Kupas Tuntas SDGs, Konferensi Internasional Pascasarjana UMM Bahas Transformasi Sosial hingga Energi Hijau

Direktorat Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan 4th International Conference on Science and Technology for Sustainable Development (IC-STSD 2026) di Aula BAU UMM pada Sabtu (13/6). Mengusung tema integrasi inovasi, kesehatan, pendidikan, dan transformasi sosial, konferensi internasional ini menghadirkan para pakar dunia untuk membedah kesiapan masyarakat global dalam menghadapi tantangan berat seperti perubahan iklim, potensi gesekan sosial, hingga tata ruang kota demi mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs). Menyoroti urgensi transformasi sosial, Assc. Prof. Mun’im Sirry dari Departemen Teologi, University of Notre Dame, Amerika Serikat, menjelaskan bahwa fondasi utama keberlanjutan sebuah negara majemuk seperti Indonesia adalah kemampuan warganya dalam merawat kerukunan. Berdasarkan risetnya, masyarakat perlu memupuk cinta sosial dan kepedulian antarumat beragama, di mana perbedaan keyakinan harus dijadikan ruang interaksi yang sehat untuk saling belajar dan memperkuat ikatan kemanusiaan. “Untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan, kita harus membangun budaya saling peduli di tengah masyarakat majemuk melalui pemahaman lintas agama, sehingga setiap individu merasa aman dan diterima,” paparnya. Dari perspektif geografi, Dr. Irna Nurlina bt Masron, peneliti ISEAS Yusof Ishak Institute, Singapura, membahas dilema pelestarian sejarah kawasan kota tua yang kerap tergilas oleh arus komersialisasi pariwisata. Berpijak pada studi kasus di Little India, Singapura dan Pekojan, Jakarta, ia mengingatkan bahwa pelestarian warisan budaya wajib melibatkan masyarakat asli agar ambisi kota global dan derasnya arus modal investor tidak mengusir warga dari ruang hidup mereka. “Konservasi tata kota harus dipandang sebagai proses kehidupan sehari-hari yang mengutamakan kesejahteraan penduduk lokal, bukan sekadar menjaga struktur bangunan kuno demi memenuhi ekspektasi sektor pariwisata semata,” urainya. Menyambung ancaman krisis ekologi perkotaan, pakar energi terbarukan Fakultas Teknik UMM, Prof. Dr. Ir. Machmud Effendy, ST., M.Eng., memaparkan dampak fatal ketergantungan pada bahan bakar fosil yang terus menyumbang emisi mematikan. Solusi utama yang ditawarkan adalah transisi menuju energi hijau yang terintegrasi jaringan listrik pintar, sebuah terobosan yang telah diaplikasikan langsung oleh Kampus Putih lewat operasional Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dan deretan panel surya di atap Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5. “Untuk mewujudkan kota yang benar-benar tangguh, kita perlu memanfaatkan teknologi cerdas dan menggunakan energi terbarukan agar emisi gas berbahaya dapat dikurangi serta kebutuhan energi di masa depan tetap terpenuhi,” tegasnya. Forum berskala internasional ini kembali menegaskan kapasitas UMM sebagai institusi pendidikan yang responsif dalam mencari solusi atas krisis multidimensi. Penyelenggaraan IC-STSD 2026 diharapkan tidak berhenti pada diskursus akademik, melainkan menjadi stimulus lahirnya kolaborasi nyata dan jejaring riset konkret lintas negara. Melalui langkah proaktif ini, Kampus Putih berkomitmen untuk terus melahirkan agen perubahan yang matang secara keilmuan, siap menjaga kelestarian bumi, dan berkontribusi langsung pada kesejahteraan peradaban manusia.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Tangkal Doomscrolling dan FOMO, Mahasiswa UMM Diajak Terapkan Detoks Digital

Menjawab ancaman kelelahan mental akibat penggunaan gawai yang tak terkendali, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara tegas membekali mahasiswanya dengan keterampilan digital mindfulness. Edukasi krusial ini disampaikan pada penutupan Kuliah Sabtu Subuh (KSS) Bagian Pendidikan dan Pengajaran Mata Kuliah Wajib pada Kurikulum (MKWK) UMM, Sabtu (13/6). Mengusung tema “Mindfulness di Era Digital”, kegiatan ini difokuskan untuk mentransformasi mahasiswa dari kondisi digital distress yang merusak menuju kesadaran penuh yang berlandaskan pada nilai-nilai ajaran Islam. Fenomena krisis fokus pada generasi muda menjadi perhatian utama dalam forum tersebut. Psikolog Pendidikan sekaligus Ketua Korps Immawati DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Wilda Kumala Sari, S.Psi., M.Psi., memaparkan bahwa mahasiswa saat ini sangat rentan mengalami digital distress akibat FOMO (fear of missing out), kecemasan akan validasi, hingga kebiasaan doomscrolling. “Gejalanya bisa muncul dalam berbagai bentuk. Secara psikologis seseorang menjadi sulit berkonsentrasi, gelisah, cemas saat jauh dari ponsel, mudah marah, hingga akhirnya mengalami burnout akademik,” jelasmya. Lebih jauh, Wilda menyoroti bagaimana kecemasan digital sering kali merenggut kesadaran mahasiswa akan realitas saat ini, sehingga mereka kerap kehilangan kendali atas prioritas belajar dan produktivitas mereka. “Sering kali kita terjebak pada masa lalu atau kecemasan tentang masa depan secara berlebihan. Karena itu, bersikap bijak terhadap masa lalu dan masa depan dimulai dengan kemampuan untuk hadir sepenuhnya di masa kini,” ungkapnya. Mengatasi persoalan tersebut, integrasi antara psikologi dan agama menjadi solusi utama, yakni dengan menerapkan digital mindfulness melalui konsep khusyuk dan ihsan. Ia menerangkan bahwa khusyuk melatih mahasiswa untuk memusatkan pikiran agar terlepas dari distraksi gawai, sementara ihsan menumbuhkan kesadaran bahwa Allah Swt. selalu mengawasi setiap aktivitas, termasuk di ruang siber. “Ihsan membuat kita memiliki filter dalam berperilaku di media sosial. Dengan begitu, kita tidak akan melakukan cyberbullying, menyebarkan hoaks, atau melakukan plagiarisme digital,” tegasnya. Untuk mengimplementasikan kesadaran tersebut, mahasiswa diarahkan untuk melakukan langkah praktis seperti mematikan notifikasi yang tidak penting, membiasakan monotasking daripada multitasking, serta menerapkan teknik STOP (Stop, Take a breath, Observe, Proceed) sebelum membuka media sosial. “Pada jeda tersebut, mahasiswa dapat bertanya kepada diri sendiri, ‘Apakah Allah rida dengan apa yang aku lakukan? Apakah ini membawa manfaat?’ sebelum memutuskan untuk berinteraksi di dunia maya,” tambahnya. Melalui pembekalan mindfulness ini, mahasiswa UMM diharapkan mampu menjadi pengendali penuh atas teknologi yang mereka gunakan, bukan justru menjadi budak algoritma. Kegiatan ini menitipkan pesan mendalam bahwa menjaga kesehatan mental dan spiritual melalui batasan digital yang sehat adalah fondasi wajib bagi mahasiswa untuk meraih kesuksesan akademik dan kehidupan yang menenangkan di masa depan.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman