Harga Pangan Meroket Jelang Nataru, Dosen UMM: Pemerintah Harus Segera Bertindak!

MALANG (SurabayaPost.id) – Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, masyarakat Indonesia kembali dihadapkan pada lonjakan harga bahan pangan yang semakin memberatkan. Harga komoditas pokok seperti beras, cabai, bawang merah, dan daging sapi meningkat signifikan, mempengaruhi banyak lapisan masyarakat. Dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang, Ary Bakhtiar, M.Si, IPM., Asean Eng, mengungkapkan bahwa produksi pangan turun signifikan pada akhir tahun ini. “Harga cabai saja yang awalnya Rp20.000 per kilogram kini melonjak menjadi Rp73.000. Ibu-ibu akhirnya hanya membeli seperempat kilogram,” jelas Ary Bakhtiar, Kamis (4/12/2025). Ary menjelaskan bahwa kenaikan harga disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain cuaca ekstrem yang mengganggu produksi dan distribusi pangan, perubahan iklim yang memperburuk kondisi produksi, serta meningkatnya permintaan menjelang perayaan akhir tahun. “Pemerintah perlu hadir lebih kuat dalam menjaga stabilitas pangan, terutama di tingkat produksi dan distribusi,” tegas Ary. Ia menyarankan pemerintah untuk menguatkan stabilitas pangan, meningkatkan infrastruktur distribusi, serta menyiapkan operasi pasar dan cadangan pangan untuk menekan lonjakan harga. Ary berharap upaya stabilisasi pangan dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan oleh berbagai pihak, sehingga ketahanan pangan dapat tercipta. “Saya berharap pemerintah dapat memperkuat sistem pangan kita, bukan hanya saat krisis atau menjelang hari besar, tetapi sepanjang tahun,” ujarnya. Dengan komitmen dan kerja sama yang kuat, diharapkan lonjakan harga pangan dapat diatasi dan masyarakat dapat menikmati hari raya dengan lebih sejahtera. (lil).

KKI 2025 di UMM: Inovasi Maritim, Kreativitas Mahasiswa, dan Terobosan Teknologi

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2025 tingkat nasional yang berlangsung meriah pada Kamis-Sabtu (4-6/12/2025). Ajang ini tidak hanya menjadi wadah unjuk kemampuan mahasiswa dalam teknologi maritim, tetapi juga menunjukkan kesiapan UMM sebagai penyelenggara berfasilitas lengkap dan berstandar nasional. Para peserta dari berbagai kampus memberikan apresiasi atas penyelenggaraan yang dinilai rapi, nyaman, dan sangat mendukung jalannya kompetisi. UMM sendiri turut berlaga melalui Lembaga Semi Otonom Mekatronic dengan dua kapal andalan: Sangkaling Evo 6 untuk kategori Fuel Engine Remote Control (FERC) dan Boeing Mary Evo 5 untuk kategori Electric Remote Control (ERC). Persiapan dilakukan selama enam bulan penuh. Devany Aurellia Putri Setiawan, mahasiswa Teknik Industri UMM, menegaskan keseriusan timnya. “Dari tim UMM ini sudah menyiapkan dari enam bulan sebelum lomba, mulai dari desainnya. Sebelum turun regulasi pun kami sudah bikin planning-planning ke depan,” ujarnya. Ia menambahkan, sejumlah kendala sempat dihadapi, terutama saat uji coba. “Kalau nabrak kan ada kemungkinan tenggelam, jadi mesin-mesinnya harus di-repair dan di-upgrade lagi,” jelasnya. Selain lomba kapal cepat, KKI 2025 juga menggelar kompetisi Inovasi Desain dan Konstruksi (IDK) yang menitikberatkan pada kemampuan peserta merancang kapal berdasarkan pendekatan Desain Konstruksi Kapal (DKK). Peserta melewati tahapan konsep, desain awal, desain kontrak, hingga desain detail. Berbagai sistem konstruksi memanjang, melintang, hingga campuran menjadi elemen penilaian, disertai pemahaman struktur kapal seperti lunas, pelat alas, dan penumpu. Lomba ini menuntut ketelitian tinggi agar rancangan memenuhi standar kekuatan dan keselamatan. Fasilitas UMM juga mendapat apresiasi dari peserta luar kampus. Reviana Azzara Putri dari Universitas Sebelas Maret (UNS) mengaku terkesan dengan kondisi kampus. “Jujur, ini pertama kali aku datang ke UMM, dan menurutku sangat bagus,” ungkap Revi. Ia juga memuji sarana pendukung. “Menurut aku sudah cukup bagus dari segi tata letak dan arsitekturnya. Terutama kamar mandinya itu bersih,” tambahnya. Revi menilai arena perlombaan di Danau Kampus UMM dan area Sengkaling sudah sangat memadai untuk kompetisi kapal. Tidak hanya memacu kemampuan teknis, KKI 2025 juga menjadi ruang pertemuan mahasiswa dari berbagai daerah, membuka peluang relasi baru dan pertukaran ide. Dengan fasilitas lengkap dan lingkungan yang tertata, UMM berhasil meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Gelaran ini sekaligus menegaskan komitmen UMM untuk terus menjadi pusat pengembangan teknologi dan inovasi maritim di Indonesia. (Wildan/AS)

