Sosiologi UMM Jadi Rujukan, UIN Bandung Jalin Kerja Sama Tingkatkan Kualitas Lulusan

pwmu.co – Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerima kunjungan studi banding dari Program Studi Sosiologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa (7/7/2026).Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang berbagi praktik baik dalam pengelolaan program studi, tetapi juga menghasilkan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) sebagai langkah awal memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Seminar FISIP UMM itu menjadi ruang bertukar pengalaman mengenai strategi pengembangan program studi, peningkatan kualitas lulusan, hingga penguatan kerja sama antarinstitusi. Kedua perguruan tinggi sepakat bahwa sinergi menjadi kunci untuk menjawab tantangan pendidikan tinggi yang semakin dinamis. Ketua Program Studi Sosiologi FISIP UMM, Awan Setia Dharmawan, M.Si, memaparkan sejumlah inovasi akademik yang selama ini dikembangkan di lingkungan Prodi Sosiologi UMM. Menurutnya, kurikulum terus diperbarui agar selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan dunia kerja, serta perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat. “Salah satu inovasi yang menjadi perhatian peserta studi banding adalah penerapan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI),” katanya. Awan lalu menjelaskan, SKPI tidak sekadar melengkapi ijazah, tetapi juga menjadi dokumen yang merekam berbagai capaian mahasiswa, mulai dari kompetensi, pengalaman organisasi, sertifikasi, hingga aktivitas akademik maupun nonakademik selama masa studi. “SKPI memberikan nilai tambah bagi lulusan karena mampu menunjukkan kompetensi yang tidak selalu tercermin dalam transkrip akademik,” jelasnya. Selain itu, Prodi Sosiologi UMM juga mengembangkan pembelajaran berbasis pengalaman melalui mata kuliah praktikum. Mahasiswa didorong terlibat langsung dalam penelitian lapangan, pendampingan masyarakat, hingga kolaborasi dengan berbagai mitra sehingga memperoleh pengalaman nyata sebelum memasuki dunia profesional. “Kami juga punya program Kelas Unggulan yang dirancang untuk mencetak lulusan dengan kemampuan akademik yang kuat, berpikir kritis, memiliki jiwa kepemimpinan, serta mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” katanya. Dalam kesempatan tersebut, dia menegaskan bahwa implementasi kerja sama antarlembaga perlu diwujudkan melalui Memorandum of Agreement (MoA) di tingkat fakultas. “Dengan demikian, nota kesepahaman tidak berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi berlanjut dalam berbagai program konkret, seperti pertukaran dosen, penelitian kolaboratif, publikasi ilmiah bersama, hingga pengabdian kepada masyarakat,” jabarnya. Sementara itu, Wakil Dekan II FISIP UMM, Luluk Dwi Kumalasari, M.Si, memperkenalkan salah satu program unggulan UMM, yakni Center of Excellence (CoE). Program ini dirancang untuk menghubungkan pembelajaran di kampus dengan kebutuhan dunia profesional melalui kemitraan bersama dunia usaha, industri, pemerintah, maupun organisasi masyarakat. “Program Center of Excellence menjadi instrumen yang efektif dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia nyata. Melalui pengalaman belajar berbasis praktik, mahasiswa diharapkan lebih siap saat memasuki dunia kerja maupun terjun ke masyarakat,” ujarnya. Dari pihak UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Kustana menyampaikan apresiasi atas berbagai inovasi yang diterapkan Prodi Sosiologi UMM. Menurutnya, implementasi SKPI merupakan salah satu praktik baik yang layak dijadikan referensi dalam upaya meningkatkan kualitas lulusan. Dia menilai, pengalaman UMM dalam mengembangkan sistem tersebut dapat menjadi inspirasi bagi UIN Sunan Gunung Djati Bandung untuk memperkuat dokumentasi kompetensi mahasiswa secara lebih komprehensif. Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang membahas pengembangan kurikulum, strategi peningkatan kompetensi lulusan, hingga peluang kolaborasi akademik di masa mendatang. Acara kemudian ditutup dengan penandatanganan MoU sebagai simbol komitmen kedua institusi untuk membangun kerja sama yang berkelanjutan. Kolaborasi ini diharapkan menjadi awal lahirnya berbagai program inovatif yang memberikan dampak nyata, baik bagi pengembangan institusi, peningkatan kapasitas dosen, maupun lahirnya lulusan sosiologi yang unggul, adaptif, dan mampu menjawab beragam persoalan sosial di tengah masyarakat. (*)

UMM Resmi Transformasi FKIP Jadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora

MALANG, SURYAKABAR.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi mentransformasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH). Peresmian dilakukan langsung oleh Rektor UMM di Jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 pada Senin (6/7/2026), menyusul turunnya Surat Keputusan (SK) perubahan pada 30 Mei 2026. Langkah ini merupakan strategi agile dari institusi dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, serta berorientasi pada solusi atas dinamika sains dan kemanusiaan. Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., memaparkan, transformasi dari FKIP menuju FPSH merupakan deklarasi arah pengembangan kelembagaan yang jauh lebih terbuka. Baca Juga:  Diakui Nasional, RS UMM Raih Pujian Dirut BPJS Kesehatan atas Komitmen Layanan Prima Menurutnya, pendidikan, sains, dan humaniora wajib berjalan beriringan agar pesatnya penciptaan inovasi teknologi tidak sampai menggerus nilai-nilai esensial kemanusiaan. “Perubahan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora ini merupakan pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita. Pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” ujarnya. Selain peluncuran nama baru, momen strategis ini juga diwarnai dengan gelaran kolokium bagi 15 doktor baru dari berbagai program studi di lingkungan FPSH. Mahfud menilai kehadiran belasan doktor baru ini sebagai modal strategis untuk mendongkrak kapasitas akademik, mutu riset, dan pengabdian, seraya mendorong mereka mencapai jabatan fungsional tertinggi sebagai guru besar. “Saya percaya masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan. Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya. Baca Juga:  Kalahkan Jutaan Peneliti, Profesor Teknik Industri UMM Tembus Top 5 Persen Ilmuwan Berpengaruh Dunia Di sisi lain, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menegaskan, pergantian nama fakultas mutlak harus dibarengi dengan transformasi substantif di dalam tubuh organisasi. Ia menilai keberhasilan FPSH ke depan tidak ditentukan oleh identitas barunya, melainkan oleh perubahan pola pikir, penguatan kolaborasi lintas disiplin, dan kemampuan melahirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif. Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat. UMM harus menjadi pelopor praktik terbaik dan excellent solution center untuk terus tumbuh dan berkembang,” ungkapnya. Baca Juga:  Peringkat ITS Tembus Posisi 497 Besar Dunia di QS WUR 2027 Peresmian FPSH dan lahirnya 15 doktor baru ini menjadi tolak ukur bagi UMM dalam merespons masa depan. Melalui sinergi keilmuan dan kemanusiaan ini, Kampus Putih diharapkan terus konsisten mencetak pendidik, peneliti, serta pemimpin berintegritas. Momentum transformasi ini sekaligus menjadi pesan kuat bahwa inovasi pendidikan tinggi harus selalu berpijak pada nilai-nilai keislaman dan kepedulian universal demi kemajuan peradaban bangsa. (abs)

Turun ke Jalan Demi Sehat: Aksi Mahasiswa UMM Perkenalkan Grit Fit Fest 2026 di Kayutangan Heritage

KLIKTIMES.COM | MALANG – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam Kelompok Asterisk pada mata kuliah Praktikum Public Relations 3 melaksanakan kegiatan pra-activation di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang, sebagai bagian dari rangkaian promosi Grit Fit Fest 2026. Kegiatan ini bertujuan memperluas jangkauan informasi sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelaksanaan event hasil kolaborasi dengan Grit Fitness. Pada kegiatan tersebut, mahasiswa membagikan leaflet kepada pengunjung yang tengah menikmati suasana kawasan Kayutangan Heritage. Leaflet memuat informasi mengenai jadwal pelaksanaan, jenis kelas olahraga, lokasi kegiatan, serta mekanisme pendaftaran Grit Fit Fest 2026. Selain itu, anggota Kelompok Asterisk juga memberikan penjelasan secara langsung kepada masyarakat mengenai tujuan kegiatan dan manfaat mengikuti event tersebut. Pemilihan Kayutangan Heritage sebagai lokasi pra-activation didasarkan pada tingginya mobilitas masyarakat dan wisatawan yang berkunjung, sehingga dinilai menjadi lokasi strategis untuk memperkenalkan Grit Fit Fest 2026 kepada khalayak yang lebih luas. Melalui komunikasi secara langsung, mahasiswa berupaya membangun ketertarikan masyarakat terhadap kegiatan yang mengusung kampanye gaya hidup sehat. Poster Grit Fit Fest 2026 (HO/KLIKTIMES.COM) Dalam leaflet dan materi promosi yang dibagikan, turut diperkenalkan sederet coach yang akan memandu kelas olahraga pada Grit Fit Fest 2026, di antaranya Coach Azhar, Coach Dzaky, Coach Dhea, Coach Yanie, Coach Yudha, Zin Sinyo, Coach Rini, dan Coach Aang. Para coach tersebut akan membawakan beragam kelas, mulai dari LesMills BodyPump dan BodyCombat pada 20 Juni 2026, hingga Zumba dan Yoga pada 27 Juni 2026, yang seluruhnya berlangsung di Atrium Plaza Begawan. Ketua Pelaksana Grit Fit Fest 2026, Rafy, mengatakan bahwa kegiatan pra-activation merupakan langkah penting untuk membangun awareness masyarakat sebelum acara utama diselenggarakan. “Kami memanfaatkan ruang publik seperti Kayutangan Heritage untuk menjangkau lebih banyak masyarakat. Melalui interaksi secara langsung, kami berharap informasi mengenai Grit Fit Fest 2026 dapat diterima dengan baik dan mendorong masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini,” ujarnya di kawasan Kayutangan, Malang, Sabtu (13/6/2026). Melalui kegiatan pra-activation ini, Kelompok Asterisk tidak hanya memperkenalkan Grit Fit Fest 2026, tetapi juga mengimplementasikan strategi public relations yang menekankan pentingnya komunikasi langsung dengan publik. Diharapkan, upaya tersebut mampu meningkatkan partisipasi masyarakat sekaligus menyukseskan pelaksanaan Grit Fit Fest 2026.

KP2MI-Universitas Muhammadiyah Malang Teken MoU Bentuk UMM Migrant Center untuk Calon PMI

MALANG, Harianmuria.com – Momentum Wisuda ke-122 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi lebih dari sekadar perayaan akademik. Di hadapan ribuan wisudawan, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menegaskan komitmen negara dalam membuka jalan bagi lahirnya generasi Indonesia yang mampu bersaing di pasar kerja global. Hal tersebut menyusul penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama Universitas Muhammadiyah Malang. Kerja sama ini mencakup penguatan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, serta pembentukan UMM Migrant Center sebagai pusat layanan terpadu penyiapan calon pekerja migran Indonesia yang kompeten dan berdaya saing. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Dzulfikar Ahmad Tawalla, Direktur Jenderal Pemberdayaan Dr. M. Fachri, M.Si., serta Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri Dwi Setiawan Susanto, S.E., M.Si., Ak. Penandatanganan kerja sama menjadi bagian dari rangkaian prosesi Wisuda ke-122 UMM yang berlangsung di Dome UMM, sekaligus menandai penguatan sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul untuk menjawab kebutuhan pasar kerja internasional. Dalam keynote speech bertajuk “Menyiapkan Generasi Berdaya Saing Global”, Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Dzulfikar Ahmad Tawalla menegaskan bahwa dunia kerja sedang mengalami transformasi yang sangat cepat. Perubahan teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), serta dinamika kebutuhan tenaga kerja global menuntut generasi muda untuk terus meningkatkan kompetensi dan kemampuan adaptasi. “Hari ini, tantangannya bukan lagi apakah dunia berubah, tetapi apakah kita mampu berubah lebih cepat. Ijazah adalah pintu masuk, tetapi kompetensi, karakter, kemampuan belajar sepanjang hayat, dan keberanian mengambil peluang global adalah kunci keberhasilan. Indonesia memiliki bonus demografi yang besar, dan negara harus memastikan bonus tersebut menjadi kekuatan, bukan sekadar angka statistik,” tegas Dzulfikar. Ia juga menekankan bahwa peluang kerja luar negeri terus terbuka lebar seiring meningkatnya kebutuhan tenaga kerja di berbagai negara akibat fenomena aging population. Karena itu, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam melahirkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja di dalam negeri, tetapi juga mampu memenuhi standar kompetensi internasional. Materi yang disampaikan menekankan pentingnya reskilling, upskilling, literasi teknologi, AI, kreativitas, dan ketangguhan sebagai kompetensi utama menghadapi perubahan global. Direktur Jenderal Pemberdayaan, Dr. M. Fachri, M.Si., menyampaikan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam membangun ekosistem pemberdayaan pekerja migran Indonesia sejak sebelum memasuki dunia kerja. “Pemberdayaan tidak dimulai ketika seseorang sudah menjadi pekerja migran, tetapi sejak masih berada di bangku pendidikan. Karena itu, kami membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi agar lulusan Indonesia memiliki informasi yang benar, kompetensi yang sesuai kebutuhan industri global, serta kesiapan mental dan profesional untuk bekerja secara prosedural, aman, dan bermartabat,” terangnya. Menurut Fachri, kehadiran UMM Migrant Center menjadi simpul layanan yang mengintegrasikan penyebarluasan informasi peluang kerja luar negeri, peningkatan kompetensi, harmonisasi kurikulum, penguatan vokasi, hingga fasilitasi mahasiswa dan lulusan yang berminat berkarier di luar negeri. Langkah itu, kata dia, menjadi bagian dari penguatan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan pendidikan tinggi yang berkelanjutan. Ruang lingkup kerja sama mencakup pendirian UMM Migrant Center, penyiapan data dan profil lulusan, peningkatan kompetensi sesuai kebutuhan negara tujuan, penyebarluasan informasi penempatan dan pelindungan PMI, standardisasi lembaga vokasi, serta koordinasi pelaksanaan program bersama. Sementara itu, Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri, Dwi Setiawan Susanto, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan langkah konkret dalam mempertemukan dunia pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja internasional yang terus berkembang. “Selama ini peluang kerja luar negeri masih sangat besar, namun tantangan utama adalah memastikan kualitas tenaga kerja kita sesuai dengan kebutuhan dunia usaha global. Melalui UMM Migrant Center, kami ingin membangun sistem yang mampu menghubungkan lulusan perguruan tinggi dengan peluang kerja internasional secara lebih terarah, terukur, dan sesuai standar kompetensi,” urainya. Nota Kesepahaman antara KP2MI dan Universitas Muhammadiyah Malang sendiri menjadi payung kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kegiatan ilmiah, serta pengembangan sumber daya manusia selama lima tahun ke depan. Kerja sama tersebut menjadi landasan bagi pelaksanaan berbagai program strategis yang akan dijalankan kedua belah pihak. Melalui kolaborasi ini, KP2MI menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia Indonesia membutuhkan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi. Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga siap menjadi talenta global yang profesional, adaptif, dan mampu bersaing di pasar kerja internasional. Sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi pembangunan nasional, KP2MI akan terus memperluas kemitraan strategis dengan perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Langkah ini merupakan wujud nyata komitmen negara dalam menghadirkan sistem penyiapan pekerja migran Indonesia yang lebih berkualitas, terlindungi, dan berdaya saing global, sehingga setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik melalui jalur migrasi kerja yang aman, legal, dan bermartabat.

Wamen P2MI tekankan pentingnya adaptasi global-kemampuan bahasa asing

Malang (ANTARA) – Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla menekankan pentingnya lulusan perguruan tinggi untuk beradaptasi secara global dan meningkatkan kemampuan berbahasa asing. Wamen Dzulfikar mengatakan disrupsi teknologi, penetrasi artificial intelligence (AI), dan perubahan pasar kerja global memaksa perguruan tinggi untuk tidak sekadar mencetak sarjana dengan kompetensi akademik standar. “Lulusan masa kini dituntut lebih adaptif, tangguh, dan memiliki daya saing di tingkat internasional,” ujar Wamen saat menyampaikan pidato ilmiah pada Wisuda ke-122 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Program Vokasi, Sarjana, dan Pascasarjana di Hall Dome UMM, Selasa. Ia mengemukakan kecepatan perubahan dunia telah merombak pola komunikasi, cara kerja, dan tuntutan kompetensi industri di berbagai sektor. Menghadapi dinamika yang bergerak sangat cepat tersebut, lulusan perguruan tinggi wajib meningkatkan kapasitas diri secara berkelanjutan agar tidak tergilas zaman. Menurut dia, masa depan pekerjaan berubah total dengan adanya AI. Cara bekerja tidak lagi sama, kompetensi yang dibutuhkan juga berbeda. “Karena itu, bersyukurlah berada di kampus yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun resiliensi, daya tahan, fleksibilitas, dan kelincahan menghadapi perubahan,” ucapnya. Semakin terbukanya peluang kerja di kancah global, katanya, membutuhkan pasokan tenaga kerja yang terampil. Ia mengingatkan bahwa bonus demografi Indonesia hanya bisa diubah menjadi kekuatan ekonomi nyata jika lulusan mau melengkapi diri dengan kompetensi tambahan, khususnya penguasaan bahasa asing dan keterampilan spesifik standar internasional. “Jika tenaga kesehatan atau profesi lainnya menambah kompetensi bahasa dan keterampilan, kemudian masuk ke pasar Eropa atau Timur Tengah, pendapatan tahun pertama bisa mencapai sekitar Rp25 juta per bulan. Karena itu, jangan berhenti belajar setelah lulus,” pesannya. Sementara itu, Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik menyatakan komitmen UMM dalam menyesuaikan sistem pendidikan global melalui penguatan akademik dan kolaborasi industri. Prof Nazar mengedepankan program Center of Excellence (CoE) dan Excellent Solution Center (ESC) sebagai strategi konkret UMM. Program ini dirancang untuk mengintegrasikan pembelajaran dan inkubasi inovasi agar mahasiswa siap menghadapi dunia kerja. “Prestasi kampus yang sesungguhnya adalah kemampuan alumni untuk terus memberikan manfaat di tengah masyarakat. Pendidikan harus tumbuh bersama masyarakat, bukan berjalan terpisah dari persoalan yang mereka hadapi,” ujarnya.

Wamen P2MI di Wisuda ke-122 UMM: Tekankan Pentingnya Adaptasi Global dan Skill Bahasa Menghadapi Era AI

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Disrupsi teknologi, penetrasi Artificial Intelligence (AI), dan perubahan pasar kerja global memaksa perguruan tinggi untuk tidak sekadar mencetak sarjana dengan kompetensi akademik standar. Lulusan masa kini dituntut lebih adaptif, tangguh, dan memiliki daya saing di tingkat internasional. Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam perhelatan Wisuda ke-122 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Program Vokasi, Sarjana, dan Pascasarjana di Hall Dome UMM, Selasa (7/7/2026). Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla, S.Pd., M.Ikom., dalam orasi ilmiahnya menyebutkan bahwa kecepatan perubahan dunia telah merombak pola komunikasi, cara kerja, dan tuntutan kompetensi industri di berbagai sektor. Menghadapi dinamika yang bergerak sangat cepat tersebut, lulusan perguruan tinggi wajib meningkatkan kapasitas diri secara berkelanjutan agar tidak tergilas zaman.“Masa depan pekerjaan berubah total dengan adanya artificial intelligence. Cara bekerja tidak lagi sama, kompetensi yang dibutuhkan juga berbeda. Karena itu, bersyukurlah berada di kampus yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun resiliensi, daya tahan, fleksibilitas, dan kelincahan menghadapi perubahan,” tegas Dzulfikar Ahmad Tawalla. Peluang Kerja Global dan Nilai Tambah Keterampilan Bahasa Lebih lanjut, Dzulfikar menyoroti semakin terbukanya peluang kerja di kancah global yang membutuhkan pasokan tenaga kerja terampil. Ia mengingatkan bahwa bonus demografi Indonesia hanya bisa diubah menjadi kekuatan ekonomi nyata jika lulusan mau melengkapi diri dengan kompetensi tambahan, khususnya penguasaan bahasa asing dan keterampilan spesifik standar internasional.“Jika tenaga kesehatan atau profesi lainnya menambah kompetensi bahasa dan keterampilan, kemudian masuk ke pasar Eropa atau Timur Tengah, pendapatan tahun pertama bisa mencapai sekitar Rp25 juta per bulan. Karena itu, jangan berhenti belajar setelah lulus,” pesan Wamen P2MI kepada para wisudawan. Komitmen UMM Cetak Lulusan Pemberi Solusi Merespons tantangan global tersebut, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyatakan komitmen kampus dalam menyesuaikan sistem pendidikan global melalui penguatan akademik dan kolaborasi industri. Pria yang akrab disapa Nazar ini mengedepankan program Center of Excellence (CoE) dan Excellent Solution Center (ESC) sebagai strategi konkret UMM. Simbolis Penyerahan Kenang-Kenangan oleh Rektor Program strategis ini dirancang untuk mengintegrasikan pembelajaran dan inkubasi inovasi agar mahasiswa siap menghadapi dunia kerja. Baginya, tolak ukur keberhasilan perguruan tinggi terletak pada sejauh mana alumninya hadir menjadi pemberi solusi di kehidupan nyata.“Prestasi yang sesungguhnya adalah kemampuan alumni untuk terus memberikan manfaat di tengah masyarakat. Pendidikan harus tumbuh bersama masyarakat, bukan berjalan terpisah dari persoalan yang mereka hadapi,” ungkap Prof. Nazaruddin Malik. Sebagai penutup, momentum Wisuda ke-122 ini menjadi pesan pengingat yang kuat bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi bukanlah satu-satunya jaminan kesuksesan. Keluwesan beradaptasi, semangat belajar sepanjang hayat, dan keberanian menghadapi persaingan global adalah modal fundamental yang harus terus dibawa oleh setiap lulusan UMM untuk memenangkan persaingan di era transformasi yang serba cepat ini.

UMM Tinggalkan Nama FKIP, Bidik Minat Gen Alpha Lewat Fakultas Baru

MALANG, iNewsMalang.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merombak Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Mulai penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027, fakultas itu resmi berganti nama menjadi Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora (FPSH). Langkah tersebut ditempuh sebagai respons atas berubahnya minat calon mahasiswa yang tak lagi terpusat pada bidang keguruan. Perubahan itu diumumkan bersamaan dengan peluncuran identitas baru fakultas, Senin (6/7/2026). Tidak hanya berganti nama, UMM juga menyiapkan sejumlah program studi (prodi) baru yang kini masih berproses di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek). Dekan FPSH UMM Prof Moh. Mahfud Effendy mengatakan, perubahan tersebut merupakan bagian dari strategi kampus agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, fakultas harus memiliki ruang yang lebih luas untuk mengembangkan keilmuan di luar rumpun pendidikan. “Kita kan merespon perkembangan zaman, kita tidak bisa bertahan di zamannya sekarang, DNA kita mencoba memperluas, karena kebermanfaatan dari misi matematik itu kan banyak,” ujarnya. Mahfud tak menampik, merosotnya minat lulusan SMA memilih jurusan keguruan menjadi salah satu pertimbangan utama. Di sisi lain, karakter Gen Alpha dinilai lebih tertarik pada bidang yang menawarkan fleksibilitas dan peluang karier lebih luas. “Generasi alpha kan mintanya macam-macam, itu kita harus sediakan. Di situ calon mahasiswa baru itu tidak begitu tertarik terhadap keguruan, apalagi kan sekarang kan juga gajinya itu (rendah), dan gen alpha itu kan tidak mau yang terkungkung dan seterusnya. Dia inginnya akan berpikir bebas, itu kita sediakan,” katanya. Sejalan dengan perubahan nama fakultas, UMM mengusulkan tiga prodi baru. Yakni Sains Aktuaria dan Data Sains di rumpun Matematika serta Bioinformatika pada bidang Biologi. Seluruhnya ditargetkan bisa dibuka setelah memperoleh izin dari Kemendikti Saintek. “Ada beberapa prodi baru yang masih di proses ini. Kalau di matematik itu saya mintanya kan ada dua. Yang pertama di proses ini ada sains aktuarial, yang kedua adalah data sains. Kalau di biologi itu ada bioinformatika,” tuturnya. Mahfud menjelaskan, perubahan nama fakultas cukup ditetapkan di tingkat universitas. Berbeda dengan pembukaan prodi baru yang harus mendapat persetujuan pemerintah. “Kalau Prodi baru ke kementerian, kalau fakultas cukup ke universitas, tapi harus tetap ada nomenklaturnya,” imbuhnya. Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik menambahkan, perubahan tersebut bukan sekadar pergantian nama. Menurut dia, pembaruan itu sekaligus mengubah tata kelola fakultas agar lebih leluasa mengembangkan bidang ilmu yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. “Ini adalah bentuk perubahan tata kelola agar kita memiliki keleluasaan lebih dalam mengembangkan bidang-bidang di dalamnya. Jika kita hanya terbatas pada sekat-sekat nomenklatur, terutama nomenklatur program studi, maka institusi tidak akan berkembang,” ujarnya. Dia berharap transformasi tersebut melahirkan lebih banyak inovasi yang tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi mampu menjawab kebutuhan masyarakat melalui riset dan penerapan teknologi. “Itu adalah poin yang paling penting. Saya sudah memberikan contoh nyata pada riset tadi. Riset tersebut pada dasarnya merupakan sebuah model pembelajaran jika diimplementasikan. Namun, penerapannya harus berjalan beriringan dengan pemodelan literasi digital dan didukung oleh infrastruktur IT yang kuat,” jelasnya. Nazaruddin juga membuka peluang bertambahnya prodi baru pada masa mendatang. Menurutnya, ruang kolaborasi yang lebih luas akan memudahkan kampus menghadirkan program studi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan ilmu pengetahuan. “Bisa jadi Prodi akan bertambah ke depannya. Karena dengan adanya kolaborasi ini, peluang untuk membuka program studi baru yang relevan pasti terbuka lebar,” tandasnya. Editor : Ryan Haryanto

Kagumi Ekosistem EBT Kampus Putih, Peserta BTI di UMM Rancang Prototipe PLTMH Berbasis IoT untuk Daerah 3T

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM –  Ekosistem Energi Baru Terbarukan (EBT) yang diterapkan secara maksimal di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menjadi pemantik lahirnya inovasi teknologi hijau dari peserta Bina Talenta Indonesia (BTI) 2026. Hal ini dirasakan langsung oleh Muhammad Luthfi Aziz, siswa kelas 12 SMA Darul Ulum 1 Unggulan Peterongan Jombang, yang mengaku sangat terbantu oleh fasilitas komprehensif serta kepakaran para dosen Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) Kampus Putih dalam merancang purwarupa teknologi kelistrikan terbarukan. Sebagai peserta binaan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Luthfi mengikuti pemusatan BTI di UMM pada 1-7 Juli 2026. Ia menuturkan bahwa gagasan segar merancang prototipe kelistrikan tersebut muncul setelah melihat langsung operasional Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) binaan UMM di Sumber Maron. “Baru kali ini saya melihat kampus dengan penerapan EBT yang sangat maksimal. Pakar-pakar UMM yang dihadirkan selama workshop juga sangat menarik, memberikan kami bekal keilmuan STEM yang nyata untuk merancang prototipe kelistrikan bagi daerah terpencil,” tegas Luthfi kepada Humas UMM, Senin (6/7/2026). Berbekal inspirasi tersebut, Luthfi bersama timnya sukses merancang prototipe PLTMH dengan slogan menarik, “Airnya Ngalir, Energinya Hadir!”. Purwarupa ini lahir sebagai solusi awal konkret di tengah ancaman krisis energi global. Di saat permintaan listrik dunia diprediksi melonjak 3,6 persen setiap tahun, pasokan energi nasional nyatanya masih didominasi oleh 85 persen bahan bakar fosil. Hadir sebagai jawaban atas tantangan tersebut, prototipe ini dirancang sebagai model pembangkit skala kecil berbiaya rendah dan ramah lingkungan yang memanfaatkan potensi aliran air sungai. Target utamanya adalah menjadi cikal bakal pemerataan akses listrik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Lebih jauh, purwarupa inovasi tim BTI ini memadukan desain mekanik yang presisi dengan teknologi mutakhir. Luthfi menjelaskan bahwa inovasi mereka menyematkan sensor Internet of Things (IoT) yang tidak hanya berfungsi menjaga stabilitas daya dari arus air rendah, tetapi juga dirancang khusus untuk mengetahui debit air yang mengalir, mengidentifikasi ancaman potensi bencana banjir bandang, hingga menganalisis secara otomatis jika terdapat kerusakan pada sistem kelistrikan. “Sistem IoT ini memungkinkan kami memantau stabilitas listrik, debit air, hingga potensi bencana secara real-time dari jarak jauh. Jadi, inovasi ini tidak sekadar memberikan pemerataan akses listrik bagi masyarakat pedalaman, tetapi juga memastikan ekosistem alamnya tetap terjaga dengan aman,” urai siswa asal Jombang tersebut. Merespons lahirnya purwarupa inovatif tersebut, Ketua Pelaksana BTI di UMM, Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd., menegaskan komitmen kuat institusi dalam mendukung talenta muda nasional. Ia menyampaikan bahwa Kampus Putih akan terus memfasilitasi kebutuhan riset guna memantik nalar kritis inovator masa depan. “UMM selalu siap menjadi laboratorium hidup yang sesungguhnya bagi para pelajar. Kami sangat berharap prototipe teknologi hijau karya peserta BTI ini dapat terus disempurnakan hingga tahap hilirisasi dan produksi nyata, sehingga kemandirian energi nasional benar-benar terwujud lewat tangan generasi penerus kita,” pungkas Dyah.