Targetkan Juara Asia, Mekatronic UMM Siap Taklukkan Sirkuit Sepang Malaysia

Untuk kesekian kalinya, Mekatronic Team Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berlaga di kontes internasional Shell Eco-Marathon Asia (SEM Asia) 2019 yang digelar di Malaysia April mendatang. Diadakan di Sirkuit Internasional Sepang, Kuala Lumpur, ajang bergengsi ini bakal diikuti 28 mobil dari 22 universitas di Indonesia. Pada ajang kali ini Mekatronic UMM yang bersaing di ketegori kendaraan Urban Electric mengandalkan mesin BLDC Motor 400 Watt dengan tempurung berbahan carbon fiber dan sasis aluminum. Sementara ban pelek berukuran 17 inchi serta roda dasar berukuran 1250 milimeter. Keseluruhan bobot mobil yakni 80 kilogram. Sebelum mengikuti ajang ini, UMM melalui Genetro Suryo U.E.V 6 berhasil menyabet juara satu pada Kompetisi Mobil Hemat Energi (KMHE) 2018 dalam Kategori Urban Listrik. “Perolehan kami berada pada nilai 335,09 KM/KWH yang memecahkan rekor Asia dan dunia,” jelas Pembina Mekatronic, Drs. Mohammad Jufri, ST., MT. Raihan membanggakan sebelumnya ini, lanjut Jufri, tentu harus dikembangkan dan dilanjutkan untuk diwujudkan menjadi juara di setiap bidang dan level kejuaraan. Berkaca dari perjuangan Mekatronic Team untuk mengonsep dan merakit, Jufri sangat optimis mahasiswa dampingannya akan raihan gemilang. Selain diikuti universitas di Indonesia, kompetisi juga diikuti 100 tim dari seluruh penjuru kawasan Asia dan Timur Tengah. Pada gelaran ke-10 di tingkat Asia ini, SEM Asia akan menjadi wadah terbesar untuk membuktikan diri sebagai perancang kendaraan yang dapat menempuh jarak jauh dengan energi paling sedikit. Berangkat dengan 8 orang lengkap beserta drive train, Dr. Fauzan, M.Pd, Rektor UMM menekankan tim ini untuk optimis. “Berani berangkat, berani juara,” tuturnya. Fauzan juga mengingatkan agar para delegasi mohon doa kepada kedua orangtua. “Sepertinya itu hal yang sepele, tetapi itulah kekuatan yang sebenarnya,” ungkapnya. Saat ditanya tentang keberlanjutan mobil hemat energi, Fauzan menerangkan UMM memiliki skema program gelar produk akademik. “Di sanalah produk-produk akademik dosen dan mahasiswa akan ditawarkan ke perusahaan dan industri. Gelar produk akademik akan diselenggarakan April mendatang,” pungkasnya. (mir/can)

Puluhan Tim Bersaing Perebutkan Gelar di FISIOKER UMM

SEBANYAK 32 Tim dari sejumlah perguruan tinggi seluruh Indonesia saling memperebutkan gelar juara di olimpiade nasional Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM); FISIOKER. Digelar di Auditorium BAU, Jumat (22/3) Menurut ketua pelaksana Muhammad Shohibul Ridho, Olimpiade Nasional Fisioker kali ini mendapat antusias yang cukup banyak. Hal ini dibuktikan dengan bertambahnya jumlah peserta yang turut meramaikan olimpiade pada tahun ini. “Alhamdulillah, jumlah peserta pada Olimpiade Nasional FISIOKER tahun ini meningkat, dari jumlah perguruan tinggi yang ikut tahun lalu yakni 11 perguruan tinggi. Sekarang menjadi 15 perguruan tinggi,” ungkapnya. Olimpiade nasional Fisioterapi tahunan kali ini mengusung tema “PESONA FISIOTERAPI”, PESONA sendiri merupakan singkatan dari 3 kategori lomba yang diperlombakan, yakni Pediatri, Sport, dan Neuromuscular. Dewan juri yang hadir dalam kompetisi ini diantaranya Amin Rochmat Hidayat, Sst.Ft. Dan Khabib abdullah, Sst.Ft, M.Kes dari Perhimpunan Fisioterapi Anak Indonesia (PFAI) untuk kategori lomba Pediatri. Untuk Sport dijuri oleh Syahmirza Indra Lesmana, SKM., Sst.Ft., M.Or. Dan Muhammad Said Abdullah, AMF dari Perhimpunan Fisioterapi Olahraga Indonesia (PFOI). Untuk kategori Neuromuscular ada Safun Rahmanto, Sst.Ft., M.Fis dan Ali Multazam, S.Ft, Physio, M.Sc dari Dosen Fisioterapi UMM. “Saya rasa kalau untuk persaingan olimpiade kali ini cukup ketat, karena melihat perolehan nilai dari masing-masing tim perbedaannya sangat tipis,” ungkap Amos Bagus mahasiswa Politeknik Kesehatan Surakarta yang meraih juara umum. Selain Olimpiade, acara ini juga menggelar Seminar dan Workshop Nasional yang menghadirkan beberapa pembicara ahli. Seperti Syahmirza Indra Lesmana, SKM., Sst.Ft., M.Or. (Perhimpunan Fisioterapis Anak Indonesia), Dr. Krisna Yuarno Phatama (Dokter Spesialis Orthopedi dan Anggota ASEAN Society for Sport Med & Arthoscopy), serta Wahyuddin, Sst.Ft.,M.Sc., Ph.D (Fisioterapis S3 Pertama di Indonesia). (*)

UMM dan 7 Universitas Dunia Godok Kompetensi Modern Dosen

Sebagai bentuk penguatan rekognisi internasional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melebarkan sayapnya di dunia internasional dengan turut serta menggodok kompetensi modern dosen dengan sejumlah perguruan tinggi dunia. Dari delapan universitas yang terlibat, UMM menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia bahkan Asia dalam Modern Competences of Academic Teachers (MOCAT) Project. “MOCAT Project merupakan kerja sama internasional dari universitas di sejumlah negara untuk bersama-sama mengembangkan solusi berkelanjutan yang meningkatkan kualitas pendidikan di universitas. Proyek ini dijalankan melalui pengembangan metode modern, alat dan bahan untuk staf akademik di bidang metodologi pengajaran,” terang Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. ditemui di ruangannya, Jumat (22/3). Tujuh universitas yang terlibat dalam gawe program kemitraan akademik internasional ini yakni WBS University dari Polandia, Kütahya Dumlupınar Üniversity dari Turki, Kenyatta University dari Kenya, SpluHaret university dari Romania, University of Georgia dari Georgia, University of Akureyri dari Islandia, dan University of Salerno dari Italia. Sementara project manager dari proyek ini yakni Lucyna Sobkowiak dari WBS University. Dilanjutkan Syamsul, tujuan proyek ini tak lain melakukan pengembangan pengetahuan dan berbagi pengalaman di antara 8 universitas mitra, serta pengembangan dan implementasi model kompetensi dosen. Termasuk materi pelatihan untuk 10 modul online dan campuran, yang penggunaannya akan mendorong kompetensi metodologi, pengajaran, dan multikultural dari staf pengajar universitas. Keberangkatan Syamsul ke Universitas of Salerno (UNISA) di Italia beberapa waktu lalu, tak lain untuk merumuskan bersama solusi berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di universitas. “Secara berkala, tim perumusan dari UMM akan bertandang ke universitas mitra yang dipergilirkan sebagai tuan rumah perumusan berbagai perangkat yang dibutuhkan untuk menjalankan proyek ini,” katanya. Keberangkatan tim UMM di antaranya menyiapkan model kompetensi multikultural guru akademik; pengembangan lingkup pengajaran yang terperinci dan kompetensi multikultural dari seorang guru akademis, serta hasil pengajaran, cakupan materi pelajaran dan kerangka kerja metodologi – modul online dan campuran; mempersiapan konten pelatihan; dan diakhiri dengan konferensi dan workshop internasional. (usa/mir/can)

#AussieBanget Corner UMM-Konjen Australia, Bandingkan Festival Film Indonesia dan Australia

#AussieBanget Corner Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama tim Konsulat Jenderal (Konjen) Australia menggelar Australian Film Night, Rabu (20/3). Gelaran ini sekaligus roadshow Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2019 yang akan diselenggerakan tanggal 29-31 Maret di CGV Marvell City, Surabaya. Lailatul Rifah, M.Pd. selaku kordinator #AussieBanget Corner UMM berharap dengan kegiatan ini menjadi awal kerjasama dengan Australia untuk mengembangakan perfilman. “Sehingga teman-teman dapat meningkatkan kesadaran untuk lebih mengapresiasi film produksi Australia maupun produksi negara kita sendiri,” katanya. Hadir Mahesa Sadega, sutradara film Nunggu Teka yang juga pengajar audiovisual dan multimedia ini sebagai pembicara. Festival di Indonesia, katanya, dengan di Australia sangat berbeda. Dijelaskan, Indonesia masih kurang kesadaran untuk menonton film festival. Dilihat dari film festival yang hanya menjadi konsumsi komunitas film saja. Di Australia, sambung Mahesa, masyarakat sudah siap untuk mengakses film pada bulan festival. Publik di sana sudah akrab dengan film festival yang notabane bukan film populer yang biasa tayang di bioskop. “Publik sudah siap untuk hadir menonton film yang mempunyai bentuk dan konten berbeda dari film bioskop,” terangnya. “Kalau kita lihat di Indonesia, yang datang ke festival hanya anak muda saja. Ketika saya di Australia apalagi sedang menonton film festival produksi Australia, kakek-nenek bisa kita jumpai mengantri tiket festival. Mereka sangat mengapresiasi film produksi negaranya sendiri,” cerita Sineas yang filmnya banyak ikut festival luar negeri ini. Mahesa berharap, kedepannya di Indonesia semakin banyak lagi layar pemutaran alternatif (ruang pemutaran selain bioskop, red.) untuk mengapresiasi film produksi Indonesia. “Setelah itu, kita perlu mendorong publik untuk menjadi bagian dari festival kita. Jadi sudah tidak lagi komunitas saja yang mengapresiasi,” tambahnya. (bel/can)

Marching Band UMM Juara Kompetisi Nasional

Marching Band Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampil memukau dalam perhelatan kompetisi Delta Marching Open Festival Indonesia (DEMOFI) 16-17 Maret lalu. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang baru berdiri dua tahun ini, memborong banyak juara di berbagai mata lomba yang digelar di Gor Deltras Sidoarjo. Beberapa gelar yang diperoleh di antaranya Juara 2 Brass Ensemble, Juara 2 Colour Guard Contest, Juara 2 Individual Movement Analisys, Juara 2 General Effect, Juara 2 Ensemble Analisys, serta Juara 2 Analisys Equipment. Tim Marching Band UMM menggeser dominasi pemenang ajang tahunan tingkat Nasional ini. “Latihan kami cukup singkat, yakni dua bulan. Sejak Januari,” ungkap Trisna Harry salah satu pemain Brass. Dalam kurun waktu itu, UKM Marching Band ini disiplin di setiap sesi latihan. Trisna lantas membagi cerita perjalanan Marching Band UMM sebelum menyabet juara di lomba yang diikuti peserta seluruh Indonesia. Tantangan terbesar Trisna dan kawan-kawan ialah kepemilikan alat. Selama ini alat yang digunakan untuk latihan hingga perlombaan merupakan barang sewaan. “Kami masih sangat baru. Ketika kami mengajukan pengadaan alat, kami diminta untuk berprestasi terlebih dahulu oleh kampus,” tutur mahasiswa Manajemen ini. Bagi Trisna sendiri, tantangan ini tentunya dirasa sangat sulit bagi mantan Ketua Umum pertama UKM ini. Karena Marching Band harus terus berlatih, terlebih sebelum lomba. Namun ketersediaan alat terbatas. Namun, tantangan kampus kepada Trisna dan kawan-kawannya mampu dijawab dengan prestasi gemilang. Pada saat lomba, Juri terpukau dengan harmoni Brass dan gerakan Colour Guard atau penjaga bendera yang dimainkan oleh UKM Marching Band UMM. “Saat di lokasi, kami digadang-gadang akan menjadi salah satu Marching Band besar mendatang, tentu hal ini terus memotivasi kami,” ungkap mahasiswa angkatan 2014 ini. Trisna melanjutkan, tidak ada hal yang tidak bisa diraih. Meski alasannya berupa terbatasan peralatan sekalipun. Ia juga berharap agar UKM Marching Band dapat terus berprestasi dan tentunya mengaharumkan nama UMM di setiap kompetisi. “Semua bisa, asalkan ada niatan besar dan mau bergerak,” tandasnya. (mir/can)

LeX UMM Gelar Pameran Inovatif: Dari Alat Petik Kopi sampai Mesin Cuci Telur

Setelah hampir dua minggu mentabulasi banyak masalah dari sejumlah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Malang dan Batu, kelompok gabungan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan siswa Singapore Polytechnic memamerkan sejumlah prototype inovatifnya. Berbagai prototype ini dipamerkan dalam penutupan program Learning Express (LeX) di Auditorium UMM, Rabu (20/3). Untuk dapat membuat prototype yang efisien, mereka harus melakukan survey primer ke lokasi dan ikut serta berbaur dengan masyarakat. Bahkan mereka menghabiskan waktu 3 hari 2 malam untuk memperdalam riset yang mereka lakukan. Beberapa prototype yang dipamerkan pada acara ini di antaranya mesin pencuci telur asin, alat pemetik biji kopi serta prototype inovatif lainnya. Misalnya mesin pencuci telur yang dinilai efisien dari segi waktu. “Dengan menggunakan alat ini, estimasi waktu yang bisa dihemat mencapai 3 kali lipat. Biasanya proses pencucian satu telur asin memakan waktu 1 menit lebih. Namun  dengan menggunakan alat ini dapat mencuci 16 telur asin dalam waktu sekitar 5 menit saja,” ungkap Fitria A. Linna mahasiswa Prodi Hubungan Internasional. Ada pula alat yang dapat mempermudah petani memanen biji kopi. Menurut Ai Wei salah satu siswa Singapore Polytechnic, dengan menggunakan alat buatannya ini diharapkan menjadi solusi dari keluhan yang dialami oleh para petani kopi. Dengan alat ini, setidaknya dapat meringankan beban para petani kopi. Selain itu dengan alat ini pula dapat membantu menyingkat waktu untuk memanen biji kopi. Menurut Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, kerjasama ini akan sangat penting untuk ikatan kedua negara serumpun ini. “Dengan pemahaman yang lebih dalam, kita dapat membangun menuju visi ASEAN. Saya yakin, program yang sudah berjalan selama hampir dua minggu ini akan menjadi pengalaman belajar yang luar biasa, baik untuk mahasiswa UMM maupun untuk siswa SP,” tuturnya. Sementara menurut Master Fasilitator Singapore Politechnic  Vadav Virendra Signh, meskipun di awal program ini siswa SP banyak yang mengalami gegar budaya, namun hal tersebut dapat teratasi dengan cepat berkat bantuan juga keramahan mahasiswa UMM dan warga setempat. “Sehingga semakin berjalannya waktu mereka menjadi jauh lebih nyaman saat mengikuti program ini,” ungkapnya. ”Saya sempat khawatir kalau siswa SP tidak dapat bersosialisasi dengan baik. Akan tetapi ketakutan itu tidak pernah terjadi. Itu benar-benar merefleksikan kerjasama ASEAN. Saya memegang keyakinan dan harapan besar pada genersasi masa depan, kerjasama UMM dan Singapore Polytechnic yang telah terjalin lama ini membuat wilayah ASEAN menjadi lebih baik dari hari ini,” pungkasnya. Program inovasi sosial ini sekilas serupa dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bedanya, para peserta tidak sekedar melakukan pengabdian pada umumnya. “Kita mempunyai modul sebagai acuan yang dinamakan Desain Thinking dan diadaptasi dari booklet Stanford dan MiT,” ungkap Ambika Putri Perdani selaku Program Officer International Relation Office (IRO) UMM. Terdapat 5 langkah yang menjadi acuan yang dimasukkan ke dalam modul yakni sense and sensibility, empathy study, define, ideation, prototyping dan co creation. ”Mereka menggunakan modul ini untuk mengidentifikasi user (klien, red.) apakah ada masalah. Baik itu di bidang marketing, bidang alat ataukah dalam bidang prossesing. Semuanya dipamerkan di kegiatan penutupan ini,” ujar Ambika. (zak/can)

Mahasiswa UMM Raih Best Paper Ajang Karya Tulis di Hokkaido Jepang

Tim karya tulis mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih Best Paper di ajang Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting 16th di Hokkaido University, Jepang (16-17/3). Kompetisi karya tulis ilmiah yang diadakan Indonesian Student Association in Hokkaido (PPI-H) ini mengusung isu “Integrated Science for Improving Disaster Risk Management in Indonesia”. Ajang Internasional bagi mahasiswa Indonesia ini diikuti 420 penulis dan 150 paper. Diikuti kampus dari Indonesia lainnya, seperti UGM, ITB, dan UI. UMM menjadi satu-satunya perwakilan kampus swasta. Pada tahap seleksi, tim UMM lolos sebagai 41 paper terbaik. Peserta dibagi ke dalam 4 klaster. Masing-masing klaster hanya diambil 2 kategori yakni kategori Best Paper dan Best Presenter. Tim UMM mengambil klaster Agrikultur dan Ketahanan Pangan. Adalah Moh. Baihaki dan Siti Agus Tina dari prodi Agroteknologi, serta Intar Yuan Anindita dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris yang mengangkat judul “Potensi Natural Fitohormon sebagai Zat Perangsang Tumbuh Alami pada Tumbuhan”. “UMM menjadi Best Paper. Sementara ITB menjadi Best Presenter,” ujar Intar selaku penyaji paper. Dijelaskan Intar, Indonesia memliki kekayaan sumber daya alam yang baik. Namun ketika terjadi bencana, hal ini akan sangat merugikan sebagian besar penduduk yang berprofesi sebagai petani. Lahan rusak dan para petani akan kehilangan mata pencahariannya. “Rangsangan fitohormon alami yang diberikan kepada tanaman buah naga membantu mengantisipasi efek buruk jangka panjang,” ungkapnya. “Kami mengambil sampel buah naga karena bisa ditanam di lahan berpasir, berkerikil, tanah biasa hingga berbatu. Hal ini cocok dengan lahan yang habis terkena bencana. Ditambah lagi, buah naga mengandung banyak sekali gizi. Sangat cocok apalagi dengan tambahan fitohormon alami, percepatan tumbuh tanaman semakin baik,” ujar mahasiswa angkatan 2015 ini. Setidaknya terdapat 2 jenis fitohormon. Yakni fitohormon sintetis dan alami. Fitohormon alami, kata Intar, jauh lebih aman karena bahan utamanya organik dan cocok dengan tumbuhan. Sedangkan fitohormon sintesis lebih membahayakan karena mengunakan bahan-bahan kimia dari pabrik dan memiliki dampak buruk ke depan. Penggunaan fitohormon alami membantu petani siap menghadapi segala kemungkinan. “Awalnya kami sempat pesimis. Soalnya dari tahun lalu yang ikut perguruan tinggi negeri hebat semua. Tapi kami selalu dimotivasi oleh dosen-dosen, jangan pesimis dan memandang perguruan tinggi lain lebih hebat dari kita. Karena semuanya setara. Alhamdulillah, dengan modal usaha yang maksimal dan mengorbankan waktu libur, kami bisa mendapatkan gelar membanggakan ini,“ pungkasnya. (bel/riz/can)

CEO IndosatM2 Beri Kuliah Literasi Digital ke Mahasiswa UMM

President Director dan CEO IndosatM2 Hari Sukmono memberi kuliah tamu di Theater Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (18/3) pagi. Kehadiran pimpinan perusahaan internet dan multimedia ini sebagai tindak lanjut kerjasama UMM dan IndosatM2 beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan ini, Hari memberi kuliah seputar literasi digital kepada mahasiswa Teknik Informatika Fakultas Teknik UMM. Disebut Hari, literasi digital harus dicanangkan karena sebagain besar pengguna internet di Indonesia masih buta huruf secara digital untuk mendapatkan potensi penuh dari Internet. “Kemajuan teknologi yang cepat perlu diimbangi oleh kecerdasan pengguna; pengguna harus memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi keandalan sumber online dan memerangi berita palsu, tipuan, dan diskriminasi online,” katanya. Internet, sambung Hari, telah mengubah dunia yang manusia tempati saat ini, termasuk mengubah cara kita bekerja. Lebih jauh lagi, literasi digital sangat penting untuk pekerjaan di masa depan. “Tak kalah penting, dalam literasi digital, pengguna internet perlu memahami pentingnya melindungi informasi pribadi dan detail pribadi agar tidak disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab,” ungkap Hari. Literasi digital terdiri dari tiga aktivitas. Yakni menemukan, mengevaluasi dan mengonsumsi konten digital; membuat konten digital; serta berkomunikasi atau membagikannya. Atau dalam pengertian lain yakni kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk menemukan, mengevaluasi, membuat, dan mengkomunikasikan yang membutuhkan keterampilan kognitif dan teknis. Belum juga usai Industry 4.0, dunia mulai dihadapkan dengan Industry 5.0 atau era masyarakat cerdas (smart society). Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan juga harus masuk dan mulai melakukan penyesuaian ke era ini. Demikian Smart University tidak hanya menunjang proses belajar-mengajar, tapi juga mendukung decision support system (DSS) yang membantu seorang pimpinan membuat keputusan. “Karena semakin luas rentang kendali para pimpinan, tentu dibutuhkan waktu dan pengambilan keputusan yang sangat cepat. Sehingga sistem ini akan sangat membantu dan perkembangan dunia di luar kampus juga teramat cepat, sehingga kita juga harus melakukan penyesuaian,” kata Dr. Ahmad Mubin, ST., MT. Dekan Fakultas Teknik saat sambutan pembuka acara bertema “Startup Milenial Berkemajuan” ini. Kerjasama sendiri meliputi dukungan penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan vokasi dengan menyediakan tenaga pengajar; pembangunan dan peningkatan infrastruktur jaringan ICT; penyusunan kurikulum pendidikan vokasi; penyiapan tempat praktik kerja lapangan/pemagangan; penyediaan supervisor dan tugas akhir, penyediaan laboratorium; serta pengembangan IPTEK dan Sains. (can)

UMM Teken Kerjasama Pendirian Dua Sekolah Vokasi Sekaligus

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melakukan kerjasama dengan sejumlah lembaga. Kali ini kerjasama dilakukan dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama dan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Sabtu (16/3). Kerjasama ini membahas jaminan produk halal, pengembangan kelembagaan serta, sekolah vokasi. Kerjasama ditandatangani langsung Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd dan Prof. Dr. Ir. Sukoso, M.Sc., PhD, Kepala BPJPH serta Adhi S. Lukman, ketua Umum GAPMMI. Acara ini sekaligus diadakan seminar nasional. “Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2019, jumlah penduduk Indonesia yakni 264 juta jiwa. Sementara 222 juta di antaranya adalah muslim. Hal ini menunjukkan kebutuhan pangan dan bahan konsumsi halal di Indonesia juga harus berbanding lurus dengan jumlah angka penduduk muslim tersebut,” terang Sukoso. Terkait kerjasama pendirian sekolah vokasi, kehadiran Kepala BPJH untuk mewujudkan didirikannya program studi Asian Halal Culinary. Sementara kerjasama antara UMM dan GAPMI juga dalam rangka pendirian program studi Baking and Pastry. Beberapa sekolah vokasi lainnya akan segera menyusul. Selain kedua acara ini, sehari sebelumnya (15/3) juga digelar Food Quiz Bowl yakni lomba cerdas-cermat berbahasa Inggris mengenai teknologi pangan. Kompetisi yang diselenggarakan dua tahunan ini diikuti oleh berbagai universitas di Indonesia, seperti IPB, ITB, serta universitas terkemuka lainnya. Nantinya pemenang dari Food Quiz Bowl ini akan dikirimkan ke tingkat ASEAN mewakili Indonesia yang kebetulan akan diselenggarakan sekitar akhir tahun 2019 di Bali, Indonesia. Menurut koordinator acara Dr. Ir. Damat, MP, Food Quiz Bowl ke 5 yang diselenggarakan di UMM ini berjalan cukup baik dan lancar. Acara ini juga dihadiri Ketua Umum PATPI yakni Prof. Dr. Ir. Umar Santoso, M.Sc yang sekaligus menjadi salah satu juri lomba. “Saya berharap, siapapun pemenangnya nanti dapat membawa nama baik Indonesia di tingkat ASEAN, serta memperkenalkan panganan halal Indonesia ke tingkat global,” tuturnya. (zak/can)

Dosen UMM Pecahkan Rekor MURI Pemilik HKI Terbanyak Se-Indonesia

Civitas academika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) patut berbangga. Pasalnya salah satu guru besarnya, Prof. Dr. Ishomuddin, M.Si., memperoleh penghargaan bergengsi dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai pemilik Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak se-Indonesia, yakni 100 HKI. Ia mencatatkan rekornya jauh melampaui perolehan MURI dengan kategori serupa yang hanya 35 HKI. Sebenarnya, pria yang pernah juga dinobatkan sebagai dosen berprestasi pada tahun 2017 lalu ini memiliki 120 daftar HKI. Namun ia memilih untuk membulatkannya menjadi 100 saat mendaftarkan perolehannya. “Buah pemikiran-pemikiran itu mesti disebarkan agar kebermanfaatannya meluas. Rekor ini saya persembahkan sepenuhnya untuk Universitas Muhammadiyah Malang,” ungkapnya. Buku dan jurnal menurutnya bukan satunya-satunya hal yang harus selalu dibanggakan. Seorang pendidik mesti lebih bisa berbuat dari yang biasa-biasa saja. Saat ditanya tentang prosesnya menghasilkan banyak HKI, Ishomuddin menceritakan kegiatan rutinnya. “Sejak selesai asar hingga pukul dua belas malam, saya di depan laptop sembari membaca dan mendalami berbagai hal,” ungkapnya. Kesungguhan tersebutlah yang mengantarnya ke pintu kesuksesan. Bagi Ishomuddin, hal-hal yang ia lakukan adalah kebiasaan semata. Selain itu, sabar dalam berproses yang tidak singkat menjadi kunci. Baginya, pendidik bukan hanya mengajar, namun lebih dari itu. “Membekali diri dengan membaca dan meneliti adalah keharusan bagi saya, supaya ketika menyampaikan ilmu itu benar-benar objektif,” tuturnya. Menurut Ishomuddin, ketika memilih profesi di bidang pendidikan untuk digeluti, dinilainya perlu dibarengi sikap serius dan fokus. Hal inilah yang akan membawa keberkahan karena menjalankan dengan ikhlas setiap tugas. Maka, materi akan mengikuti di belakang kesungguhan. “Sukses itu bukan karena pinter saja, rutinitas yang baiklah yang menentukan. Tinggal mau menjalankan atau tidak,” tegasnya. Ishomuddin berprinsip, bahwa rezeki dan ilmu adalah kesatuan yang begitu erat. Ilmu akan memuliakan siapapun yang mendapatkannya. Yakni kemuliaan hidup, kemuliaan sosial dan kemuliaan dalam kebermanfaatan bagi sesama. Rezeki, berupa kelimpahan materi akan mengikuti setelah ilmu didapatkan. “Pendidik harus terus berkarya dan bermanfaat,” tandas dosen yang mendalami sosiologi masyarakat Islam ini. (mir/can)