Inovasi Maritim Menggema di UMM, KKI 2025 Satukan Teknologi, Kreativitas, dan Kolaborasi Mahasiswa

Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2025 tingkat nasional berlangsung meriah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 4–6 Desember 2025. Tidak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan mahasiswa dalam teknologi maritim, kegiatan ini juga menunjukkan kesiapan UMM sebagai tuan rumah berfasilitas lengkap dan berstandar nasional. Para peserta dari berbagai kampus memberikan apresiasi atas penyelenggaraan yang dinilai rapi, nyaman, dan mendukung jalannya lomba. UMM sendiri turut berkompetisi melalui Lembaga Semi Otonom Mekatronic dengan dua kapal andalan: Sangkaling Evo 6 untuk kategori Fuel Engine Remote Control (FERC) dan Boeing Mary Evo 5 untuk kategori Electric Remote Control (ERC). Persiapan panjang dilakukan selama enam bulan penuh. Devany Aurellia Putri Setiawan, mahasiswa Teknik Industri UMM, menegaskan keseriusan timnya. “Dari tim UMM ini sudah menyiapkan dari enam bulan sebelum lomba, mulai dari desainnya. Sebelum turun regulasi pun kami sudah bikin planning-planning ke depan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa berbagai kendala sempat dihadapi, terutama saat uji coba. “Kalau nabrak kan ada kemungkinan tenggelam, jadi mesin-mesinnya harus di-repair dan di-upgrade lagi,” katanya. Selain lomba kapal cepat, ada juga lomba Inovasi desain dan konstruksi (IDK), yang menitikberatkan pada kemampuan peserta merancang kapal berdasarkan pendekatan Desain Konstruksi Kapal (DKK). Peserta melewati tahapan konsep, desain awal, desain kontrak, hingga desain detail. Berbagai sistem konstruksi memanjang, melintang, hingga campuran menjadi elemen penilaian, disertai pemahaman struktur kapal seperti lunas, pelat alas, dan penumpu. Lomba ini menuntut ketelitian tinggi agar rancangan memenuhi standar kekuatan dan keselamatan. Disisi lain, fasilitas UMM juga mendapat perhatian positif dari peserta luar kampus. Reviana Azzara Putri dari Universitas Sebelas Maret (UNS) mengaku terkesan dengan kondisi kampus. “Jujur, ini pertama kali aku datang ke UMM, dan menurutku sangat bagus,” ungkap Revi. Ia secara khusus memuji sarana pendukung. “Menurut aku sudah cukup bagus dari segi tata letak dan arsitekturnya. Terutama kamar mandinya itu bersih,” tambahnya. Revi juga menilai arena perlombaan di Danau Kampus UMM dan area Sengkaling sudah sangat memadai untuk kompetisi kapal. Selain memacu kemampuan teknis, KKI 2025 mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah, membuka peluang relasi baru dan pertukaran ide. Dengan fasilitas lengkap dan lingkungan tertata, UMM berhasil meninggalkan kesan mendalam bagi peserta. Gelaran ini sekaligus menegaskan komitmen UMM untuk menjadi pusat pengembangan teknologi dan inovasi maritim di Indonesia.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Pojok Statistik UMM Kali Ketiga Raih Terbaik Nasional BPS Pusat

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Pojok Statistik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang dikelola Prodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (EP FEB) kembali meraih penghargaan nasional dari Badan Pusat Statistik (BPS) pusat. Penghargaan tersebut merupakan kali ketiga secara berturut-turut sejak 2023, 2024, dan 2025. Prestasi membanggakan ini dijelaskan PIC Humas Prodi Ekonomi Pembangunan UMM, Muhammad Firmansyah, SE, ME, baru-baru ini. Menurut Firman penghargaan BPS Pusat pada Pojok Statistik UMM ini dinobatkan sebagai terbaik 3  se Indonesia kategori binaan BPS Kabupaten/Kota. Nah khusus Pojok Statistik UMM merupakan binaan atau mitra BPS Kota Batu. Selama ini program pojok statistic UMM sukses melaksanakan survei-survei untuk data bersama BPS Kota Batu. Menurut Firman sukses Pojok Statistik UMM konsisten meraih penghargaan terbaik dari BPS Pusat selama tiga tahun berturut tidak lepas dari peran seorang FX Gugus Febri Putranto. Seorang praktisi BPS Kota Batu serta dosen praktisi yang aktif melakukan riset dan sudah terbit di berbagai jurnal nasional-internasional sekaligus berkontribusi langsung pada pencapaian SDG’s (Sustainable Development Goals). Sementara itu, Gugus  Febri Putranto dalam akun youtube BPS Pemprov Jatim mengungkapkan selain akademisi juga aktif membimbing skripsi agar semakin banyak generasi muda memahami data BPS untuk mendukung evidence based policy (EBP). Melalui diplomasi dan koordinasi aktif sebagai pengurus ICI Malang, diskusi aktif OCED, editor jurnal, serta penyusun rekomendasi kebijakan Bank Indonesia. Inovasi Gugus adalah Stata dan Sipena menjadi jembatan riset  kolaborasi yang berkontribusi nyata bagi pemerintah. Itu sebabnya dirinya memberikan motivasi kepada generasi muda untuk untuk menjadi insan statistic yang Go, Grow and Support. Berkarya tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga bertumbuh bersama mendukung sesama hingga menghadirkan inside kebijakan yang lebih baik melalui EBP. (humas ep umm/don)

