Mahasiswa Informatika UMM Sabet Juara Umum Motocross Papua

Di era gempuran digitalisasi di mana mahasiswa teknologi kerap diidentikkan dengan gaya hidup sedentary atau minim gerak di depan layar komputer, Javier Bhagawanta justru membuktikan ketangguhannya di atas medan berlumpur. Mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2023 ini sukses mendobrak stereotip tersebut dengan menaklukkan ganasnya sirkuit di ujung timur Indonesia. Ia berhasil mengukir sejarah dengan meraih gelar bergengsi Juara Umum pada ajang balap ekstrem Motocross & Grasstrack Kejurda Bupati Keerom Cup Seri II 2026. Berlaga pada 15 hingga 17 Mei 2026 di Sirkuit Yuwanain, Arso II, Kabupaten Keerom, Papua, Javier menunjukkan dominasi mutlak yang mengundang decak kagum. Berdasarkan hasil akhir kejuaraan, ia tidak hanya mengamankan satu podium, melainkan memborong tujuh piala sekaligus. Javier dinobatkan sebagai Juara Umum Setanah Papua U-23 setelah menyapu bersih posisi pilar: Juara 1 Kelas Sport & Trail (Kategori JU Setanah Papua U-23) dan Juara 2 Kelas Trail Standar 4L 155cc. Tak berhenti di situ, ia juga mendominasi Kategori JU Setanah Papua dengan meraih Juara 3 Kelas Sport & Trail, Juara 4 Kelas Bebek Modif 4T Tune Up, dan Juara 5 Kelas Special Engine 125-250cc, serta melengkapinya dengan menjuarai posisi ke-2 di Kelas Bebek Standar 2T 4T Open. Perjalanan menyabet deretan trofi tersebut dilaluinya dengan rintangan yang tak mudah, mengingat ia sempat mengalami penurunan kondisi fisik drastis hingga harus total menghentikan porsi latihannya seminggu sebelum keberangkatan. Setibanya di arena balap, ia juga dipaksa cepat beradaptasi dengan karakter sirkuit yang menantang serta menghadapi kepungan pembalap-pembalap level nasional dari Merauke. “Tantangannya cukup sulit karena sirkuitnya tidak sebagus pada umumnya, ditambah saya juga bermain dan bersaing langsung bersama para atlet nasional,” ungkapnya. Untuk mengatasi tekanan berat di lintasan, Javier menyadari bahwa kesiapan mental adalah fondasi utama yang harus dibangun berdampingan dengan manajemen waktu. Ia sangat disiplin menyeimbangkan rutinitas kuliahnya dengan lari sore di lapangan kampus UMM dan rutin pulang ke Kediri setiap akhir pekan untuk mengasah kendali motor. Ia meyakini bahwa nyali yang ciut saat menatap pesaing di garis start adalah awal dari sebuah kekalahan. “Kalau mental tidak terbentuk, kita melihat lawan itu pasti sudah down duluan. Maka dari itu, mental dalam olahraga motocross ini sangat penting,” tegas pemuda yang sudah rutin mengikuti kejuaraan sejak dini ini. Pencapaian luar biasa ini tak lepas dari ekosistem pembinaan non-akademik Kampus Putih UMM yang sangat inklusif. Universitas secara nyata mewujudkan dukungannya melalui pemberian kemudahan perizinan akademik hingga skema insentif prestasi yang memberikan ruang bebas bagi mahasiswa untuk bersinar dan berdampak di luar disiplin ilmu utamanya. Kini, deretan piala kebanggaan tersebut ia persembahkan untuk kedua orang tua dan sahabatnya di Papua, seraya mematangkan ketahanan fisik dan mesin motor untuk menyambut Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Regional pada Juli mendatang. Di akhir, ia menitipkan pesan pembuktian bagi generasi muda agar tidak ragu mengeksplorasi potensi diri di luar zona nyaman. “Jangan pernah takut mencoba, jalani saja sembari kuliah, jangan malu-malu untuk menunjukkan kemampuan di bidangmu selagi itu positif,” pungkasnya.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Aturan Anak 5,5 Tahun Bisa Masuk SD Tuai Sorotan, Pakar UMM Desak Kemendikdasmen Upgrade Skill Guru

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) baru saja menggulirkan kebijakan pelonggaran batas usia masuk Sekolah Dasar (SD) menjadi 5,5 tahun. Langkah ini memicu sorotan tajam dari pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd. Ia menilai, aturan tersebut menyimpan bom waktu jika tidak segera dibarengi dengan perombakan manajemen sekolah dasar dan peningkatan kompetensi pedagogi guru secara masif guna mencegah stres pada anak. Arina menegaskan bahwa pembekalan ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi guru kelas satu SD kini menjadi agenda mendesak bagi Kemendikdasmen. Selama ini, kurikulum pendidikan guru dinilai lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk rentang usia 7 hingga 12 tahun. Jika dipaksakan tanpa adaptasi, pendidik akan gagap saat menghadapi tantrum dan sulit mengelola regulasi emosi anak. “Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid 5,5 tahun. Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” tegasnya 25 Mei pada tim Humas UMM. Untuk mencegah kekacauan di lapangan, manajemen sekolah dasar dituntut melakukan tiga adaptasi krusial. Sekolah wajib mendesain Kelas 1 Transisi dengan tata ruang bersudut bermain, melaksanakan standardisasi asesmen awal saat masa orientasi hanya untuk memetakan kebutuhan individual anak, serta menjembatani komunikasi intensif antara pendidik dan orang tua terkait batasan ekspektasi akademik. “Manajemen tidak bisa lagi sekadar menerima siswa baru lalu berjalan seperti biasa. Di tiga bulan pertama, durasi belajar wajib dipangkas menjadi 20-30 menit yang diselingi istirahat, agar anak tidak kaget dengan rutinitas baru,” paparnya. Selain kesiapan manajemen, Arina turut membagikan trik praktis bagi para pendidik agar siswa tidak tertekan di minggu-minggu pertama pembelajaran. Mengingat rentang fokus anak usia 5,5 tahun maksimal hanya 15 menit, pendekatan pengajaran di kelas harus berpegang teguh pada prinsip ‘Singkat, Bergerak, dan Bermain’. “Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan-pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” urai dosen PGSD tersebut. Sebagai pesan penutup, Arina mengingatkan pemerintah agar pelonggaran usia ini tidak diberlakukan secara pukul rata. Kebijakan ini idealnya tetap bersifat opsional dan didasarkan memberi pengetatan asesmen kesiapan psikologis anak. Pemerintah dituntut segera melakukan lokakarya pedagogi guru kelas satu dan secepatnya merilis modul praktis transisi PAUD-SD. Jika melalui evaluasi tahunan kelak ditemukan lonjakan angka stres anak atau putus sekolah di awal jenjang dasar, Kemendikdasmen harus mengambil langkah tegas untuk merevisi aturan ini demi melindungi hak tumbuh kembang anak-anak Indonesia.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Sineas Muda UMM Tampilkan Dua Film Pendek Penuh Pesan Sosial di Rumah Budaya Ratna

Malang, Tugumalang.id – Dukungan terhadap sineas muda Tanah Air kembali terlihat melalui acara pemutaran film bertajuk Kamisan: Warisan Abadi yang digelar di Rumah Budaya Ratna pada Rabu (21/5/2026). Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut menjadi ruang apresiasi karya bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang dalam praktikum Content Provider and Publisher. Dalam kegiatan tersebut, dua film pendek ditayangkan, yakni “Ater-Ater” karya Dwara Sinema dan “A Pain Thing: Gemurat Dalam Senyap” karya Javania Creative Noesantara. Kedua film hadir dengan tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan anak muda, mulai dari tradisi budaya hingga persoalan emosional yang sering dipendam sendiri. Film “Ater-Ater” Angkat Tradisi Jawa dan Nilai Kebersamaan Film pertama, “Ater-Ater”, ditulis oleh Zalva Alivia Yasmin dan terinspirasi dari pengalaman pribadinya. Film ini mengangkat tradisi Jawa ater-ater, yakni kebiasaan berbagi atau mengantarkan makanan kepada kerabat maupun tetangga sebagai bentuk menjaga hubungan sosial dan kebersamaan. Situs & Bangunan Bersejarah Cerita berfokus pada seorang perempuan yang pulang ke kampung halamannya, tetapi merasa enggan mengikuti tradisi tersebut. Pandangannya perlahan berubah setelah bertemu dengan seorang pemuda bernama Rangga. Dengan sentuhan romansa ringan, film ini menunjukkan bahwa ater-ater bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan bagian dari nilai kehidupan masyarakat yang mampu mempererat hubungan antarmanusia. Menariknya, karya tersebut awalnya dikembangkan dalam bentuk dokumenter sebelum akhirnya diadaptasi menjadi film pendek fiksi untuk kebutuhan praktikum kampus. “A Pain Thing: Gemurat Dalam Senyap” Soroti Kesehatan Mental Anak Muda Sementara itu, film kedua berjudul “A Pain Thing: Gemurat Dalam Senyap” mengangkat isu kesehatan mental dan pentingnya memiliki ruang untuk bercerita. Film ini berkisah tentang Rendra, seorang pelukis yang mengalami tekanan batin ketika menerima pesanan lukisan keluarga. Kegelisahan yang dipendam membuat hubungannya dengan sang kekasih, Putri, ikut terdampak karena Rendra memilih menutup diri. Konflik berkembang ketika Rendra akhirnya mengungkapkan bahwa dirinya merasa tidak mendapatkan pengakuan dari orang tuanya atas profesi yang dijalani. Namun, Putri mencoba meyakinkannya bahwa melukis tetap merupakan pekerjaan yang layak dan berarti. Dukungan tersebut membuat Rendra perlahan berani menyelesaikan pesanannya sekaligus membuka kembali komunikasi dengan keluarganya. Sutradara film “A Pain Thing: Gemurat Dalam Senyap”, Shaggil Mahara, mengatakan bahwa film tersebut lahir dari keresahan terhadap banyaknya orang yang tidak memiliki tempat untuk menceritakan luka dan masalahnya. “Tapi sejatinya manusia butuh tempat untuk bercerita,” kata Shaggil Mahara. Ia berharap film tersebut dapat diputar di lebih banyak tempat agar pesan yang dibawa bisa menjangkau masyarakat luas. Menurutnya, meningkatnya kasus menyakiti diri sendiri hingga mengakhiri hidup berkaitan dengan minimnya ruang aman untuk berbagi cerita dan emosi. Melalui film ini, penonton diharapkan lebih berani membuka diri kepada orang-orang terdekat dan terpercaya, karena bercerita dapat menjadi langkah awal untuk mencari solusi. Antusiasme Penonton Hidupkan Suasana Pemutaran Film Acara pemutaran film berlangsung meriah dengan antusiasme penonton yang memenuhi area Rumah Budaya Ratna. Selain sesi pemutaran film, panitia juga menghadirkan berbagai kegiatan interaktif seperti ice breaking, diskusi, dan tanya jawab bersama para pembuat film. Suasana semakin hangat ketika penonton mendapatkan konsumsi berupa ater-ater setelah penayangan film pertama, selaras dengan tema budaya yang diangkat. Kehadiran photobooth di area acara juga menjadi daya tarik tersendiri untuk mengabadikan momen bersama para pengunjung dan sineas muda yang terlibat. Acara pemutaran film ini tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga wadah apresiasi bagi karya sineas muda Tanah Air. Melalui tema-tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat, Kamisan: Warisan Abadi menunjukkan bahwa karya mahasiswa mampu menghadirkan pesan sosial dan budaya yang relevan. Kehadiran acara seperti ini diharapkan dapat terus mendukung perkembangan industri kreatif sekaligus membuka lebih banyak ruang bagi anak muda untuk berkarya dan menyampaikan cerita mereka kepada publik.
Bangun Kesadaran Ekologi Sejak Dini, Riset Dosen UMM Latih Siswa SD Kelola Sampah

MALANG POST – Ancaman krisis iklim dan darurat penumpukan sampah di Kabupaten Malang menuntut solusi berbasis riset yang komprehensif. Menjawab tantangan tersebut, Dosen sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Beti Istanti Suwandayani, S.Pd., M.Pd., memimpin riset edukasi ekologi. Panduan Kota & Daerah Sasarannya siswa Sekolah Dasar (SD). Bahkan sukses menyisihkan ribuan proposal dalam ajang pendanaan bergengsi tingkat nasional pada program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek ) yang diselenggarakan dan diberikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Penelitian ini bermula dari analisis tajam Beti terhadap kondisi kelestarian lingkungan dan minimnya literasi ekologi pada anak usia dini. Ia menyoroti bagaimana volume sampah yang terus melonjak setiap tahun di Kabupaten Malang. Ternyata berbanding terbalik dengan penerapan edukasi sistematis di bangku sekolah dasar, sehingga menimbulkan ancaman bagi kesehatan masyarakat. “Sekarang ini produksi sampah di Kabupaten Malang terus meningkat dari tahun ke tahun. Sementara edukasi pengolahan sampah yang sistematis di sekolah dasar masih sangat minim. Karena itu, melalui riset ini, kami ingin memulai dari pendidikan dasar agar menjadi pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya. Panduan & Petunjuk Perjalanan Dalam desain penelitiannya, Beti tidak bekerja sendiri, melainkan menggandeng tim lintas disiplin dari program studi Matematika, Teknik Mesin, hingga Biologi. Riset ini mengaplikasikan metode living lab. Sebuah pendekatan saintifik yang tidak sekadar berfokus pada pemahaman teoretis. Tetapi memfasilitasi siswa mempraktikkan langsung proses memilah, mendaur ulang, hingga mengolah sampah menjadi produk bermanfaat. Menurutnya, inovasi metode riset ini merupakan wujud nyata langkah mitigasi krisis ekologi di sektor pendidikan. “Harapan kami, penelitian ini bisa berdampak jangka panjang untuk mengarahkan dan juga memberikan kontribusi nyata terhadap mitigasi climate change yang memang menjadi fokus kita bersama,” paparnya. Penelitian berskala besar yang turut melibatkan mahasiswa ini akan dijalankan selama satu tahun melalui delapan tahapan komprehensif, mulai dari analisis awal, pembuatan purwarupa, hingga diseminasi hasil. Didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Majelis Dikdasmen Kabupaten Malang, riset ini menjadikan tiga SD Muhammadiyah di Kepanjen, Karangploso, dan Tumpang sebagai pilot project. Capaian lolos pendanaan yang diraih tim peneliti UMM ini menjadi bukti kualitas riset di tengah seleksi yang sangat kompetitif. “Persaingan dalam program pendanaan ini sangat ketat, dari total 8.951 akun pendaftar, hanya 122 program yang dinyatakan lolos. Kami berharap luaran riset ini mampu meningkatkan keterampilan pengolahan sampah siswa secara terukur dan secara efektif membantu sekolah menekan timbunan sampah ke TPA,” ungkapnya. Riset ini semakin menegaskan posisi UMM sebagai kampus yang tidak hanya unggul dalam kajian teoretis, tetapi juga adaptif merumuskan produk penelitian untuk merespons isu global. Ke depannya, model penelitian pendidikan lingkungan berbasis living lab ini, diharapkan dapat direplikasi oleh berbagai institusi lain, guna mencetak generasi masa depan yang tanggap secara ekologis dan terbiasa dengan gaya hidup berkelanjutan.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi) Panduan Kota & Daerah
Sambut Gen 26, UTBK Kedokteran dan Farmasi UMM Padukan Pengamanan Ketat dan Fun Games

pwmu.co – Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Fakultas Kedokteran dan Farmasi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun ini menghadirkan suasana berbeda.Jika biasanya ujian identik dengan ketegangan, UMM justru menghadirkan atmosfer yang lebih ramah dan menyenangkan bagi para peserta. Pada pelaksanaan UTBK yang digelar 21–23 Mei 2026 tersebut, Kampus Putih menyambut lebih dari 1.000 calon mahasiswa baru yang memperebutkan kursi Gen 26. Sambut Gen 26, UTBK Kedokteran dan Farmasi UMM Padukan Pengamanan Ketat dan Fun Games Salah satu daya tarik yang dihadirkan yakni keberadaan Mobil Kamis Membaca (KaCa), kendaraan edukasi multifungsi yang menyediakan berbagai bahan bacaan sekaligus area hiburan ringan bagi peserta usai mengikuti ujian. Kehadiran Mobil KaCa berhasil mencairkan suasana tegang para peserta melalui berbagai fun games dan aktivitas kreatif. Tingginya minat terhadap program studi kesehatan di UMM terlihat dari asal peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, terdapat peserta yang datang langsung dari Papua untuk mengikuti seleksi masuk Fakultas Kedokteran dan Farmasi UMM. Usai menyelesaikan ujian, peserta diajak bersantai di area Mobil KaCa melalui berbagai permainan berhadiah serta aktivitas kreatif seperti pembuatan konten media sosial. Kegiatan tersebut menjadi sarana melepas penat setelah peserta menjalani ujian dengan tingkat konsentrasi tinggi. Meski menghadirkan suasana yang menyenangkan di luar ruang ujian, UMM tetap menerapkan sistem pengamanan ketat selama proses UTBK berlangsung. Kepala Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMM, Dr. Moh. Wahyu Kurniawan, M.Pd., menjelaskan bahwa tingginya jumlah peserta harus diimbangi dengan proses seleksi yang bersih dan adil. Pihak kampus menerapkan berbagai prosedur keamanan, mulai dari pengecekan menggunakan metal detector, larangan membawa alat komunikasi, hingga melibatkan aparat kepolisian setempat. “Pelaksanaan UTBK dengan pengawasan ketat ini sudah kami rutinkan sejak beberapa tahun lalu guna mengantisipasi pergerakan joki maupun bentuk kecurangan teknis lainnya. Di setiap ruangan, kami menyiagakan pengawas yang teliti serta teknisi yang sigap membantu peserta jika sewaktu-waktu terjadi kendala perangkat,” tegas Wahyu. Pelaksanaan UTBK yang tertib dan nyaman turut mendapat apresiasi dari para wali peserta. Salah satunya disampaikan Novi Damayanti, orang tua peserta yang mengaku terkesan dengan kesiapan fasilitas serta infrastruktur pendidikan kesehatan di UMM. Ia menilai gedung praktik mahasiswa kedokteran dan farmasi yang modern menjadi nilai tambah bagi calon mahasiswa. “Semoga anak saya bisa mendapatkan hasil maksimal, diterima di UMM, dan kelak menjadi generasi unggul di bidang kesehatan. Saya sangat yakin, dengan fasilitas semumpuni ini, UMM bisa mengantarkan anak saya menjadi tenaga medis profesional yang kiprahnya bermanfaat bagi masyarakat luas,” ungkap Novi. Melalui pelaksanaan UTBK ini, UMM menegaskan komitmennya dalam mencetak tenaga kesehatan yang kompeten, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan global. Calon mahasiswa Gen 26 yang nantinya lolos seleksi diharapkan mampu menjadi generasi yang berkontribusi bagi penyelesaian persoalan kesehatan di Indonesia maupun dunia internasional. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria