EX-TION 2026 Bedah Kerentanan Pertahanan Indonesia di Tengah Konflik Timur Tengah

metrotvnews – Malang: Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Chapter Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menyelenggarakan diskusi publik bertajuk EX-TION 2026 dengan tema “The Spill-Over of Iran’s War and Reflections on Indonesia’s Defense.” Acara yang diselenggarakan pada Sabtu, 30 Mei 2026, di Auditorium GKB V, Kampus III UMM ini mempertemukan perspektif praktisi militer dan akademisi untuk mengupas tuntas ancaman dinamika geopolitik Timur Tengah terhadap arsitektur pertahanan dan ekonomi Indonesia. Berdasarkan siaran pers yang diterima Metrotvnews.com, Selasa, 2 Juni 2026, seminar ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Komandan Korem 083/Baladhika Jaya, Kolonel Inf. Wahyu Ramadhanus Suryawan, S.Sos., M.M.S., M.Han., serta Akademisi Hubungan Internasional UMM, Dion Maulana Prasetya, M.Hub.Int., Ph.D. Berlaku sebagai pembicara, Kolonel Wahyu membongkar realitas taktis di lapangan dengan menyoroti titik rentan Indonesia secara geografis dan strategis, khususnya di kawasan perairan krusial seperti Natuna dan Selat Malaka. Dalam paparannya, ia menelusuri evolusi langkah strategis pertahanan Indonesia sejak tahun 1953 hingga era kontemporer. Kolonel Wahyu menegaskan bahwa Indonesia kini berada di tengah pusaran modern warfare dan asymmetrical warfare yang membawa dampak multidimensional. Ancaman yang dihadapi tidak lagi sekadar invasi fisik, melainkan telah berekspansi secara masif ke dimensi cognitive warfare, cyber warfare, hingga quantum warfare. Ancaman multidimensi ini semakin krusial mengingat adanya kerentanan pada logistik militer nasional akibat ketergantungan impor energi dari jalur rawan konflik, yang dapat memukul mobilitas pertahanan negara sewaktu-waktu. Tatanan Global yang Berubah Drastis Dari kacamata makro dan arsitektur kebijakan, Dion Maulana Prasetya, Ph.D. membedah bahwa konflik Iran tidak bisa dilihat melalui kacamata yang sempit, hal ini disebabkan oleh rivalitas segitiga antara Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia yang kompleks. Eskalasi di Selat Hormuz memicu gangguan rantai pasok energi yang berdampak langsung pada lonjakan harga minyak global, membebani neraca perdagangan Indonesia sebagai negara pengimpor energi. Lebih lanjut, Dion menyoroti jurang yang cukup lebar antara visi diplomasi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dan realita kapabilitas alutsista di lapangan. Keterbatasan anggaran serta program Minimum Essential Force (MEF) yang masih stagnan di kisaran 65% secara langsung membatasi leverage diplomatik negara. Oleh karena itu, ia menegaskan urgensi rekonseptualisasi doktrin “Bebas-Aktif” dari sekadar sikap netralisasi yang pasif menjadi instrumen kebijakan yang adaptif. Transformasi ini menuntut implementasi Strategic Autonomy, Active Hedging, dan Selective Engagement guna menjaga kedaulatan di perbatasan, terutama menghadapi ujian berat di Natuna Utara. Diskursus komprehensif yang terbangun dalam seminar ini berhasil merumuskan satu benang merah: Indonesia tidak dapat lagi bersikap sebagai penonton pasif dalam tatanan global yang tengah berubah drastis. Kelangsungan negara menuntut integrasi mutlak antara transformasi kebijakan luar negeri yang berani dan terukur, dengan kesiapan postur pertahanan yang kredibel serta kebal terhadap embargo logistik. Acara yang berlangsung dari pukul 08.00 WIB hingga menjelang siang ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang dinamis bersama para peserta, serta pernyataan penutup dari kedua narasumber yang menegaskan kembali pentingnya kewaspadaan strategis Indonesia dalam menghadapi polarisasi global.

Pujon Hill UMM Picu Sumber Mata Air Baru

Melalui program rehabilitasi dan reboisasi berkelanjutan di kawasan Pujon Hill yang diinisiasi sejak tahun 2019, Kampus Putih sukses mengembalikan fungsi resapan hutan dan meningkatkan debit air secara signifikan. Langkah pelestarian ini bahkan berhasil menghidupkan kembali sejumlah sumber mata air yang sebelumnya sempat mengering. Keberhasilan ini tidak lepas dari proses panjang inventarisasi sumber daya alam yang digarap serius oleh pihak kampus. Staf Ahli Pujon Hill, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., menjelaskan. Bahwa setelah memetakan potensi alam dan melakukan perbaikan ekosistem hutan secara masif, timnya mendapati volume air melonjak drastis yang ditandai dengan munculnya sumber-sumber air baru. “Kita rehab, kita perbaiki hutannya, nah akhirnya debitnya bertambah besar, dan muncul beberapa mata air baru. Mata air-mata air yang dulu mati itu sekarang udah mulai hidup lagi,” tegasnya. Langkah strategis yang diambil UMM dalam rehabilitasi ini adalah pemanfaatan bambu dan tanaman keras di area buffer zone (zona penyangga) yang dilakukan secara kolaboratif bersama pihak eksternal.   Penanaman difokuskan pada lahan seluas 15 hektare dari total 80 hektare luasan hutan, di mana lereng dan pinggiran sungai menjadi area prioritas. Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa pemilihan bambu didasarkan pada kemampuan alami tanaman tersebut dalam mengikat dan menyimpan cadangan air tanah dengan sangat baik. “Jadi kita emang niat ya. Kalau dengan bambu itu, insyaallah potensial kita bisa menghadirkan air. Karena bambu punya kemampuan untuk menyimpan air,” jelasnya. Kini, derasnya aliran air bersih dari Pujon Hill telah menjadi urat nadi kehidupan bagi masyarakat yang sangat rentan terhadap krisis kelangkaan air. Saat ini, limpahan air bersih tersebut mengalir dan dimanfaatkan secara langsung oleh warga di empat wilayah dusun yang tersebar di dua desa. Keempat wilayah penerima manfaat tersebut mencakup Dusun Ngepreh dan Dusun Tretes yang berada di wilayah Desa Bendosari, serta Dusun Talesan dan Dusun Kedungrejo yang masuk ke dalam wilayah administratif Desa Sukomulyo. “Dan misalkan mereka nggak ada air, dapat air dari kita ya pastikan mereka akan kesusahan, kesulitan mencari air,” tambahnya. Sebagai tindak lanjut ke depan, tim UMM akan melakukan kalkulasi teknis untuk mengukur secara pasti total volume debit air yang berhasil diselamatkan dan dihasilkan. Kisah sukses konservasi di Pujon Hill ini menjadi wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berdampak langsung pada hajat hidup orang banyak. Harapannya, dedikasi nyata Kampus Putih ini tidak hanya berhenti di satu titik, melainkan mampu memantik kesadaran kolektif dan menjadi model percontohan pelestarian ekosistem bagi institusi lain. “Agar kita terus konsisten merawat bumi demi menjaga kedaulatan air bersih bagi generasi mendatang,” pungkasnya. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)  

Pembelajaran Kolaboratif Lintas Sekolah

tagar.co – Tugas berat, bagaimana inovasi pembelajaran yang mampu memperluas ruang interaksi sekaligus menumbuhkan karakter gotong royong secara nyata. Oleh Lovilia Sukma Wardiana Putri, Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tagar.co – Sekolah selama ini menjadi ruang belajar yang cenderung terbatas. Siswa berinteraksi dengan teman, guru, dan lingkungan yang hampir sama setiap hari. Padahal, kehidupan nyata setelah mereka lulus menuntut kemampuan bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki latar belakang, pengalaman, dan cara berpikir yang beragam. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa pengalaman belajar di sekolah belum sepenuhnya mencerminkan kebutuhan kehidupan abad ke-21. Salah satu dimensi penting dalam Profil Pelajar Pancasila adalah Bergotong Royong. Namun, nilai tersebut kerap hanya dipraktikkan dalam kelompok yang homogen di satu kelas atau satu sekolah, sehingga siswa belum memperoleh pengalaman kolaborasi yang autentik bersama individu yang berbeda karakter maupun latar sosialnya. Oleh karena itu, diperlukan inovasi pembelajaran yang mampu memperluas ruang interaksi sekaligus menumbuhkan karakter gotong royong secara nyata. Salah satu jawabannya adalah pembelajaran kolaboratif lintas sekolah, yaitu model pembelajaran yang mempertemukan siswa dari sekolah berbeda untuk bekerja sama menyelesaikan proyek yang bermanfaat bagi masyarakat. Ruang Belajar Nyata Pembelajaran kolaboratif lintas sekolah diwujudkan melalui proyek bersama yang melibatkan dua sekolah atau lebih dengan karakteristik berbeda. Misalnya sekolah perkotaan dan pedesaan, sekolah negeri dan swasta, atau sekolah umum dan kejuruan. Baca Juga:  Introvert dan Ekstrovert, Mana yang Lebih Baik? Siswa bekerja dalam tim campuran untuk menyelesaikan proyek yang berkaitan dengan persoalan nyata di lingkungan sekitar, seperti pengelolaan sampah, kampanye kesehatan remaja, atau promosi potensi wisata lokal. Dengan mengangkat isu-isu yang dekat dengan kehidupan mereka, siswa terdorong untuk terlibat secara aktif dan penuh tanggung jawab. John Dewey (1916) berpendapat bahwa pendidikan seharusnya menjadi pengalaman sosial yang memungkinkan peserta didik belajar melalui keterlibatan langsung dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui proyek lintas sekolah, siswa tidak hanya mempelajari materi pelajaran, tetapi juga belajar memahami perbedaan, menghargai perspektif orang lain, dan membangun tanggung jawab bersama. Pengalaman semacam ini jauh lebih bermakna dibandingkan pembelajaran yang hanya berlangsung di dalam kelas. Implementasinya dapat berlangsung selama enam hingga delapan minggu dengan memanfaatkan platform digital seperti Google Workspace for Education atau sistem manajemen pembelajaran milik sekolah. Pertemuan tatap muka dapat dijadwalkan secara berkala untuk memperkuat hubungan antarsiswa. Pada akhir proyek, setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja beserta dampak yang telah dihasilkan bagi masyarakat sekitar. Pembagian Peran Gotong royong tidak berarti semua anggota mengerjakan tugas yang sama. Sebaliknya, gotong royong yang efektif dibangun melalui pembagian peran yang jelas dan saling melengkapi. Baca Juga:  Manajemen Risiko ala Marvel, ketika Kang Pergi, Doctor Doom Menanti Dalam model ini, setiap anggota tim memperoleh tanggung jawab sesuai minat dan kemampuannya yaitu sebagai peneliti, perancang solusi, dokumentator, komunikator, atau evaluator. Pembagian peran yang tepat tidak hanya meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap proyek yang sedang dikerjakan. Vygotsky (1978) menjelaskan bahwa perkembangan kemampuan individu terjadi melalui interaksi sosial dengan orang lain. Ketika siswa bekerja sama dengan teman dari lingkungan yang berbeda, mereka mendapat kesempatan belajar dari berbagai sudut pandang dan membangun pengetahuan secara kolektif. Pengalaman semacam ini sulit diperoleh jika kolaborasi hanya terjadi dalam lingkungan sekolah yang homogen. Agar kolaborasi berjalan efektif, guru dari masing-masing sekolah berperan sebagai fasilitator yaitu mengoordinasikan kegiatan, memantau keterlibatan siswa, serta memberikan pendampingan ketika muncul kendala. Siswa juga dapat membuat jurnal refleksi mingguan untuk mendokumentasikan pengalaman belajar dan perkembangan kerja sama tim mereka. Asesmen Kolaboratif Salah satu kelemahan pembelajaran berbasis proyek adalah penilaian yang kerap hanya terpusat pada produk akhir. Padahal, karakter gotong royong justru tampak dalam proses kolaborasi yang berlangsung selama kegiatan. Oleh karena itu, model ini perlu didukung asesmen yang secara khusus menilai kualitas kerja sama antaranggota tim. Penilaian dapat dilakukan melalui rubrik yang mencakup indikator seperti kemampuan berkomunikasi, kesediaan mendengarkan pendapat orang lain, kontribusi terhadap penyelesaian masalah, tanggung jawab terhadap tugas, dan kemampuan menyelesaikan konflik secara konstruktif. Baca Juga:  Kemegahan Kurikulum yang Belum Menyentuh Sekolah Kecil Dengan demikian, siswa memahami bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh hasil proyek, melainkan juga oleh cara mereka bekerja sama untuk mencapainya. Pelaksanaan asesmen proses dapat dilakukan melalui penilaian diri, penilaian antarteman, dan observasi guru. Ketiga pendekatan ini bersama-sama memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai perkembangan karakter siswa selama mengikuti proyek kolaboratif. Hasil asesmen tersebut sekaligus menjadi bahan refleksi bagi guru untuk menyempurnakan pelaksanaan program ke depannya. Karakter gotong royong tidak dapat dibentuk hanya melalui ceramah atau slogan. Nilai tersebut harus ditumbuhkan lewat pengalaman nyata yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan berbagai pihak. Pembelajaran kolaboratif lintas sekolah hadir sebagai inovasi yang memungkinkan siswa belajar menghargai perbedaan, berbagi tanggung jawab, dan menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Melalui proyek bersama, pembagian peran yang jelas, serta asesmen yang berorientasi pada proses, siswa memperoleh pengalaman belajar yang autentik dan relevan dengan tuntutan masa depan. Dengan demikian, sekolah tidak hanya melahirkan peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga generasi yang siap berkolaborasi dan berkontribusi nyata bagi masyarakat. (#)

PGSD UMM Workshop Program Praktisi Mengajar ABK Siapkan Guru Pendamping Khusus Sekolah Inklusi

tabloidmatahati, MALANG – Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang menggelar workshop “Program Praktisi Mengajar ABK untuk Menyiapkan Guru Pendamping Khusus di Sekolah Inklusi” (26/5) 2026 di GBK 1 UMM. Hadir sebagai narasumber internasional, yaitu Bodhi Bragonier dan Dean Bragonier. Keduanya dikenal aktif dalam edukasi mengenai disleksia, pengembangan potensi anak, serta pemanfaatan teknologi asistif dalam dunia pendidikan. Tampak unsur pimpinan PGSD UMM bersama narasumber internasional dalam workshop Program Praktisi Mengajar ABK untuk Menyiapkan Guru Pendamping Khusus di Sekolah Inklusi. Sebagai opening, Dean Bragonier menjelaskan pentingnya menciptakan suasana belajar yang dapat mendukung potensi dan kreativitas siswa. Bahwa siswa dengan disleksia tidak seharusnya dipandang memiliki kekurangan, melainkan sebagai individu dengan pola pikir yang unik dan kemampuan luar biasa yang dapat berkembang melalui dukungan serta pendampingan yang tepat. “Fokus pada kekuatan anak menjadi landasan untuk menumbuhkan rasa percaya diri sebagai jalan dalam menggali potensi diri, tanpa melanggar aturan, serta membentuk karakter dari dalam diri tanpa mengabaikan berbagai hal yang ada di luar dirinya,” ujar Dean Bragonier. Suasana penyampaian materi dalam kelompok-kelompok workshop. Saat workshop dibagi menajdi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri atas guru sekolah dasar yang mengikuti sesi diskusi bersama Dean Bragonier. Dalam sesi tersebut, para guru membahas strategi pembelajaran inklusif serta cara mendampingi siswa dengan disleksia agar lebih percaya diri dalam belajar dan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki. Sedangkan kelompok kedua terdiri atas siswa sekolah dasar penyandang disleksia yang mengikuti sesi bersama Bodhi Bragonier. Pada sesi tersebut, Bodhi memberikan motivasi serta memandu berbagai kegiatan interaktif yang bertujuan menumbuhkan rasa percaya diri siswa dan meningkatkan pemahaman bahwa disleksia bukan merupakan hambatan dalam meraih prestasi. Saat workshop para siswa membuat menara dari spaghetti dan marshmallow. Dalam sesi bersama siswa sekolah dasar, Bodhi Bragonier menekankan bahwa proses belajar perlu disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing anak. Siswa didorong untuk belajar dalam suasana yang nyaman tanpa tekanan, serta diberi ruang untuk mengembangkan diri melalui cara yang kreatif, visual, dan komunikatif. Ia juga menekankan pentingnya rasa percaya diri dalam proses belajar, sehingga siswa mampu mengenali dan mengembangkan potensi yang dimilikinya di lingkungan sekolah. Kegiatan berlangsung dalam suasana kondusif dan menyenangkan. Para siswa tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan, khususnya saat membuat menara dari spaghetti dan marshmallow sesuai dengan kreativitas masing-masing. Narasumber ketika menjelaskan materi kepada peserta workshop. Selain kegiatan diskusi dan sesi interaktif, workshop juga mengenalkan penyampaian hasil yang mirip dengan pembagian rapor. Dalam kegiatan ini, guru pendamping dibagi menjadi lima kelompok, yang masing-masing menerima informasi mengenai kelebihan siswa serta strategi dalam memberikan motivasi agar siswa dapat mengembangkan bakat dan potensinya secara optimal. Melalui workshop ini, diharapkan kesadaran mengenai pentingnya pendidikan inklusif semakin meningkat, khususnya dalam mendukung, bukan mengubah, siswa dengan disleksia di sekolah dasar. Kegiatan ini juga menjadi bentuk komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, adil, dan mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh peserta didik tanpa adanya diskriminasi. Workshop ditutup dengan sesi foto bersama antara pemateri, guru, dan seluruh peserta kegiatan yaitu  siswa dengan disleksia, guru pendamping, serta perwakilan mahasiswa PGSD UMM. (humas pgsd umm)

​Dari Pelosok NTT Hingga Tiongkok, Kiprah Nyata UMM Hadirkan Dampak Luas bagi Masyarakat

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan dengan menjawab isu krusial nasional seperti tingginya angka stunting, kemiskinan ekstrem, hingga tantangan persaingan di era digital, Kampus Putih secara masif menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat lokal hingga kancah global. ​Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. menyatakan bahwa seluruh riset dan inovasi kampus putih difokuskan secara tajam untuk menyelesaikan permasalahan riil yang dihadapi masyarakat dan industri, bukan lagi sekadar mengisi kekosongan literatur akademis semata. ​”Kita sekarang mengarahkan agar persoalan yang diangkat itu berangkat dari persoalan riil masyarakat atau industri, bukan sekadar gap dari literatur saja,” tegasnya 30 Mei lalu pada Humas UMM. ​Dampak nyata dari arahan ini terwujud dalam berbagai kolaborasi strategis. Di tingkat nasional, UMM menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengkaji pengelolaan tambang berkelanjutan serta merumuskan standar bahasa isyarat bagi penyandang disabilitas. Di kancah global, ekspansi UMM menembus Tiongkok melalui pendirian Halal Center di Fuzhou University, yang dirancang untuk membuka peluang bagi alumni UMM dalam memimpin ekosistem sertifikasi halal internasional. ​Langkah solutif ini juga diimbangi dengan strategi pengabdian yang terukur. Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM, Dr. Salahudin, M.Si., MPA., menjelaskan bahwa program pengabdian kampus selalu didahului dengan pemetaan kondisi krisis di lapangan agar intervensi yang diberikan benar-benar tepat sasaran, seperti inisiatif penurunan angka stunting dan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur (NTT). ​”Program pengabdian kepada masyarakat itu tidak berangkat dari ide universitas, tetapi berangkat dari permasalahan masyarakat. Karena itu, sebelumnya kami melakukan mapping problem sosial,” jelasnya. ​Intervensi berkelanjutan UMM tidak berhenti di NTT. Kampus ini juga sukses menghidupkan perekonomian desa lewat Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Sumber Maron, transformasi wisata Jodipan, hingga sistem green farming di lahan terasering Tabanan, Bali, yang berujung pada pengakuan resmi sebagai mitra UNESCO. Untuk memastikan keberlanjutan dampak ini, mahasiswa UMM diterjunkan langsung dan dibekali dengan penguasaan tiga bahasa utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa asing, dan bahasa pemrograman (coding). (*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Siswa SD Boleh Masuk Sebelum Usia 7 Tahun, Pakar Ini Usulkan Kelas 1 Transisi, Paparkan Metode Ini

POJOKSATU.id – Kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang memperbolehkan siswa baru jenjang Sekolah Dasar (SD) berusia di bawah 7 tahun untuk bersekolah kembali menjadi perhatian para pemerhati pendidikan. Aturan tersebut memungkinkan anak yang belum genap berusia 7 tahun untuk masuk SD selama dinilai telah memiliki kesiapan mengikuti proses pembelajaran. Kebijakan ini sejalan dengan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 yang menempatkan kesiapan belajar sebagai salah satu pertimbangan penting dalam penerimaan peserta didik. Menanggapi hal tersebut, Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Arina Restian, mengusulkan agar sekolah mulai menyiapkan desain “Kelas 1 Transisi” untuk mengakomodasi kebutuhan siswa yang masuk SD pada usia lebih muda. Menurut Arina, apabila jumlah siswa berusia di bawah 7 tahun cukup banyak, sekolah tidak bisa hanya menerima peserta didik baru lalu menjalankan proses pembelajaran seperti biasa. “Kelas 1 Transisi” dinilai dapat menjadi solusi agar proses adaptasi berlangsung lebih nyaman bagi anak-anak yang baru berpindah dari lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menuju pendidikan dasar. Kelas 1 Transisi dengan Konsep Bermain Arina menjelaskan bahwa Kelas 1 Transisi perlu dirancang dengan pendekatan yang berbeda dibanding kelas reguler. Tata ruang kelas, misalnya, sebaiknya memiliki sudut-sudut bermain yang memungkinkan anak tetap belajar sambil mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Pendekatan ini dianggap lebih sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini yang masih membutuhkan aktivitas bermain sebagai bagian dari proses belajar. Selain itu, sekolah juga perlu melakukan asesmen awal selama masa orientasi. Namun asesmen tersebut bukan untuk menilai kemampuan akademik secara ketat, melainkan untuk memetakan kebutuhan individual setiap anak. Hasil pemetaan itu nantinya dapat menjadi dasar bagi guru dalam menentukan strategi pembelajaran yang sesuai. Arina juga menekankan pentingnya komunikasi intensif antara sekolah dan orang tua sejak awal tahun ajaran. Komunikasi tersebut diperlukan agar kedua pihak memiliki pemahaman yang sama mengenai target perkembangan anak dan tidak memberikan ekspektasi akademik yang berlebihan. “Di tiga bulan pertama, durasi belajar wajib dipangkas menjadi 20-30 menit yang diselingi istirahat, agar anak tidak kaget dengan rutinitas baru,” ujar Arina, dikutip dari laman resmi UMM, Kamis 28 Mei 2026. Guru SD Perlu Memahami Pendekatan PAUD Tidak hanya siswa yang perlu beradaptasi, Arina menilai guru kelas 1 SD juga membutuhkan pembekalan tambahan untuk menghadapi peserta didik yang usianya lebih muda. Menurutnya, selama ini pendidikan guru SD umumnya lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk menangani anak usia 7 hingga 12 tahun. Sementara karakteristik anak berusia 5 hingga 6 tahun memiliki kebutuhan perkembangan yang berbeda. Karena itu, pembekalan ilmu pedagogi PAUD bagi guru kelas awal SD dinilai menjadi agenda penting yang perlu mendapat perhatian Kemendikdasmen. Jika proses adaptasi ini diabaikan, guru berpotensi mengalami kesulitan saat menghadapi perilaku anak yang masih berada pada fase perkembangan awal, termasuk tantrum dan pengelolaan emosi. Tanpa pelatihan yang memadai, standar pembelajaran untuk anak usia 7 tahun bisa saja diterapkan kepada murid yang usianya lebih muda. “Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” tegas Arina. Tips Mengajar Siswa SD di Bawah Usia 7 Tahun Arina juga membagikan sejumlah strategi yang dapat diterapkan guru pada minggu-minggu awal pembelajaran. Menurutnya, rentang fokus anak usia sekitar 5,5 tahun umumnya hanya berkisar 15 menit. Karena itu, proses pembelajaran perlu dirancang secara singkat dan menyenangkan. Ia menyarankan guru menerapkan prinsip “Singkat, Bergerak, dan Bermain” dalam kegiatan belajar sehari-hari. Salah satu metode yang bisa digunakan adalah pola 15-5-15, yakni 15 menit kegiatan inti, dilanjutkan 5 menit aktivitas bergerak atau bernyanyi, kemudian kembali ke kegiatan belajar selama 15 menit. Selain itu, guru juga dianjurkan menghindari pemberian lembar kerja yang terlalu banyak pada masa awal sekolah. Anak perlu diberikan pilihan-pilihan sederhana dalam kegiatan belajar agar tidak merasa terlalu dikontrol. “Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan-pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” ujarnya. Usulan Kelas 1 Transisi ini menjadi pengingat bahwa kesiapan masuk sekolah tidak hanya soal usia, tetapi juga bagaimana lingkungan belajar mampu mendukung proses tumbuh kembang anak. Ketika sekolah, guru, dan orang tua dapat berjalan bersama, masa transisi menuju pendidikan dasar dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus membangun fondasi belajar yang kuat bagi anak di tahun-tahun berikutnya. ***

Artificial Intelligence sebagai Pendamping Belajar

Artificial Intelligence dapat membantu guru mengurangi pekerjaan rutin, sehingga ada banyak waktu membimbing dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Oleh Ersi Novelia Putri, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang. Tagar.co – Pendidikan Indonesia terus berkembang, tetapi lajunya belum mampu mengimbangi perubahan global yang berlangsung sangat cepat. Hasil PISA 2022 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-68 dari 81 negara dalam kemampuan membaca dan matematika. Temuan ini menunjukkan praktik pembelajaran yang selama ini diterapkan perlu dievaluasi secara serius. Ketika teknologi telah mengubah berbagai aspek kehidupan, banyak ruang kelas sekolah masih berjalan dengan pola lama: guru menjadi pusat pembelajaran, siswa lebih banyak mencatat, dan nilai ujian dianggap sebagai ukuran utama keberhasilan. Kondisi tersebut berisiko menghambat lahirnya generasi yang siap menghadapi era kecerdasan buatan. Karena itu, pertanyaan yang perlu dijawab bukan lagi apakah pendidikan harus berubah, melainkan bagaimana perubahan tersebut dapat diwujudkan secara nyata. Dalam kerangka Kurikulum Merdeka, terdapat dua gagasan yang layak diperkuat, yaitu pembelajaran berbasis proyek lintas disiplin dan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) sebagai pendamping belajar. Pertama, Proyek Lintas Disiplin Sekolah selama ini cenderung memisahkan pengetahuan ke dalam berbagai mata pelajaran. Padahal kehidupan nyata tidak berjalan dalam sekat-sekat tersebut. Baca Juga:  Pembelajaran Personal Berbasis AI Generatif Seseorang yang ingin membangun usaha kopi lokal, misalnya, memerlukan kemampuan berhitung untuk menghitung modal, keterampilan berbahasa untuk menyusun rencana usaha, pengetahuan sains untuk memahami proses produksi, serta kreativitas untuk membangun citra produk. Berbagai kemampuan itu bekerja secara bersamaan. Di sinilah pembelajaran berbasis proyek lintas disiplin (cross-curricular project-based learning) menjadi relevan. Model ini mengajak siswa menyelesaikan persoalan nyata dengan memanfaatkan berbagai bidang ilmu secara terpadu. Contoh, siswa dapat mengembangkan produk pangan lokal dengan menggunakan sains untuk mengkaji kandungan gizi, matematika untuk menghitung biaya produksi, bahasa Indonesia untuk menyusun promosi, dan seni untuk merancang kemasan. Penerapan model ini tidak harus rumit. Sekolah dapat memulainya melalui satu proyek kolaboratif setiap semester yang melibatkan beberapa guru dari mata pelajaran berbeda. Penilaian juga perlu memperhatikan proses belajar, bukan hanya hasil akhir. Kurikulum Merdeka sebenarnya telah menyediakan ruang melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Tantangannya adalah memastikan pelaksanaannya benar-benar memberi pengalaman belajar yang bermakna. Gagasan ini sejalan dengan pandangan John Dewey bahwa pendidikan bukan persiapan untuk kehidupan, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri (Dewey, 1916, hlm. 239). Baca Juga:  AI Generatif dan Integritas Jurnalisme Karena itu siswa perlu belajar melalui pengalaman yang autentik dan berhubungan dengan persoalan nyata. Kedua, Kecerdasan Buatan sebagai Tutor Personal Tantangan lain yang dihadapi guru adalah keberagaman kemampuan siswa dalam satu kelas. Ada siswa yang cepat memahami materi, ada yang membutuhkan waktu lebih lama, dan ada pula yang memerlukan pendampingan lebih intensif. Namun, mereka sering menerima pembelajaran dengan cara yang sama. Akibatnya siswa yang tertinggal dapat kehilangan kepercayaan diri, sedangkan siswa yang lebih maju merasa kurang tertantang. Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan menawarkan peluang untuk membantu mengatasi persoalan tersebut. Platform pembelajaran berbasis AI mampu mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa dan menyesuaikan materi, latihan, serta tingkat kesulitannya. Siswa yang belum memahami suatu konsep dapat memperoleh penjelasan tambahan dan latihan yang sesuai dengan tingkat kemampuannya. Pemanfaatan AI juga tidak selalu membutuhkan biaya besar. Berbagai platform dapat digunakan untuk membuat soal adaptif, memberikan umpan balik terhadap tulisan, atau menyediakan simulasi percakapan dalam pembelajaran bahasa. Terpenting, AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan guru. Teknologi ini justru dapat membantu guru mengurangi pekerjaan rutin sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk membimbing, memotivasi, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Baca Juga:  Sekolah Swasta dan Jawaban atas Kegelisahan Orang Tua Modern Pandangan tersebut selaras dengan gagasan Ken Robinson yang menekankan pentingnya meninggalkan model pendidikan yang menyeragamkan siswa dan beralih pada pendekatan yang menghargai potensi setiap individu (Robinson & Aronica, 2015, hlm. 54). Jika dimanfaatkan secara bijaksana, AI dapat menjadi sarana yang mendukung perkembangan siswa sesuai kebutuhan dan karakteristik belajarnya. Inovasi pendidikan bukan sekadar menghadirkan teknologi baru atau mengganti metode lama. Esensinya adalah menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran. Ketika siswa diberi kesempatan untuk berpikir, berkreasi, berkolaborasi, dan memecahkan masalah nyata, ruang kelas akan menjadi tempat tumbuh yang lebih bermakna. Pembelajaran berbasis proyek lintas disiplin dan pemanfaatan AI sebagai tutor personal bukanlah gagasan yang sulit diwujudkan. Keduanya dapat diterapkan dengan sumber daya yang tersedia saat ini. Yang dibutuhkan adalah komitmen bersama dari guru, kepala sekolah, dan pembuat kebijakan untuk berani meninggalkan kebiasaan lama. Generasi masa depan tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, dan belajar sepanjang hayat. Pendidikan harus mempersiapkan mereka untuk menghadapi masa depan tersebut. (#)

10 Kampus Swasta Terbaik di Indonesia 2026, Ada Yang Masuk Peringkat Dunia

JATIMTIMES – Perguruan tinggi negeri (PTN) memang masih menjadi pilihan utama banyak calon mahasiswa di Indonesia. Namun, kualitas perguruan tinggi swasta (PTS) saat ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Sejumlah kampus swasta bahkan berhasil mencatatkan prestasi di level internasional dan masuk dalam berbagai pemeringkatan dunia. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa kampus swasta juga mampu bersaing dalam bidang akademik, penelitian, inovasi, hingga reputasi di tingkat global. Karena itu, bagi calon mahasiswa yang belum berhasil masuk PTN, masih tersedia banyak pilihan kampus berkualitas dengan standar pendidikan yang tak kalah baik. Salah satu acuan yang sering digunakan untuk menilai kualitas perguruan tinggi adalah pemeringkatan Webometrics dan QS World University Rankings (QS WUR). Kedua lembaga ini memiliki metode penilaian yang berbeda, namun sama-sama diakui secara internasional. Mengenal Webometrics dan QS World University Rankings Webometrics Ranking of World Universities merupakan pemeringkatan kampus yang dilakukan oleh Cybermetrics Lab, kelompok penelitian di bawah Spanish National Research Council (CSIC), Spanyol. Penilaian Webometrics berfokus pada visibilitas dan dampak perguruan tinggi di dunia digital. Beberapa indikator yang digunakan meliputi keterbukaan akses publikasi ilmiah, jumlah sitasi penelitian, serta eksistensi akademik kampus di internet. Sementara itu, QS World University Rankings (QS WUR) diterbitkan oleh lembaga pemeringkatan global Quacquarelli Symonds (QS). QS menilai universitas berdasarkan sejumlah aspek penting, seperti reputasi akademik, reputasi lulusan di dunia kerja, rasio dosen dan mahasiswa, jaringan penelitian internasional, hingga produktivitas riset. 10 Kampus Swasta Terbaik di Indonesia Versi Webometrics 2026 Berikut daftar perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia berdasarkan pemeringkatan Webometrics 2026: 1. BINUS University • Peringkat Indonesia: 11 • Peringkat dunia: 1.268 2. Telkom University • Peringkat Indonesia: 13 • Peringkat dunia: 1.310 3. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta • Peringkat Indonesia: 18 • Peringkat dunia: 1.760 4. Universitas Muhammadiyah Malang • Peringkat Indonesia: 21 • Peringkat dunia: 1.896 5. Universitas Muhammadiyah Surakarta • Peringkat Indonesia: 25 • Peringkat dunia: 2.248 6. Universitas Medan Area • Peringkat Indonesia: 27 • Peringkat dunia: 2.393 7. Universitas Pelita Harapan • Peringkat Indonesia: 33 • Peringkat dunia: 2.553 8. Universitas Kristen Satya Wacana • Peringkat Indonesia: 36 • Peringkat dunia: 2.688 9. Universitas Katolik Parahyangan • Peringkat Indonesia: 39 • Peringkat dunia: 2.892 10. Universitas Ahmad Dahlan • Peringkat Indonesia: 40 • Peringkat dunia: 2.900 8 Kampus Swasta Indonesia yang Masuk QS WUR 2026 Selain Webometrics, sejumlah kampus swasta Indonesia juga berhasil masuk dalam pemeringkatan QS World University Rankings 2026. Berikut daftarnya: 1. BINUS University • Peringkat Indonesia: 10 • Peringkat dunia: 851–900 2. Telkom University • Peringkat Indonesia: 12 • Peringkat dunia: 1.001–1.200 3. Institut Teknologi Nasional Bandung (Itenas) • Peringkat Indonesia: 15 • Peringkat dunia: 1.201–1.400 4. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta • Peringkat Indonesia: 16 • Peringkat dunia: 1.201–1.400 5. Universitas Trisakti • Peringkat Indonesia: 18 • Peringkat dunia: 1.201–1.400 6. Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya • Peringkat Indonesia: 20 • Peringkat dunia: 1.401+ 7. Universitas Islam Indonesia • Peringkat Indonesia: 25 • Peringkat dunia: 1.401+ 8. Universitas Kristen Petra • Peringkat Indonesia: 26 • Peringkat dunia: 1.401+. Masuknya sejumlah perguruan tinggi swasta Indonesia dalam pemeringkatan internasional menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tinggi di Tanah Air terus berkembang. Tak hanya unggul dalam pembelajaran, banyak PTS kini aktif menghasilkan riset, menjalin kerja sama global, serta meningkatkan kualitas lulusannya agar mampu bersaing di dunia kerja. Karena itu, calon mahasiswa tidak perlu ragu mempertimbangkan kampus swasta sebagai pilihan melanjutkan pendidikan. Dengan fasilitas yang semakin lengkap dan reputasi yang terus meningkat, banyak PTS di Indonesia kini menjadi alternatif yang menjanjikan untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Wawali Ali Dorong Penguatan Akses dan Karakter Pendidikan

Lowokwaru (malangkota.go.id) – Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, menegaskan pentingnya pendidikan sebagai fondasi utama dalam membangun generasi bangsa yang unggul, berkarakter, dan berakhlak mulia. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Stadium General Lentera Graduation Ceremony (LEGACY) yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Lowokwaru di Gedung Kuliah Bersama Universitas Muhammadiyah Malang, Selasa (2/6/2026). Wawali Ali memberikan sambutan saat menghadiri kegiatan LEGACY di UMM Dalam sambutannya, Wawali Ali memberikan apresiasi kepada PCM Lowokwaru yang dinilai konsisten berkontribusi dalam pengembangan pendidikan di Kota Malang. Menurutnya, di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, pendidikan memiliki peran strategis tidak hanya dalam meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan ketahanan moral peserta didik. “Saya menyampaikan apresiasi kepada PCM Lowokwaru yang terus konsisten mengembangkan pendidikan. Di tengah berbagai tantangan zaman, pendidikan tetap menjadi instrumen utama dalam membangun karakter generasi bangsa dan generasi Islam yang unggul,” ucapnya. Lebih lanjut, Wawali Ali menekankan bahwa pendidikan harus mampu menjawab berbagai persoalan sosial yang dihadapi anak-anak dan remaja saat ini. Oleh karena itu, menurutnya, proses pendidikan perlu diarahkan untuk membentuk pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak dan mentalitas yang kuat. “Saat ini kita menghadapi berbagai persoalan di kalangan anak-anak dan remaja. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu membentuk karakter, akhlak, mentalitas, dan ketahanan moral generasi muda,” tegasnya. Ali juga menyoroti peran besar PCM Lowokwaru dalam mendukung kemajuan pendidikan di wilayah yang dikenal sebagai salah satu kawasan pendidikan terbesar di Kota Malang. Menurutnya, keberadaan banyak sekolah dan perguruan tinggi harus sejalan dengan meningkatnya akses pendidikan bagi seluruh masyarakat. Ia mengingatkan agar tidak ada anak-anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan akibat keterbatasan ekonomi. Untuk itu, dibutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen masyarakat. “Jangan sampai ada anak yang putus sekolah hanya karena keterbatasan biaya. Pemerintah Kota Malang bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk Muhammadiyah, harus terus berkolaborasi agar pendidikan dapat diakses oleh semua kalangan,” pesannya. Selain sektor pendidikan, Wawali Ali turut menyoroti pentingnya pemerataan manfaat pembangunan ekonomi bagi masyarakat. Sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Kota Malang, Lowokwaru dinilai memiliki potensi besar yang perlu dikelola agar mampu meningkatkan kesejahteraan warga sekitar. Pada kesempatan tersebut, Ali juga mengajak seluruh pihak untuk terus memperkuat peran pendidikan sebagai sarana membangun peradaban. Menurutnya, pendidikan yang dilandasi ilmu pengetahuan dan keimanan akan melahirkan generasi yang tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara. “Semoga anak-anak yang belajar di lingkungan Muhammadiyah kelak menjadi generasi yang kuat, berilmu, berakhlak, memiliki kepedulian sosial, serta mampu membawa kemajuan bagi bangsa, negara, dan umat,” pungkas Ali. (iu/yn)

UMM Pulihkan Mata Air yang Sempat Mati, 4 Dusun di Kecamatan Pujon Kini Nikmati Air Bersih

TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Program rehabilitasi hutan yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di kawasan Pujon Hill, Kabupaten Malang, mulai menunjukkan hasil nyata. Empat dusun di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang mendapatkan manfaat limpahan air bersih dari program rehabilitasi hutan yang dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di kawasan Pujon Hill. Hal tersebut menjadi kabar baik, di tengah ancaman krisis air bersih dan dampak perubahan iklim yang memicu kekeringan di berbagai daerah. Kini, aliran air dari kawasan hutan yang direhabilitasi tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat di empat dusun yang tersebar di dua desa di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Air bersih dari kawasan Pujon Hill mengalir ke Dusun Ngepreh dan Dusun Tretes di Desa Bendosari, serta Dusun Talesan dan Dusun Kedungrejo di Desa Sukomulyo. Mata Air yang Sempat Mati Kembali Mengalir Menurut Staf Ahli Pujon Hill UMM, Dr Tatag Muttaqin, program reboisasi yang dijalankan sejak 2019 itu tidak hanya meningkatkan debit air, tetapi juga berhasil menghidupkan kembali sejumlah mata air yang sebelumnya sempat mengering. Ia mengatakan, peningkatan debit air terjadi setelah kampus melakukan inventarisasi sumber daya alam sekaligus perbaikan ekosistem hutan secara berkelanjutan. Rehabilitasi kawasan hutan yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir itu ternyata mampu mengembalikan fungsi resapan air. Hal itu membuat sejumlah mata air yang sebelumnya mati, kini mulai kembali mengalir. “Kami melakukan rehabilitasi dan perbaikan hutan. Hasilnya debit air bertambah besar dan beberapa mata air baru muncul. Mata air yang dulu sempat mati sekarang mulai hidup lagi,” kata Tatag pada Selasa (2/6/2026). Penanaman Bambu Jadi Strategi Konservasi Salah satu strategi yang diterapkan UMM adalah menanam bambu dan berbagai tanaman keras di kawasan buffer zone atau zona penyangga. Penanaman dilakukan secara kolaboratif bersama sejumlah pihak eksternal. Dari total luas kawasan hutan sekitar 80 hektare, UMM memprioritaskan rehabilitasi pada lahan seluas 15 hektare.