Mahasiswa FH UMM Tingkatkan Literasi Legalitas Usaha Lewat Sosialisasi SPP-IRT di Nganjuk

JurnalPost.com – Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) melaksanakan kegiatan sosialisasi Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) bagi pelaku UMKM di Desa Singkalanyar, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari program Pendidikan dan Latihan Kemahiran Hukum 1 yang bertujuan mengasah kemampuan mahasiswa dalam penerapan ilmu hukum di masyarakat. Sosialisasi ini berfokus pada peningkatan pemahaman pelaku usaha mengenai aspek legalitas dalam produksi pangan. dalam Para mahasiswa berinteraksi secara langsung dengan peserta untuk memberikan penjelasan yang aplikatif dan mudah dipahami. Suasana kegiatan berlangsung aktif dan penuh antusiasme. Empat mahasiswa FH UMM yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Hafizh Raihan Amru, Juan Ananda P., Amaralia Cindy, dan Ega Sofian J. Mereka menekankan pentingnya legalitas usaha sebagai langkah awal membangun usaha yang profesional dan dipercaya konsumen. Salah satu peserta adalah Yuniar Nur Anisa Efayannti, guru honorer SMAN 8 Kediri yang mulai membuka usaha sampingan sejak tahun 2024. Ia hadir untuk memperdalam pengetahuan terkait pengurusan izin pangan rumah tangga. Keikutsertaannya menunjukkan bahwa pelaku usaha kecil semakin memahami pentingnya aspek hukum dalam membangun bisnis. Yuniar merupakan pemilik produk Keripik Pisang Annisa yang berlokasi di Dusun Banjar RT 18 RW 8, Desa Singkalanyar, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk. Usahanya berkembang secara bertahap dan mendapat dukungan masyarakat sekitar. Meskipun demikian, ia merasa masih membutuhkan bimbingan terkait legalitas usaha. Sosialisasi yang dilakukan mahasiswa FH UMM membantu memperjelas langkah-langkah yang harus ditempuh. Kehadiran mahasiswa membawa dampak positif karena memberikan wawasan yang selama ini sulit diakses pelaku UMKM kecil. Dalam kegiatan ini, mahasiswa menjelaskan secara terperinci mengenai apa itu SPP-IRT, yaitu sertifikat yang diberikan pemerintah kepada industri rumah tangga pangan untuk menjamin bahwa produk yang dihasilkan aman dikonsumsi. Sertifikat ini dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan setelah pelaku usaha memenuhi standar kebersihan dan keamanan produksi. Mahasiswa juga memaparkan keuntungan memiliki SPP-IRT, seperti meningkatnya kepercayaan konsumen dan peluang pemasaran yang lebih luas. Peserta mendapatkan penjelasan yang sistematis mengenai alur pengajuan izin. Materi tersebut membantu pelaku usaha memahami pentingnya legalitas sebagai pondasi bisnis.

FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Tambah Tiga Deretan Guru Besar

Sudutkota.id – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang menambah tiga deretan Guru Besar. Lewat sidang senat terbuka mereka dikukuhkan diantaranya ; Prof Dr Atok Miftachul Huda MPd, Prof Dr Lud Waluyo MKes, Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM. Dalam acara pengukuhan tersebut, Rektor UMM, Prof Dr Nazaruddin Malik MSi menegaskan bahwa bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, melainkan energi baru bagi kemajuan bangsa. Menurutnya penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar kampus ini mampu memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat. “Dengan peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM,” ungkap Prof Nasar, Sabtu (22/11). Dengan bertambahnya deretan Guru Besar UMM, diyakini oleh Rektor satu ini dapat meningkatkan kualitas dosen, serta mempercepat laju kemajuan kampus. Menurutnya, mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa diberikan pada masyarakat luas. Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, M.A.P., memberikan apresiasi tinggi atas capaian kampus putih. Ia mengungkapkan guru besar adalah salah satu tolak ukur masyarakat bagus tidaknya sebuah kampus. “Banyak orang tua mengukur perguruan tinggi itu maju atau tidak dari berapa jumlah profesor serta reputasinya di masyarakat,” ucap Muhadjir. Ditambahkan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., bahwa perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam mempersiapkan Indonesia menuju visi 2045. Ia menekankan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya bergantung pada kelimpahan sumber daya alam, tetapi pada kualitas sumber daya manusianya. “Saya menyoroti pentingnya Credential Micro, yakni model pembelajaran lintas disiplin yang memungkinkan berbagai latar belakang untuk meningkatkan kompetensi dan berkontribusi untuk Indonesia Emas,” tandasnya.

Mahasiswa Fakultas Hukum UMM Sosialisasi SPP-IRT Pengusaha Kripik Pisang Coklat Lumer

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG-Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) baru-baru ini melaksanakan sosialisasi kepada pelaku usaha pangan di wilayah Perumahan Istana Kepuh Regency Kepuharjo, Karangploso, Kabupaten Malang.  Sosialisasi tersebut dilakukan dua orang mahasiswa FH UMM atas nama M. Dearmada dan Murni Maryani. Keduanya sosialisasi terkait pentingnya legalitas SPP-IRT (Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga). Menurut Mada begitu M.Dearmada disapa, sosialisasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran pelaku usaha mikro, khususnya produsen kripik pisang coklat lumer, tentang pentingnya SPP-IRT. Perlu diketahui  kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari perkuliahan pendidikan dan latihan kemahiran hukum dalam mendukung pengembangan usaha mikro yang aman dan terpercaya. Mada menjelaskan sosialisasi SPP-IRT ini menjadi sarana pembelajaran lapangan, di mana mahasiswa terlibat langsung dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada pelaku usaha mikro. SPP-IRT merupakan sertifikat yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan setempat sebagai bukti bahwa produk pangan yang dihasilkan oleh industri rumah tangga sudah memenuhi standar keamanan pangan. Legalitas SPP-IRT sangat vital karena selain menjamin keamanan produk bagi konsumen, sertifikat ini juga membuka peluang para pelaku usaha untuk memperluas pasar, baik di tingkat lokal maupun nasional. Saat sosialisasi, kata Mada, mahasiswa FH UMM bermitra dengan salah satu sentra produksi kripik pisang coklat lumer di Malang, materinya pemaparan mengenai proses pengurusan SPP-IRT serta dampak positif yang dapat diperoleh oleh pelaku usaha. Mereka menjelaskan bahwa legalitas tersebut bukan hanya sekadar kewajiban administratif, tetapi juga bentuk tanggung jawab produsen dalam menjaga kualitas produk dan kesehatan konsumen. Menariknya, Mada mengungkapkan selama proses sosialisasi ibu Sonti -pemilik usaha pisang coklat lumer- antusias mengikuti rangkaian materi, mulai dari prosedur pengajuan, persyaratan yang harus dipenuhi, hingga tata cara menjaga higienitas produksi agar sertifikat SPP-IRT dapat diperoleh dan dipertahankan. Selain itu, tim mahasiswa FH UMM juga membagikan contoh dokumen dan tips praktis sehingga para produsen kripik pisang coklat lumer dapat lebih mudah memahami dan menjalankan kewajiban mereka. Sementara itu, anggota mahasiswa FH UMM yang lain, Murni Maryani, menambahkan melalui sosialisasi tersebut, diharapkan dapat mendorong peningkatan daya saing produk kripik pisang coklat lumer yang selama ini banyak diminati masyarakat. Dengan legalitas SPP-IRT, produk bukan hanya aman dikonsumsi, tapi juga memiliki nilai tambah di mata konsumen dan pasar yang semakin peduli pada standar keamanan pangan. Sosialisasi ini mahasiswa UMM turut berperan dalam membangun ekosistem usaha mikro rumah tangga yang lebih profesional dan berkelanjutan, sekaligus membantu masyarakat mengimplementasikan standar hukum dan kesehatan pangan dalam produksi sehari-hari. (rilis: mada/murni/don)

FKIP UMM Tambah Tiga Guru Besar Baru

Kota Malang, Bhirawa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan tiga guru besar dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pada Sabtu, 22/11 besok. Pengukuhan ini melahirkan kontribusi ilmiah yang fokus pada isu krusial mulai dari pengembangan kurikulum nasional, solusi limbah berbasis mikrobiologi, hingga pentingnya pendidikan bioetika. Ketiga profesor yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes., dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Mahfud Effendi mengajukan gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS). Ia menegaskan bahwa kurikulum ini dirancang sebagai kurikulum pemersatu bangsa yang tidak menghilangkan keberagaman, melainkan wajib memberi ruang bagi identitas lokal dan menempatkan budaya daerah sebagai akar pembelajaran. Mahfud mengkritik pendidikan nasional yang kerap terjebak pada keseragaman. Menurutnya, KIS harus menuntun arah peradaban, bukan hanya mengikuti perubahan zaman. “Kurikulum Indonesia Satu harus menuntun, bukan menyeragamkan,” tegas Mahfud. Ia menekankan perlunya kurikulum yang humanis, inklusif, terintegratif, dan berbasis teknologi yang berkeadilan sebagai syarat mutlak untuk membentuk generasi Indonesia Emas 2045. Prof. Lud Waluyo, dalam orasinya, menyoroti persoalan limbah cair yang kompleks akibat senyawa sulit urai (rekalsitran dan xenobiotik). Ia menilai solusi kimia sudah tidak memadai dan mengusulkan pendekatan mikrobiologi lingkungan sebagai solusi mendesak yang berkelanjutan. Hasil riset panjangnya sejak 1998 berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik indigen yang toleran deterjen dan efektif mematikan patogen. Inovasi utamanya adalah pengembangan biofitoremediator, yakni sistem hibrid yang menggabungkan konsorsium bakteri Bacillus spp. dengan tumbuhan air. Teknologi ini terbukti mempercepat penurunan polutan dan telah berhasil diterapkan pada berbagai jenis limbah, dari domestik, tahu, perhotelan, hingga tapioka. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan bukti bahwa bioremediasi adalah tanggung jawab moral untuk menjaga keberlanjutan ekologis. Sementara itu, Prof. Atok Miftachul Hudha menggarisbawahi lemahnya literasi etis dalam pendidikan sains di Indonesia. Ia menilai perkembangan bioteknologi yang cepat menuntut adanya pendidikan bioetika agar keputusan ilmiah tidak hanya benar secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab terhadap makhluk hidup dan lingkungan. Untuk mengatasi hal tersebut, ia mengembangkan Model Pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour). Penelitiannya membuktikan bahwa model OIDDE secara konsisten mampu meningkatkan kemampuan penalaran etis dan memperkuat pertimbangan moral mahasiswa ketika menghadapi dilema eksperimen. “Model ini menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu mengambil keputusan ilmiah yang bijak dan etis,” pungkasnya. [mut.wwn]

Beri Edukasi Warga, Mahasiswa UMM Sulap Limbah Sereh Jadi Karbol

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dorong mahasiswanya untuk memberi manfaat ke masyarakat. Salah satunya tim mahasiswa UMM yang tergabung dalam program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM). Mereka melakukan pemberdayaan masyarakat di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Pujon Hill, Pujon Kabupaten Malang. Tim ini mengajari masyarakat cara mengolah ekstrak sereh untuk dijadikan produk ekonomis yakni karbol sereh, Oktober-November ini. Ketua tim, Dara Ayu Suryani mengatakan mereka melibatkan warga Bendosari untuk diajari cara melakukan penyaringan dan penyulingan minyak atsiri. Selain itu juga menggelar pelatihan tentang pembuatan karbol sereh. Pelatihan tersebut dikemas sedemikian rupa lalu dipasarkan secara offline di toko-toko, pameran, pasar, maupun acara masyarakat setempat. Bahkan mereka juga mendorong agar bisa dipasarkan melalui media sosial maupun platform online. Dara menjelaskan, kegiatan itu meliputi sosialisasi, pemanenan sereh, pelatihan teknik penyulingan minyak atsiri. Dilanjut dengan pembuatan karbol berbahan dasar sereh, hingga proses pengemasan dan pemasaran sederhana. Program ini membuktikan bahwa tanaman sereh, terutama sereh tua yang sebelumnya tidak termanfaatkan, dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi dan ramah lingkungan. “Melalui kolaborasi antara mahasiswa, petani, dan masyarakat sekitar, kegiatan ini berjalan efektif serta mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga dalam pengolahan hasil pertanian,” katanya. “Masyarakat menjadi lebih memahami manfaat tanaman sereh, cara ekstraksi minyak, serta potensi ekonomi dari produk turunan seperti karbol sereh,” tambahnya. Dengan demikian, program ini tidak hanya membantu pengurangan limbah sereh, tetapi juga memberikan nilai tambah dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dara tidak sendiri dalam menjalan program ini, ia ditemani oleh Amelia Syafarani, Amelia Syafarani, serta Dhara Atika Maharani. (Djoko W)

Mahasiswa Hukum UMM Sosialisasikan SPP IRT pada UMKM Bolang Bolen di Kota Malang

Malang, Arunala.com – Belum lama ini, mahasiswa program studi Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah (UMM) Malang edukasi pada pelaku industri pangan rumahan. Edukasi itu berupa sosialisasi Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) yang diberikan pada pelaku usaha “Bolang Bolen”, salah satu UMKM populer yang tengah berkembang pesat. Perwakilan mahasiswa Ilmu Hukum UMM dan juga koordinator kegiatan, Ararya Farrel Filbert Muhammad M, mengatakan, sosialisasi ini dalam rangka pendukung perkembangan industri pangan rumahan. “Sosialisasi ini tidak hanya bertujuan memberikan pemahaman mengenai aspek legalitas, tapi juga membantu UMKM meningkatkan kredibilitas dan daya saing produknya di pasar,” Farrel. Ia menambahkan, selain sosialisasi mereka juga pendampingan pengurusan SPP-IRT kepada UMKM Bolang Bolen adalah contoh nyata sinergi positif antara akademisi dan pelaku usaha lokal. Dia menyebut, kegiatan sosialisasi yang berlangsung di tempat produksi Bolang Bolen ini mengusung tema “Pengurusan Sertifikasi Produk Industri Rumah Tangga”. Materi yang disampaikan difokuskan pada proses dan prosedur pendaftaran SPP-IRT, mulai dari kelengkapan dokumen, pemenuhan standar keamanan pangan, hingga alur pengajuan ke instansi terkait. Farrel juga menyatakan, pendampingan hukum ini merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat. “Kami berharap ilmu yang kami dapat di bangku kuliah, terutama terkait regulasi perizinan usaha dan keamanan pangan, dapat langsung diaplikasikan dan memberikan dampak positif bagi UMKM seperti Bolang Bolen,” ujarnya. Legalitas seperti SPP-IRT ini, tukasnya, bukan sekadar syarat, tapi investasi untuk perluasan pasar dan kepercayaan konsumen. Kegiatan yang kami lakukan ini bentuk dari komitmen dan peran aktif mahasiswa dalam menciptakan lingkungan bisnis yang lebih terstandar dan terlindungi secara hukum,” imbuhnya. Penjelasan Farrel, dalam proses sosialisasi, mahasiswa UMM mendapatkan sambutan yang hangat dan penuh antusias dari Ibu Hardini

2 Halte Transjatim Terdekat dengan UMM, Khusus Mahasiswa Dapat Potongan Harga

AboutMalang.com – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini punya pilihan mobilitas yang lebih gampang. Setelah jaringan Transjatim hadir di Malang Raya, akses ke kampus dan kawasan sekitar jadi jauh lebih ringkas tanpa harus mengandalkan kendaraan pribadi. Pola layanannya memang dirancang menyentuh area pendidikan. Titik-titik halte ditempatkan di koridor yang dekat sekolah dan kampus, sehingga mahasiswa cukup berjalan kaki dari gerbang untuk menuju shelter terdekat. Pengelola menurunkan 15 armada untuk menjaga ketepatan headway: tujuh bus dari arah Kota Malang, tujuh dari arah Batu, dan satu unit cadangan. Dengan komposisi ini, arus pergi–pulang kuliah pada jam sibuk lebih tertata dan pastinya akan lebih hemat. Soal tarif juga ramah kantong. Pelajar/mahasiswa/santri cukup membayar Rp2.500 per perjalanan, sedangkan penumpang umum Rp5.000 sekali naik. Di koridor sekitar UMM, ada dua titik yang paling praktis dijangkau pejalan kaki yaitu Halte Rambu Raya Tlogomas 1 (paling dekat ke akses utama UMM). Kemudian ada juga Halte Terminal Landungsari, lokasinya memang sedikit lebih jauh dari gerbang utama UMM tetapi tetap strategis untuk koneksi antar-koridor. Dengan dua pilihan ini, mahasiswa bisa memilih titik naik–turun sesuai posisi kos, fakultas, atau tujuan akhir. Kombinasi jalan kaki singkat + tarif pelajar bikin perjalanan harian makin efisien. Sebelum menggunakan layanan, penumpang diminta melakukan pemesanan tiket melalui aplikasi resmi Transjatim agar proses naik bus lebih cepat dan tertib.

Bawaslu Buka Lebar Data Pengawasan Pemilu Untuk Diteliti Mahasiswa dan Dosen

TIMES MALANG, MALANG – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) membuka seluruh data pengawasan pemilu yang telah dilakukan, untuk diteliti oleh para mahasiswa dan dosen. Hal itu diungkapkan saat gelaran Literasi Data Pengawasan Pemilu yang digelar Bawaslu RI di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (20/11/2025). Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Bawaslu RI dan UMM untuk memperkuat kolaborasi dalam diseminasi data dan penguatan literasi kepemiluan di lingkungan akademik. Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran, Data, dan Informasi Bawaslu RI, Dr. Puadi, S.Pd., MM, menyampaikan bahwa sinergi dengan perguruan tinggi menjadi langkah penting untuk memastikan data hasil pengawasan pemilu dapat dimanfaatkan secara luas, tidak hanya oleh publik tetapi juga dunia pendidikan. “Kami memandang bahwa informasi-informasi berkaitan tentang data hasil-hasil pengawasan di Bawaslu ini harus tersampaikan kepada dunia akademik, terutama para mahasiswa,” ujarnya. Menurut Puadi, kerja sama ini dirancang agar tidak berhenti pada satu agenda, melainkan berlanjut secara berkelanjutan. Bawaslu membuka akses data pengawasan untuk kebutuhan riset, tugas akhir, maupun kajian akademik lain melalui mekanisme yang akan diatur lebih teknis oleh Pusat Data dan Informasi (Datin). “Bawaslu sebagai lembaga publik harus transparan. Data hasil pengawasan tidak sekadar disimpan, tetapi harus menjadi sumber pengetahuan yang mencerdaskan masyarakat,” tambahnya. Dia berharap, dengan menganalisa data-data yang ada di Bawaslu, mahasiswa dapat lebih memahami dinamika pengawasan pemilu dan kontribusinya dalam menjaga integritas demokrasi. Dalam forum ini, Puadi menekankan bahwa data pengawasan yang dikumpulkan Bawaslu mencakup seluruh tahapan kepemiluan, termasuk temuan, laporan masyarakat, hingga penyelesaian sengketa. Data tersebut dapat dimanfaatkan sivitas akademika untuk mengembangkan penelitian, analisis kebijakan, serta inovasi pemilu ke depan. Dia juga menjelaskan bahwa program literasi data telah dilakukan di berbagai kampus. “Proses ini sudah ada di 10 titik, dari UNJ, UI, UGM, hingga kampus lainnya. Setelah Malang, kami akan ke Surabaya, Udayana, dan Andalas,” katanya. Pada kesempatan tersebut, juga dilakukan bedah buku karya Puadi yang berjudul “Dinamika Pengawasan Pemilu: Peran Bawaslu dan Interaksi Kepentingan”. Buku ini mengungkap bagaimana Bawaslu bekerja di tengah tarik-menarik kepentingan antaraktor politik. “Bawaslu berada di persimpangan itu, menjadi wasit, pengawas, dan mediator, ” jelasnya. Menurutnya, pengawasan pemilu bukan hanya soal menemukan pelanggaran dan menyelesaikan sengketa, tetapi juga memastikan kompetisi politik berlangsung adil dan berintegritas. Dia mencontohkan dinamika pengawasan data pemilih, yang sering terbentur akses data dari KPU dan pemerintah. Dalam penindakan politik uang, Bawaslu menghadapi keterbatasan alat bukti serta minimnya dukungan penegak hukum. Sementara dalam pengawasan netralitas ASN, resistensi birokrasi menjadi tantangan tersendiri. “Kerja pengawasan adalah kerja di tengah interaksi kepentingan, bukan sekadar penerapan pasal-pasal hukum,” tegasnya. (*)

Sosialisasi SPP-IRT oleh Mahasiswa UMM Mendorong UMKM Kripik Talas Bu Sri Lebih Berdaya Saing

Suara Time, Malang – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan sosialisasi Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) kepada pelaku UMKM pada 06 November 2025. Kegiatan ini menyasar usaha Kripik Talas Bu Sri yang berlokasi di Jl. Sidomakmur No.76, Sengkaling, Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Sosialisasi dilakukan karena produk tersebut belum terdaftar dalam SPP-IRT meskipun telah diproduksi dan dipasarkan secara rutin. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap dapat meningkatkan kesadaran pelaku UMKM mengenai pentingnya legalitas pangan. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari program pengabdian mahasiswa dalam mendukung penguatan UMKM lokal. Dalam sosialisasi ini, pemilik usaha, Bu Sri, menyampaikan bahwa produk kripik talas buatannya memiliki komposisi sederhana, yakni talas, garam, bawang putih, dan penyedap rasa. Produk ini diproduksi secara rumahan dan telah memiliki pelanggan tetap di sekitar wilayah Sengkaling. Namun, minimnya pengetahuan mengenai perizinan membuat usaha tersebut belum memiliki SPP-IRT. Melalui diskusi yang berlangsung aktif, mahasiswa memberikan penjelasan mengenai manfaat sertifikasi pangan bagi pelaku usaha. Pemilik usaha pun menyambut baik pendampingan yang diberikan mahasiswa. Para mahasiswa UMM yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain M. Izzu’ Wildan Firdaus, Aditya Pratama, Rama Dwi Pangestu, Gusti Ardian Rivandi Prananda, dan Alvito Yogha Pamungkas. Mereka memaparkan materi dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh pelaku usaha. Mahasiswa menjelaskan prosedur pendaftaran SPP-IRT, mulai dari persyaratan administrasi hingga proses verifikasi oleh dinas terkait. Selain itu, mereka memberikan contoh label pangan yang sesuai ketentuan. Pendekatan edukatif ini dilakukan agar pelaku usaha benar-benar memahami pentingnya perizinan produk. SPP-IRT adalah sertifikat resmi yang diberikan oleh pemerintah kepada pelaku usaha pangan skala kecil atau rumahan sebagai bukti bahwa produk yang dihasilkan telah memenuhi standar keamanan pangan. Sertifikat ini memastikan bahwa proses produksi, peralatan, serta bahan yang digunakan aman untuk dikonsumsi masyarakat. Melalui SPP-IRT, produk memiliki legalitas yang memungkinkan perluasan pemasaran ke toko, pusat oleh-oleh, maupun platform daring. Tanpa sertifikat ini, pelaku usaha sering terkendala dalam kerja sama dengan pihak lain karena tidak memiliki bukti keamanan produk. Oleh sebab itu, SPP-IRT menjadi elemen penting dalam keberlanjutan usaha pangan rumahan. Dalam kegiatan sosialisasi, mahasiswa juga menekankan bahwa SPP-IRT memberikan perlindungan hukum bagi pelaku usaha. Sertifikasi ini melindungi usaha dari potensi sanksi ketika terjadi pemeriksaan dari instansi terkait. Mahasiswa turut memberikan pendampingan dalam pengisian formulir dan pengumpulan dokumen persyaratan. Mereka juga membantu pemilik usaha memahami cara menjaga higienitas ruang produksi. Pendampingan semacam ini menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam memberdayakan masyarakat. Melalui sosialisasi ini, mahasiswa UMM berharap Kripik Talas Bu Sri dapat segera mengajukan permohonan SPP-IRT agar usahanya semakin berkembang. Legalitas produk akan meningkatkan kepercayaan konsumen dan membuka peluang pemasaran yang lebih luas. Bu Sri menyatakan komitmennya untuk melengkapi seluruh persyaratan yang telah dijelaskan. Kegiatan sosialisasi ini diharapkan menjadi contoh kolaborasi positif antara mahasiswa dan UMKM. Dengan adanya pendampingan berkelanjutan, usaha rumahan seperti kripik talas dapat lebih siap bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Tiga Guru Besar Baru FKIP UMM: Menyatukan Kurikulum, Menyembuhkan Lingkungan, Menguatkan Etika Sains

FKIP UMM menegaskan perannya sebagai pusat inovasi pendidikan dengan mengukuhkan tiga guru besar baru yang menawarkan gagasan besar—dari kurikulum pemersatu, teknologi mikrobiologi ramah lingkungan, hingga model pendidikan sains beretika. Tagar.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan capaian akademik penting. Pada 22 November 2025, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) akan mengukuhkan tiga guru besar baru. Ketiganya membawa kepakaran yang beragam: pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga ilmu pendidikan bioetika. Mereka adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM.; Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes.; dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Kurikulum Indonesia Satu: Pemersatu tanpa Menghilangkan Keberagaman Mahfud Effendi akan menyampaikan gagasan, bahwa Kurikulum Indonesia Satu (KIS) harus menjadi pemersatu bangsa tanpa menyingkirkan keragaman budaya. Selama ini, pendidikan nasional, menurutnya, terlalu sering terjebak pada pola penyeragaman, padahal Indonesia berdiri di atas ribuan identitas budaya. Karena itu, Mahfud menempatkan KIS sebagai kurikulum yang memberi ruang luas bagi kearifan lokal, menjadikannya akar pembelajaran sekaligus dasar bagi peserta didik memasuki dunia global. Ia menilai, kurikulum yang baik bukan sekadar mengikuti perubahan zaman, tetapi menuntun arah peradaban menuju tujuan pendidikan yang humanis dan berkeadaban. “Kurikulum Indonesia Satu harus menuntun, bukan menyeragamkan. Anak-anak Indonesia berhak belajar dari akar budayanya sendiri sambil bersiap menghadapi dunia yang semakin global. Jika kita mengajarkan anak-anak seperti kemarin, kita merampas masa depan mereka,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Kamis (20/11/25). Mahfud menambahkan bahwa KIS harus integratif, menghubungkan pengetahuan dengan nilai, budaya, dan realitas sosial, agar pembelajaran lebih bermakna. Kurikulum yang humanis, inklusif, dan berbasis teknologi berkeadilan, menurutnya, menjadi prasyarat lahirnya generasi Indonesia Emas 2045. Teknologi Hijau Mikrobiologi: Jawaban atas Krisis Limbah Modern Lud Waluyo akan mengupas persoalan limbah cair yang semakin kompleks seiring pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi masyarakat. Kehadiran senyawa rekalsitran dan xenobiotik yang sulit terurai membuat pendekatan kimia tak lagi memadai. Ia menegaskan bahwa solusi berbasis mikrobiologi lingkungan menjadi kebutuhan mendesak. Lud mengulas riset panjangnya sejak 1998 hingga 2025. Ia berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik toleran deterjen dan LAS serta efektif membasmi patogen. Riset itu kemudian dirumuskan menjadi konsorsium bakteri stabil yang mampu menurunkan BOD, COD, TSS, dan residu deterjen. Baca Juga:  Kaji Ulang UUD 1945 Menggema dari Forum Rektor Muhammadiyah di Malang “Solusi limbah terbaik berasal dari mikroba indigen yang hidup dalam limbah itu sendiri,” katanya, menegaskan temuan kuncinya. Ia juga mengembangkan konsep biofitoremediator, sistem hibrid yang mengombinasikan bakteri Bacillus spp. dengan tumbuhan air seperti Salvinia molesta, Pistia stratiotes, Eichhornia crassipes, dan Hydrilla verticillata. Teknologi ini terbukti mempercepat penurunan polutan, memperluas jangkauan remediasi, dan memperkuat ketahanan mikroba terhadap toksikan hingga 100 ppm. Inovasi tersebut telah diterapkan pada limbah domestik, industri tahu, perhotelan, hingga tapioka, sekaligus menjadi bukti bahwa bioremediasi merupakan bentuk nyata tanggung jawab moral terhadap keberlanjutan ekologis. Bioetika: Pilar Moral yang Hilang dalam Pendidikan Sains Di sisi lain, Atok akan menyoroti lemahnya pendidikan sains karena peserta didik tidak dibiasakan mempertimbangkan dimensi moral dalam eksperimen laboratorium. Perkembangan bioteknologi yang sangat cepat memunculkan dilema etis baru yang sering tak terwadahi dalam kurikulum konvensional. Akibatnya, keputusan ilmiah menjadi rentan dilihat hanya dari sisi teknis, bukan etis. Menurut Atok, lemahnya literasi etis membuat mahasiswa menjalankan eksperimen secara mekanis tanpa memahami implikasi moralnya. Kondisi ini berisiko menimbulkan praktik yang tidak aman dan mengabaikan kesejahteraan organisme. Untuk menjawab masalah itu, ia mengembangkan model pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour). Penelitiannya menunjukkan bahwa model ini mampu meningkatkan penalaran etis, memperkuat pertimbangan moral dalam menghadapi dilema eksperimen, dan memperbaiki perilaku laboratorium mahasiswa. “Model ini menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu mengambil keputusan ilmiah yang bijak dan etis,” ujanya. (*)