Satu Orang, Tiga Usaha, dan Urusan NIB yang Belum Beres

MALANG POST – Angkanya tampak mentereng: 49.420. Itulah jumlah unit usaha di Kota Malang yang hingga Juli 2026 ini tercatat resmi mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB). Uniknya, puluhan ribu izin itu ternyata hanya dimiliki oleh 41.270 orang saja. Artinya apa? Satu orang pelaku usaha di Malang rata-rata memiliki lebih dari satu lini bisnis. Jiwa dagang arek Malang memang luar biasa lincah. Namun, di balik angka mentereng itu, terselip sebuah paradoks. Jika ditotal secara keseluruhan secara riil di lapangan, jumlah pelaku UMKM di Kota Malang sebenarnya raksasa: mencapai lebih dari 100 ribu orang. Itu berarti, masih ada separuh lebih pedagang kita yang status hukum bisnisnya masih “gelap” alias belum legal. Tanpa NIB, mereka mustahil bisa menembus rak-rak modern atau mengajukan kredit bank. Siasat mendongkrak kelas UMKM di tengah musim libur panjang ini dikupas habis dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Kamis (2/7/2026) hari ini. Otoritas dinas, akademisi, hingga pegiat usaha berkumpul membedah strategi lapangan. Kabid UMKM Diskopindag Kota Malang, Faried Su’aidi, menegaskan pemerintah daerah sedang ngebut memotong kompas birokrasi perizinan. Karpet merah kemudahan urus NIB digelar. “Kami tidak bisa jalan sendiri. Terakhir, kami berkolaborasi dengan DPMPTSP Provinsi Jatim membuka kuota pengurusan legalitas gratis untuk 150 UMKM. Ini krusial. Ketika UMKM sudah pegang legalitas, pintu gerbang untuk menjangkau pasar konsumen yang jauh lebih luas otomatis terbuka lebar,” urai Faried. Diskopindag juga tidak ingin UMKM Malang mati angin setelah dapat izin. Tiga program peluru disiapkan: Perjanjian Kerja Sama (PKS) titip produk di toko pusat oleh-oleh, program Business Matching setiap akhir tahun untuk mempertemukan perajin dengan pembeli kakap, serta fasilitas “Klinik Bisnis”. Klinik ini menjadi tempat konsultasi gratis urusan jejaring dan ilmu digital marketing. Menyerbu Uang Mahasiswa yang Ogah Pulang Musim liburan sekolah dan kampus seperti sekarang adalah masa panen raya. Sudut pandang menarik dilemparkan oleh Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Venus Kusumawardana. Banyak orang mengira saat libur kuliah, Malang akan sepi karena ditinggal mudik mahasiswa. Dugaan itu keliru. “Sebagian besar mahasiswa justru memilih bertahan di Malang. Bahkan banyak yang mendatangkan keluarga mereka dari luar pulau untuk berlibur di sini. Mereka mengeksplorasi kuliner dan berwisata belanja. Ini pasar raksasa,” analisis Venus. Tantangan infrastruktur jalan ke tempat wisata dinilai Venus sudah mulai beres di tangan pemkot. Musuh utama UMKM saat ini tinggal satu: permodalan yang cekak. “Siasati itu dengan cerdas. Ambil sistem maklon atau ambil produk dari tempat lain dengan perjanjian konsinyasi tertentu. Jangan menyerah karena modal,” tambahnya. Berburu Cuan Bermodal Data Bagaimana cara UMKM memenangkan pertempuran berebut isi dompet wisatawan? Pegiat UMKM Malang, Rike Fransisca, menyodorkan resep modern: jangan jualan pakai perasaan, pakailah data. “Penguatan database pelanggan itu mutlak. Dari data itulah kita bisa tahu siapa target segmen pasar kita, apa yang mereka sukai, dan kapan mereka berbelanja. Strategi penjualan musim liburan akan zonk kalau kita tidak pegang data,” tegas Rike. Rike melempar wejangan penutup agar para pelaku usaha di Malang Raya membuang jauh-jauh sifat ego sektoral. “Keluar dari rumah, gabung dengan komunitas UMKM. Di sanalah gudangnya info, jejaring modal, dan ilmu baru berada,” pungkasnya. Potensi 100 ribu UMKM di Kota Malang adalah mesin ekonomi yang dahsyat. Fasilitas Klinik Bisnis sudah dibuka, kuota NIB gratis sudah dibagikan. Kini tinggal kemauan para pelaku usaha: mau tetap bertahan di zona nyaman sebagai pedagang informal, atau berani mengurus legalitas demi naik kelas menjadi pengusaha formal yang mapan.
Prof. Khozin: Orang Tua Harus Jadi Teladan Utama bagi Anak

Tagar.co – Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen-PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. Khozin, M.Si. menyampaikan pandangan mengenai tantangan pendidikan saat ini. Bagi Khozin, tantangan itu tidak hanya terletak pada kemampuan anak dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Akan tetapi, juga pada kemampuan keluarga dan sekolah dalam membentuk karakter, akhlak, serta ketahanan mental anak. Hal itu ia sampaikan saat memberikan motivasi pendidikan dalam acara Pisah Pasrah murid kelas VI SD Muhammadiyah Kompleks Gresik (SD Mugres) Kampus A dan B. Kegiatan bertajuk “Menyulam Cinta, Menggapai Hangatnya Cita-Cita” itu berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik pada Kamis (25/6/2026). Momen kelulusan ini terasa istimewa karena tidak hanya para murid kelas VI yang bersiap melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah yang hadir. Akan tetapi, juga para orang tua yang turut mendampingi putra-putri mereka dalam prosesi pelepasan. Ukuran Keberhasilan Pendidikan Dalam paparannya, Khozin mengulas berbagai strategi mendidik generasi muda di tengah perkembangan era digital yang berlangsung sangat cepat. Baca Juga: Pisah Pasrah, 152 Murid SD Mugres Siapkan Cita-Cita Masa Depan Ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat terukur semata-mata dari prestasi akademik, melainkan juga dari kualitas kepribadian dan akhlak yang dimiliki anak. Khozin menjelaskan, generasi saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda daripada generasi sebelumnya. Mereka hidup di tengah arus informasi yang tidak terbatas, perkembangan teknologi digital yang sangat cepat, serta pengaruh media sosial yang dapat memberikan dampak positif maupun negatif. Karena itu, menurutnya, orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan material anak. Orang tua juga harus hadir sebagai pendamping, sahabat, sekaligus teladan utama dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan bahwa keteladanan orang tua merupakan metode pendidikan yang paling efektif dan paling mudah anak-anak tiru. “Anak-anak tidak hanya mendengarkan apa yang kita katakan, tetapi mereka juga memperhatikan dan meniru apa yang kita lakukan. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus dimulai dari rumah. Orang tua harus menjadi contoh dalam ibadah, kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan akhlak mulia,” jelas guru besar bidang Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Baca Juga: Sebelum Memikirkan Profesi, Bangun Dulu Akidah Anak Rumah Penuh Kasih Sayang Ia juga mengingatkan pentingnya membangun suasana rumah yang hangat, nyaman, dan penuh kasih sayang. Menurutnya, rumah harus menjadi tempat terbaik bagi anak untuk belajar, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan memperoleh dukungan emosional. Selain itu, Khozin mengajak para orang tua untuk memberikan ruang kepada anak dalam mengembangkan potensi dan cita-citanya. Ia menilai bahwa setiap anak memiliki keunikan, bakat, dan kecerdasan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tidak tepat jika seluruh anak menempuh jalan yang sama dengan paksaan. “Jangan memaksakan mimpi orang tua kepada anak. Tugas kita adalah menemukan potensi terbaik mereka, mendampingi prosesnya, dan mendoakan keberhasilannya. Anak yang tumbuh dengan cinta, kepercayaan, dan dukungan akan memiliki keberanian untuk menghadapi tantangan zaman,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Direktur Program Pascasarjana UMM ini. Keseimbangan Empat Aspek Dalam kesempatan tersebut, Khozin juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, dan kecerdasan spiritual. Menurutnya, keberhasilan seseorang pada masa depan sangat terpengaruh oleh kemampuan mengelola keempat aspek tersebut secara seimbang. Prof. Khozin, kanan, didampingi oleh Ketua PCM Gresik Drs. Mohammad Sholichin, M.Pd. (Tagar.co/Dwi Yoga Purnama) Sebagai salah satu pesan utama dalam materinya, Khozin mengajak para orang tua untuk terus mendoakan anak-anaknya. Ia mengutip doa yang bersumber dari hadis Rasulullah saw. agar para orang tua selalu memanjatkannya. Doa tersebut berbunyi Allahumma faqqihu fid-diin wa ‘allimhu ta’wiil, yang artinya, “Ya Allah, pahamkanlah ia dalam urusan agama dan ajarkanlah kepadanya ilmu takwil (tafsir Al-Qur’an).” Baca Juga: Silaturahmi ke Sekolah Para Juara, SD Mugres dan Spemutu Dapat Kejutan Ini Menurut Khozin, fondasi pemahaman agama yang kuat sejak usia dini merupakan benteng terbaik bagi anak dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan yang tinggi harus berjalan seiring dengan kekuatan iman dan akhlak. Antusiasme dan keharuan juga dirasakan oleh para wali murid SD Mugres yang hadir. Salah seorang wali murid mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. “Sangat menyentuh hati dan sarat ilmu. Materi yang disampaikan Prof. Khozin membuka wawasan kami sebagai orang tua. Momentum pisah pasrah ini menyadarkan saya bahwa mendampingi anak yang mulai memasuki usia remaja membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan doa yang tidak boleh putus” ungkap wali murid dari M. Fathan Afdiansyah.
Bina Talenta Indonesia 2026 Digelar di UMM, Puspresnas Taruh Kepercayaan Dua Tahun Beruntun

MAKLUMAT – Bina Talenta Indonesia 2026 kembali digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ini merupakan tahun kedua secara berturut-turut kepercayaan yang diberikan kepada Kampus Putih. Kepercayaan itu diberikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) sebagai mitra penyelenggara ajang pembinaan talenta nasional di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Kegiatan yang berlangsung pada 1–7 Juli 2026 ini menjadi bukti kepercayaan pemerintah terhadap kapasitas UMM dalam mencetak generasi muda unggul. Bukan sekadar fasilitas pendidikan yang memadai. UMM juga dinilai sukses menghadirkan ekosistem kampus hijau melalui pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT). Misalnya, Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) hingga Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Ketua Pelaksana Bina Talenta Indonesia 2026 di UMM, Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd., mengatakan, penunjukan tersebut diraih setelah proposal UMM mampu bersaing dengan ratusan perguruan tinggi di Indonesia. Kepercayaan itu juga dibuktikan dengan pemberian kuota istimewa. UMM membina 40 peserta terbaik dari sekitar 1.000 peserta tingkat nasional atau dua kali lipat lebih banyak dibanding rata-rata kampus mitra lainnya. “Selama satu pekan karantina, para peserta akan menyelesaikan sepuluh modul proyek yang dirancang untuk mengasah kemampuan inovasi, kreativitas, dan pemecahan masalah,” ujar Dyah. Tak hanya itu, UMM memberikan nilai tambah yang jarang ditemui di kampus lain. Seluruh karya inovatif peserta akan difasilitasi untuk memperoleh perlindungan Hak Cipta sehingga memiliki kepastian hukum atas kekayaan intelektual yang dihasilkan. “Karya inovatif buatan adik-adik tidak sekadar diapresiasi dengan selembar sertifikat, tetapi langsung kami fasilitasi agar memperoleh Hak Cipta resmi,” tegasnya. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menuturkan bahwa pembinaan Bina Talenta Indonesia 2026 tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kepemimpinan. Mayoritas peserta merupakan pelajar yang dipersiapkan menghadapi Olimpiade Sains Nasional (OSN). Karena itu, mereka diajak melihat secara langsung implementasi ilmu pengetahuan melalui teknologi ramah lingkungan yang diterapkan di lingkungan kampus. Peserta memperoleh pengalaman lapangan dengan mengunjungi fasilitas energi terbarukan UMM, seperti PLTMH dan instalasi panel surya yang menjadi bagian dari pengembangan kampus hijau. “Berbagai teori sains yang dipelajari di sekolah kini dapat disaksikan langsung penerapannya melalui inovasi energi terbarukan milik Direktorat Saintek UMM,” ujar In’am. Selama mengikuti pembinaan, peserta juga akan menghadapi berbagai tantangan, termasuk kompetisi hackathon dan pameran inovasi teknologi yang digelar pada 6 Juli 2026. Ajang tersebut menjadi ruang pembuktian kreativitas sekaligus kemampuan menyelesaikan persoalan melalui pendekatan sains dan teknologi. Sebagai bentuk apresiasi, UMM juga menyiapkan jalur beasiswa prestasi bagi peserta Bina Talenta Indonesia 2026 yang ingin melanjutkan pendidikan di Kampus Putih.
Regulasi Anti-Pornografi di Media: Menjaga Etika Publik di Tengah Arus Digital

Kliktimes.com-Perkembangan media massa dan media digital telah mengubah cara masyarakat menerima, memproduksi, dan menyebarkan informasi. Perubahan tersebut membuat konten pornografi tidak lagi hanya beredar melalui media konvensional, tetapi juga melalui media sosial, platform video, situs web, dan aplikasi percakapan. Persoalan ini penting dibahas karena berkaitan langsung dengan perlindungan anak, martabat manusia, etika penyiaran, dan keamanan ruang digital. Pembahasan ini berpijak pada kajian mengenai regulasi anti-pornografi di media yang menempatkan perlindungan publik sebagai isu utama. Regulasi anti-pornografi perlu diposisikan sebagai instrumen perlindungan masyarakat, bukan semata-mata sebagai alat pelarangan. Negara memiliki tanggung jawab untuk mencegah beredarnya konten yang mengeksploitasi tubuh, merendahkan martabat manusia, atau membahayakan kelompok rentan. Namun, penerapan regulasi juga harus tetap mempertimbangkan kebebasan berekspresi, karya seni, edukasi kesehatan, dan kerja jurnalistik yang sah. Dengan demikian, regulasi yang ideal adalah regulasi yang tegas terhadap eksploitasi seksual, tetapi tetap proporsional dalam membedakan pornografi dengan konten edukatif dan informatif. Indonesia telah memiliki dasar hukum yang cukup kuat untuk mengatur peredaran konten pornografi di media. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi menjadi dasar utama dalam melarang produksi, distribusi, penyiaran, dan penyediaan produk pornografi. Di ruang digital, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik mengatur penyebaran informasi elektronik yang memuat pelanggaran kesusilaan. Selain itu, KUHP Nasional, regulasi penyiaran KPI, aturan perlindungan anak, dan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual juga memiliki keterkaitan dalam penanganan kasus pornografi dan eksploitasi seksual. Media penyiaran memiliki tanggung jawab besar karena tayangan televisi dan radio dapat menjangkau masyarakat secara luas. Pengawasan terhadap media penyiaran dilakukan melalui standar program siaran, klasifikasi usia, jam tayang, dan batas kepatutan isi siaran. Masalah dalam penyiaran tidak hanya muncul pada adegan seksual eksplisit, tetapi juga pada eksploitasi tubuh, percakapan cabul, dan penyajian sensualitas yang berlebihan. Oleh karena itu, lembaga penyiaran harus memiliki mekanisme pengawasan internal agar isi siaran tidak merugikan anak, remaja, dan masyarakat umum. Media digital menghadirkan tantangan yang lebih kompleks dibandingkan media penyiaran konvensional. Konten pornografi di internet dapat diproduksi, diunggah, disalin, dan disebarkan kembali dalam waktu yang sangat cepat. Persoalan semakin serius ketika konten tersebut berupa konten intim tanpa persetujuan, konten seksual yang melibatkan anak, pemerasan seksual, atau manipulasi visual berbasis kecerdasan buatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan pornografi digital bukan hanya masalah moral, tetapi juga berkaitan dengan keamanan data, perlindungan korban, dan kekerasan berbasis elektronik. Implementasi regulasi anti-pornografi masih menghadapi persoalan pada batas definisi dan kecepatan penindakan. Tidak semua konten yang membahas tubuh, seksualitas, atau kesehatan reproduksi dapat langsung dikategorikan sebagai pornografi. Jika definisi diterapkan terlalu luas, regulasi dapat menghambat pendidikan, seni, jurnalistik, dan diskusi ilmiah. Sebaliknya, jika regulasi diterapkan terlalu longgar, konten eksploitasi seksual akan tetap beredar dan merugikan masyarakat. Rendahnya literasi digital masyarakat menjadi salah satu penyebab lemahnya pencegahan penyebaran konten pornografi. Banyak pengguna internet belum memahami bahwa menyimpan atau menyebarkan ulang konten intim orang lain dapat menimbulkan konsekuensi hukum. Sebagian masyarakat masih menganggap tindakan membagikan konten semacam itu sebagai hiburan, padahal tindakan tersebut dapat memperluas kerugian korban. Karena itu, literasi digital harus ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi pengendalian konten pornografi di media. Pemerintah perlu memperkuat pendidikan literasi digital secara lebih sistematis. Literasi digital harus menjelaskan batas konten yang dilarang, risiko hukum penyebaran konten pornografi, dan bahaya menyebarkan konten intim tanpa persetujuan. Pendidikan ini perlu diberikan kepada anak, remaja, orang tua, guru, komunitas, dan pengguna media digital secara umum. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat dapat menjadi pengguna media yang lebih kritis, etis, dan bertanggung jawab. Platform digital perlu memperkuat sistem moderasi konten secara cepat, transparan, dan berpihak kepada korban. Mekanisme pelaporan harus mudah digunakan oleh masyarakat yang menemukan konten pornografi atau konten intim tanpa persetujuan. Proses penghapusan konten harus dilakukan secara responsif agar penyebaran tidak semakin luas. Platform juga perlu bekerja sama dengan aparat penegak hukum dalam menangani akun penyebar, jaringan distribusi, dan konten yang melibatkan anak. Lembaga penyiaran perlu memperketat standar produksi dan penyuntingan isi siaran. Program hiburan, iklan, sinetron, video musik, dan tayangan realitas harus menghindari penggunaan sensualitas sebagai strategi menarik perhatian publik. Klasifikasi usia dan jam tayang harus diterapkan secara konsisten agar anak dan remaja tidak terpapar konten yang tidak sesuai. Pengawasan internal redaksi dan produser menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas etika penyiaran. Perlindungan korban harus menjadi prioritas dalam setiap kasus penyebaran konten pornografi tanpa persetujuan. Korban tidak boleh dipersalahkan atas penyebaran konten yang dilakukan oleh pihak lain. Negara, media, dan platform perlu menyediakan akses bantuan hukum, pemulihan psikologis, perlindungan identitas, dan penghapusan konten secara cepat. Pendekatan ini penting agar regulasi tidak hanya menghukum pelaku, tetapi juga memulihkan hak dan martabat korban. Regulasi anti-pornografi di media merupakan kebutuhan penting dalam menjaga ruang publik yang sehat, aman, dan bermartabat. Keberadaan aturan hukum di Indonesia sudah cukup luas, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada implementasi, pengawasan, literasi masyarakat, dan tanggung jawab platform digital. Di era digital, pornografi tidak lagi hanya berkaitan dengan kesusilaan, tetapi juga menyangkut perlindungan anak, kekerasan seksual, privasi, dan keamanan data. Oleh karena itu, regulasi yang dibutuhkan adalah regulasi yang melarang, mencegah, mendidik, melindungi korban, serta menjaga keseimbangan antara etika publik dan kebebasan berekspresi.
UMM Hadirkan Kids English Camp Edukatif Saat Liburan Sekolah

Tagar.co – Momen liburan sekolah kerap menjadi tantangan bagi orang tua untuk memilih kegiatan yang menghibur sekaligus mendidik anak. Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris English Language Education Department (ELED) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan School Holiday Program: Kids English Camp. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, mulai Senin (29/6/2026) hingga Kamis (2/7/2026). Panitia memusatkan kegiatan di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 dan area Perpustakaan Pusat UMM. Program tersebut berhasil menarik antusiasme lebih dari 110 siswa sekolah dasar. Melalui kegiatan ini, UMM menyediakan ruang bagi anak-anak untuk tetap belajar, bereksplorasi, dan menikmati masa liburan secara produktif. Perkaya Kemampuan Bahasa Inggris Anak Dosen ELED sekaligus penyelenggara kegiatan, Khoiriyah, S.Pd., M.A., menjelaskan, tim menyusun program sebagai sarana pengayaan bahasa Inggris. Tim menyesuaikan materi dengan jenjang kelas peserta. Selain itu, ELED mengintegrasikan kegiatan ini dengan kelas profesional Center of Excellence (CoE) English for Young Learners. Baca Juga: Inovasi NutriTrack MBG, Mahasiswa UMM Sabet Tiga Penghargaan Internasional Melalui kolaborasi tersebut, mahasiswa UMM memperoleh kesempatan mempraktikkan kemampuan mengajar secara langsung kepada anak-anak. Anak-anak antusias mengikuti School Holiday Program: Kids English Camp. Foto: Humas UMM Selanjutnya, panitia menghadirkan beragam aktivitas yang mendorong peserta belajar secara aktif. Anak-anak mengikuti pembelajaran berbasis gim digital melalui sesi Fun English with Digital Game-Based Learning. Mereka juga memadukan pembelajaran bahasa dengan sains pada sesi English and Science. Tidak hanya itu, peserta menikmati berbagai aktivitas luar ruangan yang melatih kerja sama dan keberanian. Sebagai penutup, panitia menghadirkan sesi Be Global – Learn English with Foreigner. Pada sesi tersebut, peserta berinteraksi langsung dengan salah seorang warga negara asing. Khoiriyah menjelaskan, program ini mengadaptasi budaya summer camp dari luar negeri. Selanjutnya, tim memadukannya dengan nilai-nilai keislaman melalui konsep English for Muslim Kids. Dengan demikian, anak-anak dapat merasakan suasana belajar yang menyenangkan di lingkungan kampus sekaligus memperkuat karakter mereka. Dukung Pendidikan Nasional Lebih lanjut, program ini juga mendukung arah kebijakan pendidikan nasional. Khoiriyah menegaskan, UMM siap mendukung rencana pemerintah yang akan kembali menetapkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar mulai 2027. Untuk mendukung tujuan tersebut, UMM memanfaatkan laboratorium bahasa yang modern. Selain itu, panitia menghadirkan mahasiswa internasional pada acara penutupan. Kehadiran mereka mendorong anak-anak berlatih berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris secara alami. Menurut Khoiriyah, program ini bertujuan mengubah anggapan bahasa asing merupakan pelajaran yang sulit. Sebaliknya, tim ingin menunjukkan bahwa bahasa Inggris dapat dipelajari dengan cara yang menyenangkan. Karena itu, panitia mengemas pembelajaran melalui permainan digital, lagu, dan kegiatan membuat karya seni yang kreatif. Sementara itu, para orang tua memberikan apresiasi terhadap metode pembelajaran yang diterapkan UMM. Mereka menilai program ini membantu mengembangkan kemampuan kognitif anak melalui pendekatan yang interaktif. Salah seorang wali peserta, Iin Nur Aini, menyebut Kids English Camp sebagai wadah yang tepat untuk mengoptimalkan potensi anak di luar kegiatan belajar di sekolah. Menurutnya, konsep belajar sambil bermain membuat anak-anak tetap bersemangat dan tidak mudah bosan selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Pada akhirnya, Iin mengaku sengaja mendaftarkan anaknya agar masa liburan terisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Ia berharap program tersebut dapat meningkatkan kemampuan sekaligus menumbuhkan kecintaan anak terhadap bahasa Inggris.
Program Epilog Creative UMM, RBR Jadi Ruang singgah Anak Muda Malang Lewat Singgah Sore

INDOZONE.ID – Rumah Budaya Ratna kembali menjadi ruang anak muda Malang melalui kegiatan Singgah Sore yang menghadirkan pengalaman singgah, berbincang, dan hadir secara lebih personal di tengah kehidupan yang serba cepat. Kegiatan Singgah Sore di Rumah Ratna digelar pada Kamis (25/6/2026) di Rumah Budaya Ratna. Acara ini dirancang oleh Epilog Creative, tim mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang, sebagai bagian dari praktik mata kuliah Public Relations 3 bertema brand activation. Singgah Sore dirancang sebagai ruang budaya santai yang memberi kesempatan bagi anak muda untuk berhenti sejenak dari rutinitas harian dan paparan digital. Tanpa konsep yang kaku, peserta diajak hadir, berbincang, dan menikmati suasana sore dengan pendekatan yang sederhana dan akrab. Pemilihan Rumah Budaya Ratna sebagai lokasi kegiatan menjadi bagian penting dari pesan yang ingin disampaikan. Rumah budaya ini dikenal sebagai ruang literasi dan kemanusiaan yang terbuka, berangkat dari nilai-nilai yang diwariskan oleh Ratna Indraswari Ibrahim, sastrawan disabilitas asal Malang. Nilai inklusivitas dan keberanian bersuara yang melekat pada sosok tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini. Kehadiran Singgah Sore juga menunjukkan bahwa Rumah Budaya Ratna tidak hanya berfungsi sebagai ruang arsip budaya, tetapi tetap hidup sebagai ruang pertemuan dan interaksi lintas generasi. Anak muda diberi ruang untuk mengenal literasi dan budaya melalui pengalaman yang lebih personal dan kontekstual. Selain menjadi ruang temu, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Mahasiswa terlibat dalam perencanaan konsep, pengelolaan kegiatan, serta penyampaian pesan kepada audiens di ruang publik. Melalui Singgah Sore, Epilog Creative berharap Rumah Budaya Ratna semakin dikenal sebagai ruang budaya yang terbuka dan relevan bagi anak muda Malang. Dengan pendekatan yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, literasi dan ruang budaya diharapkan tetap memiliki tempat di tengah perubahan gaya hidup perkotaan.
Tim Peneliti Hibah RISPRO LPDP Invitasi UMM-Majelis Dikdasmen PWM Jatim MoU, Lanjut FGD Analisis Kebutuhan Sistem Layanan Literasi Inklusi Berbasis Ekosistem Muhammadiyah Terpadu (SILLA MUTU)
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Tim Peneliti Hibah Riset RISPRO LPDP Invitasi yang diketuai oleh Assoc. Prof. Ni’matuzahroh, S.Psi, M.Si, Ph.D menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Analisis Kebutuhan sistem inovasi Layanan Literasi Inklusi digital berbasis ekosistem Muhammadiyah terpadu di GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tanggal 23 Mei 2026 lalu. Menurut Ni’matuzahroh, FGD menjadi upaya implementasi hasil penelitian dalam mendukung penguatan layanan pendidikan inklusif di sekolah. Dijelaskan Ni’matuzahroh, opening FGD membahas pengembangan layanan pendidikan inklusif dan pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung ekosistem pendidikan yang ramah bagi seluruh peserta didik. Materi yang disampaikan merupakan bagian dari diseminasi hasil penelitian yang telah dikembangkan melalui Hibah Riset RISPRO LPDP Invitasi. Selain pemaparan hasil riset, kata Ni’matuzahroh, diskusi sebagai momentum penguatan kerja sama antara perguruan tinggi dan pemangku kepentingan pendidikan. Hal tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Pemanfaatan Hasil Riset antara tim peneliti Hibah RISPRO LPDP Invitasi UMM dengan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Dalam hal ini Direktorat Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Malang yang diwakili oleh Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, Ph.D bersama perwakilan Dikdasmen PWM Jawa Timur. Kerja sama ini bertujuan memperluas pemanfaatan hasil penelitian dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan inklusif di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Melalui kolaborasi tersebut, berbagai inovasi dan rekomendasi yang dihasilkan dari penelitian diharapkan dapat diimplementasikan secara nyata sehingga memberikan manfaat langsung bagi sekolah, guru, peserta didik, dan orang tua. Usai tanda tangan MoU, tandas Ni’matuzahroh, dilanjutkan FGD Analisis Kebutuhan Layanan Inklusi di Sekolah yang melibatkan akademisi, guru, kepala sekolah, serta berbagai pemangku kepentingan pendidikan. Fokus diskusi pada identifikasi kebutuhan layanan inklusi, tantangan implementasi di lapangan, serta pemertaan sistem layanan inklusi berbasis digital (SILLA MUTU) yang didesain untuk membangun sesuai kondisi dan kebutuhan sekolah. Hasil diskusi membuktikan bahwa sekolah sangat membutuhkan sistem inklusi digital yang berisi tentang berbagai informasi akan digunakan sebagai dasar penyempurnaan produk dan rekomendasi hasil penelitian sehingga dapat diterapkan secara lebih efektif dalam mendukung pendidikan inklusif. Ni’matuzahroh mengungkapkan melalui kegiatan ini tim peneliti berharap hasil riset yang telah dikembangkan tidak hanya menghasilkan luaran akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan layanan pendidikan inklusif yang ramah, adaptif, dan berkelanjutan di Indonesia.