Dalam keterangan resmi yang dikeluarkan oleh Humas Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan menjelaskan pelemahan Rupiah memicu efek berantai yang langsung membebani pengeluaran rumah tangga, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia pada bahan impor. “Tentu harga bahan pokok yang naik, seperti tahu tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri. Kemudian BBM dan transportasi naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, sehingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal,” ungkapnya, Senin (18/5/2026). Banyak masyarakat merasa aman karena tidak membeli barang impor secara langsung, padahal menurut Yunan, biaya hidup mereka akan tetap membengkak seiring naiknya biaya produksi industri lokal. “Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor akan tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik. Pelemahan Rupiah ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya. Dampak Pelemahan Rupiah Dinilai Menyeluruh Menghadapi situasi fluktuatif ini, ia menyarankan masyarakat untuk tidak panik, melainkan memastikan dana darurat aman dan menunda konsumsi yang tidak mendesak. “Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan tunda pembelian yang sensitif terhadap Dollar seperti gawai. Namun, untuk menjaga nilai aset jangka panjang, sebagian tabungan bisa didiversifikasi ke emas, reksadana, dan saham sektor defensif secukupnya saja untuk mengurangi risiko,” jelas Yunan. Di tengah ancaman pelemahan Rupiah ini, ia juga menyoroti bahaya kebiasaan menggunakan layanan kredit instan yang menciptakan ilusi finansial dan berpotensi menguras tabungan. “Kebiasaan masyarakat hobi pay later ini membuat terlena. Kebiasaan ini membuat ilusi kita punya uang lebih padahal itu utang. Bunga dan denda jika terlambat membayar dapat menguras habis uang kita,” tambahnya. Yunan mendorong masyarakat untuk melihat fenomena pelemahan Rupiah ini sebagai momentum emas mencari peluang penghasilan mandiri dari pasar global. “Sekarang anak muda bisa mempelajari keahlian digital dan membangun pekerjaan sampingan sesuai minat, misalnya menjadi konten kreator atau penulis. Keahlian yang bisa menghasilkan pendapatan Dollar saat ini justru menjadi peluang saat Rupiah melemah,” urainya. Sementara itu, Pemkot Malang melalui Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Malang mengatakan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat dinilai belum berdampak signifikan terhadap kebutuhan pokok masyarakat di Kota Malang. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Eko Sri Yuliadi. Menurut Eko, perputaran ekonomi masyarakat, khususnya untuk kebutuhan sehari-hari yang tidak bergantung pada impor, masih berjalan normal. “Kalau melihat kebutuhan masyarakat sehari-hari yang tidak terkait ekspor-impor, saya kira masih normal. Kebutuhan pangan dan pokok di Kota Malang masih aman,” ujarnya. Penulis: Benni Indo | Editor: Samsul Arifin

Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar AS Mengancam Ekonomi Rumah Tangga

Dollar menguat, rupiah melemah (Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto) Koran Manado – Nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp 17.630 per dolar AS mulai mengancam kondisi ekonomi rumah tangga masyarakat akibat gejolak geopolitik global dan tingginya suku bunga di Amerika Serikat pada Senin (18/5/2026). Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan Syaifullah, menjelaskan bahwa penguatan dolar memicu efek berantai yang meningkatkan biaya hidup masyarakat, seperti dilansir dari Detikcom. Kenaikan harga tersebut terutama berdampak pada bahan pangan pokok seperti tahu dan tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan melalui impor. Selain bahan pokok, harga bahan bakar minyak (BBM) dan sektor transportasi juga berpotensi naik karena Indonesia masih bergantung pada impor minyak dan energi. “Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor, mereka akan tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik. Kenaikan dolar ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” kata Yunan Syaifullah. Yunan menyarankan masyarakat untuk mengamankan dana darurat, menunda konsumsi yang tidak mendesak, serta fokus pada kebutuhan primer. Sebagian tabungan juga dapat didiversifikasi ke instrumen seperti emas, reksadana, dan saham sektor defensif secukupnya untuk menjaga nilai aset jangka panjang. Di sisi lain, Yunan mengingatkan bahaya penggunaan layanan kredit instan seperti fitur paylater yang dapat menciptakan ilusi finansial dan menguras tabungan masyarakat saat jatuh tempo. Bagi generasi muda, fenomena melemahnya rupiah ini dipandang sebagai momentum untuk mempelajari keahlian digital dan membangun bisnis sampingan guna menghasilkan pendapatan dalam mata uang dolar. Masyarakat kini diimbau melakukan evaluasi total terhadap arus kas pribadi, memangkas gaya hidup konsumtif, serta berhenti berlangganan layanan digital yang tidak krusial.

