Haedar Nashir Resmikan Infrastruktur Berkualitas Tinggi Nan Visioner Milik UMM Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Haedar Nashir Resmikan Infrastruktur Berkualitas Tinggi Nan Visioner Milik UMM, https://www.suaramuhammadiyah.id/read/haedar-nashir-resmikan-infrastruktur-berkualitas-tinggi-nan-visioner-milik-umm

MALANG, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi meluncurkan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 yang berlokasi di kompleks Rumah Sakit UMM. Gedung sebelas lantai setinggi 45 meter berkonsep green building ini diresmikan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si pada Kamis (11/6). Fasilitas mutakhir ini didedikasikan sebagai pusat pendidikan medis masa depan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES). Kehadiran fasilitas megah ini dinilai sebagai penegas dedikasi utuh UMM dalam memajukan peradaban. Haedar sapaan akrabnya memberikan apresiasi kepada jajaran pimpinan Kampus Putih karena dinilai tak pernah lelah berinovasi dan sukses menyulap kawasan tersebut menjadi pusat pendidikan kedokteran bergengsi. Ia menegaskan bahwa UMM telah membuktikan posisinya sebagai barometer kemajuan bagi 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. “UMM Malang telah membangun dasar kemajuan yang kuat dan menanamkan tradisi besar bagi seluruh sivitas akademika untuk selalu memiliki visi yang luas ke depan serta menjadi pelopor dalam kemajuan,” tegasnya. Lebih jauh, Haedar menilai kemegahan GKB 5 ini merupakan cerminan tradisi keunggulan Kampus Putih dalam mencetak tenaga kesehatan profesional. Lulusan UMM tidak hanya dituntut cerdas secara keilmuan, tetapi juga wajib memiliki karakter, integritas, dan akhlak mulia sebagai landasan utama saat melayani masyarakat. “Gedung GKB 5, rumah sakit UMM, serta seluruh ekosistem kampus UMM menjadi bukti nyata Muhammadiyah yang terus maju, Islam yang berkemajuan, dan UMM sebagai pelopor kemajuan,” imbuhnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menjelaskan bahwa keistimewaan utama dari gedung ini terletak pada kemandirian proses pembangunannya. Mahakarya yang dirintis sejak tahun 2023 tersebut dirancang dan dikerjakan langsung oleh para ahli dari internal kampus. “Gedung ini dibangun murni dengan swadaya dan swakelola, termasuk desain perencanaan sampai dengan pelaksanaannya oleh tim Universitas Muhammadiyah Malang beserta beberapa konsultan,” urainya. Berdiri di atas lahan seluas dua hektar, struktur tahan gempa ini mengusung arsitektur ramah lingkungan yang diformulasikan khusus untuk menekan polusi, memaksimalkan pencahayaan alami, dan memastikan sirkulasi udara sehat. Gedung ini dilengkapi dengan puluhan laboratorium berstandar internasional, sarana olahraga, sistem pengolahan limbah khusus yang terpisah, hingga auditorium megah. Pembangunan infrastruktur berkualitas tinggi ini menjadi langkah visioner UMM untuk memastikan para lulusannya siap, cerdas, dan tangguh. Nazaruddin berharap peresmian ini membawa keberkahan dan menjadi dorongan moral bagi UMM untuk terus berkontribusi secara nyata bagi negara. “Mudah-mudahan peresmian ini sekaligus menjadi doa bagi kita semua dan UMM khususnya untuk berani maju terus ke depan memberikan kontribusi yang terbaik bagi bangsa,” pungkasnya. Berdirinya GKB 5 ini tidak hanya menambah daftar panjang prestasi infrastruktur fisik Kampus Putih, tetapi juga menjadi tonggak sejarah baru dalam standar pendidikan medis di Indonesia. Melalui integrasi ilmu kesehatan, teknologi mutakhir, dan nilai-nilai keislaman, UMM semakin memantapkan langkahnya dalam melahirkan generasi tenaga medis prima yang siap menjawab tantangan kesehatan global di masa depan. Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Haedar Nashir Resmikan Infrastruktur Berkualitas Tinggi Nan Visioner Milik UMM, https://www.suaramuhammadiyah.id/read/haedar-nashir-resmikan-infrastruktur-berkualitas-tinggi-nan-visioner-milik-umm
UMM bangun pabrik infus untuk penuhi kebutuhan medis nasional

Antaranews-Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat perannya dalam mewujudkan kemandirian kesehatan nasional dengan menyediakan lahan untuk pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia guna memenuhi kebutuhan medis nasional. Dari lahan yang disiapkan UMM seluas 14 hektare di Ngijo Kecamatan karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur tersebut, sekitar tiga hektare khusus sebagai kawasan industri terpadu dan ditargetkan operasional pada tahun 2027. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir pada peletakan batu pertama pembangunan pabrik infus tersebut di Malang, Kamis, menegaskan bahwa pendirian pabrik infus ini adalah manifestasi dari ekosistem socio-religious corporation yang digagas oleh persyarikatan. Menurut dia, inisiatif ini membuktikan bahwa organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara, bukan sekadar mencari keuntungan finansial. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Lebih lanjut, Haedar mengatakan bahwa agama tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, melainkan juga urusan muamalah dalam tata kehidupan sosial-ekonomi. Oleh karena itu, keterlibatan di sektor industri medis ini diposisikan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan guna menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Sementara itu, Wakil Rektor II UMM, Dr Ahmad Juanda menjelaskan bahwa kontribusi Kampus Putih tidak berhenti pada penyediaan lahan. Ke depannya, kawasan ini akan diintegrasikan menjadi ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang mempertemukan aktivitas industri dengan fungsi tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional,” ujarnya. Selain mendukung layanan kesehatan, katanya, kawasan ini juga dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri, sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan. Dengan beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia, langkah ini diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di tanah air. “Kolaborasi lintas sektor ini menjadikan kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan beriringan demi menghadirkan manfaat yang seluas-luasnya bagi pembangunan bangsa,” ujarnya. Peletakan batu pertama pembangunan pabrik infus tersebut dihadiri oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM, Fauzan, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta undangan lainnya. Pabrik yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 ini diproyeksikan menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan, baik bagi jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah maupun masyarakat luas.
Muhammadiyah Bangun Pabrik Farmasi di Malang, Dukung Kemandirian Ekonomi dan Kesehatan Nasional

TVMU.TV – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi memulai pembangunan Pabrik PT Suryavena Farma Indonesia melalui prosesi groundbreaking di lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (11/6/2026). Pembangunan pabrik farmasi tersebut menjadi langkah strategis Muhammadiyah dalam memperkuat kemandirian ekonomi umat sekaligus mendukung sektor kesehatan nasional. Prosesi peletakan batu pertama dilakukan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bersama Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy, Saad Ibrahim, Ketua PP Muhammadiyah dr. Agus Taufiqurrahman, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan, serta Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dr. Sukadiono. Dalam sambutannya, Haedar Nashir menegaskan bahwa pembangunan pabrik farmasi tersebut merupakan bagian dari ikhtiar Muhammadiyah untuk membangun kekuatan ekonomi yang lebih maju dan berdaya saing. “Semangat Muhammadiyah adalah untuk membangun ekosistem ekonomi umat dan bangsa, atau rakyat yang mulai naik kelas ke ekonomi menengah ke atas,” ujarnya. Menurut Haedar, langkah Muhammadiyah memasuki sektor industri farmasi tidak berarti mengabaikan pembinaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini menjadi perhatian persyarikatan. Sebaliknya, pembangunan industri berskala besar tersebut merupakan bagian dari upaya menciptakan ekosistem ekonomi yang saling terhubung dan memperkuat. Ia menambahkan, kehadiran pabrik farmasi juga menjadi bukti bahwa organisasi kemasyarakatan berbasis keagamaan mampu berperan dalam sektor bisnis strategis dan industri nasional. Selain memperkuat ekonomi umat, pembangunan PT Suryavena Farma Indonesia dinilai sejalan dengan agenda pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Haedar menekankan pentingnya membangun kemandirian ekonomi agar potensi bangsa tidak bergantung pada pihak lain. “Muhammadiyah berada di jalur itu, maka dengan cara seperti itu saya yakin akan bertemu dengan spirit pemerintah sekarang. Tapi juga dengan kepentingan bangsa yang lebih luas,” katanya. Untuk diketahui, Suryavena Farma Indonesia merupakan inisiatif bersama Majelis Ekonomi dan Bisnis (MEB) serta Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PP Muhammadiyah. Pada tahap awal, perusahaan akan memproduksi cairan infus untuk memenuhi kebutuhan jaringan rumah sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di seluruh Indonesia. Haedar menjelaskan, pembangunan pabrik tersebut menjadi bagian dari strategi ekonomi sirkular Muhammadiyah. Produk yang dihasilkan nantinya diharapkan dapat menyuplai kebutuhan 135 Rumah Sakit Muhammadiyah-‘Aisyiyah (RSMA) yang tersebar di berbagai daerah. “Dengan pabrik infus ini kita memulai dengan sesuatu yang paling bisa kita lakukan di ekosistem bisnis di rumah sakit,” imbuhnya. Ke depan, PT Suryavena Farma Indonesia tidak hanya memproduksi cairan infus, tetapi juga akan mengembangkan produk farmasi lainnya seperti obat-obatan, alat kesehatan, dan jarum suntik. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian sektor kesehatan Muhammadiyah sekaligus meningkatkan kontribusi persyarikatan dalam industri farmasi nasional. Pembangunan pabrik di kawasan UMM tersebut menjadi tonggak baru transformasi ekonomi Muhammadiyah, yang selama ini dikenal kuat di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial, menuju penguatan sektor industri strategis berbasis kebutuhan umat dan bangsa.
UMM Sediakan Lahan Pabrik Infus di Karangploso Malang

MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat peran strategisnya dalam mewujudkan kemandirian kesehatan nasional. Komitmen ini diwujudkan lewat penyediaan lahan untuk pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang. Dari total 14 hektare aset lahan milik UMM di lokasi tersebut, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu. Peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek ini resmi dilaksanakan pada Kamis (11/6/2026). Peresmian proyek ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, diantaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. Pabrik yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 ini diproyeksikan menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan, baik bagi jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah maupun masyarakat luas. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan bahwa pendirian pabrik infus ini adalah manifestasi dari ekosistem socio-religious corporation yang digagas oleh persyarikatan. Menurutnya, inisiatif ini membuktikan bahwa organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara, bukan sekadar mencari keuntungan finansial. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya.
Muhammadiyah masuki jalur bisnis dengan dirikan pabrik Infus di Ngijo Karangploso Malang

elshinta.-Universitas Muhammadiyah Malang UMM memperkuat peran strategisnya dalam kemandirian kesehatan nasional. Komitmen itu diwujudkan dalam bentuk pembangunan pabrik Infus di Kecamatan Karangploso kabupaten Malang. Peletakan batu (Ground breaking) dilakukan diatas pertama proyek diatasahan seluas ini 3 Hektar dari 14 hektar yang disiapkan, resmi dilakukan Kamis 11/6. Dari total 14 hektare aset lahan UMM di lokasi tersebut, sekitar 3 dari luasan total seluas 14 Hektar. Also Read – Mendag ajak mahasiswa jadi aktivis ekspor dan ciptakan lapangan kerja Temukan lebih banyak Podcast berita Informasi terkini Langganan berita “Pabrik ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dan diproyeksikan jadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan untuk jaringan RS Muhammadiyah dan masyarakat luas,” ungkap Ketua PP Muhammadiyah Haidar Nazir usai peletakan batu, seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, AH Sugiharto. Haedar Nashir menegaskan pabrik infus ini wujud ekosistem socio-religious corporation yang digagas Muhammadiyah. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Ia menambahkan, agama tak hanya mengatur akidah dan ibadah, tapi juga muamalah. Keterlibatan di industri medis diposisikan sebagai pengabdian berorientasi kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan untuk menopang layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat, tandasnya.
UMM dan PT Suryavena Farma Bangun Kawasan Industri Kesehatan

Malang,mitratoday.com – Langkah besar menuju kemandirian industri kesehatan nasional ditandai dengan pelaksanaan ground breaking pembangunan pabrik infus Muhammadiyah oleh PT Suryavena Farma Indonesia serta peresmian Gedung Kuliah Bersama (GKB) V Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (11/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di kawasan PT Suryavena Farma Indonesia, Karangploso, dan Kampus UMM tersebut menjadi momentum penting penguatan sinergi antara dunia pendidikan, industri, dan organisasi kemasyarakatan dalam mendukung pembangunan sektor kesehatan Indonesia. Dalam pengembangan kawasan tersebut, UMM menyiapkan lahan seluas tiga hektare sebagai kawasan industri terpadu yang akan menjadi pusat pengembangan sektor kesehatan berbasis kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri. Sejumlah tokoh nasional turut hadir dalam agenda tersebut, di antaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta jajaran pimpinan Universitas Muhammadiyah Malang. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa pembangunan pabrik infus bukan sekadar investasi bisnis, melainkan bagian dari gerakan besar Muhammadiyah untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui sektor kesehatan. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegas Haedar. Menurutnya, keterlibatan Muhammadiyah dalam industri kesehatan merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian bangsa pada sektor yang sangat strategis. Kehadiran pabrik infus ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan nasional di bidang kesehatan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Sementara itu, Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menjelaskan bahwa pembangunan pabrik infus akan terintegrasi dengan pengembangan Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang dirancang sebagai pusat riset, inovasi, dan pengembangan teknologi kesehatan. “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri,” ujarnya. Selain menjadi pusat produksi alat kesehatan, kawasan industri terpadu tersebut juga akan membuka peluang riset terapan bagi dosen dan mahasiswa, sekaligus memperkuat ekosistem inovasi kesehatan yang berkelanjutan. Pada kesempatan yang sama, UMM juga meresmikan Gedung Kuliah Bersama (GKB) V sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas sarana pendidikan tinggi. Kehadiran gedung baru tersebut diharapkan mampu mendukung proses pembelajaran yang semakin modern dan adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan target operasional pabrik infus pada tahun 2027, proyek ini menjadi salah satu investasi strategis di bidang kesehatan yang melibatkan kolaborasi antara Muhammadiyah, perguruan tinggi, dan dunia industri. Di tengah tantangan global sektor kesehatan serta tingginya kebutuhan alat kesehatan dalam negeri, pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia menjadi simbol optimisme bahwa kemandirian kesehatan Indonesia dapat diwujudkan melalui kolaborasi, inovasi, dan semangat pengabdian untuk kepentingan masyarakat luas.
Pabrik Infus Muhammadiyah Berdiri di Malang, UMM Siapkan Lompatan Besar Kemandirian Kesehatan Nasional

Malangpariwara.com – Upaya mewujudkan kemandirian industri kesehatan nasional memasuki babak baru. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Persyarikatan Muhammadiyah resmi memulai pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di kawasan Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang, Kamis (11/6). Proyek strategis ini digadang-gadang menjadi salah satu penguat rantai pasok alat kesehatan dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk medis impor. Prosesi peletakan batu pertama dilakukan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si.,(ist) Peletakan batu pertama (groundbreaking) dilakukan di atas lahan milik UMM yang memiliki luas sekitar 14 hektare. Sebanyak tiga hektare di antaranya disiapkan sebagai kawasan industri terpadu yang akan menjadi pusat pengembangan sektor kesehatan berbasis kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri. Sejumlah tokoh nasional hadir dalam momentum tersebut, mulai Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, hingga jajaran pimpinan UMM. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa pembangunan pabrik infus tersebut bukan sekadar investasi bisnis, melainkan bagian dari gerakan besar Muhammadiyah dalam menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui sektor kesehatan. Menurutnya, Muhammadiyah selama ini tidak hanya bergerak di bidang pendidikan dan pelayanan sosial, tetapi juga terus mengembangkan kekuatan ekonomi yang berorientasi pada kemaslahatan publik. Pabrik infus ini menjadi salah satu manifestasi konsep socio-religious corporation yang dikembangkan Muhammadiyah sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegas Haedar. Ia menambahkan, agama tidak hanya berbicara mengenai aspek spiritual dan ritual keagamaan, tetapi juga mengatur kehidupan sosial dan ekonomi yang mampu memberikan solusi atas kebutuhan masyarakat. “Karena itu, keterlibatan Muhammadiyah dalam industri kesehatan dipandang sebagai bagian dari ikhtiar membangun kemandirian bangsa di sektor yang sangat strategis,” tukasnya. Lebih dari sekadar fasilitas produksi, kawasan industri ini juga akan menjadi ruang integrasi antara pendidikan tinggi dan dunia usaha. Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menjelaskan bahwa keberadaan pabrik akan terhubung dengan pengembangan Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang dirancang sebagai pusat riset dan inovasi kesehatan. Melalui konsep tersebut, mahasiswa, peneliti, dan industri dapat berkolaborasi dalam menghasilkan berbagai inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi kesehatan. “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri,” ujarnya. Keberadaan pabrik infus ini diproyeksikan memberikan manfaat ganda. Di satu sisi memperkuat ketersediaan produk medis bagi rumah sakit Muhammadiyah dan fasilitas kesehatan lainnya, sementara di sisi lain membuka peluang pengembangan riset, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, hingga penciptaan lapangan kerja baru. Target operasional pada tahun 2027 menjadikan proyek ini sebagai salah satu investasi kesehatan terbesar yang melibatkan sinergi antara organisasi kemasyarakatan, perguruan tinggi, dan dunia industri. Langkah tersebut sekaligus mempertegas posisi UMM sebagai kampus yang tidak hanya menghasilkan lulusan dan penelitian, tetapi juga menghadirkan solusi konkret bagi kebutuhan bangsa. Di tengah tantangan global sektor kesehatan dan tingginya kebutuhan alat medis nasional, pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia menjadi simbol optimisme bahwa kemandirian kesehatan Indonesia dapat dibangun dari kolaborasi, inovasi, dan semangat pengabdian untuk masyarakat luas.
IHSG Merosot, Pakar UMM Malang: Belum Tentu Cerminkan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

TimesIndonesia MALANG – Fenomena merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memicu kepanikan publik akan adanya krisis ekonomi. Pasalnya, IHSG merosot lebih dari 20 persen sejak awal tahun 2026. Apakah kepanikan ini merupakan tanda bahwa makroekonomi Indonesia mulai rapuh? Menanggapi hal tersebut, Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Novi Puji Lestari, S.E., M.M., menjelaskan bahwa kepanikan tersebut sebuah reaksi pasar sesaat. Nyatanya, hal tersebut tidak mencerminkan fundamental makroekonomi Indonesia sedang rapuh. “Tren negatif yang ada di pasar modal saat ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi sebenarnya,” ujarnya. IHSG Tertekan ke 5.692, Dolar Perkasa dan Suku Bunga Tinggi Jadi Beban Ia menjelaskan, masifnya investor menekan jual di pasar modal akibat krisis kepercayaan yang berujung pada reaksi berlebihan sehingga terkesan tergesa-gesa. Sedangkan, pasar merespons pergerakan kepanikan tersebut lebih cepat, meskipun tidak tahu kondisi rill ekonomi sedang baik atau buruk. “Turunnya IHSG saat ini murni karena panic selling para investor, dan pasar merespon hal tersebut secara cepat bahkan sebelum kondisi ekonomi rill kita membaik atau memburuk,” tambahnya. Alarm Gema Goeyardi: Rupiah Bisa ke 18.775, IHSG Justru Siapkan Lompatan Besar Ia menjelaskan bahwa tren melemahnya rupiah terhadap dolar AS menjadi pemicu utama kondisi tersebut. Kondisi kurs yang fluktuatif membuat aset domestik terlihat sangat berisiko bagi investor asing. Selain itu, ia menambahkan bahwa investor asing juga mengalami krisis kepercayaan terhadap stabilitas fiskal, yang berdampak langsung pada menurunnya daya tarik investasi Indonesia dibandingkan negara-negara berkembang lainnya. “Investor asing sangat sensitif terhadap isu stabilitas fiskal. Ketika rupiah terus melemah, mereka akan panik karena merasa aset mereka di Indonesia semakin beresiko tinggi,” tambahnya. Faktor lainnya, tambah Novi adalah arus globalisasi yang semakin menipiskan batas ekonomi antarnegara. Gejolak geopolitik dunia, seperti memanasnya perang dagang antara AS dan China serta eskalasi konflik di Timur Tengah, selalu berhasil mengirimkan sentimen negatif ke bursa domestik, sekecil apa pun eskalasinya. “Adanya globalisasi mengakibatkan sekat antarnegara menjadi tipis. Contohnya konflik di Timur Tengah atau AS-China, pasti akan langsung merembet sekecil apapun pergerakannya,” imbuhnya. Novi menghimbau masyarakat dan investor pemula untuk tidak gegabah dan menghindari aksi menjual rugi karena ikut-ikutan tanpa tau dasarnya serta menjadikan fluktuasi ini sebagai momen untuk berinvestasi secara lebih rasional dan terencana. Ia juga yakin bahwa Pemerintah akan memastikan fundamental makroekonomi Indonesia masih solid. “Masyarakat harap tidak panik dan ikut-ikutan jual rugi tanpa tau dasarnya bagaimana, jadikan momen ini untuk merencanakan investasi yang lebih rasional,” pungkasnya.
UMM Bangun Pabrik Infus di Karangploso Malang, Mulai Beroperasi 2027

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil langkah dalam mendukung kemandirian sektor kesehatan nasional. Kampus Putih tersebut menyediakan lahan seluas tiga hektare dari total aset 14 hektare miliknya di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang, untuk pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia. Prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) kawasan industri terpadu ini digelar pada Kamis (11/6/2026). Pabrik tersebut diproyeksikan mulai beroperasi penuh pada tahun 2027 mendatang untuk menyuplai kebutuhan alat kesehatan di jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah maupun fasilitas kesehatan umum secara nasional. Agenda strategis ini dihadiri jajaran tokoh nasional dan daerah. Di antaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI sekaligus Sekretaris BPH UMM, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., CA. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menyampaikan bahwa pendirian pabrik infus ini merupakan wujud nyata dari konsep socio-religious corporation yang diusung persyarikatan. Langkah ini menjadi bukti bahwa organisasi keagamaan mampu mengelola bisnis profesional demi kemaslahatan publik, bukan semata-mata memburu keuntungan finansial. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” ujar Haedar. Haedar menambahkan bahwa agama tidak hanya memayungi urusan akidah dan ibadah, melainkan juga muamalah dalam tatanan sosial-ekonomi. Ekspansi ke sektor industri medis ini diposisikan sebagai bentuk pengabdian kemanusiaan yang akuntabel guna menopang pilar pendidikan serta pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., CA., menyebutkan bahwa peran UMM tidak terbatas pada penyediaan lahan saja. Ke depan, area industri ini bakal diintegrasikan dengan Laboratorium Direktorat Saintek UMM guna mempertemukan dunia industri dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, mulai dari riset hingga pengembangan SDM. Melalui operasional pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia pada 2027, kolaborasi lintas sektor ini diharapkan menjadi momentum penting penguatan industri kesehatan dalam negeri. Sinergi ini sekaligus menegaskan bahwa kemandirian ekonomi, inovasi akademik, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan selaras demi pembangunan bangsa. “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” kata Ahmad Juanda.
“Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus di Malang, Targetkan Produksi 4.000 BPH/Jam”

Bisnis.com, MALANG – Muhammadiyah membangun pabrik infus seluas 3 hektare di lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Ngijo, Kec. Karangploso, Kab. Malang, dengan target produksi 4.000 BPH/jam yang ditargetkan beroperasi pada 2027. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, menegaskan keberadaan pabrik tersebut menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan, baik bagi jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah maupun masyarakat luas. “Pendirian pabrik infus ini adalah manifestasi dari ekosistem socio-religious corporation yang digagas oleh persyarikatan,” katanya di sela-sela peletakan batu pertama pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Ngijo, Kab. Malang, Kamis (11/6/2026). Menurutnya, inisiatif ini membuktikan bahwa organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara, bukan sekadar mencari keuntungan finansial. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Lebih lanjut, dia memaparkan, agama tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, melainkan juga urusan muamalah dalam tata kehidupan sosial-ekonomi. Oleh karena itu, keterlibatan di sektor industri medis ini diposisikan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan guna menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menjelaskan kontribusi UMM tidak berhenti pada penyediaan lahan. Ke depannya, kawasan ini akan diintegrasikan menjadi ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang mempertemukan aktivitas industri dengan fungsi tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” ujarnya. Dengan beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia pada 2027 mendatang, kata dia, maka langkah ini diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di Tanah Air. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor ini menjadi pesan kuat bahwa kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan beriringan demi menghadirkan manfaat yang seluas-luasnya bagi pembangunan bangsa.