Sivitas UMM Ekspresikan Sumpah Pemuda lewat Ikrar untuk Bangsa

KLIKMU.CO – Bangun pemuda-pemudi Indonesia. Sepenggal lirik lagu perjuangan itu seakan mencerminkan semangat Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa (28/10/2025). Civitas akademika mengekspresikan semangat tersebut melalui Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2025 yang dipadukan dengan Pelantikan Wakil Dekan, Ketua Program Studi, dan Sekretaris Program Studi Periode 2025–2029. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang meneguhkan nasionalisme, persatuan, serta tanggung jawab generasi muda dalam mengisi kemerdekaan. Acara dihadiri mahasiswa dari berbagai organisasi kampus, mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU), Senat Mahasiswa Universitas (SEMU), BEM Fakultas (BEMFA), Senat Fakultas (SEFA), Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Para peserta hadir mengenakan pakaian adat daerah dan kostum pejuang, menghadirkan nuansa kebangsaan yang kuat dan menggambarkan keberagaman Indonesia yang berpadu dalam persatuan dan cinta tanah air. Acara juga diisi dengan pembacaan Ikrar Tekad Mahasiswa UMM untuk Bangsa oleh Ketua BEMU, Wahyuddin Fahrurrijal, yang menegaskan komitmen mahasiswa terhadap Pancasila, bangsa, dan bumi Indonesia. “Kami, generasi muda dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang berjiwa satria dan bersemangat kebangsaan yang membara, akan senantiasa setia pada Pancasila dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kami bertekad menjadi pelopor perubahan yang berkarakter kerja keras dan berkemajuan, serta siap bergotong royong membangun peradaban bangsa yang adil, makmur, dan berkeadaban tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan. Kami berjanji melestarikan bumi, air, dan kekayaan alam Indonesia sebagai warisan suci untuk generasi mendatang,” ucap Wahyuddin. Isi ikrar tersebut mencerminkan semangat Sumpah Pemuda yang dihidupkan kembali dalam konteks modern. Mahasiswa UMM menegaskan kesetiaan mereka pada Pancasila sekaligus komitmen menjadi motor perubahan sosial yang berkeadaban. Seluruh perwakilan Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) kemudian menandatangani naskah Ikrar Tekad Mahasiswa UMM untuk Bangsa sebagai simbol komitmen kolektif. Melalui kegiatan ini, UMM menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan historis, melainkan prinsip hidup yang terus dihidupkan dalam setiap langkah akademik dan kepemimpinan. Pergantian kepemimpinan fakultas yang bersamaan dengan deklarasi tekad mahasiswa menjadi pesan kuat bahwa regenerasi di kampus harus berjalan seiring semangat kebangsaan, keberlanjutan, dan perubahan yang bermakna bagi Indonesia. (Wildan/AS)
Inovatif, Semua Mahasiswa Baru UMM Diajari Coding

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Seluruh mahasiswa baru Gen 25 Kampus Putih kini dibekali keterampilan bahasa masa depan: coding. Pelatihan intensif ini berlangsung selama empat hari mulai (21/10/2025), dengan fokus pada Computational Thinking dan dasar-dasar pemrograman menggunakan Python. Program ini menjadi bagian dari 10 agenda utama Rektor UMM, yang menekankan penguasaan tiga bahasa wajib bagi setiap lulusan: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Pemrograman. Kepala Sistem Informasi dan Pelatihan Digital UMM, Aminuddin, S.Kom., M.Cs., menjelaskan bahwa pembelajaran dimulai dari logika berpikir komputer hingga praktik menulis kode. “Kita ingin mahasiswa memahami logic thinking sebelum menulis program. Python dipilih karena bahasanya sederhana dan mudah dipahami oleh pemula,” ujarnya. Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tapi juga diminta membuat mini project seperti kalkulator atau aplikasi kasir menggunakan Google Colab. Proyek ini dirancang untuk mengasah tiga kemampuan inti dalam pemrograman: input, process, dan output. Amin menambahkan, kemampuan coding juga bisa menjadi modal penting bagi mahasiswa lintas disiplin. “Bahkan untuk penelitian sosial yang berbasis data kuantitatif pun bisa diolah menggunakan Python. Jadi, ini bukan hanya untuk mahasiswa eksakta,” terangnya. Ia menekankan bahwa literasi digital dan logika pemrograman kini menjadi kebutuhan universal. “Coding itu bukan sekadar sintaks, tapi juga cara berpikir sistematis dan logis. Ini bekal penting menghadapi dunia kerja digital,” tambahnya. Antusiasme juga terlihat dari Rahma Fariza Cahya Ningtyas, mahasiswi Agribisnis UMM. Ia mengaku pelatihan ini membuka wawasannya. “Selama ini kita hanya jadi pengguna teknologi, sekarang belajar menjadi pembuatnya. Rasanya seru dan menantang!” ungkapnya dengan senyum lebar. Melalui program ini, UMM ingin menegaskan bahwa penguasaan teknologi bukan milik mahasiswa IT saja, tapi milik semua calon pemimpin masa depan. Kampus Putih terus berinovasi, memastikan lulusannya tak hanya cakap berbahasa, tapi juga melek digital dan berdaya cipta. (*)
Peringati Sumpah Pemuda, Mahasiswa UMM Ikrarkan Tekad Baru Setia Pancasila dan Lestarikan Bumi

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan peringatan Hari Sumpah Pemuda yang penuh makna kebangsaan, Selasa (28/10/2025). Ribuan mahasiswa dari berbagai organisasi kampus hadir dengan mengenakan pakaian adat daerah dan kostum pejuang dalam upacara yang digelar di Kampus Putih UMM. Momen ini bukan hanya sebagai ajang memperingati sejarah, tetapi juga sekaligus menjadi titik awal bagi pelantikan Wakil Dekan, Ketua Program Studi, dan Sekretaris Program Studi Periode 2025–2029. Puncak dari acara tersebut adalah pembacaan Ikrar Tekad Mahasiswa UMM untuk Bangsa, yang dipimpin oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU), Wahyuddin Fahrurrijal. Dalam ikrar ini, Wahyuddin menegaskan komitmen generasi muda UMM untuk tetap setia pada Pancasila dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Kami, generasi muda dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang berjiwa satria dan bersemangat kebangsaan yang membara, akan senantiasa setia pada Pancasila dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Wahyuddin dalam pembacaan ikrar yang penuh semangat. Lebih lanjut, ikrar tersebut berisi komitmen untuk menjadi pelopor perubahan dengan karakter yang kerja keras, berkemajuan, serta siap bergotong royong membangun peradaban bangsa yang adil dan makmur tanpa membedakan suku, agama, ras, dan golongan. Janji ini menjadi titik terang bagi masa depan Indonesia, di mana generasi muda UMM siap berperan aktif dalam menciptakan perubahan positif. Ikrar yang dibacakan juga mencerminkan semangat yang terus relevan dengan isu global saat ini. Pada bagian akhir ikrar, Wahyuddin menegaskan janji untuk melestarikan alam, sebuah isu yang semakin mendesak dalam menghadapi perubahan iklim global. “Kami berjanji melestarikan bumi, air, dan kekayaan alam Indonesia sebagai warisan suci untuk generasi mendatang,” tegasnya, menutup ikrar tersebut dengan penuh keyakinan. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan (Ormawa) yang hadir, mulai dari BEMU, SEMU, BEM Fakultas, Senat Fakultas, HMPS, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), turut serta menandatangani naskah Ikrar Tekad Mahasiswa UMM untuk Bangsa. Hal ini menjadi simbol komitmen kolektif dari seluruh mahasiswa UMM dalam menyatukan tekad dan perjuangan demi kemajuan bangsa. UMM juga menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda bukanlah sekadar peringatan historis, tetapi prinsip hidup yang terus diteruskan. Dalam rilis resmi, pihak UMM menyampaikan bahwa pergantian kepemimpinan fakultas yang bersamaan dengan deklarasi tekad mahasiswa ini mengirimkan pesan kuat tentang pentingnya regenerasi yang seiring dengan semangat kebangsaan, keberlanjutan, dan perubahan yang bermakna bagi Indonesia. [dan/suf]
Deretan Tokoh Nasional Bakal Hadir di Tanwir IMM XXXIII Malang

jatim today Kota Malang – Tanwir Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ke-XXXIII akan berlangsung di Kota Malang pada 29 hingga 31 Oktober 2025. Sederet tokoh nasional dijadwalkan bakal menghadiri acara bertema Energi Kolektif untuk Negeri, tersebut. Mereka diantaranya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Sultan Bachtiar Najamuddin, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Agung Danarto, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nazaruddin Malik, serta Ketua Umum DPP IMM Riyan Betra Delza. Tanwir yang akan dibuka di Dome UMM itu, juga akan diramaikan dengan dua sesi talkshow inspiratif bertema. Pada segmen pertama, hadir sebagai narasumber Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi, Komisioner KPU RI Iffa Rosita, dan anggota DPR RI Ahmad Labib. Sementara pada segmen kedua, sesi diskusi akan diisi oleh Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PPMI) Dzulfikar Ahmad Tawalla, Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin, Komisaris Pertamina Geothermal Energy Abdul Musawwir Yahya, serta Komisaris InJourney Najih Prastiyo. Sebagai penutup, forum Tanwir akan menghadirkan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto serta Wakil Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi, Fauzan. Koordinator Divisi Acara Panitia Tanwir, Eka Shofariyah menyampaikan, hingga Senin (27/10/2025) malam, para peserta dari DPD IMM se-Indonesia telah tiba di Kota Malang. “Kami ingin menjadikan Tanwir IMM di Kota Malang berkesan bagi seluruh kader dari Sabang hingga Merauke. Nantinya kegiatan akan dipusatkan di dua lokasi, yakni Dome UMM dan BBPPMPV BOE Arjosari,” ujar Eka, Selasa (28/10/2025). Sekretaris Jenderal DPP IMM, M. Zaki Mubarak menambahkan, Tanwir kali ini bukan sekadar ajang seremonial, melainkan ruang refleksi dan konsolidasi bagi kader IMM di seluruh Indonesia. “Tanwir IMM di Kota Malang menjadi momentum untuk mengubah ribuan energi potensial dari setiap kader Ikatan menjadi satu energi kolektif yang terpadu, serta dibaktikan untuk kepentingan negeri,” tegasnya. Perlu diketahui, IMM merupakan organisasi mahasiswa Islam yang berfokus pada bidang keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan. Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, IMM telah berdiri di hampir seluruh provinsi di Indonesia dengan ratusan cabang dan ribuan komisariat aktif. Sementara Tanwir IMM merupakan forum permusyawaratan tertinggi kedua setelah Muktamar, berperan penting dalam mengonsolidasikan arah gerakan, memperkuat ideologi, dan merumuskan strategi perjuangan organisasi di tingkat nasional.
Ikrar Tekad Mahasiswa UMM untuk Bangsa: Sumpah Pemuda Versi 5.0

Mahasiswa UMM mengemas ulang semangat Sumpah Pemuda dalam bahasa generasi digital—lantang berikrar menjaga Indonesia dengan kreativitas, kolaborasi, dan aksi nyata, sebuah semangat yang oleh generasi kini dapat disebut sebagai “Sumpah Pemuda Versi 5.0”. Tagar.co — “Bangun pemuda pemudi Indonesia.” Sepenggal lirik lagu perjuangan itu seolah benar-benar hidup di Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (28/10/2025). Semangatnya tampak nyata pada peringatan Hari Sumpah Pemuda yang dirangkai dengan pelantikan wakil dekan, ketua program studi, dan sekretaris program studi periode 2025–2029. Di momen ini, UMM mengajak seluruh generasi mudanya untuk meneguhkan kembali nasionalisme, persatuan, serta tanggung jawab dalam mengisi kemerdekaan. Mahasiswa dari berbagai organisasi kampus turut hadir dengan penuh kebanggaan, mengenakan busana adat daerah dan kostum pejuang. BEM Universitas (BEMU), Senat Mahasiswa Universitas (SEMU), dan BEM Fakultas (BEMFA) Lalu Senat Fakultas (SEFA), dan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) terlihat bersatu dalam satu ruangan. Baca Juga: UMM Rayakan Kemerdekaan dengan Lomba Unik dan Pesan Cinta Lingkungan Keberagaman itu menyatu dalam nuansa kebangsaan yang kuat, menggambarkan wajah Indonesia yang majemuk namun teguh dalam satu cita. Salah satu puncak kegiatan adalah pembacaan Ikrar Tekad Mahasiswa UMM untuk Bangsa oleh Ketua BEMU, Wahyuddin Fahrurrijal. Suaranya lantang, memancarkan tekad sivitas akademika UMM untuk selalu berpegang pada nilai-nilai kebangsaan. “Kami, generasi muda dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang berjiwa satria dan bersemangat kebangsaan yang membara, akan senantiasa setia pada Pancasila dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kami bertekad menjadi pelopor perubahan yang berkarakter kerja keras dan berkemajuan, serta siap bergotong royong membangun peradaban bangsa yang adil, makmur, dan berkeadaban tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan. Kami berjanji melestarikan bumi, air, dan kekayaan alam Indonesia sebagai warisan suci untuk generasi mendatang,” katanya. Usai pembacaan ikrar, seluruh perwakilan organisasi kemahasiswaan (ormawa) menandatangani naskah Ikrar Tekad Mahasiswa UMM untuk Bangsa. Tindakan simbolis ini meneguhkan komitmen kolektif mahasiswa dalam menjaga nilai kebangsaan dan memajukan Indonesia melalui kontribusi nyata di lingkungan kampus maupun masyarakat. Baca Juga: Pemuda Menyala di Tengah Badai Teknologi Momen sakral ini sekaligus menjadi pesan bahwa regenerasi kepemimpinan di kampus tidak hanya soal pergantian jabatan, tetapi juga pewarisan spirit kebangsaan. UMM menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda bukan hanya agenda seremonial tahunan, melainkan prinsip hidup yang terus menyala dalam proses akademik, organisasi, dan aksi sosial mahasiswa. Dengan kobaran semangat itu, Kampus Putih berharap dapat melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang bukan hanya cerdas dan kompetitif, tetapi juga berkarakter, peduli, dan siap menjaga keutuhan bangsa. (*)
Prof. Wahyudi Winarjo: Gerindra Jatim Harus Jadi Blueprint Politik Prabowo 2029

TIMES JATIM, MALANG – Hari Santri Nasional (HSN) 2025 ini kembali mengingatkan kita akan gelar “Sahabat Santri Indonesia” yang diterima Prabowo Subianto di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, pada 2 Januari 2024 silam. Gelar itu bukan sekadar seremoni. Di balik itu, ada arah politik baru. Prabowo diprediksi akan membangun poros santri yang sebelumnya menjadi kunci kemenangan besar di Jawa Timur pada Pilpres 2024. Kini, pasca menang telak dengan 65,19 persen suara di Jatim, strategi itu sedang berlanjut dalam bentuk konsolidasi di tubuh Gerindra Jawa Timur. Bagaimana arah politik Prabowo di Jatim sebagai salah satu lumbung suara nasional? Untuk mengulasnya lebih dalam, berikut wawancara Prof. Wahyudi Winarjo, analis sosial politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berikut petikan lengkap wawancaranya: Bagaimana Anda membaca makna politik dari gelar “Sahabat Santri Indonesia” yang diterima Prabowo di Genggong awal 2024 lalu dengan fenomena HSN tahun ini dan hangatnya kursi ketua Gerindra Jatim? Saya melihatnya itu bukan sekadar penghargaan simbolik ya. Gelar itu punya bobot politik dan kultural yang sangat kuat. Coba cermati. Pesantren Genggong adalah simbol peradaban santri di Jawa Timur. Ketika mereka memberi gelar itu kepada Prabowo, artinya Prabowo diterima secara kultural dan spiritual oleh komunitas pesantren. Apa itu berarti di Jatim, Prabowo benar-benar bisa masuk di pesantren? Bisa jadi begitu, tepatnya di lingkaran NU sebagai basis massa terbesar di Jatim. Di sini, saya melihatnya sebagai pintu masuk resmi Prabowo ke jantung Nahdlatul Ulama. Sebelumnya, Gerindra sering dianggap terlalu nasionalis dan militeristik. Tapi lewat pendekatan ke pesantren, Prabowo berhasil memecah sekat psikologis itu. Ia tampil bukan lagi sebagai jenderal, tapi sebagai sahabat para kiai. Apakah ini langkah spontan atau strategi politik yang dirancang jangka panjang? Saya kira sangat strategis dan terencana. Prabowo tahu bahwa Jawa Timur adalah medan paling menentukan di setiap pemilu nasional. Selama ini, Jatim terbagi dua: barat yang nasionalis (Mataraman) dan timur serta Madura yang religius. Nah, wilayah religius itulah yang selama puluhan tahun menjadi lumbung NU dan PKB. Apakah itu berarti Prabowo sukses menggeser peta itu? Betul. Dengan masuk melalui pintu pesantren, Prabowo sedang menggeser lanskap politik itu. Ia membangun poros santri baru yang tak bergantung pada satu partai, tapi pada jejaring sosial dan kultural pesantren. Dan itu terbukti berhasil pada Pilpres 2024 kemarin. Suara di Jatim mutlak ke Prabowo. Bisa Anda jelaskan bagaimana strategi itu bekerja di lapangan? Begini, Prabowo memadukan pendekatan elit dan akar rumput. Di level atas, ia mendapat dukungan kiai kharismatik seperti KH Hasan Mutawakil Alallah dari Genggong, Ketum MUI Pusat Kiai Anwar Iskandar yang juga punya pesantren di Kediri. Ada juga jalinan dengan pesantren Lirboyo dan Sidogiri. Di level bawah, timnya juga bergerak secara kultural. Apa yang menarik langkah Prabowo itu dibanding tokoh politik lainnya? Saya kira, dukungan itu datang tanpa resistensi dari struktur NU. Karena Prabowo datang bukan dengan gaya transaksional, tapi silaturahmi. Itulah yang saya sebut politik adab. Mendekati pesantren dengan bahasa mereka: rendah hati, menghormati, dan mendengar. Apa Anda melihat fakta bahwa pendekatan itu efektif secara elektoral? Sangat bisa. Lihat saja datanya. Prabowo–Gibran menang 65,19 persen di Jawa Timur, meraih 16,7 juta suara dari total 25,6 juta suara sah. Itu kemenangan terbesar sepanjang sejarah Pilpres di provinsi ini. Yang menarik, Prabowo menang di 36 dari 38 kabupaten/kota. Kalah tipis hanya di Pamekasan dan Sampang. Selebihnya, sapu bersih. Di Tapal Kuda seperti Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, hingga Jember, semua pesantren besar mendukung. Di Probolinggo saja, tempat Genggong berada, Prabowo mendapat 530 ribu suara. Itu luar biasa. Itu kan juga hasil mesin Partai Gerindra dan koalisinya? Iya itu pasti. Tapi poin pentingnya adalah mesin mesin santri benar-benar hidup. Dari podium pesantren, suara mengalir ke TPS. Dari kiai ke jamaah, dari jamaah ke keluarga. Itu rantai komunikasi politik paling efektif di Jawa Timur. Apakah kemenangan itu murni karena dukungan pesantren? Bukan satu-satunya faktor juga, tapi menjadi faktor dominan. Pesantren memberi dua hal, legitimasi moral dan efek domino sosial. Kalau kiai sudah berkata “boleh,” masyarakat tidak lagi perlu kampanye besar-besaran. Faktor Prabowo? Pasti ada. Prabowo juga cerdas membangun citra emosional. Saat menerima gelar Sahabat Santri, ia menyebut para kiai sebagai guru moral bangsa. Itu kalimat sederhana tapi dalam. Maknanya? Ya, artinya, Prabowo menempatkan pesantren bukan sebagai pendukung politik, tapi sebagai penuntun moral. Dan itu disambut hangat oleh kalangan ulama. Dan, buktinya menang kan? Baik, bagaimana Anda menilai peran Gerindra Jawa Timur dalam mengawal strategi ini? Sangat vital. Gerindra Jatim menjadi mesin kultural sekaligus jembatan politik antara pesantren dan kekuasaan nasional. Tokohnya, Gus Anwar Sadad, adalah santri Sidogiri. Ia bukan hanya politisi, tapi bagian dari tradisi pesantren. Itu yang membuat Gerindra diterima tanpa resistensi di kalangan NU. Apa yang bisa Anda lihat dari itu? Banyak. Namun intinya ada sukses ganda di Gerindra Jatim. Prabowo menang Pilpres, kursi legislatif mereka juga naik dari 15 menjadi 21 kursi DPRD provinsi. Itu bukti bahwa partai nasionalis bisa tumbuh di lahan religius kalau mengerti kultur lokal. Apakah ini berarti PKB sedang kehilangan cengkeraman di basis santri? Ya, PKB tidak lagi dominan tunggal. Dulu, siapa pun yang mau bicara santri harus lewat PKB. Sekarang tidak lagi. Prabowo lewat Gerindra membuktikan bisa menembus basis yang sama tanpa konflik ideologis. Itu gejala menarik, politik santri mulai terbuka dan cair. Apa tantangan Gerindra Jatim ke depan setelah kemenangan besar ini? Tantangannya dua, konsolidasi dan regenerasi. Pertama, mereka harus mempertahankan kepercayaan pesantren, bukan sekadar suara. Artinya, harus ada kebijakan nyata untuk dunia santri. Mulai peningkatan kesejahteraan, program pemberdayaan, hingga pengakuan terhadap pendidikan pesantren. Kedua, regenerasi. Prabowo butuh figur muda berlatar pesantren untuk memimpin Gerindra Jatim ke depan. Kalau figur santri dipertahankan atau bahkan ditingkatkan, itu sinyal kuat bahwa Gerindra serius menjaga poros santri. Kalau tidak, suara santri bisa kembali berpindah. Mengapa posisi Ketua DPD Gerindra Jatim sangat strategis dalam konteks ini? Karena Jatim adalah benteng elektoral nasional. Siapa yang menguasai Jatim, separuh peta nasional di tangannya. Jadi, ketua DPD Gerindra Jatim bukan sekadar pengurus partai, tapi semacam “gubernur bayangan” bagi politik nasional Prabowo. Sampai begitu ya? Ya wajar sekali dalam politik. Dan, sangat wajar kalau Prabowo ingin posisi itu dipegang figur pesantren. Dengan begitu, ia punya jaminan bahwa lumbung santri Jatim tetap aman hingga 2029. Prabowo sangat
Jelang Tanwir IMM di Kota Malang, Sejumlah Tokoh Nasional Dipastikan Hadir

kabarpasti.com MALANG – Menjelang pelaksanaan Tanwir Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ke XXXIII yang akan digelar pada 29-31 Oktober 2025 di Kota Malang, Jawa Timur, berbagai persiapan telah mencapai tahap akhir. Panitia Tanwir memastikan seluruh rangkaian acara siap digelar dengan penuh khidmat dan meriah. Dengan mengusung tema Energi Kolektif untuk Negeri, Tanwir kali ini menjadi momentum penting bagi kader-kader IMM untuk mengkonsolidasikan ide dan arah gerak IMM kedepannya. Sejumlah tokoh nasional telah mengkonfirmasi kehadirannya di forum Tanwir, diantaranya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Sultan Bachtiar Najamuddin yang akan membuka secara resmi Tanwir Malang. Kegiatan pembukaan yang akan berlangsung di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini juga turut dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indah Parawansa, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agung Danarto, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, dan Ketua Umum DPP IMM, Riyan Betra Delza. Sementara itu pada kegiatan Talkshow segmen pertama dengan tajuk Energi Kolektif untuk Negeri, akan dihadiri oleh Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, Komisioner Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI), Iffa Rosita, dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) Ahmad Labib. Di talkshow segmen kedua, tokoh yang didapuk sebagai narasumber adalah Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PPMI), Dzulfikar Ahmad Tawalla, Wakil Walikota Malang, Ali Muthohirin, Komisaris Pertamina Geothermal (PGE), Abdul Musawwir Yahya, dan Komisaris InJourney, Najih Prastiyo. Tak hanya itu, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes-PDT), Yandri Susanto dan Wakil Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi (Wamenristekdikti), Fauzan, juga dijadwalkan hadir untuk menutup serangkaian agenda Tanwir Malang. Koordinator Divisi Acara Panitia Tanwir, Eka Shofariyah, menyampaikan bahwa seluruh persiapan berjalan sesuai perencanaan awal dan panitia telah bekerja keras menyiapkan semua keperluan kegiatan Tanwir. Hingga Senin (27/10/2025) malam, para peserta dari DPD IMM se-Indonesia telah merapat ke Kota Malang, menandai antusiasme tinggi dalam menyongsong forum tertinggi kedua di organisasi ini. “Kami ingin menjadikan Tanwir IMM di Kota Malang menjadi sesuatu yang berkesan di benak setiap orang dari Sabang hingga Merauke. Nantinya Tanwir akan dipusatkan di dua tempat, yakni Dome UMM dan BBPPMPV BOE Arjosari,“ ujarnya, Selasa (28/10/2025). Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP IMM, M. Zaki Mubarak, menegaskan bahwa Tanwir XXXIII IMM bukan sekadar forum seremonial atau silaturahmi belaka, melainkan momentum untuk memperkuat peran strategis IMM di tengah situasi kebangsaan. “Tanwir IMM di Kota Malang menjadi momentum untuk mengubah ribuan energi potensial yang tersebar di setiap kader Ikatan menjadi satu energi kolektif yang terpadu, serta dibaktikan untuk kepentingan negeri,“ tegasnya. Tentang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. IMM merupakan organisasi dan gerakan mahasiswa Islam yang bergerak di bidang keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan. Sebagai salah satu organisasi otonom Muhammadiyah, IMM berdiri hampir di semua provinsi di Indonesia, serta memiliki ratusan cabang dan ribuan komisariat. Tentang Tanwir IMM Tanwir merupakan forum permusyawaratan tertinggi kedua setelah Muktamar yang memainkan peran strategis dalam mengonsolidasikan gerakan, memperkuat ideologi serta merumuskan arah perjuangan organisasi. Forum ini diikuti oleh Dewan Pimpinan Pusat IMM dan utusan-utusan Dewan Pimpinan Daerah IMM se-Indonesia. [BK/red]
Rakernas Asosiasi Prodi Bahasa Indonesia Bahas Pemanfaatan AI di Dunia Pendidikan

KLIKMU.CO – Asosiasi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada 18–19 Oktober 2025 di Kapal Garden Sengkaling, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan tersebut diikuti oleh 30 program studi PBSI dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah di seluruh Indonesia. Rakernas tahun ini mengusung tema Revitalisasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Berbasis Kecerdasan Artifisial (AI) dan Nilai Kemuhammadiyahan Menuju Era Indonesia Emas. Tema tersebut menjadi refleksi atas pentingnya integrasi teknologi dan nilai-nilai Islam dalam pendidikan bahasa Indonesia di era digital. Kegiatan dibuka oleh Ketua Umum Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) PTMA Prof Dr Harun Joko Prayitno MHum. Dalam sambutannya, ia menyoroti pentingnya pemartabatan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Ia juga mendorong agar asosiasi dosen bahasa Indonesia mampu memenuhi standar internasional serta memperluas jejaring kerja sama antarpengajar dan antarperguruan tinggi Muhammadiyah di berbagai negara. Menurutnya, asosiasi PBSI harus mampu berdaya saing baik secara nasional maupun global sesuai tuntutan pengguna jasa pendidikan. “Kita perlu menghidupkan kembali penelitian dan pengembangan bahasa Indonesia di luar negeri. Mengingat pentingnya inovasi dalam menghadapi persaingan global, terutama dengan Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH), maka Asosiasi PBSI harus berani melakukan terobosan yang inovatif, kreatif, dan inspiratif agar tetap relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan saat ini,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Asosiasi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia LPTK PTMA Prof Dr Sugiarti MSi menegaskan bahwa inovasi pembelajaran berbasis kecerdasan buatan merupakan kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Kehadiran AI tidak dapat dinafikan. Justru karena itu, teknologi ini harus dimanfaatkan untuk pengembangan asesmen, laboratorium, dan peningkatan keterampilan mahasiswa. Program yang dibahas dalam Rakernas tersebut meliputi penyempurnaan basis data, pertukaran dosen dan mahasiswa, riset dan pengabdian kolaboratif, hingga berbagai kompetisi akademik dan nonakademik bagi mahasiswa. “Asosiasi perlu menyiapkan kompetensi inti bagi mahasiswa maupun dosen PBSI, seperti literasi digital dan media, keterampilan abad ke-21, serta pedagogi inovatif. Selain itu, Rakernas kali ini juga membahas penyusunan program kerja untuk lima tahun ke depan (2025–2029),” ujar perempuan yang juga wakil ketua PWA Jatim itu. Kepengurusan baru hasil Rakernas akan segera menyusun langkah-langkah strategis berdasarkan rekomendasi yang dihasilkan. Seluruh program diarahkan untuk memperkuat pengembangan Asosiasi PBSI agar lebih adaptif dan transformatif dalam menghadapi perubahan zaman, sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai Kemuhammadiyahan. Rangkaian Rakernas yang berlangsung selama dua hari itu ditutup dengan pemilihan kepengurusan baru Asosiasi PBSI periode 2025–2029. Secara musyawarah dan mufakat, Prof Dr Sugiarti MSi kembali terpilih sebagai ketua umum. (Wildan/AS)
Sivitas Akademika UMM Tegaskan Ikrar Sumpah Pemuda untuk Bangsa

pwmu.co –“Bangun pemuda-pemudi Indonesia!” Sepenggal lirik lagu perjuangan itu menggema di Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 28 Oktober 2025. Semangat yang terkandung di dalamnya benar-benar terasa hidup, ketika sivitas akademika UMM memperingati Hari Sumpah Pemuda 2025 yang dirangkai dengan Pelantikan Wakil Dekan, Ketua Program Studi, dan Sekretaris Program Studi periode 2025–2029.Momentum ini tidak sekadar seremoni pelantikan, tetapi juga peneguhan kembali nasionalisme, persatuan, dan tanggung jawab generasi muda dalam mengisi kemerdekaan. Mahasiswa UMM dalam Nuansa Kebangsaan Upacara yang digelar dengan khidmat itu dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai organisasi kampus: BEMU, SEMU, BEMFA, SEFA, HMPS, IMM, hingga UKM. Mereka tampil dengan pakaian adat daerah dan kostum pejuang, menampilkan wajah Indonesia yang majemuk namun satu semangat. Suasana kebangsaan terasa di seluruh area Kampus Putih. Bendera merah putih berkibar, lagu perjuangan menggema, dan wajah para mahasiswa memancarkan tekad muda untuk melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa. Ikrar Tekad Mahasiswa UMM untuk Bangsa Puncak acara ditandai dengan pembacaan Ikrar Tekad Mahasiswa UMM untuk Bangsa oleh Ketua BEMU, Wahyuddin Fahrurrijal. Dalam suaranya yang lantang, ia menegaskan komitmen mahasiswa terhadap Pancasila, bangsa, dan bumi Indonesia. “Kami, generasi muda dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang berjiwa satria dan bersemangat kebangsaan yang membara, akan senantiasa setia pada Pancasila dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kami bertekad menjadi pelopor perubahan yang berkarakter kerja keras dan berkemajuan, serta siap bergotong royong membangun peradaban bangsa yang adil, makmur, dan berkeadaban tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan. Kami berjanji melestarikan bumi, air, dan kekayaan alam Indonesia sebagai warisan suci untuk generasi mendatang,” ujarnya. Isi ikrar tersebut menggambarkan semangat Sumpah Pemuda yang dihidupkan kembali dalam konteks zaman modern. Mahasiswa UMM menegaskan kesetiaan pada dasar negara Pancasila, sekaligus komitmen menjadi motor perubahan sosial yang berkeadaban dan berkemajuan. Regenerasi dan Kebangsaan di Kampus Putih Setelah pembacaan ikrar, seluruh perwakilan organisasi kemahasiswaan melakukan penandatanganan naskah Ikrar Tekad Mahasiswa UMM untuk Bangsa sebagai simbol komitmen kolektif. Suasana haru dan bangga menyelimuti ruangan, menegaskan bahwa sumpah pemuda bukan hanya teks sejarah, tetapi spirit yang hidup dalam setiap langkah generasi kampus. Momentum ini juga menandai pelantikan pimpinan baru di lingkungan fakultas dan program studi. Pergantian kepemimpinan yang beriringan dengan deklarasi tekad mahasiswa menjadi pesan kuat: regenerasi di UMM harus berjalan seiring dengan semangat kebangsaan, keberlanjutan, dan perubahan bermakna bagi Indonesia. Sumpah Pemuda: Prinsip Hidup yang Dihidupkan Melalui kegiatan ini, UMM kembali menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan historis, tetapi prinsip hidup yang terus dijaga di ruang akademik, kepemimpinan, dan pengabdian. Kampus Putih membuktikan, bahwa dari ruang kuliah hingga panggung kepemimpinan, jiwa muda Indonesia masih menyala terang — menyatu dalam ikrar untuk bangsa.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan
Sivitas Akademika UMM Tegaskan Ikrar Sumpah Pemuda untuk Bangsa

Rilis berita UMM 28 Oktober 2025 Sivitas Akademika UMM Tegaskan Ikrar Sumpah Pemuda untuk Bangsa Bangun pemuda pemudi Indonesia, sepenggal lirik lagu perjuangan itu seakan mencerminkan Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 28 Oktober 2025. Semangat yang terkandung di dalamnya diwujudkan nyata oleh civitas akademika melalui Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2025 yang dirangkai dengan Pelantikan Wakil Dekan, Ketua Program Studi, dan Sekretaris Program Studi Periode 2025–2029. Ini juga menjadi ajang meneguhkan kembali nasionalisme, persatuan, serta tanggung jawab generasi muda dalam mengisi kemerdekaan. Momentum yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda tersebut dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai organisasi kampus—mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU), Senat Mahasiswa Universitas (SEMU), BEM Fakultas (BEMFA), Senat Fakultas (SEFA), Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Mereka turut menghadiri acara dengan mengenakan pakaian adat daerah dan kostum pejuang. Nuansa kebangsaan terasa kuat di seluruh area kegiatan, menggambarkan keberagaman Indonesia yang berpadu dalam semangat persatuan dan cinta tanah air. Acara juga diisi dengan pembacaan Ikrar Tekad Mahasiswa UMM untuk Bangsa oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU), Wahyuddin Fahrurrijal yang menegaskan komitmen mahasiswa terhadap Pancasila, bangsa, dan bumi Indonesia. “Kami, generasi muda dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang berjiwa satria dan bersemangat kebangsaan yang membara, akan senantiasa setia pada Pancasila dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kami bertekad menjadi pelopor perubahan yang berkarakter kerja keras dan berkemajuan, serta siap bergotong royong membangun peradaban bangsa yang adil, makmur, dan berkeadaban tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan. Kami berjanji melestarikan bumi, air, dan kekayaan alam Indonesia sebagai warisan suci untuk generasi mendatang,” katanya. Isi ikrar tersebut mencerminkan semangat Sumpah Pemuda yang dihidupkan kembali dalam konteks zaman modern. Mahasiswa UMM menegaskan kesetiaan mereka pada dasar negara Pancasila, sekaligus berkomitmen untuk menjadi motor perubahan sosial yang berkeadaban. Adapun kegiatan dilanjutkan dengan seluruh perwakilan Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) melakukan penandatanganan naskah Ikrar Tekad Mahasiswa UMM untuk Bangsa sebagai simbol komitmen kolektif. Melalui kegiatan ini, UMM menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan historis, melainkan prinsip hidup yang terus dihidupkan dalam setiap langkah akademik dan kepemimpinan. Pergantian kepemimpinan fakultas yang bersamaan dengan deklarasi tekad mahasiswa menjadi pesan kuat bahwa regenerasi di kampus harus berjalan seiring dengan semangat kebangsaan, keberlanjutan, dan perubahan yang bermakna bagi Indonesia. (vin/wil)