Tingkatkan Kualitas Pelayanan, Polres Malang Libatkan Tokoh Masyarakat dalam FKP

Suasana saat forum komunikasi publik yang berlangsung di Aula Polres Malang, Senin (18/5/2026). (Abdullah/Tagarjatim.id) Kabupaten Malang, Tagarjatim.id – Polres Malang kembali menggelar Forum Konsultasi Publik (FKP) bertema “Polri untuk Masyarakat” guna meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Polres Malang, Senin (18/05/2026), dan dihadiri tokoh masyarakat dari 30 Polsek jajaran Polres Malang. Kapolres Malang AKBP Muhammad Taat Resdianto mengatakan, pelaksanaan Forum Konsultasi Publik mengacu pada Peraturan Kementerian PAN-RB Nomor 16 Tahun 2017 tentang Forum Konsultasi Publik sebagai sarana dialog dan partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pelayanan publik. “Forum ini menjadi wadah untuk memberikan penilaian terhadap pelaksanaan kebijakan, penerapan kebijakan, hingga dampak kebijakan pelayanan publik. Semua itu dilakukan sebagai bentuk evaluasi demi meningkatkan transparansi dan efektivitas pelayanan,” ujar AKBP Taat saat membuka kegiatan. Menurutnya, Polres Malang terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan publik. Bahkan sejak 2019, Polres Malang telah meraih predikat zona integritas dan pelayanan publik sebagai salah satu bentuk komitmen menghadirkan birokrasi yang bersih dan melayani. “Program ini bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi juga simbol komitmen unit kerja untuk menjadi ikon birokrasi yang melayani, bersih, dan bebas dari korupsi,” katanya. Kapolres juga mengajak seluruh peserta forum untuk aktif memberikan masukan dan evaluasi terhadap pelayanan kepolisian agar kualitas pelayanan kepada masyarakat semakin baik. “Melalui forum ini kami ingin bersama-sama mengidentifikasi hambatan yang ada, mencari solusi terbaik, dan terus meningkatkan pelayanan yang transparan, cepat, efektif, dan efisien bagi masyarakat,” tegasnya. Dalam kegiatan tersebut, peserta forum juga menerima paparan hasil survei pelayanan publik Polres Malang yang dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (LPP-UMM). Koordinator LPP-UMM, Ririn Harini, menjelaskan hasil survei menunjukkan nilai pelayanan publik Polres Malang tahun 2025 mencapai angka 96,98. Beberapa unit pelayanan yang mendapat penilaian tinggi di antaranya pelayanan penerbitan SIM Satlantas dengan nilai 97,03, layanan SP2HP Satresnarkoba dengan nilai 97, layanan SP2HP Satreskrim 96,97, penerbitan SKCK Satintelkam 96,97, SPKT 96,94, serta pelayanan Sattahti sebesar 96,99. “Penilaian tidak hanya berdasarkan responden, tetapi juga mengacu pada lima pilar pelayanan yaitu empathy, professionalism, responsiveness, ownership, dan consistency,” terang Ririn. Ia menambahkan, pelayanan publik yang baik harus mampu memenuhi hingga melampaui kebutuhan masyarakat guna meningkatkan loyalitas, membangun reputasi lembaga, serta menciptakan kepuasan publik. “Pelayanan yang prima menjadi kunci untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi,” pungkasnya.(*)

Apresiasi Bakat Dan Prestasi Anak Muda, UMM Siapkan Beragam Beasiswa Untuk Semua Talenta

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memastikan ketersediaan puluhan ragam beasiswa inklusif untuk menyambut lebih dari 6.000-an mahasiswa baru. Langkah strategis ini menjadi komitmen nyata UMM dalam mematahkan stigma mahalnya biaya kuliah, sekaligus menjamin agar generasi muda berprestasi di seluruh negeri tidak kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi berkualitas. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menjelaskan bahwa kebijakan penyediaan ragam beasiswa ini merupakan wujud tata kelola keuangan universitas yang inklusif dan berkeadilan. “Kami mengelola pendanaan secara strategis agar program beasiswa ini terus berkelanjutan. Ini adalah bentuk nyata filantropi pendidikan Muhammadiyah mrelalui kampus putih,” tegas Juanda 18 Mei lalu pada Tim Humas UMM. Hal ini senada dengan visi universitas bahwa rancangan beasiswa khusus ini ditujukan untuk menjaring talenta terbaik dari seluruh penjuru negeri, tanpa terkecuali. “Melalui program ini, Kampus Putih menunjukkan komitmennya dalam membuka peluang seluas-luasnya bagi generasi muda Indonesia untuk menempuh pendidikan tinggi yang bermutu dan berdaya saing global,” jelasnya. Pilihan beasiswa yang ditawarkan sangat adaptif terhadap tren masa kini. Bagi lulusan pendidikan menengah, Beasiswa Pendidikan Indonesia Emas menawarkan potongan sebesar 50% pada Biaya Studi Semester I (BSS-I). Terdapat pula Beasiswa Jalur Prestasi Akademik dan Non Akademik yang memfasilitasi calon mahasiswa masuk UMM tanpa tes. Menariknya, jalur ini turut merangkul influencer (konten kreator) Youtuber dengan subscriber minimal 5k dan selebgram dengan follower minimal 10k, dengan kriteria konten yang kreatif, edukatif, dan positif. Nilai-nilai sosial dan pengabdian juga diutamakan. Kampus ini menyediakan Beasiswa Yatim Piatu yang diberikan kepada siswa/siswi berstatus Yatim/Yatim Piatu yang tidak mampu. Manfaatnya berupa pembebasan Dana Pengembangan Pendidikan (DPP) dan Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) selama 8 semester. Di tingkat pascasarjana, terdapat Beasiswa 5.000 Doktor untuk Kepala dan Wakil Kepala Sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah. Ekosistem pendanaan pendidikan di UMM semakin komprehensif dengan hadirnya sinergi bersama pemerintah dan dunia usaha. Kampus putih turut mengakomodasi Beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk memastikan pemerataan akses bagi mahasiswa berekonomi lemah. Lebih istimewa lagi, Kampus Putih menghadirkan Beasiswa Mitra Industri serta Beasiswa Unit Bisnis UMM yang didukung langsung oleh berbagai badan usaha strategis milik kampus, seperti PT. Taman Sengkaling, PT. Manajemen Hotel, PT Hilirisasi Teknologi, hingga PT BPR Syariah Artha Sinar Sejahtera. Jalur ini tidak sekadar meringankan biaya, melainkan juga menjadi jembatan awal bagi mahasiswa untuk menyerap pengalaman magang dan karir profesional. Ini adalah momentum emas bagi masyarakat luas. Jangan biarkan potensi dan mimpimu terhenti oleh keraguan finansial. Segera persiapkan berkas terbaik Anda dan wujudkan cita-cita di Kampus Putih, karena pendidikan bermutu adalah hak segala bangsa. (faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Akademisi UMM Sebut Pelemahan Rupiah Berdampak pada Kebutuhan Rumah Tangga, Termasuk di Kota Malang

ISTIMEWA RUPIAH LEMAH – Pengajar ekonomi pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah. Ia meyakini bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada kebutuhan rumah tangga masyarakat, termasuk di Kota Malang. Ringkasan Berita: Dosen Universitas Muhammadiyah malang (UMM), Yunan Syaifullah, meyakini bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada kebutuhan rumah tangga masyarakat, khususnya di Kota Malang Pelemahan rupiah memicu efek berantai yang langsung membebani pengeluaran rumah tangga, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia pada bahan impor SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG – Pengajar ekonomi pembangunan Universitas Muhammadiyah malang (UMM), Yunan Syaifullah, meyakini bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada kebutuhan rumah tangga masyarakat, termasuk di Kota Malang. Dalam keterangan resmi yang dikeluarkan oleh Humas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan menjelaskan, pelemahan rupiah memicu efek berantai yang langsung membebani pengeluaran rumah tangga, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia pada bahan impor. “Tentu harga bahan pokok yang naik, seperti tahu tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri.” “Kemudian BBM dan transportasi naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, sehingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal,” ungkapnya, Senin (18/5/2026). Banyak masyarakat merasa aman karena tidak membeli barang impor secara langsung, padahal menurut Yunan, biaya hidup mereka akan tetap membengkak seiring naiknya biaya produksi industri lokal. “Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor akan tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik.” “Pelemahan rupiah ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya. Menghadapi situasi fluktuatif ini, ia menyarankan masyarakat untuk tidak panik, melainkan memastikan dana darurat aman dan menunda konsumsi yang tidak mendesak. “Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan tunda pembelian yang sensitif terhadap dolaar seperti gawai.” “Namun, untuk menjaga nilai aset jangka panjang, sebagian tabungan bisa didiversifikasi ke emas, reksadana, dan saham sektor defensif secukupnya saja untuk mengurangi risiko,” jelas Yunan. Di tengah ancaman pelemahan Rupiah ini, ia juga menyoroti bahaya kebiasaan menggunakan layanan kredit instan yang menciptakan ilusi finansial dan berpotensi menguras tabungan. “Kebiasaan masyarakat hobi pay later ini membuat terlena.” “Kebiasaan ini membuat ilusi kita punya uang lebih padahal itu utang.” “Bunga dan denda jika terlambat membayar dapat menguras habis uang kita,” tambahnya. Yunan mendorong masyarakat untuk melihat fenomena pelemahan rupiah ini sebagai momentum emas mencari peluang penghasilan mandiri dari pasar global.

