Pabrik Infus Muhammadiyah di UMM Siap Pasok Kebutuhan Medis Nasional

agroredaksi – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat peran strategisnya dalam mewujudkan kemandirian kesehatan nasional. Komitmen ini diwujudkan lewat penyediaan lahan untuk pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang. Dari total 14 hektare aset lahan milik UMM di lokasi tersebut, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu. Peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek ini resmi dilaksanakan pada Kamis (11/6). Peresmian proyek ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. Pabrik yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 ini diproyeksikan menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan, baik bagi jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah maupun masyarakat luas. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan bahwa pendirian pabrik infus ini adalah manifestasi dari ekosistem socio-religious corporation yang digagas oleh persyarikatan. Menurutnya, inisiatif ini membuktikan bahwa organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara, bukan sekadar mencari keuntungan finansial. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Lebih lanjut, Haedar memaparkan bahwa agama tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, melainkan juga urusan muamalah dalam tata kehidupan sosial-ekonomi. Oleh karena itu, keterlibatan di sektor industri medis ini diposisikan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan guna menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menjelaskan bahwa kontribusi Kampus Putih tidak berhenti pada penyediaan lahan. Ke depannya, kawasan ini akan diintegrasikan menjadi ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang mempertemukan aktivitas industri dengan fungsi tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” ujarnya. Dengan beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia pada 2027 mendatang, langkah ini diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di Tanah Air. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi pesan kuat bahwa kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan beriringan demi menghadirkan manfaat yang seluas-luasnya bagi pembangunan bangsa.(Sfl/umm)

Prodi Budidaya Perairan Unsri Kunjungi Prodi Akuakultur UMM, Studi Inovasi Teknologi Perairan

matahati – Rombongan UNSRI terdiri empat dosen dan 50 mahasiswa. Tujuannya sharing knowledge terkait pengelolaan kurikulum berbasis Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), manajemen laboratorium modem, serta pengembangan inovasi teknologi budidaya perikanan yang menjadi keunggulan masing-masing universitas. Di tempat sama, Ketua Prodi Akuakultur UMM, Dony Prasetyo, SP MS, bahwa kolaborasi antar institusi sangat krusial dalam menghadapi tantangan industri perikanan dan akuakultur di masa depan. Pertemuan antara UNSRI-Akuakultur UMM ini membuka peluang bagi kedua belah pihak berkolaborasi, khususnya potensi perikanan wilayah barat Indonesia (Sumatera dengan inovasi teknologi yang dikembangkan di Malang). Kaprodi Akuakultur UMM, Dony Prasetyo, S.Pi, M.Si Ketika menerima cinderamata dari pimpinan Prodi Budidaya Perairan Unsri. Semantar itu, Pimpinan Prodi Budidaya Perairan Unsri, memberikan apresiasi saat kunjungan ke Prodi Akuakultur UMM. Kunjungan ini bukan sekedar studi banding, sekaligus langkah awal untuk membangun sinergi bidang riset, publikasi ilmiah, hingga potensi pertukaran mahasiswa antara UNSRI dan UMM. Mahasiswa Prodi Budidaya Perairan Unsri saat menyampaikan tujuan studi banding ke Prodi Akuakultur UMM. Sekedar diketahui saat berkunjung ke Prodi Akuakultur UMM rombongan Unsri  melihat fasilitas unggulan Akuakultur UMM. Diantaranya Laboratorium Perikanan, Center of Excellence (COE) Udang/Analis Akuakultur yang menjadi kebanggaan UMM, serta instalasi budidaya berbasis teknologi modern. (humas prodi akuakultur umm/don)

Sering Potong Kuku Terlalu Dalam? Waspada Cantengan

Beritabanten.com – Kebiasaan memotong kuku terlalu pendek ternyata bisa memicu cantengan atau ngrowing nail. Kondisi ini ditandai dengan nyeri di sekitar kuku, bengkak kemerahan, hingga infeksi. Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rahma Sabila Rindardi, menjelaskan bahwa cantengan terjadi ketika kuku tumbuh masuk ke dalam kulit di sekitarnya. “Cantengan paling sering dialami anak-anak dan lansia. Pada anak-anak, jaringan di sekitar kuku masih lunak. Sementara pada lansia, keterbatasan mobilitas dan penglihatan membuat perawatan kuku menjadi lebih sulit,” ujar dokter yang akrab disapa Bela, dilihat dalam laman resmi umm. Mengacu pada data Kementerian Kesehatan, sekitar 25 persen pasien yang datang ke dokter mengalami masalah cantengan. Untuk mencegah kondisi tersebut, Bela mengimbau masyarakat agar tidak memotong kuku terlalu pendek, terutama hingga ke bagian pinggir kuku. Cara memotong kuku yang salah dapat meningkatkan risiko kuku tumbuh ke dalam kulit. Selain itu, penggunaan gunting kuku yang tajam juga penting. Menurutnya, gunting yang tumpul sering membuat seseorang menarik kuku yang belum terpotong sempurna sehingga menimbulkan luka kecil di sekitar jaringan kuku. “Gunakan juga alas kaki yang nyaman dan tidak terlalu sempit. Sepatu yang sempit dapat menekan kuku kaki sehingga kuku tumbuh ke dalam kulit,” jelasnya. Ia menambahkan, trauma ringan pada kaki akibat aktivitas fisik berlebihan, seperti berlari atau penggunaan alas kaki yang tidak sesuai, juga dapat menjadi pemicu cantengan. Bagi yang sudah mengalami cantengan, Bela menyarankan mengonsumsi obat pereda nyeri yang tersedia di apotek. Jika telah terjadi infeksi, luka dapat diolesi salep antibiotik sesuai anjuran tenaga kesehatan. Merendam kaki dalam air hangat juga dapat membantu mengurangi rasa nyeri. Namun, jika infeksi semakin parah hingga mengeluarkan nanah, penderita disarankan segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, termasuk tindakan ekstraksi kuku bila diperlukan. “Cantengan yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan infeksi meluas ke jaringan kulit di sekitarnya dan menimbulkan komplikasi yang lebih serius,” pungkasnya.(Red)

DIMPA UMM, Bedah Film Peringati Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia, Divisi Mahasiswa Pecinta Alam (DIMPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Maharesigana UMM, dan Kine Klub UMM menggelar kegiatan “Bedah Film: Membaca Pesan Lingkungan Lewat Layar” pada Sabtu (6/6/2026) di Kafe Kontainer UMM. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama bagi mahasiswa, pelajar, dan masyarakat untuk memahami kondisi lingkungan yang semakin mengalami degradasi melalui pendekatan seni dan media film. Sebanyak 53 peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung mulai pukul 18.30 hingga 22.00 WIB. Tiga film bertema lingkungan, yaitu Hijau, Forever Green, dan Serdadu Apel Emas, ditayangkan sebagai media edukasi yang mengangkat berbagai persoalan lingkungan, mulai dari kerusakan ekosistem, perubahan iklim, hingga ancaman terhadap keberlanjutan sumber daya alam. Suasana Bedah Film: Membaca Pesan Lingkungan Lewat Layar. Kegiatan ini menghadirkan Kepala Biro Kemahasiswaan UMM, Tatag Muttaqin yang juga Perwakilan dari MDMC Jawa Timur sebagai Narasumber, sutradara film Serdadu Apel Emas, Lingga. Turut hadir pula mahasiswa perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UMM serta pelajar yang tergabung dalam organisasi Sispala. Dalam sambutannya, Tatag menekankan bahwa alam memiliki sistem kehidupan yang saling terhubung dan membutuhkan keseimbangan untuk tetap bertahan. “Pohon-pohon di hutan tidak hidup sendiri. Mereka memiliki keterhubungan melalui sistem akar yang saling mendukung kehidupan ekosistem. Ketika pohon berdiri sendiri tanpa komunitasnya, hal tersebut dapat menjadi tanda terganggunya keseimbangan alam. Menurunnya jumlah sumber mata air juga menjadi peringatan bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap lingkungan,” ujar Tatag yang merupakan dosen Kehutanan UMM. Pembina DIMPA UMM sekaligus dosen Perikanan UMM, Rindya Fery Indrawan, menyampaikan bahwa kegiatan bedah film ini menjadi salah satu bentuk pendekatan kreatif dalam membangun kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda. Mahasiswa DIMPA UMM ketika menyaksikan Membaca Pesan Lingkungan Lewat Layar. “Menjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan memahami teori, tetapi perlu adanya kesadaran emosional dan aksi nyata. Melalui film, kita dapat melihat bagaimana alam berbicara kepada manusia melalui berbagai fenomena yang terjadi. Sebagai generasi penerus, mahasiswa memiliki peran penting sebagai agen perubahan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan, terutama sumber daya alam dan ekosistem perairan yang menjadi penopang kehidupan manusia,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa persoalan lingkungan saat ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau aktivis lingkungan semata, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, kepedulian kecil seperti menjaga kebersihan, mengurangi limbah, hingga melakukan konservasi lingkungan merupakan langkah nyata yang dapat memberikan dampak besar di masa depan. Sementara itu, Mas Lingga menyampaikan bahwa film memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan lingkungan dengan cara yang lebih dekat dan menyentuh masyarakat. “Edukasi lingkungan akan lebih mudah diterima ketika disampaikan melalui bahasa dan media yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Film bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi ruang refleksi dan ajakan untuk bergerak menjaga alam,” ungkapnya. Ia juga menyoroti kondisi lingkungan di Kota Batu, khususnya berkurangnya jumlah pohon apel yang dipengaruhi oleh perubahan suhu yang semakin signifikan. Kondisi tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam film Serdadu Apel Emas dan menjadi pengingat akan pentingnya tindakan nyata dalam menghadapi perubahan iklim. Foto bersama mahasiswa DIMPA usai bedah film. Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan oleh MC dari DIMPA UMM, Kak Hafiza, yang membangun suasana hangat dan penuh semangat. Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan musik dari Band IKABAMA UMM yang berhasil menciptakan suasana akrab sebelum peserta menyaksikan pemutaran tiga film yang dioperasikan oleh Kine Klub UMM. Setelah sesi pemutaran film, peserta mengikuti bedah film dan diskusi interaktif yang dipandu oleh Kak Sukma Ayu sebagai moderator dari Maharesigana UMM. Berbagai pertanyaan dan pandangan dari peserta menunjukkan tingginya antusiasme terhadap isu lingkungan. Tidak sedikit peserta yang mengaku tersentuh oleh pesan-pesan yang disampaikan melalui film dan semakin menyadari pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kelestarian alam. Suasana Kafe Kontainer UMM yang sejuk dan dikelilingi lingkungan hijau turut mendukung jalannya kegiatan. Udara malam Kota Malang yang nyaman menghadirkan pengalaman berdiskusi yang lebih dekat dengan alam, sejalan dengan semangat Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia. Melalui kegiatan “Bedah Film: Membaca Pesan Lingkungan Lewat Layar”, Dimpa UMM, Maharesigana UMM, dan Kine Klub UMM berharap kesadaran terhadap isu lingkungan tidak berhenti pada ruang diskusi semata, tetapi mampu diwujudkan dalam aksi nyata. Kepedulian terhadap alam, sekecil apa pun langkah yang dilakukan, menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan bumi bagi generasi yang akan datang. (rfi)

IHSG Ambruk, Ekonom UMM Imbau Masyarakat Tak Terseret Arus

MAKLUMAT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot lebih dari 20 persen seolah menjadi alarm bagi perekonomian domestik. Sebab kekhawatiran ini bisa memicu krisis ekonomi seperti yang pernah terjadi tahun 1998 silam. Namun bagi ekonom Universitas Muhammadiyah Malang, UMM memiliki pandangan sendiri. Menurut, Novi Puji Lestari, dosen manajemen UMM, fenomena ini murni akibat kepanikan psikologis pasar sesaat, bukan cerminan fundamental makroekonomi nasional. Menurutnya, tekanan jual yang masif di pasar modal disebabkan krisis kepercayaan yang berujung pada reaksi berlebihan dan tergesa-gesa dari para investor. “Turunnya IHSG murni dipicu panic selling dari para investor yang punya kekhawatiran berlebih. Pasar biasanya akan bergerak merespons ketakutan jauh lebih cepat. Ini yang perlu dipahami,” ujarnya, dikutip Rabu (10/6/2026). Pemicu Utama IHSG Ambruk Novi, sapaan lekatnya, menjelaskan pemicu utama terseok-seoknya IHSG diawali dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kurs yang fluktuatif ini membuat asset domestik terlihat sangat berisiko bagi investor asing. Selain itu, investor juga mengalami krisis kepercayaan terhadap stabilitas fiskal. Situasi ini berdampak langsung pada menurunnya daya tarik investasi Indonesia dibandingkan negara-negara berkembang lainnya. “Investor asing sangat sensitif terhadap isu stabilitas fiskal. Mereka tidak hanya melihat angka di atas kertas. Ketika rupiah ambruk, investor panik, karena merasa asetnya semakin berisiko. Inilah yang memicu penarikan dana dan krisis kepercayaan secara besar-besaran dari bursa kita,” urainya menjelaskan. Faktor yang tak kalah penting adalah rambatan dampak dari ketidakpastian global. Mengacu pada hasil penelitiannya terkait ekonomi global, Novi menyebut arus globalisasi telah menipiskan batas ekonomi antarnegara. Akibat Campur Tangan Global Gejolak geopolitik dunia, seperti memanasnya perang dagang antara AS dan China serta eskalasi konflik Timur Tengah, selalu berhasil mengirimkan sentimen negatif ke bursa domestik, sekecil apa pun eskalasinya. “Faktor globalisasi ini membuat sekat antarnegara menjadi sangat tipis,” tegasnya menjelaskan. Meskipun papan bursa saat ini dipenuhi sentimen negatif imbas dinamika global, pemerintah memastikan bahwa fundamental makroekonomi Indonesia masih sangat solid. Ia meminta masyarakat awam dan investor pemula untuk tidak gegabah, ikut-ikutan menjual rugi (cut loss) tanpa dasar. Harapannya investor pemula menjadikan fluktuasi ini sebagai momen untuk berinvestasi secara rasional dan terencana.

UMM Cetak Puluhan Trainer Pembelajaran Transformatif

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Merespons tantangan era digital dan kecerdasan buatan (AI), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Training of Trainers (TOT) Penerapan Pembelajaran Transformatif. Diikuti oleh 32 dosen perwakilan fakultas dan unit kerja, agenda ini berlangsung secara bauran pada 6–9 Juni 2026 di Ruang Sidang Senat UMM guna mencetak trainer yang mampu menggerakkan perubahan praktik pembelajaran di lingkungan kampus. Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menegaskan bahwa dosen di era modern tidak lagi sekadar menjadi penyampai materi, melainkan bertindak sebagai agen perubahan. Ia menyebutkan bahwa pendidik dituntut untuk membantu mahasiswa membangun cara berpikir kritis, reflektif, dan berorientasi pada pemecahan masalah yang nyata. “Di era digital, informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah. Tantangan dosen saat ini bukan lagi sekadar menyampaikan pengetahuan, tetapi bagaimana membimbing mahasiswa untuk mengolah informasi, melakukan refleksi kritis, membangun perspektif baru, dan menghasilkan tindakan yang berdampak,” ujarnya. Sejalan dengan hal tersebut, Fasilitator Nasional Pembelajaran Transformatif, Prof. Dr. Mohammad Syaifuddin, MM., menjelaskan bahwa pendekatan ini akan mendorong perubahan perspektif melalui pengalaman belajar. Menurutnya, pembelajaran di kelas harus melampaui paradigma transfer pengetahuan menuju transformasi pemahaman mahasiswa terhadap dirinya dan tantangan di masyarakat. “Pembelajaran yang baik bukan hanya membuat mahasiswa mengetahui sesuatu, tetapi membantu mereka melihat sesuatu secara berbeda. Ketika mahasiswa mulai mempertanyakan asumsi yang selama ini diyakini, melihat persoalan dari berbagai perspektif, dan kemudian mengambil tindakan berdasarkan refleksi kritis, di situlah transformasi pembelajaran terjadi,” jelasnya. Selama pelatihan, peserta tidak hanya dibekali strategi dari tahap perencanaan hingga asesmen, tetapi juga didorong untuk meninjau ulang praktik mengajar mereka selama ini. Salah satu peserta mengungkapkan bahwa pelatihan ini mengguncang cara pandangnya, di mana kesuksesan belajar seharusnya tidak lagi diukur sebatas dari pemerolehan nilai akademik semata. “Selama ini saya menganggap pembelajaran berhasil ketika mahasiswa memahami materi dan memperoleh nilai yang baik. Namun dalam pelatihan ini saya disadarkan bahwa pembelajaran seharusnya membantu mahasiswa mengalami perubahan cara berpikir, membangun kesadaran baru, dan mampu memaknai pengalaman yang mereka hadapi,” ungkapnya. Peserta lainnya turut menyoroti urgensi efektivitas desain pembelajaran yang selama ini diterapkan di perguruan tinggi. Ia terdorong untuk mengevaluasi secara mendalam sejauh mana proses belajar-mengajar di kelas benar-benar memberikan dampak nyata bagi pembentukan karakter mahasiswa. “Pelatihan ini membuat saya bertanya pada diri sendiri, apakah mahasiswa saya hanya memperoleh pengetahuan atau benar-benar mengalami transformasi cara berpikir? Pertanyaan itu terus muncul dan mendorong saya untuk mendesain ulang pembelajaran agar lebih bermakna,” tuturnya. Ke depannya, inisiatif UMM dalam mencetak trainer pembelajaran transformatif ini menjadi wujud nyata komitmen kampus untuk terus menghadirkan inovasi pendidikan abad ke-21. Transformasi yang berakar dari perubahan cara berpikir dosen ini diharapkan dapat menular secara luas, sehingga UMM konsisten melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga tangguh menjadi agen perubahan yang solutif bagi bangsa dan kemanusiaan.(ANS)

Mesin Cuci Singkong Karya Mahasiswa UMM Juara Kompetisi Nasional

Dari tujuh jam menjadi satu jam. Lompatan efisiensi itu lahir dari tangan tiga mahasiswa UMM yang merancang mesin pencuci singkong hemat air dan berkapasitas besar, hingga sukses menaklukkan kompetisi nasional. Tagar.co – Lima ratus kilogram singkong biasanya membutuhkan waktu berjam-jam untuk dibersihkan. Di banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), proses itu masih mengandalkan tenaga manusia. Pekerja harus mencuci, menyikat, dan memisahkan kotoran satu per satu. Akibatnya, waktu produksi tersita dan kualitas hasil sering tidak seragam. Kondisi tersebut mendorong tiga mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan solusi yang sederhana, tetapi berdampak besar. Mereka merancang mesin pencuci singkong semi mekanis yang mampu memangkas waktu pencucian 500 kilogram singkong dari empat hingga tujuh jam menjadi sekitar satu jam. Inovasi itulah yang mengantarkan tim UMM meraih juara nasional dalam kompetisi yang diselenggarakan Asosiasi Program Studi Teknik Mesin Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (APSTM-PT). Pengumuman pemenang berlangsung pada Senin, (18/5/2026). Tim tersebut terdiri atas Nova Sinanti, Azka Firosyan Samana Putra, dan Raihan Rosyadi. Baca Juga:  Program CoE UMM Dorong Mahasiswa Siap Kerja di Industri Sawit Pemangkas Waktu Bagi mereka, singkong bukan sekadar komoditas. Di balik umbi itu, terdapat denyut usaha kecil yang setiap hari berjuang memenuhi permintaan pasar. Karena itu, mereka merancang mesin yang mampu bekerja lebih cepat tanpa mengorbankan kualitas bahan baku. Nova Sinanti, ketua tim, menjelaskan bahwa mesin tersebut memadukan teknologi drum spray dan water recirculation. Sistem itu bekerja bersama ulir pengarah bahan serta sediment trap yang memisahkan kotoran secara otomatis. “Mesin yang kami rancang mampu memangkas waktu pencucian 500 kilogram singkong dari yang awalnya butuh empat hingga tujuh jam menjadi hanya sekitar satu jam saja. Kami juga menambahkan fitur drum spray dan sirkulasi air yang terintegrasi dengan sediment trap, sehingga pemakaian air jauh lebih hemat dan kotoran tidak bercampur kembali dengan singkong,” ujarnya. Rancangan mesin pencuci singkong semi mekanis karya mahasiswa Teknik Mesin UMM yang mengantarkan timnya meraih Juara I kompetisi nasional APSTM-PT 2026. (Tagar.co/Nova Sinanti) Dari Efisiensi Menuju Kualitas Produksi Keunggulan mesin itu tidak berhenti pada efisiensi waktu. Tim UMM juga menaruh perhatian pada kualitas hasil pencucian. Mereka merancang sistem sirkulasi air yang bekerja seperti bantalan pelindung selama proses pembersihan berlangsung. Melalui mekanisme tersebut, kulit singkong dapat terkelupas dengan lebih bersih tanpa merusak dagingnya. Hasilnya, bahan baku memiliki kualitas yang lebih baik untuk diolah menjadi berbagai produk pangan. “Penggunaan sistem sirkulasi pada alat kami berperan layaknya bantalan air, sehingga kulit singkong bisa terkelupas dan bersih tanpa melukai dagingnya. Dengan hasil pencucian yang maksimal, UMKM nantinya bisa memproduksi keripik dengan warna yang lebih cerah dan rasa yang tidak pahit akibat sisa getah atau pasir,” kata Nova. Di tengah persaingan 15 tim terbaik dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Indonesia, inovasi tersebut mencuri perhatian dewan juri. Bukan hanya karena aspek teknisnya, tetapi juga karena manfaatnya yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Di Luar Laboratorium Dosen pendamping tim, Dr. Ir. Yepy Komaril Sofi’i, S.T., M.T., menjelaskan, keberhasilan itu menjadi bukti bahwa riset mahasiswa tidak harus berhenti di ruang laboratorium. Sebaliknya, gagasan yang lahir dari kampus dapat menjawab persoalan nyata para pelaku usaha. Baca Juga:  Utusan Khusus PBB Retno Marsudi: Inovasi Air UMM Berdampak Besar bagi Dunia Dia menilai karya tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menerjemahkan ilmu teknik menjadi solusi yang aplikatif. Ia berharap inovasi itu segera memasuki tahap produksi dan dapat digunakan secara luas. “Inovasi ini adalah bukti bahwa mahasiswa UMM mampu menerjemahkan ilmu teknik ke dalam solusi nyata. Saya sangat berharap mesin pencuci singkong ini dapat segera diproduksi agar dirasakan manfaatnya secara langsung oleh para pelaku UMKM kita,” ujarnya. (#) Penulis Faqih Ahmad Wafir Rahman Penyunting Terry Angria Putri Perdana

Mahasiswa UMM Raih Juara Nasional Lewat Inovasi Mesin Pencuci Singkong untuk UMKM

Malangpariwara.com – Kreativitas mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional. Kali ini, tim mahasiswa Program Studi Teknik Mesin UMM berhasil meraih juara dalam kompetisi nasional yang diselenggarakan Asosiasi Program Studi Teknik Mesin Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (APSTM-PT) berkat inovasi mesin pencuci singkong yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tim yang diketuai Nova Sinanti bersama Azka Firosyan Samana Putra dan Raihan Rosyadi sukses memikat perhatian dewan juri melalui karya bertajuk Mesin Pencuci Singkong Semi Mekanis Berbasis Drum Spray dan Water Recirculation. Inovasi tersebut dinilai mampu menjawab persoalan yang selama ini dihadapi pelaku usaha pengolahan singkong, khususnya terkait efisiensi waktu produksi dan penggunaan air. Kompetisi yang diikuti mahasiswa Teknik Mesin dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di seluruh Indonesia itu berlangsung ketat. Sebanyak 15 tim terbaik bertarung di babak final dengan menampilkan beragam inovasi teknologi tepat guna. Namun, solusi yang ditawarkan tim UMM dinilai memiliki nilai aplikatif tinggi serta berpotensi langsung diterapkan di sektor usaha masyarakat. Ketua tim, Nova Sinanti, menjelaskan bahwa ide pengembangan mesin tersebut berangkat dari kondisi di lapangan, di mana sebagian besar UMKM masih mengandalkan proses pencucian singkong secara manual yang memerlukan tenaga besar dan waktu yang panjang. Mesin yang dirancang mampu mempercepat proses pencucian hingga beberapa kali lipat dibanding metode konvensional.(Ist) Menurutnya, mesin yang dirancang mampu mempercepat proses pencucian hingga beberapa kali lipat dibanding metode konvensional. Jika sebelumnya pencucian 500 kilogram singkong membutuhkan waktu antara empat hingga tujuh jam, melalui teknologi yang mereka kembangkan proses tersebut dapat diselesaikan hanya dalam waktu sekitar satu jam. “Mesin ini dilengkapi sistem ulir untuk mengarahkan bahan baku, drum spray untuk proses pencucian, serta sistem sirkulasi air yang terintegrasi dengan sediment trap sehingga kotoran dapat dipisahkan secara otomatis. Dengan demikian penggunaan air menjadi lebih efisien dan hasil pencucian lebih optimal,” jelas Nova. Tak hanya mengedepankan efisiensi, inovasi tersebut juga dirancang untuk menjaga kualitas bahan baku. Sistem sirkulasi air yang diterapkan memungkinkan proses pembersihan berlangsung lebih lembut sehingga tekstur singkong tetap terjaga. Nova menambahkan, teknologi tersebut bekerja layaknya bantalan air yang membantu mengangkat kulit dan kotoran tanpa merusak bagian daging singkong. Hasilnya, bahan baku yang lebih bersih dapat meningkatkan kualitas produk olahan seperti keripik singkong, baik dari segi warna maupun cita rasa. “Dengan pencucian yang lebih bersih, sisa getah maupun pasir dapat diminimalkan. Ini akan berdampak pada kualitas produk akhir yang lebih baik dan bernilai jual lebih tinggi,” ujarnya. Keberhasilan tim mahasiswa tersebut mendapat apresiasi dari dosen pembimbing, Dr. Ir. Yepy Komaril Sofi’i, S.T., M.T. Ia menilai prestasi tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan ilmu teknik untuk menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, inovasi teknologi tidak seharusnya berhenti pada ajang kompetisi semata, melainkan harus mampu memberikan manfaat langsung bagi sektor produktif, khususnya UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah. “Saya berharap mesin pencuci singkong ini dapat segera memasuki tahap fabrikasi dan produksi sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para pelaku UMKM. Ini menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu menghadirkan solusi teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” tuturnya. Prestasi tersebut sekaligus memperkuat komitmen UMM dalam mendorong lahirnya inovasi berbasis riset yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi pengembangan sektor usaha dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.(Djoko W)

Seminar Nasional Magister Psikologi UMM: Kolaborasi Guru dan Orang Tua Kunci Sukses Pendidikan Inklusif

KLIKMU.CO – Transformasi digital di sektor pendidikan kerap menjadi pedang bermata dua bagi sistem pendidikan inklusif. Di satu sisi, teknologi membuka akses pembelajaran yang lebih luas, namun di sisi lain pemerataan akses belum sepenuhnya dirasakan oleh semua kalangan. Merespons tantangan tersebut, Program Studi Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Seminar Nasional bertajuk Inovasi Literasi Akademik bagi Pendidikan Inklusif di Era Digital: Membangun Sekolah Ramah, Adaptif, dan Berkemajuan. Kegiatan ini berlangsung di Aula Lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 UMM pada Sabtu (23/5/2026) dengan menghadirkan akademisi, praktisi, dan pemerhati pendidikan. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Dr Fajar Riza Ul Haq MA yang diwakili Ir Moch Abduh MS Ed PhD menyampaikan bahwa transformasi sekolah menuju ekosistem inklusif menjadi salah satu agenda prioritas pemerintah. Menurutnya, pemerintah tengah menyiapkan berbagai kebijakan strategis untuk memperkuat sistem pendidikan inklusif yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. “Pemerintah saat ini terus memastikan agar arah kebijakan pendidikan mampu menjembatani kebutuhan peserta didik yang beragam melalui pemanfaatan inovasi teknologi secara optimal di sekolah,” ujar Abduh. Senada dengan itu, Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD menegaskan bahwa pendidikan inklusif merupakan fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang setara. Institusi pendidikan, kata dia, harus menjadi ruang aman yang bebas dari diskriminasi. “Kita sebagai akademisi harus berupaya keras menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, yakni memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh peserta didik tanpa memandang latar belakang sosial maupun kondisi fisik,” ungkapnya mewakili Rektor UMM. Berbagai strategi mewujudkan ekosistem belajar yang inklusif turut dibahas oleh para narasumber, di antaranya Assoc Prof Ni’matuzahroh SPsi MSi PhD dan Prof Dr Khozin MSi. Keduanya mengulas pentingnya layanan digital terpadu serta penguatan kebijakan pendidikan inklusif di Jawa Timur. Ni’matuzahroh yang juga Ketua Program Studi Magister Psikologi UMM menjelaskan bahwa literasi akademik dan layanan inklusi berbasis digital perlu diterapkan secara luas dalam ekosistem pendidikan Muhammadiyah. Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital sangat penting untuk mendukung layanan pendidikan yang lebih efektif dan mudah diakses. Ia menjelaskan bahwa sistem layanan digital berbasis ekosistem terpadu memungkinkan layanan pendidikan berjalan lebih efektif, terintegrasi, dan mudah diakses oleh seluruh warga sekolah. “Sistem layanan digital berbasis ekosistem terpadu ini mengulas pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung layanan pendidikan yang lebih efektif, terintegrasi, dan mudah diakses oleh seluruh warga sekolah,” paparnya. Dalam seminar tersebut, Ni’matuzahroh juga menekankan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya ditentukan oleh sekolah, tetapi juga membutuhkan kolaborasi erat antara guru dan orang tua. Sinergi keduanya menjadi kunci dalam mendukung perkembangan peserta didik yang memiliki kebutuhan dan karakteristik beragam. Sebagai bentuk komitmen nyata, kegiatan ini dirangkaikan dengan penandatanganan kerja sama antara Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Timur dengan Direktorat Sains dan Teknologi UMM. Selain itu, dilakukan pula penandatanganan kesepakatan antara Magister Psikologi UMM dan Penerbit Erlangga Cabang Malang. Kepala Cabang Erlangga Malang Dodi Wahyudi menyoroti pentingnya sinergi antara dunia pendidikan dan penerbitan untuk memperkuat literasi akademik di lingkungan sekolah. Rangkaian acara ditutup dengan Focus Group Discussion (FGD) SILLA MUTU yang bertujuan memetakan berbagai tantangan pendidikan inklusif di lapangan. Melalui forum tersebut, para peserta merumuskan berbagai langkah kolaboratif untuk mewujudkan pendidikan yang lebih ramah, adaptif, dan berkemajuan. Kegiatan ini menjadi bukti komitmen berbagai pihak dalam menciptakan ekosistem pendidikan inklusif yang mampu menjangkau seluruh peserta didik tanpa sekat, sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, sekolah, penerbit, dan masyarakat di tengah pesatnya perkembangan era digital. (Faqih/AS)

Musim Bediding, Pakar UMM Sebut Waspada Alergi dan ISPA

KOMPAS.com – Belakangan ini, sudah mulai terasa suhu dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. Sebagian besar wilayah Indonesia tengah merasakan fenomena cuaca “bediding” atau penurunan suhu udara yang drastis. Saat cuaca mendadak dingin, biasanya orang refleks mencari jaket atau selimut. Memang terasa hangat, tetapi udara dingin dan kering yang dihirup tetap masuk langsung ke dalam sistem pernapasan. Sehingga akhirnya, muncul kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama bediding. Pakar keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Titik Agustiyaningsih, memaparkan bahwa fenomena ini terjadi karena perpaduan kompleks antara faktor lingkungan dan biologis manusia. “Angka kejadian ISPA dan influenza cenderung meningkat saat musim hujan atau ketika suhu udara menurun karena ada kombinasi faktor patogen, lingkungan, kondisi tubuh, dan perilaku manusia yang saling mendukung terjadinya penularan,” terang Titik pada Selasa (9/10/2026). Ia menambahkan bahwa udara dingin dan kering membuat virus maupun bakteri mampu bertahan lebih lama di luar tubuh manusia, sehingga mempermudah penyebaran melalui partikel udara. Bediding sendiri akan berlangsung sampai September, namun puncaknya pada bulan Agustus. Mengapa mudah sakit flu kalau musim bediding? Titik mengatakan saluran pernapasan manusia memiliki sensitivitas yang sangat tinggi terhadap perubahan suhu ekstrem. Saat menghirup udara dingin, tubuh secara otomatis akan menyempitkan saluran napas dan memproduksi lendir lebih banyak. Kondisi ini diperparah dengan melambatnya kinerja rambut-rambut getar (silia) di dalam hidung yang bertugas menyaring kotoran. “Udara dingin itu mengganggu benteng pertahanan alami di dalam rongga hidung dengan menghambat produksi Extracellular Vesicles (EVs) atau sejenis komponen pertahanan lokal yang berfungsi menangkap virus,” kata Titik. Ketika suhu udara turun drastis, tubuh sebenarnya sedang berusaha mempertahankan suhu inti agar tetap stabil. Namun proses itu justru dapat membuat pertahanan lokal di saluran pernapasan melemah sehingga virus lebih mudah berkembang. Bahkan, jenis virus seperti rhinovirus (pemicu flu) terbukti dapat berkembang biak jauh lebih cepat dan optimal pada suhu dingin ketimbang pada suhu normal tubuh manusia. Perbedaan alergi dingin dan infeksi Masyarakat juga diimbau untuk lebih jeli dalam mengenali gejala yang muncul agar tidak salah dalam melakukan penanganan. Ada perbedaan mendasar antara alergi dingin dan infeksi bakteri atau virus. “Jika gejalanya hanya berupa bersin-bersin, hidung gatal, atau mata berair yang langsung mereda begitu tubuh kembali hangat, kemungkinan besar itu hanyalah reaksi alergi,” tambahnya. Namun, apabila gejala tersebut sudah disertai dengan demam, maka itu adalah tanda kuat bahwa tubuh sedang mengalami infeksi (ISPA). Pakaian tebal saja tidak cukup Menghadapi cuaca ekstrem seperti ini, memakai pakaian tebal atau jaket saja rupanya belum cukup untuk melindungi diri. Terutama bagi anak-anak, lansia, perokok, penderita sinusitis, hingga orang yang bekerja seharian di ruangan ber-AC harus melatih kewaspadaan ekstra. Untuk mencegah penularan, Titik mengatakan perlu rajin meminum air hangat. Selain itu, asupan nutrisi seperti Vitamin A, Vitamin D, serta lemak sehat yang mengandung omega-3 sangat disarankan untuk mendongkrak sistem imun. “Memakai jaket memang penting untuk melindungi tubuh dari udara dingin. Namun menjaga hidrasi, nutrisi, dan daya tahan tubuh jauh lebih penting karena pertahanan utama terhadap penyakit sebenarnya berasal dari dalam tubuh,” pungkas Titik.