IHSG Turun Lebih dari 20 Persen, Dosen UMM Minta Masyarakat Tidak Terjebak Kepanikan

pwmu.co – Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah mencapai lebih dari 20 persen sejak awal 2026 memunculkan kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap potensi krisis ekonomi. Namun, pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menilai kondisi tersebut lebih dipengaruhi faktor psikologis pasar daripada lemahnya fundamental ekonomi nasional.Dosen Manajemen UMM, Novi Puji Lestari, S.E., M.M., menjelaskan bahwa pelemahan yang terjadi di pasar saham belakangan ini tidak mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Menurutnya, tekanan yang terjadi lebih banyak disebabkan aksi jual yang dipicu kepanikan investor. “IHSG turun 2026 yang terjadi saat ini pada dasarnya dipengaruhi oleh panic selling dari investor yang bereaksi secara berlebihan terhadap berbagai sentimen yang berkembang. Pasar biasanya bergerak lebih cepat merespons ketakutan dibandingkan perubahan kondisi ekonomi riil,” ujarnya. Novi menjelaskan, salah satu faktor yang memicu kekhawatiran investor adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat sebagian investor asing menilai aset di Indonesia memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi. Selain faktor kurs, muncul pula kekhawatiran terkait stabilitas fiskal yang berdampak pada menurunnya kepercayaan investor terhadap pasar domestik. “Investor asing itu tidak hanya melihat angka di atas kertas, mereka sangat sensitif terhadap isu stabilitas fiskal. Ketika rupiah terus melemah, kepanikan mereka memuncak karena merasa aset mereka di Indonesia semakin berisiko tinggi. Inilah yang memicu penarikan dana dan krisis kepercayaan secara besar-besaran dari bursa kita,” tegasnya. Menurut Novi, kondisi tersebut kemudian mendorong aksi jual yang semakin memperdalam tekanan terhadap pasar saham. Selain faktor domestik, Novi menilai ketidakpastian ekonomi global juga ikut memberikan dampak terhadap pergerakan pasar modal Indonesia. Berdasarkan hasil penelitiannya mengenai ekonomi global, ia menjelaskan bahwa arus globalisasi membuat keterkaitan ekonomi antarnegara semakin kuat. Akibatnya, berbagai gejolak internasional dapat dengan cepat memengaruhi sentimen investor di Indonesia. “Faktor globalisasi ini membuat sekat antarnegara menjadi sangat tipis. Konflik di Timur Tengah maupun tensi dagang AS-China sekecil apa pun dampaknya, pasti akan langsung merembet dan menciptakan sentimen negatif yang menghantam psikologis pasar domestik kita,” tambahnya. Memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China serta konflik yang terjadi di Timur Tengah disebut menjadi beberapa faktor yang terus memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan global. Meski pasar saham tengah berada dalam tekanan, Novi mengingatkan bahwa fundamental makroekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif kuat. Karena itu, ia mengimbau masyarakat, terutama investor pemula, agar tidak mengambil keputusan investasi secara tergesa-gesa hanya karena mengikuti kepanikan pasar. Menurutnya, fluktuasi yang terjadi saat ini seharusnya menjadi momentum bagi investor untuk lebih rasional dalam menyusun strategi investasi dan menghindari keputusan yang didasarkan pada ketakutan semata. Dengan tetap berpegang pada analisis yang matang, investor diharapkan dapat menghadapi dinamika pasar dengan lebih tenang tanpa terjebak aksi jual rugi yang justru berpotensi menimbulkan kerugian lebih besar. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

UMM Kukuhkan 4 Guru Besar Baru, Hadirkan Inovasi dari Deteksi Anemia hingga Kedaulatan Energi

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah jajaran profesor melalui pengukuhan empat Guru Besar baru yang digelar di Aula GKB 4 Lantai 9 Kampus III UMM, Kamis (11/6/2026). Pengukuhan tersebut menjadi langkah strategis Kampus Putih dalam memperkuat hilirisasi riset multidisiplin sekaligus menegaskan komitmen UMM menghadirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat dan kemandirian bangsa. Empat profesor yang dikukuhkan berasal dari bidang keilmuan berbeda, mulai dari pengelolaan sumber daya air, rekayasa biomedis, energi terbarukan, hingga fitopatologi. Pada sesi orasi ilmiah pertama, Prof. Dr. Ir. Sulianto, M.T. memaparkan hasil risetnya terkait model pengelolaan sumber daya air berkelanjutan untuk menghadapi ancaman krisis lingkungan global. Menurutnya, metode estimasi hidrologi yang akurat berbasis data historis memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan air nasional. “Topik ini sangat relevan dengan upaya memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui pemenuhan ketahanan air jangka panjang secara merata,” jelas Sulianto. Ia menegaskan bahwa ketersediaan air yang terkelola dengan baik menjadi salah satu fondasi penting bagi keberlanjutan pembangunan dan ketahanan sebuah negara. Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T. dari bidang Rekayasa Biomedis memperkenalkan inovasi deteksi dini anemia secara non-invasif tanpa menggunakan jarum suntik. Teknologi tersebut memanfaatkan kamera ponsel pintar untuk memotret konjungtiva mata pasien. Selanjutnya, hasil gambar dianalisis menggunakan algoritma kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi indikasi anemia secara cepat. “Sinergi komputasi cerdas ini mampu mengeluarkan estimasi indikasi anemia hanya dalam hitungan dua hingga empat detik saja, sebuah lompatan efisiensi yang luar biasa jika dibandingkan dengan pengujian laboratorium konvensional,” tegas Lailis. Inovasi tersebut diharapkan dapat memperluas akses deteksi dini anemia, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan fasilitas kesehatan. Guru Besar berikutnya, Prof. Dr. Machmud Effendy, M.Eng., menyoroti pentingnya percepatan transisi energi nasional melalui optimalisasi energi terbarukan. Menurutnya, ketergantungan terhadap energi fosil tidak hanya mengurangi cadangan energi global, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dan kedaulatan energi Indonesia. “Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil tidak hanya menyebabkan cadangan energi terus menurun, tetapi juga menjadi tantangan serius bagi kedaulatan energi nasional Indonesia di masa depan,” ungkap Machmud. Ia mendorong pengembangan sistem pembangkit berbasis energi baru dan terbarukan sebagai langkah strategis menuju kemandirian energi nasional. Adapun Prof. Ir. Henik Sukorini, M.P., Ph.D., IPM. dari bidang Fitopatologi mengangkat isu kerusakan tanah tropis akibat penggunaan bahan kimia pertanian yang berlebihan. Dalam orasinya, Henik menekankan pentingnya penerapan sistem pengendalian hayati sebagai solusi untuk memulihkan kualitas tanah dan menjaga keberlanjutan sektor pertanian. “Pengendalian hayati merupakan langkah penyelamatan darurat (emergency exit) yang harus segera diambil oleh seluruh pihak untuk memulihkan tanah tropis kita yang saat ini sedang mengalami degradasi parah,” pungkas Henik. Menurutnya, penggunaan pestisida sintetis secara berlebihan telah merusak keseimbangan mikroorganisme tanah dan berpotensi mengancam ketahanan pangan di masa mendatang. Sementara itu, Rektor UMM menegaskan bahwa penambahan empat profesor baru menjadi momentum penting dalam memperkuat peran universitas sebagai pusat keunggulan akademik yang berdampak bagi masyarakat. “Keempat orasi ilmiah yang disampaikan hari ini tidak hanya meneguhkan kedudukan akademik para profesor, tetapi juga mempertegas komitmen UMM dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat, bangsa, dan peradaban,” ujarnya. Ia berharap pengukuhan guru besar tidak hanya menjadi agenda seremonial akademik, tetapi juga mampu mendorong lahirnya riset-riset yang aplikatif dan memberikan solusi terhadap berbagai persoalan bangsa. Melalui berbagai inovasi yang dihasilkan, UMM terus berupaya menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional, mulai dari bidang kesehatan, lingkungan, energi, hingga ketahanan pangan. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Pasar Saham Memerah Akibat Kepanikan Global, Dosen UMM Imbau Masyarakat Tak Terbawa Arus

MALANG, Suara Muhammadiyah – Merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga lebih dari 20 persen sejak awal 2026 memicu kekhawatiran publik akan datangnya krisis ekonomi. Namun, pengamat ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menegaskan bahwa fenomena ini murni akibat kepanikan psikologis pasar sesaat, bukan cerminan fundamental makroekonomi nasional yang rapuh. Novi Puji Lestari, S.E., M.M., Dosen Manajemen UMM memaparkan bahwa tren negatif di lantai bursa belakangan ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi yang sebenarnya. Tekanan jual yang masif di pasar modal lebih didorong oleh krisis kepercayaan yang berujung pada reaksi berlebihan dan tergesa-gesa dari para investor. “Secara keseluruhan, turunnya IHSG saat ini murni dipicu oleh panic selling dari para investor yang merasa khawatir secara berlebihan. Perlu dipahami bahwa pasar biasanya akan bergerak merespons ketakutan jauh lebih cepat, bahkan sebelum kondisi ekonomi riil kita benar-benar membaik atau memburuk,” jelasnya. Lebih lanjut, Novi sapaan akrabnya membeberkan pemicu utama gelombang kekhawatiran tersebut yang bermula dari tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kondisi kurs yang fluktuatif ini membuat aset domestik terlihat sangat berisiko bagi investor asing. Selain itu, investor juga mengalami krisis kepercayaan terhadap stabilitas fiskal, yang berdampak langsung pada menurunnya daya tarik investasi Indonesia dibandingkan negara-negara berkembang lainnya. “Investor asing itu tidak hanya melihat angka di atas kertas, mereka sangat sensitif terhadap isu stabilitas fiskal. Ketika rupiah terus melemah, kepanikan mereka memuncak karena merasa aset mereka di Indonesia semakin berisiko tinggi. Inilah yang memicu penarikan dana dan krisis kepercayaan secara besar-besaran dari bursa kita,” tegasnya. Faktor lain yang tak kalah penting adalah rambatan dampak dari ketidakpastian global. Mengacu pada hasil penelitiannya terkait ekonomi global, Novi menyebut arus globalisasi telah menipiskan batas ekonomi antarnegara. Gejolak geopolitik dunia, seperti memanasnya perang dagang antara AS dan China serta eskalasi konflik di Timur Tengah, selalu berhasil mengirimkan sentimen negatif ke bursa domestik, sekecil apa pun eskalasinya. “Faktor globalisasi ini membuat sekat antarnegara menjadi sangat tipis. Konflik di Timur Tengah maupun tensi dagang AS-China sekecil apa pun dampaknya, pasti akan langsung merembet dan menciptakan sentimen negatif yang menghantam psikologis pasar domestik kita,” tambahnya. Meskipun papan bursa saat ini dipenuhi sentimen negatif imbas dinamika global, pemerintah memastikan bahwa fundamental makroekonomi Indonesia masih sangat solid. Oleh karena itu, masyarakat awam dan investor pemula diimbau untuk tidak gegabah, menghindari aksi ikut-ikutan menjual rugi (cut loss) tanpa dasar, dan menjadikan fluktuasi ini sebagai momen untuk berinvestasi secara lebih rasional dan terencana. (diko)

GKB 5 Resmi Beroperasi, UMM Bersiap Jadi Episentrum Medis Nasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi meluncurkan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 yang berlokasi di kompleks Rumah Sakit UMM. Gedung sebelas lantai setinggi 45 meter berkonsep green building ini diresmikan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si pada Kamis (11/6). Fasilitas mutakhir ini didedikasikan sebagai pusat pendidikan medis masa depan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES). Kehadiran fasilitas megah ini dinilai sebagai penegas dedikasi utuh UMM dalam memajukan peradaban. Haedar sapaan akrabnya memberikan apresiasi kepada jajaran pimpinan Kampus Putih karena dinilai tak pernah lelah berinovasi dan sukses menyulap kawasan tersebut menjadi pusat pendidikan kedokteran bergengsi. Ia menegaskan bahwa UMM telah membuktikan posisinya sebagai barometer kemajuan bagi 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. “UMM Malang telah membangun dasar kemajuan yang kuat dan menanamkan tradisi besar bagi seluruh sivitas akademika untuk selalu memiliki visi yang luas ke depan serta menjadi pelopor dalam kemajuan,” tegasnya. Lebih jauh, Haedar menilai kemegahan GKB 5 ini merupakan cerminan tradisi keunggulan Kampus Putih dalam mencetak tenaga kesehatan profesional. Lulusan UMM tidak hanya dituntut cerdas secara keilmuan, tetapi juga wajib memiliki karakter, integritas, dan akhlak mulia sebagai landasan utama saat melayani masyarakat. “Gedung GKB 5, rumah sakit UMM, serta seluruh ekosistem kampus UMM menjadi bukti nyata Muhammadiyah yang terus maju, Islam yang berkemajuan, dan UMM sebagai pelopor kemajuan,” imbuhnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menjelaskan bahwa keistimewaan utama dari gedung ini terletak pada kemandirian proses pembangunannya. Mahakarya yang dirintis sejak tahun 2023 tersebut dirancang dan dikerjakan langsung oleh para ahli dari internal kampus. “Gedung ini dibangun murni dengan swadaya dan swakelola, termasuk desain perencanaan sampai dengan pelaksanaannya oleh tim Universitas Muhammadiyah Malang beserta beberapa konsultan,” urainya. Berdiri di atas lahan seluas dua hektar, struktur tahan gempa ini mengusung arsitektur ramah lingkungan yang diformulasikan khusus untuk menekan polusi, memaksimalkan pencahayaan alami, dan memastikan sirkulasi udara sehat. Gedung ini dilengkapi dengan puluhan laboratorium berstandar internasional, sarana olahraga, sistem pengolahan limbah khusus yang terpisah, hingga auditorium megah. Pembangunan infrastruktur berkualitas tinggi ini menjadi langkah visioner UMM untuk memastikan para lulusannya siap, cerdas, dan tangguh. Nazaruddin berharap peresmian ini membawa keberkahan dan menjadi dorongan moral bagi UMM untuk terus berkontribusi secara nyata bagi negara. “Mudah-mudahan peresmian ini sekaligus menjadi doa bagi kita semua dan UMM khususnya untuk berani maju terus ke depan memberikan kontribusi yang terbaik bagi bangsa,” pungkasnya. Berdirinya GKB 5 ini tidak hanya menambah daftar panjang prestasi infrastruktur fisik Kampus Putih, tetapi juga menjadi tonggak sejarah baru dalam standar pendidikan medis di Indonesia. Melalui integrasi ilmu kesehatan, teknologi mutakhir, dan nilai-nilai keislaman, UMM semakin memantapkan langkahnya dalam melahirkan generasi tenaga medis prima yang siap menjawab tantangan kesehatan global di masa depan.(ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Tambah Empat Guru Besar Baru, Perkuat Riset Berdampak untuk Masyarakat

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan mengukuhkan empat guru besar baru di Aula GKB 4 Lantai 9 Kampus III UMM, Kamis (11/6/2026). Pengukuhan ini menjadi langkah strategis Kampus Putih dalam memperluas hilirisasi riset multidisiplin, sekaligus mempertegas komitmen berkelanjutan universitas dalam menghasilkan inovasi aplikatif yang solutif bagi kemaslahatan masyarakat luas serta kemandirian bangsa. Pada sesi orasi ilmiah pertama, Prof Dr Ir Sulianto MT memaparkan hasil risetnya mengenai model pengelolaan sumber daya air berkelanjutan untuk menghadapi ancaman krisis lingkungan global. Ia menyampaikan bahwa metode estimasi hidrologi yang presisi menggunakan data historis sangat krusial dalam menjaga stabilitas ketahanan air nasional demi mendukung kemandirian bangsa. “Topik ini sangat relevan dengan upaya memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui pemenuhan ketahanan air jangka panjang secara merata,” jelas Sulianto. Selanjutnya, Prof Dr Ir Lailis Syafa’ah MT di bidang Rekayasa Biomedis memperkenalkan terobosan teknologi deteksi dini gejala anemia non-invasif tanpa jarum suntik. Inovasi tersebut memanfaatkan kamera ponsel pintar untuk memotret konjungtiva mata pasien yang kemudian dianalisis menggunakan algoritma kecerdasan buatan secara instan. “Sinergi komputasi cerdas ini mampu mengeluarkan estimasi indikasi anemia hanya dalam hitungan dua hingga empat detik, sebuah lompatan efisiensi dibandingkan pengujian laboratorium konvensional,” tegas Lailis. Sementara itu, Prof Dr Ir Machmud Effendy MEng menyoroti urgensi transisi energi nasional melalui optimalisasi sistem pembangkit berbasis energi terbarukan guna mencapai kedaulatan energi yang mandiri. Ia memaparkan bahwa ketergantungan tinggi terhadap energi fosil akan memicu penurunan cadangan energi global serta mengancam stabilitas ekonomi nasional. “Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil tidak hanya menyebabkan cadangan energi terus menurun, tetapi juga menjadi tantangan serius bagi kedaulatan energi nasional Indonesia di masa depan,” ungkap Machmud. Selanjutnya, Prof Ir Henik Sukorini MP PhD IPM dari bidang Fitopatologi menekankan pentingnya sistem pengendalian hayati untuk memulihkan kerusakan tanah tropis akibat penggunaan bahan kimia pertanian yang berlebihan. Ia memperingatkan bahwa ketergantungan petani terhadap pestisida sintetis telah merusak mikroorganisme tanah dan mengancam keamanan pangan jangka panjang. “Pengendalian hayati merupakan langkah penyelamatan yang harus segera diambil untuk memulihkan tanah tropis yang saat ini mengalami degradasi,” pungkas Henik. Sementara itu, Rektor UMM menegaskan bahwa penambahan guru besar ini merupakan momentum penting untuk memperkuat peran universitas sebagai pusat keunggulan akademik yang berdampak bagi masyarakat. “Keempat orasi ilmiah yang disampaikan hari ini tidak hanya meneguhkan kedudukan akademik para profesor, tetapi juga mempertegas komitmen UMM dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat, bangsa, dan peradaban,” ujar Rektor. Acara pengukuhan ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial akademik, tetapi juga pemantik semangat bagi sivitas akademika UMM untuk terus menghidupkan ekosistem riset yang membumi. Implementasi nyata dari inovasi lintas disiplin ilmu tersebut menjadi kunci untuk menjawab tantangan zaman dan mendukung kemandirian bangsa yang berkemajuan. (Faqih/AS)

Pabrik Infus Muhammadiyah di UMM Resmi Dibangun, Siap Perkuat Kemandirian Kesehatan Nasional

Muhammadiyah memulai pembangunan pabrik infus di kawasan UMM. Fasilitas yang ditargetkan beroperasi pada 2027 ini diproyeksikan memperkuat pasokan alat kesehatan nasional dan layanan rumah sakit Muhammadiyah. Tagar.co – Muhammadiyah menandai babak baru kemandirian kesehatan nasional dengan memulai pembangunan pabrik infus di kawasan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (11/6/26). Pabrik yang ditargetkan beroperasi pada 2027 itu diproyeksikan menjadi salah satu penopang rantai pasok alat kesehatan nasional sekaligus memperkuat layanan rumah sakit Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang. Untuk mendukung proyek tersebut, UMM menyediakan sebagian aset lahannya sebagai kawasan industri kesehatan terpadu. Dari total 14 hektare lahan yang dimiliki kampus di lokasi tersebut, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus untuk pengembangan industri. Sejumlah tokoh hadir dalam peresmian proyek tersebut, di antaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si.; Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI sekaligus Sekretaris BPH UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd.; Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P.; Dr, M. Saad Ibrahim, M.A.; dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes. Baca Juga:  Mesin Cuci Singkong Karya Mahasiswa UMM Juara Kompetisi Nasional Juga Ketua PWM Jawa Timur Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M.; Direktur Utama PT Suryavena Farma Indonesia Tatat Rahmita Utami; Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A.; serta jajaran pemerintah daerah dan pemangku kepentingan sektor kesehatan. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir melakukan peletakan batu pertama pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di kawasan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Karangploso, Kabupaten Malang, Kamis (11/6/2026). Proyek ini menjadi langkah Muhammadiyah dalam memperkuat kemandirian industri kesehatan nasional. (Tagar.co/Humas UMM)) Wujud Kemandirian Muhammadiyah untuk Bangsa Haedar Nashir menegaskan bahwa pembangunan pabrik infus tersebut merupakan implementasi nyata konsep socio-religious corporation yang selama ini dikembangkan Muhammadiyah. Melalui model tersebut, organisasi keagamaan tidak hanya bergerak di bidang pendidikan dan dakwah, tetapi juga membangun kekuatan ekonomi dan industri yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Menurut Haedar, bisnis yang dibangun Muhammadiyah tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan, melainkan menjadi instrumen untuk menghadirkan kemaslahatan publik dan mendukung pembangunan bangsa. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa agama tidak hanya mengatur persoalan akidah dan ibadah, tetapi juga mencakup aspek muamalah yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan ekonomi. Karena itu, keterlibatan Muhammadiyah dalam industri alat kesehatan merupakan bentuk pengabdian yang berpijak pada nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan. Baca Juga:  Wujudkan Deep Learning, UMM Kembangkan Modul Ajar Berbasis STEM Bagi Muhammadiyah, kata Haedar, kemandirian ekonomi menjadi fondasi penting untuk menopang berbagai amal usaha, mulai dari pendidikan, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan masyarakat. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bersama jajaran pimpinan Muhammadiyah, UMM, dan PT Suryavena Farma Indonesia menghadiri groundbreaking pembangunan pabrik infus di kawasan Universitas Muhammadiyah Malang, Kamis (11/6/2026). Kehadiran pabrik tersebut diharapkan memperkuat ekosistem kesehatan dan industri alat kesehatan nasional. Integrasikan Industri, Pendidikan, dan Riset Sementara itu, Wakil Rektor II UMM Ahmad Juanda menjelaskan bahwa kontribusi UMM tidak berhenti pada penyediaan lahan. Kawasan tersebut nantinya akan dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang menghubungkan dunia industri dengan aktivitas pendidikan dan penelitian. Menurutnya, kehadiran pabrik infus akan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi dan sektor industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional, khususnya di bidang kesehatan. “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” ujarnya. Lebih jauh, kawasan industri kesehatan tersebut diharapkan menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa dan peneliti untuk mengembangkan inovasi yang dapat langsung diterapkan dalam dunia industri. (#)