Pakar UMM Bagikan Strategi Finansial Saat Dolar Melonjak

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah, M.Sc. (Foto: Istimewa) Panduan & Petunjuk Perjalanan MALANG POST – Gejolak geopolitik global dan tingginya suku bunga di Amerika Serikat belakangan ini telah menekan nilai tukar Rupiah secara signifikan. Pelemahan ini bukan sekadar angka di layar bursa, melainkan ancaman nyata yang diam-diam menyusup ke dapur dan dompet masyarakat luas. Menanggapi fenomena ini, Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah, M.Sc memberikan pandangan kritis sekaligus solusi praktis agar masyarakat tetap tangguh secara finansial. Yunan menjelaskan bahwa kenaikan dolar memicu efek berantai yang langsung membebani pengeluaran rumah tangga, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia pada bahan impor. “Tentu harga bahan pokok yang naik, seperti tahu tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri. Kemudian BBM dan transportasi naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, hingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal,” jelasnya. Banyak masyarakat merasa aman karena tidak membeli barang impor secara langsung, padahal menurut Yunan, biaya hidup mereka akan tetap membengkak seiring naiknya biaya produksi industri lokal. “Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor, mereka akan tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik. Kenaikan dolar ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya. Menghadapi situasi fluktuatif ini, ia menyarankan masyarakat untuk tidak panik, melainkan memastikan dana darurat aman dan menunda konsumsi yang tidak mendesak. “Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan tunda pembelian yang sensitif terhadap dolar seperti gadget baru. Namun, untuk menjaga nilai aset jangka panjang, sebagian tabungan bisa didiversifikasi ke emas, reksadana, dan saham sektor defensif secukupnya saja untuk mengurangi risiko,” jelas Yunan. Di tengah ancaman inflasi ini, ia juga menyoroti bahaya kebiasaan menggunakan layanan kredit instan yang menciptakan ilusi finansial dan berpotensi menguras tabungan. “Kebiasaan masyarakat kita seperti hobi paylater ini membuat terlena. Kebiasaan ini membuat ilusi kita punya uang lebih padahal itu utang. Bunga dan denda jika terlambat membayar dapat menguras habis uang kita,” tambahnya. Meski demikian, Yunan mendorong generasi muda untuk melihat fenomena penguatan dolar ini sebagai momentum emas mencari peluang penghasilan mandiri dari pasar global. “Sekarang anak muda bisa mempelajari skill digital dan membangun side hustle sesuai minat, misalnya menjadi konten kreator atau copywriter. Skill yang bisa menghasilkan pendapatan dolar saat ini justru menjadi peluang saat Rupiah melemah,” urainya. Sebagai langkah penyelamatan, masyarakat diimbau untuk segera mengevaluasi kembali arus kas (cash flow) pribadinya masing-masing. Berhenti berlangganan layanan yang tidak krusial dan memangkas gaya hidup konsumtif adalah langkah darurat yang wajib diambil. Dalam kondisi kurs yang tengah bergejolak, stabilitas ekonomi seseorang tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar penghasilannya, melainkan seberapa sehat dan rasional ia mengelola keuangannya.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)