Memuliakan Dosen, Membangun Peradaban: Refleksi Islam Berkemajuan atas Keadilan Pengupahan di Perguruan Tinggi

Penulis: Mohd. Agoes Aufiya. *) MAKLUMAT — Ramainya pemberitaan mengenai seorang dosen non-ASN bergelar doktor yang telah mengabdi bertahun-tahun namun menerima gaji pokok sekitar Rp2,6 juta per bulan telah memantik keprihatinan publik. Banyak yang memandang persoalan ini sebagai isu kesejahteraan tenaga pendidik. Namun, jika dicermati lebih mendalam, persoalan sesungguhnya jauh melampaui angka dalam slip gaji. Kasus tersebut mengungkap sebuah persoalan yang lebih mendasar, yaitu belum kokohnya budaya kelembagaan yang memandang dosen sebagai aset intelektual dan investasi peradaban. Inilah persoalan yang patut menjadi bahan refleksi bersama. Masalah utama pendidikan tinggi Indonesia bukan semata kekurangan anggaran atau rendahnya gaji dosen, melainkan belum terbangunnya sistem kelembagaan yang menempatkan kesejahteraan dosen sebagai bagian dari pembangunan ilmu pengetahuan. Selama dosen diposisikan sebagai beban biaya operasional, bukan sebagai modal intelektual bangsa, maka cita-cita Indonesia menjadi negara maju akan selalu menghadapi paradoks. Menjadi seorang doktor bukanlah perjalanan yang sederhana. Di balik gelar akademik terdapat proses panjang yang menuntut pengorbanan finansial, intelektual, emosional, bahkan keluarga. Bertahun-tahun belajar, melakukan riset, menulis disertasi, mengikuti seminar ilmiah, hingga menghasilkan pengetahuan baru merupakan investasi besar yang dilakukan seseorang demi kemajuan ilmu dan masyarakat. Ironisnya, pengorbanan tersebut dalam banyak kasus belum memperoleh penghargaan yang sepadan melalui sistem kelembagaan yang adil. Padahal Islam sejak awal telah menempatkan ilmu dan para pencarinya pada posisi yang sangat mulia. Al-Qur’an meninggikan derajat orang-orang yang berilmu, sementara Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya memberikan hak pekerja secara adil. Nilai tersebut tidak hanya bermakna membayar upah tepat waktu, tetapi juga memastikan bahwa penghargaan terhadap kerja manusia mencerminkan prinsip keadilan (‘adl), kemaslahatan (maslahah), dan penghormatan terhadap martabat manusia (karamah al-insan). Ketika seseorang yang telah mengabdikan dirinya bagi pendidikan justru hidup dalam ketidakpastian ekonomi, maka yang perlu dipertanyakan bukan sekadar kebijakan penggajian, melainkan orientasi sistem yang melahirkannya. Baca Juga  Jeda Ramadan: Nuzulul Qur’an Dalam perspektif Islam Berkemajuan, kemajuan tidak hanya diukur melalui pembangunan fisik, peningkatan jumlah mahasiswa, atau capaian pemeringkatan internasional. Kemajuan juga harus tercermin dalam kualitas tata kelola institusi. Sebuah lembaga pendidikan disebut maju apabila mampu menghadirkan keadilan, profesionalisme, transparansi, dan penghormatan terhadap sumber daya manusianya. Gedung yang megah akan kehilangan makna apabila orang-orang yang menghidupkan institusi justru mengalami ketidakadilan. Karena itu, momentum ini hendaknya tidak diarahkan untuk menyalahkan satu perguruan tinggi tertentu. Persoalan serupa dapat ditemukan, dalam kadar yang berbeda, di berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta. Bahkan refleksi ini juga penting diarahkan kepada seluruh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan. Sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang mengusung Islam Berkemajuan, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi pelopor tata kelola pendidikan yang profesional sekaligus berkeadilan. Muhasabah kelembagaan bukanlah bentuk kelemahan, melainkan ciri organisasi yang sehat dan terus memperbaiki diri. Profesionalisme dalam Islam selalu berjalan berdampingan dengan keadilan. Dosen memang dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi, menghasilkan publikasi ilmiah, melakukan pengabdian kepada masyarakat, membimbing