Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus di Malang, Nilai Investasi Capai Rp18 Miliar

jatimnow.com – Muhammadiyah resmi memulai pembangunan pabrik infus di wilayah Kabupaten Malang. Dimulainya proses pembangunan pabrik infus di wilayah Karangploso, Kabupaten Malang, menjadi penanda Muhammadiyah satu-satunya Organisasi Masyarakat (ormas) keagamaan yang memiliki pabrik infus di Indonesia. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan, pembangunan pabrik infus ini menjadi tonggak awal membentangkan peran Muhamadiyah terhadap pembangunan Indonesia. Selama ini ada stigma negatif dibalik ormas keagamaan terjun ke pengelolaan industri, seperti pembuatan pabrik infus ini. Padahal pengelolaan sektor industri, termasuk pembangunan pabrik infus menjadi bagian dari pengamalan sosial keagamaan, yang mengatur hubungan antar manusia, maupun dengan lingkungan. Kita ingin memberi pemahaman bahwa itu pandangan yang sempit tentang gerakan keagamaan, bahkan juga pandangan yang sempit tentang agama itu sendiri. Karena agama itu dalam pemahaman remaja bukan hanya aspek akidah dan ibadah, tapi juga akhlak dan muamalah, duniawiyah muamalah, itu segala urusan yang berinteraksi dengan hubungan sesama manusia dan dimensi lingkungannya,” ujarnya saat Groundbreaking Pabrik Infus di Karangploso, Malang, Kamis (11/6/2026) siang. Selama ini kata Haedar, Muhammadiyah memiliki sebanyak 130 rumah sakit dan 231 klinik yang bisa menjadi pasar infus produksi PT Suryavena Farma Indonesia, perusahaan pabrik infus yang dimiliki Muhammadiyah. Menurutnya, kebutuhan infus itu merupakan hal dasar di dunia medis di samping kebutuhan obat-obatan lain di sektor medis. “Kita punya 130 rumah sakit dan ratusan klinik, kalau tidak kita layani dengan kekuatan sendiri, biasanya kan menggunakan jasa orang lain. Kita akan memulai sesuatu yang paling bisa kita lakukan ekosistem bisnis rumah sakit. Kita akan bergerak di bidang obat, banyak hal yang biasanya kalau sudah kita mulai sesuatu yang lain akan mengikuti,” terangnya. Harapannya dari pembangunan pabrik infus dan masuknya Muhammadiyah ke beberapa sektor bisnis lain, termasuk tambang dan pengelolaan sawit, demi memberikan kemandirian dan kemanfaatan bagi masyarakat. Sehingga ketika dibutuhkan tak perlu lagi meminta sumbangan atau donasi ke beberapa pihak termasuk ke pemerintah. “Harus ada organisasi Islam yang punya potensi yang sudah cukup relatif kuat, bergerak lebih maju lagi. Agar kita bisa memiliki Indonesia ini oleh kita sendiri, tidak diserahkan pada pihak lain yang tidak bertanggung jawab,” imbuhnya. Sementara itu, Ketua Bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy menyebut, nilai investasi pabrik infus ini sebesar Rp800 miliar yang mampu memproduksi hingga 15 juta botol infus per tahunnya. Pabrik ini menempati luas area tanah hingga 14 hektar di wilayah Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Dari luasan tersebut tiga hektar di antaranya dialokasikan untuk kawasan industri terpadu. “Saya harap tahun depan pertengahan 2027 pabrik ini bisa berproduksi. Nilai investasi pabrik Rp800 miliar di luar tanah, UMM (Universitas Muhamadiyah Malang) salah satu pemegang saham. Jadi ini lahannya memang milik Universitas Muhammadiyah Malang, sementara untuk pabrik sendiri itu melibatkan rumah sakit-rumah sakit besar di lingkungan Muhammadiyah,” kata Muhadjir Effendy. Muhadjir optimis pembangunan pabrik infus ini mampu memenuhi kebutuhan infus di sekitar 130 rumah sakit dan 231 klinik Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Sebab selama dua tahun ini Muhammadiyah bekerjasama dengan produsen obat BUMN, dalam suplai infus di fasilitas medis milik Muhammadiyah. Bahkan jika memungkinkan, infus – infus itu bisa menyuplai kebutuhan rumah sakit dan klinik lain di Indonesia. “Kita tahu infus adalah salah satu bahan yang sangat dibutuhkan oleh semua rumah sakit, semua dokter, tidak ada resep khusus, sehingga ini sangat generik. Kalau infus tidak ada kata, tidak yang berani memberi resep, dari manajemen resiko mudah dikelola. Nanti kalau kita membuat memproduksi sendiri dengan pabrik sendiri ini kita harapkan akan jauh lebih efisien,” pungkasnya.

Inovasi Limbah Cangkang Udang-Karbon Kelapa, Sherlinda Mahasiswa Akuakultur UMM Raih Cumlaude, Wisudawan Terbaik Fakultas

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Prestasi tidak pernah berhenti dari Prodi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terbaru salah satu mahasiswa  atas nama Sherlinda Bunga sukses meraih cumlaude dengan IPK 3,94. Dijelaskan Humas Prodi Akuakultur UMM, Rindya Fery Indrawan, S.PI, MP, prestasi tersebut menempatkan Sherlinda sebagai wisudawan terbaik 1 Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) peridoe 2 tahun 2026, sekaligus lulusan terbaik Prodi Akuakultur UMM. Sherlinda Raih Cumlaude, Wisudawan Terbaik Fakultas dan Prodi Akuakultur UMM, dengan IPK 3,94. Prestasi yang diraih Sherlinda, lanjut Indra -begitu Rindya Fery Indrawan disapa- berdasarkan riset tentang limbah tambak udang yang dijadikan tugas akhir. Judulnya Nano Chito: Green-absorbance nanokomposit Chitosan.MgO/AC berbasis Shrimp Shell dan Coconut Carbon sebagai inovasi Toxic Metabolisme Remover Limbah Tambak Udang. Penelitian ini fokusnya inovasi pengembangan limbah tambak udang berbasis ramah lingkungan menggunakan limbah cangkang udang dan karbon kelapa. Inovasi ini tujuannya membantu mengurangi senyawa metabolit beracun pada limbah tambak sehingga aman bagi lingkungan perairan. Penelitian ini termasuk salah satu riset baru di jenjang S1 khususnya dalam pengembangan nanokomposit berbasis limbah organic bidang akuakultur. Sherlinda (tiga dari kanan) Bersama unsur pimpinan Fakultas Pertanian Peternakan UMM dan jajaran pimpinan Prodi Akuakultur UMM. “Riset ini bentuk komitmen Prodi Akuakultur UMM mendukung soft skill mahasiswa sebagai bekal menghadapi dunia global. Sehingga peluang karir dan persaingan dunia industry internasional bisa ditembus oleh mahasiswa Akuakultur UMM,” ujar Indra yang juga Pembina UKM DIMPA ini.

UMM Bangun Pabrik Infus di Malang, Pasok Kebutuhan Medis Nasional

MALANG, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membangun pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang,Kamis 11 Juni 2026. Selain itu pembangunan pabrik infus tersebut menjadi bagian dari penguatan peran strategis UMM dalam mewujudkan kemandirian sektor kesehatan nasional. Dari total 14 hektare lahan milik UMM, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu. Kegiatan itu dihadiri Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda. Pabrik infus tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dan diproyeksikan menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan bagi jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah maupun masyarakat luas. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan proyek tersebut merupakan manifestasi ekosistem socio-religious corporation yang digagas persyarikatan. Menurutnya, pembangunan tersebut membuktikan organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Haedar memaparkan agama tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, melainkan juga urusan muamalah dalam tata kehidupan sosial dan ekonomi. Keterlibatan di sektor industri medis menjadi bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan serta menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Sementara itu, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda menjelaskan kontribusi Kampus Putih tidak berhenti pada penyediaan lahan. Ke depan, kawasan tersebut akan diintegrasikan menjadi ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM. Menurutnya, kawasan itu akan mempertemukan aktivitas industri dengan fungsi tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia. “Bentuk sinergi perguruan tinggi dan dunia industri. Menjawab kebutuhan strategis nasional. Mendukung layanan kesehatan, menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, serta mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” ujarnya. Dengan beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia pada 2027 mendatang, diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam penguatan industri kesehatan nasional. Pembangunan tersebut juga membawa pesan bahwa kemandirian ekonomi dapat berjalan beriringan dengan manfaat luas bagi masyarakat.

Haedar Nashir Tegaskan UMM Jadi Pelopor Kemajuan PTMA

Metrotvnews-Malang: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah menjadi pelopor kemajuan di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di Indonesia. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menilai konsistensi UMM dalam membangun pendidikan berbasis kemajuan menjadi contoh bagi ratusan PTMA lain di Tanah Air. “UMM Malang telah membangun dasar kemajuan yang kuat dan menanamkan tradisi besar bagi seluruh sivitas akademika untuk selalu memiliki visi yang luas ke depan serta menjadi pelopor dalam kemajuan,” tegas Haedar saat meresmikan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 di kompleks Rumah Sakit UMM, Kamis, 11 Juni 2026. Menurut dia, Kampus Putih berhasil membangun tradisi besar yang berorientasi pada visi masa depan dan inovasi berkelanjutan. Ia juga menyoroti pengembangan kawasan pendidikan medis UMM yang dinilai terus berkembang menjadi pusat pendidikan kedokteran modern dan kompetitif. Haedar menyebut kemegahan GKB 5 menjadi simbol nyata Muhammadiyah yang terus bergerak maju melalui pendidikan. “Gedung GKB 5, rumah sakit UMM, serta seluruh ekosistem kampus UMM menjadi bukti nyata Muhammadiyah yang terus maju, Islam yang berkemajuan, dan UMM sebagai pelopor kemajuan,” imbuh Haedar. Menurut Haedar, keberadaan gedung baru itu tidak hanya berbicara soal infrastruktur fisik, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang akan dilahirkan. Ia menegaskan lulusan bidang kesehatan harus memiliki kecerdasan akademik sekaligus integritas moral dan akhlak dalam melayani masyarakat. Gedung setinggi 45 meter dengan 11 lantai tersebut diproyeksikan menjadi pusat pendidikan medis masa depan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Kesehatan. Kehadiran fasilitas baru itu sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai salah satu kampus Muhammadiyah dengan pengembangan infrastruktur pendidikan kesehatan paling progresif. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir saat Peresmian Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 di kompleks Rumah Sakit UMM, Kamis 11 Juni 2026. Dokumentasi/ UMM Sementara itu, Rektor UMM Nazaruddin Malik mengatakan pembangunan GKB 5 menjadi bukti kemandirian kampus dalam menghadirkan fasilitas pendidikan modern. Gedung yang mulai dirintis sejak 2023 itu dibangun dengan konsep swadaya dan swakelola oleh tim internal UMM. “Gedung ini dibangun murni dengan swadaya dan swakelola, termasuk desain perencanaan sampai dengan pelaksanaannya oleh tim Universitas Muhammadiyah Malang beserta beberapa konsultan,” urai Nazaruddin. GKB 5 berdiri di atas lahan seluas dua hektare dengan konsep green building dan struktur tahan gempa. Bangunan tersebut dirancang untuk memaksimalkan pencahayaan alami, menjaga sirkulasi udara sehat, serta dilengkapi laboratorium berstandar internasional hingga sistem pengolahan limbah khusus. Selain ruang pembelajaran medis, gedung itu juga dilengkapi auditorium dan fasilitas penunjang lainnya untuk menunjang pendidikan tenaga kesehatan modern. Infrastruktur tersebut disiapkan agar lulusan UMM mampu menjawab tantangan sektor kesehatan di tingkat global. Peresmian Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 di kompleks Rumah Sakit UMM, Kamis 11 Juni 2026. Dokumentasi/ UMM Nazaruddin berharap peresmian GKB 5 menjadi momentum baru bagi UMM untuk memperluas kontribusi di bidang pendidikan dan kesehatan. Ia menilai pengembangan fasilitas pendidikan harus berjalan seiring dengan penguatan peran kampus bagi masyarakat dan bangsa. “Mudah-mudahan peresmian ini sekaligus menjadi doa bagi kita semua dan UMM khususnya untuk berani maju terus ke depan memberikan kontribusi yang terbaik bagi bangsa,” ungkap Nazaruddin.

Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Yakin Prabowo Bisa Atasi Lemahnya Rupiah dan Naiknya BBM

JATIMTIMES – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir meyakini Presiden RI Prabowo Subianto beserta jajaran menteri di bawahnya dapat mengatasi masalah ekonomi Indonesia yang saat ini dapat dilihat kondisi rupiah yang melemah dan dollar Amerika Serikat semakin menguat. Hal itu disampaikan Haedar di sela-sela kegiatan groundbreaking pembangunan pabrik infus Suryavena di lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Dilansir dari idx channel, nilai tukar rupiah melemah pada penutupan perdagangan Kamis (11/6/2026) yakni turun 44,5 poin atau 0,25 persen ke level Rp 17.988 per United States Dollar (USD). Selain itu, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan dan membuat gejolak protes di masyarakat. Contohnya untuk harga Pertamax dari harga Rp 12.300 per liter naik menjadi Rp 16.250 per liter. Kemudian Pertamax Green dari harga Rp 12.900 per liter naik menjadi Rp 17.000 per liter. Haedar mengatakan, dalam kondisi ekonomi saat ini yang paling terpenting semuanya harus bersama-sama bergandengan tangan menjaga stabilitas ekonomi dan stabilitas politik. “Yang penting gini, jaga stabilitas ekonomi dan stabilitas politik. Dan saya percaya, untuk apa para menteri di bidangnya itu diangkat. Saya pikir Pak Prabowo bisa mengatasi masalah rupiah dan dollar ini,” ungkap Haedar kepada JatimTIMES.com, Kamis (11/6/2026). Pihaknya menyebut, di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu ini, seluruh elemen bangsa harus bersama-sama membangun persepsi masyarakat di ruang-ruang publik agar tetap optimis bahwa setiap permasalahan yang sedang menerpa Bangsa Indonesia bisa segera usai. “Maka ruang publik, termasuk persepsi masyarakat kita, juga harus dibangun untuk mari kalau ada masalah bangsa, kita pecahkan bersama,” kata Haedar. Ia juga meminta kepada setiap pejabat pemegang otoritas tertinggi di Indonesia untuk dapat rendah hati. Pasalnya, di setiap permasalahan yang ada, ia meyakini pasti ada solusi yang memberikan dampak positif kepada masyarakat luas di Indonesia. Terlebih lagi, permasalahan ekonomi dapat berpotensi memberikan dampak yang luas terhadap hidup masyarakat Indonesia. “Kita berharap para pemegang posisi yang punya otoritas ya harus rendah hati. Untuk dapat dipahami bahwa ini problem (masalah) bersama dan selalu ada jalan keluar setiap ada problem (masalah). Jangan melampaui kemampuan sendiri yang akhirnya kita tidak mampu menyelesaikan,” tandas Haedar.

UMM Siapkan Pabrik Infus untuk Perkuat Kemandirian Kesehatan Nasional

KOMPAS.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat kontribusinya dalam mendukung kemandirian kesehatan nasional melalui pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pembangunan fasilitas ini menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok alat kesehatan dalam negeri sekaligus memenuhi kebutuhan medis nasional yang terus meningkat. Selain mendukung sektor kesehatan, proyek tersebut juga diharapkan menjadi pusat kolaborasi antara dunia pendidikan, riset, dan industri. Pabrik infus yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 itu diproyeksikan menjadi salah satu penopang utama kebutuhan alat kesehatan bagi jaringan rumah sakit maupun masyarakat luas. UMM Siapkan Lahan 14 Hektare untuk Kawasan Industri Kesehatan UMM menyediakan lahan seluas 14 hektare di Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur, untuk mendukung pembangunan kawasan tersebut. Dari total lahan yang disiapkan, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu yang akan menjadi lokasi pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia. Kawasan ini ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2027 sebagai bagian dari penguatan industri kesehatan nasional. Haedar Nashir: Pabrik Infus Dibangun untuk Kepentingan Bangsa Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pembangunan pabrik infus tersebut merupakan wujud nyata konsep socio-religious corporation yang dikembangkan Muhammadiyah. Menurutnya, organisasi keagamaan mampu berperan dalam membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui pengelolaan bisnis profesional yang berorientasi pada kemaslahatan publik. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Haedar menambahkan bahwa agama tidak hanya mengatur aspek akidah dan ibadah, tetapi juga mencakup urusan muamalah dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Karena itu, keterlibatan Muhammadiyah di sektor industri medis dipandang sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan untuk mendukung layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Kawasan Industri Terintegrasi dengan Pendidikan dan Riset Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menjelaskan kontribusi kampus tidak hanya sebatas penyediaan lahan. Ke depan, kawasan tersebut akan diintegrasikan sebagai bagian dari ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang menghubungkan kegiatan industri dengan pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia. “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional,” ujarnya. Menurut Ahmad Juanda, kawasan tersebut juga dirancang menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu menghasilkan sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan. Diharapkan Perkuat Industri Kesehatan Nasional Dengan beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia, langkah ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di Indonesia. “Kolaborasi lintas sektor ini menjadikan kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan beriringan demi menghadirkan manfaat yang seluas-luasnya bagi pembangunan bangsa,” ujarnya. Peletakan batu pertama pembangunan pabrik infus tersebut dihadiri oleh Haedar Nashir, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI sekaligus Sekretaris BPH UMM Fauzan, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta sejumlah undangan lainnya. Pabrik yang ditargetkan beroperasi pada 2027 tersebut diproyeksikan menjadi penopang penting rantai pasok alat kesehatan, baik untuk jaringan rumah sakit Muhammadiyah maupun masyarakat secara luas.

IHSG Merosot, Akademisi UMM: Investor Krisis Kepercayaan

MALANG POST – Merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga lebih dari 20 persen sejak awal 2026 memicu kekhawatiran publik akan datangnya krisis ekonomi. Namun, pengamat ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menegaskan bahwa fenomena ini murni akibat kepanikan psikologis pasar sesaat. Bukan cerminan fundamental makroekonomi nasional yang rapuh. Novi Puji Lestari, S.E., M.M., Dosen Manajemen UMM memaparkan bahwa tren negatif di lantai bursa belakangan ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi yang sebenarnya. Tekanan jual yang masif di pasar modal lebih didorong oleh krisis kepercayaan yang berujung pada reaksi berlebihan dan tergesa-gesa dari para investor. “Secara keseluruhan, turunnya IHSG saat ini murni dipicu oleh panic selling dari para investor yang merasa khawatir secara berlebihan.” “Perlu dipahami bahwa pasar biasanya akan bergerak merespon ketakutan jauh lebih cepat. Bahkan sebelum kondisi ekonomi riil kita benar-benar membaik atau memburuk,” jelasnya. Lebih lanjut, Novi sapaan akrabnya membeberkan pemicu utama gelombang kekhawatiran tersebut yang bermula dari tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kondisi kurs yang fluktuatif ini membuat aset domestik terlihat sangat berisiko bagi investor asing. Selain itu, investor juga mengalami krisis kepercayaan terhadap stabilitas fiskal, yang berdampak langsung pada menurunnya daya tarik investasi Indonesia dibandingkan negara-negara berkembang lainnya. “Investor asing itu tidak hanya melihat angka di atas kertas, mereka sangat sensitif terhadap isu stabilitas fiskal. Ketika rupiah terus melemah, kepanikan mereka memuncak.” “Karena merasa aset mereka di Indonesia semakin berisiko tinggi. Inilah yang memicu penarikan dana dan krisis kepercayaan secara besar-besaran dari bursa kita,” tegasnya. Faktor lain yang tak kalah penting adalah rambatan dampak dari ketidakpastian global. Mengacu pada hasil penelitiannya terkait ekonomi global, Novi menyebut arus globalisasi telah menipiskan batas ekonomi antarnegara. Gejolak geopolitik dunia, seperti memanasnya perang dagang antara AS dan China serta eskalasi konflik di Timur Tengah. Selalu berhasil mengirimkan sentimen negatif ke bursa domestik, sekecil apa pun eskalasinya. “Faktor globalisasi ini membuat sekat antarnegara menjadi sangat tipis. Konflik di Timur Tengah maupun tensi dagang AS-China sekecil apa pun dampaknya, pasti akan langsung merembet dan menciptakan sentimen negatif yang menghantam psikologis pasar domestik kita,” tambahnya. Meskipun papan bursa saat ini dipenuhi sentimen negatif imbas dinamika global, pemerintah memastikan bahwa fundamental makroekonomi Indonesia masih sangat solid.

Pabrik Infus Muhammadiyah di UMM Resmi Dibangun, Siap Perkuat Kemandirian Kesehatan Nasional

Tagar.co – Muhammadiyah menandai babak baru kemandirian kesehatan nasional dengan memulai pembangunan pabrik infus di kawasan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (11/6/26). Pabrik yang ditargetkan beroperasi pada 2027 itu diproyeksikan menjadi salah satu penopang rantai pasok alat kesehatan nasional sekaligus memperkuat layanan rumah sakit Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang. Untuk mendukung proyek tersebut, UMM menyediakan sebagian aset lahannya sebagai kawasan industri kesehatan terpadu. Dari total 14 hektare lahan yang dimiliki kampus di lokasi tersebut, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus untuk pengembangan industri. Sejumlah tokoh hadir dalam peresmian proyek tersebut, di antaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si.; Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI sekaligus Sekretaris BPH UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd.; Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P.; Dr, M. Saad Ibrahim, M.A.; dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes. Juga Ketua PWM Jawa Timur Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M.; Direktur Utama PT Suryavena Farma Indonesia Tatat Rahmita Utami; Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A.; serta jajaran pemerintah daerah dan pemangku kepentingan sektor kesehatan. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir melakukan peletakan batu pertama pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di kawasan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Karangploso, Kabupaten Malang, Kamis (11/6/2026). Proyek ini menjadi langkah Muhammadiyah dalam memperkuat kemandirian industri kesehatan nasional. (Tagar.co/Humas UMM)) Wujud Kemandirian Muhammadiyah untuk Bangsa Haedar Nashir menegaskan bahwa pembangunan pabrik infus tersebut merupakan implementasi nyata konsep socio-religious corporation yang selama ini dikembangkan Muhammadiyah. Melalui model tersebut, organisasi keagamaan tidak hanya bergerak di bidang pendidikan dan dakwah, tetapi juga membangun kekuatan ekonomi dan industri yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Menurut Haedar, bisnis yang dibangun Muhammadiyah tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan, melainkan menjadi instrumen untuk menghadirkan kemaslahatan publik dan mendukung pembangunan bangsa. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa agama tidak hanya mengatur persoalan akidah dan ibadah, tetapi juga mencakup aspek muamalah yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan ekonomi. Karena itu, keterlibatan Muhammadiyah dalam industri alat kesehatan merupakan bentuk pengabdian yang berpijak pada nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan. Baca Juga:  MPI PCIM Malaysia Gelar Podcast Perdana, Kupas Jejak Organisasi hingga Arah Baru Bagi Muhammadiyah, kata Haedar, kemandirian ekonomi menjadi fondasi penting untuk menopang berbagai amal usaha, mulai dari pendidikan, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan masyarakat. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bersama jajaran pimpinan Muhammadiyah, UMM, dan PT Suryavena Farma Indonesia menghadiri groundbreaking pembangunan pabrik infus di kawasan Universitas Muhammadiyah Malang, Kamis (11/6/2026). Kehadiran pabrik tersebut diharapkan memperkuat ekosistem kesehatan dan industri alat kesehatan nasional. Integrasikan Industri, Pendidikan, dan Riset Sementara itu, Wakil Rektor II UMM Ahmad Juanda menjelaskan bahwa kontribusi UMM tidak berhenti pada penyediaan lahan. Kawasan tersebut nantinya akan dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang menghubungkan dunia industri dengan aktivitas pendidikan dan penelitian. Menurutnya, kehadiran pabrik infus akan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi dan sektor industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional, khususnya di bidang kesehatan. “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” ujarnya. Lebih jauh, kawasan industri kesehatan tersebut diharapkan menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa dan peneliti untuk mengembangkan inovasi yang dapat langsung diterapkan dalam dunia industri.

Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus Rp800 Miliar di Malang

Mediakompeten-Majelis Ekonomi dan Bisnis Pimpinan Pusat Muhammadiyah memulai pembangunan pabrik cairan infus PT Suryavena Farma Indonesia di Dusun Ngepeh, Desa Ngijo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Kamis (11/6), dengan nilai investasi mencapai Rp800 miliar di luar aset tanah. Pembangunan fasilitas medis ini, sebagaimana dilansir dari Media Indonesia, bertujuan untuk mengoptimalkan efisiensi bisnis, memperketat kontrol kualitas, serta menyediakan harga produk yang lebih kompetitif dibandingkan produk serupa di luar organisasi tersebut. Universitas Muhammadiyah Malang bertindak sebagai salah satu pemegang saham karena statusnya sebagai pemilik lahan, sementara rumah sakit di lingkungan Muhammadiyah juga dilibatkan dalam kepemilikan saham. Manajemen pabrik saat ini berada di bawah koordinasi majelis kesehatan serta majelis ekonomi bisnis, dan ke depannya beberapa majelis lain juga akan mengembangkan industri sesuai karakter masing-masing. PT Suryavena Farma Indonesia tercatat sudah beroperasi selama dua tahun terakhir dengan menerapkan sistem maklun sebelum akhirnya mengoptimalkan bisnis lewat pembangunan pabrik mandiri ini. Jaringan distribusi produk juga direncanakan akan dibentuk secara mandiri dan lebih luas, setelah sebelumnya pihak perusahaan menjalin kerja sama dengan Kimia Farma. “Total investasi sebesar Rp800 miliar di luar aset tanah. Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu pemegang saham karena pemilik lahannya. Pabrik ini melibatkan rumah sakit di lingkungan Muhammadiyah yang juga pemegang saham,” tegas Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri, Muhadjir Effendy. Muhadjir Effendy menambahkan bahwa langkah optimalisasi bisnis melalui pembangunan pabrik sendiri ini dirancang demi efisiensi dan peningkatan kualitas kontrol. “Ini peluangnya sangat besar, nanti kita memetakan potensi lebih luas,” katanya. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk melayani kebutuhan internal organisasi secara mandiri tanpa ketergantungan pihak luar. “Total ada 130 rumah sakit dan ratusan klinik yang dimiliki Muhammadiyah, sehingga kebutuhan cairan infus akan terlayani dengan kekuatan sendiri,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. Haedar Nashir memaparkan bahwa proyek ini didasari oleh kehendak untuk memperkuat ekonomi rakyat dan umat agar bisa naik kelas menuju ekonomi menengah ke atas. “Muhammadiyah mengusung spirit naik kelas, spirit bangkit membangun ekonomi yang identik dengan kekuatan rakyat,” tuturnya. Langkah strategis membangkitkan ekosistem ekonomi tersebut dinilai berjalan beriringan dengan amanat Presiden Prabowo Subianto demi mewujudkan Indonesia Emas yang mandiri dalam pengelolaan sumber daya alam. “Muhammadiyah berada di jalur itu. Saya yakin bertemu dengan spirit bangsa menjadi pilar kemajuan Indonesia ke depan,” pungkasnya.

Muhammadiyah Bangun Pabrik Cairan Infus di Kabupaten Malang

MALANG, KOMPAS.TV – Peletakan batu pertama oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah menjadi tanda dimulainya pembangunan pabrik cairan infus yang berlokasi di lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang di Karangploso, Kabupaten Malang. Selain Haedar Nashir, peletakan batu pertama ini juga dihadiri oleh Ketua PP Muhammadiyah bidang ekonomi, bisnis dan industri halal. Pemilihan pabrik cairan infus ini menurut Haedar selain karena Muhammadiyah memiliki 130 Rumah Sakit dan ratusan klinik yang selama ini untuk memenuhi kebutuhan masih disuplai pihak lain. Selain itu dengan memiliki pabrik sendiri, selain memenuhi kebutuhan Rumah Sakit Muhammadiyah juga bisa memenuhi kebutuhan rumah sakit lain. Pabrik cairan infus ini merupakan upaya Muhammadiyah membangun ekosistem bisnis kesehatan sekaligus menaikkan ekonomi umat dengan industri menengah ke atas. Selain itu, Muhammadiyah juga turut berkontribusi dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Emas dan Indonesia Mandiri. “Semangat Muhammadiyah adalah membangun ekosistem ekonomi rakyat yang mulai naik kelas ke ekonomi menengah ke atas,” kata Haedar Nashir. Pabrik cairan infus ini ditargetkan bisa memasuki tahap produksi pada pertengahan 2027 dan mulai memasok kebutuhan pasar kesehatan di Indonesia.