Drill Square Hole untuk Efisiensi Instalasi Listrik

Melihat masih banyak pekerja bangunan mengalami kesulitan saat proses pemasangan instalasi listrik, membuat Ilham Akbar R. Supu, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mencoba untuk mendesain alat yang dapat mempermudah proses tersebut. “Awalnya itu baca-baca kajian pustaka tentang instalasi listrik untuk mata kuliah Proyek Desain Tim, ternyata pekerjaan ini membutuhkan waktu yang cukup panjang,” jelas Ilham. Mahasiswa yang kini sedang menempuh skripsi ini mencoba untuk mengembangkan alat yang sudah ada sebelumnya dan menyesuaikan dengan model instalasi listrik yang ada di Indonesia. “Alat ini sebenarnya sudah ada di negara lain, tapi ya tidak bisa serta-merta diaplikasikan di Indonesia. Jadi, saya merancang ulang menyesuaikan yang akan di sini,” papar mahasiswa asal Makassar ini. Drill Square Hole didesain untuk mempersingkat waktu pemasangan instalasi listrik bagi pekerja bangunan pada proyek bangunan besar. Menurutnya, proses pemasangan instalasi listrik paling panjang terletak pada proses pelubangan tembok maupun gipsun. “Jadi, pekerja bangunan itu apalagi untuk pekerja bangunan di proyek seperti hotel atau perkantoran paling lama ya di proses pelubangan dindingnya,” jelasnya. Tambahnya, alat ini dirancang untuk menghindari resiko kecelakaan kerja yang sering dialami oleh pekerja bangunan saat proses instalasi listrik seperti masuknya serpihan material pada mata saat proses pelubangan dinding. “Waktu proses instalasi listrik itu pekerja bangunan masih sering mengalami kecelakaan kerja, salah satunya masuknya serpihan material pada mata,” tandasnya. Alat yang berhasil masuk lima besar karya terbaik pada ajang Kompetisi Mahasiswa Muhammadiyah Nasional yang diselenggarakan oleh Asosiasi Sains dan Teknologi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (AST-PTM) ini juga mempunyai manfaat lain, yakni hasil pelubangan untuk pemasangan saklar lebih rapi dibandingkan menggunakan model tradisional. “Karena saya berfokus untuk mempersingkat waktu kerja dengan hasil yang maksimal, maka alat ini saya desain dengan model yang mudah dioperasikan,” tegasnya. Alat ini dilengkapi dengan paku center yang berfungsi sebagai titik pusat awal pelubangan agar tidak terjadi pergeseran pada saat pelubangan dinding. ”Drill Square Hole dilengkapi dengan paku center yang membuat proses pelubangan lebih cepat dengan hasil yang sempurna,” lengkapnya. (nis/can)
Borong Penghargaan di Indodax Short Film Festival 2020

Punya bakat akting yang mumpuni, Arfan Adhi Pradana, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang juga malang melintang di dunia perfilman Kota Malang ini, baru saja meraih gelar Best Actor dalam Indodax Short Film Festival 2020. Aktingnya yang natural dalam film berjudul Bumi karya Meraki Visual ini diganjar gelar sebagai Best Actor. Ia berperan sebagai Pak Ahmad, seorang guru yang memiliki murid bernama Bumi. Bumi, seperti dikisahkan dalam film itu, adalah anak yang tidak bisa mengikuti sekolah daring karena tidak memiliki handphone. Kebijakan pasca pandemi yang mengharuskan sekolah melalui platform online memang menjadi tantangan sendiri bagi semua lapisan masyarakat, tak terkecuali bagi Bumi, seorang anak petani di sebuah pelosok desa. Pak Ahmad, sebagai guru, pun akhirnya punya solusi dengan memberikan kelas privat untuk Bumi. Film pendek berdurasi empat menitan ini pun sukses merebut hati para juri bahkan meraih tiga gelar penghargaan sekaligus. Istimewanya, film Bumi ini adalah buah karya dari mahasiswa-mahasiswi yang dibimbing oleh Arfan Adhi sendiri. Nama timnya adalah Meraki Visual. “Tim Meraki Visual terdiri dari 13 mahasiswa, tidak semuanya punya basic audio visual. Ada pula yang dari konsentrasi public relations. Dan menariknya delapan dari keseluruhan anggota tim belum pernah ikut proses syuting sama sekali,” tutur Arfan. Tantangan tersendiri dirasakan oleh Meraki Visual. Tim yang terdiri dari Kiki Rahman Ardiansyah(Ikom AV 2018), Udaimatun Nur Farahin (Ikom PR 2019), Ardian Esa (Ikom AV 2018), M Mizan Sya’roni (Ikom AV 2018), Two Bagus Surya (Ikom AV 2018), Rizaldi Dwi (Ikom AV 2018), Abdul Latif (Ikom AV 2018), Dwi Cahyo Septoadi (Ikom AV 2018), Chu Livia Christine Wijaya (Ikom AV 2018), Reyhan Ramadhan (Ikom AV 2018), M Ammar Nasbahar (Ikom AV 2018), dan Aldi Novandi Putra (Ikom AV 2018). Selain mereka juga ada Ainni Firtiani, mahasiswi baru Ilmu Komunikasi angkatan 2020 yang tergabung dalam Tim Meraki Visual. “Proses pembuatan film ini memakan waktu sekitar satu bulan, proses readingnya sampai tiga kali. Sebagian besar tim memang belum pernah bikin film sama sekali. Ini menarik. Meski pengalaman pertama, namun mereka bisa berkerja secara maksimal,” puji Arfan. Kegigihan dan keuletan tim Meraki Visual ini pun berhasil menyabet gelar Best Actor, Most Views Movie, dan Best Director. Atas prestasi itu mereka mendapatkan hadiah total senilai 35 juta rupiah. Ada kisah menarik yang terselip dalam proses pembuatan film Bumi ini. Bermula dari keisengan tim untuk ikut kompetensi sambil menunggu berlangsungnya proses kuliah daring awal semester, mereka berkolaborasi untuk membuat karya bersama. Pada hari kedua proses syuting, kegiatan syuting mereka sempat terhenti karena hujan deras dan angin kencang. Hal itu membuat mereka harus menunda syuting hingga minggu kedua. Namun, seperti semangat yang dituangkan dalam film mereka, bahwa pendidikan adalah aset masa depan, meski sibuk membuat karya, tim Meraki Visual tidak meninggalkan proses kuliah daring. “Anak-anak ini sebelum take adegan naik motor dan adegan belajar di gubuk, mereka ikut kuliah online dulu. Saya ingat waktu itu ada yang ikut kelasnya bu Isnani ada yang ikut kelas Pak Jamroji. Ini yang membekas dalam benak saya, mereka tidak meninggalkan kuliah meskipun asyik membuat karya. Jadi saya ya nungguin mereka selesai kuliah online dulu, baru take adegan,” ungkapnya sambil tertawa. Karya film berjudul Bumi ini dapat disaksikan melalui kanal Youtube Meraki Visual. Kesuksesan Tim Meraki Visual ini adalah sesuatu yang sebenarnya tidak mereka sangka. Arfan mengakui, selain merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti kompetisi, mereka tidak memiliki target yang muluk-muluk. Niatnya cuma belajar bikin film pendek, karena gara-gara pandemi, praktikum AV 1 semeter lalu yang outputnya membuat film pendek, terpaksa gagal diproduksi. “Targetnya sebenarnya hanya 15 besar saja. Jadi ketika mereka diumumkan sebagai pemenang dan bahkan dapat tiga gelar sekaligus, mereka nangis bareng-bareng di zoom, saya pun ikutan nangis,” tutur Arfan. Penghargaan ini menurut Arfan juga memacu motivasi tim Meraki Visual, khususnya bagi Kiki Rahman Ardiansyah, sang sutradara film Bumi. Pengalaman pertama Kiki mendirecting film ini berhasil membuatnya semakin yakin menapaki jalur sutradara. (wnd/can)
Tim UMM Sabet Dua Gelar Juara di Kontes Robot Indonesia

Gelaran Kontes Robot Indonesia Tingkat Nasional 2020 telah usai dilaksanakan dari tanggal 16 November hingga 23 November oleh Pusat Prestasi Nasional Kemendikbud dengan Tuan Rumah Institut Teknologi Bandung secara daring. Pada Event tersebut Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengirimkan dua tim sebagai wakil, yaitu Tim Dome pada kategori Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI) dan Tim Zhafarul sebagai tim perwakilan pada kategori Kontes Robot Sepak Bola Indonesia Beroda (KRSBI Beroda). Tim Dome beranggotakan dua mahasiswa Rafif Kusuma Adi dan Aroo’ Isa serta dengan dosen pembimbing Khusnul Hidayat, S.T., M.T. berhasil menyabet dua gelar penghargaan sekaligus yaitu sebagai juara harapan dan tim dengan strategi terbaik pada kategori KRPAI. “Pada kategori tersebut terdapat 3 level pertandingan, dimana pada level 1, robot diharuskan mampu menelusuri seluruh ruangan pada labirin arena perlombaan dengan waktu maksimal 5 menit. Selanjutnya pada level 2 terdapat penambahan halangan berupa tumpukan anak tangga pada arena. Pada dua level awal tersebut robot juga harus dapat menyemprotkan desinfektan pada ruangan ruangan yang telah ditentukan oleh panitia. Pada level tantangan tertinggi selain halangan anak tangga robot juga diharuskan memadamkan api lilin yang terletak pada 3 ruangan yang berbeda,” tutur Rafif. Awal sesi Tim Dome terdapat kendala pada jaringan panitia yang mengakibatkan dome menempati urutan posisi 14. Akan tetapi dengan konsistensi, kecepatan, dan strategi yang baik, Tim Dome berhasil mengejar tim-tim lain. Sehingga pada sesi ketiga Tim Dome bisa menempati posisi ke 4 dan berhasil mendapatkan penghargaan tim strategi terbaik. Sementara, Tim Zhafarul beranggotakan empat mahasiswa yaitu Dwi Nur Fajar, Mukhsin Fadhil, Muhammad Indra Pratama dan Aldi Hermansyah. “Pada kategori KRSBI Beroda setiap tim diharuskan mencetak goal sebanyak-banyaknya dengan halangan berupa dummy robot dengan waktu perlombaan 3 menit, dengan 3 sesi pertandingan kami berhasil mencetak 19 goal yang menempatkan kami pada urutan 11 pada kategori tersebut,” ujar Aldi Hermansyah sebagai ketua tim. Raihan prestasi tersebut melengkapi prestasi tim robot dome UMM, dimana pada gelaran sebelumnya tim robot dome telah banyak menorehkan prestasi yaitu, Juara dua KRPAI tingkat nasional 2017, Juara satu KRPAI tingkat nasional tahun 2016, 2018, dan 2019. Tak hanya even nasional, Tim Dome juga telah meraih prestasi di tingkat internasional yaitu Gold and Silver Medal pada event Trinity College International Fire Fighting Robot Contest 2017, serta Gold dan Silver Medal pada event serupa pada tahun 2019 di Hartford, Amerika Serikat. (*/can)
RBC Institute Gelar Diskusi Menyoal Populisme Islam

RBC Institut A. Malik Fadjar, sebuah platfrom gerakan komunitas berbasiskan literasi di Malang, menggelar diskusi bertajuk Kepemimpinan Kaum Muda dan Populisme Islam di Indonesia, bertempat di RBC Learning Space, Malang pada Rabu (19/11) pekan lalu. Diskusi ini melibatkan tiga narasumber pakar, yaitu Subhan Setowara, Dimas Oky Nugroho dan M. Khoirul Muttaqin. Populisme Islam tengah muncul di Indonesia dalam dua dekade terakhir, yang salah satunya ditandai dengan semakin masifnya simbol-simbol keagamaan di ruang publik. Selain itu, kemunculan Habib Rizieq Shihab dan para tokoh agama yang turut serta dalam Aksi Bela Islam (ABI) beberapa tahun lalu, juga menjadi penanda bagi semarak populisme Islam di negeri ini. Kehadiran mereka ikut menginterupsi otoritas keagamaan para tokoh agama yang punya afiliasi dengan organisasi Islam mainstream seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), sehingga gerakan ini membuat fragmentasi baru dalam arus pergerakan keislaman di Tanah Air. Fokus diskusi tersebut ingin melihat posisi kepemimpian kaum muda di tengah arus populisme Islam yang berkembang belakangan ini. Apakah kaum muda merasa beruntung dengan arus ini atau justru sebaliknya. Menurut Direktur Eksekutif RBC Institut A. Malik Fadjar, Subhan Setowara, dalam alam demokrasi seperti sekarang ini, populisme pastilah muncul. Jika demokrasi adalah suara rakyat, maka populisme justru bergerak atas nama suara rakyat. Dia menambahkan, antara populisme dan algoritma telah terjadi perkawinan. Ketika kaum muda bersosial media dan terjebak pada salah satu arus, maka seterusnya ia akan terjebak pada populisme dalam media sosial. “Untuk itu, dalam menanggapi wacana populisme, kaum muda harus kritis,” tandas Subhan. Di kesempatan yang sama, Founder Kader Bangsa Fellowship Program, Dimas Oky Nugroho, mengatakan, ketika berbicara tentang populisme Islam di Indonesia, justru yang terjadi gerakan ini selalu mengalami kegagalan. Menurut Dimas, kegagalan tersebut karena yang dibayangkan bukan people tapi ummah. Kemudian, imajinasi ummah tersebut selalu terbentur dengan realitas sosial ekonomi. Dan itu justru melahirkan kesenjangan. Selain imajinasi ummah, populisme Islam juga kental dengan politisasi isu-isu agama untuk kepentingan dan pertarungan pada tataran elit. Lalu kemudian isu ini dibuat sedemikian rupa bagi kalangan grassroot. Sementara itu, aktivis muda Muhammadiyah M. Koirul juga menjelaskan bahwa kegagalan populisme Islam di Indonesia karena populisme Islam selalu diwakili oleh pemimpin yang berdosa secara politik dan secara sejarah. Berangkat dari hal ini, populisme menjadi tidak bertahan lama. Karena yang menjadi penokohan dalam populisme tidak cukup teladan untuk diikuti. Justru membuka celah dan ruang untuk di-bully. Ini dibuktikan dengan penolakan kaum muda pada populisme Islam yang dipimpin oleh Habib Rizieq akhir-akhir ini. “Pada akhirnya, ruang-ruang ini harus diisi dan digantikan oleh kaum muda yang belum mempunyai dosa sejarah. Dan, tentunya, calon pemimpin muda ke depannya harus memiliki nalar kritis untuk menghadapi segala wacana, termasuk wacana populisme,” imbuh Khoirul. (*/can)
Rancang Alat Siram Otomatis untuk Petani Jamur Tiram

Tahun ini ada 8 tim dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang lolos ajang Pekan Ilmiah Nasional. Salah satunya adalah tim yang diketuai oleh Lutfi Aish, mahasiswa Program Studi Informatika UMM angkatan 2017, yang menjadi tim UMM yang lolos di skema PKM-T (Program Kreatifitas Mahasiswa – Teknologi). Bersama dua rekannya dari Informatika M. Fikri Azhar dan Amarul Akbar, juga berkolaborasi dengan rekan lintas bidang. Yakni Safira Rikza Charira, mahasiswa Teknologi Pangan angkatan 2018. Mereka memberi solusi bagi permasalahan yang dialami petani jamur tiram. Awalnya, Lutfi mendengar permasalahan secara langsung dari petani jamur tiram di desanya Karangagung Tuban. Seperti area pesisir pada umumnya, Desa Karangagung memiliki suhu relatif tinggi hingga 34 derajat Celcius dengan kelembaban 50 hingga 80%. Hal ini kurang memungkinkan untuk pertumbuhan jamur yang membutuhkan suhu udara berkisar antara 16-24 derajat Celcius dengan kelembapan 60-70%. Suhu dan kelembapan yang tidak sesuai tersebut menyebabkan baglog jamur banyak mengalami kerusakan. Sehingga mempengaruhi penghasilan petani. Dari 1000 baglog, kerusakan baglog yang terjadi bisa mencapai 200 baglog setiap 6 bulan. Kerusahan ini mempengaruhi pendapatan petani jamur sehingga mengalami kerugian. Selain mempengaruhi pendapatan mitra, kondisi desa tersebut juga menyebabkan suhu dan kelembaban pada kumbung jamur milik mitra tidak stabil sehingga mitra harus melakukan penyiraman manual 5-6 kali sehari yang menghabiskan waktu dan tenaga agar kondisi kumbung jamur tetap pada suhu dan kelembaban optimal. Setelah berdiskusi dengan rekan-rekannya dan dari bimbingan dosen Nur Hayatin, S.ST, M.Kom, akhirnya mereka menggagas sebuah rancangan alat optimalisasi suhu dan kelembaban untuk membantu petani jamur tiram. Dengan menggandeng mitra Muhammad Anwar, salah satu petani jamur tiram Desa Karangagung yang memiliki permasalahan. Rancangan alat ini telah lolos pendanaan PKM Kemendikbud dan telah lolos menuju PIMNAS 33. “Alat ini dapat diimplementasikan untuk membantu permasalahan mitra terkait pengendalian suhu dan kelembapan dalam kumbung jamur secara otomatis,” terang Amar, desainer alat. Rancangan alat menggunakan microcontroller arduino dengan menggunakan kabel jumper untuk menghubungkan sensor kelembaban, relay dan sensor suhu DHT yang dapat disatukan di dalam board. Alat nantinya diletakkan pada kumbung mitra yang berukuran 4x8x3m berkapasitas 1000 baglog. Alat ini akan bekerja apabila suhu dan kelembapan rumah jamur tidak sesuai. Air akan dipompa menuju pipa air. Sprayer akan mengeluarkan kabut pada pipa bagian atas dan bagian bawah. Apabila suhu dan kelembapan telah optimal, sprayer akan otomatis berhenti dan LCD display menampilkan suhu dan kelembaban yang kembali optimal. Lutfi meyakinkan bahwa rancangan alat ini sudah sesuai dengan kondisi mitra. Di sisi lain pengaplikasiannya mudah juga ketahanan alat yang cukup lama, yakni sekitar 2-3 tahun. Selain itu harganya tergolong murah dibandingkan dengan alat yang sejenis. Dari hasil evaluasi, mitra memberi tanggapan positif terhadap desain alat dan berharap alat dapat diimplementasikan di rumah jamur. “Rancangan alat ini sudah didemokan kepada mitra kami, dan mitra memberikan feedback positif. Setelah kegiatan berlangsung, mitra diharapkan dapat menerapkan alat secara mandiri dan dapat memberikan wawasan serta informasi mengenai alat kepada petani jamur lain di desa tersebut,” tutur Lutfi. (*/can)
UMM-KADIN Jawa Timur Kerjasama Wujudkan Merdeka Belajar

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jawa Timur, Sabtu (21/11). Kerjasama ini dilakukan di bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat serta bidang lainnya. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd dalam sambutannya menyatakan bahwa kerjasama ini sangat strategis bagi UMM dalam rangka turut memperkuat memberikan kontribusi pada konsep Merdeka Belajar yang telah disusun oleh setiap Fakultas dan Program Studi yang dipimpinnya. Tentu diharapkan kerjasama ini juga bisa memberi manfaat untuk KADIN. “Kita coba identifiksi bagi hal-hal yang strategis dan marilah kita bersama-sama untuk mengeksekusinya,” ungkap Fauzan di agenda yang digelar di Ruang Sidang Senat Kampus III UMM. Dilanjutkan Fauzan, kerjasama ini juga sejalan dengan tekad yang diusung UMM mulai tahun ajaran ini yakni internasionalisasi dan industrianisasi. Industrialisasi yang sebenarnya lebih banyak berorientasi pada peningkatan atau penambahan kompetensi bagi mahasiswa, agar setelah menempuh pendidikan dari UMM akan menjadi orang-orang yang bermanfaat sesuai dengan passion-nya. Ketua Umum KADIN Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, dalam sambutannya mengapresiasi kerjasama yang dilakukan. Ia lantas berharap kerjasama ini segera bisa dijalankan bulan Desember mendatang. Utamanya dalam upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia kompeten. (riz/can)
Rizkyka Wakili Jawa Timur di Ajang Putri Hijab Nasional

MIMPI Rizkyka Nanda Kurnia, mahasiswa Prodi D-III Perbankan Keuangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menjadi seorang Putri Indonesia telah ia pupuk lama sekali. Dara berusia 19 tahun asal Desa Putukrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang ini memang sedari kecil ingin menjadi bintangnya kontes kecantikan Indonesia itu. Selangkah lagi mimpinya bakal terwujud. Hal itu berkat prestasi yang baru-baru ini diraihnya dengan dinobatkan sebagai The Winner Putri Hijab Jawa Timur 2020. Pada Desember 2020 mendatang, Rizkyka bakal mewakili Provinsi Jawa Timur di ajang grand final Duta Hijab Nasional yang diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat. “Awalnya saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan terpilih menjadi Putri Hijab Jawa Timur, karena ini adalah pengalaman pertama dan prestasi pertama kali. Yang saya dapat ini merupakan sebuah awal yang baik bagi saya dan ini merupakan salah satu impian saya menjadi seorang Putri sewaktu masih kecil,” kata Rizkyka. Pada awal bulan November dilaksanakan audisi online dikarenakan masih dalam kondisi pandemi. Audisi terdiri dari tes tertulis dan wawancara meliputi kepribadian, pengalaman, dan agama. Setiap hari Ia mengaku belajar, berdoa, dan bertawakal kepada Allah. Ia pernah hampir menyerah, karena merasa tidak pantas bahkan sempat diremehkan. Namun Allah memberi kekuatan dan kehendak lain. Ia pun dinyatakan lolos 10 besar dan membuatnya bangkit serta bersemangat mengikuti audisi. Pasca dinyatakan lolos sebagai The Winner Putri Hijab Jawa Timur, bukannya tanpa rintangan. Karena ajang ini diselenggarakan oleh pihak swasta, sebagian biaya akomodasi untuk melaju ke babak final dibebankan ke pemenang. Rizkyka hanya diberikan waktu 3 hari saja untuk melunasinya. Namun Ia meyakini, di balik kesulitan selalu ada jalan. Tak disangka, usaha berjualan hijab yang dirintis Rizkyka dan ibunya justru menjadi jalan penyelesaian masalah. Ia bisa menutup biaya akomodasi tersebut. “Alhamdulillah, H-1 pembayaran ditutup saya mendapat rejeki dan usaha jualan hijab saya dan ibu laris manis. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Baik. Saya sangat bersyukur, terharu, dan bahagia. Memang benar keajaiban Allah tidak dapat diragukan dan pasti akan terjadi. Apabila kita mempunyai keinginan. Maka kita harus niat ikhlas lahir batin, berusaha, dan berdoa kepada Allah SWT. Ketika kita sudah ikhlas meminta kepada Allah, Insyaallah, Allah pasti akan memudahkan segala urusan kita,” katanya. Ia berpesan kepada semua orang yang ingin meraih mimpinya untuk jangan pernah takut keluar dari zona nyaman dan mencoba hal baru. Hilangkan segala rasa insecure jika sudah ketetapan. Allah SWT tidak memandang cantik, pintar, ataupun kaya. Jika kita diremehkan oleh orang, dengarkan, ambil sisi positifnya. Ketika orang lain meremehkan, mereka hanya tidak tahu bagaimana perjuangan kita yang sebenarnya. Yang tahu hanya kita dan Allah maka serahkan semuanya kepada Allah SWT. “Dengan segala dukungan serta doa dari kedua orang tua keluarga saudara teman guru dan dosen orang-orang terdekat dan semua yang selalu mendukung saya, bismillahirrahmanirrahim semoga nanti saya kembali bisa membawa pulang berita baik dan membanggakan untuk mengharumkan nama baik Jawa Timur segala harapan ada di genggaman tangan saya semoga Allah selalu meridhoi langkah saya. Aamiin ya rabbal’aalamin,” ungkap Rizkyka saat diwawancarai via WhatsApp, (21/11). (can)
Tim PMM ini Bikin Modul dan Sistem Laporan Keuangan untuk Petani

TIM Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Mitra Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pengabdian di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Pengabdian ini dilakukan secara khusus dalam hal pendampingan membuat modul dan laporan keuangan. Novitasari Agus Saputri, M.Pd. selaku dosen pengabdi berinisiatif membuat modul berisi tentang profil Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) serta pemahaman tentang membuat laporan keuangan. Di dalam modul tersebut, di bagian profil setiap kelompok tani juga disebutkan unit-unit usahanya serta produk-produk yang dihasilkan. Modul yang disusun oleh Novitasari beserta timnya ini dikerjakan dengan kurun waktu kurang lebih dua minggu. “Saya sengaja membuat isi modul dengan menggunakan bahasa – bahasa akuntansi yang sederhana agar mudah untuk dipahami. Karena setelah selesai dibuat, modul ini akan dicetak dan dibagikan pada saat pelaksanaan kegiatan,” kata Novitasari (20/11). Sedangkan Ike Arisanti, SE., MBA. yang juga selaku dosen pengabdi dikelompok ini, bertanggung jawab merancang sistem laporan keuangan. Sistem ini dibuat dengan tujuan agar para petani lebih mudah dalam membuat laporan keuangan. Sistem ini dirancang menggunakan Microsoft Excel. Ike dan Novitasari dibantu oleh 2 mahasiswa berasal dari Prodi Akuntansi UMM yaitu Gresita Mahar dan Maulana Riyan dalam menyelesaikan modul dan sistem ini dengan kurun waktu yang sangat cepat. Harapannya, disampaikan Novitasari, setelah disosialisasikan mengenai pentingnya sebuah laporan keuangan terutama untuk UMKM, dan telah dijelaskan penggunaan sistem laporan keuangan sendiri, masyarakat dapat menerapkannya dalam kegiatan transaksi sehari-hari. Tim PMM Mitra Dosen mengambil tindakan ini mengingat ketua Gapoktan Desa Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu sendiri, Sutejo mengatakan bahwa masih minimnya pemahaman tentang laporan keuangan itu. “Setiap transaksi tidak dicatat, hanya penjualan dan kas saja yang mungkin ada catatannya. Karena bapak-ibu anggota kelompok tani lebih memilih simpel dan tidak mau ribet. Maka dari itu, dengan adanya output berupa modul dan sistem laporan keuangan itu sendiri semoga dapat mempermudah pembuatan laporan keuangan Gabungan Kelompok Tani Torong Makmur sehingga di setiap transaksi dapat terdokumentasi dengan jelas nantinya,” ungkap Novitasari via WhatsApp. (*/can)
Mahasiswa ini Ciptakan Sistem Pintar Pengaman Parkir Bertingkat

Tercatat, di Indonesia masih sering terjadi kasus mobil yang terjun dari lahan parkir bertingkat. Dari tahun 2006-2017 sudah terjadi 10 kasus kecelakaan kendaraan roda empat yang terjun dari parkiran bertingkat. Sementara, menurut laporan dari Road Safety Association, Korlantas Polri mencatat sekitar 50 persen kecelakaan lalu lintas dipicu oleh unsur lengah saat berkendara, dari total 50 persen kecelakaan yang diakibatkan oleh faktor manusia. Selain faktor kelengahan manusia, penyedia layanan parkir dituntut harus mampu menyediakan layanan parkir bertingkat yang aman, utamanya dalam hal pembatas parkir. Berdasarkan data permasalahan sebelumnya, maka terciptalah ide dalam inovasi rancangan batang pengganjal parkir dengan mengubah desain batang yang semula sistemnya pasif menjadi dinamis. Ide inilah yang coba diwujudkan oleh sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang merancang “Sistem Pintar Pengaman Parkir Bertingkat untuk Kendaraan Roda Empat”. Ide ini didaftarkan ke Program Kreativitas Mahasiswa – Karsa Cipta (PKM-KC). Adalah Muhammad Ardiansyah, Ivanda Oktavian Saputra, dan Arista Dwi Setya Budi yang memiliki ide tersebut. “Inovasi yang digagas pada design alat ini, yakni dengan mengubah design sistem pengaman parkir yang sebelumnya pasif menjadi dinamis dengan mekanisme rotasi. Cara kerjanya adalah dengan menciptakan selip pada roda mobil apabila terjadi kecepatan saat mobil mundur secara tiba-tiba, sehingga mobil tertahan oleh alat pembatas dan dapat terhindar dari kecelakaan,” terang Muhammad Ardiansyah selaku ketua kelompok. Meskipun telah ada produk-produk serupa dengan fungsi yang sama, sambung mahasiswa teknik mesin ini, produk ciptaan mereka ini diklaim lebih memiliki keunggulan. Di antaranya mudah diproduksi massal karena tidak membutuhkan teknologi tinggi serta kebutuhan safety parking di berbagai tempat parkir gedung bertingkat. Kedua, material mudah diperoleh karena material dapat dibeli secara terpisah. Terlebih, material dalam pembuatan alat ini juga diproduksi di dalam negeri (PT. Barata). Ketiga, alat ini juga berpotensi mendapatkan paten baru yakni karena mekanisme alat merupakan yang terbaru dan belum ada sebelumnya. Selain itu, produk dapat terus dikembangkan dan memiliki jangka investasi hingga 10 tahun. Keempat, keamanan alat ini juga terukur yakni, produk ini telah disesuaikan dengan spesifikasi kendaraan roda empat di Indonesia. Juga, mampu menahan beban kendaraan hingga 2 Ton. Alat ini tidak memerlukan teknologi yang tinggi, tetapi hanya memanfaatkan gaya yang terjadi pada saat mobil di parkirkan (Hukum Newton III). “Mekanismenya gaya aksi akan diberikan pada saat roda berputar dan menyentuh roll as pengganjal. Ketika pengemudi menginjak pedal gas terlalu dalam maka gaya reaksi pada roll as akan melawan putaran roda sehingga roda tidak bisa melewati rol batang tersebut. Roll as yang menggunakan besi pejal meminimalisir patah dan bengkok ketika mendapat gaya tekan ke bawah,” terang Ardiansyah. (*/can)
Mahasiswa UMM Gagas Aplikasi E-Nasyid untuk Berdayakan TPQ sebagai Pusat Studi Tajwid

PANDEMI tidak hanya menghambat pelaksanaan pendidikan formal, tetapi juga pendidikan nonformal seperti di Taman Pendidikan Quran (TPQ). Anak-anak tak bisa lagi belajar di TPQ dan memperdalam agama, seperti belajar tajwid. Padahal, mempelajari dan mengimplementasikan tajwid akan menambah kesempurnaan dalam sholat dan membaca Al-Quran. Berangkat dari kondisi ini, sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dari berbagai jurusan yakni Safira Rahmadita Ismara, Devi Mellysafitri, Muhammad Natsir Hentihu, dan L. Yasril Ilham membuat sebuah inovasi yang menggabungkan metode mengaji dan teknologi bertajuk “Metode Nasyid Berbasis Articulate Storyline” dan menerapkannya di TPQ Shirotol Mustaqim. “TPQ Shirotol Mustaqim ini berlokasi di Desa Baamang Tengah, Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah. Peserta didik di sana rata-rata remaja usia 14 – 17 tahun. Mereka mengeluh karena tidak ada lagi kegiatan mengaji di TPQ padahal pembelajaran tajwid penting itu untuk dipelajari. Jadi, kami tergerak untuk mencoba mengatasi masalah itu dengan pendampingan implementasi metode nasyid berbasis articulate storyline ini,” ungkap Safira, sapaan akrabnya, Senin (16/11/2020). Pemilihan metode nasyid ini diasumsikan memudahkan anak-anak dalam belajar. Pasalnya, gaya belajar anak-anak lebih condong ke hal-hal yang sifatnya audio-visual dan interaktif. Sehingga, melalui musik dan lirik yang mudah dihapal peserta didik akan bisa memahami tajwid dengan baik. Program ini dimulai dengan identifikasi masalah mitra melalui pretest online untuk melihat kemampuan awal dari aspek makhorijul huruf, kelancaran, dan ketepatan membaca tajwid. Kemudian, tim merevisi media sehingga hukum tajwid yang diselesaikan terlebih dahulu sesuai dengan hukum tajwid yang dialami oleh peserta didik. “Setelah pretest dan revisi, kami melaksanakan program pendampingan secara daring menggunakan Zoom Meeting. Peserta didik melihat tayangan media E-Nasyid kemudian bersama-sama tim menirukannya. Kemudian di setiap akhir pertemuan, peserta diminta membaca beberapa ayat Al-Quran sesuai hukum tajwid yang muncul,” terang mahasiswa Prodi Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Malang itu. Setelah semua materi hukum tajwid disampaikan, tim dan ustadz melakukan posttest. Tujuannya, untuk melihat apakah ada peningkatan pemahaman peserta setelah program berakhir. Kepuasan mitra juga dilihat melalui penyebaran angket. “Alhamdulillah, hasilnya memperlihatkan kalau peserta di TPQ mitra mengalami peningkatan kemampuan pemahaman materi hukum tajwid setelah program ini dilaksanakan. Respon mitra terhadap keseluruhan program juga sangat baik,” tuturnya bersemangat. Tak berhenti di situ, sebagai tindak lanjut, Safira dan tim melakukan kaderisasi kepada pengelola TPQ dan mengajak masyarakat di luar TPQ Shirotol Mustaqim untuk bergabung secara online. Tim mempublikasikan program melalui Instagram yaitu @e.nasyid20 dan akun Youtube Studi Tajwid E-Nasyid kemudian merekrut peserta didik dengan rentang usia 12 – 17 tahun serta usia anak melalui pendampingan orang tua melalui pengisian Google Form. Dimintai keterangan atas keberhasilan tim ini, Siti Khoiruli Ummah, dosen pembimbing, mengaku bersyukur dan bangga. Apalagi, kegiatan ini punya luaran lain yakni HKI dan publikasi ilmiah. Ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa. “Bersyukur dan bangga ya… Alhamdulillah program berjalan dengan lancar. Kelompok ini akhirnya juga bisa mendapatkan HKI untuk buku pedoman pelaksanaan program dan publikasi artikel ilmiah di Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Madani. Ini tentu sangat bermanfaat bagi mahasiswa. Tidak hanya pengalaman, tetapi juga produk nyata yang berkontribusi untuk portofolio mereka,” papar Ulli. Kelompok ini hakikatnya adalah tim PKM UMM pada skim PKMM yang telah lolos PKP 2. Mereka akan berlaga pada PIMNAS 33 yang digelar secara online, 24-29 November 2020. (*/can) Shared: