Mahasiswa UMM Ubah Metode Belajar Sejarah di Museum Singhasari

Infonasional.com-Metode mempelajari sejarah yang biasanya bertumpu pada hafalan tahun dan buku teks tebal kini diubah menjadi lebih interaktif. Inovasi tersebut diterapkan di Museum Singhasari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Seperti dilansir dari Detikcom, ratusan siswa terlihat antusias mengeksplorasi ruang pameran, memanah lewat wahana virtual, hingga menikmati kuliner pasar tradisional. Aktivitas seru ini dikemas dalam program KERSANI (Kenali Sejarah di Museum Singhasari). Kegiatan edukatif interaktif ini diinisiasi oleh mahasiswa Praktikum Public Relations 3 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berkolaborasi dengan pengelola museum. Kampanye bertajuk ‘Singhasari Hits Different Stories’ ini diikuti oleh 21 sekolah di sekitar area museum, meliputi 13 Sekolah Dasar (SD) dan 8 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ketua Pelaksana Kersani, Syakila Dewi Mujizatul, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mendobrak anggapan bahwa mempelajari sejarah itu menjemukan. Pihaknya berupaya menyajikan pengalaman langsung yang mengaktifkan seluruh indra peserta. “Kalau di program KERSANI, kami berusaha bikin belajar sejarah jadi lebih seru dan tidak cuma fokus pada teori. Peserta diajak mengenal sejarah lewat pengalaman langsung, seperti main permainan tradisional, mencoba makanan tradisional, dan ikut tour museum yang dikemas dengan diskusi bareng teman satu kelompok,” ujar Syakila Dewi. Syakila menambahkan bahwa saat tur berlangsung, para peserta dapat mengamati arca serta benda-benda peninggalan purbakala secara langsung sembari menyimak paparan dari edukator museum. “Selain itu, kami juga meluncurkan website interaktif yang bisa membantu proses belajar sejarah dengan cara yang lebih menarik,” kata Syakila. Salah satu fitur yang menarik perhatian dalam agenda ini adalah MUSTAKA. Wahana tersebut memadukan narasi sejarah lokal dengan pemanfaatan teknologi modern, di mana siswa ditantang bermain gim interaktif berbasis teknologi sensor gerak. “KERSANI juga menggabungkan sejarah dengan teknologi lewat program MUSTAKA. MUSTAKA adalah permainan interaktif yang mengajak peserta berperan sebagai tokoh Ken Arok dan Ken Dedes dalam aktivitas memanah,” ucap Syakila. Melalui bantuan teknologi sensor gerak tersebut, para siswa dapat menirukan gerakan yang muncul pada layar animasi. Hal ini membuat proses pengenalan sejarah menjadi lebih aktif dan menyenangkan. “Walaupun dikemas dalam bentuk permainan, peserta tetap bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang Ken Arok dan Ken Dedes dengan cara yang lebih interaktif dan mudah dipahami,” tutur Syakila. KERSANI juga menerapkan sistem Kartu Misi yang mewajibkan siswa beserta guru pendamping menjelajahi koleksi museum secara berkelompok. Anggota kelompok sengaja diacak dari sekolah yang berbeda guna menumbuhkan kemampuan bersosialisasi. Sebelum misi kelompok dimulai, para peserta diperkenalkan pada situs resmi Museum Singhasari yang baru dirilis. Situs ini menyediakan informasi komprehensif mengenai Kerajaan Singhasari yang diproyeksikan sebagai media pembelajaran interaktif mata pelajaran IPAS tingkat SD dan IPS tingkat SMP. Di saat para siswa menyelesaikan misi dan mencoba stan MUSTAKA, para guru pendamping mengikuti sesi berbagi di pendopo museum. Sesi tersebut membahas mengenai optimalisasi fungsi museum sebagai ruang belajar alternatif bagi anak didik. Langkah inovatif dari mahasiswa UMM ini mendapat apresiasi positif dari pihak pengelola. Kepala Museum Singhasari menyatakan kepuasannya terhadap konsep matang yang disiapkan sejak awal perencanaan. “Saya mengikuti proses kegiatan ini sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Hasilnya sangat baik dan menunjukkan bahwa belajar sejarah dapat dilakukan dengan cara yang lebih menarik serta mudah diterima oleh siswa,” kata Kepala Museum Singhasari, Yossy Indra Hardyanto. Dukungan senada dipaparkan oleh Pemerintah Kecamatan Singosari yang diwakili Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial dan Kepemudaan, Abid RH. Ia menganggap kegiatan edukasi interaktif ini krusial dalam menjaga kelestarian identitas daerah bagi generasi muda. “Kami menyambut baik kegiatan KERSANI karena membantu mengenalkan kembali sejarah Singhasari kepada generasi muda melalui pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan,” ujar Abid RH.
Mahasiswa UMM Ubah Edukasi Sejarah Lewat Program Kersani di Museum Singhasari

Koranmanado-Belajar sejarah yang biasanya identik dengan aktivitas menghafal tahun dan membaca buku teks tebal kini dikemas secara berbeda. Seperti dilansir dari Detikcom, Museum Singhasari di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, menyajikan suasana pembelajaran yang lebih interaktif. Ratusan siswa terlihat antusias saat menjelajahi ruang pameran, mencoba memanah secara virtual, hingga mencicipi aneka jajanan pasar tradisional. Kegiatan edukatif ini bernama KERSANI atau Kenali Sejarah di Museum Singhasari. Program tersebut diinisiasi oleh mahasiswa Praktikum Public Relations 3 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang bekerja sama dengan pengelola museum. Mengusung kampanye ‘Singhasari Hits Different Stories’, agenda ini diikuti oleh 21 sekolah di sekitar museum yang terdiri dari 13 SD dan 8 SMP. Ketua Pelaksana Kersani, Syakila Dewi Mujizatul, mengungkapkan bahwa program ini dirancang khusus demi menghapus stigma membosankan dalam mempelajari sejarah. Pihaknya ingin menyajikan pengalaman langsung yang mengaktifkan seluruh indra para peserta. “Kalau di program KERSANI, kami berusaha bikin belajar sejarah jadi lebih seru dan tidak cuma focus pada teori. Peserta diajak mengenal sejarah lewat pengalaman langsung, seperti main permainan tradisional, mencoba makanan tradisional, dan ikut tour museum yang dikemas dengan diskusi bareng teman satu kelompok,” ujar Syakila Dewi kepada detikJatim, Senin (22/6/2026). Saat sesi tur berjalan, para peserta berkesempatan melihat arca beserta berbagai benda peninggalan bersejarah secara langsung. Mereka juga menyimak pemaparan dari edukator museum. “Selain itu, kami juga meluncurkan website interaktif yang bisa membantu proses belajar sejarah dengan cara yang lebih menarik,” ujar Syakila saat ditemui di lokasi acara. Daya tarik utama dari kegiatan ini terletak pada wahana MUSTAKA. Wahana tersebut memadukan unsur sejarah lokal dengan pemanfaatan teknologi modern, di mana siswa ditantang bermain gim interaktif berbasis sensor gerak. “KERSANI juga menggabungkan sejarah dengan teknologi lewat program MUSTAKA. MUSTAKA adalah permainan interaktif yang mengajak peserta berperan sebagai tokoh Ken Arok dan Ken Dedes dalam aktivitas memanah,” beber Syakila. Melalui bantuan teknologi sensor gerak, para peserta dapat meniru gerakan yang muncul pada layar animasi. Hal itu membuat pengalaman belajar sejarah terasa lebih aktif dan menyenangkan. “Walaupun dikemas dalam bentuk permainan, peserta tetap bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang Ken Arok dan Ken Dedes dengan cara yang lebih interaktif dan mudah dipahami,” tambah Syakila. Berbeda dengan kunjungan museum konvensional yang pasif, KERSANI menerapkan sistem Kartu Misi. Konsep ini mewajibkan siswa bersama guru pendamping menjelajahi koleksi museum dalam format kelompok. Anggota kelompok tersebut sengaja diacak dari sekolah yang berbeda untuk mengasah kemampuan bersosialisasi dan kerja sama. Sebelum misi dimulai, peserta diperkenalkan dengan situs resmi Museum Singhasari yang baru dirilis. Situs web ini memuat informasi komprehensif mengenai Kerajaan Singhasari. Ke depannya, platform tersebut dirancang agar dapat diadopsi menjadi media pembelajaran interaktif untuk mata pelajaran IPAS di tingkat SD dan IPS di tingkat SMP. Ketika para siswa sibuk menyelesaikan misi dan mencoba stan MUSTAKA, para guru pendamping berkumpul di pendopo museum. Mereka mengikuti sesi berbagi mengenai optimalisasi museum sebagai ruang belajar alternatif. Inovasi yang diusung oleh mahasiswa UMM ini mendapat respons positif dari pihak pengelola. Kepala Museum Singhasari menyatakan kepuasannya terhadap kematangan konsep yang disajikan sejak awal perencanaan. “Saya mengikuti proses kegiatan ini sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Hasilnya sangat baik dan menunjukkan bahwa belajar sejarah dapat dilakukan dengan cara yang lebih menarik serta mudah diterima oleh siswa,” tegas Kepala Museum Singhasari Yossy Indra Hardyanto, terpisah. Apresiasi serupa datang dari jajaran pemerintah setempat. Pemerintah Kecamatan Singosari melalui Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial dan Kepemudaan, Abid RH, menilai kegiatan ini sangat krusial dalam menjaga kelestarian identitas daerah bagi generasi muda. “Kami menyambut baik kegiatan KERSANI karena membantu mengenalkan kembali sejarah Singhasari kepada generasi muda melalui pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan,” katanya.
