Banjir Meningkat di Malang Raya, Dosen Teknik Sipil Jelaskan Risiko Kerusakan Bangunan

Frekuensi banjir di Malang Raya meningkat akibat hilangnya resapan air dan drainase yang banyak tertutup oleh bangunan warga. Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang, Amalia Nur Adibah, ST., MPWK menyebut kondisi ini membuat air hujan langsung mengalir ke jalan dan memicu kerusakan pada infrastruktur maupun pondasi bangunan. Menurutnya, alih fungsi lahan menjadi kawasan terbangun menyebabkan air hujan tidak lagi terserap optimal dan langsung mengalir ke jalan. Kondisi ini diperparah oleh saluran drainase yang tertutup oleh bangunan warga. “Banyak drainase sengaja ditutup untuk melebarkan rumah, sehingga air tidak punya akses masuk,” ujarnya. Dari sisi teknik sipil, banjir berdampak langsung pada infrastruktur maupun bangunan. Amalia menyebut lapisan aspal kerap terkelupas setelah banjir, menyebabkan jalan cepat berlubang. Untuk bangunan, air hujan yang mengandung zat korosif dapat merusak pondasi, instalasi listrik, hingga peralatan elektronik. Ia menambahkan bahwa banjir yang terjadi berulang dapat mengikis pondasi bangunan, terutama yang berada di bantaran sungai atau wilayah dengan debit air besar. “Semakin lama terhempas air, pondasi bisa terkikis dan memicu kerusakan struktural hingga risiko roboh,” jelasnya. Untuk bangunan yang terlanjur berada di kawasan rawan banjir, Amalia menyarankan pemilik rumah untuk melakukan peninggian bangunan dan menambah titik sumur resapan atau biopori di lingkungan sekitar. Mitigasi sederhana, seperti memasang papan penahan air di pintu ketika hujan deras, juga dinilai efektif mencegah air masuk ke rumah. Dari sudut pandang penataan kota, ia menilai pembangunan dan pembesaran saluran drainase yang saat ini dilakukan pemerintah sudah tepat. Namun ia menemukan beberapa proyek drainase yang posisinya lebih tinggi dari permukaan jalan, sehingga air sulit masuk. “Ini memicu masalah baru karena aliran air tidak bisa langsung mengalir ke saluran,” jelasnya. Lebih lanjut, Amalia menegaskan pentingnya pemilihan lokasi sebelum membangun rumah serta penerapan aturan tata kota, seperti menyediakan 30 persen lahan terbuka dalam satu kavling agar air hujan tetap dapat meresap. Ia berharap pemerintah lebih optimal dalam mengalokasikan anggaran pembangunan infrastruktur agar upaya mitigasi banjir dapat berjalan maksimal. (*rka/wil)

Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang Gelar Sosialisasi Terkait SPP-IRT kepada UMKM Tahun 2025

Malang|| RADAR JATIM.CO ~ Senin, 10 November 2025 di rumah produksi Krupuk Puli Tjap Jempoel milik Bapak Fery di kota batu mahasiswi dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang terdiri dari Dita Farah Hamidah, Dewi Arumi Janah, Emelia Agustina, Sandya Cahya Abadi, dan Lusi Puji Astuti di bawah dampingan Instruktur Labroatorium Hukum yaitu Cindy Monique S.H.,M.H melakukan sosialisasi tentang SPP-IRT kepada bapak Fery selaku pelaku usaha yang memproduksi Krupuk Puli Tjap Jempoel di Kota Batu, tidak hanya di pasarkan di Kota Batu saja produk Bapak Fery juga di pasarkan di luar Kota Batu, khususnya wilayah Malang Raya. Mendengar perjalanan beliau memulai usaha nya ini kami sangat kagum melihat kegigihan beliau membuat inovasi agar Krupuk Puli nya mempunyai ciri khas sendiri dan beda dengan yang lain, Bapak Fery sudah menekuni usaha ini selama kurang lebih hampir 20 Tahun, hal itu tentu waktu yang tidak singkat untuk mempertahankan produk yang beliau punya. Maka dari itu selain produk nya yang berpotensi lebih besar lagi untuk mendapatkan jaringan pemasaran, semakin meningkatnya kepercayaan konsumen, dan juga meningkatkan daya saing . Dalam sosialisasi kepada beliau kami menjelaskan SPP-IRT ialah Sertifikat Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Olahan Industri Rumah Tangga Bukti penyampaian komitmen pelaku usaha yang menjamin keamanan, mutu, gizi, dan label pangan olahan yang diproduksi untuk diperdagangkan dalam kemasan eceran yang tersebar di wilayah Indonesia, selain hal itu pada kesempatan ini kami juga memberi tau cara mendaftar SPP-IRT dan menggunakan Web OSS ORBA via online lalu kami juga mensosialisasikan tentang dokumen-dokumen apa saja yang harus di siapkan untuk keperluan pendaftaran. Selain sosialisasi kami dan Bapak Fery juga sharing perihal kebijakan – kebijakan pemerintah dari kacamata pelaku usaha atau UMKM setempat , tidak banyak kami juga menanyakan respon para UMKM terkait kebijakan- kebijakan pemerintah yang semakin hari semakin banyak. Terkadang tujuan pemerintah itu baik tetapi menurut para pelaku usaha di lapangan justru dengan banyaknya kebijakan yang semakin hari semakin banyak itu membuat tumpang tindih antara kebijakan satu dengan kebijakan lainnya, akan tetapi setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pasti tujuannya baik hanya saja kami para masyarakat terutama pelaku usaha yang terdampak langsung dengan kebijakan tersebut berhak mengkritisi jika ada kebijakan yang dirasa tidak terlalu menguntungkan.

2 Halte Transjatim Terdekat dengan UMM, Khusus Mahasiswa Dapat Potongan Harga

AboutMalang.com – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini punya pilihan mobilitas yang lebih gampang. Setelah jaringan Transjatim hadir di Malang Raya, akses ke kampus dan kawasan sekitar jadi jauh lebih ringkas tanpa harus mengandalkan kendaraan pribadi. Pola layanannya memang dirancang menyentuh area pendidikan. Titik-titik halte ditempatkan di koridor yang dekat sekolah dan kampus, sehingga mahasiswa cukup berjalan kaki dari gerbang untuk menuju shelter terdekat. Pengelola menurunkan 15 armada untuk menjaga ketepatan headway: tujuh bus dari arah Kota Malang, tujuh dari arah Batu, dan satu unit cadangan. Dengan komposisi ini, arus pergi–pulang kuliah pada jam sibuk lebih tertata dan pastinya akan lebih hemat. Soal tarif juga ramah kantong. Pelajar/mahasiswa/santri cukup membayar Rp2.500 per perjalanan, sedangkan penumpang umum Rp5.000 sekali naik. Di koridor sekitar UMM, ada dua titik yang paling praktis dijangkau pejalan kaki yaitu Halte Rambu Raya Tlogomas 1 (paling dekat ke akses utama UMM). Kemudian ada juga Halte Terminal Landungsari, lokasinya memang sedikit lebih jauh dari gerbang utama UMM tetapi tetap strategis untuk koneksi antar-koridor. Dengan dua pilihan ini, mahasiswa bisa memilih titik naik–turun sesuai posisi kos, fakultas, atau tujuan akhir. Kombinasi jalan kaki singkat + tarif pelajar bikin perjalanan harian makin efisien. Sebelum menggunakan layanan, penumpang diminta melakukan pemesanan tiket melalui aplikasi resmi Transjatim agar proses naik bus lebih cepat dan tertib.

Limbah Cair hingga Kurikulum ‘Anti-Seragam’: 3 Guru Besar Baru UMM Tawarkan Solusi Masa Depan

Malang (beritajatim.com) – Tantangan masa depan tidak bisa lagi dijawab dengan cara lama. Mulai dari krisis limbah yang makin bandel, pendidikan yang terjebak keseragaman, hingga dilema etika dalam sains. Menjawab hal ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan tiga Guru Besar baru dengan kepakaran yang relevan bagi tantangan zaman, pada Sabtu (22/11/2025). Ketiga pakar tersebut adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM. (Bidang Pengembangan Kurikulum), Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes. (Bidang Mikrobiologi Lingkungan), dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. (Bidang Pendidikan Bioetika). Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Mahfud menyoroti isu pendidikan nasional yang kerap terjebak pada jebakan seragam. Menurutnya, memaksakan standar yang sama bagi anak-anak Indonesia yang memiliki ribuan budaya berbeda adalah langkah mundur. Ia memperkenalkan gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS). Konsep ini dirancang bukan untuk menyeragamkan, melainkan sebagai pemersatu yang tetap memberi panggung bagi identitas lokal. “Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Jika kita mengajar anak-anak dengan cara kemarin, kita sama saja merampas masa depan mereka,” tegas Mahfud. Bagi Gen Z yang peduli pada kesehatan mental dan self-development, gagasan Mahfud sangat relevan. Ia menekankan bahwa teknologi (termasuk AI) harus menjadi alat yang memerdekakan, bukan menciptakan kesenjangan. KIS hadir agar siswa tidak belajar demi ujian semata, tetapi untuk memahami dunia dan dirinya sendiri melalui pendekatan yang humanis dan inklusif. Di sisi lain, isu kerusakan lingkungan akibat limbah cair menjadi fokus Prof. Lud Waluyo. Pertumbuhan industri dan pola konsumsi modern melahirkan limbah dengan senyawa berbahaya (seperti xenobiotik) yang sulit diurai secara alami. Lud menegaskan, penggunaan bahan kimia untuk mengurai limbah justru berisiko menciptakan residu baru. Solusinya? Kembali ke alam dengan teknologi biofitoremediator. Berdasarkan riset panjangnya sejak 1998 hingga 2025, Lud berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri tangguh yang mampu mematikan patogen dan mengurai deterjen. Bakteri-bakteri ini kemudian digabungkan dengan tumbuhan air seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan Hydrilla untuk membersihkan polutan. “Ini bukan sekadar solusi teknis, tapi tanggung jawab moral kita untuk menjaga keberlanjutan ekologis,” ujar Lud. Teknologi hibrid ini terbukti ampuh diterapkan pada limbah domestik, perhotelan, hingga industri tapioka, menjadikannya solusi green tech yang mendesak untuk diterapkan saat ini. Sementara itu, Prof. Atok Miftachul Hudha menyoroti sisi gelap dari kemajuan bioteknologi yang pesat. Pendidikan sains di Indonesia dinilai masih lemah dalam literasi etis. Akibatnya, banyak eksperimen laboratorium dilakukan secara mekanis tanpa memikirkan dampak moral terhadap makhluk hidup. Atok menawarkan model pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behavior). Model ini melatih mahasiswa dan ilmuwan muda untuk tidak hanya pintar secara teknis, tapi juga bijak dalam mengambil keputusan. “Lemahnya literasi etis berpotensi melahirkan praktik berisiko yang mengabaikan keselamatan organisme. Ilmuwan masa depan harus mampu mengambil keputusan yang etis, bukan hanya benar secara teori,” ujarnya menutup. (dan/ian)

Mahasiswa Hukum UMM Gelar Sosialisasi SPP-IRT untuk Pelaku Usaha Rumahan di Merjosari

detikzone.id – Malang, 20 November — Tiga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yakni Suci Rohmatun Zunairoh, Intan Dwi Saputri, dan Fidelia Meishira, mengadakan kegiatan sosialisasi terkait Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) bagi pelaku usaha pangan rumahan. Kegiatan ini diselenggarakan melalui Laboratorium Hukum UMM dan berlangsung di Desa Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Para pelaku usaha yang mengikuti kegiatan tersebut merupakan produsen olahan makanan seperti keripik usus, kerupuk seblak, dan basreng kering—usaha yang telah mereka jalankan selama kurang lebih tiga tahun namun belum memiliki SPP-IRT. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa UMM untuk memberikan pemahaman mendalam terkait prosedur hukum, regulasi, serta pentingnya legalitas usaha demi menjamin keamanan pangan bagi konsumen. Selain penyuluhan hukum, kegiatan ini juga diisi dengan pendampingan teknis pendaftaran SPP-IRT. Mahasiswa membantu para pelaku usaha memahami jenis produk yang bisa dan tidak bisa didaftarkan, alur administratif, pengisian OSS-RBA, persyaratan dokumen, hingga tata cara pengajuan sertifikat sesuai regulasi Dinas Kesehatan. Melalui pendampingan langsung, pelaku usaha dapat mempraktikkan tahapan pendaftaran SPP-IRT sambil mendapatkan penjelasan detail dari mahasiswa Fakultas Hukum UMM. Kegiatan berlangsung interaktif; para pelaku usaha aktif berdiskusi mengenai persoalan yang kerap menjadi kendala dalam proses legalisasi usaha. Ketiga mahasiswa pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa program ini diharapkan menjadi jembatan antara dunia akademik dan masyarakat. “Kami ingin membantu pelaku usaha kecil memahami bahwa aspek hukum bukanlah penghalang, tetapi jaminan agar produk mereka lebih dipercaya dan berpeluang menembus pasar lebih luas,” ujar salah satu mahasiswa. Dengan terlaksananya sosialisasi dan pendampingan ini, ketiga mahasiswa Fakultas Hukum UMM berharap dapat menumbuhkan kesadaran hukum di kalangan pelaku usaha mikro, sekaligus turut mendukung peningkatan kualitas produk lokal yang aman, halal, dan berdaya saing tinggi.

Sosialisasi SPP-IRT oleh Mahasiswa UMM Mendorong UMKM Kripik Talas Bu Sri Lebih Berdaya Saing

Suara Time, Malang – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan sosialisasi Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) kepada pelaku UMKM pada 06 November 2025. Kegiatan ini menyasar usaha Kripik Talas Bu Sri yang berlokasi di Jl. Sidomakmur No.76, Sengkaling, Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Sosialisasi dilakukan karena produk tersebut belum terdaftar dalam SPP-IRT meskipun telah diproduksi dan dipasarkan secara rutin. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap dapat meningkatkan kesadaran pelaku UMKM mengenai pentingnya legalitas pangan. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari program pengabdian mahasiswa dalam mendukung penguatan UMKM lokal. Dalam sosialisasi ini, pemilik usaha, Bu Sri, menyampaikan bahwa produk kripik talas buatannya memiliki komposisi sederhana, yakni talas, garam, bawang putih, dan penyedap rasa. Produk ini diproduksi secara rumahan dan telah memiliki pelanggan tetap di sekitar wilayah Sengkaling. Namun, minimnya pengetahuan mengenai perizinan membuat usaha tersebut belum memiliki SPP-IRT. Melalui diskusi yang berlangsung aktif, mahasiswa memberikan penjelasan mengenai manfaat sertifikasi pangan bagi pelaku usaha. Pemilik usaha pun menyambut baik pendampingan yang diberikan mahasiswa. Para mahasiswa UMM yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain M. Izzu’ Wildan Firdaus, Aditya Pratama, Rama Dwi Pangestu, Gusti Ardian Rivandi Prananda, dan Alvito Yogha Pamungkas. Mereka memaparkan materi dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh pelaku usaha. Mahasiswa menjelaskan prosedur pendaftaran SPP-IRT, mulai dari persyaratan administrasi hingga proses verifikasi oleh dinas terkait. Selain itu, mereka memberikan contoh label pangan yang sesuai ketentuan. Pendekatan edukatif ini dilakukan agar pelaku usaha benar-benar memahami pentingnya perizinan produk. SPP-IRT adalah sertifikat resmi yang diberikan oleh pemerintah kepada pelaku usaha pangan skala kecil atau rumahan sebagai bukti bahwa produk yang dihasilkan telah memenuhi standar keamanan pangan. Sertifikat ini memastikan bahwa proses produksi, peralatan, serta bahan yang digunakan aman untuk dikonsumsi masyarakat. Melalui SPP-IRT, produk memiliki legalitas yang memungkinkan perluasan pemasaran ke toko, pusat oleh-oleh, maupun platform daring. Tanpa sertifikat ini, pelaku usaha sering terkendala dalam kerja sama dengan pihak lain karena tidak memiliki bukti keamanan produk. Oleh sebab itu, SPP-IRT menjadi elemen penting dalam keberlanjutan usaha pangan rumahan. Dalam kegiatan sosialisasi, mahasiswa juga menekankan bahwa SPP-IRT memberikan perlindungan hukum bagi pelaku usaha. Sertifikasi ini melindungi usaha dari potensi sanksi ketika terjadi pemeriksaan dari instansi terkait. Mahasiswa turut memberikan pendampingan dalam pengisian formulir dan pengumpulan dokumen persyaratan. Mereka juga membantu pemilik usaha memahami cara menjaga higienitas ruang produksi. Pendampingan semacam ini menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam memberdayakan masyarakat. Melalui sosialisasi ini, mahasiswa UMM berharap Kripik Talas Bu Sri dapat segera mengajukan permohonan SPP-IRT agar usahanya semakin berkembang. Legalitas produk akan meningkatkan kepercayaan konsumen dan membuka peluang pemasaran yang lebih luas. Bu Sri menyatakan komitmennya untuk melengkapi seluruh persyaratan yang telah dijelaskan. Kegiatan sosialisasi ini diharapkan menjadi contoh kolaborasi positif antara mahasiswa dan UMKM. Dengan adanya pendampingan berkelanjutan, usaha rumahan seperti kripik talas dapat lebih siap bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Tiga Guru Besar Baru FKIP UMM: Menyatukan Kurikulum, Menyembuhkan Lingkungan, Menguatkan Etika Sains

FKIP UMM menegaskan perannya sebagai pusat inovasi pendidikan dengan mengukuhkan tiga guru besar baru yang menawarkan gagasan besar—dari kurikulum pemersatu, teknologi mikrobiologi ramah lingkungan, hingga model pendidikan sains beretika. Tagar.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan capaian akademik penting. Pada 22 November 2025, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) akan mengukuhkan tiga guru besar baru. Ketiganya membawa kepakaran yang beragam: pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga ilmu pendidikan bioetika. Mereka adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM.; Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes.; dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Kurikulum Indonesia Satu: Pemersatu tanpa Menghilangkan Keberagaman Mahfud Effendi akan menyampaikan gagasan, bahwa Kurikulum Indonesia Satu (KIS) harus menjadi pemersatu bangsa tanpa menyingkirkan keragaman budaya. Selama ini, pendidikan nasional, menurutnya, terlalu sering terjebak pada pola penyeragaman, padahal Indonesia berdiri di atas ribuan identitas budaya. Karena itu, Mahfud menempatkan KIS sebagai kurikulum yang memberi ruang luas bagi kearifan lokal, menjadikannya akar pembelajaran sekaligus dasar bagi peserta didik memasuki dunia global. Ia menilai, kurikulum yang baik bukan sekadar mengikuti perubahan zaman, tetapi menuntun arah peradaban menuju tujuan pendidikan yang humanis dan berkeadaban. Baca Juga:  Malam Penuh Cahaya, UMM Sambut Mahasiswa Baru dengan Flashlight Mob dan Laser Show “Kurikulum Indonesia Satu harus menuntun, bukan menyeragamkan. Anak-anak Indonesia berhak belajar dari akar budayanya sendiri sambil bersiap menghadapi dunia yang semakin global. Jika kita mengajarkan anak-anak seperti kemarin, kita merampas masa depan mereka,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Kamis (20/11/25). Mahfud menambahkan bahwa KIS harus integratif, menghubungkan pengetahuan dengan nilai, budaya, dan realitas sosial, agar pembelajaran lebih bermakna. Kurikulum yang humanis, inklusif, dan berbasis teknologi berkeadilan, menurutnya, menjadi prasyarat lahirnya generasi Indonesia Emas 2045. Teknologi Hijau Mikrobiologi: Jawaban atas Krisis Limbah Modern Lud Waluyo akan mengupas persoalan limbah cair yang semakin kompleks seiring pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi masyarakat. Kehadiran senyawa rekalsitran dan xenobiotik yang sulit terurai membuat pendekatan kimia tak lagi memadai. Ia menegaskan bahwa solusi berbasis mikrobiologi lingkungan menjadi kebutuhan mendesak. Lud mengulas riset panjangnya sejak 1998 hingga 2025. Ia berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik toleran deterjen dan LAS serta efektif membasmi patogen. Riset itu kemudian dirumuskan menjadi konsorsium bakteri stabil yang mampu menurunkan BOD, COD, TSS, dan residu deterjen. “Solusi limbah terbaik berasal dari mikroba indigen yang hidup dalam limbah itu sendiri,” katanya, menegaskan temuan kuncinya. Ia juga mengembangkan konsep biofitoremediator, sistem hibrid yang mengombinasikan bakteri Bacillus spp. dengan tumbuhan air seperti Salvinia molesta, Pistia stratiotes, Eichhornia crassipes, dan Hydrilla verticillata. Teknologi ini terbukti mempercepat penurunan polutan, memperluas jangkauan remediasi, dan memperkuat ketahanan mikroba terhadap toksikan hingga 100 ppm. Inovasi tersebut telah diterapkan pada limbah domestik, industri tahu, perhotelan, hingga tapioka, sekaligus menjadi bukti bahwa bioremediasi merupakan bentuk nyata tanggung jawab moral terhadap keberlanjutan ekologis. Bioetika: Pilar Moral yang Hilang dalam Pendidikan Sains Di sisi lain, Atok akan menyoroti lemahnya pendidikan sains karena peserta didik tidak dibiasakan mempertimbangkan dimensi moral dalam eksperimen laboratorium. Perkembangan bioteknologi yang sangat cepat memunculkan dilema etis baru yang sering tak terwadahi dalam kurikulum konvensional. Akibatnya, keputusan ilmiah menjadi rentan dilihat hanya dari sisi teknis, bukan etis. Menurut Atok, lemahnya literasi etis membuat mahasiswa menjalankan eksperimen secara mekanis tanpa memahami implikasi moralnya. Kondisi ini berisiko menimbulkan praktik yang tidak aman dan mengabaikan kesejahteraan organisme. Untuk menjawab masalah itu, ia mengembangkan model pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour). Penelitiannya menunjukkan bahwa model ini mampu meningkatkan penalaran etis, memperkuat pertimbangan moral dalam menghadapi dilema eksperimen, dan memperbaiki perilaku laboratorium mahasiswa. “Model ini menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu mengambil keputusan ilmiah yang bijak dan etis,” ujanya. (*)

Perkuat Integritas Demokrasi, Bawaslu dan UMM Sinergikan Pengawasan Pemilu Berbasis Data dan Riset Ilmiah

Korannusantara.id – Malang, 20 November 2025, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI mengambil langkah strategis dalam modernisasi pengawasan pemilu dengan menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kolaborasi ini diwujudkan melalui kegiatan Literasi Data untuk Pengawasan Pemilu yang digelar pada Kamis (20/11) di Aula GKB 4, Universitas Muhammadiyah Malang. Mengusung tema besar “Sinergi Universitas dan Pengawas Pemilu melalui Literasi Data,” acara ini menjadi bagian integral dari Roadshow Literasi Data Bawaslu yang menyasar 13 perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Inisiatif ini bertujuan mengubah paradigma pengawasan pemilu dari konvensional menjadi pengawasan partisipatif yang berbasis data (data-driven), analitik, dan riset ilmiah. Transformasi Digital: Portal Satu Data Bawaslu Dalam sesi utama, Bawaslu memperkenalkan inovasi Portal Satu Data. Tim Bawaslu memaparkan bagaimana integrasi dataset kepemiluan dapat dimanfaatkan sebagai fondasi pengawasan modern. Para peserta yang terdiri dari akademisi dan mahasiswa diajak menyelami potensi riset untuk mendeteksi kerawanan pemilu, memprediksi potensi pelanggaran, serta merancang strategi pengawasan yang lebih presisi dan adaptif di era digital. Pengukuhan Kerja Sama Riset dan Inovasi Momentum krusial dalam kegiatan ini ditandai dengan penandatanganan dan penyerahan simbolik “Perjanjian Kerja Sama Penelitian dan Inovasi Berbasis Data Pengawasan Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah.” Kerja sama ini membuka gerbang lebar bagi civitas akademika UMM untuk terlibat langsung dalam ekosistem kepemiluan. Melalui perjanjian ini, Bawaslu dan UMM berkomitmen mengembangkan model pengawasan baru serta menciptakan inovasi teknologi yang relevan dengan kebutuhan demokrasi Indonesia saat ini. Bedah Buku: Dinamika di Balik Layar Pengawasan Selain aspek teknis data, acara ini juga menyentuh aspek substansial kelembagaan melalui bedah buku “Dinamika Pengawasan Pemilu: Peran Bawaslu dan Interaksi Kepentingan” karya Anggota Bawaslu RI, Dr. Puadi. Dalam pemaparannya, Dr. Puadi memberikan perspektif mendalam mengenai tantangan Bawaslu dalam menjaga integritas pemilu di tengah himpitan berbagai kepentingan politik dan publik. Buku ini diharapkan menjadi referensi otoritatif bagi mahasiswa dan peneliti dalam memahami kompleksitas pengawasan pemilu. Kolaborasi Tokoh dan Akademisi Diskusi yang berlangsung dinamis ini dipandu oleh pegiat pemilu, Achmad Fachrudin, serta menghadirkan narasumber ahli: Prof. Dr. Lili Romli (Pakar Politik BRIN) Wahyudi Kurniawan (Dosen Fakultas Hukum UMM) Yana S. Hijri (Dosen FISIP UMM) Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan tinggi, termasuk Rektor UMM Prof. Dr. H. Nazaruddin Malik, SE., M.Si., Wakil Rektor IV Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., Dekan Fakultas Hukum Prof. Dr. Tongat, SH., M.Hum., dan Dekan FISIP Dr. Fauzik Lendriyono, S.Sos., M.Si., serta jajaran Bawaslu Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Malang. Peserta aktif dalam forum ini meliputi 40 mahasiswa FISIP UMM, 40 mahasiswa Fakultas Hukum UMM, 10 dosen, serta staf terkait dari Kabupaten Malang. Membangun Ekosistem Pengawasan Masa Depan Kehadiran Bawaslu di UMM menegaskan bahwa kampus adalah mitra strategis dalam menjaga kualitas demokrasi. Melalui sinergi ini, diharapkan lahir kajian-kajian akademis dan inovasi teknologi yang mampu memperkuat pengawasan pemilu yang transparan dan akuntabel demi masa depan Indonesia.

UMM Day Diserbu Ribuan Siswa se-Malang

pwmu.co – Ribuan siswa SMA dari berbagai daerah memenuhi kawasan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Kamis (13/11/2025). Mereka datang bukan sekadar mengikuti kegiatan edukatif, tetapi juga untuk menikmati satu hari penuh keseruan UMM Day, yang digelar bersamaan dengan pameran Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) Jawa Timur. Meski kegiatan MGBK menjadi agenda utama, perhatian para siswa juga terpusat pada berbagai stand dan hiburan yang tersebar di seluruh area kampus. Panggung utama menjadi pusat karena terdapat penampilan dari Sansekerta membuka acara dengan tarian tradisional yang semangatnya mampu menghidupkan suasana. Adapula aktivitas bebek-bebek menarik dan rafting seru. Dilanjutkan olehIkatan Aktivitas Band Mahasiswa (Ikabama) yang membawakan lagu-lagu populer sehingga para siswa ikut bernyanyi bersama. Tak kalah menarik, UKM Gita Surya menghadirkan harmoni paduan suara yang megah, dan Putra Putri Kampus UMM tampil dengan parade penuh percaya diri yang menggambarkan semangat mahasiswa UMM. Setiap penampilan menunjukkan bahwa kampus ini tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kreatif dan penuh energi. Keseruan tidak berhenti di panggung. Para siswa tampak antusias mengunjungi berbagai stand interaktif yang disiapkan fakultas dan unit kegiatan mahasiswa. Di sana mereka bisa mencoba DARI VR (Virtual Reality) karya mahasiswa UMM, mengikuti permainan Golf Mini, hingga berbelanja di MentariMart dengan voucher Rp25 ribu yang mereka dapatkan dari mengikuti rangkaian keseruan di UMM Day. Selain itu, aroma roti hangat dari UMM Bakery dan sajian khas nusantara dari Sengkaling Kuliner juga menambah semarak suasana. Siswa terlihat berkeliling sambil mencoba berbagai wahana dan mencatat pengalaman baru mereka di setiap stand. Antusiasme peserta semakin terasa ketika mereka diajak senam bersama di depan panggung. Siswa dari berbagai daerah tampak akrab satu sama lain, bernyanyi dan tertawa bersama diiringi musik kampus. Salah satu siswa, M. Ryan Galih Nugroho dari SMAN 1 Pagak, mengaku senang bisa ikut serta. “Kesan saya di UMM ini seru sekali. Banyak kegiatan seru dan siswa dari sekolah lain, jadi saya bisa dapat teman baru. Tadi juga ikut senam bareng dan dapat voucher belanja di MentariMart. Suasananya ramai banget, semua orang kelihatan senang dan panitianya juga ramah, jadi makin betah di sini,” ujarnya. Keseruan juga dirasakan oleh Cindai Legit Batari dari SMAN 1 Kepanjen. Ia menuturkan bahwa UMM Day memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan edufair lainnya. Tak hanya berkeliling mencoba berbagai stand menarik, Cindai juga ikut menyumbangkan lagu di atas panggung UMM Day. “Seru banget karena banyak stand menarik dari mahasiswa UMM, terus ada tes darah juga. Aku juga nyobain UMM Golf dan dapet jajan karena berhasil masukin bolanya. Pokoknya rame dan seru! Acaranya bikin penasaran karena setiap stand punya hal menarik sendiri, jadi pengin keliling terus,” ujarnya. Selain hiburan, pengunjung juga mendapat kesempatan untuk belajar hal baru. Di stand Fakultas Kedokteran, siswa bisa melakukan tes darah gratis dan melihat contoh organ tubuh seperti tumor dan kanker. Sementara di stand Fakultas Pertanian dan Peternakan, siswa diajak mengenal mikroskop penelitian serta belajar mengenali struktur jaringan tanaman. Dengan cara yang ringan, mereka diperkenalkan pada dunia ilmiah dan teknologi kampus. Menutup hari, suasana UMM Day tetap ramai oleh siswa yang berkeliling, berfoto, dan mencoba wahana bebek-bebekan serta rafting mini di Danau UMM. Acara ini memperlihatkan bahwa UMM bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan ruang besar bagi kreativitas dan semangat muda. Lewat UMM Day, para siswa dapat merasakan langsung pengalaman menjadi bagian dari kehidupan kampus yang aktif, menyenangkan, dan penuh inspirasi. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Ribuan Siswa Kunjungi Edufair 2025 yang Digelar Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling SMA Kabupaten Malang

radarmalang.jawapos – INOVATIF: Plt. Kepala Cabdindik wilayah Kabupaten Malang Dr Indiyah Nurhayati MPd (tengah) menghadiri Edufair 2025 yang digelar oleh Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMA di Kabupaten Malang, Kamis (13/11). MALANG KOTA – Sebanyak 4.715 siswa kunjungi Edufair 2025 yang diselenggarakan oleh Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMA Kabupaten Malang. Edufair dilaksanakan pada Kamis (13/11) di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara diikuti oleh 67 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta se-Jawa dan Bali. Tujuan kegiatan ini adalah sebagai wujud nyata peran dan komitmen MGBK untuk membantu siswa mengenal lebih dekat dunia pendidikan lanjutan, seperti perguruan tinggi dan lembaga vokasi. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh siswa bisa memperoleh informasi yang akurat, relevan, dan inspiratif sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan arah masa depan mereka.   Hadir dalam acara tersebut Plt. Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) wilayah Kabupaten Malang Dr Indiyah Nurhayati MPd, Koordinator MGBK SMA Kabupaten Malang Syarifatur Rofiah MPd, Pengawas BK SMA Cabdindik Kabupaten Malang Inta Elok Youarti MPd, dan Wakil Rektor 1 UMM Prof Ahsanul In’am PhD. Lalu, adapula Kepala SMA dan SMK Negeri Swasta se-Kabupetan Malang, guru Bimbingan dan Konseling (BK), serta seluruh siswa kelas XII se-Kabupaten Malang turut hadir memeriahkan acara tersebut.   Acara dibuka dengan Tari Topeng Patih dari SMAN 1 Sumberpucung dan Tari Pembuka SMAN 1 Tumpang. Lalu, sambutan Ketua MGBK SMA Kabupaten Malang Indira Ratnafuri MPd dan Pembina MGBK SMA Kabupaten Malang Syarifatur Rofiah MPd. Dilanjutkan, pemotongan pita dan pembukaan Edufair 2025 oleh Plt. Kepala Cabdindik Wilayah Kabupaten Malang Dr Indiyah Nurhayati MPd. Para tamu undangan juga diajak berkeliling ke Stand Edufair dan berinteraksi dengan para siswa. Dalam acara tersebut juga ditampilkan penyanyi solo dari SMAI NU Pujon Ellen Safaringga, Azkia Lathifa dari MAN 1 Malang, dan Ahmad Zen Al Bahar dari MAN 2 Malang. Serta, Allan Adi C. dari SMAN 1 Sumberpucung, duo singer dari SMAN 1 Dampit, trio singer dari SMAN 1 Lawang dan solois dari SMAN 1 Singosari. Adapula, penampilan Tari Nadyantara dan dance dari SMAN 1 Tumpang, serta Pencak Silat Pagar Nusa dari SMA Islam NU Pujon. Thelogoks Band dari SMAN 1 Sumberpucung, Band SMAN 1 Turen, dan Tapak Suci dari SMA ‘Aisyiyah Boarding School Malang. Acara ditutup dengan pembagian dooprize untuk seluruh peserta yang hadir. Plt Kepala Cabdindik wilayah Kabupaten Malang Dr Indiyah Nurhayati MPd sangat berterima kasih atas support yang luar biasa dari semua pihak untuk mensukseskan acara Edufair kali ini. “Dengan kegiatan ini, siswa tidak hanya diberikan informasi perguruan tinggi. Tapi, juga memberi kesempatan bakat-bakat non akademik dari para siswa di Kabupaten Malang untuk bisa tampil dan menghibur seluruh pengunjung,” tutupnya. (bes)