Mahasiswa UMM Jadi Teman Main dan Belajar Orang Asing

MAHASISWA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui lembaga pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) berkesempatan berinteraksi langsung dengan orang asing. Tak sekedar menjadi teman main, para mahasiswa UMM ini juga menjadi tutor untuk mengajarkan mereka budaya dan bahasa Indonesia. Saat ini mahasiswa asing yang didampingi melalui program Sahabat BIPA adalah mahasiswa pertukaran pelajar dari Thailand yang tengah mengambil program studi (prodi) Ilmu Pemerintahan. “Mereka akan belajar secara intensif selama satu bulan,” terang Faizin, M.Pd. selaku Kepala Divisi Program dan Pengembangan BIPA. Metode yang digunakan Sahabat BIPA tidak mululu kegiatan belajar-mengajar di kelas. Tak jarang agar pelajaran lebih melekat, mereka biasa jalan-jalan bersama, nongkrong ke kafe sambil mempraktikkan teori melalui percakapan dalam bahasa Indonesia. Metode ini dinilai efektif untuk menajamkan pemahaman para mahasiswa asing. Mereka yang menjadi tutor di program Sahabat BIPA ini adalah mahasiswa dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). “Mereka sebelumnya telah dibekali mata kuliah BIPA. Jadi melalui program ini mereka dapat mengaplikasikan teori yang telah didapatkan di kelas,” ungkap Faizin saat ditemui Sabtu (9/1). “Mahasiswa asing ini dikelompokkan berdasarkan pengetahuannya tentang bahasa Indonesia. Beberapa ada yang pernah mempelajari. Ada juga yang sama sekali belum pernah mempelajari. Para tutor lebih bersikap seolah-olah sebagai teman. Disamping memberi wawasan kebahasaan agar terasa menyenangkan” pungkas Faizin. “Mudah-mudahan untuk yang menjadi tutor sekarang juga berminat untuk menjadi staf pengajar BIPA di seluruh dunia. Program ini diadakan tiap tahun oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Beberapa tutor BIPA UMM sudah lebih dulu berangkat ke beberapa negara di Eropa,” tandas Faizin. Selain mahasiswa Thailand, BIPA UMM juga baru-baru ini menerima 3 warga negara Korea Selatan untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia. Yakni Kim Boong Hee seorang Profesor Ekonomi, Jung Sung Soon profesor Bahasa Inggris dan Nam Kwak Hong seorang petinggi perusahaan. Mereka mengaku senang belajar di BIPA UMM. Sebelum tiba di UMM, ketiganya sudah terlebih dulu belajar bahasa Indonesia selama 3 bulan bersama Korean Muslim Federation. “Kami belajar tiga bulan. Bahasa Indonesia sangat sulit, tetapi kami suka,” ungkap Jung Sung Soon diiringi tawa. Mereka juga, diakui Jung, sudah dapat menghapal berbagai angka, nama hari, bulan dan tahun. (hel/can)
Dosen UMM Wakili Indonesia di 2nd ASEAN-India Youth Summit 2019

TAHUN 2019, ASEAN berkolaborasi dengan India Foundation melahirkan 2nd ASEAN-India Youth Summit 2019. Agenda tersebut dilaksanakan di Guwahati, Assam, India. Hajat besar ini mengumpulkan para pemuda seantero Asia Tenggara dan India. Tujuannya, membincang gagasan untuk mewujudkan tatanan kehidupan lebih baik. Novin Farid Setyo Wibowo, S. Sos, M.Si, staf pengajar program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mewakili Indonesia dalam perhelatan ASEAN-India Youth Summit, 3-7 Februari 2019 lalu. Novin bersama 9 perwakilan lainnya menebar gagasan perihal isu terkini seputar politik, budaya dan media. Kepala laboratorium Prodi Ilmu Komunikasi ini berangkat setelah melewati seleksi panjang oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI). Pada agenda yang mengusung tema “Connectivity – Pathway to Shared Prosperity” ini, Novin dinyatakan lolos seleksi mewakili Indonesia di bidang Media and Cultural Studies. “Di forum ini masing-masing negara menyampaikan kondisi di negaranya,” jelas dosen yang concern di dunia perfilman ini. Novin menerangkan bahwa ASEAN dan India memiliki sumber daya manusia (SDM) usia muda yang cukup baik. Memasuki era industri 4.0, SDM muda tersebut perlu menyatukan pikiran demi kemajuan bersama. Disamping itu pemuda perlu memiliki skill, identity dan netwoking. Hal tersebut ia sampaikan saat Indonesia memaparkan kondisi objektif Indonesia sekaligus menawarkan rumusan solusinya. “Indonesia masih unggul. Kita patut bersyukur dengan atmosfer kebebasan dalam berekspresi dan bertindak di Indonesia,” ungkapnya. Dilanjutkan dosen yang juga banyak melakukan riset perfilman dan studi media ini, pemuda adalah penggawa perubahan. Pikirannya masih terbuka dengan hal-hal baru dan tentu idealismenya terpatri kuat. “Maka dari itu, persoalan nilai toleransi, pluralisme dan keragaman, pemudalah yang punya andil besar mewujudkannya,” pungkasnya. (mir/can)
Mahasiswa Bekali Penghuni Lapas Penanganan Mandiri Nyeri Pinggang

LOW BACK PAIN atau nyeri pinggang bisa dialami siapa saja. Utamanya orang yang banyak duduk dan tidak banyak gerak, serta sering mengangkat barang berat. Tak terkecuali para penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Kota Malang. Misalnya di Lapas Perempuan Kelas IIA Sukun, Kota Malang setidaknya memiliki 35 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang mengalami nyeri pinggang. Sedangkan di Lapas berkapasitas 600an orang ini belum tersedia tenaga ahli fisioterapi. Hal tersebutlah yang mendorong Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui mahasiswa praktikum kelembagaan prodi Kesejahteraan Sosial dan Fisioterapi UMM, Rabu (6/2), membekali para WBP melakukan penanganan mandiri nyeri pinggang. “Melihat respon positif dari WBP kami berharap program ini dapat berkelanjutan, Kami merekomendasikan agar diadakannya program fisioterapi di klinik Lapas ini. Kalau perlu kita adakan kerjasama,” kata Wofi Toyyibatul Chusna, mahasiswa praktikan. Usulan inipun disambut baik salah satu WBP, Fenny. “Banyak WBP disini mengeluh sakit pinggang. Sepertinya karena aktivitas yang dilakukan cukup berat seperti mengangkat barang, galon air, dan ditambah dengan faktor usia,” ungkapnya. “Saya harap program ini dapat berlanjut dalam bentuk kerjasama antara Lapas dengan kampus UMM,” terangnya. Dalam eksekusinya, para praktikan bekerjasama dengan salah satu komunitas kesehatan Sportphysio Prodi Fisioterapi UMM. Ali Multazam, S.Ft. M.Sc, dosen UMM yang menggawangi Sportphysio UMM menyatakan bahwa agenda tersebut diharapkan membawa dampak positif bagi WBP. Juga, menjadi momen memfamiliarkan profesi fisioterapi kepada masyarakat. “Sebenarnya fisioterapi dibutuhkan oleh masyarakat. Karena fisioterapi berbicara fungsi dan gerak serta bagaimana menjaga raga agar tetap terjaga,” jelas pria yang akrab disapa Azam tersebut. Ia juga berharap agenda ini dapat berkelanjutan. (*/mir/can)
Pendidikan Jadi Kunci Utama Muhammadiyah dalam Percaturan Bangsa

WAKIL Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. berkesempatan menyampaikan materi dengan tema “Muhammadiyah dan Penguatan Peran Wasatiyyah dalam Membangun Peradaban Bangsa”. Materi ini disampaikan dalam gelaran Sarasehan Kebangsaan Pra Tanwir, Kamis (7/1). Nazaruddin menjadi salah satu pembicara dalam perhelatan menjelang Tanwir Muhammadiyah ke-51 di Bengkulu 15-17 Februari 2019 mendatang. Hadir di antaranya Dr. Haedar Nashir, M. Si selaku Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Muhadjir Effendy, M.A.P selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Disebut Nazaruddin, sebagai gerakan sosial-keagamaan Muhammadiyah memiliki peran fungsional melalui berbagai amal usahanya. Separuh di antaranya ada di bidang pendidikan, bidang ekonomi, bidang hukum dan teknologi. “Inilah kunci peran Muhammadiyah dalam kancah percaturan bangsa Indonesia ke depan,” katanya. Terkhusus posisi strategis pendidikan, sambung Nazaruddin, yang terus-menerus harus di eksplorasi Muhammadiyah. “Jika Muhammadiyah ingin memainkan peran penting, maka pendidikan adalah sarana strategis untuk membangun kekuatan. Yakni kekuatan sebagai simbol-simbol ekonomi modern di masyarakat,” ungkapnya. Nazaruddin melanjutkan, ekspansi pada bidang-bidang yang dianggap lebih berorientasi profit ternyata banyak menuai manfaatnya untuk pendidikan. Terutama ketika disinergikan menjadi lahan pembelajaran yang konkret. Pengelolaan amal usaha di bidang ini perlu perhatian yang serius dari seluruh warga Muhammadiyah. “Mestinya agenda utama Tanwir adalah mendiskusikan how to find the best practice manage our institute atau mengelola institusi potensial dalam organisasi otonom dan amal usaha Muhammadiyah. Sehingga menjadi simpul-simpul kekuatan baru yang menggerakkan, memberi darah baru, kesegaran, dan harapan,” pungkasnya. (hel/can)
Sensasi Ngopi Sambil Nonton Layar Tancap Bioling UMM di Desa Brongkol

MOBIL Bioskop Keliling (Bioling) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengaspal, Rabu (6/2). Mini bus berkonsep layar tancap portable hasil hibah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) ini menyambangi Desa Brongkal, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. Kali ini, Bioling bekerjasama dengan Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 13 UMM mengadakan nonton bareng film “12 Menit”, film drama Indonesia yang diadaptasi dari novel 12 Menit karangan Oka Aurora. Acara ramai dihadiri oleh masyarakat sekitar Desa Brongkal, perangkat desa, dan para tamu undangan. “Film merupakan salah satu cara berkomunikasi yang paling efektif. Karena sebuah pesan dikemas dengan cara bertutur dengan gaya seni sinematik. Hal ini lah yang menginisiasi kami untuk mengadakan nonton bareng di Balai Desa Brongkal,” terang Mohammad Danial Firman selaku koordinator desa Kelompok KKN 13. Antusiasme masyarakat Desa Brongkal pun cukup baik, dengan duduk lesehan bersama di depan pendopo balai desa sambil menikmati segelas kopi, teh, dan polo pendem. Tak pelak, film ini dinikmati dari awal hingga tuntas. Para pedagang kaki lima pun padat memenuhi sepanjang bahu jalan balai Desa Brongkal. Masyarakat Desa Brongkal, lanjut Danial, tak hanya terhibur, namun juga teredukasi. “Film ’12 Menit’ sengaja dipilih karena sarat akan pesan motivasi, kekompakan, perjuangan, tak mudah menyerah, dan sikap tanggungjawab,” ungkapnya. Tak hanya diperuntukkan bagi anak-anak, film ini juga disajikan bagi orang tua. Edukasi harus terus dilakukan oleh kalangan muda seperti mahasiswa Terlebih, sambung Danial, dengan terjun langsung ke masyarakat. “Maka dari itu program Kuliah Kerja Nyata ialah cara yang baik untuk benar-benar merealisasikan fungsi sebenarnya mahasiswa. Yaitu menjadi pioner pembangun bangsa,” pungkasnya. Rino Anugrawan koordinator Bioling menerangkan, selain konsep pengabdian unik melalui Mobil Kamis Membaca (KaCa), memulai awal tahun 2019 UMM makin giat menebar manfaat kepada masyarakat. “Berikutnya ke lembaga pemasyaratakan, panti jompo, dan tempat-tempat khusus lainnya,” tuturnya. (*/can)
Kata Mendikbud Soal Indonesia: Saatnya Indonesia Jadi Negara Maju

INDONESIA lahir sudah menjadi negara yang besar. Baik dari segi kualitas maupun kuantitas sumber dayanya. Hal ini dapat dibuktikan dari warisan terbesar di dunia, yaitu luas wilayah dan banyaknya jumlah penduduk di Indonesia. Selain itu, Indonesia juga memiliki kekayaan alam dan juga budaya yang beraneka ragam. “Warisan termahal dari Republik Indonesia adalah persaudaraan, persatuan, kesatuan. Jadi harus menghindari potensi perpecahan. Menjaga warisan tersebut merupakan kuncinya,” tutur Muhadjir Effendy, Mendikbud RI dalam orasi Kebangsaan Pra-Tanwir Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (7/2). Jika sebelumnya dikatakan Indonesia negara yang besar, sebut Muhadjir, sudah sepatutnya saat ini menjadi negara yang maju. “Negara yang besar merupakan prasyarat menjadi negara yang maju. Untuk menjadi negara yang maju salah satunya harus didukung dengan infrastruktur,” tegas Rektor UMM periode 2000–2016 ini “Pembangunan tanpa infrastruktur bagai shalat tanpa wudhu. Tidak ada negara maju tanpa infrastruktur. Dan Indonesia baru memiliki 40% prasyarat infrastruktur untuk menjadi negara maju. Jadi tugas kita saat ini adalah memanfaatkan segala potensi yang tersedia untuk menjadi negara berkemajuan,” tambahnya. Ia melanjutkan, memang tidak hanya infrastruktur yang menjadi prasyarat negara maju. Melainkan juga sumber daya manusia yang terampil dan bermoral. Penanaman pendidikan etika sangat penting sebelum pendidikan formal. Demikian Muhadjir di masa menjabat sebagai Mendikbud RI menekankan pentingnya pendidikan karakter. “Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi yang bertanggungjawab untuk mengawal pembentukan karakter masyarakat Indonesia. Dapat kita lihat dari tapak tilas tokoh-tokoh Muhammadiyah, bagaimana membangun negara dengan watak dasar Muhammadiyah,” ungkap Muhadjir yang juga wakil Ketua Badan Pembina Harian UMM. Muhajir mencontohkan, peran Ir. Djuanda pencetus Deklarasi Djuanda yang hingga saat ini dirasakan oleh negara-negara kepulauan ini. Djuanda sebagai tokoh Muhammadiyah yang melakukan klaim wawasan Nusantara, bahwa seluruh daratan dan lautan Indonesia merupakan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Jika kita lacak petilasan-petilasan, Muhammadiyah sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa kita mempunyai andil yang bermakna dengan semangat kasih sayang versi Muhammadiyah untuk membangun NKRI. Dan sekarang tugas kita untuk melanjutkannya,” tandas Muhadjir di hadapan lima ratusan peserta yang hadir. (bel/can)
Haedar Nashir: Adil dan Ihsan, Perekat Hidup Berbangsa dan Bernegara

PERGOLAKAN sosial-politik di Indonesia pasca reformasi membawa sedemikian banyak problematika. Hal tersebut disampaikan Dr. Haedar Nashir M.Si, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada agenda Sarasehan Kebangsaan Pra Tanwir Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (7/2). Menurut Haedar, pasca reformasi ada dua kecenderungan pemikiran yang mengeras. Satu mengeras ke kanan, dan satunya mengeras ke sebelah kiri. Situasi ini akhirnya melahirkan pandangan keagamaan dan politik yang keras serta serba absolut. “Saat ini keduanya menutup ruang toleransi, dialog dan perbedaan,” kata Haedar. “Islam itu Ad-Diinurrahmah, agama penuh dengan kasih sayang. Kasih sayang dalam Islam itu begitu kaya. Bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga alam, hewan dan tumbuhan, disamping kepada Allah,” jelas Haedar. Ketika kasih sayang ini tidak digunakan dalam kehidupan beragama, maka akan kembali ke masa jahiliyah. Ujian bersikap adil dan ihsan kini hadir di depan kehidupan setiap insan beriman di negeri ini. Kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan saat ini selain memerlukan sikap adil yang autentik, juga memerlukan nilai mulia ihsan. “Allah memerintahkan kaum beriman untuk berbuat adil dan ihsan di surat an-NAhl ayat 90,” katanya. Para mubaligh, sambung Haedar, ketika berkhutbah bahkan selalu mengutip ayat al-Quran itu sebagai pengunci pesan khutbah dan tausyiyah. “Sebarkanlah nilai adil dan ihsan itu sebagai perekat hidup berbangsa dan bernegara sebagai cermin risalah Islam rahmatan lil-‘alamin atau rahmat bagi semesta alam,” ungkap Haedar. Dalam konteks menggelorakan “Beragama yang Mencerahkan”, kata Haedar, seganap pimpinan Muhammadiyah penting menyuarakan sekaligus mempraktikan pesan-pesan keislaman yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Peran tarjih dan tabligh secara khusus penting untuk dioptimalkan dan dininamisasi. Dipesankan juga Haedar, kepada semua angggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah untuk melandasaan dan membingkai pandangan-pandangan keislaman pada orientasi Islam yang mencerahkan dengan merujuk pada Manhaj Tarjih. Yakni mengembangkan pendekaatan Bayani, Bunrani, Irfani secara melintasi. Di tengah lalulintas dan dinamika paham keagamaan yang beragam dan tidak jarang ekstrem, sambung Haedar, Muhammadiyah dituntut perannnya sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang mencerahkan. Dalam hal berdakwah tentu para mubaligh dan anggota Muhammadiyah penting untuk menggelorakan dakwah yang mencerahkan. Hal ini dilakukan sebagaimana misi gerakan pencerahan dalam Muhammadiyah. Dakwah niscaya dilakukan dengan hikmah, mauidhat hasanah, dan bermujadalah dengan cara terbaik. “Sesuai surat Al-Nahl ayat 125, sebagaimana menjadi prinsip dan cara berdakwah yang diajarkan Allah dan dipraktikan Rasulullah,” bebernya. Dakwah yang serba menghardik, memvonis, lebih-lebih yang memusuhi dan takfiri bukanlah dakwah yang mencerahkan. “Berdakwahlah sebagaimana Nabi menyeru untuk menyempurnakan akhlaq manusia disertai uswah hasnah serta menjadikan Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin dalam kehidupan semesta,” tandasnya. (mir/can)
Franz Magnis Suseno: Masa Depan Indonesia Ada di Tangan Islam

SARASEHAN Kebangsaan Pra Tanwir Muhammadiyah yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan budayawan, rohaniwan yang juga pemikir Prof. Dr. Franz Magnis Suseno. Ia hadir sebagai panelis dalam gelaran jelang Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu 15-17 Februari mendatang. Di sesi pertama, Franz membeberkan materi dengan topik “Tantangan Fragmentasi Kebangsaan dan Revitalisasi Peran Agama sebagai Perekat Ikatan Keadaban”. Di diskusi ini Franz mengemukakan bagaimana Pancasila dapat menghadirkan perdamaian di Indonesia. Pancasila yang dicetuskan Bung Karno menjadi kuncinya. “Ketika Bung Karno mencetuskan Pancasila, ia membuat paham negara alternatif yang bisa menaungi negara sekuler dan negara agama,” jelas Franz. Dilanjutkannya bahwa berkat Pancasila menjadikan Indonesia dikenal sebagai negara yang tidak perlu diragukan toleransinya. Semua agama bisa hidup dengan tenang di sini. “Meskipun 87% masyarakat Indonesia menganut agama Islam, mereka bisa menghormati orang-orang minoritas,” lanjut Franz. Ia menyatakan bahwa masyarakat beragama Islam tidak mendiskriminasi masyarakat penganut agama lainnya. Mereka bisa bekerja sama dengan baik dan tetap bisa hidup damai. Indonesia sebagai negara penganut sistem demokrasi memiliki resiko dimanfaatkan oleh kaum radikalis, fundamentalis, dan terorisme. Masyarakat Islam sebagai mayoritas di Indonesia, memiliki tanggung jawab menjadikan negara ini tetap harmonis. Lebih jauh, kata Franz, masa depan Indonesia ada di tangan umat Islam. Mengutip buku Yuval Noah Harari “Homo Deus”, disebut Franz bahwa revolusi pengetahuan sangat penting dilakukan untuk memajukan bangsa. Muhammadiyah yang didirikan K.H Ahmad Dahlan sudah melakukan revolusi itu. “Muhammadiyah harus tetap mendidik masyarakat Islam yang membuat gembira,” tandas Franz. (usa/can)
UMM adalah Bentuk Aktualisasi Beragama yang Mencerahkan

LIMA puluh tahun lebih yang lalu, ada beberapa orang lewat di atas sebuah tebing tinggi. Beberapa orang ini tengah melihat tanah yang berada tepat di bawahnya. Ketika itu tanah ini dikenal sebagai tanah yang tidak laku, bahkan sering dikatakan tanah ini tempat di mana makhluk tak kasat mata bersemayam. Suram. “Beberapa orang tersebut saling bersepakat untuk membeli tanah ini. Kemudian, jadilah tanah ini tercerahkan menjadi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM, red.),” demikian Sa’ad Ibrahim Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dalam sambutannya pada Sarasehan Kebangsaan, Kamis (7/1). Demikian kata Saad, penjelasan sejarah ini cara paling mudah untuk menjelaskan tema Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu 15-17 Februari 2019 mendatang, “Beragama yang Mencerahkan”. Saad menceritakan bagaimana kisah di balik Kampus III UMM yang terletak di Jalan Raya Tlogomas ini dibangun. Saad lantas memberi penjelasan bahwa semangat Tanwir mesti terus digelorakan. Diceritakannya pada tahun 1923 murid KH. Ahmad Dahlan yang bernama Kiai Badawi mengaktualisasikan pemahamannya terhadap al Quran. Utamanya terkait ungkapan Nabi Ibrahim AS. yang diabadikan di surat Asy-Syu’ara ayat 80. Ayat ini berbunyi, “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” Berdasarkan muatannya, Kiai Badawi tidak hanya ingin sekadar memahami juga menafsirkan, melainkan Kiai Badawi ingin mewujudkannya dalam bentuk konkrit. Yakni melalui pendirian rumah sakit pertama milik Muhammadiyah di Yogyakarta. Satu tahun usai pendiriannya rumah sakit pertama ini, yakni tahun 1924, juga berdiri rumah sakit Muhammadiyah lainnya di Surabaya. Singkat cerita, sambung Saad, istilah Tanwir atau pencerahan sudah menjadi kultur Muhammadiyah sejak masa-masa awal pendirian Persyarikatan Muhammadiyah di masa silam. (*/can)
Begini Penjelasan Beragama yang Mencerahkan Menurut Wantimpres RI

Prof. Dr. H.A Malik Fadjar M.Si. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia (RI) menyebut tema Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu 15-17 Februari 2019 mendatang, “Beragama yang Mencerahkan” sesuai dengan kondisi umat beragama, khususnya bagi kondisi umat Islam masa kini. Tema tersebut dinilai Malik sangat tepat bagi Muhammadiyah untuk merenungkan kembali sekaligus membaca realitas dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dalam perspektif agama. Utamanya jika dilihat dari perspektif Muhammadiyah secara khusus. Dilanjutkan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (7/1), Malik mengisahkan saat K.H. Ahmad Dahlan pendiri Persyarikatan Muhammadiyah ditanya tentang, “Apakah Islam itu?” Jawaban Kiai Dahlan, bagi Malik, sangat sederhana dan sangat mendasar. “Islam itu ialah, setelah iman yakni kemanusiaan,” tegas Malik saat didapuk memberikan sambutan pada pembukaan Sarasehan Kebangsaan Pra-Tanwir Muhammadiyah di Theater Dome UMM. Mengusung tema “Revitalisasi Keberagamaan yang Mencerahkan menuju Indonesia Berkemajuan”. Lantas, apa dasar pertimbangan Kiai Dahlan menyatakan hal ini? Selain menjelaskan melalui dasar-dasar perintah Al Quran melalui banyak ayat yang tercantum di dalamnya, Kiai Dahlan mengaktualisasikan berbagai perintah dalam al Quran melalui aksi nyata. Demikian disebut Malik sebagai amal sholeh. “Amal sholeh adalah amal yang sejalan dengan hati nurani. Hati nurani pasti selalu memihak kebenaran, kemanusiaan dan banyak hal baik lainnya,” sebut Malik. Lalu, sambung Malik, diwujudkan oleh Muhammadiyah dengan gerakan al Ma’un atau Teologi al Ma’un. Yakni terminologi pemikiran dan praktik keberagamaan Dengan surat al Ma’un itu lahirlah sekian banyak gerakan kemanusiaan yang dilakukan oleh Muhammadiyah setelah melampaui usia satu abadnya. “Sehingga, dalam konteks ini, Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan kepada kita semua bahwa kunci dalam beragama adalah kemanusiaan,” ungkap Malik. Malik lantas mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Kamu tidak akan mampu mencukupi kebutuhan manusia, mendamaikan seluruh persoalan kemanusiaan sekadar dengan harta kekayaan dan pangkat kedudukanmu. Tetapi kamu akan bisa mewujudkan kehidupan yang mensejahterakan dengan akhlakmu,” ujarnya. “Maka menaburkan keberagamaan itu harus dalam suasana mencerahkan,” tandas Malik. Demikian juga, sambungnya, dalam kehidupan ber-Muhammadiyah. Bermuhammadiyah itu, sebutnya, harus menyenangkan, mengasyikkan, sekaligus mencerdaskan. Lebih jauh lagi sampai pada tahapan memberdayakan. (*/can)