Gelar SAMAKARYA 2026, Ikom UMM Pamerkan Ratusan Karya Praktikum Mahasiswa

Di tengah tuntutan industri kreatif yang kini lebih mengutamakan portofolio profesional dibandingkan sekadar nilai akademik di atas kertas, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan jawaban nyata. Ratusan karya hasil pembelajaran kelas sukses dipamerkan memenuhi area Dome Utara UMM dalam gelaran SAMAKARYA pada 29–30 Juni 2026. Mengusung tema “Beragam Akar, Tumbuh Bersama”, pameran ini membuktikan kesiapan mahasiswa dalam membangun kompetensi profesional mereka bahkan sebelum lulus. SAMAKARYA menjadi ruang lebur bagi seluruh peminatan Ilmu Komunikasi UMM. Berbagai karya terbaik dari disiplin Audio Visual, Public Relations, Jurnalistik, Fotografi, Komunikasi Grafis, hingga Center of Excellence (CoE) School of Creative Digital Communication (SCDC) disajikan dalam satu area pamer yang terintegrasi. Tak sebatas apresiasi visual, pengunjung juga dilibatkan dalam ekosistem kreatif melalui berbagai kegiatan interaktif, mulai dari gelar wicara inspiratif, workshop podcast bersama Amazing Malang, kelas event organizer dengan Radar Malang, hingga Bioskop Keliling yang menayangkan film-film terbaik karya mahasiswa pada malam penutupan. Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa pameran ini adalah bukti nyata keberhasilan implementasi kurikulum Outcome Based Education (OBE) di lingkungan kampus. Mahasiswa secara langsung dituntut agar tidak hanya terpaku pada teori tekstual, melainkan wajib merancang produk nyata yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik sebagai indikator mutlak capaian pembelajaran. “Produk yang ditampilkan merupakan hasil perkuliahan maupun praktikum dalam rangka OBE. Karena kurikulum kami menuntut setiap mata kuliah menghasilkan karya, maka karya-karya itulah yang kemudian dipamerkan agar dapat diapresiasi sekaligus menjadi gambaran bagi calon mahasiswa mengenai proses pembelajaran di Ilmu Komunikasi UMM,” urai Novin. Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa pameran yang diselenggarakan setiap akhir semester ini ke depannya ditargetkan akan merambah area eksternal kampus guna memperluas jangkauan apresiasi audiens, sekaligus menjadi sarana edukasi langsung bagi masyarakat. “Ini bukan kegiatan tahunan, tetapi setiap semester. Untuk penyelenggaraan kali ini kami masih fokus di lingkungan kampus agar mahasiswa UMM lebih mengenalnya terlebih dahulu. Ke depan, kami ingin mengeksplorasi penyelenggaraan di ruang publik Kota Malang agar karya mahasiswa dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas,” tambahnya. Antusiasme pengunjung pameran menjadi bukti keberhasilan konsep acara. Salah seorang pengunjung yang juga mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2024, Fahra Anissa Putri Murtado, menilai stan pameran tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga menyajikan interaksi edukatif yang memacu cara berpikir kreatif pengunjung. “Kesannya seru, banyak tantangan, terus membuat otak semangat. Semoga ke depannya acaranya semakin ramai, semakin bagus, semakin meriah, dan makin banyak kegiatannya,” pungkasnya. Menurutnya, kehadiran berbagai booth interaktif membuat SAMAKARYA tidak hanya menjadi ajang memamerkan karya, tetapi juga ruang kolaborasi yang menghubungkan mahasiswa, calon mahasiswa, serta masyarakat untuk melihat secara langsung kualitas pembelajaran kreatif di Program Studi Ilmu Komunikasi UMM.

Pertama di Kota Malang, UMM Siap Wujudkan Ekosistem Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi ditunjuk sebagai pilot project kawasan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS) pertama di wilayah Kota Malang. Menggandeng Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Jawa Timur serta Bank Indonesia wilayah Malang, UMM berhasil menunjukkan kesiapan maksimalnya. Hal ini dibuktikan dengan raihan 95 persen syarat kelayakan dalam tahap asesmen lapangan secara ketat yang menyasar tiga lokasi utama, yakni Kantin RS UMM, serta Kantin Asri 1 dan 2 pada Selasa (30/06/2026). Proses audit kelayakan ini dipimpin langsung oleh asesor ahli KDEKS Zona KHAS, Dr. Hj. Siti Nur Husnul Yusmiati, STP., M.Kes. Berdasarkan evaluasi lapangan, ia menyatakan bahwa mayoritas tenant kuliner di lingkungan kampus telah memenuhi kelengkapan administrasi yang sangat krusial. Perizinan usaha, keberadaan penyelia halal, hingga sertifikat pelatihan kebersihan penjamah makanan dinilai berstatus sangat memuaskan, sehingga pihak pengelola kampus hanya perlu menyempurnakan beberapa sarana pendukung teknis. “Secara keseluruhan, sekitar 95 persen persyaratan kelayakan telah terpenuhi dengan baik sehingga UMM dinilai siap untuk direkomendasikan kepada pihak pusat dalam proses penerbitan sertifikat Zona KHAS,” ujarnya. Merespons pencapaian tersebut, Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal) UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP., menjelaskan bahwa inisiasi ini merupakan langkah taktis kampus dalam menyambut regulasi nasional kewajiban sertifikasi halal pada Oktober 2026. Tercatat sebanyak 25 tenant kuliner di UMM telah mengantongi sertifikat halal resmi. Komitmen kuat ini turut menjadikan Kampus Putih sebagai rujukan utama di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, bahkan dipercaya memimpin kolaborasi riset pengembangan ekosistem halal bersama institusi pendidikan di Thailand dan Tiongkok. “Kesehatan dan ketenangan jiwa mahasiswa saat belajar sangat bergantung pada asupan gizi mereka, sehingga jaminan keamanan pangan melalui sertifikasi Zona KHAS di kantin kampus merupakan sebuah kewajiban mutlak,” tegas Elfi. Terakhir, dukungan penuh turut disampaikan oleh Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Ia menilai bahwa program kawasan kuliner halal dan sehat ini beririsan langsung dengan misi kelima universitas untuk menyelenggarakan pembinaan sivitas akademika berlandaskan nilai-nilai murni Islam dan Kemuhammadiyahan. Tidak berhenti di dalam area kampus, ia menargetkan agar tata kelola ekosistem Zona KHAS ini dapat diduplikasi secara riil untuk memberdayakan UMKM kuliner di berbagai wilayah desa binaan UMM. “Kerja sama ini menjadi titik awal yang sangat baik, dan harapannya ke depan kita bisa memperluas ekosistem kawasan halal ini secara merata ke daerah-daerah binaan universitas seperti Kampung Warna-Warni,” pungkasnya.

UMM Perluas Jejaring Global di Jepang, Siapkan Jalur S2 Beasiswa hingga Karier Internasional bagi Mahasiswa

Malangpariwara.com – Komitmen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan kembali diwujudkan melalui lawatan strategis ke Jepang pada 17–23 Juni 2026. Kunjungan ke Shimonoseki City University, Miyazaki University, dan mitra industri kehutanan Nosuta Kabushi tidak sekadar mempererat hubungan akademik, tetapi juga membuka peluang beasiswa, riset internasional, hingga akses karier global bagi mahasiswa dan lulusan. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menjelaskan bahwa kunjungan ke Shimonoseki City University merupakan undangan kehormatan dalam peringatan 70 tahun berdirinya perguruan tinggi tersebut. Momentum itu sekaligus menjadi ajang memperkuat kemitraan yang telah terjalin selama satu dekade. Menurut Salis, hasil konkret dari kerja sama tersebut mulai dirasakan mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP). UMM telah memperoleh kuota bagi 12 mahasiswa untuk melanjutkan studi magister di Shimonoseki City University melalui skema beasiswa. “Kita sudah ada slot dua belas mahasiswa yang dipersiapkan, nanti lulus mereka akan kuliah S2 di Shimonoseki di bawah beasiswa mereka,” ujarnya. Tak berhenti pada program pendidikan, kolaborasi kedua institusi juga akan berkembang ke bidang riset dan pengembangan bisnis. Pada September mendatang, delegasi Shimonoseki University yang terdiri dari mahasiswa, profesor, dan tim akademik dijadwalkan berkunjung ke UMM untuk menindaklanjuti berbagai program kerja sama. Salah satu fokus kolaborasi adalah pengembangan komoditas bernilai ekonomi tinggi, seperti salmon, stroberi, dan kopi, yang diharapkan mampu memperkuat sinergi antara dunia akademik dan sektor industri. “Nanti September empat orang mahasiswa bersama dua orang profesor, serta ada lima belasan orang yang ke mari akan kerja sama dengan kita untuk pengembangan riset, kajian, dan juga peluang usaha kopi di Jepang,” tambahnya. Sebagai bentuk dukungan terhadap program internasional tersebut, UMM juga menghadirkan Japan Corner, fasilitas pembelajaran bahasa dan budaya Jepang yang dilengkapi pengajar penutur asli. Kehadiran pusat pembelajaran ini diprioritaskan bagi mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke Jepang, namun juga terbuka bagi seluruh sivitas akademika yang ingin meningkatkan kemampuan bahasa Jepang. “Nanti belajar bahasa Jepangnya di situ, tapi Japan Corner juga membuka untuk mahasiswa yang lain yang mau belajar Jepang boleh datang ke situ,” jelas Salis. Dalam agenda yang sama, delegasi UMM juga mengunjungi Miyazaki University. Hubungan emosional yang telah terbangun melalui empat dosen UMM yang merupakan alumni kampus tersebut menjadi modal penting untuk memperluas kolaborasi, khususnya pada bidang riset bersama, pertukaran dosen, dan mobilitas mahasiswa. Sementara itu, sektor industri juga menjadi perhatian serius dalam lawatan tersebut. Bersama perusahaan kehutanan Jepang, Nosuta Kabushi, UMM sepakat memperluas kerja sama melalui pembangunan Forestry Japan Training Center di kawasan Pujon Hill. Pusat pelatihan ini akan menjadi sarana pembekalan mahasiswa kehutanan sebelum mengikuti program magang maupun bekerja di Jepang. Mitra industri Jepang bahkan siap berinvestasi dalam penyediaan kurikulum, tenaga ahli, serta berbagai fasilitas penunjang. “Mereka akan invest tenaga, kurikulum, perlengkapan untuk Forestry Japan Training Center di Pujon Hill, sehingga membuka peluang dari teman-teman kehutanan untuk berkarir internasional,” ungkapnya. Melalui rangkaian kerja sama tersebut, UMM semakin menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi berorientasi global. Internasionalisasi tidak lagi sebatas pertukaran mahasiswa, tetapi juga mencakup penguatan riset, hilirisasi inovasi, pengembangan bisnis, hingga penciptaan jalur karier internasional bagi lulusan. Langkah strategis ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing lulusan UMM di pasar kerja global sekaligus memperkuat posisi kampus sebagai salah satu perguruan tinggi Indonesia yang aktif membangun jejaring internasional berkelanjutan.( Djoko W)

Pertama di Kota Malang, UMM Siap Wujudkan Ekosistem Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi ditunjuk sebagai pilot project kawasan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS) pertama di wilayah Kota Malang. Menggandeng Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Jawa Timur serta Bank Indonesia wilayah Malang, UMM berhasil menunjukkan kesiapan maksimalnya. Hal ini dibuktikan dengan raihan 95 persen syarat kelayakan dalam tahap asesmen lapangan secara ketat yang menyasar tiga lokasi utama, yakni Kantin RS UMM, serta Kantin Asri 1 dan 2 pada Selasa (30/06/2026). Proses audit kelayakan ini dipimpin langsung oleh asesor ahli KDEKS Zona KHAS, Dr. Hj. Siti Nur Husnul Yusmiati, STP., M.Kes. Berdasarkan evaluasi lapangan, ia menyatakan bahwa mayoritas tenant kuliner di lingkungan kampus telah memenuhi kelengkapan administrasi yang sangat krusial. Perizinan usaha, keberadaan penyelia halal, hingga sertifikat pelatihan kebersihan penjamah makanan dinilai berstatus sangat memuaskan, sehingga pihak pengelola kampus hanya perlu menyempurnakan beberapa sarana pendukung teknis. “Secara keseluruhan, sekitar 95 persen persyaratan kelayakan telah terpenuhi dengan baik sehingga UMM dinilai siap untuk direkomendasikan kepada pihak pusat dalam proses penerbitan sertifikat Zona KHAS,” ujarnya. Merespons pencapaian tersebut, Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal) UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP., menjelaskan bahwa inisiasi ini merupakan langkah taktis kampus dalam menyambut regulasi nasional kewajiban sertifikasi halal pada Oktober 2026. Tercatat sebanyak 25 tenant kuliner di UMM telah mengantongi sertifikat halal resmi. Komitmen kuat ini turut menjadikan Kampus Putih sebagai rujukan utama di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, bahkan dipercaya memimpin kolaborasi riset pengembangan ekosistem halal bersama institusi pendidikan di Thailand dan Tiongkok. “Kesehatan dan ketenangan jiwa mahasiswa saat belajar sangat bergantung pada asupan gizi mereka, sehingga jaminan keamanan pangan melalui sertifikasi Zona KHAS di kantin kampus merupakan sebuah kewajiban mutlak,” tegas Elfi. Terakhir, dukungan penuh turut disampaikan oleh Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Ia menilai bahwa program kawasan kuliner halal dan sehat ini beririsan langsung dengan misi kelima universitas untuk menyelenggarakan pembinaan sivitas akademika berlandaskan nilai-nilai murni Islam dan Kemuhammadiyahan. Tidak berhenti di dalam area kampus, ia menargetkan agar tata kelola ekosistem Zona KHAS ini dapat diduplikasi secara riil untuk memberdayakan UMKM kuliner di berbagai wilayah desa binaan UMM. “Kerja sama ini menjadi titik awal yang sangat baik, dan harapannya ke depan kita bisa memperluas ekosistem kawasan halal ini secara merata ke daerah-daerah binaan universitas seperti Kampung Warna-Warni,” pungkasnya.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Gelar Kids English Camp Berbasis Digital, Liburan Sekolah Jadi Lebih Edukatif

pwmu.co – Mengisi liburan sekolah dengan aktivitas yang edukatif sekaligus menyenangkan menjadi tantangan bagi banyak orang tua.Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi  Pendidikan Bahasa Inggris (English Language Education Department/ELED) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan School Holiday Program: Kids English Camp, sebuah program pembelajaran bahasa Inggris berbasis digital. Pendidikan Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, mulai 29 Juni hingga 2 Juli 2026 di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 dan kawasan Perpustakaan Pusat UMM. Lebih dari 110 siswa Sekolah Dasar (SD). Selama program berlangsung, peserta diajak belajar bahasa Inggris melalui pendekatan interaktif sehingga tetap produktif sekaligus menikmati masa liburan. Dosen ELED UMM sekaligus penyelenggara kegiatan, Khoiriyah, S.Pd., M.A., menjelaskan bahwa Kids English Camp dirancang sebagai program pengayaan bahasa Inggris yang disesuaikan dengan jenjang kelas peserta. Program ini juga terintegrasi dengan kelas profesional Center of Excellence (CoE) English for Young Learners, sehingga mahasiswa UMM memperoleh pengalaman nyata mengajar anak-anak. Selama empat hari, peserta mengikuti beragam aktivitas kreatif, mulai dari Fun English with Digital Game-Based Learning, pembelajaran yang memadukan bahasa Inggris dan sains (English and Science), permainan luar ruang, hingga sesi Be Global – Learn English with Foreigner yang mempertemukan anak-anak dengan warga negara asing untuk berlatih komunikasi secara langsung. “Program ini merupakan adaptasi budaya summer camp dari luar negeri yang kami padukan dengan nilai-nilai keislaman melalui konsep English for Muslim Kids. Dengan demikian, anak-anak dapat merasakan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus mengenal atmosfer perkuliahan di lingkungan kampus,” ujar Khoiriyah. Foto: UMM Menurutnya, Kids English Camp juga menjadi bagian dari kontribusi UMM dalam mendukung penguatan pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia. Kehadiran laboratorium bahasa yang modern serta keterlibatan mahasiswa internasional memberikan kesempatan kepada peserta untuk membangun kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa Inggris secara alami. “Kami ingin mengubah anggapan bahwa bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang sulit. Melalui permainan digital, lagu, eksperimen sederhana, dan aktivitas seni, anak-anak justru dapat belajar dengan lebih menyenangkan dan mudah memahami materi,” jelasnya. Program tersebut mendapat apresiasi positif dari para orang tua. Mereka menilai Kids English Camp mampu menjadi alternatif kegiatan liburan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengembangkan kemampuan berbahasa, kreativitas, dan kepercayaan diri anak. Salah seorang wali murid, Iin Nur Aini, mengaku sengaja mendaftarkan putra-putrinya agar waktu liburan dimanfaatkan untuk kegiatan yang bermanfaat. “Kami ingin liburan anak-anak tetap produktif. Melalui kegiatan ini mereka bisa bermain, belajar, dan semakin menyukai bahasa Inggris. Semoga kemampuan mereka juga terus berkembang,” tuturnya. Melalui Kids English Camp berbasis digital, ELED UMM menunjukkan komitmennya menghadirkan inovasi pembelajaran bahasa Inggris yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus menyenangkan bagi anak-anak. Program ini diharapkan menjadi inspirasi bagi orang tua untuk memanfaatkan masa liburan sebagai momentum memperkuat kompetensi dan karakter anak sejak dini. (*) *) Penulis : Faqih Editor : Agus Wahyudi

Mahasiswa UMM Hidupkan Permainan Tradisional Lewat Festival Dolanan

JAVASATU.COM– Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghidupkan kembali permainan tradisional melalui Festival Dolanan yang digelar di Taman Dolan Batu, Jumat (27/6/2026). Kegiatan bertema “Balik Dolanan” itu menjadi bagian dari Praktikum 3 Brand Activation sekaligus upaya mengenalkan kembali warisan budaya kepada generasi muda di tengah pesatnya perkembangan era digital. “Permainan tradisional perlahan mulai dilupakan oleh generasi sekarang. Padahal di setiap dolanan terdapat nilai kebersamaan, kejujuran, kreativitas, serta kearifan lokal yang perlu terus diwariskan. Melalui Festival Dolanan, kami ingin menghadirkan kembali pengalaman bermain secara langsung dalam suasana yang edukatif dan menyenangkan bagi keluarga yang berkunjung ke Taman Dolan Batu,” kata Ketua Pelaksana Festival Dolanan, Muhammad Farelino. Festival yang digagas tim Wavvy Creative tersebut menghadirkan berbagai permainan tradisional, seperti engklek, congklak, egrang, bakiak, bentengan, gobak sodor, hingga bekel. Seluruh permainan dapat diikuti peserta dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa. Sebelum mengikuti permainan, peserta mendapatkan sesi edukasi bersama Mbah Jo yang memperkenalkan sejarah, filosofi, serta cara memainkan setiap permainan tradisional. Kegiatan itu bertujuan agar peserta tidak hanya bermain, tetapi juga memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Selain permainan rakyat, festival juga dimeriahkan penampilan Laskar Angin Percussion, pertunjukan Teater Sinden FISIP UMM bertajuk “Kalah Menang, Sing Penting Dolan Bareng”, serta penampilan Miben Voice yang membawakan lagu-lagu tradisional Jawa seperti Padang Bulan, Cublak-Cublak Suweng, dan Prau Layar. Puncak acara ditandai dengan prosesi Lentera Malam. Para peserta menuliskan harapan pada secarik kertas sebelum menerbangkan lentera bersama sebagai simbol harapan agar permainan tradisional dan nilai kebersamaan tetap lestari di tengah perkembangan teknologi. Dosen Pembimbing Praktikum Brand Activation Ilmu Komunikasi UMM, Jamroji, mengatakan Festival Dolanan menjadi bentuk implementasi pembelajaran mahasiswa yang tidak hanya berorientasi pada promosi, tetapi juga memberikan manfaat sosial melalui pelestarian budaya. “Festival ini menjadi upaya untuk mengingatkan kembali permainan-permainan tradisional yang dahulu pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, namun kini mulai terlupakan oleh generasi muda. Harapannya, budaya bermain bersama dapat kembali dikenal dan diwariskan kepada anak-anak saat ini,” ujarnya. (Foto: Ist/Tim Wavvy Creative) Sementara itu, Owner Taman Dolan Batu, Miftah Hadi, mengapresiasi inisiatif mahasiswa UMM yang menghadirkan kegiatan sejalan dengan konsep wisata edukasi berbasis budaya yang dikembangkan Taman Dolan Batu. “Semoga kegiatan ini memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjadi momen yang mampu mempererat hubungan keluarga melalui pengalaman bermain, belajar, dan menikmati budaya bersama di Taman Dolan Batu,” katanya. Festival Dolanan mendapat sambutan antusias dari pengunjung. Banyak keluarga memanfaatkan kegiatan tersebut untuk mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak mereka. Selain menjadi sarana rekreasi, festival ini juga memperkuat peran mahasiswa UMM dalam mengajak masyarakat menjaga kelestarian budaya melalui pengalaman bermain yang edukatif, interaktif, dan menyenangkan. (arf)

Alumnus UMM Pimpin Himpunan Mahasiswa Buddhis

KLIKMU.CO – Chandra Aditya Nugraha, alumnus Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2016, resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (PP HIKMAHBUDHI) periode 2025–2028. Capaian ini menegaskan bahwa kampus berlatar belakang Islam mampu mencetak pemimpin nasional yang berdaya saing tanpa memandang latar belakang agama maupun keyakinan. Chandra menjelaskan, pencapaiannya saat ini merupakan buah dari proses panjang yang telah dirintis sejak bergabung dengan HIKMAHBUDHI dan Asosiasi Kesejahteraan Sosial Jawa Timur pada 2015. “Organisasi itu prosesnya panjang. Saya memulai dari anggota, kemudian menjadi pengurus cabang, hingga akhirnya dipercaya menjadi ketua cabang. Setelah lulus dari UMM pada 2020, saya mengabdikan diri sebagai pengurus pusat di Jakarta sambil melanjutkan studi,” ungkapnya kepada Humas UMM, Kamis (26/6/2026). Dalam perjalanannya menuju kursi kepemimpinan tertinggi pada proses pencalonan tahun 2024, ia dihadapkan pada berbagai dinamika yang menguji kedewasaan kepemimpinannya, terutama dalam mengelola konflik internal agar tidak memecah belah organisasi. “Saat proses pemilihan, itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Dari situ saya belajar memanajemen konflik agar organisasi tetap solid,” jelasnya. Sebagai mahasiswa non-Muslim yang menempuh pendidikan di institusi Islam, Chandra menilai Kampus Putih UMM telah memberinya ruang belajar nyata tentang esensi kebinekaan dengan memberikan hak yang setara kepada seluruh sivitas akademika. “Saya bangga dengan UMM. Kampus ini menerapkan nilai keberagaman secara nyata. UMM tidak mengharuskan mahasiswanya beragama Islam atau berasal dari Muhammadiyah. Semua orang bisa belajar dan berkembang bersama,” tuturnya. Bagi Chandra, UMM merupakan miniatur Indonesia yang berhasil mengimplementasikan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Di kampus ini, mahasiswa dari berbagai daerah, etnis, dan keyakinan dapat berbaur serta memperoleh fasilitas dan hak pendidikan yang sama. Kebebasan dan toleransi itulah yang turut membentuk perspektif kepemimpinannya hingga mampu berkiprah di tingkat nasional. Terkait tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, Chandra menilai rasa khawatir dan overthinking mengenai masa depan merupakan hal yang wajar. Namun, ia mendorong mahasiswa untuk berani mengambil risiko demi memperjuangkan cita-cita dan tujuan hidup. “Hidup yang tidak pernah dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan. Jadi, jangan takut tentang besok akan menjadi apa. Fokuslah pada apa yang teman-teman minati dan cintai hari ini. Dari situlah jalan akan terbuka,” tegasnya. Kisah perjalanan Chandra menjadi bukti bahwa lingkungan pendidikan yang menjunjung tinggi toleransi, dipadukan dengan keberanian untuk terus berproses, mampu melahirkan pemimpin yang tangguh. Nilai-nilai inklusivitas yang diperolehnya di Kampus Putih UMM diharapkan tidak hanya membawa kemajuan bagi organisasi yang dipimpinnya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk berani bermimpi besar, terus berkarya, dan mengambil langkah nyata bagi masa depan bangsa. (Faqih/AS)

Gelar SAMAKARYA 2026, Ikom UMM Pamerkan Ratusan Karya Praktikum Mahasiswa

Di tengah tuntutan industri kreatif yang kini lebih mengutamakan portofolio profesional dibandingkan sekadar nilai akademik di atas kertas, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan jawaban nyata. Ratusan karya hasil pembelajaran kelas sukses dipamerkan memenuhi area Dome Utara UMM dalam gelaran SAMAKARYA pada 29–30 Juni 2026. Mengusung tema “Beragam Akar, Tumbuh Bersama”, pameran ini membuktikan kesiapan mahasiswa dalam membangun kompetensi profesional mereka bahkan sebelum lulus. SAMAKARYA menjadi ruang lebur bagi seluruh peminatan Ilmu Komunikasi UMM. Berbagai karya terbaik dari disiplin Audio Visual, Public Relations, Jurnalistik, Fotografi, Komunikasi Grafis, hingga Center of Excellence (CoE) School of Creative Digital Communication (SCDC) disajikan dalam satu area pamer yang terintegrasi. Tak sebatas apresiasi visual, pengunjung juga dilibatkan dalam ekosistem kreatif melalui berbagai kegiatan interaktif, mulai dari gelar wicara inspiratif, workshop podcast bersama Amazing Malang, kelas event organizer dengan Radar Malang, hingga Bioskop Keliling yang menayangkan film-film terbaik karya mahasiswa pada malam penutupan. Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa pameran ini adalah bukti nyata keberhasilan implementasi kurikulum Outcome Based Education (OBE) di lingkungan kampus. Mahasiswa secara langsung dituntut agar tidak hanya terpaku pada teori tekstual, melainkan wajib merancang produk nyata yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik sebagai indikator mutlak capaian pembelajaran. “Produk yang ditampilkan merupakan hasil perkuliahan maupun praktikum dalam rangka OBE. Karena kurikulum kami menuntut setiap mata kuliah menghasilkan karya, maka karya-karya itulah yang kemudian dipamerkan agar dapat diapresiasi sekaligus menjadi gambaran bagi calon mahasiswa mengenai proses pembelajaran di Ilmu Komunikasi UMM,” urai Novin. Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa pameran yang diselenggarakan setiap akhir semester ini ke depannya ditargetkan akan merambah area eksternal kampus guna memperluas jangkauan apresiasi audiens, sekaligus menjadi sarana edukasi langsung bagi masyarakat. “Ini bukan kegiatan tahunan, tetapi setiap semester. Untuk penyelenggaraan kali ini kami masih fokus di lingkungan kampus agar mahasiswa UMM lebih mengenalnya terlebih dahulu. Ke depan, kami ingin mengeksplorasi penyelenggaraan di ruang publik Kota Malang agar karya mahasiswa dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas,” tambahnya. Antusiasme pengunjung pameran menjadi bukti keberhasilan konsep acara. Salah seorang pengunjung yang juga mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2024, Fahra Anissa Putri Murtado, menilai stan pameran tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga menyajikan interaksi edukatif yang memacu cara berpikir kreatif pengunjung. “Kesannya seru, banyak tantangan, terus membuat otak semangat. Semoga ke depannya acaranya semakin ramai, semakin bagus, semakin meriah, dan makin banyak kegiatannya,” pungkasnya. Menurutnya, kehadiran berbagai booth interaktif membuat SAMAKARYA tidak hanya menjadi ajang memamerkan karya, tetapi juga ruang kolaborasi yang menghubungkan mahasiswa, calon mahasiswa, serta masyarakat untuk melihat secara langsung kualitas pembelajaran kreatif di Program Studi Ilmu Komunikasi UMM.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman