Jadwal Pembayaran
Ekosistem EBT UMM Picu Inovasi Peserta BTI Rancang Prototipe Pembangkit Listrik

Ekosistem Energi Baru Terbarukan (EBT) yang diterapkan secara maksimal di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi pemantik lahirnya inovasi teknologi dari peserta Bina Talenta Indonesia (BTI) 2026. Hal ini dirasakan langsung oleh Muhammad Luthfi Aziz, siswa kelas 12 SMA Darul Ulum 1 Unggulan Peterongan Jombang. Ia merasa sangat terbantu oleh fasilitas dan kepakaran dosen Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) Kampus Putih dalam merancang purwarupa teknologi kelistrikan terbarukan. Sebagai peserta binaan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Luthfi mengikuti pemusatan BTI di UMM pada 1-7 Juli 2026. Pria itu menuturkan bahwa ia dan timnya mendapatkan gagasan segar merancang prototipe kelistrikan setelah melihat langsung operasional Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) binaan UMM di Sumber Maron, yang didukung ekosistem fasilitas kampus secara komprehensif. “Baru kali ini saya melihat kampus dengan penerapan EBT yang sangat maksimal. Pakar-pakar UMM yang dihadirkan selama workshop juga sangat menarik, memberikan kami bekal keilmuan STEM yang nyata untuk merancang prototipe kelistrikan bagi daerah terpencil,” tegasnya 6 Juli lalu pada Humas UMM. Berbekal inspirasi tersebut, Luthfi bersama timnya merancang prototipe PLTMH berslogan “Airnya Ngalir, Energinya Hadir!”. Prototipe ini lahir sebagai solusi awal konkret atas ancaman krisis energi global. Di saat permintaan listrik dunia diprediksi melonjak 3,6 persen setiap tahun, pasokan energi nasional masih didominasi 85 persen bahan bakar fosil. Prototipe ini hadir sebagai model pembangkit skala kecil berbiaya rendah dan ramah lingkungan yang memanfaatkan aliran air sungai. Lebih jauh, purwarupa inovasi tim BTI ini memadukan desain mekanik dan teknologi mutakhir. Luthfi menjelaskan bahwa inovasinya menyematkan sensor Internet of Things (IoT) yang tidak hanya berfungsi menjaga stabilitas daya dari arus air rendah, tetapi juga dirancang khusus untuk mengetahui debit air yang mengalir, mengidentifikasi ancaman potensi bencana banjir bandang, serta menganalisis secara otomatis jika terdapat kerusakan sistem. Desain purwarupa ini ditargetkan menjadi cikal bakal pemerataan akses listrik di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). “Sistem IoT ini memungkinkan kami memantau stabilitas listrik, debit air, hingga potensi bencana secara real-time dari jarak jauh. Jadi, inovasi ini tidak sekadar memberikan pemerataan akses listrik bagi masyarakat pedalaman, tetapi juga memastikan ekosistem alamnya tetap terjaga dengan aman,” urainya. Merespons lahirnya purwarupa inovatif tersebut, Ketua Pelaksana BTI di UMM, Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd., menegaskan komitmen institusi dalam mendukung talenta muda nasional. Ia menyampaikan bahwa Kampus Putih akan terus memfasilitasi kebutuhan riset guna memantik nalar kritis inovator masa depan. “UMM selalu siap menjadi laboratorium hidup yang sesungguhnya bagi para pelajar. Kami sangat berharap prototipe teknologi hijau karya peserta BTI ini dapat terus disempurnakan hingga tahap hilirisasi dan produksi nyata, sehingga kemandirian energi nasional benar-benar terwujud lewat tangan generasi penerus kita,” pungkasnya.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Resmi Transformasi FKIP Jadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi mentransformasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH). Peresmian dilakukan langsung oleh Rektor UMM di Jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 pada Senin (6/7), menyusul turunnya Surat Keputusan (SK) perubahan pada 30 Mei 2026. Langkah ini merupakan strategi agile dari institusi dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, serta berorientasi pada solusi atas dinamika sains dan kemanusiaan. Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., memaparkan bahwa transformasi dari FKIP menuju FPSH merupakan deklarasi arah pengembangan kelembagaan yang jauh lebih terbuka. Menurutnya, pendidikan, sains, dan humaniora wajib berjalan beriringan agar pesatnya penciptaan inovasi teknologi tidak sampai menggerus nilai-nilai esensial kemanusiaan. “Perubahan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora ini merupakan pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita. Pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” ujarnya. Selain peluncuran nama baru, momen strategis ini juga diwarnai dengan gelaran kolokium bagi 15 doktor baru dari berbagai program studi di lingkungan FPSH. Mahfud menilai kehadiran belasan doktor baru ini sebagai modal strategis untuk mendongkrak kapasitas akademik, mutu riset, dan pengabdian, seraya mendorong mereka mencapai jabatan fungsional tertinggi sebagai guru besar. “Saya percaya masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan. Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya. Disisi lain, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menegaskan bahwa pergantian nama fakultas mutlak harus dibarengi dengan transformasi substantif di dalam tubuh organisasi. Ia menilai keberhasilan FPSH ke depan tidak ditentukan oleh identitas barunya, melainkan oleh perubahan pola pikir, penguatan kolaborasi lintas disiplin, dan kemampuan melahirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif. Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat. UMM harus menjadi pelopor praktik terbaik dan excellent solution center untuk terus tumbuh dan berkembang,” ungkapnya. Peresmian FPSH dan lahirnya 15 doktor baru ini menjadi tolak ukur bagi UMM dalam merespons masa depan. Melalui sinergi keilmuan dan kemanusiaan ini, Kampus Putih diharapkan terus konsisten mencetak pendidik, peneliti, serta pemimpin berintegritas. Momentum transformasi ini sekaligus menjadi pesan kuat bahwa inovasi pendidikan tinggi harus selalu berpijak pada nilai-nilai keislaman dan kepedulian universal demi kemajuan peradaban bangsa. (vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Alumnus Teknologi Pangan UMM Jadi Finalis MasterChef Indonesia Season 13, Ini Kisah Perjuangan Alfavira

pwmu.co –Mimpi besar yang dirawat sejak kecil akhirnya mengantarkan Maghfira Alvarizma Haris atau Alfavira, alumnus Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menjadi finalis MasterChef Indonesia Season 13. Perjalanan menuju ajang memasak bergengsi tersebut tidak diraih secara instan. Berulang kali mengalami kegagalan, Alfavira memilih terus mencoba hingga akhirnya berhasil lolos sebagai peserta MasterChef Indonesia Season 13. Kecintaan Alfavira terhadap dunia kuliner telah tumbuh sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak mengikuti tayangan MasterChef Indonesia musim pertama, ia telah bercita-cita suatu saat dapat berdiri di galeri MasterChef sebagai peserta. “Sebenarnya aku memang dari kecil suka masak. Dari MasterChef season pertama aku masih SD, aku suka nonton. Dari situ aku berharap, suatu saat aku mau ikut MasterChef,” ungkapnya. Perjalanan mewujudkan mimpi tersebut dimulai pada 2019 ketika masih menjadi mahasiswa UMM. Saat itu, ia memberanikan diri mendaftar MasterChef Indonesia Season 6. Namun, namanya tidak lolos ke tahap audisi. Kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti. Alfavira terus mencoba pada musim-musim berikutnya meski kembali mengalami penolakan. Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil pada MasterChef Indonesia Season 13. Pada 2025, Alfavira kembali mendaftarkan diri. Kali ini ia mengaku tidak lagi terlalu ambisius dan memilih menikmati proses. “Sampai akhirnya di 2025 aku coba daftar lagi. Waktu itu justru aku sudah tidak seambisi sebelumnya. Aku cuma berpikir, coba saja dulu. Alhamdulillah ternyata rezekinya datang, aku dapat special invitation,” tuturnya. Undangan khusus (special invitation) tersebut memberinya kesempatan mengikuti city audition di Jakarta, sekaligus menjadi awal keberhasilannya lolos ke MasterChef Indonesia Season 13. Menariknya, kesempatan mengikuti audisi datang ketika Alfavira juga tengah mempersiapkan diri mengikuti kompetisi kuliner nasional The Salon Culinaire. Di tengah padatnya persiapan, ia mampu membagi fokus antara perlombaan dan audisi. Usahanya membuahkan hasil. Alfavira berhasil meraih Silver Medal pada ajang The Salon Culinaire sekaligus lolos menjadi peserta MasterChef Indonesia Season 13. Di balik pencapaian tersebut, Alfavira harus menghadapi ujian berat. Tepat sebelum mengikuti audisi, ia kehilangan sosok yang selama ini menjadi pendukung terbesar dalam hidupnya, yakni sang ayah. Meski diliputi duka, semangatnya untuk mewujudkan mimpi dan membanggakan sang ayah tidak pernah padam. Selama menempuh pendidikan di UMM, Alfavira aktif mengembangkan keterampilan di bidang kuliner. Ia dipercaya menjadi pengajar di UMM Bakery dengan tugas melakukan riset serta pengembangan resep untuk diajarkan kepada karyawan maupun mahasiswa magang. Pengalaman tersebut semakin mengasah kemampuannya di bidang pastry sekaligus membangun rasa percaya diri untuk berkarier di industri kuliner. Kini, setelah melalui berbagai kegagalan, penolakan, dan kehilangan, Alfavira berhasil membuktikan bahwa kerja keras dan ketekunan mampu mengantarkannya menjadi finalis MasterChef Indonesia Season 13 sekaligus mengembangkan usaha bakery miliknya sendiri. Di akhir kisahnya, Alfavira membagikan pesan bagi generasi muda yang tengah mengejar cita-cita. “Ambil setiap kesempatan yang ada. Hasilnya baru akan kita tahu setelah semuanya terjadi. Jadi jangan takut untuk mencoba,” tutupnya. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Cerita Alfavira, Alumnus Teknologi Pangan UMM yang Lolos Finalis MasterChef Indonesia Season 13

Adalah Maghfira Alvarizma Haris atau yang akrab disapa Alfavira, alumnus Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), membuktikan bahwa mimpinya bisa ia perjuangkan. Kesabaran, kegigihan, bahkan keberanian untuk bangkit setelah berkali-kali mengalami kegagalan tidak pernah membuatnya menyerah hingga akhirnya berhasil menjadi finalis MasterChef Indonesia Season 13. Kecintaannya terhadap dunia kuliner telah tumbuh sejak kecil. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Alfavira sudah menanamkan mimpi sederhananya untuk bisa berdiri di galeri MasterChef sebagai peserta. “Sebenarnya aku memang dari kecil suka masak. Dari MasterChef season pertama aku masih SD, aku suka nonton. Dari situ aku berharap, suatu saat aku mau ikut MasterChef,” ungkapnya. Perjuangan Alfavira dimulai sejak tahun 2019, saat masih berkuliah di UMM, Alfavira mulai memberanikan dirinya untuk mendaftar pada Season 6. Sayangnya, harapan tersebut pupus ketika namanya tak dipanggil untuk audisi. Alih-alih menyerah, ia kembali mencoba pada musim-musim berikutnya dan mengalami berbagai kegagalan. Perjalanan panjang itu justru membentuk mental pantang menyerah dalam dirinya. Hingga pada Season 13, Alfavira memperoleh special invitation untuk mengikuti city audition di Jakarta. Kesempatan tersebut menjadi tanda bahwa perjuangannya mulai diperhitungkan. “Sampai akhirnya di 2025 aku coba daftar lagi. Waktu itu justru aku sudah tidak seambisi sebelumnya. Aku cuma berpikir, coba saja dulu. Alhamdulillah ternyata rezekinya datang, aku dapat special invitation,” tuturnya. Menariknya, saat kesempatan emas itu datang, Alfavira justru tengah disibukkan dengan kompetisi kuliner nasional The Salon Culinaire. Ia harus membagi fokus antara persiapan audisi MasterChef dan perlombaan tersebut. Di tengah padatnya persiapan, ia berhasil meraih Silver Medal pada ajang tersebut sekaligus lolos menjadi peserta MasterChef Indonesia Season 13. Namun, di balik perjuangan itu, Alfavira sempat mengalami hal yang berat dihidupnya. Tepat sebelum mengikuti audisi, Alfavira harus kehilangan sosok yang selama ini menjadi pendukung terbesar dalam hidupnya, sang ayah. Namun, semangatnya tak pernah padam untuk tetap membanggakan sang ayah. Selama menjadi mahasiswa, Alfavira aktif mengembangkan keterampilan kuliner hingga dipercaya menjadi pengajar di UMM Bakery. Ia melakukan riset dan pengembangan resep untuk diajarkan kepada karyawan dan mahasiswa magang. Pengalaman tersebut semakin mengasah kompetensinya di dunia pastry sekaligus membangun rasa percaya diri untuk terus berkembang di industri kuliner. Kini, setelah perjuangan panjang yang dipenuhi kegagalan, penolakan, dan kehilangan, Alfavira berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu meraih mimpinya sekaligus mengembangkan sendiri usaha bakery miliknya. Menutup kisahnya, Alfavira membagikan pesan sederhana bagi generasi muda yang tengah mengejar cita-cita. “Ambil setiap kesempatan yang ada. Hasilnya baru akan kita tahu setelah semuanya terjadi. Jadi jangan takut untuk mencoba,” tutupnya.(rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Gen Z Talk Social Campaign, CoE Kesejahteraan Sosial UMM Perkuat Kompetensi Profesional Mahasiswa

pwmu.co – Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menutup rangkaian kegiatan Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat Batch 3 melalui kegiatan bertajuk “Gen Z Talk Social Campaign” yang digelar di Nakoa Cafe, Sabtu (4/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi puncak proses pembelajaran CoE yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi profesional di bidang pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan kolaboratif, inovatif, dan berbasis praktik. Tidak hanya menjadi seremoni penutupan, kegiatan ini juga menghadirkan ruang diskusi yang mempertemukan akademisi, praktisi, mitra, mahasiswa, dan masyarakat untuk membahas peran Generasi Z sebagai agen perubahan sosial. Acara dihadiri Wakil Rektor IV UMM, Direktur CoE UMM, Dekan FISIP UMM, Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial, mitra CoE Program Studi Kesejahteraan Sosial, mahasiswa peserta CoE Batch 3, serta masyarakat umum. Dalam sambutannya, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, mengapresiasi Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM yang secara konsisten menghadirkan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) melalui program CoE. Menurutnya, program tersebut menjadi wujud komitmen UMM dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga keterampilan profesional. Kolaborasi bersama berbagai mitra memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa untuk memahami dinamika masyarakat sekaligus tantangan dunia kerja. Direktur CoE UMM, Achmad Fauzan Hery Soegiharto, menegaskan bahwa penyelenggaraan CoE Batch 3 menunjukkan semakin kuatnya sinergi antara universitas, program studi, dan mitra. Menurutnya, CoE tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga individu yang mampu berkolaborasi, berpikir kritis, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial. Sementara itu, Dekan FISIP UMM, Fauzik Lendriyono, menjelaskan bahwa tema Gen Z Talk Social Campaign dipilih karena relevan dengan karakter Generasi Z yang dekat dengan teknologi digital. Ia menilai Generasi Z memiliki energi, kreativitas, serta kemampuan memanfaatkan media digital untuk menyebarkan nilai-nilai positif kepada masyarakat. Menurutnya, mahasiswa Kesejahteraan Sosial diharapkan menjadi pelopor kampanye sosial yang tidak hanya viral, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata. Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM, Hutri Agustino, menjelaskan bahwa selama mengikuti CoE Batch 3 mahasiswa memperoleh pengalaman profesional melalui pendampingan bersama mitra, pelatihan, praktik lapangan, hingga pengembangan proyek pemberdayaan masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa juga mempresentasikan berbagai gagasan dan pengalaman selama mengikuti program CoE. Diskusi berlangsung interaktif dengan mengangkat berbagai isu yang dekat dengan kehidupan Generasi Z, mulai dari kesehatan mental, pemberdayaan komunitas, kepedulian sosial, hingga pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Selain menjadi ajang refleksi atas capaian program, kegiatan ini juga memperkuat jejaring antara perguruan tinggi, mitra, dan masyarakat dalam mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa. Rangkaian kegiatan diawali dengan closing ceremony, dilanjutkan talking social enterprise, penandatanganan perjanjian kerja sama dengan Vernon Edu, talk show tematik hasil magang CoE, pemutaran video, hingga pre-launch buku Life Cycle CSR yang ditulis bersama oleh mahasiswa dan mitra CoE Filantra. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya diskusi dan pertukaran gagasan selama kegiatan berlangsung. Penutupan CoE Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat Batch 3 menjadi momentum untuk menegaskan bahwa pembelajaran di perguruan tinggi tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kepedulian sosial mahasiswa. Melalui program CoE, Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM terus berkomitmen menghasilkan lulusan yang profesional, adaptif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat sesuai semangat kampus berdampak yang diusung Universitas Muhammadiyah Malang.
Gen Z Talk Social Campaign Jadi Puncak CoE Kesejahteraan Sosial UMM, Dorong Mahasiswa Jadi Agen Perubahan Sosial

Suasana kegiatan Gen Z Talk Social Campaign yang menjadi puncak penutupan Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat Batch 3 Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Nakoa Cafe, Sabtu (4/7/2026). Kegiatan ini menghadirkan diskusi interaktif tentang peran Generasi Z sebagai agen perubahan sosial melalui kolaborasi, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat. (foto: dok. Prodi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM) Reporter: harianjatim Malang-harianjatim.com. Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menegaskan komitmennya mencetak lulusan yang adaptif, profesional, dan berdaya saing melalui penutupan rangkaian Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat Batch 3. Penutupan program dikemas dalam kegiatan bertajuk “Gen Z Talk Social Campaign“ yang berlangsung di Nakoa Cafe, Sabtu (4/7/2026). Agenda tersebut tidak sekadar menjadi seremoni akhir program, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan kalangan akademisi, praktisi, mitra industri, mahasiswa, hingga masyarakat umum untuk mendiskusikan peran strategis Generasi Z dalam menjawab berbagai tantangan sosial di era digital. Kegiatan ini dihadiri Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi, Direktur CoE UMM Achmad Fauzan Hery Soegiharto, Dekan FISIP UMM Fauzik Lendriyono, Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial Hutri Agustino, mitra CoE, mahasiswa peserta Batch 3, serta berbagai undangan dari masyarakat. Dalam sambutannya, Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi menyampaikan bahwa CoE merupakan salah satu strategi Universitas Muhammadiyah Malang dalam menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan dunia kerja dan dinamika sosial yang terus berkembang. Menurutnya, pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar langsung melalui praktik, pendampingan, dan kolaborasi dengan berbagai mitra sehingga kompetensi yang diperoleh tidak berhenti pada aspek teoritis semata. Baca Juga : Lulus Disertasi Doktor Unair, Hj Lelly Kikin Nilai PBNU Mulai Melupakan Qonun Asasi NU “Program Center of Excellence menjadi bentuk komitmen universitas dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi profesional. Kolaborasi dengan berbagai mitra memberi pengalaman nyata bagi mahasiswa untuk memahami persoalan masyarakat sekaligus tantangan dunia kerja,” ujarnya. Direktur CoE UMM Achmad Fauzan Hery Soegiharto menilai penyelenggaraan CoE Batch 3 menunjukkan semakin kuatnya sinergi antara perguruan tinggi, program studi, dan mitra dalam membangun model pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman. Ia mengatakan, keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak lagi hanya diukur dari jumlah lulusan, melainkan sejauh mana lulusan tersebut mampu beradaptasi, berkolaborasi, berpikir kritis, dan menawarkan solusi atas berbagai persoalan sosial. “CoE tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja, tetapi juga individu yang memiliki kemampuan kolaboratif dan mampu menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan sosial di masyarakat,” katanya. Sementara itu, Dekan FISIP UMM Fauzik Lendriyono menjelaskan bahwa tema Gen Z Talk Social Campaign dipilih karena Generasi Z memiliki karakter yang sangat dekat dengan perkembangan teknologi digital serta memiliki potensi besar membangun gerakan sosial yang lebih kreatif, cepat, dan berdampak luas. Baca Juga : Muhammadiyah Jatim Perkuat Standar LKSA Lewat Bimtek di Jember Menurutnya, media digital seharusnya tidak hanya dimanfaatkan sebagai ruang hiburan, tetapi juga menjadi sarana membangun kepedulian sosial, menyebarkan nilai-nilai positif, serta mendorong perubahan yang memberi manfaat bagi masyarakat. “Generasi Z memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan memanfaatkan media digital untuk menyebarkan nilai-nilai positif. Harapannya, mahasiswa Kesejahteraan Sosial mampu menjadi pelopor kampanye sosial yang tidak hanya viral, tetapi juga menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat,” ungkapnya. Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM Hutri Agustino menambahkan bahwa selama mengikuti CoE Batch 3, mahasiswa memperoleh pengalaman profesional secara komprehensif melalui pelatihan, praktik lapangan, pendampingan bersama mitra, hingga penyusunan proyek pemberdayaan masyarakat. Berbagai pengalaman tersebut kemudian dipresentasikan dalam forum diskusi yang mengangkat isu-isu sosial yang dekat dengan kehidupan Generasi Z, seperti kesehatan mental, pemberdayaan komunitas, kepedulian sosial, hingga pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan. Selain diskusi, rangkaian kegiatan juga diisi dengan closing ceremony, sesi Talking Social Enterprise, penandatanganan perjanjian kerja sama dengan Vernon Edu, talk show mengenai pengalaman magang mahasiswa CoE, pemutaran video perjalanan program, hingga pre-launching buku Life Cycle CSR yang ditulis secara kolaboratif oleh mahasiswa bersama mitra CoE Filantra. Antusiasme peserta tampak dari aktifnya diskusi, pertukaran gagasan, serta berbagai pertanyaan yang muncul sepanjang kegiatan. Momentum tersebut menunjukkan bahwa ruang dialog menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran sosial sekaligus memperkuat jejaring antara perguruan tinggi, dunia industri, dan masyarakat. Melalui penyelenggaraan CoE Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat Batch 3, Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM kembali menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan prestasi akademik, tetapi juga individu yang memiliki karakter kepemimpinan, kepedulian sosial, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan menghadapi tantangan pembangunan di masa depan. Komitmen tersebut sekaligus menjadi bagian dari implementasi visi Kampus Berdampak yang diusung Universitas Muhammadiyah Malang, yakni menghadirkan pendidikan tinggi yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
Daftar sejak Season 6, Alumnus UMM Akhirnya Lolos Finalis MasterChef Indonesia di Season 13

Alfaviara Alvarizma Haris, alumnus Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berhasil menembus babak final MasterChef Indonesia Season 13. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Maghfira Alvarizma Haris, alumnus Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), membuktikan bahwa mimpi dapat diperjuangkan dengan kesabaran, kegigihan, dan keberanian untuk bangkit dari kegagalan. Berulang kali mengalami penolakan tidak membuatnya menyerah hingga akhirnya berhasil menjadi finalis MasterChef Indonesia Season 13. Kecintaannya pada dunia kuliner telah tumbuh sejak kecil. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, dia sudah menanamkan mimpi sederhana untuk bisa berdiri di galeri MasterChef sebagai peserta. “Sebenarnya aku memang dari kecil suka masak. Dari MasterChef season pertama aku masih SD, aku suka nonton. Dari situ aku berharap suatu saat aku mau ikut MasterChef,” ungkap perempuan yang akrab disapa Alfavira itu. Perjuangan Alfavira dimulai pada tahun 2019 saat masih berkuliah di UMM. Ia mulai memberanikan diri mendaftar pada Season 6, namun belum berhasil lolos ke tahap audisi. Alih-alih menyerah, ia kembali mencoba pada musim berikutnya dan kembali mengalami kegagalan. Perjalanan panjang itu justru membentuk mental pantang menyerah dalam dirinya. Hingga pada Season 13, Alfavira mendapatkan special invitation untuk mengikuti city audition di Jakarta. Kesempatan tersebut menjadi tanda bahwa perjuangannya mulai diperhitungkan. “Sampai akhirnya di 2025 aku coba daftar lagi. Waktu itu justru aku sudah tidak seambisi sebelumnya. Aku cuma berpikir, coba saja dulu. Alhamdulillah ternyata rezekinya datang, aku dapat special invitation,” tuturnya. Menariknya, saat kesempatan itu datang, Alfavira tengah disibukkan dengan kompetisi kuliner nasional The Salon Culinaire. Ia harus membagi fokus antara persiapan audisi MasterChef dan perlombaan tersebut. Di tengah padatnya aktivitas, ia berhasil meraih Silver Medal sekaligus lolos menjadi peserta MasterChef Indonesia Season 13. Namun di balik perjuangannya, Alfavira sempat mengalami masa berat dalam hidupnya. Tepat sebelum mengikuti audisi, ia harus kehilangan sosok ayah yang selama ini menjadi pendukung terbesar dalam hidupnya. Meski demikian, semangatnya tidak pernah padam untuk tetap membanggakan sang ayah. Selama menjadi mahasiswa, Alfavira aktif mengembangkan keterampilan kuliner hingga dipercaya menjadi pengajar di UMM Bakery. Ia melakukan riset dan pengembangan resep untuk diajarkan kepada karyawan maupun mahasiswa magang. Pengalaman tersebut semakin mengasah kompetensinya di dunia pastry sekaligus membangun rasa percaya diri untuk terus berkembang di industri kuliner. Kini, setelah melalui perjalanan panjang penuh kegagalan, penolakan, dan kehilangan, Alfavira berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu meraih mimpi sekaligus mengembangkan usaha bakery miliknya sendiri. Menutup kisahnya, Alfavira menyampaikan pesan sederhana bagi generasi muda yang tengah mengejar cita-cita. “Ambil setiap kesempatan yang ada. Hasilnya baru akan kita tahu setelah semuanya terjadi. Jadi jangan takut untuk mencoba,” tutupnya. (Faqih/AS)
Top 10 Perguruan Tinggi Swasta di Malang versi EduRank

ILUSTRASI: salah satu kampus swasta terbaik di Malang. (FOTO: Dok. Unmer Malang) Times Indonesia, MALANG – Perguruan tinggi swasta (PTS) di Kota Malang unjuk daya saing tingkat internasional melalui pemeringkatan EduRank 2026. Sebanyak 10 kampus swasta di Malang yang masuk dalam daftar kampus terbaik dengan indikator penilaian mencakup kinerja riset, reputasi akademik, publikasi ilmiah, hingga pengaruh alumni. Posisi pertama ditempati oleh Universitas Merdeka (UNMER) Malang sebagai kampus swasta terbaik di Malang. Kampus ini dikenal dengan kekuatan riset di bidang hukum, ekonomi, teknik, dan ilmu sosial dan berada di peringkat 4.594 dunia, 1.585 Asia, dan peringkat 71 di Indonesia menjadikannya PTS dengan posisi tertinggi di Malang dalam pemeringkatan tersebut. Di posisi kedua terdapat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kampus yang telah mengantongi akreditasi Unggul ini menempati peringkat 4.652 dunia, 1.609 Asia, dan 72 di Indonesia. UMM juga selama ini dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi swasta dengan jumlah publikasi ilmiah yang konsisten meningkat. Posisi ketiga ditempati Universitas Widyagama (UWG) Malang dengan peringkat 6.002 dunia, 2.235 Asia, dan 81 di Indonesia. Kampus ini memiliki keunggulan pada pengembangan kewirausahaan, teknik, serta kemitraan dengan dunia industri untuk mendukung pembelajaran berbasis praktik. Selanjutnya, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berada di posisi keempat dengan peringkat 7.735 dunia, 3.002 Asia, dan 117 di Indonesia. ITN dikenal sebagai salah satu kampus teknik terkemuka di Indonesia, terutama pada bidang teknik sipil, mesin, elektro, arsitektur, dan perencanaan wilayah kota. Peringkat kelima ditempati Universitas Islam Malang (UNISMA) yang berada di peringkat 7.876 dunia, 3.052 Asia, dan ke 133 di Indonesia. Kampus terakreditasi Unggul ini memiliki kekuatan pada bidang pendidikan, pertanian, kesehatan, hukum, dan studi keislaman, serta aktif mengembangkan kerja sama internasional. Di posisi keenam terdapat Universitas Gajayana (UNIGA) Malang dengan peringkat 8.897 dunia, 3.448 Asia, dan 231 di Indonesia. UNIGA unggul dalam bidang kesehatan, ekonomi, teknologi informasi, serta memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha dan industri. Advertisement Universitas Ma Chung menempati posisi ketujuh dengan peringkat 8.954 dunia, 3.473 Asia, dan 235 di Indonesia. Kampus ini memiliki reputasi kuat dalam inovasi, kewirausahaan, teknologi, dan internasionalisasi. Posisi kedelapan ditempati Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (UNIKAMA) dengan peringkat 9.022 dunia, 3.505 Asia, dan 244 di Indonesia. Kampus ini memiliki keunggulan pada bidang pendidikan keguruan, olahraga, hingga teknologi. Sementara itu, Universitas Wisnuwardhana (UNIDHA) berada di urutan kesembilan dengan peringkat 9.047 dunia, 3.519 Asia, dan 249 di Indonesia. Kampus ini dikenal mengembangkan program studi di bidang pertanian, ekonomi, hukum, teknik, dan ilmu kesehatan dengan pendekatan pembelajaran berbasis kebutuhan masyarakat. Terakhir, Universitas Katolik Widya Karya (UKWK) Malang menempati posisi kesepuluh dengan peringkat 9.127 dunia, 3.560 Asia, dan 264 di Indonesia. UKWK memiliki keunggulan pada bidang ekonomi, teknik, pertanian, serta pendidikan karakter yang menjadi ciri khas kampus. Sebagai Informasi, Pemeringkatan EduRank disusun berdasarkan sejumlah indikator, di antaranya hasil penelitian, pengaruh non akademik, serta kontribusi alumni. Peringkat tersebut ditentukan dengan menganalisis ribuan sitasi dari beberapa universitas di Malang. Hasil ini menunjukkan bahwa kampus-kampus swasta di Malang terus meningkatkan kualitas pendidikan tinggi sekaligus memperkuat daya saing di tingkat internasional melalui riset, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor. (*)
Ketika Kepercayaan Saja Tak Cukup Melindungi Karya Cipta

Oleh Moh Henryansah KLIKTIMES- Akhir Juni 2026, jagat musik Tanah Air kembali diramaikan oleh perseteruan hukum antara musisi senior Fariz RM dan penyanyi muda Syahravi. Sengketa ini bermula dari lagu “Di Antara Kata” karya Fariz RM yang dinyanyikan ulang dan dirilis sebagai single di berbagai platform digital oleh Syahravi. Fariz mengaku sempat memberi izin, namun dengan syarat royalti mechanical rights dibayarkan sesuai ketentuan yang berlaku. Ketika kewajiban itu tak kunjung dipenuhi, ia melayangkan somasi hingga akhirnya membawa persoalan ini ke jalur hukum. Sebagai balasan, Syahravi justru melaporkan balik Fariz RM ke Polda Metro Jaya dengan tuduhan pencemaran nama baik pada 23 Juni 2026, sebagaimana diberitakan Kompas.com pada 30 Juni 2026. Di balik hiruk-pikuk pemberitaannya, kasus ini sebenarnya menyingkap persoalan klasik yang terus berulang di industri kreatif Indonesia: lemahnya kepastian hukum atas izin penggunaan karya cipta. Kuasa hukum Fariz RM menegaskan bahwa izin lisan atau sekadar pertemuan baik-baik antara pencipta dan pengguna karya tidak bisa dianggap sebagai bentuk persetujuan yang sah secara hukum. Dalam dunia musik profesional, izin pemanfaatan sebuah ciptaan semestinya dibuktikan secara tertulis dan mencantumkan dengan jelas siapa pihak yang diberi izin. Ironisnya, praktik izin “asal setuju” semacam ini masih sangat lazim, terutama di kalangan kreator konten digital dan musisi baru yang ingin membawakan ulang karya orang lain tanpa memahami konsekuensi hukumnya. Persoalan serupa juga baru saja ditegaskan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum. Awal Juni 2026, Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Hermansyah Siregar mengingatkan bahwa memodifikasi sebuah ciptaan—baik lagu, lukisan, maupun karya visual lain—tanpa izin dari pencipta atau ahli warisnya sudah termasuk pelanggaran hak cipta, mengingat masa pelindungannya berlaku seumur hidup pencipta ditambah 70 tahun. Pernyataan itu muncul di tengah tren media sosial yang marak memperjualbelikan karya hasil modifikasi dari lukisan atau karya visual yang sudah ada sebelumnya, tanpa mempertimbangkan status hukum karya asalnya. Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh bersama kemudahan mengunggah konten, saya melihat kasus Fariz RM dan Syahravi sebagai peringatan penting. Kemudahan membuat cover, remix, atau adaptasi digital sering membuat kita lupa bahwa di balik sebuah karya selalu ada hak ekonomi dan hak moral pencipta yang harus dihormati. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta sesungguhnya sudah cukup jelas mengatur hal ini, namun implementasinya di lapangan masih jauh dari ideal. Banyak kreator, terutama generasi muda, menganggap sekadar mencantumkan nama pencipta asli sudah cukup, padahal secara hukum hal itu belum tentu setara dengan izin komersial yang sah. Kondisi ini diperparah oleh minimnya budaya dokumentasi tertulis dalam relasi kerja kreatif di Indonesia: izin yang hanya disampaikan lewat obrolan santai, atau bahkan pujian sekilas terhadap sebuah karya, kerap disalahartikan sebagai persetujuan penuh. Kasus ini seharusnya menjadi momentum bagi ekosistem kreatif Indonesia untuk mulai membiasakan diri dengan kontrak dan izin tertulis, sesederhana apa pun bentuknya. DJKI sendiri telah mempermudah proses pencatatan karya cipta melalui sistem elektronik e-HakCipta, yang bisa menjadi alat bukti kuat apabila suatu hari terjadi sengketa. Pencatatan ini tidak menghilangkan sifat otomatis perlindungan hak cipta sejak karya diciptakan, tetapi memberi kepastian hukum tambahan yang sangat berharga ketika konflik tak terhindarkan. Pada akhirnya, penghormatan terhadap hak cipta bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan, melainkan bentuk penghargaan terhadap proses kreatif, waktu, dan gagasan yang dicurahkan seorang pencipta. Sengketa Fariz RM dan Syahravi mengingatkan kita bahwa kepercayaan semata tidak pernah cukup dalam relasi kerja kreatif. Selama budaya izin tertulis belum menjadi kebiasaan, kasus-kasus serupa akan terus bermunculan, merugikan pencipta sekaligus mencoreng nama baik kreator yang sebenarnya ingin berkarya dengan itikad baik. Moh Henryansah mahasiswa Program Studi (PS) Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Nim: 202310040311145