Ini Alasan UMM Ubah Nama FKIP Jadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora

Istimewa/UMM jatim.tribunnews, Suasana dalam kegiatan pergantian nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) di jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB 1) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin (6/7/2026). Laporan Wartawan TribunJatim.com, Rifky Edgar TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mengubah nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH), Senin (6/7/2026). Peresmian yang digelar di Jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 itu menjadi penanda arah baru pengembangan UMM dalam menjawab dinamika dunia pendidikan, perkembangan ilmu pengetahuan, serta tantangan kemanusiaan yang semakin kompleks. Perubahan nama tersebut dilakukan setelah terbitnya Surat Keputusan (SK) perubahan nama fakultas pada 30 Mei 2026. UMM menilai langkah ini sebagai bagian dari strategi membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada penyelesaian persoalan masyarakat. Dekan FPSH UMM, Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM, mengatakan perubahan nama dari FKIP menjadi FPSH bukan sekadar pergantian identitas, melainkan representasi visi besar yang ingin dibangun kampus. Menurutnya, pendidikan, sains, dan humaniora harus berjalan beriringan agar perkembangan teknologi dan inovasi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. “Perubahan nama FKIP menjadi FPSH ini merupakan pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita,” “Karena pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” kata Mahfud. Momentum peresmian FPSH juga dirangkai dengan kolokium bagi 15 doktor baru dari berbagai program studi di lingkungan fakultas tersebut. Mahfud menilai kehadiran belasan doktor baru menjadi modal penting dalam memperkuat kualitas akademik, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia berharap para doktor tersebut terus mengembangkan kapasitas keilmuan hingga mencapai jabatan akademik tertinggi sebagai guru besar. “Saya percaya masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan,” “Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ucapnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik SE MSi menegaskan bahwa perubahan nama fakultas harus diikuti transformasi nyata dalam budaya organisasi dan pola kerja.
FKIP UMM Resmi Ganti Nama Jadi FPSH, Ingin Lulusannya Adaptif Hadapi Perkembangan Zaman

Link copied! lihat foto Dok. UMM suryamalang, GANTI NAMA FAKULTAS – Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik SE MSi saat memberikan sambutan dalam kegiatan pergantian nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) di jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB 1) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin (6/7/2026). Menurut Rektor, UMM harus mampu memosisikan diri sebagai pelopor praktik terbaik sekaligus menjadi pusat solusi unggulan atau excellent solution center yang terus tumbuh dan berkembang di tengah perubahan zaman yang dinamis. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif,” tegas Nazaruddin secara terbuka. “Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat,” tandasnya mengakhiri arahan. Menurut Rektor, UMM harus mampu memosisikan diri sebagai pelopor praktik terbaik sekaligus menjadi pusat solusi unggulan atau excellent solution center yang terus tumbuh dan berkembang di tengah perubahan zaman yang dinamis. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif,” tegas Nazaruddin secara terbuka. “Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat,” tandasnya mengakhiri arahan.
SINEMASTORIA: Mahasiswa UMM Hadirkan Screening Film Pendek “The Observer” sebagai Ruang Refleksi atas Hal-Hal yang Tak Terucapkan

Kabar Nusantara – Malang, 6 Juni 2026 – Malang Creative Center (MCC) di Kecamatan Blimbing, Kota Malang, sukses menyelenggarakan SINEMASTORIA, sebuah event screening eksklusif yang menampilkan penayangan perdana film pendek “The Observer”. Dengan mengusung tema “The Unspoken Truth” yang diinisiasi oleh mahasiswa Praktikum Audio Visual 3 bekerjasama dengan Tim Produksi Kamera Depan. Sebanyak 174 audiens menonton Film “The Observer”. Berbeda dengan screening film pada umumnya, SINEMASTORIA mengajak audiens untuk terlibat langsung. Melalui cerita anonim, audiens diajak bercerita melalui link anonim. Sutradara Film “The Observer” mengapresiasi jalannya kegiatan yang dinilai mampu menghadirkan pengalaman menonton film yang berbeda bagi audiens. “SINEMASTORIA keren banget, yang paaling saya suka itu bagian bercerita. disana beberapa orang ada yang berkeluh kesah, mereka tuh kaya bener2 gen z banget klo pesan tu nyampe kesaya” ujar Getar, Sutradara Film “The Observer” SINEMASTORIA tidak hanya menghadirkan sesi screening film tetapi juga sesi diskusi dan tanya jawab bersama tim produksi. Melalui sesi ini, penonton dapat mengenal lebih dekat proses kreatif di balik film sekaligus memahami isu yang menjadi latar pengembangannya. Melalui kegiatan ini, Maxtep dan Kamera Depan terus berupaya dapat menghadirkan ruang apresiasi film yang tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga membuka ruang percakapan dan refleksi mengenai pengalaman yang sering kali hadir tanpa banyak dibicarakan.
Prof Mahfud Effendi: Prodi Perguruan Tinggi Harus Relevan dengan Zamannya

Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M. (FOTO: Dok. Humas UMM) timesindoensia, MALANG – Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., menilai perguruan tinggi harus terus beradaptasi dengan perubahan zaman agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membuka program studi baru serta memperkuat kolaborasi lintas disiplin ilmu. Menurutnya, transformasi tersebut menjadi kebutuhan karena karakter calon mahasiswa dan tuntutan pasar kerja terus berkembang. “Contohnya perubahan nama fakultas merupakan respons terhadap perkembangan zaman. Kita tidak bisa hanya bertahan, tetapi harus memperluasnya,” ujar Mahfud, Senin (6/7/2026). Menurut Dekan Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora (FPSH) UMM itu, perubahan nomenklatur fakultas bukan sekadar pergantian nama, melainkan bagian dari strategi membuka ruang kolaborasi antarbidang ilmu. Ia menilai selama ini sejumlah disiplin ilmu masih dipandang berdiri sendiri, padahal memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui pendekatan multidisiplin. Mahfud juga menyoroti perubahan karakter generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha, yang memiliki cara belajar, minat, dan harapan berbeda dibanding generasi sebelumnya. “Sekarang zamannya Gen Z dan Alpha, maka didiklah anak sesuai zamannya dan sesuai kebutuhannya. Sebagai institusi pendidikan, kita tidak bisa hanya diam saja,” katanya. Advertisement Menurutnya, perubahan preferensi tersebut turut memengaruhi minat calon mahasiswa terhadap sejumlah program studi, terutama bidang keguruan. Karena itu, UMM bersama sejumlah perguruan tinggi lain melakukan penyesuaian, salah satunya dengan mengubah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora (FPSH). “Calon mahasiswa sekarang tidak begitu tertarik pada bidang keguruan. Selain faktor kesejahteraan, generasi sekarang juga tidak ingin terlalu terkungkung. Mereka ingin berpikir lebih bebas, dan itu yang kami sediakan,” ujarnya. Mahfud menambahkan, transformasi tersebut harus diikuti dengan pengembangan program studi yang sesuai kebutuhan masa depan. Di lingkungan FPSH UMM, misalnya, kampus berencana menambah Program Studi Sains Aktuaria dan Data Science untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja di bidang analisis data dan industri berbasis teknologi. “Perubahan nama fakultas tidak cukup hanya pada nomenklatur. Program studi di dalamnya juga harus dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat,” jelasnya. Meski hingga kini belum ada regulasi yang mewajibkan perguruan tinggi membuka program studi baru, Mahfud meyakini arah kebijakan pendidikan tinggi akan semakin mendorong kampus untuk lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan dunia kerja. (*)
UMM Resmikan Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora, Perkuat Sinergi Pendidikan, Sains, dan Nilai Kemanusiaan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mentransformasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH).(Djoko W) Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mentransformasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH). Simbolis resmi mentransformasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) rektor dan Dekan FPSH(Djoko W) Peresmian dilakukan oleh Rektor UMM di Jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) I, Senin (6/7/2026), setelah terbitnya Surat Keputusan perubahan nama fakultas pada 30 Mei 2026. Transformasi tersebut menjadi bagian dari strategi UMM dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Melalui FPSH, UMM ingin memperkuat kolaborasi antara pendidikan, sains, dan humaniora agar mampu melahirkan inovasi yang tetap berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M.(Djoko W) Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., menjelaskan bahwa perubahan dari FKIP menjadi FPSH bukan sekadar pergantian nama, melainkan penegasan arah pengembangan fakultas di masa depan. Menurutnya, pendidikan memiliki peran membentuk karakter manusia, sains menjadi motor lahirnya inovasi, sementara humaniora memastikan setiap perkembangan ilmu pengetahuan tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. “Perubahan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora ini merupakan pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita. Pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” ujarnya. Momentum peresmian FPSH juga dirangkaikan dengan kolokium bagi 15 doktor baru dari berbagai program studi di lingkungan fakultas tersebut. Kehadiran para doktor baru dinilai menjadi modal penting dalam memperkuat kualitas akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Mahfud berharap para doktor tersebut terus meningkatkan kapasitas akademiknya hingga mencapai jabatan fungsional guru besar serta mampu menghasilkan karya yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat. “Saya percaya masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan. Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si.(Djoko W) Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menekankan bahwa transformasi kelembagaan harus diikuti dengan perubahan yang bersifat substantif, bukan sekadar pergantian identitas. Ia menilai keberhasilan FPSH akan ditentukan oleh kemampuan seluruh sivitas akademika dalam membangun pola pikir yang adaptif, memperkuat kolaborasi lintas disiplin, serta menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif. Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat. UMM harus menjadi pelopor praktik terbaik dan excellent solution center untuk terus tumbuh dan berkembang,” ungkapnya. Peresmian FPSH sekaligus menjadi tonggak baru bagi UMM dalam menjawab tantangan pendidikan tinggi di era yang terus berubah. Melalui penguatan sinergi antara pendidikan, sains, dan humaniora, Kampus Putih berkomitmen mencetak pendidik, peneliti, dan pemimpin yang berintegritas, inovatif, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan kepedulian universal demi kemajuan peradaban bangsa.(Djoko W)
Lewat ‘Gen Z Talk Social Campaign’, UMM Cetak Agen Perubahan Sosial yang Kreatif

Kegiatan Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat Batch 3 yang digelar Prodi Kesejahteraan Sosial UMM. (Foto: Istimewa) timesindonesia, MALANG – Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses memungkasi rangkaian Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat Batch 3. Penutupan program dikemas melalui acara interaktif bertajuk “Gen Z Talk Social Campaign” di Nakoa Cafe, Sabtu (4/7/2026). Puncak pembelajaran CoE ini dirancang khusus untuk memperkuat kompetensi profesional mahasiswa di sektor pemberdayaan masyarakat lewat pendekatan praktis, inovatif, dan kolaboratif. Tak sekadar seremonial, agenda ini juga menjadi ruang diskusi yang mempertemukan kalangan akademisi, praktisi, mitra industri, mahasiswa, serta publik untuk membedah peran vital Generasi Z sebagai motor perubahan sosial. Hadir dalam acara tersebut Wakil Rektor IV UMM, Direktur CoE UMM, Dekan FISIP UMM, Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial, jajaran mitra strategis, serta mahasiswa peserta CoE Batch 3. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, memberikan apresiasi tinggi kepada Prodi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM yang konsisten menerapkan metode pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Menurutnya bahwa Program CoE menjadi salah satu bentuk komitmen Universitas Muhammadiyah Malang dalam mempersiapkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik sekaligus keterampilan profesional. Kolaborasi bersama mitra memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa untuk memahami dinamika masyarakat dan tantangan di dunia kerja. Pada kesempatan yang sama, Direktur CoE UMM, Achmad Fauzan Hery Soegiharto, menegaskan keberhasilan Batch 3 menjadi bukti kuatnya sinergi lintas sektor dalam menghadirkan kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Menurutnya bahwa CoE tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga melahirkan individu yang memiliki kemampuan berkolaborasi, berpikir kritis, dan mampu memberikan solusi terhadap persoalan sosial di masyarakat. Dekan FISIP UMM, Fauzik Lendriyono, menambahkan bahwa pemilihan tema kampanye sosial untuk Gen Z dinilai sangat tepat. Hal ini mengingat karakteristik generasi muda saat ini yang lekat dengan ekosistem digital dan punya potensi besar menggerakkan aksi sosial secara kreatif. “Generasi Z memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan memanfaatkan media digital untuk menyebarkan nilai-nilai positif. Harapannya, mahasiswa Kesejahteraan Sosial mampu menjadi pelopor kampanye sosial yang tidak hanya viral, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Fauzik. Selaras dengan hal itu, Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM, Hutri Agustino, memaparkan bahwa sepanjang mengikuti program CoE Batch 3, mahasiswa ditempa melalui asistensi intensif bersama mitra, berbagai pelatihan, praktik lapangan, hingga eksekusi proyek sosial. Melalui panggung presentasi di acara ini, mahasiswa berkesempatan memaparkan gagasan serta evaluasi empiris mereka. Diskusi pun mengalir interaktif mengulas isu-isu krusial khas anak muda, mulai dari kesehatan mental, pemberdayaan komunitas, kepekaan sosial, hingga urgensi kolaborasi lintas sektor demi perubahan yang berkelanjutan. Selain menyajikan refleksi program, ajang ini sukses mempererat jejaring kemitraan strategis. Rangkaian acara dibuka dengan upacara penutupan resmi, disusul sesi talking social enterprise, serta penandatanganan kerja sama (MoU) dengan Vernon Edu. Aktivitas kemudian dilanjutkan dengan talk show tematik hasil magang, pemutaran video dokumenter, hingga pre-launch buku bertajuk Life Cycle CSR—karya kolaborasi antara mahasiswa dengan mitra CoE, Filantra. Tingginya antusiasme peserta teermin dari dinamisnya pertukaran ide selama sesi berlangsung. Berakhirnya CoE Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat Batch 3 ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya mengejar target akademik, melainkan juga berfokus pada pembentukan karakter, kepemimpinan, dan empati sosial. Melalui program CoE, Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM terus berkomitmen menghasilkan lulusan yang profesional, adaptif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat sesuai dengan semangat kampus berdampak yang diusung oleh Universitas Muhammadiyah Malang. (*)
FKIP UMM Resmi Berganti Nama Menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora

Rektor UMM bersama jajaran pimpinan meresmikan transformasi FKIP menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) di Jembatan GKB 1. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mentransformasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH). Peresmian dilakukan langsung oleh Rektor UMM di Jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, Senin (6/7/2026), setelah terbit Surat Keputusan (SK) perubahan pada 30 Mei 2026. Transformasi ini menjadi bagian dari strategi agile UMM dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, serta berorientasi pada solusi atas dinamika perkembangan sains dan kemanusiaan. Dekan FPSH UMM Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM menjelaskan, perubahan dari FKIP menjadi FPSH bukan sekadar pergantian nama, melainkan deklarasi arah pengembangan kelembagaan yang lebih terbuka. Menurutnya, pendidikan, sains, dan humaniora harus berjalan beriringan agar kemajuan teknologi tidak menggerus nilai-nilai kemanusiaan. “Perubahan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora ini merupakan pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita. Pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” ujarnya. Selain peluncuran nama baru, UMM juga menggelar kolokium bagi 15 doktor baru dari berbagai program studi di lingkungan FPSH. Mahfud menilai kehadiran para doktor tersebut menjadi modal strategis untuk memperkuat kapasitas akademik, meningkatkan mutu riset dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mendorong mereka meraih jabatan fungsional tertinggi sebagai guru besar. “Saya percaya masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan. Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik SE MSi menegaskan bahwa perubahan nama fakultas harus diikuti transformasi yang substantif dalam organisasi. Keberhasilan FPSH, katanya, tidak ditentukan oleh identitas baru, melainkan oleh perubahan pola pikir, penguatan kolaborasi lintas disiplin, serta kemampuan menghadirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif. Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat. UMM harus menjadi pelopor praktik terbaik dan excellent solution center untuk terus tumbuh dan berkembang,” ungkapnya. Peresmian FPSH sekaligus lahirnya 15 doktor baru menjadi tonggak penting bagi UMM dalam merespons tantangan masa depan. Melalui sinergi pendidikan, sains, dan humaniora, Kampus Putih diharapkan terus mencetak pendidik, peneliti, dan pemimpin yang berintegritas. Transformasi ini juga menegaskan komitmen UMM menghadirkan inovasi pendidikan tinggi yang berpijak pada nilai-nilai keislaman dan kepedulian universal demi kemajuan peradaban bangsa. (Faqih/AS)
Ekosistem EBT UMM Dorong Peserta BTI 2026 Rancang Prototipe Pembangkit Listrik Ramah Lingkungan

Ekosistem EBT UMM Dorong Peserta BTI 2026 Rancang Prototipe Pembangkit Listrik Ramah Lingkungan pwmu.co –Ekosistem Energi Baru Terbarukan (EBT) yang dikembangkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi inspirasi bagi peserta Bina Talenta Indonesia (BTI) 2026 dalam melahirkan inovasi teknologi kelistrikan. Salah satunya dirasakan Muhammad Luthfi Aziz, siswa kelas XII SMA Darul Ulum 1 Unggulan Peterongan, Jombang. Ia mengaku memperoleh banyak inspirasi dari fasilitas dan kepakaran dosen bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) UMM untuk mengembangkan purwarupa teknologi pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Sebagai peserta binaan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Luthfi mengikuti pemusatan BTI di UMM pada 1–7 Juli 2026. Menurutnya, kunjungan ke Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) binaan UMM di Sumber Maron memberikan pengalaman sekaligus ide baru dalam merancang teknologi kelistrikan bagi masyarakat. “Baru kali ini saya melihat kampus dengan penerapan EBT yang sangat maksimal. Pakar-pakar UMM yang dihadirkan selama workshop juga sangat menarik, memberikan kami bekal keilmuan STEM yang nyata untuk merancang prototipe kelistrikan bagi daerah terpencil,” tegasnya kepada Humas UMM, 6 Juli 2026. Terinspirasi dari pengalaman tersebut, Luthfi bersama timnya mengembangkan purwarupa Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dengan slogan “Airnya Ngalir, Energinya Hadir!”. Purwarupa tersebut dirancang sebagai solusi pemanfaatan energi terbarukan yang memanfaatkan aliran sungai untuk menghasilkan listrik dengan biaya relatif rendah dan ramah lingkungan. Selain menghasilkan energi listrik, inovasi itu juga dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) yang mampu memantau berbagai kondisi secara real time. Menurut Luthfi, sistem tersebut dirancang untuk menjaga stabilitas pembangkit, memantau debit air, mendeteksi potensi banjir bandang, hingga mengidentifikasi kerusakan sistem secara otomatis. “Sistem IoT ini memungkinkan kami memantau stabilitas listrik, debit air, hingga potensi bencana secara real-time dari jarak jauh. Jadi, inovasi ini tidak sekadar memberikan pemerataan akses listrik bagi masyarakat pedalaman, tetapi juga memastikan ekosistem alamnya tetap terjaga dengan aman,” urainya. Purwarupa tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam memperluas akses listrik di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Ketua Pelaksana BTI di UMM, Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd., menegaskan komitmen UMM dalam mendukung pengembangan talenta muda Indonesia melalui penyediaan fasilitas riset dan pembinaan inovasi. “UMM selalu siap menjadi laboratorium hidup yang sesungguhnya bagi para pelajar. Kami sangat berharap prototipe teknologi hijau karya peserta BTI ini dapat terus disempurnakan hingga tahap hilirisasi dan produksi nyata, sehingga kemandirian energi nasional benar-benar terwujud lewat tangan generasi penerus kita,” pungkasnya. Melalui ekosistem EBT yang dikembangkan di lingkungan kampus, UMM berharap dapat terus menjadi ruang belajar dan laboratorium inovasi yang mendorong lahirnya berbagai solusi teknologi berkelanjutan bagi masyarakat. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Ubah Paradigma ‘Horor’ Matematika, Mahasiswa Doktor UMM Gagas Model I-WARM demi Kesejahteraan Emosional Siswa

Maria Martini Aba, Mahasiswa Doktor Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. timesindonesia, MALANG – Selama puluhan tahun, matematika menduduki takhta ganda dalam dunia pendidikan: ia dipuja sebagai fondasi berpikir logis-analitis, namun di saat yang sama, ia menjadi subjek yang paling ditakuti di ruang kelas. Ruang ujian sering kali berubah menjadi panggung ketegangan emosional, di mana siswa merasa cemas, enggan bertanya, bahkan kehilangan kepercayaan diri. Melihat fenomena yang terus berulang ini, Maria Martini Aba, seorang Mahasiswa Doktor Pendidikan di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), melakukan sebuah terobosan akademik. Melalui penelitian disertasinya, ia mencoba merombak cara pandang konvensional terhadap pembelajaran matematika yang selama ini terlalu berorientasi pada nilai angka. Berawal dari Kegelisahan Akademik di Ruang Kelas Perjalanan riset ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari kegelisahan akademik dan pengalaman empiris Maria selama bertahun-tahun berkecimpung di dunia pendidikan matematika. Ia kerap menemui siswa yang sebenarnya memiliki potensi akademik luar biasa, namun mendadak “lumpuh” secara mental saat berhadapan dengan angka dan rumus. “Mereka merasa takut melakukan kesalahan, khawatir memperoleh nilai rendah, enggan bertanya, bahkan menghindari pelajaran matematika karena merasa cemas,” ungkap Maria dalam keterangannya. Berdasarkan observasi awal yang dilakukannya pada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), mayoritas siswa terindikasi mengalami mathematics anxiety (kecemasan matematika) pada tingkat sedang. Sumber kecemasan terbesar bersumber dari proses evaluasi, ujian, serta momok ketakutan akan berbuat salah. Fenomena ini rupanya bukan cuma masalah lokal, melainkan isu global. Berbagai riset dunia mengonfirmasi bahwa kecemasan matematika mampu menyumbat kemampuan berpikir, memangkas motivasi belajar, menurunkan partisipasi aktif, hingga dalam jangka panjang, memengaruhi keputusan karier masa depan siswa. Menggeser Sudut Pandang Lewat Mathematical Well-Being Di tengah membanjirnya penelitian yang mengulik kelemahan, hambatan, dan dampak negatif matematika, Maria mengambil arah yang berbeda. Ia menyadari bahwa masih sangat sedikit peneliti yang mau melihat dari sudut pandang positif: apa yang bisa membuat siswa bertahan dan merasa nyaman dengan matematika? Advertisement Dari situlah Maria berpaling pada konsep mutakhir bernama mathematical well-being (kesejahteraan matematika). Konsep ini secara radikal menggeser fokus pembelajaran. Target utama bukan lagi sekadar seberapa cepat atau tepat siswa menyelesaikan soal rumit, melainkan: · Bagaimana siswa merasakan pengalaman belajar matematika yang menyenangkan? · Bagaimana mereka memaknai matematika dalam kehidupan sehari-hari? · Bagaimana mereka membangun rasa percaya diri atas kemampuan mereka sendiri? · Bagaimana lingkungan sekolah dan guru mendukung pertumbuhan emosional serta psikologis mereka? Melalui risetnya, Maria mengajukan pertanyaan mendasar: Apakah siswa dengan tingkat kesejahteraan matematika yang baik akan memiliki kecemasan yang lebih rendah? Bisakah konsep ini menjadi tameng protektif bagi siswa? Membedah Isi Kepala Siswa dengan Metode Campuran Untuk mengupas fenomena psikologis yang kompleks ini secara tuntas, Maria mengadopsi metode penelitian mixed methods dengan sequential explanatory design. Menurutnya, kesejahteraan dan kecemasan emosional tidak akan pernah cukup jika hanya digambarkan melalui deretan angka statistik belaka. Penelitian ini berjalan secara sistematis melalui beberapa tahapan krusial: 1. Studi Literatur Mendalam: Mengintegrasikan teori-teori besar seperti Self-Determination Theory, Control-Value Theory, dan Teacher Support Theory. 2. Pengembangan Instrumen: Menyusun dimensi kesejahteraan matematika dan indikator kecemasan yang divalidasi oleh para ahli agar memenuhi standar ilmiah. 3. Pengumpulan Data Seimbang: Maria menjaring perspektif dari dua arah, yaitu guru SMA selaku pengelola pembelajaran dan siswa SMA selaku pihak yang merasakan langsung pengalaman belajar tersebut. Temuan Penting: Hubungan Kuat Antara Kebahagiaan Belajar dan Prestasi Riset Maria berhasil memetakan sejumlah temuan penting yang membuka mata para praktisi pendidikan. Pertama, kesejahteraan matematika terbukti merupakan konstruksi multidimensional yang kaya. Di dalamnya mencakup aspek prestasi, kognisi, keterlibatan (engagement), makna, ketekunan, emosi positif, hingga hubungan sosial yang sehat. Kedua, riset ini mengidentifikasi akar penyebab utama kecemasan matematika pada siswa, yang meliputi: · Tekanan akademik yang terlalu tinggi. · Ketakutan ekstrem terhadap kesalahan. · Rendahnya rasa percaya diri. · Pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan di kelas matematika. · Metode mengajar guru yang terlalu berorientasi pada hasil akhir (result-oriented). · Kurangnya dukungan sosial di lingkungan belajar. Ketiga, hasil analisis kuantitatif menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara mathematical well-being dan kecemasan matematika. Artinya, semakin tinggi tingkat kesejahteraan matematika yang dirasakan oleh seorang siswa, maka akan semakin merosot tingkat kecemasan yang mereka derita. Ini menjadi bukti empiris kuat bahwa kenyamanan emosional berbanding lurus dengan kesiapan mental siswa dalam belajar. Melahirkan Model Konseptual I-WARM Sebagai buah manis dari sintesis teori dan temuan lapangannya, Maria merancang sebuah model pembelajaran inovatif yang diberi nama Model I-WARM (Integrative Well-Being and Anxiety Reduction in Mathematics Model). Model ini mengintegrasikan tiga pilar utama yang saling bertumpu: Dimensi Model I-WARM Fokus Utama Dimensi Pedagogis Menekankan praktik pembelajaran di kelas yang mendukung keterlibatan aktif, kebermaknaan materi, dan pencapaian keberhasilan belajar siswa. Dimensi Psikologis Berorientasi pada penguatan kompetensi internal, pemupukan rasa percaya diri, kemandirian (otonomi), serta penumbuhan emosi positif siswa. Dimensi Sosial Menitikberatkan pentingnya kehadiran dukungan guru, solidaritas teman sebaya, serta penciptaan iklim kelas yang aman, inklusif, dan bebas dari intimidasi. Dalam model ini, guru diposisikan sebagai mediator utama yang menjembatani siswa untuk meraih kesejahteraan psikologis sekaligus mengikis habis rasa cemas terhadap matematika. Meski demikian, Maria memberikan catatan objektif bahwa Model I-WARM yang dihasilkannya saat ini masih berada pada level model konseptual. Model ini belum diimplementasikan atau diuji efektivitasnya secara eksperimental di dalam kelas nyata. Ke depan, model ini membutuhkan rangkaian riset lanjutan seperti pengembangan perangkat ajar, validasi skala luas, uji coba terbatas, hingga evaluasi dampak nyata terhadap hasil belajar siswa. Memanusiakan Ruang Kelas Matematika Sebagai penutup disertasinya, Maria menyampaikan harapan besar bagi masa depan wajah pendidikan di Indonesia. Ia memimpikan sebuah pergeseran paradigma, di mana keberhasilan pelajaran matematika tidak lagi melulu diukur dari lembar nilai ujian yang kaku. “Selama ini, keberhasilan pembelajaran matematika sering diukur melalui angka, nilai, dan capaian akademik. Padahal di balik setiap angka tersebut, ada manusia yang memiliki perasaan, harapan, kecemasan, dan kebutuhan psikologis yang perlu dihargai,” pungkas Maria hangat. Ia berharap Model I-WARM dapat memicu gelombang inovasi pembelajaran yang humanis, inklusif, reflektif, dan berkelanjutan. Target akhirnya bukan sekadar mencetak generasi yang mahir berhitung, melainkan melahirkan siswa yang merasa bahagia, percaya diri, tangguh, dan mampu menjadikan matematika sebagai sahabat peralanan hidup mereka.
FKIP UMM Bertransformasi Menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora

MALANG, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meresmikan perubahan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora, Senin 6 Juli 2026. Ini sebagai strategi membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi, Peresmian dilakukan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang di Jembatan Gedung Kuliah Bersama 1, sedangkan Surat Keputusan perubahan fakultas telah diterbitkan pada 30 Mei 2026. Dekan Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora Universitas Muhammadiyah Malang Prof Dr Moh Mahfud Effendi, mengatakan transformasi tersebut menjadi deklarasi arah pengembangan kelembagaan yang lebih terbuka. “Perubahan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora ini, pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita. Pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” jelasnya. Selain peresmian perubahan nama fakultas, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan kolokium bagi 15 doktor baru dari berbagai program studi di lingkungan Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora. Menurutnya, kehadiran 15 doktor baru menjadi modal untuk meningkatkan kapasitas akademik, mutu riset, dan pengabdian kepada masyarakat. “Saya percaya masa depan tidak dibangun mereka yang paling kuat. Tetapi mereka yang paling siap menghadapi perubahan. Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” lanjutnya. Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Prof Dr Nazaruddin Malik menegaskan perubahan nama fakultas harus diikuti transformasi substantif dalam organisasi. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif. Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat,” jelasnya. Ia berharap Universitas Muhammadiyah Malang terus menjadi pelopor praktik terbaik dan pusat solusi melalui sinergi pendidikan, sains, dan humaniora. (edr)