Mobil KaCa UMM Kembalikan Bahagia Korban Banjir Madiun

BENCANA banjir yang menimpa sejumlah wilayah di Madiun, Jawa Timur menjadi perhatian khusus Mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (14/3). Mobil berkonsep literasi ini membagi kebahagiaannya, terkhusus kepada anak-anak dengan memperkenalkan permainan tradisional juga pembelajaran bahasa Inggris untuk anak atau English for Young Learners (EYL). Beberapa wilayah yang disambangi di antaranya di Kecamatan Saradan, yakni Desa Sugihwaras dan Desa Klumutan. Sementara di Kecamatan Caruban yakni Desa Glonggong dan Warurejo. Di Klumutan, desa yang paling dekat dengan kota kecamatan ini, meski sering terdampak kala hujan, banjir kali ini menjadi yang terparah. Mobil KaCa pun menjadikannya salah satu titik disalurkannya bantuan. Tak sendiri, Tim Mobil KaCa berkolaborasi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Lembaga Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Caruban. Selain berbagi kebahagiaan melalui permainan dan pembelajaran EYL, Mobil KaCa juga memberi bantuan berupa alat tulis dan perlengkapan sekolah yang disebar ke sekolah-sekolah terdampak banjir. Kepala Humas dan Protokoler UMM Dr. Joko Susilo, S.Sos. M.Si juga turut melakukan turun lapang dengan membuat kuis sederhana. Ia melontarkan sejumlah pertanyaan sederhana seputar pelajaran sekolah dasar lantas membagikan sejumlah hadiah. Disebutnya, Mobil KaCa UMM ini selain memiliki misi mencerdaskan melalui gerakan literasi, tapi juga mengemban misi kemanusiaan. Dilanjutkan Joko, kehadiran Mobil KaCa di tengah masyarakat, sebagai wujud pengabdian UMM pada masyarakat. Utamanya penegasan tagline UMM, “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”. “Selain menebar semangat literasi, Mobil KaCa UMM juga mengemban misi kemanusiaan yang diwujudkan dengan menyambangi berbagai wilayah khusus, seperti yang kami lakukan sekarang,” katanya. Lili Wahyuningsih, Kepala SDN Warurejo Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun menghaturkan terimakasih atas bantuan yang diberikan kepada para siswa sekolahnya. “Terimakasih kepada UMM yang telah meringankan orangtua dengan berbagai bantuan, baik berupa alat tulis dan perlengkapan sekolah yang kami terima, khususnya kelas enam yang sebentar lagi beranjak SMP,” ungkapnya. (fhi/zak/can)
Stafsus Presiden di UMM: Kinerja Ekonomi Indonesia Tumbuh Positif

STAF Khusus (stafsus) Presiden RI Bidang Ekonomi Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika, berkesempatan memberikan kuliah tamu di program studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangungan (IESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (13/3). Dalam kesempatan tersebut, Erani mengajak mahasiswa UMM untuk merefleksikan ekonomi Indonesia. “Coba kita ingat baik-baik ekonomi di era orde baru, sangat sentralistik (terpusat, red). Semua keputusan diambil berdasarkan pandangan pemerintahan pusat. Hal tersebut seringkali melahirkan kebijakan ekonomi yang tidak tepat sasaran dan tidak dibutuhkan,” tuturnya. Ekonomi yang sentralistik, disebut guru besar bidang ekonomi ini pada akhirnya menemui puncaknya pada tahun 1998. Inflasi Indonesia ketika itu menyentuh angka 77,63%. Artinya, harga-harga barang di Indonesia menjadi sangat mahal, dan kenaikannya sangat pesat. Inflasi atau kenaikan harga-harga barang karena diikuti melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yakni Rp 16.000,-/dolarnya. “Harga saham anjlok, banyak perusahaan serta Bank ambruk dan akhirnya PHK terjadi di mana-mana,” jelas Erani. Pemerintah, sambungnya, melahirkan kebijakan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), yakni menyuntikkan bantuan dana ke Bank-bank untuk penstabilan ekonomi. Belasan tahun setelahnya, menurut data Bank Indonesia (BI) pada 2018, inflasi Indonesia berada di angka 3,13%. Perbaikan ekonomi telah sangat baik dilakukan. Pemerataan ekonomi juga perlahan dirasakan rakyat Indonesia. Ekonomi saat ini menurut Erani jauh lebih baik daripada sebelumnya. Adanya kebijakan pembangunan manusia hingga pengurangan kesenjangan adalah wujud konkret pembangungan Indonesia dari pinggir. “Ekonomi yang terpusat bukanlah ekonomi yang baik. Masing-masing daerah perlu diberi kewenangan untuk mengelola ekonominya sendiri,” terang pria kelahiran Ponorogo tahun 1973 ini. Pertumbuhan ekonomi Indonesia terus membaik. Hal ini dibuktikan dengan tren pertumbuhan ekonomi 2015-2018. Di tahun 2015 berada diangka 4,9% dan di tahun 2018 naik menjadi 5,17%. Artinya, kinerja ekonomi Indonesia masih tumbuh positif secara konsisten di tengah pemulihan ekonomi global. Ekonomi yang adil juga diwujudkan dalam program penyaluran Dana Desa. Dana ini, lanjutnya, tak lain untuk menunjang aktivitas ekonomi masyarakat. Antara lain jalan desa, jembatan, pasar hingga sarana olahraga. Selain itu, juga ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa seperti air bersih, Posyandu dan sumur. Tiap desa menerima 900 juta untuk mengembangkan desanya. “Inilah ekonomi yang berkeadilan dan tidak sentralistik,” tandas Erani. Sementara itu, Hendra Kusuma, SE., M.S.E, Ketua Prodi IESP UMM menambahkan bahwa mahasiswa yang mengambil disiplin ilmu ekonomi harus mampu memaknai dan menganalisis setiap perkembangan ekonomi di Indonesia dan dunia. “Tiap masa tentu berbeda, maka ketajaman analisa harus dimiliki untuk menciptakan ekonomi yang lebih baik kedepan,” tutur Hendra. (mir/can)
Malik Fadjar Ajak Mahasiswa Punya Mimpi Besar

“UMM ini dibangun oleh cita-cita besar sehingga mengajak mahasiswanya untuk bermimpi besar juga,” kata Prof. Dr. H.A. Malik Fadjar, M.Sc. saat mengisi pengajian, Kamis (14/3), di hadapan mahasiswa pascasarjana. Ia memaparkan bagaimana UMM berdiri di atas hutan bambu. Masyarakat tidak percaya bahwa tanah seperti ini dapat disulap menjadi universitas besar seperti saat ini. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia itu mengatakan,UMM sudah menjadi lahan subur bagi mahasiswanya bercita-cita dan ikut membangun bangsa. Ia menegaskan, mahasiswa Pascasarjana UMM juga harus mempunyai cita-cita. “Gantungkan cita-citamu setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang,” serunya mengutip kata-kata Bung Karno. Perkembangan zaman, disebut pria yang juga Ketua Badan Pembina Harian UMM ini, melaju begitu cepat. Sehingga kebutuhan manusianya berubah. Sambil berkelajar Malik menyebut, kebutuhan pokok manusia zaman sekarang yakni baterai smartphone penuh. Disusul ger peserta. “Sebenarnya kita tidak punya HP tidak papa, tidak punya mobil tidak papa asalkan kita memiliki cita-cita,” tegasnya. Ia mengatakan bahwa sekarang manusia Indonesia cenderung terjajah oleh teknologi. Bagaimana rakyat Indonesia hanya menjadi pasar perdagangan teknologi oleh negara maju. Juga mental rakyat Indonesia yang memaknai dirinya dengan teknologi yang dia punya. “Perkembangan zaman melaju begitu cepat, harus diimbangi dengan mental kita yang tidak mudah terlena,” lanjutnya. Ditambahkan Rektor Dr. Fauzan, M.Pd., masyarakat sekarang adalah masyarakat yang sedang sakit. Di mana mudah sekali tenggelam dalam topik yang tidak bermutu seperti gosip dan tidak mau tahu tentang topik-topik yang penting. “Kita harus perkaya literasi dan menjadi pelopor untuk menuntun masyarakat Indonesia terhadap perkembangan zaman agar tidak jauh tertinggal,” tandasnya. (usa/can)
Geser Universitas Indonesia, ILF UMM Runner Up Ajang Kompetisi Debat Nasional

Unit Kegiatan Mahasiswa English Debating Society International Language Forum (EDS ILF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyabet piala runner up di ajang English Debate Competition 2019 yang berlangsung di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) Surabaya beberapa waktu lalu (4-6/3). Dalam ajang ini terdiri dari 3 babak prelim/babak scoring dan 4 babak gugur. Di setiap babak peserta wajib mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Di akhir babak, poin yang dikumpulkan di rangking berdasarkan nilai tertinggi sampai terendah hingga didapatkan nama juara. Yakni Unair, UMM, UI, dan Poltekes. Satu tim terdiri dari 3 peserta. Adalah Erfan Kriswanto dari Prodi Kehutanan, Muhammad Ilham dari Prodi Teknik Elektro, dan Setianalimas (Prodi Pendidikan Bahasa Inggris). Sebelum ajang ini dimulai, ada beberapa persiapan yang dilakukan, mulai dari tahap seleksi internal, bimbingan, dan latihan debat secara rutin didampingi dua pelatih. Setidaknya ada 24 peserta yang ikut berlomba, termasuk juga kampus-kampus negeri seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Negeri Airlangga (Unair) dan berbagai kampus bergengsi lainnya. Ajang debat nasional ini merupakan kali kedua yang diikuti oleh UKM EDS ILF. “Baru kali ini kita berhasil menang juara dua,” ujar Erfan. Selain ajang ini, EDS ILF juga telah banyak memenangkan kompetisi serupa. Di antaranya Juara 1 YEEC STPP di tahun 2018, dan bercokol sebagai grandfinalis di NEED UMY tahun 2019. “Jadi dengan dimenangkannya lomba ini, saya berharap di ajang-ajang berikutnya dapat menyabet juara-juara kembali khususnya juara pertama,” pungkasnya. (*/can)
Kolaborasi UMM-Singapore Polytechnic Kembali Adakan Learning Express

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) dan Singapore Polytechnic (SP) kembali melakukan kolaborasi mengadakan proyek inovasi sosial, Learning Express (LeX). “LeX adalah bagian dari kerjasama kami untuk mejalin hubungan baik dengan negara tetangga. Setidaknya saat ini terdiri dari 8 negara pada 22 lokasi dan 29 partner. UMM salah satunya,” ungkap Lim Jun Cheng, koordinator dari SP. Setidaknya terdapat 56 mahasiswa yang terdiri 28 mahasiswa UMM dan 28 mahasiswa SP. Mereka terbagi kedalam 4 grup. “Masing-masing diisi oleh 7 orang dari UMM dan 7 dari SP, serta didampingi oleh 2 orang fasilitator ahli dan 1 koordinator dari SP. Juga 6 fasilitator ditambah 2 koordinator dari UMM,” ujar Ambika Putri Perdani selaku Program Officer International Relation Office (IRO) UMM, Selasa (12/3). LeX berlangsung selama 12 hari. Selama tiga hari pertama menetap di rumah penduduk yang memiliki usaha. “Tujuannya melihat situasi, proses, dan suasana tempat mereka ditempatkan. Utamanya membantu mengatasi ketidakefektifan kerja UKM di desa. Setelah tiga hari mahasiswa akan kembali ke universitas untuk pembuatan prototype di Lab Mesin dan Lab Industri,” papar Ambika. Program inovasi sosial ini sekilas serupa dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bedanya, para peserta tidak sekedar melakukan pengabdian pada umumnya. Melainkan menggunakan acuan baku untuk menyelesaikan permasalahan di mana mereka ditempatkan. “Kita mempunyai modul sebagai acuan yang dinamakan Desain Thinking dan diadaptasi dari booklet Stanford dan MiT,” ungkap Ambika. Terdapat 5 langkah yang menjadi acuan yang dimasukkan ke dalam modul yakni sense and sensibility, empathy study, define, ideation, prototyping dan co creation. ”Mereka menggunakan modul ini untuk mengidentifikasi user (klien, red.) apakah ada masalah. Mau itu di bidang marketing, bidang alat ataukah dalam bidang prosesing. Dari situ nanti bakal ada output-nya di closing ceremony,” ujar Ambika. Ada 3 Usaha Kecil dan Menengah yang menjadi tempat berkegiatan untuk program LeX. Yakni UKM Telur asin Basori yang terdapat di Kecamatan Batu, produksi Madu di Kecamatan Junrejo milik Roni, serta UKM sentra Kopi Los Karangploso milik Pandu. Hasil inovasinya bisa dikembangkan ke dalam beberapa hal, seperti dibuatkan mesin atau model pemasaran produk dengan packaging yang baru. Pada tanggal 20 Maret mendatang, tepatnya di closing ceremony para peserta akan memamerkan produk prototype-nya untuk diperlihatkan kepada para pelaku usaha kepala desa di Auditorium BAU UMM. “Semoga melalui model design thinking yang setiap tindakan yang dilakukan berpusat pada apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh user, segala permasalahan dapat ditemukan solusinya,” pungkas Ambika. (riz/can)
UMM Raih Most Popular Design di Ajang NTU Bridge Design Competition 2019

Tim jembatan ST Langgeng Jaya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih Most Popular Design pada ajang Nanyang Technological University (NTU) Bridge Design Competition 2019 di Singapura, (9-10/3) lalu. Tak hanya itu, tim yang digawangi Vicky Adjie Saputra dan Novan Surya Adityawan ini juga masuk peringkat 10 besar gelaran kompetisi jembatan bergengsi tingkat Asia Tenggara ini. Ajang internasional ini merupakan kali pertama yang diikuti oleh tim jembatan UMM. “Selama ini kita sudah mengikuti dan menjuarai berbagai ajang rancang jembatan di tingkat nasional. Sekarang saatnya kita belajar keluar untuk menancapkan bendera UMM di ajang internasional,” ujar Ir. Erwin Rommel, MT. selaku pembimbing Tim ST Langgeng Jaya yang merupakan dosen Teknik Sipil UMM ini. Jembatan diuji melalui kriteria efesiensi dan kekuatan. Penilaian ini mengacu pada tema kompetisi yakni Strength, Economic, Sustainability. ”Jadi pihak panitia memberitahukan apa yang harus dibuat, beberapa jam sebelum pertandingan. Yang dinilai dari sisi penggunaan bahan seefisien mungkin, serta mampu menahan beban uji seberat mungkin, sampai pada titik hancurnya,” paparnya. Setidaknya terdapat 38 tim yang ikut berlomba dalam ajang yang diikuti oleh berbagai Universitas di Asia Tenggara. Tak ketinggalan kampus-kampus bergengsi dalam negeri pun turut meramaikan. Seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan berbagai kampus yang kerap menjuarai ajang kompetisi jembatan tingkat nasional lainnya, termasuk Surya Team UMM. “Sebelum ajang ini dimulai ada beberapa persiapan dan kesiapan yang telah kita lakukan beberapa minggu sebelumnya. Di antaranya dengan menguji coba beberapa jenis desain jembatan, lalu kita evaluasi dan perbaiki sehingga kita mampu menemukan desain yang pas ,” lanjutnya. Terakhir, nilai kejujuran dan sportivitas dalam bertanding senantiasa ditanamkan kepada para anggota Surya Team UMM. (riz/can)
Penerjemah Juga Harus Menyesuaikan Industri 4.0

Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengundang Fuad Syaifudin Nur, penerjemah profesional buku berbahasa Arab dalam seminar “Prospek Penerjemah di Era Revolusi Industri 4.0”, Senin (11/3). Seminar Nasional ini merupakan salah satu rangkaian acara dari Alafest, yakni kompetisi bahasa arab untuk mahasiswa dan siswa SMA se Indonesia. Fuad menjelaskan pemanfaatkan teknologi untuk membantu menerjemah. Di era revolusi Industri 4.0, kata Fuad, peran penerjemah akan semakin meluas. Penerjemah bisa menerjemahkan situs di internet, menjadi rujukan membuat aplikasi penerjemah, menerjemahkan E-Book dan lainnya. “Peran penerjemah itu bisa hilang di era Industri 4.0, kalau penerjemahnya gaptek (gagap teknologi, red,)” tegas Fuad. Karena perkembangan zaman juga mengubah gaya bahasa, harus terus mengikuti perkembangan teknologi. Selain itu, lanjutnya, penerjemah yang update akan tahu apa teknologi terbaru untuk menerjemah. “Ada situs baru yang menggabungkan semua kamus Arab jadi bisa dibandingkan jadi tidak hanya mengandalkan satu kamus,” jelasnya. “Saya itu selalu ditanya, apa tidak bosan menerjemah terus? Ya tidak, karena saya mempunyai niat yang kuat,” ujar penerjemah yang menggeluti bidangnya selama 15 tahun dan banyak menerjemahkan banyak karya ini. Di sisi lain, katanya, menjadi penerjemah jika tidak disertai niat yang tidak kuat, akan mudah berganti profesi. “Karena menjadi penerjemah akan selalu dikejar deadline dan hari-harinya akan habis hanya untuk menerjemah,” ungkapnya. Sementara, Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd menyatakan bahwa penerjemah bahasa arab adalah salah satu profesi langka di kalangan orang muslim. Dengan begitu, ia berpesan, mahasiswa PBA harus memaksimalkan potensinya. “Jangan puas dengan apa yang kalian miliki sekarang, Jangan jadi manusia minimize yang sudah merasa aman dengan sesuatu yang kecil. Jadilah manusia maximize yang selalu berusaha menjadi sesuatu yang besar,” tandasnya. (usa/can)
Maharesigana UMM Siap Lakukan Pendampingan Pengurangan Risiko Bencana

Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti Training of Facilitator (TOF) yang diselenggarakan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). TOF diselenggarakan selama tiga hari di kediaman Rosi Hendrawan, Ketua MDMC Kabupaten Malang (7-9/3). Agenda ini dihadiri Wahyu Heniwati dari Divisi Pengurangan Risiko Bencana dan Kesiapsiagaan Pimpinan Pusat MDMC (PP-MDMC) sebagai pemateri, dan 10 pengurus Maharesigana sebagai peserta. Peserta TOF mendapatkan materi bagaimana melakukan pendampingan Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Di antaranya melakukan asesmen atau penggalian data berbagai jenis ancaman (hazard) yang ada di suatu wilayah, melakukan pemetaan wilayah, melakukan analisis pemeringkatan ancaman menggunakan pendekatan multi ancaman, memahami karakter suatu ancaman, serta penilaian resiko bencana. Ada beberapa hal yang harus dilakukan saat pendampingan PRB. “Jika hal itu semua telah selesai dilakukan, selanjutnya adalah membuat rencana aksi,” jelas Wahyu Heniwati. Selanjutnya, peserta TOF diberi kesempatan untuk mempraktekan ilmu yang sudah didapatkan dengan menggunakan perangkat yang tersedia. Dalam praktiknya, seluruh peserta pelatihan diminta untuk mengkaji ancaman di suatu wilayah hingga menentukan rencana aksi yang harus dilakukan. Peserta dibagi menjadi tiga tim, yaitu tim PRB di sekolah, tim PRB di desa, dan tim PRB di wilayah khusus seperti wilayah pantai dan hilir atau hulu sungai. “Maharesigana diharapkan siap dalam memberikan pendampingan PRB baik pada Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) atau pun pada Masyarakat Tangguh Bencana (Mastana),” jelas Pendiri Yayasan Daya Anisa tersebut. Rosi Hendrawan menjelaskan, Indonesia sebagai wilayah yang terkenal dengan banyaknya gunung api atau biasa disebut wilayah ring of fire. Selain itu, Indonesia adalah wilayah bertemunya lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik sehingga Indonesia menjadi salah satu wilayah yang memiliki potensi bencana cukup tinggi. “Oleh karena itu, pentingnya melakukan PRB sejak dini di berbagai wilayah. Maharesigana menjadi salah satu penggerak mitigasi bencana diberbagai sektor atau wilayah. Saya sangat salut dengan semangat belajar yang para peserta miliki,” jelasnya. Indra Fery selaku Ketua Maharesigana menjelaskan bahwa setiap relawan dapat berkontribusi dalam dunia kebencanaan. Tidak hanya dilakukan dengan respon saat terjadinya bencana, namun juga dapat dilakukan saat sebelum terjadinya bencana dengan cara melakukan pengurangan risiko bencana dan kesiapsiagaan bencana. “Trining of Facilitator adalah salah satu cara untuk meningkatkan kapasitas relawan dalam melakukan mitigasi atau pencegahan bencana,” pungkas mahasiswa Magister Agribisnis UMM ini. (*/can)
Selalu Ada Kepentingan Ekonomi Politik di Balik Konflik

PENELITI Senior dari Resilience Development Initiative Dr. Nino Viartasiwi, menyebut perang dan konflikyang terjadi dewasa ini selalu diciptakan. Dikatakan Doktor Hubungan Internasional dari Ritsumeikan University Kyoto Jepang itu, praktik ini tujuannya adalah melanggengkan kepentingan banyak aktor, baik perusahaan multinasional, industri militer, negara-negara, hingga elit-elit politik. Dalam kuliah tamu program studi Ilmu Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertajuk “Konflik Internasional dan Kepentingan Ekonomi Politik”, Sabtu (9/3), Nino mengupas tentang agenda dan kepentingan tersembunyi berbagai aktor di balik terjadinya konflik internasional. Menurutnya, elit-elit predator itulah yang paling banyak diuntungkan dalam situasi konflik. Nino mencontohkan tentang bagaimana Papua menjadi arena perebutan kepentingan banyak pihak. “Narasi mainstream yang selama ini dibangun tentang Papua adalah isu separatisme. Tapi, sebenarnya di balik isu separatis itu, ada banyak masalah sosial yang lebih besar yang justru menjadikan elit-elit predator mendapatkan keuntungan,” pungkas Director of Research Pilar Data Indonesia Research and Consulting itu. Karena itu, pihaknya menegaskan bahwa memandang Papua tidak bisa dari narasi dan kacamata separatis. Sebab hal itu akan menjadikan masalah yang jauh lebih penting dan jauh lebih besar justru terabaikan. “Separatisme memang ada dan penting, tapi masalah sosial yang ada jauh lebih kompleks yang apabila dilihat lebih mendalam, menjadikan isu separatis itu sebenarnya kecil. Karena itu, kita harus melihat isu Papua, beyond (keluar) dari isu separatis,” tambahnya. Lebih lanjut, Nino menegaskan pentingnya pandangan dan narasi tentang Papua harus diubah. Selama ini, di masa Orde Baru, pendekatan yang dilakukan bersifat militeristik dan itu tidak bisa menyelesaikan persoalan. Sejak masa reformasi, pendekatan terhadap Papua mulai berubah. Dimulai dari diubahnya nama Irian Jaya menjadi Papua dan diberlakukannya otonomi khusus. “Irian itu adalah nama yang paling dibenci oleh mereka. Dan, nama Papua itulah yang paling diinginkan oleh mereka,” katanya. Namun demikian, tambahnya, persoalan Papua harus terus dikawal dan aktor yang dipandang paling mampu untuk membangun narasi itu adalah civil society atau masyarakat madani. (*/can)
Komunikasi UMM Rancang Festival Film Anak Internasional Pertama di Malang

Diprediksi, anak-anak di masa depan akan lebih awam dengan literasi audio visual atau merujuk kepada penggunaan komponen suara dan gambar. “Kalau sekarang, kan literasi masih baca tulis. Kalau nanti, ya audio visual. Kalau anak tidak bisa audio visual sama saja tidak bisa menulis,” jelas Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos, M.Si. dosen program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sehingga, disebut kepala Laboratorium Ilmu Komunikasi UMM ini, Sabtu (09/03), anak-anak perlu disuguhi media pembelajaran yang sesuai dengan kondisinya. Jangan sampai, sambung Novin, media sosial mengikis kreativitas anak-anak dengan sajian tidak bermutu. “Anak-anak sekarang punya potensi besar, namun perlu wadah untuk membimbing mereka. Melalui festival film salah satunya,” kata Novin. Novin mengatakan bahwa ia berencana menggelar festival film anak Internasional tahun depan di Malang. Berkaca dari Social Change Film Festival, di New Orleans, Lousiana yang sempat ia sambangi saat berkunjung ke Amerika. Menurutnya, festival film anak yang berkelanjutan perlu diadakan di Malang untuk mengangkat lokalitas Malang agar anak-anak Malang tidak lupa budaya tanah kelahirannya. Tidak sekedar impian, pasalnya Novin juga sudah mempunyai beberapa relasi Internasional untuk membantu mewujudkannya. Salah satunya dengan penyelenggara Chicago Film Festival. Ia mengatakan bahwa festival film anak ini akan digelar tahun depan. Untuk tahun ini Ia masih fokus mencari pendanaan agar perhelatan benar terwujud. Sementara Pesta Film Anak diselenggarakan Juli 2019 mendatang. Novin mengatakan, Pesta Film Anak tahun keempat diselenggarakan ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kerena pemutaran film tidak digelar di UMM. Melainkan di sebuah perkampungan. “Nanti yang akan menilai film mahasiswa dosen dan masyarakat. Sebagai bentuk apresiasi bagi para sineas. Sudah kita siapkan 18 penghargaan untuk film-film yang diproduksi mahasiswa,” tandasnya. Untuk mengetahui respon masyarakat terhadap film bertema anak-anak, Prodi Ilmu Komunikasi UMM juga menggelar nonton bareng bioskop keliling ’Bioling’ UMM di sejumlah titik. Misalnya di lapangan Bola Voly Perumahan Permata Regency, Karangploso, Malang (6/3) lalu. Acara ini berhasil menyedot antusiasme penonton. Sekitar 300an penonton hadir, mulai dari anak-anak, remaja dan juga orang tua. Anang Fachrudin Rahman (23) selaku perwakilan Karang Taruna mengaku senang nobar bisa terselenggara di tempatnya. Ia menyebut masyarakat butuh tontonan bernilai edukasi. Film yang diputar di antaranya yaitu berjudul Slirit, Kim Soo Ri, Darah Biru Arema, Asa Angkasa, Superheru, dan lain sebagainya. Para penonton juga dihibur dengan pembagian doorprize di sela acara pemutaran film. (*/can)