Hadirkan Guru Besar Ekonomi-Asisten Direktur OJK Malang, Prodi EP UMM Bahas Transformasi Perbankan dan Fintech Syariah di Era Revolusi Industri 4.0

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Dua pemateri internal dan eksternal Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (EP UMM) hadir dalam acara kuliah tamu tematik Transformasi Perbankan dan Fintech Syariah di Era Revolusi Industri 4.0. Dijelaskan PIC Humas Prodi EP UMM, Muhammad Firmansyah, SE, ME, dua pemateri tersebut adalah Prof. Dr. Idah Zuhroh, MM, dan Retno Heruwati Asisten Direktur Pengawasan LJK 1 Kantor OJK Malang. Prof. Dr. Idah Zuhroh, MM, (berdiri) ketika menjelaskan digitalisasi kepatuhan syariah dan resiko tata kelolanya. Dalam penjelasannya Prof. Dr. Idah Zuhroh, MM, memaparkan materi tentang Digitalisasi Kepatuhan Syariah dan Resiko Tata Kelola terkait transformasi digital syariah meliputi perubahan model intermediasi, tata kelola risiko, kepatuhan syariah, perlindungan konsumen, dan stabilitas sistem keuangan. Dimana artsitektur keuangan bergeser dari cabang ke ekosistem data. Hal ini menyebabkan ekosistem syariah saling bergantung. Hal ini dibuktikan dengan Bank Syariah bergerak dari aplikasi menuju transformasi bisnis. Retno Heruwati Asisten Direktur Pengawasan LJK 1 Kantor OJK Malang, saat opening ketika menjelaskan tentang tupoksi OJK. Idah Zuhroh juga mengungkapkan Fintech sebagai instrumen inklusi sekaligus sumber risiko baru. Itu sebabnya dibutuhkan empat lensa untuk membaca transformasi digital syariah. Pertama Ekonomi kelembagaan: digitalisasi mengubah aturan main. Kedua, Maqashid syariah menggeser ukuran keberhasilan. Ketiga, Teknologi dapat memperkuat sekaligus mengganggu intermediasi bank. Serta ke-empat, Platform economy: nilai berpindah ke penguasa jaringan dan data. Foto bersama antara pemateri dan unsur pimpinan Prodi Ekonomi Pembangunan UMM. Di akhir sesi Idah Zuhroh menjelaskan tentang Teknologi dapat menjadi maslahah — atau mafsadah. Risiko digital syariah bergerak dari dokumen ke system. Bank Syariah dan Fintech Syariah, serta ditutup dengan maqashid teknologi atau digitalisasi di bidang syariah. Berikutnya Retno Heruwati membuka penjelasan dengan prolog tentang pembentukan OJK (UU Nomor 21 Tahun 2011). Tiga lines model dalam mengatur, mengawasi SJK (Sektor Jasa Keuangan) untuk mewujudkan industri yang sehat berintegritas. Termasuk penjelasan tentang peran OJK dalam mendorong transformasi perbankan dan fintech syariah di era revolusi industri 4.0. Foto bersama antara pemateri dan unsur pimpinan Prodi Ekonomi Pembangunan UMM dengan mahasiswa peserta kuliah tamu. Ketika menjelaskan tema diatas, Retno Heruwati memaparkan potensi akselerasi transformasi digital Indonesia, indeks literasi dan inklusi keuangan nasional, literasi keuangan digital dan risiko di era digital, fungsi OJK dalam regulasi dan pengawasan keuangan syariah. Bahkan ketika sesi terkahir materi dijelaskan tentang dasar hukum fintech atau Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) Syariah. Termasuk daftar fintech syariah dimana ada 10 aplikasi pinjol syariah resmi. Retno Heruwati mengingatkan waspada pinjaman online ilegal, investasi ilegal, dan judi online. Perbedaan pinjol illegal serta fintech pendanaan bersama legal.
Dosen Fakultas Pertanian-Peternakan UMM Ajak Ibu PKK Loandeng Praktikkan Ekonomi Hijau

Mediapribumi.id, Sumenep — Selama ini, konsep ekonomi hijau lebih sering terdengar di ruang seminar daripada di dapur. Namun di Dusun Loandeng, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, gagasan itu justru hidup di tangan ibu-ibu rumah tangga yang mengolah limbah organik menjadi kompos dan menyulap pekarangan menjadi kebun produktif. Itulah wajah nyata dari program pemberdayaan masyarakat yang digagas tim dosen Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Program ini dikomandoi Nur Ocvanny Amir, SP., MP., bersama Fithri Mufriantie, SP., MP., dan Prof. Jabal Tarik Ibrahim, dengan menggandeng ibu-ibu PKK Dusun Loandeng sebagai pelaku utamanya. Kegiatan yang didanai Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini berjalan selama delapan bulan, April hingga November 2026. Empat mahasiswa Program Studi Agribisnis turut turun langsung mendampingi warga di lapangan. Nur Ocvanny Amir, yang akrab disapa Vany, mengungkapkan bahwa program ini lahir dari kegelisahan atas lebarnya jurang antara wacana pembangunan berkelanjutan dan kenyataan di tingkat rumah tangga. “Usulan kegiatan kepada Kemendiktisaintek tidak mudah. Proposal diperiksa secara ketat, terutama untuk memastikan apakah program benar-benar berdampak kepada masyarakat,” ujarnya. Dalam pelaksanaannya, warga tidak sekadar diberi ceramah. Mereka didampingi langsung mempraktikkan sejumlah keterampilan berbasis ekonomi sirkuler — mulai dari pengolahan sampah organik, pembuatan kompos, penyiapan media tanam, budidaya tanaman kebutuhan dapur, pembuatan ecoenzyme, hingga penjernihan air limbah rumah tangga. Fithri Mufriantie menegaskan bahwa seluruh aktivitas ini berakar pada agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 6 soal air bersih dan sanitasi layak, serta SDGs 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. “Langkah kecil di tingkat rumah tangga dapat memberi dampak besar bagi kehidupan ekologis yang lebih baik,” kata Fithri. Sebanyak 25 peserta menerima peralatan berkebun dan alat penjernih air mini untuk digunakan di rumah masing-masing. Sementara peralatan pembuatan kompos dipusatkan di salah satu pekarangan warga agar bisa diakses bersama oleh seluruh anggota PKK. Hasilnya sudah mulai dirasakan. Cabai yang ditanam di pekarangan bisa dipanen sendiri oleh keluarga. Sampah dapur yang sebelumnya hanya dibuang kini berubah fungsi menjadi pupuk. Ketua PKK Dusun Loandeng, Yuliati, mengaku warganya mendapat pengetahuan dan keterampilan yang sebelumnya tidak pernah mereka miliki. “Ada banyak manfaat dari program ini. Ibu-ibu mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru, mulai dari membuat kompos dari limbah rumah tangga, membuat media tanam, membudidayakan tanaman kebutuhan rumah tangga, membuat ecoenzyme, hingga menjernihkan air limbah rumah tangga,” ujar Yuliati. Pengalaman berharga juga dirasakan dari sisi mahasiswa. Muhammad Hilmy, salah satu peserta dari kampus yang terlibat, mengaku mendapatkan sesuatu yang tak bisa diperoleh dari bangku kuliah semata. “Kami dapat belajar langsung implementasi green economy di luar kampus bersama para dosen dan masyarakat. Sangat bermakna dan menyenangkan mengikuti kegiatan ini,” katanya.