Empat Kali Pimpin Gelaran KKI, UMM Tegaskan Dominasi dalam Ekosistem Inovasi Nasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meneguhkan posisinya sebagai pusat inovasi mahasiswa tingkat nasional melalui peresmian Kontes Kapal Indonesia (KKI) dan Abdidaya Ormawa 2025, yang untuk pertama kalinya disatukan dalam satu panggung. Gelaran akbar pada Kamis, 4 Desember 2025, di Hall Dome UMM ini berlangsung meriah dan sekaligus menandai kepercayaan nasional terhadap UMM, yang kembali dipercaya sebagai tuan rumah KKI untuk keempat kalinya. Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi hadir membawa karya terbaik mereka, menciptakan atmosfer kompetisi yang penuh energi, kolaborasi, dan kreativitas. Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Republik Indonesia (Mendiktisaintek), Prof. Dr. Brian Yulianto, M.Eng., Ph.D., memberikan apresiasi tinggi kepada UMM atas konsistensinya membangun ekosistem inovasi mahasiswa. Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan terpadu KKI dan Abdidaya merupakan momentum penting untuk memperkuat budaya riset, rekayasa teknologi, dan pengabdian masyarakat. Bagi negara, kedua ajang ini bukan sekadar perlombaan tahunan, melainkan investasi strategis untuk mencetak generasi muda yang berani menghadapi ketidakpastian, piawai menciptakan solusi berbasis sains, serta memiliki kepedulian sosial yang kuat. “KKI adalah arena inovasi maritim yang memperkuat visi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Abdidaya menunjukkan bagaimana mahasiswa membaca kebutuhan masyarakat melalui program yang inovatif dan berkelanjutan. Ada tiga pesan penting: keberanian menghadapi masalah, kemampuan mencari solusi berbasis ilmu dan teknologi, serta komitmen pada keberlanjutan. Lomba ini adalah investasi untuk melahirkan pemimpin masa depan. Jangan hanya mengejar juara, namun hadirkan karya yang berdampak dan dapat direplikasi,” tegasnya. Disisi lain, Ketua Pelaksana, Amrul Faruq, M.Eng., Ph.D., menyebut penyelenggaraan tahun ini sebagai momen bersejarah karena untuk pertama kalinya KKI dan Abdidaya digelar secara terpadu. Tercatat 93 perguruan tinggi berpartisipasi dengan 131 tim KKI dan 119 tim Abdidaya. Itu membuktikan adanya peningkatan signifikan yang menunjukkan tingginya antusiasme mahasiswa terhadap inovasi maritim dan pemberdayaan masyarakat. Ia menambahkan bahwa kualitas karya tahun ini meningkat pesat. “Desain kapal, sistem kontrol, dan pendekatan teknis mahasiswa semakin cerdas dan efisien. Abdidaya juga terus menjadi rujukan nasional dalam menilai program pengabdian masyarakat yang berorientasi keberlanjutan,” ujarnya. Sementara itu, Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, MT., menekankan bahwa ajang ini tidak hanya melatih kemampuan teknis, tetapi juga membentuk karakter kepemimpinan dan mental kompetitif mahasiswa. Ruang kolaborasi lintas kampus seperti ini, menurutnya, sangat dibutuhkan untuk menghadapi persaingan global. “Keberanian tampil dan membawa nama almamater adalah nilai penting dalam proses pembentukan calon pemimpin bangsa. Mereka bukan hanya peserta lomba, tetapi generasi masa depan yang sedang ditempa,” tutupnya.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Sambut Ribuan Peserta KKI dan Abdidaya Ormawa dari Seluruh Indonesia

MALANG, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapatkan kepercayaan menjadi tuan rumah dua agenda besar sekaligus pada 4–6 Desember 2025, yakni Anugerah Abdidaya Ormawa 2025 dan Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2025. Kedua kegiatan yang diinisiasi Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tersebut diperkirakan akan menghadirkan ribuan peserta dari seluruh Indonesia. Pada penyelenggaraan tahun ke-5 Anugerah Abdidaya Ormawa, UMM menyiapkan berbagai rangkaian acara mulai dari pembukaan, Abdidaya Ormawa Expo, semiloka nasional, hingga malam penganugerahan. Expo menjadi kegiatan utama yang menampilkan pameran poster, luaran wajib, dan produk tambahan dari tim pelaksana Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dari berbagai perguruan tinggi. Semiloka nasional juga digelar dengan melibatkan pimpinan bidang kemahasiswaan, pengurus Ormawa, dosen pendamping, serta mitra desa dan eksternal untuk membahas strategi peningkatan kapasitas organisasi mahasiswa. Puncaknya, panitia akan mengumumkan peraih Anugerah Abdidaya Ormawa 2025 di Dome UMM. Penghargaan diberikan kepada tim pelaksana, organisasi kemahasiswaan, dosen pendamping, perguruan tinggi, serta mitra berkelanjutan yang dinilai berhasil menjalankan program pemberdayaan melalui PPK Ormawa. Program ini sendiri berfokus pada peningkatan kapasitas organisasi mahasiswa melalui proyek pemberdayaan masyarakat, mencakup tema pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan, serta berbagai pengembangan seperti Desa Wirausaha, Smart Farming, Kampung Iklim, hingga Desa/Kelurahan Cerdas dan Wisata. Di saat bersamaan, UMM juga menjadi tuan rumah Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2025 yang menghadirkan tantangan baru bagi peserta. Ketua Panitia Lokal, Amrul Faruq, M.Eng Ph.D, menyampaikan bahwa tahun ini panitia menerapkan perubahan total pada lintasan lomba serta peningkatan standar teknis yang lebih ketat. Fasilitas unggulan UMM, seperti tiga danau uji berstandar nasional, menjadi arena utama pengujian navigasi, manuverabilitas, hingga stabilitas prototipe kapal. Belmawa telah melakukan dua kali visitasi untuk memastikan lokasi memenuhi standar kompetisi nasional. Panitia juga kembali mengikuti bimbingan teknis bersama juri nasional pada 28 November untuk finalisasi aturan keselamatan, inspeksi prototipe, serta operasional arena lomba. Antusiasme peserta meningkat tajam dengan hadirnya 110 tim dari 51 perguruan tinggi, sehingga total pergerakan peserta, juri, serta pendamping diprediksi melampaui 1.500 orang selama kegiatan berlangsung. KKI 2025 mempertandingkan tiga kategori utama: Autonomous Surface Vessel (ASV), Electric Remote Control (ERC), dan Fuel Engine Remote Control (FERC). Meskipun tidak ada penambahan kategori, peningkatan standar teknis diprediksi membuat kompetisi lebih ketat. Untuk mendukung kelancaran acara, lebih dari 200 mahasiswa UMM dilibatkan sebagai panitia dan liaison officer (LO). Mereka bertugas mengoordinasikan peserta, membantu aspek teknis, dan memastikan kelancaran tiap rangkaian lomba. Selain menjadi sarana praktik manajemen acara, para mahasiswa juga akan memperoleh sertifikat dari UMM dan Belmawa. Melalui penyelenggaraan dua agenda nasional ini, UMM kembali menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi dengan kemampuan manajerial acara berskala besar serta menjadi pusat kolaborasi akademik dan inovasi mahasiswa dari seluruh Indonesia. (diko)

UMM Siap Sambut Ribuan Peserta Kontes Kapal Indonesia dan Abdidaya Ormawa 2025

Malanginspirasi.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali dipercaya menjadi tuan rumah dua agenda nasional besar yang akan digelar pada 4–6 Desember 2025. Dua acara tersebut adalah Anugerah Abdidaya Ormawa 2025 dan Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2025. Kedua kegiatan yang digagas oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa). Kemendiknas Ristek ini diperkirakan menghadirkan ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Macam Agenda Tahun ini merupakan penyelenggaraan kelima Anugerah Abdidaya Ormawa. UMM menyiapkan beragam agenda, mulai dari pembukaan, Abdidaya Ormawa Expo, seminar dan lokakarya nasional, hingga malam puncak penganugerahan. Pada bagian expo, pengunjung bisa melihat pameran poster dan laporan luaran. Tak ketinggalan hingga produk inovatif dari tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) yang datang dari berbagai kampus di Indonesia. Selain itu, UMM juga menggelar semiloka nasional yang melibatkan pimpinan bidang kemahasiswaan, pengurus organisasi mahasiswa, dosen pembimbing, mitra desa, hingga mitra eksternal. Forum ini membahas strategi peningkatan kapasitas organisasi mahasiswa agar semakin berdampak bagi masyarakat. Penghargaan Pemenang Puncak acara akan berlangsung di Dome UMM, di mana panitia akan mengumumkan pemenang Anugerah Abdidaya Ormawa 2025. Penghargaan diberikan kepada tim pelaksana, organisasi mahasiswa, dosen pendamping, perguruan tinggi, dan mitra berkelanjutan. Mereka dinilai berhasil menjalankan program pemberdayaan masyarakat melalui PPK Ormawa. PPK Ormawa sendiri fokus pada penguatan organisasi mahasiswa lewat proyek pengabdian di berbagai bidang, seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan. Program ini juga mendorong pengembangan desa binaan, mulai dari Desa Wirausaha, Smart Farming, Kampung Iklim, hingga Desa/Kelurahan Cerdas dan Wisata. Bersamaan dengan Abdidaya, UMM juga menjadi tuan rumah Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2025. Ketua Panitia Lokal, Amrul Faruq, M.Eng., Ph.D., menjelaskan bahwa panitia menerapkan banyak perubahan. Termasuk desain lintasan lomba yang benar benar baru serta standar teknis yang lebih ketat. UMM memanfaatkan fasilitas unggulannya berupa tiga danau uji berstandar nasional sebagai lokasi utama pengujian. Di sana, prototipe kapal diuji navigasi, kemampuan bermanuver, hingga kestabilannya. Belmawa telah dua kali melakukan visitasi untuk mengecek kesiapan lokasi. Panitia juga mengikuti bimbingan teknis bersama juri nasional pada 28 November. Tujuannya untuk memastikan aturan keselamatan, inspeksi kapal, dan operasional arena lomba sudah sesuai standar. Antusiasme peserta meningkat dibanding tahun sebelumnya. Tercatat ada 110 tim dari 51 kampus yang ikut serta. Total peserta, juri, dan pendamping diprediksi menembus lebih dari 1.500 orang selama acara berlangsung. Tiga Kategori Pertandingan KKI 2025 mempertandingkan tiga kategori yakni Autonomous Surface Vessel (ASV), Electric Remote Control (ERC), dan Fuel Engine Remote Control (FERC). Meskipun kategorinya sama seperti tahun lalu, naiknya standar teknis membuat persaingan diperkirakan jauh lebih ketat. Untuk mendukung kelancaran acara, lebih dari 200 mahasiswa UMM terlibat sebagai panitia dan Liaison Officer (LO). Mereka bertugas mengoordinasikan peserta, membantu kebutuhan teknis, dan memastikan setiap rangkaian berjalan lancar. Selain menambah pengalaman, para mahasiswa akan mendapatkan sertifikat resmi dari UMM dan Belmawa. Melalui penyelenggaraan dua acara nasional berskala besar ini, UMM kembali menunjukkan kemampuannya dalam mengelola event besar. Sekaligus menjadi pusat kolaborasi akademik, teknologi, dan inovasi mahasiswa dari seluruh Indonesia.

Banjir dan Longsor Sumatera, Akademisi UMM Serukan Pembenahan Pengawasan Lingkungan

Malangpariwara.com – Banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025 membawa dampak besar Ratusan korban jiwa dilaporkan, puluhan ribu warga terpaksa mengungsi, dan kerusakan lingkungan meluas di berbagai wilayah. Di balik bencana hidrometeorologi yang dipicu curah hujan ekstrem ini, perhatian publik mengarah pada dugaan deforestasi serta maraknya aktivitas tambang ilegal. Dosen Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sumali, M.Hum., menilai bahwa masalah utama bukan terletak pada kurangnya aturan, melainkan lemahnya penerapan hukum. “Regulasinya sudah baik, tetapi implementasi law enforcement selalu menyisakan kesenjangan. Kenapa aturan kuat justru tidak mampu mencegah kerusakan lingkungan?” ujarnya. Hukum Lingkungan dan Pertambangan Sumali menjelaskan bahwa kerangka hukum terkait lingkungan dan pertambangan sudah diatur sejak 2012. Termasuk kewajiban pemerintah daerah melakukan pengawasan izin tambang dan AMDAL. Lembaga lingkungan juga diberi ruang dalam proses pengawasan. Namun menurutnya, ada tiga hambatan besar yang membuat penegakan hukum sering mandek. Pertama, dominasi kepentingan korporasi yang mampu mempengaruhi aparat. “Aparat sering kali tergoda oleh fasilitas atau materi, sehingga izin diterbitkan tanpa kajian layak, tanpa AMDAL, bahkan disertai praktik suap,” katanya. Kedua, persoalan di ranah peradilan. Ia mencontohkan vonis yang tidak sebanding dengan dampak kerusakan. Ia menegaskan, “Ada kasus yang dituntut puluhan triliun, tetapi divonis hanya miliaran. Ini bentuk judicial corruption.” Ketiga, minimnya informasi untuk masyarakat sehingga ruang kontrol publik menjadi sempit. Ia juga mengutip teori Donald Black yang menyebut bahwa penegakan hukum sering dipengaruhi posisi sosial. “Kelompok yang punya modal dan jabatan lebih mudah mendapat izin. Belum lagi kedekatan pejabat dan korporasi yang membuat persyaratan perizinan sering kali diloloskan,” terangnya. Menanggapi kerusakan besar yang terjadi, Sumali mengingatkan bahwa bencana ini adalah refleksi hilangnya amanat. “Kerusakan ini adalah peringatan. Allah menunjukkan akibat ulah manusia agar kita kembali ke jalan benar,” ujarnya merujuk Surat Ar-Rum ayat 41. Sumali berharap aparat dan pemerintah memiliki kesadaran moral yang kuat serta keberanian politik untuk menjaga lingkungan. “Kita butuh pemimpin yang berani memberi penghargaan kepada pejabat yang tegas menegakkan hukum. Intinya, kualitas amanat harus dibangun dari manusia yang beriman dan bertanggung jawab,” pungkasnya. (Djoko W/Yaya)

Dugaan Praktik Tambang Ilegal Picu Banjir Bandang Aceh, Akademisi UMM Ajak Taat Hukum

Tugumalang.id – Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tak hanya sekedar dipicu hidrometeorologi, namun juga mengarah pada dugaan deforestasi dan praktik tambang ilegal. Hal ini diungkapkan oleh Dosen Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sumali, M.Hum, bahwa persoalan di balik bencana ini bukan terletak pada kurangnya aturan, tapi lemahnya implementasi hukum. ”Regulasinya sudah baik, tetapi implementasi law enforcement selalu menyisakan kesenjangan. Kenapa aturan kuat justru tidak mampu mencegah kerusakan lingkungan?,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa undang-undang mengenai lingkungan dan pertambangan telah tersedia sejak 2012, termasuk kewajiban pemerintah daerah untuk mengawasi izin tambang dan AMDAL. Lembaga lingkungan juga diberi ruang untuk berpartisipasi dalam pengawasan. Namun, Sumali menyebut ada tiga masalah utama yang membuat penegakan hukum sulit berjalan optimal. Pertama, dominasi kapital korporasi yang mampu mempengaruhi aparat. ”Aparat sering kali tergoda oleh fasilitas atau materi, sehingga izin diterbitkan tanpa kajian layak, tanpa AMDAL, bahkan disertai praktik suap,” katanya. Kedua, persoalan peradilan, di mana vonis tidak sebanding dengan kerusakan. Ia menegaskan ada kasus yang dituntut puluhan triliun, tetapi divonis hanya miliaran. Ini, sebut dia merupakan bentuk judicial corruption. Ketiga, minimnya akses dan informasi bagi masyarakat, sehingga kontrol publik menjadi lemah. Ia mengutip teori Donald Black yang menjelaskan bahwa penegakan hukum dipengaruhi stratifikasi sosial. ”Kelompok yang punya modal dan jabatan lebih mudah mendapat izin. Belum lagi kedekatan pejabat dan korporasi yang membuat persyaratan perizinan sering kali diloloskan,” terangnya. Melihat kerusakan yang terjadi, Sumali menegaskan bahwa inti penyelesaian berada pada penegakan amanat. Ia berharap aparat dan pemerintah memiliki kesadaran moral serta keberanian untuk menjaga lingkungan. ”Kita butuh pemimpin yang berani memberi penghargaan kepada pejabat yang tegas dalam menegakkan hukum. Intinya, kualitas amanat harus dibangun dari manusia yang beriman dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Banjir dan Longsor Sumatera, Akademisi UMM Serukan Pembenahan Pengawasan Lingkungan

Malangpariwara.com – Banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025 membawa dampak besar Ratusan korban jiwa dilaporkan, puluhan ribu warga terpaksa mengungsi, dan kerusakan lingkungan meluas di berbagai wilayah. Di balik bencana hidrometeorologi yang dipicu curah hujan ekstrem ini, perhatian publik mengarah pada dugaan deforestasi serta maraknya aktivitas tambang ilegal. Dosen Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sumali, M.Hum., menilai bahwa masalah utama bukan terletak pada kurangnya aturan, melainkan lemahnya penerapan hukum. “Regulasinya sudah baik, tetapi implementasi law enforcement selalu menyisakan kesenjangan. Kenapa aturan kuat justru tidak mampu mencegah kerusakan lingkungan?” ujarnya. Hukum Lingkungan dan Pertambangan Sumali menjelaskan bahwa kerangka hukum terkait lingkungan dan pertambangan sudah diatur sejak 2012. Termasuk kewajiban pemerintah daerah melakukan pengawasan izin tambang dan AMDAL. Lembaga lingkungan juga diberi ruang dalam proses pengawasan. Namun menurutnya, ada tiga hambatan besar yang membuat penegakan hukum sering mandek. Pertama, dominasi kepentingan korporasi yang mampu mempengaruhi aparat. “Aparat sering kali tergoda oleh fasilitas atau materi, sehingga izin diterbitkan tanpa kajian layak, tanpa AMDAL, bahkan disertai praktik suap,” katanya. Kedua, persoalan di ranah peradilan. Ia mencontohkan vonis yang tidak sebanding dengan dampak kerusakan. Ia menegaskan, “Ada kasus yang dituntut puluhan triliun, tetapi divonis hanya miliaran. Ini bentuk judicial corruption.” Ketiga, minimnya informasi untuk masyarakat sehingga ruang kontrol publik menjadi sempit. Ia juga mengutip teori Donald Black yang menyebut bahwa penegakan hukum sering dipengaruhi posisi sosial. “Kelompok yang punya modal dan jabatan lebih mudah mendapat izin. Belum lagi kedekatan pejabat dan korporasi yang membuat persyaratan perizinan sering kali diloloskan,” terangnya. Menanggapi kerusakan besar yang terjadi, Sumali mengingatkan bahwa bencana ini adalah refleksi hilangnya amanat. “Kerusakan ini adalah peringatan. Allah menunjukkan akibat ulah manusia agar kita kembali ke jalan benar,” ujarnya merujuk Surat Ar-Rum ayat 41. Sumali berharap aparat dan pemerintah memiliki kesadaran moral yang kuat serta keberanian politik untuk menjaga lingkungan. “Kita butuh pemimpin yang berani memberi penghargaan kepada pejabat yang tegas menegakkan hukum. Intinya, kualitas amanat harus dibangun dari manusia yang beriman dan bertanggung jawab,” pungkasnya. (Djoko W/Yaya)