Bidang Keguruan Sepi Peminat, UMM Ubah Nama Fakultasnya

Rektor UMM saat peluncuran perubahan nama fakultas (Foto: Aris/jatimnow.com) jatimnow.com – Minimnya minat generasi muda kuliah ke bidang keguruan menjadikan Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) mengubah salah nama salah satu fakultasnya. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang sebelumnya sudah ada diubah namanya menjadi Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora (FPSH), seiring pembukaan pendaftaran tahun akademik mahasiswa baru 2026 – 2027. Dekan FPSH Prof. Moh. Mahfud Effendy menuturkan, perubahan nama fakultas itu menjadi bagian adaptasi dari seiring tantangan zaman. Diakuinya ada peminatan perkuliahan yang tidak sesuai dengan keinginan generasi muda saat ini, utamanya Gen Alpha yang akan masuk di bangku perkuliahan. “Kita kan merespon perkembangan zaman, kita tidak bisa bertahan di zamannya sekarang, DNA kita mencoba memperluas, karena kebermanfaatan dari misi matematik itu kan banyak,” ujar Moh. Mahfud Effendy, saat peluncuran pergantian nama baru di UMM, Senin (6/7/2026). Mahfud mengakui, beberapa pertimbangan mengganti nama fakultas yang lama menjadi lebih kekinian. Selain karena permintaan generasi muda, peminatan calon – calon mahasiswa dari siswa SMA ke bidang keguruan yang menurun jadi pertimbangan utamanya. “Generasi alpha kan mintanya macam-macam, itu kita harus sediakan. Di situ calon mahasiswa baru itu tidak begitu tertarik terhadap keguruan, apalagi kan sekarang kan juga gajinya itu (rendah), dan gen alpha itu kan tidak mau yang terkungkung dan seterusnya. Dia inginnya akan berpikir bebas, itu kita sediakan,” jelasnya. Pergantian nama fakultas itu juga membuat ada beberapa program studi (Prodi) yang akan dibuka. Prodi – prodi itu rencananya akan dibuka untuk penerimaan mahasiswa tahun akademik 2026 – 2027, yang sekarang proses tengah diurus ke Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek). “Ada beberapa prodi baru yang masih di proses ini. Kalau di matematik itu saya mintanya kan ada dua. Yang pertama di proses ini ada sains aktuarial, yang kedua adalah data sains. Kalau di biologi itu ada bioinformatika,” tuturnya. “Kalau Prodi baru ke kementerian, kalau fakultas cukup ke universitas, tapi harus tetap ada nomenklaturnya,” imbuhnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik mengungkapkan, perubahan nama fakultas diiringi dengan perubahan sistem tata kelola di dalamnya. Jadi bagi dia, perubahan itu tidak hanya dari sisi nomenklatur, tapi juga diiringi dengan pengembangan – pengembangan inovasi untuk mengembangkannya. “Ini adalah bentuk perubahan tata kelola agar kita memiliki keleluasaan lebih dalam mengembangkan bidang-bidang di dalamnya. Jika kita hanya terbatas pada sekat-sekat nomenklatur, terutama nomenklatur program studi, maka institusi tidak akan berkembang,” kata Nazaruddin Malik. Perubahan nama itu juga diharapkan memberikan inovasi – inovasi baru yang lebih berdampak kepada kampus dan masyarakat. Jadi penerapan keilmuannya diharapkan tidak sekedar di area ruang kuliah saja, tapi juga diterapkan bagi masyarakat dan mendatangkan manfaat positif. “Itu adalah poin yang paling penting. Saya sudah memberikan contoh nyata pada riset tadi. Riset tersebut pada dasarnya merupakan sebuah model pembelajaran jika diimplementasikan. Namun, penerapannya harus berjalan beriringan dengan pemodelan literasi digital dan didukung oleh infrastruktur IT yang kuat,” jelasnya. Perubahan nama ini juga membuka peluang adanya Prodi baru yang diajukan oleh UMM. Menurutnya, Prodi baru ini akan penting melihat minat dan peluang di luar kampus, kaitannya peran UMM bagi bangsa dan negara. “Bisa jadi Prodi akan bertambah ke depannya. Karena dengan adanya kolaborasi ini, peluang untuk membuka program studi baru yang relevan pasti terbuka lebar,” pungkasnya. Editor :Bramanta
Resmi! UMM Transformasikan FKIP Menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora

pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mentransformasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH). Peresmian dilakukan langsung oleh Rektor UMM di Jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, Senin (6/7/2026), setelah terbitnya Surat Keputusan (SK) perubahan pada 30 Mei 2026. Transformasi tersebut menjadi bagian dari strategi adaptif UMM dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang kolaboratif, inovatif, dan berorientasi pada solusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta tantangan kemanusiaan. Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., menjelaskan bahwa perubahan dari FKIP menjadi FPSH merupakan deklarasi arah baru pengembangan kelembagaan yang lebih terbuka terhadap perkembangan zaman. Menurutnya, pendidikan, sains, dan humaniora harus berjalan beriringan agar kemajuan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. “Perubahan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora ini merupakan pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita. Pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” ujarnya. Pada momentum tersebut, FPSH juga menggelar kolokium bagi 15 doktor baru dari berbagai program studi. Mahfud menilai kehadiran para doktor baru menjadi modal strategis untuk meningkatkan kapasitas akademik, kualitas riset, serta pengabdian kepada masyarakat. Ia juga mendorong para dosen untuk terus meningkatkan karier akademiknya hingga mencapai jabatan guru besar. “Saya percaya masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan. Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menegaskan bahwa perubahan nama fakultas harus diikuti transformasi nyata dalam tata kelola organisasi. Menurutnya, keberhasilan FPSH tidak ditentukan oleh identitas baru semata, melainkan oleh perubahan pola pikir, penguatan kolaborasi lintas disiplin, serta kemampuan menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif. Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat. UMM harus menjadi pelopor praktik terbaik dan excellent solution center untuk terus tumbuh dan berkembang,” ungkapnya. Peresmian FPSH sekaligus lahirnya 15 doktor baru menjadi tonggak penting bagi UMM dalam merespons tantangan pendidikan tinggi di masa depan. Melalui sinergi antara pendidikan, sains, dan humaniora, Kampus Putih diharapkan terus konsisten melahirkan pendidik, peneliti, serta pemimpin yang berintegritas. Transformasi tersebut juga menjadi penegasan bahwa inovasi pendidikan tinggi harus senantiasa berpijak pada nilai-nilai keislaman, kemanusiaan, dan kebermanfaatan bagi kemajuan peradaban bangsa. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
FKIP UMM Resmi Transformasi Jadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan transformasi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH). Peresmian perubahan nama ini dilakukan oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., di Jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, Senin (6/7/2026). Langkah ini merupakan tindak lanjut dari Surat Keputusan (SK) perubahan yang telah terbit pada 30 Mei 2026 lalu. Keputusan UMM mengubah identitas fakultas ini merupakan strategi agile institusi dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih adaptif, kolaboratif, serta berorientasi pada solusi atas dinamika sains dan kemanusiaan di masa depan. Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., menjelaskan bahwa transformasi dari FKIP menuju FPSH merupakan deklarasi arah pengembangan kelembagaan yang lebih terbuka. Ia menekankan bahwa pendidikan, sains, dan humaniora harus berjalan beriringan agar pesatnya inovasi teknologi tidak menggerus nilai-nilai esensial kemanusiaan. ”Perubahan nama ini merupakan pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita kami. Pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” ujar Mahfud. Dekan FPSH menambahkan, tantangan pendidikan saat ini menuntut institusi untuk tidak terpaku pada pola lama. Menurutnya, minat calon mahasiswa baru terhadap jurusan keguruan murni mulai mengalami pergeseran. Ia menyoroti fenomena Generasi Alpha yang cenderung berpikir bebas dan tidak ingin terikat pada stigma keguruan yang konvensional. ”Kita merespons perkembangan zaman. Kita tidak bisa bertahan di zaman yang sudah lalu. Kami mencoba memperluas cakupan. Jika hanya FKIP, ibaratnya hanya satu RT. Ke depan, kami harus berkolaborasi lintas disiplin,” jelas Mahfud. Untuk menjawab tantangan tersebut, FPSH UMM tengah memproses pembukaan program studi (prodi) baru yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar kerja modern. Di antaranya adalah Sains Aktuaria dan Data Science untuk bidang matematika, serta Bioinformatika untuk bidang biologi. ”Kami sedang mempersiapkan SDM-nya terlebih dahulu. Kami tidak ingin membuat prodi baru tanpa mengoptimalkan potensi internal. Ini adalah upaya kami menyediakan solusi, karena Generasi Alpha memiliki keinginan yang beragam, dan kami harus menyediakannya,” tegasnya. Di tempat yang sama, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa perubahan nama fakultas mutlak harus dibarengi dengan transformasi substantif di dalam tubuh organisasi. Keberhasilan FPSH ke depan, menurutnya, tidak ditentukan oleh identitas baru, melainkan oleh perubahan pola pikir (mindset), penguatan kolaborasi lintas disiplin, dan kemampuan melahirkan inovasi. ”Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif. Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat. UMM harus menjadi pelopor praktik terbaik dan excellent solution center,” ungkap Nazaruddin. Momentum transformasi ini juga diiringi dengan gelaran kolokium bagi 15 doktor baru dari berbagai program studi di lingkungan FPSH. Dekan FPSH menilai kehadiran belasan doktor baru ini sebagai modal strategis untuk mendongkrak kapasitas akademik, mutu riset, dan pengabdian masyarakat. Ia mendorong para akademisi ini untuk terus mengejar jabatan fungsional tertinggi, yakni guru besar. “Saya percaya masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan. Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata,” pungkas Mahfud. (dan/but)
Bangun Ekosistem Pendidikan Tinggi, FKIP UMM Bertranformasi Jadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora

Perbesar Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, saat meresmikan transformasi FKIP menjadi FPSH di UMM, Senin (6/7/2026)./Dok. Istimewa Bisnis.com, MALANG — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mentransformasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) setelah terbitnya Surat Keputusan (SK) perubahan pada 30 Mei 2026. Transformasi ini menjadi strategi UMM membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada pengembangan sains serta kemanusiaan. Dekan FPSH UMM, Prof. Moh. Mahfud Effendi, mengatakan perubahan tersebut menandai arah baru pengembangan kelembagaan yang lebih terbuka. Menurutnya, pendidikan, sains, dan humaniora harus berjalan beriringan agar inovasi teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. “Perubahan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora ini merupakan pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita. Pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” ujarnya pada kegiatan transformasi FKIP menjadi FPSH di Kampus UMM, Senin (6/7/2026). Selain peluncuran nama baru, kegiatan tersebut juga diwarnai dengan gelaran kolokium bagi 15 doktor baru dari berbagai program studi di lingkungan FPSH. Mahfud menilai kehadiran belasan doktor baru ini sebagai modal strategis untuk mendongkrak kapasitas akademik, mutu riset, dan pengabdian, seraya mendorong mereka mencapai jabatan fungsional tertinggi sebagai guru besar. “Saya percaya masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan. Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya. Di sisi lain, Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa pergantian nama fakultas mutlak harus dibarengi dengan transformasi substantif di dalam tubuh organisasi. Dia menilai keberhasilan FPSH ke depan tidak ditentukan oleh identitas barunya, melainkan oleh perubahan pola pikir, penguatan kolaborasi lintas disiplin, dan kemampuan melahirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif. Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat. UMM harus menjadi pelopor praktik terbaik dan excellent solution center untuk terus tumbuh dan berkembang,” ungkapnya. Peresmian FPSH dan lahirnya 15 doktor baru ini menjadi tolok ukur bagi UMM dalam merespons masa depan. Melalui sinergi keilmuan dan kemanusiaan ini, UMM diharapkan terus konsisten mencetak pendidik, peneliti, serta pemimpin berintegritas. “Momentum transformasi ini sekaligus menjadi pesan kuat bahwa inovasi pendidikan tinggi harus selalu berpijak pada nilai-nilai keislaman dan kepedulian universal demi kemajuan peradaban bangsa,” ujarnya. Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Bangun Ekosistem Pendidikan Tinggi, FKIP UMM Bertranformasi Jadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora”. Penulis: Choirul Anam – Bisnis.com
UMM Resmikan Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora: Perkuat Transformasi Pendidikan Tinggi

MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini resmi memiliki Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) sebagai nama baru yang menggantikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Perubahan tersebut diresmikan oleh Rektor UMM di Jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 pada Senin (6/7/2026), menyusul terbitnya Surat Keputusan perubahan nama fakultas pada 30 Mei 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi UMM dalam memperkuat tata kelola pendidikan tinggi yang lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., menyampaikan bahwa pergantian nama ini tidak hanya sebatas perubahan identitas kelembagaan, tetapi juga menjadi simbol arah baru pengembangan fakultas. Ia menjelaskan bahwa pendidikan, sains, dan humaniora merupakan tiga pilar yang saling mendukung dalam mencetak lulusan yang inovatif sekaligus memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan. REKTOR Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si. (Foto: Istimewa) “Perubahan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora ini merupakan pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita,” “Pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” ujarnya. Selain peresmian nama baru, FPSH juga menggelar kolokium yang menghadirkan 15 doktor baru dari berbagai program studi. Menurut Mahfud, bertambahnya sumber daya akademik tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat kualitas pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Ia juga berharap para doktor tersebut terus meningkatkan kapasitas akademiknya hingga mencapai jenjang profesor. “Saya percaya masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan. Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menegaskan bahwa perubahan nama fakultas harus dibarengi dengan transformasi budaya organisasi. Menurutnya, identitas baru akan bermakna apabila diikuti peningkatan kolaborasi lintas disiplin, penguatan inovasi, dan kemampuan menghasilkan solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif. Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat. UMM harus menjadi pelopor praktik terbaik dan excellent solution center untuk terus tumbuh dan berkembang,” tuturnya. Perubahan FKIP menjadi FPSH yang bertepatan dengan pengukuhan 15 doktor baru menjadi salah satu momentum penting bagi UMM dalam memperkuat perannya di dunia pendidikan tinggi. Melalui integrasi pendidikan, sains, dan humaniora, UMM menegaskan komitmennya untuk mencetak pendidik, peneliti, serta pemimpin yang berintegritas dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. Transformasi ini sekaligus menunjukkan bahwa inovasi di lingkungan perguruan tinggi tetap harus berpijak pada nilai-nilai keislaman dan semangat kemanusiaan sebagai landasan dalam membangun peradaban yang maju dan berkelanjutan. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Ekosistem EBT UMM Picu Inovasi, Peserta BTI Rancang PLTMH Berbasis IoT untuk Daerah 3T

Muhammad Luthfi Aziz, siswa kelas XII SMA Darul Ulum 1 Unggulan Peterongan, Jombang bersama timnya, ia merancang purwarupa Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berbasis Internet of Things (IoT) .(Ist) Malangpariwara.com – Komitmen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam mengembangkan ekosistem Energi Baru Terbarukan (EBT) mulai membuahkan hasil. Tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, ekosistem tersebut juga menginspirasi lahirnya inovasi teknologi dari peserta Bina Talenta Indonesia (BTI) 2026 yang tengah mengikuti pemusatan di Kampus Putih. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berbasis Internet of Things (IoT) yang ditujukan untuk memperluas akses listrik di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).(Ist) Salah satu inovasi datang dari Muhammad Luthfi Aziz, siswa kelas XII SMA Darul Ulum 1 Unggulan Peterongan, Jombang. Bersama timnya, ia merancang purwarupa Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berbasis Internet of Things (IoT) yang ditujukan untuk memperluas akses listrik di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Luthfi merupakan peserta binaan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang mengikuti pemusatan BTI di UMM pada 1–7 Juli 2026. Selama mengikuti program tersebut, ia mengaku memperoleh banyak inspirasi setelah melihat secara langsung operasional PLTMH binaan UMM di kawasan Sumber Maron, Kabupaten Malang. Menurutnya, dukungan fasilitas laboratorium, ekosistem EBT, serta pendampingan dosen bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) membuat peserta mampu mengembangkan ide menjadi sebuah prototipe yang aplikatif. “Baru kali ini saya melihat kampus dengan penerapan EBT yang sangat maksimal. Pakar-pakar UMM yang dihadirkan selama workshop juga memberikan bekal keilmuan STEM yang nyata untuk merancang prototipe kelistrikan bagi daerah terpencil,” ujar Luthfi. Berangkat dari pengalaman tersebut, timnya mengembangkan prototipe PLTMH dengan slogan “Airnya Ngalir, Energinya Hadir!”. Inovasi ini menawarkan solusi pembangkit listrik skala kecil yang memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber energi bersih dengan biaya pembangunan yang relatif terjangkau. Tak hanya menghasilkan listrik, prototipe tersebut juga dibekali teknologi IoT yang mampu memantau stabilitas daya, mengukur debit air secara real time, mendeteksi potensi banjir bandang, hingga mengidentifikasi gangguan pada sistem pembangkit. Seluruh data dapat dipantau dari jarak jauh sehingga meningkatkan keamanan sekaligus efisiensi operasional. “Sistem IoT ini memungkinkan kami memantau stabilitas listrik, debit air, hingga potensi bencana secara real time dari jarak jauh. Jadi, inovasi ini tidak hanya memberikan pemerataan akses listrik bagi masyarakat pedalaman, tetapi juga membantu menjaga ekosistem alam tetap aman,” jelasnya. Luthfi berharap inovasi tersebut dapat menjadi salah satu solusi atas tantangan kebutuhan energi nasional yang terus meningkat, sekaligus mendukung pemanfaatan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Sementara itu, Ketua Pelaksana BTI di UMM, Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd., menegaskan bahwa UMM akan terus membuka ruang bagi lahirnya inovasi dari generasi muda melalui penyediaan fasilitas riset, laboratorium, dan pendampingan dari para akademisi. Menurutnya, kampus tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga laboratorium hidup yang mendorong pelajar menghasilkan karya yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. “UMM selalu siap menjadi laboratorium hidup bagi para pelajar. Kami berharap prototipe teknologi hijau karya peserta BTI ini dapat terus disempurnakan hingga memasuki tahap hilirisasi dan produksi, sehingga mampu mendukung terwujudnya kemandirian energi nasional melalui inovasi generasi muda,” pungkasnya. (Djoko W)