Semula Limbah Organik, Kini Menjadi Panel Peredam Suara

Trubus.id — Semula ampas tebu, sabut kelapa, dan kertas bekas hanya dianggap limbah yang kurang bernilai. Di tangan para santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Malang, bahan-bahan tersebut justru disulap menjadi panel peredam suara ramah lingkungan bernama Ecouiet. Inovasi itu mengantarkan tim PPI AMF meraih medali perak pada ajang Bali International Science Fair (BISF) 2026 yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA). Kompetisi tersebut diikuti pelajar dari berbagai negara, antara lain Amerika Serikat, negara-negara Asia Tenggara, Kazakhstan, dan Uzbekistan. Tim terdiri atas Ahmad Adila Al Ghifari, Abyan Agha Al Ghifari, Faizul Umam, Farrand Al Azka, Haidar Abimanyu Tuarita, dan Muhammad Mahir. Mereka mengembangkan Ecouiet sebagai solusi untuk membantu mengurangi polusi suara di lingkungan belajar. Perwakilan tim, Haidar Abimanyu Tuarita, mengatakan panel peredam suara itu memiliki ketebalan sekitar 2,5 sentimeter dengan tekstur padat menyerupai semen. Dalam proses pembuatannya, tim menambahkan arang hitam untuk meningkatkan kerapatan struktur sekaligus kemampuan menyerap suara. “Juga ada campuran arang hitam pada proses pembuatannya agar struktur panel lebih padat dan menyerap suara dengan baik,” ujar siswa kelas VIII yang akrab disapa Abi. Untuk menguji efektivitasnya, tim membuat simulasi sederhana menggunakan kotak kardus yang bagian dalamnya dilapisi panel Ecouiet. Musik dengan volume tinggi diputar dari dalam kotak, kemudian tingkat kebisingan yang keluar diukur menggunakan aplikasi pengukur desibel pada telepon pintar. “Alat pendeteksi suara yang kami gunakan saat uji coba adalah decibel meter. Aplikasinya bisa diunduh langsung di Play Store,” kata Abi dilansir dari laman Universitas Muhammadiyah Malang. Meski berhasil menghasilkan inovasi yang membanggakan, proses pengembangannya tidak berjalan mulus. Tim hanya memiliki waktu sekitar empat pekan sejak tahap perencanaan hingga perakitan produk. Muhammad Mahir dan Faizul Umam menuturkan tantangan terbesar adalah menemukan komposisi bahan yang tepat agar panel memiliki tekstur kokoh sekaligus mampu meredam suara secara optimal. “Waktu yang mepet membuat kami harus bekerja ekstra cepat, apalagi mencari tekstur panel yang pas dan sesuai keinginan itu cukup sulit,” ujar Mahir. Pembina Karya Ilmiah Remaja (KIR) PPI AMF, Nabila Almayda, mengaku bangga atas pencapaian para santri yang mampu bersaing di tingkat internasional melalui inovasi berbasis lingkungan. “Semoga santri-santri PPI AMF dapat terus berkembang dengan berbagai inovasi dan prestasi yang membawa kebermanfaatan luas bagi masyarakat,” ujar Nabila. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa limbah organik dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Selain membantu mengurangi pencemaran lingkungan, pemanfaatan limbah sebagai bahan baku panel peredam suara juga berpotensi menjadi solusi ramah lingkungan untuk mengatasi kebisingan di ruang kelas maupun fasilitas umum. Dengan dukungan riset lanjutan, Ecouiet berpeluang dikembangkan menjadi produk komersial yang mampu menjawab kebutuhan material akustik berkelanjutan di masa depan.
Awal Merantau Jadi Buruh, Kini Punya Bisnis Sendiri, Kisah Sukses Galang Bikin Bisnis Salon Spa di Polandia

MALANG POSCO MEDIA-Ketekunan dan etos kerja yang tinggi menjadi kunci kesuksesan. Apalagi dipadu semangat tanpa menyerah. Itulah resep rahasia Galang, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam meraih kesuksesannya. Dari awalnya seorang buruh yang mengais limbah, lalu tekun berproses hingga kini sukses menjadi pebisnis. Jarum jam di dinding Tera Thai Salon Day Spa, Gdynia, Polandia, menunjukkan pukul 18.00 waktu setempat. Suasana di dalam salon terasa hangat meski di luar suhu udara di angka 11 hingga 20 derajat Celsius. Tidak lama, satu per satu pelanggan berdatangan memasuki salon. Mereka yang datang rata-rata telah memesan jadwal pijat sejak tiga hari sebelumnya. Di tengah kesibukan aktifitas sore itu, seorang pria tampak sigap bergerak. Yakni Galang, ‘Arek Malang’ pemilik salon tersebut. Ia tak segan turun tangan membantu resepsionis melayani pelanggan yang membeludak. Alumnus Jurusan Agribisnis UMM itu, kini telah menetap dan menjadi warga di kota pesisir utara Polandia tersebut Pemandangan itu jauh berbeda dibanding lima tahun lalu saat pertama kali menginjakkan kaki di Gdynia, Polandia. Kala itu, Galang datang ke Polandia sebagai perantau yang belum memiliki pekerjaan tetap. Pada Mei 2021, tepatnya ketika pandemi Covid-19 masih membatasi mobilitas masyarakat di berbagai negara dan saat banyak orang memilih bertahan di rumah, Galang justru nekat merantau ke Eropa. “Keinginan ke luar negeri sebenarnya sejak 2020. Karena pembatasan di Indonesia lebih ketat, sehingga 2021 saya paksa pergi,” kenang Galang. Bagi Galang, Gdynia bukan sekadar tempat mengadu nasib. Kota yang berjarak 25 kilometer dari Gdansk, kota yang paling populer untuk kalangan pecinta sepak bola itu terasa familiar. Sebab, menurut Galang, suasananya hampir mirip dengan Kota Batu. Galang pun mulai mencari pekerjaan dan menggantungkan harapannya di Polandia. Mulanya ia berharap bisa mendapatkan pekerjaan sesuai latar belakang pendidikannya. Namun kenyataan berkata lain. Agensi yang menyalurkannya justru menempatkan dia sebagai buruh kebersihan gudang. Setiap hari, pekerjaannya membersihkan area produksi, mengangkut kardus, hingga membereskan limbah sisa kegiatan industri. Pekerjaan fisik itu menjadi pintu masuk yang umum bagi pekerja migran karena tidak membutuhkan kemampuan bahasa Polandia yang tinggi. “Pengalaman itu memang berat, tetapi justru menjadi fase penting untuk belajar bertahan, memahami budaya kerja Eropa, dan membentuk mental sebagai perantau,” kata Galang. Singkat cerita, dari pekerjaan itu, Galang tetap berkomitmen dan tekun menjalaninya. Sehingga membawa Galang melanglang buana ke sejumlah pekerjaan lainnya. Bahkan ia kemudian sempat bekerja di toko kebab. Tidak disangka, dari bekerja di toko kebab itu lah, karir Galang ternyata mulai menanjak. Selama 3,5 tahun, ia meniti jenjang hingga menjadi kepala toko. Di sanalah ia juga mulai menyerap lebih banyak bahasa Polandia, sistem pajak, legalitas usaha, dan celah bisnis di Eropa. Ia menyadari bahwa kesuksesan di luar negeri membutuhkan kejelian melihat peluang, bukan sekadar bekerja dan menerima gaji. Tidak hanya itu, berkat subsidi tempat tinggal dan biaya makan yang ditanggung tempat kerja, tabungannya terkumpul dengan cepat. Dengan modal tabungan yang lumayan, keputusan besar pun diambil Galang tepatnya pada Agustus 2024 lalu. Galang banting setir membuka usaha spa, terinspirasi dari perbincangan dengan pekerja pijat asal Bali. Di Eropa yang jarang mengenal budaya pijat, layanan ini menjadi komoditas emas. Warga lokal begitu menggemari teknik pijat Asia, terutama untuk refleksi dan melepas pegal. Galang kemudian menggandeng terapis asal Bali untuk merintis usaha spa, meski harus membagi waktu dengan pekerjaannya di restoran kebab. Ia menjelaskan bahwa membuka usaha di Eropa menuntut pemahaman regulasi yang sangat ketat dan perhitungan finansial yang matang. “Membangun usaha di Eropa tidak sesederhana membuka bisnis di Indonesia. Saya harus memahami regulasi yang sangat detail, mulai dari pajak perusahaan, keamanan pelanggan, administrasi usaha, hingga kewajiban menggunakan jasa lawyer dan akuntan,” beber dia. Artinya, perjuangan merintis usaha spa yang kemudian diberi nama Tera Thai ini memang tidak mudah. Dengan modal Rp 365 juta atau 90 ribu zloty, ia harus menempuh birokrasi ketat tersebut. Selama tujuh bulan pertama, Galang melakoni double job atau kerja ganda. Ia tetap menjadi kepala toko kebab sembari mengelola spa, bekerja hingga 16–18 jam sehari. “Itu modal saya sebagai pendatang. Jadi ya memang arus ‘ngoyo’ (kerja keras) daripada warga asli,” ujar pria yang hobi motor trail ini. Kerja kerasnya terbayar tuntas. Setelah melepas jabatan di toko kebab pada Maret 2025, Galang kemudian fokus penuh pada bisnisnya. Omzet Tera Thai bahkan mencapai Rp 500 juta hingga Rp 600 juta per bulan. Prestasi ini membuatnya berani melebarkan sayap dengan membuka cabang kedua di Gdansk pada akhir Mei 2026. Meski kini harus berhadapan dengan persaingan ketat di kota besar, Galang mengaku tetap optimis. Baginya, kunci kesuksesan di Polandia adalah ketekunan. Ia melihat warga lokal cenderung santai dan tidak menjadikan uang sebagai segalanya, bahkan enggan bekerja di akhir pekan. Celah itulah yang ia manfaatkan dengan etos kerja khas perantau Indonesia. Dari buruh kasar yang membersihkan sisa limbah, kini Galang sukses membuktikan untuk berdiri tegak sebagai pengusaha di negeri orang. Tidak hanya itu, juga sekaligus membuktikan bahwa ketekunan melampaui batas jarak dan perbedaan budaya. Dengan modal ketekunan yang ia yakini itu, Galang percaya rezeki akan selalu mengiringi. “Kadang kita tidak pernah tahu rezeki ada di mana kalau tidak berani mencoba dan terus belajar,” tandasnya.
“Mahasiswa Malang Ubah Museum Singhasari Jadi Tempat Belajar Intereaktif”

Detik.com Malang – Belajar sejarah sering kali identik dengan menghafal tahun dan membaca buku teks yang tebal. Namun, suasana berbeda terlihat di Museum Singhasari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Ratusan siswa tampak antusias menjelajahi ruang pameran, memanah secara virtual, hingga mencicipi jajanan pasar tradisional. Suasana seru ini merupakan bagian dari KERSANI (Kenali Sejarah di Museum Singhasari), sebuah kegiatan edukatif interaktif yang diinisiasi oleh mahasiswa Praktikum Public Relations 3 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan pihak museum. Mengusung kampanye Singhasari Hits Different Stories’, kegiatan itu diikuti 21 sekolah yang berbatasan langsung dengan area museum, terdiri dari 13 Sekolah Dasar (SD) dan 8 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ketua Pelaksana Kersani Syakila Dewi Mujizatul mengungkapkan, program ini sengaja dirancang untuk mendobrak stigma bahwa belajar sejarah itu membosankan. Pihaknya ingin memberikan pengalaman langsung yang melibatkan seluruh indra para peserta. “Kalau di program KERSANI, kami berusaha bikin belajar sejarah jadi lebih seru dan tidak cuma fokus pada teori. Peserta diajak mengenal sejarah lewat pengalaman langsung, seperti main permainan tradisional, mencoba makanan tradisional, dan ikut tour museum yang dikemas dengan diskusi bareng teman satu kelompok,” ujar Syakila Dewi kepada detikJatim, Senin (22/6/2026). Saat tur, lanjut Syakila, peserta bisa melihat arca dan berbagai benda bersejarah secara langsung sambil mendengarkan penjelasan dari edukator museum. Salah satu daya tarik utama dalam kegiatan ini adalah MUSTAKA, sebuah wahana yang menggabungkan unsur sejarah lokal dengan kecanggihan teknologi modern. Melalui MUSTAKA, para siswa ditantang untuk bermain gim interaktif menggunakan teknologi sensor gerak. “KERSANI juga menggabungkan sejarah dengan teknologi lewat program MUSTAKA. MUSTAKA adalah permainan interaktif yang mengajak peserta berperan sebagai tokoh Ken Arok dan Ken Dedes dalam aktivitas memanah,” beber Syakila. Menurut Syakila, dengan bantuan teknologi sensor gerak, peserta bisa mengikuti gerakan yang ditampilkan di layar animasi sehingga pengalaman belajar sejarah terasa lebih seru, aktif, dan menyenangkan. “Walaupun dikemas dalam bentuk permainan, peserta tetap bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang Ken Arok dan Ken Dedes dengan cara yang lebih interaktif dan mudah dipahami,” tambah Syakila. Tidak seperti kunjungan museum konvensional di mana peserta hanya datang dan mendengarkan, KERSANI menerapkan sistem Kartu Misi. Konsep ini mewajibkan siswa dan guru pendamping mengeksplorasi koleksi museum dalam format kelompok. Uniknya, anggota kelompok sengaja diacak dari sekolah yang berbeda untuk melatih kemampuan bersosialisasi dan kerja sama mereka. Sebelum misi dimulai, para peserta terlebih dahulu diperkenalkan dengan website resmi Museum Singhasari yang baru diluncurkan. Baca juga: Massa Demo di Malang Sampaikan 9 Tuntutan Situs ini memuat informasi secara menyeluruh mengenai Kerajaan Singhasari yang dirancang agar bisa diadopsi menjadi media pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPAS di tingkat SD dan IPS di tingkat SMP. Sementara para siswa asyik menuntaskan misi dan menjajal stan MUSTAKA, para guru pendamping berkumpul di pendopo museum untuk mengikuti sesi berbagi (sharing session) mengenai optimalisasi museum sebagai ruang belajar alternatif. Inovasi yang dibawa oleh para mahasiswa UMM ini mendapat respons positif dari pihak pengelola. Kepala Museum Singhasari mengaku sangat puas dengan konsep matang yang disajikan sejak awal mula ide ini digulirkan. “Saya mengikuti proses kegiatan ini sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Hasilnya sangat baik dan menunjukkan bahwa belajar sejarah dapat dilakukan dengan cara yang lebih menarik serta mudah diterima oleh siswa,” tegas Kepala Museum Singhasari Yossy Indra Hardyanto, terpisah. Apresiasi senada juga datang dari struktur pemerintahan setempat. Pemerintah Kecamatan Singosari yang diwakili oleh Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial dan Kepemudaan, Abid RH, menilai bahwa kegiatan semacam ini krusial untuk menjaga kelestarian identitas daerah di mata generasi muda. “Kami menyambut baik kegiatan KERSANI karena membantu mengenalkan kembali sejarah Singhasari kepada generasi muda melalui pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan,” pungkasnya.
