Dosen Peternakan UMM Buat Krim Anti Mastitis untuk Ternak Sapi Perah

BADAN Penelitian dan Pengembangan Pertanian menyebut penyakit radang ambing atau yang dikenal sebagai Mastitis merupakan masalah utama dalam peternakan sapi perah. Penyakit ini menyebabkan kerugian ekonomi mencapai Rp.10 juta/ekor/tahun akibat penurunan produksi susu, penurunan kualitas susu, biaya perawatan dan pengobatan yang mahal serta pengafkiran dini sapi produktif. Berangkat dari hal ini, dosen Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S. melakukan penelitian tentang kasus Mastitis. “Kondisi di peternakan sapi perah yang paling merugikan adalah terjadinya radang kelenjar susu,” jelas Lili. Sementara terdapat dua jenis Mastitis yakni gejala klinis yang jelas (Mastitis Klinis) dan yang gejala tidak nampak (Subklinis). Lili menyebutkan bahwa pada gejala yang banyak ditemui pada ternak sapi perah biasanya berupa gejala Sub Klinis. Ciri-cirinya sulit untuk dideteksi peternak karena tidak nampaknya gejala yang ditimbulkan. “Saya pernah meneliti pada salah satu wilayah di Pujon. Dari satu daerah saja 60% sapi yang ada terkena mastitis sub klinis dan baru tahunya saat sudah dalam kondisi sangat parah,” lanjutnya. Selain kerugian ekonomis, penyakit mastitis secara tidak langsung dapat berdampak pada kesehatan manusia. Peningkatan kejadian penyakit mastitis, diikuti dengan peningkatan penggunaan antibiotika, yang pada gilirannya berpotensi meningkatkan residu antibiotik dalam air susu dan potensi peningkatan resistensi bakteri terhadap antibiotika. Gangguan ini mengakibatkan masalah kesehatan bagi manusia. Berdasarkan hasil identifikasinya yang pernah dilakukannya di sentra sapi perah di Jawa Barat, bakteri patogen penyebab mastitis adalah Staphylococcus aureus dan Streptococcus agalactiae. Penularan bakteri ini, melalui puting dan berkembang biak dalam kelenjar susu. Hal ini terjadi karena puting yang habis di perah terbuka, kemudian kontak dengan lantai atau tangan pemerah yang mengandung bakteri. Pada kondisi parah sapi terdampak Mastitis, susu yang dihasilkan sapi perah tidak bisa dicampur dengan susu sapi yang lain dan terlihat pecah. Ini juga sejalan dengan hasil penelitiannya pada kasus Mastitis Sub Klinis sapi perah laktasi di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Lili lantas melakukan riset untuk pengobatan dan pencegahan pada kasus mastitis dan menghasilkan produk berupa Krim anti mastitis. Sapi yang telah selesai diperah, ambing susu sapi yang langsung diolesi krim ini mempunyai jumlah bakteri yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak diberi krim anti mastitis. “Dengan demikian peluang untuk menjadi mastitis lebih rendah dibandingkan yang tidak diolesi krim. Hal ini karena semakin tinggi jumlah bakteri maka peluang terjadinya mastitis lebih tinggi,” ujarnya saat ditemui Rabu (27/2) lalu. Lili berencana memproduksi temuannya menjadi produk komersial. Sudah setahun berjalan dilakukan pengemasan pada produk krim anti mastitis. Produksi saat ini masih untuk kalangan tertentu yang tersebar ke beberapa tempat. Seperti Koperasi Jabung dan peternak di wilayah Pujon. “Untuk ke depan nya mungkin kita bisa memprodusi produk ini secara masal dan memiliki hak paten,” ungkapnya lebih jauh. Hilirisasi dan komersialisasi hasil penelitian memang tengah menjadi perhatian besar UMM. “Kita tidak hanya melakukan penelitian untuk dijadikan jurnal saja, tapi hasil dari penelitian kita terapkan menjadi sebuah produk agar masyarakat juga bisa merasakan hasil dari penelitian nya. Salah satunya berupa krim anti mastitis ini,” ucap dosen asal Subang, Jawa Barat yang dikenal concern pada peningkatan produktivitas ternak ini. (riz/can)

Di Zaman yang Serba Berubah, Teori Sosial Juga Harus Ikut Berubah

PROGRAM Studi (Prodi) Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghelat kuliah perdana dengan tema “Produksi Ilmu Sosial Mutakhir di Era Revolusi Industri 4.0” di Aula BAU UMM, Rabu (27/02). Kuliah Perdana ini mendatangkan Prof. Dr. Der. Soz. Rochman Achwan, MDS., guru besar Sosiologi dari Universitas Indonesia. Menurutnya, sejak dari era hortikultura, industri, informasi, hingga masyarakat digital seperti saat ini, perubahan melekat pada masyarakat. Seperti sekarang, digitalisasi sudah menjadi bagian keseharian masyarakat. “Jadi sebagai Sosiolog, haram hukumnya tidak tahu menahu perubahan yang terjadi di masyarakat,” lanjutnya. Ia berpendapat untuk menyongsong era digital atau era Industri 4.0, kita harus memahami situasi sosial yang kita hadapi. Dikarenakan peranan sosial akan mempengaruhi cara kerja ekonomi, politik, dan lain-lain. “Jika kita tidak bisa memahami situasi sosial yang kita hadapi, kita tidak bisa memahami apa-apa,” paparnya. Pada era digital, perguruan tinggi mempunyai peranan penting dalam masyarakat. Bahkan, disebutnya, banyak universitas yang berbondong-bondong menjadi universitas riset. “Hasil riset itu harus dipublikasi agar bisa dibaca siapa saja. Sehingga bisa menjadi pertimbangan kebijakan untuk pemerintah maupun masyarakat,” lanjutnya. Rachmad K. Dwi Susilo, MA., Ketua program studi Sosiologi UMM mengemukakan, Sosiologi perlu meninggalkan teori-teori lama karena lingkungan sosial masyarakat sudah mulai berubah. Jika terus menggunakan teori-teori lama maka sosiolog akan terjebak di masa lalu dan tidak bisa menafsirkan fenomena masyarakat terkini. Rachmad juga memaparkan hal yang bisa dilakukan dosen juga mahasiswa untuk menghadapi Industri 4.0. Dosen dan mahasiswa harus mempunyai teori sosial yang digemari dan dikuasai untuk melihat fenomena sosial. “Meskipun pakai teori barat, saat diterapkan di Indonesia nantinya juga bisa kita kritik kekurangannya,” tandasnya. (riz/can)

Semnas PBSI UMM-UMMI: Literasi Dosen Juga Mesti Dikuatkan

BERDASARKAN data Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia berada di peringkat 64 dari 72 negara yang rutin membaca. Bahkan, menurut The World Most Literate Nation Study, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara. Temuan data ini diistilahkan oleh Dr. Sugiarti, M.Si., ketua program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bahwa generasi Indonesia sekarang rabun membaca dan lumpuh menulis. Hal ini disampaikan Sugiarti saat agenda program studi PBSI UMM bersama PBSI Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) dalam gelaran seminar nasional dengan tema “Gerakan Literasi Bahasa, Sastra, dan Pembelajaran di Era Industri 4.0”. “Padahal literasi itu sangat penting. Dengan literasi kita bisa memahami berbagai masalah dalam kehidupan dengan nalar kritis,” tegasnya. Pada seminar nasional ini sekaligus dilakukan kerja sama di bidang akademik antara kedua belah pihak. Ditambahkan oleh dosen program studi PBSI UMMI Deden Ahmad Supendi , M.Pd., ia mengatakan bahwa yang perlu digerakkan literasinya bukan hanya mahasiswa sebagai generasi milenial. Namun, dosen juga perlu memperkaya literasi. Dosen, disebut Deden, tidak cukup mempelajari bidangnya saja. “Dosen ketika mengajar itu harus kaya kasus-kasus terbaru. Bukan kasus-kasus lama yang ada di buku panduan saja,” tegasnya di hadapan ratusan peserta seminar. Diskusi ini ditutup oleh Dr. Poncojari Wahyono M.Pd dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM dengan mengutip surat Al-Alaq. Ia mengatakan bahwa surat pertama yang turun ke Nabi Muhammad SAW saja tentang pentingnya membaca. “Nabi Muhammad SAW itu buta huruf, jadi maksud membaca itu bukan membaca tulisan saja, tapi juga membaca fenomena kehidupan,” paparnya. Demikian dimaksudkan Poncojari, bahwa literasi tidak hanya berhenti pada tekstual. Poncojari lantas menjelaskan bagaimana Jepang bangkit dari Perang Dunia II dengan menggalakkan gerakan literasi. “Sekarang Jepang berada di atas negara-negara lain. Lihatlah, di jalanan Indonesia dibanjiri mobil dari Jepang,” ujarnya. Anak-anak kejuruan mampu membuat mobil listrik, tapi mereka akan kalah bertarung di pasaran karena literasi manajemen pemasarannya kurang. Jadi siapapun terlebih dosen, harus memperkaya literasi di bidang apa saja,” tandasnya. (usa/can)

Cavaliere dan Wynstelle, Duo Penuh Prestasi PSM Gitasurya UMM

PADUAN Suara Mahasiswa (PSM) Gitasurya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menorehkan gelar juara pada perhelatan kompetisi paduan suara tingkat nasional di Universitas Brawijaya beberapa waktu lalu. Tim Cavaliere Male Choir dan Wynstelle Female Choir berhasil membawa nama PSM Gitasurya UMM menuju babak Grand Championship 9th BCF 2019. Jika biasanya PSM Gitasurya UMM mengirimkan satu tim gabungan yang terdiri dari pria dan wanita, kali ini PSM Gitasurya UMM mengirimkan dua tim paduan suara sejenis yaitu Cavaliere Male Choir dan Wynstelle Female Choir. Cavaliere Male Choir berhasil mendapat peringkat I di kategori Equal. Sedangkan Wynstelle Female Choir di peringkat VII untuk kategori yang sama. Pembentukan dua tim yang berbeda ini ditujukan agar semakin banyak anggota yang bisa mengikuti proses kompetisi melalui PSM Gitasurya UMM. “Mari kita berproses bersama-sama dengan lebih baik lagi kedepannya. Untuk Gitasurya yang lebih baik,” ujar Sabrina, Ketua Umum PSM Gitasurya UMM saat diwawancarai Selasa (26/2) di Student Center Kampus III UMM. Dilanjutkan Sabrina, mengikuti kompetisi paduan suara adalah agenda rutin yang dilakukan oleh PSM Gitasurya UMM. Selain untuk terus mengasah kemampuan anggotanya, adanya agenda ini juga memastikan anggota PSM Gitasurya UMM terus mencetak berbagai macam prestasi untuk UMM. Tak tanggung-tanggung, kompetisi paduan suara internasional juga dijajakinya. Di antaranya di tahun 2015, PSM Gitasurya meraih lima kemenangan sekaligus di Italia. Misalnya 1st Place (Gold Medal) in Folklore Category at 1st Puccini International Choir Competition; 1st Place (Gold Medal) in Mixed Category at 1st Puccini International Choir Competition, dan lainnya. Ditambah kemenangan tak kalah membanggakan di dalam negeri. Kemengan baru-baru ini di dalam negeri di antaranya lomba Paduan Suara Universitas Airlangga (LPSUA) 2018 – First Place Gold Medal Category Foklore; lomba Paduan Suara Univessitas Airlanggga (LPSUA) 2018 – 2nd place Gold Medal Category Contemporer, dan; lomba Paduan Suara Universitas Airlangga (LPSUA) 2018 – 5th place Silver medal Historical Category. Nampak raut wajah bahagia dan bersyukur dari kedua tim saat menerima penghargaan di panggung (9/2). “Saya sudah melihat proses yang baik dan usaha yang maksimal dari kedua tim. Semoga proses ini dapat mengantarkan mereka semua menuju program-program yang lebih besar ke depannya,” pesan Annas Dwi Satriyo selaku Music Director PSM Gitasurya UMM. (*/can)

Warga Palestina Belajar Budidaya Perairan ke UMM

SEJUMLAH warga Palestina datang secara khusus ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk belajar membuat berbagai temuan budidaya pertanian, peternakan, juga perairan Jumat (15/2) lalu. Kehadiran mereka dalam rangka menindaklanjuti kerjasama antara Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM dengan Department of Aquaculture, Palestinian Ministry of Agriculture. Diterangkan Dony Prasetyo, S.Pi. M.Si., dosen program studi (Prodi) Perikanan UMM, tertariknya warga Palestina belajar budidaya, khususnya perairan ke UMM karena pengelolaannya masuk standar Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan telah tersertifikasi. Selain ke tempat pembudidayaan ikan, mereka juga diajak melihat produksi jamur, hasil pertanian dan juga pembuatan roti yang terpusat di satu lokasi. Prodi Perikanan turut memperkenalkan program unggulannya, Aquaponik atau sistem Bio Natural (Biona). Sistem ini tidak menghasilkan limbah dalam kolam.yang ditempati oleh ikan selama 3-6 bulan. “Penerapan sistem seperti ini bisa menjadi lebih efisien untuk diterapkan di wilayah Timur Tengah seperti Palestina. Sistem ini yang membuat mereka belajar ke UMM karena lebih hemat lahan serta air,” lanjut Doni. Lebih jauh Aquaponik, sambung Doni, adalah sistem pertanian berkelanjutan yang mengkombinasikan aquakultur dan hidroponik dalam lingkungan yang bersifat simbiotik. “Dalam aquakultur yang normal, ekskresi atau proses pembuangan sisa metabolisme dan benda tidak berguna dari hewan yang dipelihara akan terakumulasi di air dan meningkatkan toksisitas (kadar racun, red.) air jika tidak dibuang,” terangnya. Selain itu, salah satu hasil riset terkini UMM yang diperkenalkan dan menjadi solusi bagi masyarakat urban di Palestina yaitu konsep one house one pond (satu rumah satu kolam) yang digagas dosen Prodi Perikanan, FPP UMM, Riza Rahman Hakim M.Sc. Dalam konsep tersebut, Riza memiliki strategi memanfaatkan lahan sempit di perkotaan atau urban untuk berternak ikan dengan hasil maksimal dan efisien. Dalam konsep ini, Riza menggabungkan antara budidaya ikan lele di kolam terpal dengan budidaya sayuran melalui sistem aquaponik. Ada dua sistem yang dikembangkan Riza, yaitu sistem budidaya lele biona berbasis bio-natural serta budidaya lele bionik yang merupakan kombinasi antara bio-natural dan aquaponik. Dengan konsep ini, penggantian air hanya 30% dan hanya seminggu sekali. Secara umum, one house one pond menjadikan kotoran lele sebagai pupuk tanaman di atas kolam yang terus berulang. Selain hemat dalam memberi makan lele, konsep ini juga meminimalisir pemakaian air. “Dalam konsep ini, penggunaan air sangat sedikit. Sementara pada budidaya lele tradisional, sekitar 50% air diganti dan dilakukan hampir setiap hari. Airnya juga berbau tak nyaman,” ujarnya. Dalam kesempatan berbeda, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menyebut, penguatan riset berbasis kepakaran ini menjadi ciri khas UMM untuk mengembangkan mutu akademik agar bisa bersaing di level internasional. Hal itu selaras dengan ikhtiar UMM yang terus berupaya melakukan pemetaan kepakaran para dosen agar memiliki keahlian yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. (riz/can) Shared:

Mahasiswa UMM Jadi Guru Bahasa Inggris Bagi Anak-Anak Polandia

SEBAGAI seorang mahasiswa, tanggung jawab mengembangkan masyarakat adalah suatu keniscayaan. Selain mendapatkan asupan pengetahuan yang cukup, mahasiswa membutuhkan laboratorium untuk mempraktekkan seluruh teori. Hal inilah yang dilakukan tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Polandia. Mereka adalah Fahreza Firdaus Permana dari Ilmu Pemerintahan, Emeralda Narulita Halim dan Akhmad Syafik dari Prodi Psikologi. Melalui program International Educations 2.0 AIESEC UMM, mereka berada di Polandia sejak 11 Januari lalu. Selama di sana, Emerelda dan kawan-kawannya terbagi lagi ke beberapa tempat. Fahreza sendiri bekerja pada bidang kesehatan di Kota Wroclaw, sebuah kota yang terletak di sebelah barat Polandia. Sementara Emeralda dan Syafik menjadi tenaga pendidik di Taman Kanak-kanak (TK) Publiczne Przedszkole Nr 25 Uniwersytet Opolski di Kota Opele, Polandia Selatan yang berpenduduk sekitar 128.000 jiwa. “Selama di sini senang banget karena bisa memberitahu bahwa bahasa asing juga penting untuk dipelajari,” ungkap Emeralda. Perempuan kelahiran Banjarmasin 2001 ini menceritakan pengalamannya memperkenalkan permainan indonesia kepada anak-anak TK. Salah satunya melalui sarana bermain board game, ular tangga. Selain suasana belajar-mengajar yang mengasyikkan, bagi Emerelda, masyarakat Opole sangatlah toleran dan ramah. Terbukti dari penerimaan masyarakat yang saling menyapa. “Beberapa waktu lalu kami diliput media Polandia. Mereka sangat mengapresiasi aksi kami,” terang perempuan yang punya hobi jalan-jalan ini. Senada dengan Emeralda, Syafik juga merasakan kehangatan dalam suasana mengajar. “Adik-adik mengungkapkan rasa sayangnya kepada kami dengan memeluk, itu yang seringkali membuat kami haru,” ungkapnya. Di Polandia, diakuinya, akan membuat siapapun betah berlama-lama untuk tinggal. Emeralda dan kedua temannya akan kembali ke Indonesia, Sabtu (23/2). Sesudah enam minggu di Polandia, mereka berencana menularkan semangat berbagi kepada mahasiswa lainnya. Juga, menebar semangat pluralisme saling menghargai setiap perbedaan yang ada, seperti yang mereka rasakan saat di Polandia. (mir/can)

Rezka Mardhiyana, Debater UMM yang Lulus dengan IPK Nyaris Sempurna

Meski tidak pernah menargetkan menjadi wisudawan terbaik, segala usaha Rezka Mardhiyana selama menempuh program sarjana di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berbuah manis. Rezka, ia akrab disapa, menjadi wisudawan terbaik tingkat universitas dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yakni 3,99. Tidak hanya pandai di kelas, selama kuliah Rezka mendulang banyak prestasi. Juara I debat psikologi Nasional Psychedelic Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Juara I lomba debat politik nasional POLITE Universitas Brawijaya,dan banyak lainnya. Di bidang akademik, Rezka peringkat II mahasiswa berprestasi UMM tahun 2018. Gadis asal Banjarmasin ini menyatakan, dengan mengikuti banyak perlombaan debat, wawasan yang ia miliki semakin bertambah. “Kalau ikut debat kan selalu ada temanya sendiri. Jadi kita dipaksa untuk belajar materi-materi baru. Bahkan yang terakhir aku jadi Best Speaker di kompetisi debat politik nasional,” tuturnya. Menjajaki pengalaman internasional tak juga dilewatkan Rezka. Satu di antaranya di tahun 2018, Rezka tercatat sebagai peserta program Learning Express di UMM bersama dengan mahasiswa Singapore Polytechnic untuk mengenal metode design thinking. Yakni salah satu metode baru dalam melakukan proses desain. Rezka bersama tim Singapuranya menciptakan prototype alat bernama Express Bakso Machine. Alat ini diciptakan untuk menjawab keresahan pedagang bakso di Desa Temas, Kota Batu. Ia berhasil meretas permasalahan produksi bakso dalam jumlah banyak dengan waktu singkat di tengah permintaan konsumen yang tinggi. Rezka sangat aktif berkegiatan karena termotivasi oleh orang tuanya. “Orang tua saya lulusan SMK, tapi ayah saya selalu mendapatkan beasiswa ketika sekolah. Dari situ saya banyak belajar dan termotivasi. Mungkin hal itu yang membuat saya selalu melakukan yang terbaik dari setiap keputusan yang saya ambil,” tuturnya. Meski kegiatannya yang bertumpuk, tak lantas membuatnya menunda merampungkan tugas akhirnya. Melalui judul ‘Pengaruh Intolerance of Uncertainty terhadap Generalized Anxiety Disorder pada Remaja’, Rezka membahas pengaruh kognitif seseorang menoleransi suatu ketidakpastian. Ia memperoleh predikat sangat baik. Diakuinya, atmosfer belajar dan berprestasi di UMM yang membuatnya terdorong untuk senantiasa berprestasi dan menimba banyak pengalaman berharga. Tempaan juga motivasi yang diperolehnya selama menjalani proses perkuliahan di UMM diyaniki Rezka yang bakal membuatnya lebih optimis dan bertumbuh di masa depan. (bel/can)

UMM Miliki Skema Uji Kompetensi Terbanyak Se-Indonesia

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) berkomitmen meningkatkan kompetensi lulusan. Salah satu upayanya melalui uji sertifikasi kompetensi pada setiap calon wisudawan. UMM telah memiliki Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Perantara 1 (P1) terstandardisasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Pada perhelatan wisuda ke-91 periode I tahun 2019 UMM yang dihadiri Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Republik Indonesia, Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc., hari ini Sabtu (23/2), Ketua BNSP Kunjung Masehat memberikan sertifikat kompetensi kepada mahasiswa dan asesor kepada dosen UMM. Selain sebagai pemenuhan tuntutan kurikulum terbaru, sertifikasi profesi juga sebagai prasyarat kelulusan wisudawan. “Sehingga lulusan UMM memiliki pengakuan dari BNSP atas kompetensi yang dimilikinya”, jelas Dr. Ihyaul Ulum, S.E., M.Si., Ak., CA. selaku ketua LSP UMM saat diwawancarai Jumat (22/2) siang. Setidaknya ada 52 skema uji kompetensi yang telah terverifikasi oleh BNSP. “Walaupun kita agak terlambat memulainya, dalam kurun satu tahun kita telah menjadi LSP P1 dengan jumlah skema terbanyak di Indonesia. Ditambah ada 20 skema yang sedang melalui proses verifikasi oleh BNSP,” imbuhnya. Kedepannya, Rektor UMM Dr. Fauzan, M,Pd., menargetkan masing-masing program studi setidaknya memiliki 5 skema uji kompetensi sesuai dengan bidangnya. “Dengan demikian ada banyak skema yang dapat dipilih calon wisudawan sesuai dengan minat dan kompetensinya,” harapnya. “Uji kompetensi ini merupakan komitmen UMM untuk penguatan kompetensi yang orientasinya profesionalitas. Kelulusan tidak hanya sekedar formalitas tetapi orientasinya kualitas. Agar lulusan kita memiliki trust (kepercayaan, red.) di tengah masyarakat. Maka sertifikat kompetensi ini menjadi wajib,” kata Fauzan. (*/mir/can)

Perlu Tinggalkan Pola Pikir Lama untuk Bertahan di Era Industri 4.0

PERKEMBANGAN teknologi membuat banyak profesi tak lagi eksis di masa sekarang. Beberapa diantaranya di bidang pertanian dan konstruksi. Sehingga, diperlukan perubahan pola pikir untuk dapat beradaptasi atas setiap perubahan. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia (RI) Prof. Dr. H.A. Malik Fadjar M.Si. menyebut Balai Latihan Kerja (BLK) memegang peranan penting. “Karena era sekarang persaingan SDM itu sangat pesat,” katanya. Untuk itu, Malik menyebutkan setidaknya ada 3 kunci yang harus dimiliki untuk memenangkan kompetisi ini. Pertama, mempunyai sumber daya manusia yang banyak. Kedua, memiliki networking yang bagus. Ketiga, penguasaan atas teknologi. Hal ini kembali ditegaskan Direkur Bina Instruktur dan Tenaga Pelatihan Ir. Suhadi, M.Si, Jumat (22/2) dalam diskusi terbatas “Revitalisasi dan Revalidasi Balai Latihan Kerja” di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (22/2). Sebagai usaha mengurangi angka pengangguran, dinilai Suhadi, perlu diadakannya  pengembangan BLK Komunitas yang sesuai dengan pola kerja era Industri 4.0. Tentunya tidak mengenyampingkan kemudahan pada aksesnya. “Saat ini akses masyarakat untuk mengikuti pelatihan BLK milik pemerintah sangat terbatas. Sehingga masyarakat tidak bisa mengikuti perkembangan terkini dan sering kali tertinggal,” terang Suhadi dihadapan seratusan peserta. Selain itu, kata Suhadi, mengingat SMK merupakan penyumbang pengangguran terbesar di Jawa Timur, SMK perlu dikembangkan sehingga bisa mengikuti perkembangan zaman. Disebutnya, SMK perlu melakukan revitalisasi. “SMK harus dikembangkan menjadi pelatihan kerja yang bisa membuat anak-anak muda kita bekerja sesuai dengan tuntutan era sekarang. Bukan pola lama yang membuat anak-anak tidak laku di dunia kerja,” tegas Suhadi. Ditambahkan Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd, BLK seharusnya mampu mendidik masyarakat agar tidak tertinggal dengan segala bentuk kemajuan. Mengingat zaman berubah dengan cepat, sehingga mesti juga merubah pola pikir lama. “UMM siap mendukung sinergisitas dengan BLK. Salah satu bentuknya adalah melatih keterampilan mahasiswa lewat Lembaga Sertifikasi Profesi. Di sana mahasiswa bisa mengasah kompetensinya sehingga diakui di dunia kerja,” tandas Fauzan. Diskusi ini juga dihadiri panelis lainnya. Yakni  Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Dr. Saiful Rachman, MM., M.Pd., Kepala BLK Kota Malang Hermanu Setijanto, S.Sos, M.Si., dan Anggota Badan Nasional Sertifikasi Profesi Drs. Mulyanto, M.M. Selain itu, hadir para tamu undangan dari unsur pemerintahan daerah. Seperti Walikota Malang Drs. H. Sutiaji dan pejabat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Batu dan Kabupaten Malang. (riz/mir/can)

UMM Terima Mandat Pengelolaan Kawasan Hutan

PERGURUAN tinggi sebagai mitra strategis Pemerintah punya segala aspek yang dibutuhkan dalam pengelolaan hutan lindung agar terkelola secara optimal. Salah satunya dengan menjadikan pengelolaan kawasan hutan sebagai hutan pendidikan. Dalam aksinya, dapat diimplementasikan melalui penyelenggaraan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan, serta penyuluhan kehutanan yang berkesinambungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program studi (Prodi) Kehutanan Fakultas Pertanian dan Peternakan mengemban tanggung jawab sebagai pengelola Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. Amanah ini tertuang dalam SK Menteri LHK yang diserahkan langsung Menteri LHK Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc pada perhelatan wisuda ke-91 UMM, Sabtu (23/2). Lokasi KHDTK yang dikelola dalam bentuk hutan pendidikan ini berada pada kawasan hutan produksi dan hutan lindung Perum Perhutani petak 43A, 44I, 44K-1, 44K-2, 44L dan BE BKPH Pujon KPH Malang seluas 75.09 Ha. Lokasi ini akan dijadikan sebagai laboratorium lapang sekaligus media pembelajaran mengelola kawasan hutan dengan kondisi yang berbeda bagi seluruh civitas akademika UMM. Hutan pendidikan merupakan kawasan penelitian serta kegiatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk mahasiswa serta masyarakat sekitar pada umumnya. Dalam undang-undang nomor 41 tahun 1999 tentang kehutanan menyatakan bahwa dalam pengurusan hutan secara lestari, diperlukan sumber daya manusia berkualitas yang bercirikan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Selain itu, dijelaskan Tatag Muttaqin S.Hut., M.Sc., IPM., Ketua Prodi Kehutanan, UMM melalui prodinya mendapatkan kepercayaan untuk menjadi konsultan yang bertugas mengarahkan hingga mendesain rencana lapangan antara Japan International Forestry Promotion and Cooperation Center (JIFPRO) dan Taman Nasional Bromo. Proyek rehabilitasi ini berlangsung sejak 2006 dan ditutup pada 2015. Menurut Tatag, melalui Prodi Kehutanan juga, UMM telah melaksanakan sebagian tanggung jawab Tri Darma-nya yakni ikut mengelola dan menjaga lingkungan hidup. “Aksi ini sejatinya memang harus masif dilakukan oleh setiap kampus, agar bukan hanya Pemerintah yang memiliki tanggung jawab itu, namun semua elemen masyarakat juga harus turut andil menjaganya,” ungkap Tatag. Rencana jangka panjang lahan hutan KHDTK UMM adalah, pertama, mewujudkan kampus UMM dengan KHDTK sebagai kampus green ecosystem yang berstandar internasional, dengan capaian Word Class University. Kedua, mewujudkan kampus UMM melalui KHDTK aktif menyelenggarakan proses pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan Tri Dharma PT. Ketiga, mewujudkan kampus UMM melalui pengelolaan KHDTK untuk secara aktif melakukan pengembangan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan, teknologi, humaniora dan seni. Dalam pengelolaannya, UMM telah melakukan pembagian rencana pengelolaan menjadi tiga fase. Yakni jangka pendek (2020-2022), jangka menengah (2023-2028), rencana jangka panjang (2029-2040). Menurut Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., keleluasaan sebagai pengelola kawasan hutan ini akan menjadi energi baru bagi UMM dalam pendampingan pada masyarakat. Selain itu, hutan KHDTK juga akan menjadi laboratorium lapangan yang bisa dimanfaatkan oleh seluruh civitas akademika Kampus Putih. “Ke depan, pengelolaan hutan akan menjadi etalase terkait pengelolaan hutan lestari yang baik,” tutupnya. (mir/can)