UMM dan Warga NTT Terus Bergandengan Tangan Atasi Stunting

Kampus UMM terus menekan stunting di NTT melalui program profesor penggerak masyarakat. Foto: dok.UMM MAKLUMAT – Program Profesor Penggerak Masyarakat (PPM) dari Universitas Muhammadiyah Malang menegaskan peran kampus dalam menjawab persoalan di lapangan. Sejak awal Oktober, tim yang dipimpin Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep menjejak Desa Nusa, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Yakni daerah yang selama ini bergulat dengan tingginya angka stunting. Namun, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak datang sekadar memberi penyuluhan kesehatan. Melalui program ini, tim PPM berupaya membangun kesadaran, menggerakkan masyarakat, dan memperkuat daya tahan sosial warga desa. Pendekatannya tak berhenti di gizi dan tumbuh kembang anak. Di dalamnya juga menyentuh akar persoalan seperti ketersediaan air bersih. Persoalan ini kerap luput dari perhatian dalam upaya mengatasi stunting. “Program ini bukan soal kesehatan, tapi bagaimana masyarakat punya daya untuk berubah. Kami bekerja sama dengan BKKBN, pemerintah desa, dan kecamatan untuk menemukan sumber-sumber air baru,” ujar Yoyok di sela kegiatan. UMM memetakan tiga kluster utama dalam programnya. Pertama adalah kader kesehatan dan BKKBN, kedua kelompok ayah, kemudian kelompok ibu tangguh. Masing-masing kluster memiliki rancangan dengan pendekatan berbeda. Namun memiliki satu tujuan, memutus stunting dengan melibatkan seluruh elemen keluarga. Pendekatan Orang Tua Bangun Keluarga Mandiri Pada kelompok ibu, misalnya, tim UMM membangun keyakinan diri agar para ibu tidak pasrah menghadapi kondisi anak stunting. Melalui inisiatif bertajuk “Ibu Tangguh dengan Keluarga Stunting,” para ibu diajak berdiskusi. Baca Juga Aktivis adalah Sosok Cerdas: Pesan Muhadjir Effendy di Pelantikan BEM UMM Setidaknya para ibu bisa berbagi pengalaman, sekaligus belajar bersama cara merawat anak dengan gizi seimbang, serta menjaga sanitasi rumah tangga. “Sering kali ibu-ibu merasa tidak berdaya. Kami ingin menumbuhkan keyakinan bahwa mereka mampu mengubah situasi. Setidaknya dari keluarga sendiri,” jelas Yoyok. Sementara itu, peran ayah menjadi aspek yang tidak kalah penting. Selama ini, ayah melekat hanya sebagai pencari nafkah. Padahal, keterlibatan mereka dalam pengasuhan berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Peran Ayah Menekan Stunting di Keluarga Melalui program PPM, para ayah didorong lebih aktif mendampingi anak dan ikut dalam kegiatan posyandu maupun penyuluhan keluarga. Inisiatif ini mendapat respons hangat dari masyarakat setempat. Salah satu warga Desa Nusa mengaku bersyukur atas kehadiran tim UMM yang membawa perubahan. “Program ini menyenangkan dan bermanfaat. Kami belajar banyak hal, bisa melanjutkan pendampingan di posyandu, membantu ibu hamil, ibu nifas, dan anak-anak stunting. Semoga kegiatan ini terus berlanjut untuk kebaikan desa kami,” katanya. Di tengah kompleksitas persoalan stunting di NTT, mulai dari keterbatasan sumber air, gizi, hingga edukasi keluarga, kehadiran UMM memberi warna baru. Bukan hanya memberi solusi teknis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa perubahan bisa berawal dari masyarakat sendiri.
Rektor UMMAS Hadiri Rakornas Forum Rektor PTMA di Universitas Muhammadiyah Malang

Rektor UMMAS Hadiri Rakornas Forum Rektor PTMA di Universitas Muhammadiyah Malang (Dokpri) kompasiana – Rektor Universitas Muhammadiyah Asahan (UMMAS), Prianda Pebri, M.Pd., menghadiri kegiatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), baru-baru ini. Rakornas ini menjadi momentum penting bagi para pimpinan PTMA se-Indonesia untuk menyatukan visi dan strategi dalam menjawab tantangan dunia pendidikan tinggi yang semakin kompetitif. Kehadiran Rektor UMMAS menunjukkan komitmen kuat perguruan tinggi tersebut dalam membangun kolaborasi antar-PTMA, khususnya dalam meningkatkan kualitas tata kelola dan daya saing institusi. Dalam forum tersebut, salah satu agenda utama adalah presentasi dari Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Prof. Dr. Agussani, MAP, yang memaparkan progres pembangunan dua fasilitas utama untuk Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ke-49 yang akan digelar di Medan pada tahun 2027. Pembangunan Auditorium Berkemajuan dan Sport Hall Walidah, masing-masing berkapasitas 7.000 dan 3.000 orang, diharapkan menjadi ikon baru Persyarikatan Muhammadiyah di Sumatera Utara. Rektor UMMAS, Prianda Pebri, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Rakornas ini dan mengungkapkan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Muktamar 49. Ia juga menekankan pentingnya peran aktif PTMA di daerah dalam menyukseskan agenda-agenda nasional Muhammadiyah. “Kami di UMMAS siap berkontribusi untuk kesuksesan Muktamar 49 di Sumatera Utara, sekaligus terus memperkuat sinergi antar PTMA untuk kemajuan bersama,” ujar Prianda. Kegiatan Rakornas ini dihadiri oleh ratusan rektor dan pimpinan PTMA dari seluruh Indonesia, sebagai bagian dari upaya memperkuat jejaring, berbagi pengalaman, dan merumuskan strategi bersama dalam pengembangan pendidikan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
Tidak Hanya Fokus pada Ibu, Program Pengentasan Stunting UMM di NTT juga Libatkan Ayah

Program Pengentasan Stunting UMM di NTT juga Libatkan Ayah.(Ist) Kamis, 23 Oktober 2025 Malangpariwara.com – Stunting masih menjadi tantangan besar di Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu upaya nyata datang dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Profesor Penggerak Masyarakat yang salah satu timnya dipimpin oleh Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep. Program yang dimulai sejak Oktober 2025 ini menyasar tiga kluster penting: kader kesehatan dan kader BKKBN, kelompok ayah, serta kelompok ibu tangguh. Menurut Yoyok, program ini tidak hanya fokus pada penanganan kesehatan, tetapi juga pada aspek ketersediaan air bersih. Program ini dilaksanakan di Desa Nusa, Timor Tengah Selatan. Adapun program ini bekerja sama dengan BKKBN serta pemerintah desa dan kecamatan untuk menggerakkan masyarakat menemukan titik-titik sumber air baru. Ketersediaan air bersih menjadi faktor penting dalam mengatasi stunting di desa. Program yang dijalankan mencakup berbagai pendekatan. Untuk kluster ibu, fokus utamanya adalah membangun keyakinan diri agar para ibu mampu menghadapi tantangan dalam merawat anak dengan stunting. “Sering kali ibu-ibu mengalami rasa apatis atau pasrah. Melalui program ‘Ibu Tangguh dengan Keluarga Stunting’, kami ingin menumbuhkan keyakinan bahwa mereka bisa mengatasi masalah ini dalam keluarga masing-masing,” tambahnya. Sementara itu, keterlibatan ayah juga menjadi perhatian khusus. Keterlibatan ayah dan ibu yang seimbang akan memberikan pengasuhan yang lebih baik, sehingga semakin memperkuat upaya penanganan stunting di Desa Nusa. Selama ini ayah lebih banyak diposisikan sebagai pencari nafkah. Namun, dalam program ini ayah didorong untuk berperan aktif dalam pengasuhan dan pendampingan anak. Program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat. Salah satu warga mengungkapkan rasa syukur atas hadirnya UMM di desa mereka. “Kami sangat senang dengan kegiatan ini. Program ini memuaskan dan menyenangkan. Kami bisa melanjutkan pendampingan dalam posyandu, penyuluhan, serta mendampingi anak-anak stunting, ibu hamil, dan ibu nifas. Terima kasih kepada UMM yang sudah datang ke Desa Nusa. Semoga kegiatan ini bermanfaat untuk desa kami ke depan,” tuturnya. (Djoko W)
Mahasiswa UMM Juarai Lomba Debat yang Diselenggarakan Kemdikbudristek RI

Prestasi membanggakan kembali diraih oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terbaru, tiga mahasiswa UMM berhasil meraih posisi ketiga di kategori novice dalam National University Debating Championship (NUDC) yang diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional (PusPresNas). Ada lebih dari 100 tim terbaik dari berbagai universitas se-Indonesia yang saling bersaing di perlombaan ini. Pelaksanaan NUDC ini berlangsung pada 5-12 Juni 2023 lalu. Salah satu anggota tim, Mohammad Rakan Putra Zazli Agus dari program studi psikologi mengatakan NUDC merupakan salah satu lomba debat yang paling bergengsi. NUDC menuntut pesertanya tidak hanya mampu mengungkapkan ide dalam bahasa inggris, tetapi juga mampu menguasai pengetahuan global, menganalisis, membuat judgement, dan meyakinkan publik. “Bisa dibilang NUDC menjadi impian bagi semua debater karena ini merupakan lomba official pusat prestasi nasional yang ada di bawah arahan langsung Kemendikbud yang levelnya setara PIMNAS. Sistemdebatnya sendiri menggunakan british parliamentary,” terang Rakan. Lebih lanjut, mahasiswa yang memang memiliki hobi debat itu menyampaikan bahwa kategori novice yang diraih timnya merupakan kategori yang berada dibawah kategori open. Kategori ini dikhususkan untuk debater baru yang sebelumnya belum pernah juara di English Debate tingkat Regional maupun Nasional. “Di Tahun sebelumnya tim UMM gagal diseleksi wilayah. Alhamdulillah di tahun ini bisa bawa pulang medali perunggu NUDC ke Malang,” ungkap Rakan. Dalam prosesnya, ada berbagai tema yang disediakan. Mulai dari isu-isu internasional yang terjadi di beberapa tahun belakang, sosial, hingga politik. Begitupun dengan seni, budaya,s erta hal-hal yang berkaitan dengan olahraga. Hal itu membuat ia dan tim harus banyak membaca dan memahami setiap tema yang disediakan. Pemuda asal Gorontalo itu menambahkan melalui proses seleksi dari wilayah masing masing. Tim dari UMM sendiri melalui proses seleksi di wilayah LLDIKTI VII yaitu Jawa Timur. Adapun anggota tim lainnya yaitu Faris Hilaal Firaas dari hubungan Internasional dan Hidayat Saputra Yusuf dari Psikologi. “Kami sudah melakukan persiapan yang sangat matang dan juga banyak berlatih mulai dari latihan sendiri sampai dilatih langsung oleh coach berstandar Internasional. Pun selama perlombaan tidak banyak kendala sebenarnya, mungkin lebih butuh penguatan jam terbang saja. Kampus UMM juga sangat banyak memberikan fasilitas demi mendukung perjalanan kami,” jelas Rakan. (zak/wil)
Cara Ukur Kemampuan Diri Nonton Konser Jutaan Rupiah yang Harus Anda Tahu

Masyarakat Indonesia dibuat heboh oleh grup band Coldplay. Pasalnya, grup band legendaris asal Inggris itu secara resmi mengumumkan konser perdananya di Indonesia pada bulan November mendatang. Tak mau ketinggalan momen, berbagai kalangan usia berbondong-bondong untuk membeli tiket tanpa menghiraukan harga. Melihat fenomena ini, Novita Ratna Satiti, SE., MM., dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkomentar. Menurutnya, tidak masalah memanjakan diri setelah mencapai tujuan penting dalam hidup. Namun, sebelum memutuskan untuk menghabiskan jutaan uang untuk tiket konser, ada beberapa pertimbangan finansial dan manajemen keuangan pribadi yang perlu dipikirkan. “Penting untuk melihat kembali anggaran dana yang ada, agar tidak mengganggu keseimbangan keuangan untuk kebutuhan sehari-hari. Jika kebutuhan pokok dan tabungan masa depan dirasa tetap aman, maka sah-sah saja membeli tiket konser sebagai bentuk apresiasi diri,” ungkap Novita. Novita juga menegaskan untuk selalu mempertimbangkan besaran dana yang dikeluarkan. Jika individu menilai bahwa menonton konser itu penting dan menjadipengalaman berkesan, maka sah-sah saja. Apalagi jika menganggapnya sebagai investasi emosional yang bernilai. “Penting untuk mencatat bahwa setiap individu memiliki preferensi, prioritas, dan sumber nilai yang berbeda. Bagi sebagian orang, menonton konser senilai jutaan mungkin memberikan manfaat emosional dan kepuasan diri. Yang terpenting adalah bahwa setiap individu mengambil keputusan yang sesuai dengan nilai dan keinginan mereka,” jelas Novita. Meski begitu, ia mengingatkan akan pentingnya prioritas dan keadaan keuangan masing-masing sebelum memutuskan membeli tiket konser. Membeli tiket jutaan akan menjadi hal yang buruk jika menghambat kemajuan dan rencana finansial. Baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Apalagi jika membuat keuangan tidak stabil. Menurutnya, bentuk apresiasi diri tidak melulu dengan menghamburkan uang dengan jumlah besar. Ada alternatif lain yang bisa dicoba yakni memilih band-band lokal dan nasional yang harganya tidak begitu tinggi. Bahkan ada juga yang tidak perlu mengelurkan biaya sepeserpun. “Pertimbangkan kondisi keuangan saat ingin membelanjakan. Apalagi untuk apresiasi diri. Perlu adany penyesuaian budget dan juga kebutuhan,” tegasnya mengakhiri. (Aul)
Kemendikbud Gelar Sosialisasi Kedai Reka di UMM

Koordinator Tim Kerja Akselerasi Reka Cipta Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Achmad Adhitya, Ph.D, pada Sabtu (28/11) pagi melakukan sosialisasi bersama kurang lebih 27 Perguruan Tinggi se-Malang di Universitas Muhammadiyah Malang. Sosialisasi ini terkait adanya terobosan dari Ditjen Dikti Kemendikbud RI dalam membuat Platform Kedaulatan Indonesia dalam Reka Cipta (Kedai Reka) dan terobosan baru dalam mekanisme pendanaan perguruan tinggi melalui insentif matching fund sebesar Rp 250 Miliar. “Insentif hibah ini bertujuan untuk mendorong perguruan tinggi untuk mencapai 8 (delapan) Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi yang telah ditetapkan oleh Kemendikbud,” ucap Adhit. Melalui platform Kedai Reka, pihak perguruan tinggi dari berbagai wilayah Indonesia memiliki kesempatan yang setara untuk berkolaborasi dengan dunia usaha/industri dan mengajukan insentif matching fund tersebut. Platform Kedai Reka merupakan implementasi dari kontribusi visi kampus merdeka yang memberikan kebermanfaatan dan kesejahteraan masyarakat melalui karya cipta anak negeri dalam semangat membangun kemandirian bangsa. Platform ini merupakan wadah pertemuan antara Dunia Usaha dan Reka Cipta dari Perguruan Tinggi. Tujuan dari platform ini adalah menjadi jembatan akselerasi kerjasama dunia usaha/industri dengan para pereka cipta dari perguruan tinggi. Dari kerjasama tersebut, perguruan tinggi dapat menjadi pusat solusi dari setiap kebutuhan dunia usaha/industry melalui berbagai reka cipta. “Sehingga, platform Kedai Reka dapat menjadi salah satu penggerak pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19.” tandas Achmad Adhitya. Kebijakan merdeka belajar yang diperuntukan ke perguruan-perguruan tinggi datang dengan beberapa paket yang sangat dirasakan pengaruhnya pada perguruan tinggi swasta seperti UMM. Pengaruh paket-paket tersebut semakin lama semakin luar biasa dan sangat membantu perkembangan perguruan tinggi terutama program platform Kedaireka ini. “Pemerintah tidak hanya menerapkan indikator untuk perguruan tinggi namun juga memfasilitasi kampus untuk mempublikasikan inovasi-inovasi yang ada di kampus agar sampai ke masyarakat dan perusahaan,” ujar Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. (shi/can)
Kesebelasan UMM Juara 1 di Pertandingan Sepak Bola Internal Persema PSSI

Pertandingan internal Persema PSSI se-Malang Raya untuk liga 1 telah usai diselenggarakan dari 5 November sampai 26 November. Dalam pertandingan tersebut tim Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih juara 1 setelah mengalahkan tim dari Universitas Brawijaya (UB) dengan skor 2-0 di babak final. Rangkaian pertandingan diadakan di lima lapangan yang berbeda yakni lapangan Mulyorejo, lapangan Porma Sawojajar, lapangan Bakalan Krajan, lapangan Jagung Kedung Kandang, dan lapangan Tunjung Sekar. Untuk liga 1 diikuti oleh 14 tim yang berasal dari seluruh daerah Malang, baik kabupaten maupun kota. Renold Septian selaku ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Sepak Bola mengaku sempat kesulitan menyiapkan tim pertandingan ini. “Persiapan pertandingan lumayan berat karena tidak banyak anggota UKM yang sedang berada di Malang, hal ini menyulitkan kami untuk memilih anggota,” ujarnya. Meskipun menemui kesulitan, tim Sepak Bola Kampus Putih mampu bersaing mengalahkan tim lawan dengan hanya kebobolan satu gol saja dari seluruh pertandingan. Selain itu, meski dilaksanakan di tengah pandemi, protokol kesehatan Covid-19 tetap terlaksana dengan baik. “Kami diimbau agar pemain dari masing-masing perwakilan untuk test rapid sebelum pertandingan, adanya pembatasan jumlah penonton, serta mewajibkan orang-orang selain pemain untuk memakai masker,” kata pelatih tim UMM Dr. Haris Thofly, SH., M.Hum. (shi/can)
Bangun Karakter Wirausaha Anak Lewat Membatik

Mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) beri pelatihan membuat batik celup anak panti asuhan untuk membentuk karakter kewirausahaan. Di bawah bimbingan Tutut Indria Permana, M.Pd., Siti Mariyatul Qibtiyah sebagai ketua, serta Ladysyah Fitri Rohmah, Nur Hadi Hidayat, dan Yeni Setyaningsih sebagai anggota melatih 10 anak Panti Asuhan Putri Aisyiyah Dinoyo, Malang, selama hampir satu bulan, yakni 22 Agustus 2020 hingga 15 September 2020. Ide kegiatan ini bermula dari fakta bahwa masyarakat Indonesia lebih condong menjadi job seeker sehingga jumlah wirausahawan di Indonesia baru mencapai 2%. Padahal, idealnya, agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, jumlah wirausahawan suatu negara setidaknya harus mencapai 4%. Karena itu, jiwa kewirausahaan harus ditanamkan sejak dini, terutama bagi anak-anak panti asuhan. “Dengan keterampilan wirausaha, mereka akan lebih mandiri. Ini penting karena mereka tidak bisa bergantung pada orang tua. Selain itu, ini juga bisa menjadi solusi bagi permasalahan donasi panti asuhan yang tidak tetap pada setiap bulannya,” tutur Siti Mariyatul Qibtiyah saat diminta keterangan lewat WA, Sabtu (20/11/2020). Lantaran dilaksanakan di masa pandemi, tim memanfaatkan platform Google Meeting untuk kegiatan pelatihan dan aplikasi WA untuk kegiatan pendampingan. Kegiatan pelatihan meliputi pemberian materi kewirausahaan, pembuatan batik celup, pemasaran, dan pengemasan produk. Menariknya, materi pembuatan batik celup disajikan dalam bentuk video tutorial yang diunggah di Youtube. “Tujuannya agar lebih mudah dipahami dan bisa diakses tanpa batas. Kami membuat video tutorial itu dengan aplikasi Kinemaster karena ada banyak pilihan efek animasi yang sesuai dengan kebutuhan kami,” tambah Siti. Selain itu, tim juga membuat Buku Pedoman Pelaksanaan Program dengan menggunakan bantuan software Power Point. “Terima kasih kepada tim yang telah memberikan pelatihan membuat batik celup secara daring. Kegiatan ini akan kami lanjutkan, kami optimalkan lagi. Kami akan membuat lagi kreasi-kreasi produk batik celup dan menjualnya kepada masyarakat luas,” terang Farida. Adanya kegiatan ini terbukti menambah pemahaman dan keterampilan anak panti asuhan dalam hal membuat batik celup maupun berwirausaha. Ini terlihat dari peningkatan hasil pretest dan posttest yang melonjak hingga 90%. Alhasil, mitra memberikan apresiasi yang tinggi atas pelaksanaan kegiatan ini. Bahkan, Farida Basori, pengelola Panti Asuhan Putri Aisyiyah Dinoyo pun berniat untuk melanjutkan kegiatan. Kegiatan ini merupakan aplikasi dari Kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa pada skim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M). PKM-M ini tidak hanya memperoleh pendanaan dari Belmawa Dikti, tetapi juga mewakili UMM pada gelaran PIMNAS 33 yang akan dihelat secara daring sepekan ke depan. Lewat keberhasilan program dan luaran tambahan artikel yang telah dipublikasikan di International Journal of Community Service Learning (IJCSL) Universitas Pendidikan Ganesha, diharapkan tim bisa mengharumkan nama Kampus Putih dengan menyabet gelar sebagai Jawara PKM-M Tahun 2020. (fid/can)
Prodi Peternakan Gandeng Kelompok Perempuan Tingkatkan Produktivitas Ayam

Ayam kampung merupakan ayam lokal di Indonesia yang kehidupannya sudah lekat dengan masyarakat. Ayam kampung juga dikenal dengan sebutan ayam buras (bukan ras) atau ayam sayur. Namun, ada jenis ayam kampung super (KAMPUS) yang merupakan hasil persilangan antara ayam kampung jantan dengan ayam betina ras jenis petelur. Persilangan tersebut menghasilkan ayam kampung super yang mempunyai pertumbuhan lebih cepat dibandingakan dengan ayam kampung biasa. Berdasarkan hasil observasi lapangan kelompok pengabdian Prodi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), permasalahan yang ada adalah masih tidak termanfaatkannya potensi jenis persilangan ayam yang akan menghasilkan ayam kampung super dengan potensi unggul dari kedua induknya, yaitu persilangan ayam Bangkok jantan dengan ayam petelur. Hasil persilangan ini dapat menghasilkan bibit ayam dengan kualitas pertumbuhan cepat mirip ayam kampung dengan harga lebih mahal dan tahan penyakit. Di sisi lain, menurut kelompok pengabdian yang diketuai Prof. Wahyu Widodo sebagai ahli pakan ternak ini, banyak organisasi perempuan yang masih perlu diberdayakan termasuk anggota Aisyiyah Cabang Dau, Kabupaten Malang terutama di bidang peternakan. Oleh sebab itu permasalahan mitra adalah kurang adanya inovasi untuk mencari alternatif pemberdayaan bagi organisasi Aisyiyah Cabang Dau dalam bidang peternakan, khususnya optimalisasi pemberian kencur pada ayam kampung super. “Target utama adalah diharapkan adalah tersedianya ayam kampung super secara massal. Karena tingkat produktivitas yang tinggi yang menjadi media bagi para anggota Aisyiyah untuk memasarkannya secara cepat, murah, mudah dan memberikan hasil yang tinggi. Sehingga, hemat kami, perlu dilakukan pemberian pengetahuan dan keterampilan dalam pemberian fess additive kencur pada ayam kampung super bagi para ibu-ibu anggota Aisyiyah,” ungkap Wahyu Widodo. Program pengabdian ini turut dibantu Dr. Trisakti Handayani yang berkompeten dalam pemberdayaan wanita serta Dr. Adi Sutanto tenaga ahli bidang agribisnis peternakan. Kegiatan yang dilakukan selain penyuluhan dan pendampingan juga penyerahan ayam kampung super sebanyak 80 ekor kepada anggota Aisyiyah. Dengan rincian 40 ekor untuk ranting Sumberskar dan 40 ekor untuk ranting Merjosari. “Harapannya, dengan penyerahan ayam kampung super ini, bisa menjadi jembatan terbangunnya kesadaran pemberian jamu ayam kampung super yang lebih canggih yang dapat membangun perkembangan peternak ke arah yang lebih baik. Diharapkan juga pada tataran selanjutnya akan terdapat konstruksi yang berubah terhadap peternak yang lebih mengedepankan kesejahteraan,” lanjut Wahyu Widodo. Kegiatan ini merupakan kegiatan dengan pendanaan program pengabdian UMM. Optimalisasi pelaksanaannya melibatkan mahasiswa peserta program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) juga mahahasiswa yang terlibat dalam penelitian. Sementara, ayam yang dibagikan merupakan ayam yang berasal dari pemeliharaan di University Farm UMM berumur dua bulan. Ibu-ibu sebagai wakil kelompok perempuan Aisiyah Cabang Dau yang ditunjuk untuk memelihara ayam dimintai kesepakatan. Salah satu kesepakatannya adalah, ayam tersebut harus dipelihara sampai dewasa. Apabila ayam tersebut betina, maka peternak wajib memilihara sebagai indukan untuk pengembangan ayam berkelanjutan. “Sehingga nantinya Dau dapat diharapkan menjadi sentra pembibitan ayam kampung super di Kabupaten Malang. Sedangkan ayam yang jantan sebagian besar boleh dijual dan menyisakan beberapa untuk menjadi pejantan,” tandas Wahyu Widodo. (*/can)
BPMI Sosialisasikan Operasional Website SIM SPMI Terbaru

Badan Penjamin Mutu Internal (BPMI) Universitas Muhammadayah Malang (UMM) mengadakan sosialisasi Sistem Informasi Manajemen (SIM) dengan Sistem Penjamin Mutu Internal (SPMI). Selain itu BPMI juga mengadakan pemantapan dan pendampingan pelaksanaan standar untuk pengoperasian website. Kedua kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, (25/11) di Ruang Sidang Senat yang dihadiri oleh 21 Gugus Penjaminan Mutu Internal (GPMI). Dalam kegiatan ini BPMI menjelaskan tentang tugas GPMI dalam proses pengawalan Auditor Mutu Internal (AMI) dan juga cara pengoperasian website SIM SPMI yang baru. Pengawalan dan pengoperasian SIM SPMI ini berfokus pada 5 tahap. Tahap pertama penetapan, dilaksanakan ketika kebijakan mulai diberlakukan. Kedua tahap pelaksanaan dilaksanakan ketika kebijakan sedang dilakukan oleh jajaran kampus. Ketiga tahap evaluasi dilakukan ketika kebijakan telah berakhir. Keempat tahap pengendalian ketika kebijakan diaudit dan didiskusikan melalui Rapat Tinjauan Manajemen (RTM). Kelima tahap peningkatan dilakukan ketika kebijakan-kebijakan diperbaharui. Kelima tahapan tersebut dilakukan sesuai 10 standar kriteria yang telah disusun oleh BPMI pada agustus 2020 yang lalu. “Saya berharap dengan adanya pembaharuan pada SIM SPMI ini, semakin tahun kita menjadi semakin lebih baik dan adaptif dengan pembaharuan-pembaharuan yang ada,” ujar ketua pelaksana kegiatan Dr. Hari Windu Asrini, M.Si. (*/can)