mahasiswa, dan menjaga integritas akademik. Akan tetapi, institusi juga memikul amanah yang sama besar, yakni menyediakan sistem penghargaan yang layak, transparan, dan proporsional terhadap kontribusi yang diberikan. Menuntut profesionalisme tanpa menghadirkan keadilan merupakan kontradiksi yang pada akhirnya akan melemahkan kualitas pendidikan itu sendiri. Oleh sebab itu, reformasi sistem pengupahan dosen perlu dipahami sebagai bagian dari reformasi kelembagaan, bukan semata persoalan kenaikan gaji. Perguruan tinggi perlu membangun sistem remunerasi yang berbasis kompetensi, produktivitas, masa pengabdian, dan kontribusi nyata terhadap pengembangan institusi. Pemerintah pun perlu memperkuat keberpihakan terhadap pendidikan tinggi melalui kebijakan pendanaan yang memungkinkan perguruan tinggi menjaga keseimbangan antara keberlanjutan institusi dan kesejahteraan tenaga akademiknya. Muhammadiyah dapat mengambil peran strategis dengan menghadirkan model tata kelola pendidikan tinggi yang menjadi rujukan nasional. Islam Berkemajuan tidak cukup diwujudkan dalam wacana, tetapi harus tampak dalam praktik kelembagaan yang menjunjung keadilan, akuntabilitas, dan penghargaan terhadap ilmu. Perguruan Tinggi Muhammadiyah memiliki peluang besar menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam mampu melahirkan sistem manajemen modern yang berorientasi pada kemaslahatan manusia. Islam Berkemajuan mengajarkan bahwa kemajuan tidak pernah dibangun di atas ketidakadilan. Sebaliknya, kemajuan lahir ketika ilmu dimuliakan, manusia dihargai, dan amanah dikelola secara profesional. Karena itu, sudah saatnya kita menggeser cara pandang terhadap dosen: dari sekadar tenaga kerja menjadi penjaga peradaban; dari biaya operasional menjadi investasi intelektual; dari objek efisiensi menjadi subjek utama pembangunan bangsa. Baca Juga  Saat Komunikasi Krisis Kalah Cepat dari Jari Netizen Pada akhirnya, jika perguruan tinggi ingin melahirkan generasi unggul, maka langkah pertama bukanlah sekadar membangun gedung yang lebih megah atau mengejar peringkat yang lebih tinggi. Langkah pertama adalah memastikan bahwa mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk mengajar, meneliti, dan mengabdi memperoleh penghormatan yang layak. Sebab di tangan para dosenlah masa depan bangsa sedang dibentuk setiap hari. Memuliakan mereka bukanlah kemurahan hati sebuah institusi, melainkan wujud keadilan yang menjadi fondasi bagi lahirnya peradaban yang berkemajuan. Tidak ada peradaban besar yang dibangun di atas ketidakadilan terhadap pendidiknya. Menghargai dosen bukanlah sekadar memenuhi hak individu, melainkan investasi jangka panjang bagi lahirnya generasi unggul, berkembangnya ilmu pengetahuan, dan kokohnya masa depan bangsa.*** *) Penulis: Mohd. Agoes Aufiya Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM); Ketua PCIM India 2020-2022

UMM Tutup CoE Batch 3 Kesejahteraan Sosial Lewat Gen Z Talk Social Campaign

Suasana acara Gen Z Talk Social Campaign yang diadakan oleh Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM. Foto: Dok. UMM MAKLUMAT — Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menutup rangkaian Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat Batch 3 melalui kegiatan bertajuk Gen Z Talk Social Campaign di Nakoa Cafe, Malang, Sabtu (4/7/2026). Kegiatan ini menjadi penutup proses pembelajaran yang selama beberapa bulan membekali mahasiswa dengan pengalaman praktik pemberdayaan masyarakat. Sejumlah pimpinan universitas, dosen, mitra CoE, mahasiswa, hingga masyarakat umum hadir dalam kegiatan tersebut. “Program CoE menjadi salah satu bentuk komitmen UMM dalam mempersiapkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik sekaligus keterampilan profesional,” kata Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi. Selama kegiatan berlangsung, peserta tidak hanya mengikuti seremoni penutupan. Forum itu juga menjadi ruang diskusi yang mempertemukan akademisi, praktisi, mitra, dan mahasiswa untuk membahas peran Generasi Z dalam menjawab berbagai persoalan sosial. Salis menyebut bahwa kolaborasi bersama mitra akan memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa untuk memahami dinamika masyarakat dan tantangan di dunia kerja. Melalui pendekatan berbasis praktik, mahasiswa didorong mengembangkan kemampuan bekerja sama sekaligus merancang solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Sementara itu, Direktur CoE UMM Achmad Fauzan Hery Soegiharto menilai penyelenggaraan Batch 3 menunjukkan sinergi yang semakin kuat antara universitas, program studi, dan mitra. Baca Juga  Wujudkan Agrowisata Mandiri, UMM Kembangkan Teknologi Budidaya Pisang dan Melon di Desa Sumbergedang “CoE tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga melahirkan individu yang memiliki kemampuan berkolaborasi, berpikir kritis, dan mampu memberikan solusi terhadap persoalan sosial di masyarakat,” ujarnya. Tema Gen Z Talk Social Campaign dipilih karena dinilai dekat dengan karakter Generasi Z yang akrab dengan teknologi digital. Senada, Dekan FISIP UMM Fauzik Lendriyono mengatakan mahasiswa memiliki peluang besar memanfaatkan media digital untuk menggerakkan kampanye sosial yang membawa manfaat bagi masyarakat, bukan sekadar menarik perhatian di ruang digital. Selama mengikuti CoE Batch 3, mahasiswa juga menjalani pendampingan bersama mitra, mengikuti pelatihan, praktik lapangan, hingga menyusun proyek pemberdayaan masyarakat. Dalam kegiatan penutupan, mereka mempresentasikan pengalaman dan gagasan yang lahir selama program berlangsung. Diskusi mengangkat berbagai isu yang dekat dengan kehidupan Generasi Z, seperti kesehatan mental, pemberdayaan komunitas, kepedulian sosial, dan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Rangkaian acara diawali dengan closing ceremony, dilanjutkan sesi Talking Social Enterprise yang disertai penandatanganan kerja sama dengan Vernon Edu. Kegiatan kemudian berlanjut dengan talk show hasil magang CoE, pemutaran video, hingga prapeluncuran buku Life Cycle CSR yang ditulis bersama mahasiswa dan mitra CoE Filantra. Baca Juga  Haedar Nashir Resmikan MentariMu Mart di UMM, Simbol Baru Dakwah Ekonomi Muhammadiyah Forum itu sekaligus memperkuat jejaring antara perguruan tinggi, mitra, dan masyarakat dalam mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa. “Harapannya, mahasiswa Kesejahteraan Sosial mampu menjadi pelopor kampanye sosial yang tidak hanya viral, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” jelas Fauzik. *) Penulis: M Habib Muzaki

UMM Resmikan Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora, Dorong Transformasi Akademik dan Lulusan Adaptif

Indonesiandaily.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meresmikan Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH). Hal ini sebagai langkah strategis memperkuat integrasi pendidikan, sains, dan humaniora dalam menjawab tantangan zaman. Dekan FPSH Prof Dr Mahfud Effendi MM menegaskan, pembentukan fakultas baru tersebut bukan sekadar pergantian nama kelembagaan, melainkan arah baru pengembangan akademik di UMM. “Pendidikan sains dan humaniora bukan sekadar kebutuhan administrasi atau identitas kelembagaan, tetapi merupakan pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita,” ungkap Prof Mahfud, Senin (06/07). Hadirkan Ruang Akademik Lebih Terbuka Dekan satu ini menyampaikan pula, lahirnya FPSH adalah ikhtiar menghadirkan ruang akademik yang lebih terbuka, kolaboratif, dan adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Menurutnya, pendidikan, sains, dan humaniora merupakan tiga pilar yang saling melengkapi. Sains mendorong inovasi, pendidikan membentuk karakter, sementara humaniora memastikan kemajuan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. “Pemajuan teknologi tanpa nilai kemanusiaan dapat kehilangan arah. Sebaliknya, nilai kemanusiaan tanpa dukungan ilmu pengetahuan akan sulit menjawab kompleksitas tantangan zaman,” katanya. Rektor Tekankan Perubahan Harus Diikuti Transformasi Pada kesempatan yang sama, Rektor UMM Prof Dr Nazarudin Malik SE MSi mengingatkan bahwa perubahan nama fakultas harus diikuti transformasi budaya akademik, sistem pembelajaran, dan pola pikir sivitas akademika. “Jangan sekadar mengubah papan nama. Secara substantif harus terjadi perubahan yang gradual dan memberikan dampak yang signifikan,” tegasnya. Prof Nazarudin, mencontohkan pengalamannya saat mengubah Fakultas Ekonomi menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) pada 2009–2010 sebagai respons terhadap perubahan global pascakrisis ekonomi 2008. Menurutnya, tujuan utama perubahan tersebut adalah membangun ekosistem yang melahirkan sumber daya manusia yang agile dan adaptif. Ia juga mendorong seluruh fakultas di UMM memperkuat kolaborasi lintas disiplin sertaa menyelenggarakan mata kuliah dasar Kemuhammadiyahan, pendidikan bahasa, pemrograman Python, kewirausahaan, dan penguatan karakter. “Semua mahasiswa UMM harus mendapatkan pendidikan bahasa, dasar programming Python, entrepreneur, dan pembentukan kepribadian secara serius sebagai bagian dari kaderisasi universitas,” pungkasnya.

Kata Makian Itu Keluar Lagi dari Presiden

Presiden Prabowo Subianto saat pidato acara Pekan Nasional Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, 24 Juni 2026. Kata makian ndasmu kembali diucapkan presien. Bahasa seseorang ketika berbicara sering kali menunjukkan cara ia berpikir dan memimpin. Oleh Nurudin, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Penulis buku Agama Saya adalah Uang. Tagar.co – Kata makian ndasmu keluar lagi dari mulut Presiden Prabowo Subianto saat pidato acara Pekan Nasional Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, 24 Juni 2026. Kata makian itu langsung viral lagi. Di forum itu Presiden Prabowo sedang berbicara tentang kesejahteraan petani dan pentingnya kejujuran. Namun satu kata tersebut justru membuat isi pidatonya langsung terlupakan. Potongannya makian di akhir pidato itu beredar di media sosial. Sempat menjadi meme dan bahan cibiran. Bahkan kembali memancing perdebatan soal gaya komunikasi seorang presiden. Prabowo kemudian meminta maaf. Ia bahkan sempat berseloroh agar bagian itu dihapus karena khawatir kembali viral. Tetapi seperti yang sering terjadi di era digital, sesuatu yang sudah telanjur tersebar sulit untuk ditarik kembali. Sebenarnya ini bukan kali pertama. Pada Februari 2025, saat HUT Partai Gerindra, Prabowo juga pernah mengucapkan makian ndasmu ketika membantah tudingan bahwa dirinya hanyalah boneka Presiden Joko Widodo. Maksudnya mungkin ingin menunjukkan kekesalan dengan bergurau. Namun yang tersisa dalam ingatan publik justru satu kata itu. Begitulah dunia sekarang. Kadang satu kalimat lebih diingat daripada pidato selama satu jam. Bagi masyarakat Jawa, kata ndas artinya kepala. Sementara ndasmu berarti kepalamu. Dalam percakapan sehari-hari, kata ini memang cukup lazim. Biasanya keluar ketika seseorang sedang kesal, jengkel, atau ingin memotong pembicaraan yang dianggap tidak masuk akal. Kalau diucapkan antarteman, mungkin selesai dengan tawa. Tetapi kalau yang mengucapkan adalah seorang presiden, ceritanya menjadi berbeda. Sebab setiap kata presiden memiliki makna. Pesannya bukan sekadar suara. Melainkan pesan yang didengar jutaan orang. Pasti disorot karena ia public figure. Presiden Juga Manusia Memang presiden juga manusia biasa. Bisa marah, kecewa. Mungkin juga tersinggung. Itu wajar. Namun jabatan membuat standar terhadap dirinya menjadi berbeda. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawab menjaga ucapannya. Tidak heran jika ucapan ndasmu justru membuat kritik yang ingin dibantah semakin ramai diperbincangkan. Sebelum kata itu keluar, isu tentang boneka Jokowi hanya menjadi bahan debat politik. Setelah diucapkan, topik tersebut justru semakin viral. Media memberitakan. Netizen mengomentari. Algoritma media pun sosial ikut bekerja mempopulerkan. Di era digital, perhatian publik sering kali tidak mengikuti apa yang ingin disampaikan pembicara. Yang viral justru bagian yang paling emosional. Bahasa Pemimpin Jadi Cermin Bahasa bukan sekadar kumpulan kata. Cara seseorang berbicara sering kali menunjukkan cara ia berpikir dan memimpin. Pemimpin yang tenang biasanya menjawab kritik dengan argumentasi berdasar data.  Bukan dengan sindiran atau umpatan. Baca Juga:  Lawatan ke Luar Negeri, Keresahan di Dalam Negeri Sejarah menunjukkan banyak pemimpin dikenang bukan hanya karena kebijakannya. Kata-katanya juga akan diingat. Misalnya, ada pidato yang mampu menyatukan bangsa. Ada kalimat yang membangkitkan harapan. Sebaliknya, ada pula ucapan yang terus diingat karena memicu kontroversi. Indonesia saat ini menghadapi banyak pekerjaan rumah. Harga kebutuhan pokok masih menjadi perhatian. Lapangan kerja harus terus dibuka. Pertumbuhan ekonomi perlu dijaga. Program-program pemerintah juga membutuhkan dukungan masyarakat agar berhasil. Di tengah situasi seperti itu, rakyat lebih membutuhkan penjelasan daripada ledakan emosi. Pembisik yang Jujur Ucapan seorang presiden tidak muncul begitu saja. Di baliknya ada informasi yang diterima setiap hari. Oleh karena itu, kualitas orang-orang di sekeliling presiden sangat menentukan. Presiden membutuhkan menteri yang berani menyampaikan fakta, bukan sekadar kabar yang menyenangkan. Membutuhkan penasihat yang mampu mengatakan, “Pak, data di lapangan tidak seperti itu.” Masalah terbesar dalam sebuah pemerintahan sering kali bukan kurangnya informasi. Justru terlalu banyak informasi yang sudah disaring agar terdengar indah. Biar semua tampak baik-baik saja. Semua laporan dibuat positif. Misalnya, semua target disebut tercapai. Padahal rakyat merasakan cerita yang berbeda. Contohnya begini. Harga naik, rakyat yang membeli. Pekerjaan sulit, rakyat yang mencari. Pelayanan birokrasi lambat, rakyat yang mengantre. Oleh karena itu, kritik sebenarnya bukan musuh pemerintah. Kritik adalah alarm. Ia memberi tahu bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki sebelum menjadi masalah yang lebih besar. Jadi, tidak semua kritik harus dibalas. Tak semua komentar harus dilawan. Kadang jawaban terbaik adalah hasil kerja. Kadang cukup dengan data atau bahkan sekadar senyuman. Dalam politik modern, komunikasi sama pentingnya dengan kebijakan. Program yang bagus bisa kehilangan dukungan jika dijelaskan dengan cara yang salah. Sebaliknya, kebijakan yang berat sering kali tetap diterima jika masyarakat merasa diajak memahami alasannya. Pada akhirnya, rakyat tidak hanya menilai apa yang dilakukan seorang presiden. Mereka juga mengingat bagaimana seorang presiden berbicara. Satu kata mungkin hanya terdengar beberapa detik. Namun,  dampaknya bisa bertahan bertahun-tahun. Nah, ucapan ndasmu mungkin lahir dari emosi sesaat. Namun ketika keluar dari mulut seorang presiden, ia tidak lagi menjadi urusan pribadi. Ia berubah menjadi pesan politik yang ditafsirkan jutaan orang. Maka dari itu, kepemimpinan tidak hanya soal berani mengambil keputusan. Kepemimpinan juga tentang mampu mengendalikan emosi, menerima kritik, dan memilih kata yang membangun kepercayaan. Pada akhirnya, rakyat memang melihat tindakan seorang pemimpin. Tetapi ingat, ucapan bisa akan diingat dalam waktu lama (#). Penyunting Sugeng Purwanto

Mahasiswa UMM Ciptakan ‘Galorfeed’, Pakan Alami Solusi Telur Pucat dan Cangkang Rapuh

Naufal Atthoriq bersama tim nya dari  Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menciptakan inovasi pakan ayam petelur bernama Galorfeed ​MALANG| JATIMSATUNEWS.COM: Mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menciptakan inovasi pakan ayam petelur bernama Galorfeed. Pakan alami berbahan dasar bawang putih dan daun kelor ini hadir sebagai solusi strategis untuk mengatasi masalah kuning telur pucat, cangkang rapuh, serta menekan ketergantungan peternak pada obat kimia. ​Perwakilan tim mahasiswa, Naufal Atthoriq, mengungkapkan bahwa penggunaan bahan kimia jangka panjang memicu residu berbahaya yang menurunkan kualitas telur. Berangkat dari masalah tersebut, timnya memformulasikan pakan mash (racikan halus) yang lebih sehat. ​”Galorfeed memadukan allicin dari bawang putih sebagai antibiotik alami dan penambah nafsu makan, serta daun kelor sebagai sumber protein dan antioksidan,” jelas Naufal, Jumat (03/07/2026). ​Khasiat pakan ini telah dibuktikan lewat uji coba intensif selama sepuluh hari. Hasilnya, ayam yang mengonsumsi Galorfeed memproduksi kuning telur yang jauh lebih pekat, cangkang yang lebih keras, dan lebih kebal terhadap penyakit. ​Saat ini, inovasi tersebut telah diterapkan dengan sukses pada peternakan skala rumahan di kawasan Jombang. Pakan organik ini juga siap dipasarkan dengan harga yang sangat kompetitif, yakni Rp8.000 per kilogram. Naufal dan ketujuh rekannya bertekad untuk segera melakukan komersialisasi massal produk ini. ​ Produk inovasi pakan ayam petelur bernama Galorfeed  Inovasi aplikatif yang lahir dari mata kuliah Pakan dan Teknologi Pakan ini mendapat apresiasi tinggi dari dosen pengampu sekaligus pendamping, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., IPU. Menurutnya, produk ini sukses menekan biaya produksi sekaligus memecahkan masalah riil di lapangan. ​”Ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UMM mampu menerjemahkan teori di kelas menjadi produk solutif yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya peternak ayam petelur,” puji Prof. Indah. ​Ke depannya, Galorfeed diharapkan dapat diproduksi secara massal untuk mendongkrak kesejahteraan pelaku UMKM peternakan, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional yang lebih sehat dan aman.

Mahasiswa Beranilah Jadi ExportPreneur: EP UMM Gandeng Bea Cukai Jatim II

Malang Post – Guna mencetak eksportir muda yang kompeten dan siap menghadapi tantangan ekonomi global, Program Studi Ekonomi Pembangunan (EP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kuliah tamu strategis bertajuk “From Campus to Global Market: Be The Next Smart Exporter”. Bertempat di Aula BAU UMM, kegiatan ini secara khusus menggandeng Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Jawa Timur II guna membedah detail regulasi kepabeanan sekaligus menanamkan motivasi berbisnis lintas negara. Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur II, Muhamad Lukman, memaparkan secara komprehensif terkait ekosistem ekspor bagi pemula. Ia mengurai mulai dari syarat dasar, proses kepabeanan, pengelompokan komoditas, hingga sistem transportasi. Lukman juga mengingatkan mahasiswa tentang pentingnya mengetahui larangan dalam ekspor, serta aturan komoditas yang dikenakan biaya sesuai regulasi PMK No. 39/PMK.001/2022. Ia menilai pemahaman dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) mutlak diperlukan oleh calon eksportir. “Proses ekspor itu sebenarnya sangat terstruktur dan mudah diakses jika pengusaha sudah memahami alur birokrasi dan legalitas dasarnya,” “Kalian jangan pernah takut berurusan dengan kepabeanan. Karena pemerintah saat ini justru memberikan banyak fasilitas pendampingan guna mendongkrak volume ekspor nasional,” tegasnya kemarin. Sejalan dengan paparan regulasi tersebut, praktisi UMKM Ekspor Binaan Bea Cukai, Anggri Sartika Wiguna, membagikan pengalaman langsung di lapangan. Ia menjelaskan strategi teknis mengawali ekspor barang yang wajib memenuhi standar mutu internasional dari negara tujuan. Ia menyarankan mahasiswa untuk aktif membangun kemitraan strategis dengan instansi pemerintah serta memperluas jaringan melalui perguruan tinggi. “Sebagai pemula atau exportpreneur, kalian harus sangat jeli melihat celah peluang dan disiplin menjaga standar mutu produk di pasar global,” “Manfaatkan jejaring yang sudah disediakan oleh pihak kampus dan jadikan lembaga pemerintah sebagai mitra strategis untuk memperlancar perizinan, bukan dianggap sebagai hambatan bisnis,” ujarnya. Melalui giat ini, mahasiswa diharapkan tidak sekadar lulus sebagai pengamat ekonomi. Lebih dari itu, mereka diharapkan mampu mengambil langkah nyata untuk merintis usaha dan menjadi exportpreneur yang tangguh. Kolaborasi harmonis antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah ini diproyeksikan menjadi bekal berharga bagi generasi muda UMM untuk membawa produk lokal bersaing di kancah internasional. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Galorfeed Karya Mahasiswa UMM: Pakan Alami Solusi Telur Pucat dan Cangkang Rapuh

MALANG POST – Mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2024 berhasil menciptakan Galorfeed, pakan alami ayam petelur berbahan dasar bawang putih dan daun kelor. Inovasi ini hadir sebagai solusi strategis untuk menekan penggunaan obat kimia di peternakan yang selama ini memicu residu berbahaya dan menurunkan kualitas hasil panen unggas. Perwakilan tim, Naufal Atthoriq, menjelaskan bahwa penciptaan pakan alami ini berawal dari keprihatinannya melihat tingginya ketergantungan peternak pada obat kimia demi memacu produksi harian. Padahal, penggunaan bahan kimia dalam jangka panjang sangat berdampak buruk pada kualitas telur yang dihasilkan dan kurang sehat untuk konsumsi manusia. “Masalah krusial yang sering kami temui di berbagai peternakan adalah masifnya penggunaan obat kimia yang justru berimbas pada kualitas telur kurang baik, seperti kuningnya yang terlalu pucat serta cangkang yang sangat mudah rapuh,” ungkapnya pada 3 Juli lalu kepada Humas UMM. Lebih lanjut, Naufal menguraikan bahwa formulasi mash (racikan halus) Galorfeed memadukan allicin dari bawang putih sebagai antibiotik alami penambah nafsu makan, serta daun kelor sebagai sumber protein dan antioksidan. Formulasi khusus yang dirancang untuk kebutuhan ayam petelur ini terbukti sukses meningkatkan kualitas ternak secara signifikan dalam waktu yang relatif singkat. “Melalui uji coba intensif pada sepuluh ekor ayam selama sepuluh hari, ayam yang mengonsumsi Galorfeed terbukti menghasilkan kuning telur yang jauh lebih pekat, cangkang telur yang lebih keras, dan terhindar dari paparan penyakit dibandingkan sepuluh ekor ayam lain yang tidak menggunakan pakan kami,” urainya. Saat ini, Galorfeed telah sukses diterapkan pada peternakan skala rumahan di kawasan Jombang dan siap dipasarkan dengan harga kompetitif Rp8.000 per kilogram. Keberhasilan ini membuat Naufal dan tujuh rekan timnya bertekad membawa produk ini menuju komersialisasi massal, sekaligus mendorong mahasiswa lain untuk berani berinovasi. “Ekosistem pembelajaran Kampus Putih UMM sangat seru dan suportif untuk berkarya. Pesan saya kepada seluruh mahasiswa lainnya adalah jangan pernah takut gagal, karena kegagalan itu sendiri adalah langkah awal menuju sebuah keberhasilan yang nyata,” tegasnya. Inovasi yang lahir dari mata kuliah Pakan dan Teknologi Pakan ini pun mendapat respons positif dari kalangan akademisi. Dosen pengampu mata kuliah sekaligus pendamping, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., IPU., mengapresiasi terobosan yang dilakukan oleh mahasiswanya. Ia menilai bahwa produk ini tidak hanya mampu menekan biaya produksi, tetapi juga membuktikan kualitas riset mahasiswa yang aplikatif untuk menyelesaikan masalah di lapangan. “Saya sangat mengapresiasi dan bangga atas inisiatif para mahasiswa. Galorfeed menjadi salah satu bukti nyata bahwa mahasiswa UMM mampu menerjemahkan teori di kelas menjadi produk solutif yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya bagi para peternak ayam petelur,” puji Indah. Inovasi Galorfeed ini menegaskan komitmen Kampus Putih dalam melahirkan generasi unggul yang peka terhadap masalah sosial dan lingkungan. Ke depannya, inovasi pakan organik ini diharapkan dapat segera diproduksi secara massal untuk mendongkrak keuntungan para pelaku UMKM peternakan, sekaligus mewujudkan ketahanan pangan nasional yang lebih sehat, aman, dan berdaya saing tinggi. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Mahasiswa UMM Ciptakan Galorfeed, Pakan Alami Tingkatkan Kualitas Telur Ayam Petelur

  Mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2024 berhasil mengembangkan Galorfeed, pakan alami ayam petelur berbahan dasar bawang putih dan daun kelor.(Ist) Malangpariwara.com – Mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2024 berhasil mengembangkan Galorfeed, pakan alami ayam petelur berbahan dasar bawang putih dan daun kelor. Inovasi ini menawarkan solusi untuk mengurangi ketergantungan peternak terhadap obat kimia sekaligus meningkatkan kualitas telur yang dihasilkan. Perwakilan tim pengembang, Naufal Atthoriq, mengatakan ide tersebut muncul dari keprihatinannya terhadap tingginya penggunaan obat kimia di peternakan ayam petelur. Menurutnya, penggunaan bahan kimia secara berlebihan berpotensi meninggalkan residu serta berdampak pada kualitas telur yang dikonsumsi masyarakat. “Permasalahan yang sering kami temui di lapangan adalah penggunaan obat kimia yang berlebihan. Dampaknya terlihat pada kualitas telur, seperti warna kuning telur yang pucat dan cangkang yang mudah rapuh,” ujarnya, seperti disampaikan kepada Humas UMM, 3 Juli 2026. Galorfeed diformulasikan dalam bentuk mash dengan memadukan kandungan allicin dari bawang putih sebagai antibiotik alami yang membantu meningkatkan nafsu makan ayam, serta daun kelor yang kaya protein dan antioksidan. Kombinasi tersebut dirancang untuk mendukung kesehatan sekaligus produktivitas ayam petelur. Dalam uji coba terhadap 20 ekor ayam selama 10 hari, sebanyak 10 ekor diberi Galorfeed, sedangkan 10 ekor lainnya menggunakan pakan biasa sebagai pembanding. Hasilnya, ayam yang mengonsumsi Galorfeed menghasilkan telur dengan kuning yang lebih pekat, cangkang lebih kuat, serta memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik terhadap penyakit. Saat ini, Galorfeed telah diterapkan pada peternakan skala rumahan di Jombang dan dipasarkan dengan harga sekitar Rp8.000 per kilogram. Bersama tujuh rekannya, Naufal menargetkan produk tersebut dapat diproduksi secara lebih luas sehingga mampu menjangkau lebih banyak peternak. Menurutnya, lingkungan akademik UMM memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berinovasi dan mengembangkan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat. “Jangan pernah takut gagal. Kegagalan merupakan bagian dari proses menuju keberhasilan,” katanya. Inovasi yang lahir dari mata kuliah Pakan dan Teknologi Pakan itu mendapat apresiasi dari dosen pendamping, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., IPU. Ia menilai Galorfeed merupakan bukti bahwa hasil pembelajaran di kampus mampu diterjemahkan menjadi produk yang aplikatif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Saya bangga dengan inisiatif para mahasiswa. Galorfeed membuktikan bahwa mahasiswa UMM mampu mengembangkan inovasi yang tidak hanya berbasis riset, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan para peternak ayam petelur,” ujarnya. Selain meningkatkan kualitas hasil ternak, Galorfeed juga dinilai berpotensi membantu menekan biaya produksi peternak melalui penggunaan bahan alami yang mudah diperoleh. Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat diproduksi secara massal sebagai alternatif pakan yang lebih sehat, ramah lingkungan, serta mendukung ketahanan pangan nasional.(Djoko W)