Maharesigana UMM Cetak Generasi Siaga Bencana di SD Muhammadiyah 08 Dau

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Maharesigana secara nyata terus membuktikan diri sebagai kampus yang berdampak langsung bagi masyarakat. Kali ini, UMM membekali lebih dari 100 warga SD Muhammadiyah 08 Dau, Kabupaten Malang, dengan program pendampingan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) pada Jumat (19/6). Langkah strategis ini difokuskan untuk membangun kapasitas sekolah sekaligus menanamkan budaya sadar bencana sejak usia dini. Pemilihan jenjang sekolah dasar dinilai sangat krusial karena pembentukan karakter mitigasi bencana jauh lebih efektif ditanamkan pada usia anak-anak. Melibatkan jajaran siswa, guru, hingga tenaga kependidikan, para relawan Maharesigana memberikan pelatihan intensif untuk menghadapi situasi darurat, khususnya ancaman gempa bumi. Melalui pendekatan yang menyenangkan dan edukatif, peserta diajak langsung melakukan simulasi. Anak-anak diajarkan cara berlindung yang benar saat gempa, teknik membaca jalur evakuasi secara cepat, hingga langkah taktis untuk mengelola kepanikan agar tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain di sekitar. Ketua Umum Maharesigana UMM, Indra Fery, menjelaskan bahwa pendampingan SPAB ini tidak sekadar berfokus pada transfer pengetahuan teoritis semata, melainkan dirancang khusus untuk menanamkan nilai kepedulian dan kesiapsiagaan permanen sebagai bagian integral dari karakter generasi masa depan. “Pendampingan SPAB yang kami lakukan merupakan bentuk dukungan nyata terhadap implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program SPAB. Regulasi tersebut menegaskan bahwa sekolah wajib membangun sistem penanggulangan terintegrasi. Edukasi dan simulasi sejak usia dini ini menjadi langkah penting untuk mencetak generasi tangguh yang siap merespons berbagai potensi risiko bencana di lingkungannya,” tegas Indra. Indra juga menambahkan bahwa keterlibatan para mahasiswa dalam program kemanusiaan ini pada dasarnya adalah sarana pembelajaran empiris untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai sosiologis dan kemanusiaan yang selama ini mereka peroleh selama proses perkuliahan. “Mahasiswa tidak hanya dituntut belajar di dalam ruang kelas. Mereka diwajibkan hadir langsung di tengah masyarakat, peka mengidentifikasi kebutuhan warga, merumuskan solusi komunikasi yang tepat, dan berkontribusi aktif dalam agenda pengurangan risiko bencana. Inilah esensi dan bentuk nyata dari sistem pembelajaran yang berdampak,” tambahnya. Antusiasme yang tinggi terlihat jelas selama pelaksanaan acara. Salah seorang guru SD Muhammadiyah 08 Dau mengakui bahwa kegiatan simulasi kebencanaan dari UMM tersebut sukses memberikan pengalaman baru sekaligus pemahaman esensial bagi siswa mengenai prosedur evakuasi diri. “Anak-anak luar biasa antusias mengikuti setiap tahapan simulasi. Mereka tidak hanya pasif mendengar penjelasan fasilitator, tetapi juga proaktif mempraktikkan secara langsung prosedur penyelamatan saat terjadi gempa bumi. Ilmu ini tentu sangat penting untuk membangun kesiapan fisik dan mental mereka apabila bencana darurat benar-benar terjadi,” ungkapnya. Di tengah tingginya ancaman dan potensi bencana di wilayah Indonesia, investasi pada sektor edukasi mitigasi sejak dini merupakan sebuah keharusan mutlak. Kiprah Maharesigana dalam program SPAB ini menegaskan kembali komitmen berkelanjutan UMM untuk mencetak lulusan sekaligus agen perubahan yang tak hanya unggul secara akademis, namun sigap menghadirkan kontribusi humanis dan solusi konkret demi menjaga keselamatan masyarakat luas.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Lewat Kuliah Tamu, EP UMM Kupas Tuntas Ekosistem Fintech Syariah dan Bahaya Pinjol Ilegal

Kemudahan akses teknologi di sektor perbankan tak selamanya membawa keuntungan jika tidak dibarengi dengan pemahaman literasi keuangan yang baik. Merespons maraknya korban jebakan pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online (judol) di masyarakat, Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (EP UMM) mengambil langkah strategis. Berkolaborasi langsung dengan pakar dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang, EP UMM menggelar kuliah tamu bertajuk “Transformasi Perbankan dan Fintech Syariah di Era Revolusi Industri 4.0”. Acara yang berlangsung di Aula BAU UMM pada Senin (22/6) ini bertujuan untuk mengupas tuntas perubahan sistem perbankan sekaligus menjadi wadah edukasi untuk membentengi generasi muda dari kejahatan finansial siber. Pakar Ekonomi UMM, Prof. Dr. Idah Zuhroh, MM, menyoroti perubahan besar yang terjadi dalam dunia perbankan syariah akibat arus digitalisasi. Ia menjelaskan bahwa bank syariah saat ini sudah meninggalkan cara lama yang berpusat pada perluasan kantor cabang fisik, dan kini lebih fokus membangun jaringan bisnis digital yang terintegrasi. Kehadiran inovasi teknologi keuangan (fintech) dinilai sangat mempermudah masyarakat. Namun, di sisi lain, kepraktisan ini memunculkan risiko baru yang rentan. Risiko tersebut berkaitan erat dengan bagaimana data nasabah dikelola, aturan hukum yang berlaku, hingga ancaman dari pihak tertentu yang memonopoli data digital. “Arsitektur keuangan syariah saat ini telah bergeser drastis dari sekadar membuka cabang fisik menjadi ekosistem data yang saling terhubung luas. Teknologi digital ini sejatinya bisa membawa manfaat besar (maslahah) untuk memperkuat layanan perbankan. Namun, hal ini bisa berbalik membawa kerusakan (mafsadah) jika sistem kelolanya buruk. Oleh karena itu, keamanan data dan perlindungan konsumen mutlak menjadi prioritas utama,” tegasnya. Sejalan dengan kekhawatiran tersebut, Asisten Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) 1 Kantor OJK Malang, Retno Heruwati, memaparkan betapa pentingnya peran negara dalam mengawasi arus keuangan digital. Retno menekankan bahwa pesatnya kemajuan teknologi di Indonesia wajib diimbangi dengan pengetahuan masyarakat terkait literasi finansial. Publik dituntut cerdas dalam membedakan mana layanan pendanaan daring yang berizin dan mana yang sekadar jebakan utang. Hal ini sangat penting mengingat OJK mencatat saat ini hanya ada sepuluh aplikasi pinjol syariah yang berstatus legal dan berada di bawah pengawasan ketat negara. “Masyarakat luas, khususnya generasi muda dan kalangan mahasiswa, harus tampil sangat cerdas serta rasional dalam menggunakan fasilitas kemudahan akses keuangan digital. Lewat forum ini saya mengingatkan dengan keras, terus tingkatkan pengetahuan kalian dan selalu waspada. Jangan sampai kalian atau keluarga terjerat tipu daya pinjaman online ilegal, iming-iming investasi bodong, apalagi terjerumus bahaya judi online yang semakin merusak tatanan ekonomi masyarakat,” ujar Retno memperingatkan. Pada akhirnya, pesatnya kemajuan transformasi perbankan dan fintech syariah di era digital bukan semata-mata soal seberapa canggih teknologi yang diaplikasikan, melainkan tentang seberapa kuat benteng literasi masyarakatnya. Kemudahan mendapat kucuran dana di era internet ini harus selalu dibarengi dengan kehati-hatian tingkat tinggi. Lewat kegiatan strategis ini, mahasiswa EP UMM diharapkan tidak hanya cerdas menjadi penikmat layanan aplikasi perbankan. Lebih dari itu, mereka ditargetkan mampu menjadi agen edukasi yang aktif melindungi masyarakat awam di sekitarnya dari ancaman bahaya kejahatan finansial yang kian marak mengintai.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Ciptakan Lingkungan Inklusif, Mahasiswa PPG UMM Dilatih Tangkal Perundungan dan Kekerasan Seksual

Maraknya kasus perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi di lingkungan pendidikan menegaskan bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang aman. Dampaknya sangat fatal, tidak hanya merusak prestasi akademik, tetapi juga mengancam kesehatan mental siswa hingga memicu depresi dan tindakan bunuh diri. Menjawab kondisi darurat ini, Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertindak tegas dengan membekali para mahasiswa calon guru melalui “Seminar Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual, Perundungan, dan Sikap Anti-Intoleransi” di Hotel Rayz UMM, Senin (22/6). Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa PPG calon guru semester 1 tahun akademik 2026 ini menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Ir. Alfi Nurhidayat, S.T., M.T., Ph.D., sebagai pemateri utama. Ia memaparkan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang makin kompleks akibat teknologi digital dan penetrasi gawai yang mengubah pola pikir, interaksi, serta perilaku siswa. Alfi mengingatkan, karena pendidik adalah figur teladan yang perilakunya akan ditiru, penyelesaian masalah intoleransi dan perundungan tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah, melainkan menuntut kolaborasi komprehensif antara guru, orang tua, pemerintah, dan masyarakat. “Ketika guru mengajar dengan cinta, kebahagiaan, dan ketulusan, maka anak-anak akan merasa aman dan nyaman di sekolah. Sekolah yang aman itu bukan dicari, tetapi diciptakan bersama,” tegas Alfi. Melengkapi pandangan tersebut, Dosen Psikologi UMM, Yudi Suharsono, S.Psi., M.Si., menekankan vitalnya peran guru sebagai active bystander atau sosok yang aktif mencegah dan sigap merespons berbagai bentuk kekerasan di sekolah. Ia menyoroti fakta bahwa korban sering kali memilih bungkam dan memendam traumanya cukup lama. Yudi juga mengingatkan bahwa sepuluh menit pertama ketika seorang siswa melapor merupakan momen sangat krusial; guru dituntut untuk mampu mendengarkan secara utuh, memvalidasi perasaan korban, serta menjamin kerahasiaan agar siswa tersebut bersedia menceritakan kejadian sepenuhnya. “Kasus yang tercatat sesungguhnya hanyalah puncak gunung es. Banyak korban tidak melapor karena takut, malu, atau merasa tidak akan mendapatkan perlindungan,” jelas Yudi. Melihat tingginya urgensi pencegahan kekerasan tersebut, Ketua Program Studi PPG UMM sekaligus Koordinator PPG Nasional, Prof. Dr. Trisakti Handayani, F.M., mewajibkan setiap calon lulusan untuk memiliki pemahaman pencegahan yang terpadu. Ia menyoroti bahwa kewajiban utama guru masa kini bukan sekadar mentransfer ilmu di dalam kelas, melainkan juga harus mampu secara aktif menjamin terpenuhinya hak peserta didik untuk belajar tanpa adanya ancaman kekerasan. “Jadilah guru yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Ketika nanti terjun ke dunia pendidikan, jadilah garda terdepan dalam menciptakan sekolah yang aman, inklusif, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik,” ujar Trisakti. Langkah konkret PPG UMM melalui seminar ini mengirimkan pesan kuat bagi dunia pendidikan nasional. Calon pendidik masa depan tidak boleh hanya pandai berteori, namun dituntut terjun membela siswa dan mempraktikkan pencegahan kekerasan secara nyata di lapangan. Kolaborasi antarpemangku kepentingan, kepekaan sosial guru, dan ketegasan dalam bertindak adalah kunci utama untuk mengembalikan muruah sekolah sebagai ruang belajar yang benar-benar aman, inklusif, serta senantiasa menghargai keberagaman.(vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman