Guru Besar UMM Prof Ishomuddin Pecahkan Rekor MURI sebagai Panelis Forum Internasional Terbanyak

KLIKMU.CO – Konsistensi panjang dalam dunia akademik mengantarkan Guru Besar Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Ishomuddin MSi meraih penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Dia tercatat sebagai panelis diskusi daring internasional berkesinambungan terbanyak. Penghargaan tersebut diserahkan pada April lalu setelah melalui proses verifikasi. Hingga Januari 2026, Prof Ishomuddin tercatat telah tampil sebanyak 97 kali sebagai panelis dalam forum International Deliberation on Islam, dan jumlah tersebut terus bertambah. Forum International Deliberation on Islam menjadi ruang pertemuan ulama, akademisi, dan cendekiawan dari berbagai negara. Setiap sesi diikuti sekitar 400 hingga 500 peserta dari berbagai belahan dunia, yang mayoritas merupakan profesor dan doktor. Sejak aktif pada 2018, Prof Ishomuddin rutin menyampaikan gagasan keislaman dalam forum tersebut. Dalam berbagai diskusi, ia banyak mengulas epistemologi Islam melalui tiga paradigma utama, yakni Bayani (teks), Burhani (logika), dan Irfani (spiritual). Menurutnya, pendekatan Irfani memiliki posisi penting dalam memahami Islam secara menyeluruh. “Pendekatan Irfani ini sering kali terabaikan, padahal memiliki kedalaman makna yang sangat penting dalam memahami Islam secara komprehensif,” ujarnya. Pemikiran tersebut tidak hanya disampaikan di forum internasional, tetapi juga terus ia kembangkan bersama mahasiswa, dosen, dan kalangan akademisi di tingkat lokal maupun nasional. Selain aktif sebagai panelis internasional, Prof Ishomuddin juga dikenal produktif dalam bidang akademik. Sejak 2013, ia telah menghasilkan sekitar 100 karya yang tercatat sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Melalui berbagai forum internasional yang diikutinya, dosen Fakultas Agama Islam UMM itu membawa misi menyebarkan nilai-nilai Islam moderat dan inklusif. Ia berharap ruang dialog internasional dapat terus menjadi sarana pengembangan keilmuan bagi umat Islam di berbagai negara. Capaian tersebut sekaligus menegaskan komitmen Universitas Muhammadiyah Malang dalam mendorong sivitas akademika untuk berkontribusi di tingkat global. (Faqih/AS)

Pendidikan Kita Berubah Drastis, Tapi Apakah Sudah Siap?

pwmu – Perubahan dalam dunia pendidikan Indonesia saat ini terasa begitu cepat, bahkan terkesan melampaui kesiapan banyak pihak. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kebijakan dan inovasi terus bermunculan—mulai dari perubahan kurikulum, digitalisasi pembelajaran, hingga program kesejahteraan siswa seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Semua itu menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia sedang bergerak menuju arah yang lebih modern. Namun di balik perubahan yang begitu pesat, muncul satu pertanyaan penting: apakah kita benar-benar sudah siap? Jika menengok ke belakang, sistem pembelajaran di sekolah dasar dahulu cenderung lebih sederhana dan stabil. Guru menjadi pusat pembelajaran, metode ceramah mendominasi, dan buku menjadi sumber utama pengetahuan. Kini, kondisi tersebut berubah drastis. Pembelajaran dituntut lebih interaktif, berbasis teknologi, serta mendorong siswa berpikir kritis dan kreatif. Perubahan ini tidak terlepas dari perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa lebih dari separuh rumah tangga di Indonesia kini telah memiliki akses internet. Hal ini menjadikan teknologi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan. Siswa kini dapat belajar dari berbagai sumber, tidak hanya bergantung pada guru. Akibatnya, peran guru pun berubah menjadi fasilitator yang membimbing proses belajar siswa. Perubahan besar juga terlihat melalui implementasi Kurikulum Merdeka yang memberikan kebebasan kepada guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa. Pendekatan ini dinilai lebih relevan dengan tuntutan abad ke-21. Namun dalam praktiknya, tidak semua guru siap menghadapi perubahan tersebut. Banyak guru masih beradaptasi dengan konsep baru, terutama dalam perencanaan pembelajaran dan sistem asesmen. Perubahan semakin terasa sejak pandemi COVID-19 yang memaksa pembelajaran dilakukan secara daring. Lebih dari 60 juta siswa di Indonesia terdampak situasi tersebut. Dalam waktu singkat, guru dan siswa harus beradaptasi dengan teknologi digital. Meski pandemi telah berlalu, dampaknya masih terasa hingga kini, terutama dalam percepatan transformasi digital pendidikan. Wajah pendidikan kini semakin berubah dengan hadirnya fasilitas modern seperti smart board atau Interactive Flat Panel (IFP) di sejumlah sekolah. Teknologi ini memungkinkan pembelajaran menjadi lebih visual, interaktif, dan menarik. Siswa tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga dapat berinteraksi langsung dengan materi pembelajaran. Di sisi lain, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berbicara soal akademik, tetapi juga kesejahteraan siswa. Anak-anak yang sebelumnya belajar dalam kondisi lapar kini memiliki kesempatan belajar dengan lebih fokus dan optimal. Hal ini membuktikan bahwa kesiapan belajar juga dipengaruhi kondisi fisik siswa. Namun, semua perubahan ini kembali pada satu pertanyaan besar: apakah semua pihak sudah siap? Kesiapan guru menjadi faktor utama dalam keberhasilan transformasi pendidikan. Perubahan yang cepat menuntut guru terus meningkatkan kompetensi dan kemampuan teknologi. Upaya upgrading skill menjadi sangat penting agar guru mampu mengikuti perkembangan metode pembelajaran modern. Kehadiran komunitas belajar seperti KOBAR (Komunitas Belajar Aktif dan Rajin) menjadi angin segar bagi guru untuk saling berbagi pengalaman dan belajar bersama menghadapi dinamika pendidikan. Namun kenyataannya, tidak semua guru memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Masih terdapat keterbatasan akses pelatihan, fasilitas, dan dukungan lingkungan. Begitu pula dengan sekolah. Tidak semua sekolah memiliki sarana modern seperti papan interaktif digital. Kesenjangan fasilitas ini menjadi tantangan serius dalam pemerataan kualitas pendidikan. Penggunaan teknologi yang semakin intensif juga membawa tantangan baru. Anak-anak menjadi semakin dekat dengan gadget, tetapi berisiko mengalami penurunan interaksi sosial. Jika tidak diimbangi pendidikan karakter, perubahan ini justru dapat memunculkan persoalan baru di dunia pendidikan. Karena itu, keseimbangan menjadi hal yang sangat penting. Perubahan memang tidak dapat dihindari, tetapi harus diiringi kesiapan yang matang. Kebijakan yang baik harus didukung pelaksanaan yang realistis di lapangan. Guru perlu didampingi, sekolah perlu difasilitasi, dan siswa perlu dibimbing dengan pendekatan yang tepat. Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar perubahan sistem atau penggunaan teknologi. Pendidikan adalah proses membentuk manusia. Karena itu, kesiapan menghadapi perubahan harus menjadi perhatian utama agar transformasi pendidikan tidak hanya tampak modern, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata. Perubahan boleh cepat, tetapi kesiapan tidak boleh tertinggal. Jika tidak, perubahan yang seharusnya menjadi solusi justru bisa menjadi beban baru bagi dunia pendidikan.

Universitas Muhammadiyah Malang Gandeng Kampus Cina Kembangkan Riset Pangan Halal

MALANG POSCO MEDIA, ​FUZHOU – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mempertegas posisinya sebagai kampus Islam kelas dunia melalui langkah strategis di kancah internasional. Melalui Pusat Pendampingan dan Pengembangan Halal (PS. P3Halal), Kampus Putih resmi menjalin kolaborasi dengan Fuyao University of Science and Technology (FYUST) Cina. Kerja sama ini difokuskan pada pengembangan produk halal-thoyyib serta inovasi pangan sehat guna menjawab tantangan global. ​Penandatanganan kerja sama tersebut dilakukan langsung di kampus FYUST oleh Kepala PS. P3Halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP., bersama Dekan sekaligus representasi Yayasan FYUST, Giong Lin, pada Rabu (22/4). Dalam sambutannya, Prof. Elfi menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan respons proaktif terhadap visi besar Indonesia. ​”Langkah ini adalah upaya kita mendukung target Indonesia menjadi pusat kepemimpinan halal dunia pada tahun 2026. Apalagi dengan proyeksi pasar halal global yang mencapai US$ 9 triliun di tahun 2030, UMM harus mengambil peran sentral,” ujar Prof. Elfi. ​Lebih lanjut, ia menekankan bahwa sinergi ini melampaui batas-batas akademik konvensional. “Kerja sama ini adalah wujud nyata dari semangat Muhammadiyah Berkemajuan. Kami tidak hanya mengejar peringkat akademik, tetapi mengimplementasikan konsep ‘Kampus Berdampak’ yang digagas Kemdiktisaintek. UMM hadir melintasi batas negara untuk memberikan solusi inovatif, khususnya dalam memperkuat daya saing produk halal kita di pasar global,” tegasnya kembali. ​Dalam kunjungan tersebut, delegasi UMM juga meninjau fasilitas laboratorium canggih milik FYUST yang tengah fokus pada deteksi titik kritis kehalalan, seperti pengujian DNA babi dan kadar etanol. Menanggapi kesamaan fokus riset tersebut, Prof. Elfi menjelaskan bahwa UMM membawa portofolio riset yang sangat relevan, termasuk pengembangan suplemen anti-mikroplastik dari pigmen ubi jalar ungu untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). ​”Fokus riset FYUST pada polifenol dan umbi-umbian sangat selaras dengan apa yang dikembangkan oleh tim ahli kami di Malang. Sinergi riset pangan fungsional dan bahan bioaktif ini akan melibatkan pakar-pakar hebat UMM seperti Prof. Damat, Prof. Warkoyo, hingga tim kedokteran kami untuk memastikan produk yang dihasilkan benar-benar sehat dan halal,” tambah Prof. Elfi. ​Menutup keterangannya, ia membocorkan rencana jangka panjang dari kolaborasi ini yang mencakup pengembangan kosmetik halal hingga pendampingan sertifikasi bagi industri di Cina. “Puncaknya, kami membidik pembentukan lembaga sejenis Lembaga Pemeriksa Halal Luar Negeri di kampus FYUST. Tujuannya agar ekosistem halal di sana nantinya memiliki standar yang sama dengan regulasi di Indonesia,” pungkasnya. (imm/udi)

Jalur Cepat Bangun Karier, Mahasiswa UMM Bawa Portofolio Eksklusif dari CoE Kelapa Sawit

MALANG, RADAR MALANG – Melampaui batasan teori di bangku kuliah, Novan Adhi Ramadhan kini mampu terjun langsung menangani operasional industri kelapa sawit berskala besar. Transformasi nyata dari yang awalnya ‘belum bisa’ menjadi ‘kompeten’ ini adalah wujud nyata komitmen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus inovasi mandiri dan berdampak. Melalui program Center of Excellence (CoE) Kelapa Sawit, UMM mendobrak kebiasaan lama dengan menerjunkan mahasiswa ke jantung industri sejak masa kuliah. Novan, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM, adalah bukti nyata dari efektivitas pendekatan ini. Sebelum mengikuti program bergengsi tersebut pada semester lima, ia mengaku pemahamannya terkait dunia industri sangat terbatas pada buku teks dan simulasi di dalam kelas. Ia merasa masih meraba-raba dan belum siap untuk menghadapi kompleksitas operasional pabrik yang sebenarnya. Advertisement UNGGUL: Novan bersama rekannya di perusahaan pengolahan kelapa sawit berskala nasional. Namun, semuanya berubah drastis setelah ia dinyatakan lolos seleksi ketat CoE dan diberangkatkan untuk menjalani program magang profesional di PT Eagle High Plantations Tbk, sebuah perusahaan pengolahan kelapa sawit berskala nasional. Di sana, ia mengalami lonjakan kompetensi yang sangat signifikan. “Awalnya tentu kaget dengan ritme kerja industri yang jauh lebih cepat, di bawah tekanan tinggi, dan sangat dinamis dibandingkan lingkungan kampus. Sempat merasa tidak bisa mengikuti alurnya karena semuanya murni praktik lapangan. Namun, justru di titik itulah proses belajar yang sesungguhnya terjadi. Dari yang awalnya hanya tahu teori sistem produksi secara konseptual, saya akhirnya dituntut dan berhasil mengerti secara langsung bagaimana alur pengolahan bahan baku sesungguhnya, proses pengendalian kualitas mutu secara presisi, hingga merumuskan evaluasi efisiensi kerja langsung di lapangan,” ungkap Novan menceritakan pengalaman transformatifnya 6 April lalu pada Tim Humas UMM. Keberhasilan Novan melesat dari fase ‘tidak bisa’ menjadi sosok yang ‘kompeten’ ini tidak lepas dari ekosistem program CoE yang dirancang penuh dengan berbagai keuntungan (benefit) bagi mahasiswanya. Dari sisi efisiensi akademik, program unggulan ini menawarkan keuntungan konversi SKS secara utuh. Artinya, seluruh aktivitas magang di industri tersebut diakui sebagai pembelajaran formal, sehingga mahasiswa tidak akan rugi waktu kuliah. Lebih dari itu, permasalahan nyata yang diselesaikan Novan di lapangan langsung menjadi bekal data dan topik studi kasus yang sangat kuat untuk menyusun tugas akhir. Mahasiswa juga secara otomatis mendapatkan keuntungan berupa perluasan jaringan (networking) profesional yang eksklusif serta portofolio kerja dengan nilai jual tinggi. Transformasi keahlian dan kematangan mental mahasiswa inilah yang menjadi target utama dari UMM. Baiq Firyal Salsabila Safitri, S.T., M.Sc., selaku dosen penanggung jawab (PIC) CoE Kelapa Sawit UMM, menyatakan bahwa kurikulum kampus memang harus ditopang dengan kolaborasi praktis agar lulusan tidak gagap saat memasuki dunia kerja. Advertisement “Kehadiran CoE Kelapa Sawit ini adalah wujud komitmen tegas UMM dalam melahirkan lulusan yang berkompetensi unggul dan relevan dengan kebutuhan nyata Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Kami memastikan setiap mahasiswa yang dicetak melalui program ini bukan sekadar sarjana biasa, melainkan talenta-talenta tangguh yang siap tarung, mudah beradaptasi, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi industri sejak hari pertama mereka bekerja,” pungkas Firyal.(*)

20 Best Universities in Indonesia, Most Prestigious Ranking

JAKARTA, KalderaNews.com – The National Achievement Center (Puspresnas) has officially released the list of the most accomplished universities in Indonesia for 2026. This organization, operating under the Ministry of Basic and Secondary Education (Kemendikdasmen), ranks institutions based on the total number of achievements accumulated since 1998. The 2026 list is dominated by state universities, though several top-tier private universities have also secured spots within the top 20. These rankings serve as a vital reference for students choosing a campus that fosters talent and competitive excellence. Top 20 Most Accomplished Universities in Indonesia 2026 Based on the Management Information System for Talent (SIMT), here are the 20 best universities in Indonesia ranked by their total achievements: Universitas Gadjah Mada (UGM): 669 achievements Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS): 666 achievements Universitas Brawijaya (UB): 606 achievements Universitas Negeri Yogyakarta (UNY): 504 achievements Universitas Indonesia (UI): 410 achievements Universitas Pendidikan Indonesia (UPI): 345 achievements Universitas Negeri Surabaya (Unesa): 335 achievements Universitas Diponegoro (Undip): 312 achievements IPB University (IPB): 300 achievements Telkom University: 300 achievements Parahyangan Catholic University (Unpar): 298 achievements Universitas Negeri Malang (UM): 281 achievements Hasanuddin University (Unhas): 281 achievements Universitas Sebelas Maret (UNS): 261 achievements Universitas Negeri Jakarta (UNJ): 250 achievements Bandung Institute of Technology (ITB): 234 achievements Universitas Airlangga (Unair): 232 achievements Universitas Negeri Semarang (Unnes): 215 achievements University of Muhammadiyah Malang (UMM): 205 achievements Tanjungpura University: 197 achievements Accelerating Student Talent: The Case of Universitas Brawijaya (UB) Universitas Brawijaya (UB) successfully maintained its position in the top three by adding three new achievements compared to 2025. Prof. Dr. Eng. Abu Bakar Sambah, S.Pi, MT, Head of the Student Talent Development Unit at UB, stated that this success is the result of transforming student business processes into a “training center” model. Key strategies implemented by top universities like UB include: Talent Clustering: Students are grouped based on their specific interests and talents, such as reasoning, robotics, arts, and sports. Mandatory Competition Participation: Regularly participating in 23 mandatory competition categories managed by the Indonesian Talent Development Center (BPTI), including PIMNAS and the Indonesian Robot Contest. Non-Academic Transcripts: Implementing programs like the Student Activity Unit (SKM) to record non-academic achievements—such as organizational leadership and competition wins—into official non-academic transcripts. With the release of the 2026 Puspresnas rankings, prospective students can better identify which Indonesian universities provide the most dynamic ecosystems for developing their personal and professional potential. Tips for Choosing the Best University: Why Achievement Matters Choosing a university is a major decision that will determine the direction of your career and character development. Among the many options available, university achievement stands out as one of the most valid indicators of an institution’s quality. Here are some tips for choosing the best university by considering achievement as a primary criterion: 1. Check the National and International Achievement Track Record The best universities usually have a consistent track record of excellence. In Indonesia, you can refer to data from the National Achievement Center (Puspresnas), which releases a list of campuses with the highest accumulated achievements. Campuses that consistently rank at the top, such as UGM, ITS, or Universitas Brawijaya, demonstrate that they have talent development systems that have been proven over decades. 2. Look for a Talent Development Ecosystem A campus’s achievements are more than just numbers; they reflect the internal ecosystem. Choose a university that has a specific unit for talent development or a student training center. Top-tier campuses do not just encourage students to join competitions; they actively perform interest and talent clustering, ranging from robotics and reasoning to arts and sports, and provide intensive mentoring. 3. Verify the Availability of Non-Academic Transcripts In today’s professional world, GPA is not the only factor considered. The best universities typically have systems to record a student’s non-academic achievements, organizational leadership, and committee involvement into an official transcript or a Diploma Supplement (SKPI). This shows that the campus values your self-development process outside the classroom. Why Choosing an Accomplished University is Important Here are several reasons why university achievement should be your top consideration: A Competitive and Positive Environment. Being in a campus that hungers for achievement will motivate you to grow. You will be surrounded by peers with high fighting spirits and competent mentors in their respective fields. Supportive Facilities. Highly accomplished campuses often receive better support and facilities from the government and industry. This allows you to experiment with the latest technology or high-quality training facilities. Recognition in the Professional World. Companies often assess a university’s reputation through the achievements of its students. Graduates from campuses active in national competitions, such as PIMNAS or the Indonesian Robot Contest, are often perceived to have stronger problem-solving skills and a winning mentality. Extensive Networking Access. Achievement brings national and international recognition. Prestigious campuses generally have strong partnership networks with industries and foreign universities, making it easier for you to access internships or advanced scholarships. University achievement is tangible proof of the quality of human resources and the educational system implemented by the institution. By choosing an accomplished campus, you are placing yourself in an environment ready to support the acceleration of your best potential. Check out other KalderaNews.com news and articles on Google News

Masih Relevankah Hukuman Fisik di Sekolah Dasar?

KEDIRI lintasjatimnews — Isu kedisiplinan di sekolah dasar kembali menjadi perhatian, seiring munculnya berbagai fenomena perilaku siswa yang dinilai semakin menantang. Di tengah dinamika tersebut, sebagian pihak masih memandang hukuman fisik sebagai cara cepat untuk menertibkan siswa. Namun, pertanyaan mendasar pun muncul : masih relevankah pendekatan ini dalam konteks pendidikan masa kini? Khoirul Anam, mahasiswa S2 Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang, menilai bahwa praktik hukuman fisik sesungguhnya sudah tidak sejalan dengan perkembangan ilmu pendidikan modern. Ia menjelaskan bahwa secara historis, hukuman fisik memang pernah dianggap wajar sebagai bagian dari pembentukan karakter. Akan tetapi, pendekatan tersebut kini mulai ditinggalkan. Mengacu pada teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret. Pada fase ini, anak belajar melalui pemahaman sebab-akibat yang logis, bukan melalui rasa takut. Sementara itu, tokoh behaviorisme B.F. Skinner memang menekankan pentingnya penguatan (reinforcement), namun berbagai penelitian lanjutan menunjukkan bahwa hukuman fisik cenderung hanya memberikan efek jangka pendek. “Anak mungkin patuh sesaat, tetapi tidak memahami nilai di balik aturan. Bahkan, hukuman fisik berisiko memunculkan perilaku agresif dan kecemasan,” ujarnya. Pandangan tersebut diperkuat oleh kajian American Academy of Pediatrics tahun 2018 yang menegaskan bahwa hukuman fisik tidak efektif dalam jangka panjang serta berdampak negatif terhadap perkembangan emosional anak. Dalam konteks pendidikan nasional, semangat Kurikulum Merdeka justru menekankan pendekatan yang berpusat pada peserta didik. Disiplin tidak lagi dimaknai sebagai kepatuhan kaku, melainkan sebagai kesadaran diri yang tumbuh dari pemahaman. Guru diharapkan berperan sebagai fasilitator yang membimbing, bukan sosok otoritas yang menakutkan. Sebagai alternatif, pendekatan disiplin positif semakin mendapat perhatian. Tokoh pendidikan Jane Nelsen melalui konsep Positive Discipline menekankan pentingnya hubungan yang saling menghargai antara guru dan siswa. Pendekatan ini mendorong penggunaan konsekuensi logis serta keterlibatan siswa dalam memahami dampak dari perilaku mereka. Contohnya, ketika siswa tidak menjaga kebersihan kelas, guru dapat mengajak mereka untuk bertanggung jawab membersihkan lingkungan serta merefleksikan pentingnya hidup sehat. Cara ini dinilai lebih efektif karena tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga menanamkan nilai. Meski demikian, tantangan di lapangan tidak bisa diabaikan. Guru kerap menghadapi keterbatasan waktu, jumlah siswa yang besar, hingga beban administratif yang tinggi. Dalam kondisi tertentu, hukuman fisik masih dianggap sebagai jalan pintas. Namun, pendekatan ini dinilai berpotensi mengabaikan tujuan pendidikan jangka panjang, yakni membentuk karakter siswa yang mandiri dan bertanggung jawab. Karena itu, sekolah diharapkan mampu menjadi ekosistem yang mendukung perubahan paradigma. Pelatihan guru dalam manajemen kelas, kebijakan perlindungan anak yang tegas, serta kolaborasi dengan orang tua menjadi faktor penting dalam membangun budaya disiplin yang sehat. Dengan demikian, dalam konteks kekinian, hukuman fisik dinilai tidak lagi relevan sebagai metode pendisiplinan siswa sekolah dasar. Pendidikan bukan tentang menundukkan, melainkan menuntun. Ketika siswa dipahami, dihargai, dan dibimbing secara tepat, disiplin akan tumbuh sebagai kesadaran, bukan paksaan.

AI Masuk Sekolah, Pedagogi Tertinggal

timesindonesia, Malang – Ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) mulai diajarkan di ruang kelas, persoalannya bukan lagi sekadar apa yang diajarkan, melainkan bagaimana siswa masih benar-benar belajar. Yang mengkhawatirkan, sekolah cepat-cepat menggunakan AI, sementara pedagogi yang seharusnya menjadi ruh dari pendidikan justru relatif jalan di tempat, ketinggalan. Dalam sejumlah laporan media nasional, arah kebijakan pendidikan di Indonesia semakin jelas menempatkan AI dan coding sebagai bagian dari pembelajaran. Memang, langkah ini patut didukung karena menyiapkan generasi masa depan. Tapi ada satu pertanyaan yang nyaris tak pernah ditanyakan dengan sungguh-sungguh, apakah kesiapan pedagogi kita sepadan dengan lompatan teknologi ini? Sebenarnya, yang jadi masalah bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana kita memaknai kegiatan belajar. Belajar, menurut pedagogi klasik, ya proses berpikir bukan sekadar mencetak jawaban. AI datang dengan logika lain yakni kecepatan dan kemudahan. Dua hal yang sering bertolak belakang. Ketika siswa dapat memperoleh esai, ringkasan, bahkan analisis hanya dalam hitungan detik, maka yang terancam bukan sekadar kejujuran akademik, melainkan proses kognitif itu sendiri. Persoalan ini tidak bisa dipahami hanya sebagai masalah kedisiplinan tetapi menyentuh aspek yang lebih mendasar yakni bagaimana proses berpikir siswa terbentuk. Dalam kajian ilmiah, fenomena ini dikenal sebagai cognitive offloading (Risko & Gilbert, 2016), yaitu kecenderungan manusia memindahkan sebagian proses berpikirnya kepada alat eksternal seperti teknologi digital. Studi yang dipublikasikan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD, 2023) mengingatkan bahwa penggunaan teknologi tanpa desain pedagogik yang tepat justru dapat menurunkan kualitas pemahaman mendalam siswa. Anak-anak jadi tidak lagi terbiasa berpikir kritis. Mereka hanya memilah-milah jawaban dari mesin, seperti tukang sortir, bukan pemikir. Kekhawatiran ini disebut Kurniawan & Murtadho (2025) sebagai paradoks kognitif, di mana AI dapat meningkatkan personalisasi sekaligus berpotensi menggerus aspek kognisi inti seperti keterlibatan kognitif (cognitive engagement), retensi, dan pemikiran tingkat tinggi. Akibatnya, efisiensi yang diraih dalam penyelesaian tugas tidak diimbangi dengan pemerolehan pemahaman yang mendalam. Di sinilah terlihat adanya pedagogical lag atau ketertinggalan pedagogi dalam merespons perkembangan teknologi. Banyak guru mulai menggunakan AI, tetapi lebih sering untuk efisiensi administratif seperti membuat soal, merancang materi, atau menyusun laporan. Transformasi pada level pembelajaran seperti membangun dialog reflektif, mendorong inquiry, atau mengasah nalar kritis belum terjadi secara signifikan. Padahal, dalam kerangka Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK), teknologi tidak pernah berdiri sendiri. Ia harus terintegrasi dengan pengetahuan pedagogik dan konten. Tanpa itu, teknologi hanya menjadi alat substitusi, bukan transformasi. Dalam model SAMR, ini disebut level terbawah yakni mengganti alat tanpa mengubah cara belajar sama sekali. Lebih jauh lagi, kehadiran AI juga mengguncang apa yang disebut sebagai epistemic authority guru atau otoritas sebagai sumber pengetahuan. Jika sebelumnya guru adalah rujukan utama, kini siswa memiliki alternatif yang tampak lebih cepat, lengkap, dan selalu tersedia. Dalam situasi ini, peran guru tidak mungkin lagi bertahan sebagai penyampai informasi. Ia harus bergeser menjadi fasilitator yang membimbing proses berpikir, bukan sekadar penyedia jawaban. Sayangnya, perubahan peran ini tidak otomatis terjadi. Data dari laporan UNESCO (2023) menunjukkan bahwa banyak negara, termasuk di kawasan berkembang, masih menghadapi kesenjangan kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi secara pedagogis. Pelatihan yang ada sering berfokus pada penggunaan alat, bukan pada perubahan cara mengajar. Realitas di Indonesia memperkuat kesenjangan ini. Penelitian Halhaji dan Murniati (2025) menunjukkan bahwa kesiapan guru dalam mengintegrasikan AI berbasis kerangka TPACK masih belum merata. Tantangan ini semakin berlapis. Selain persoalan kompetensi, terdapat pula ketimpangan akses, beban administratif guru, serta perubahan kebijakan yang cepat. Akibatnya, inovasi pedagogik sering berhenti pada tataran wacana. Sekolah tampak modern dari luar, tetapi praktik belajar di dalamnya belum banyak berubah. Kalau terus begini, bisa-bisa kita punya generasi yang mahir menggunakan teknologi, tetapi hampa kedalaman nalar. Mereka mampu menghasilkan teks, tetapi tidak terbiasa membangun argumen; cepat menemukan jawaban, tetapi rapuh dalam memahami masalah. Dalam jangka panjang, ini bukan sekadar persoalan pendidikan, melainkan persoalan peradaban. Ormek di Kampus Biru Karena itu, yang mendesak bukan sekadar memasukkan AI ke dalam kurikulum, tetapi menata ulang pedagogi itu sendiri. Pembelajaran harus diarahkan pada proses yang tidak mudah digantikan oleh mesin, di mana berpikir kritis, refleksi, dialog, dan penalaran tetap menjadi perhatian utama. Evaluasi pun perlu berubah tidak lagi hanya menilai jawaban, tetapi cara berpikir Di tengah semua itu, peran guru justru menjadi semakin penting. Bukan hanya sebagai sumber informasi, melainkan sebagai penjaga proses berpikir. Teknologi dapat mempercepat jawaban, tetapi hanya pedagogi yang dapat menjaga makna belajar.

Masih Relevankah Hukuman Fisik di Sekolah Dasar?

Oleh : Khoirul AnamMahasiswa S2 Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang pwmu – Isu kedisiplinan di sekolah dasar kembali mengemuka, terutama ketika perilaku siswa dinilai semakin menantang. Di tengah dinamika tersebut, sebagian pihak masih memandang hukuman fisik sebagai cara cepat untuk menertibkan siswa. Pertanyaannya, masih relevankah pendekatan ini dalam konteks pendidikan masa kini? Secara historis, hukuman fisik pernah dianggap wajar sebagai bagian dari pembentukan karakter. Namun, perkembangan ilmu pendidikan dan psikologi menunjukkan arah yang berbeda. Jean Piaget menegaskan bahwa anak usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, di mana mereka belajar melalui pemahaman sebab-akibat yang logis, bukan melalui rasa takut. Sementara itu, B.F. Skinner dalam teori behaviorisme memang mengakui pentingnya penguatan (reinforcement), tetapi penelitian lanjutan menunjukkan bahwa hukuman—terutama yang bersifat fisik—lebih sering menimbulkan efek jangka pendek dan berisiko memunculkan perilaku agresif atau kecemasan. Sejalan dengan itu, kajian modern seperti yang dirangkum oleh American Academy of Pediatrics (2018) menegaskan bahwa hukuman fisik tidak efektif dalam jangka panjang dan dapat berdampak negatif pada perkembangan emosional anak. Anak mungkin patuh sesaat, tetapi tidak memahami nilai di balik aturan. Dalam konteks pendidikan, kepatuhan tanpa pemahaman bukanlah tujuan utama. Di Indonesia, semangat Kurikulum Merdeka justru menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered learning) dan penguatan karakter melalui pendekatan yang humanis. Disiplin tidak lagi dimaknai sebagai kepatuhan kaku, melainkan sebagai kesadaran diri yang tumbuh dari pemahaman. Guru didorong menjadi fasilitator yang membimbing, bukan otoritas yang menakutkan. Pendekatan disiplin positif menjadi alternatif yang semakin relevan. Tokoh seperti Jane Nelsen melalui konsep Positive Discipline menekankan pentingnya membangun hubungan yang saling menghargai, memberikan konsekuensi logis, serta melibatkan siswa dalam memahami dampak dari perilaku mereka. Misalnya, ketika siswa tidak menjaga kebersihan kelas, alih-alih dihukum fisik, mereka diajak bertanggung jawab membersihkan dan merefleksikan pentingnya lingkungan yang sehat. Pendekatan ini tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga menanamkan nilai. Di lapangan, tantangan tentu tidak sederhana. Guru sering dihadapkan pada keterbatasan waktu, jumlah siswa yang banyak, serta tekanan administratif. Dalam situasi tertentu, hukuman fisik mungkin terasa sebagai jalan pintas. Namun, jalan pintas ini justru berpotensi mengabaikan tujuan pendidikan jangka panjang, yaitu membentuk karakter yang mandiri dan bertanggung jawab. Sekolah perlu hadir sebagai ekosistem yang mendukung perubahan paradigma ini. Pelatihan guru tentang manajemen kelas, dukungan kebijakan yang tegas terhadap perlindungan anak, serta kolaborasi dengan orang tua menjadi kunci. Disiplin tidak bisa hanya dibebankan kepada guru, tetapi harus menjadi budaya bersama. Dengan demikian, dalam konteks kekinian dan semangat Kurikulum Merdeka, hukuman fisik tidak lagi relevan sebagai metode pendisiplinan siswa sekolah dasar. Pendidikan bukan tentang menundukkan, melainkan menuntun. Ketika siswa dipahami, dihargai, dan dibimbing dengan pendekatan yang tepat, disiplin tidak perlu dipaksakan—ia akan tumbuh dengan kesadaran.

Raup Ratusan Juta dari Arang Briket, Alumnus UMM Sukses Tembus Pasar Ekspor

Mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga berani merintis peluang nyata di lapangan. Hal ini dibuktikan oleh Abdurrahman Sayuti, alumnus Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2020, yang sukses meniti karier sebagai eksportir arang briket dengan jangkauan pasar internasional. Kesuksesan pria yang akrab disapa Sayuti ini tidak diraih dalam semalam. Perjalanannya dimulai dari nol pada tahun 2022, saat ia masih duduk di bangku semester tiga. Menariknya, modal awal bisnis ini bukan berasal dari privilese, melainkan dari hasil keringatnya memutar uang lewat bisnis jual-beli motor bekas dan suku cadang. “Modal pertama saya itu murni dari jual-beli motor dan suku cadang. Dari situ saya mulai menabung dan akhirnya berani banting setir membangun perusahaan arang briket,” ungkap Sayuti. Di tahap awal merintis usaha, Sayuti tak segan turun ke lapangan. Sepulang kuliah, ia menjajakan produknya secara langsung di pasar-pasar tradisional. Pengalaman di tingkat akar rumput ini menjadi kawah candradimuka baginya untuk memahami selera dan dinamika pasar. Kerja kerasnya menemui titik terang saat ia aktif membangun jejaring. Titik balik usahanya terjadi ketika Sayuti mengikuti forum bisnis nasional yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur. Kolaborasi dengan pelaku industri profesional di forum tersebut sukses mengantarkannya pada ekspor perdana ke Singapura pada tahun 2023. Kini, skala bisnisnya melesat tajam. Untuk satu kali pengiriman, usahanya mampu memenuhi permintaan pasar ekspor hingga 15 ton arang briket. Angka keuntungan yang diraih pun tidak main-main. “Kalau kita hitung omzet bersih, itu berkisar antara Rp90 juta hingga Rp130 juta untuk sekali transaksi. Angka ini bahkan bisa lebih besar untuk pengiriman dalam skala partai besar,” jelasnya. Di balik deretan angka fantastis tersebut, Sayuti menekankan bahwa relasi atau networking adalah kunci paling krusial untuk bertahan di sektor ekspor. Selain itu, ia mengakui bahwa wawasan akademik yang ia peroleh di UMM khususnya dari mata kuliah Bisnis Internasional memberikan fondasi berpikir yang tajam dalam memetakan peluang pasar global. Sebagai penutup, pengusaha muda ini menitipkan pesan penting bagi kalangan mahasiswa agar berani keluar dari zona nyaman dan tidak hanya terkungkung di ruang kelas. “Sebagai mahasiswa, selain ambisius terhadap nilai akademik, kita juga harus ambisius terhadap pengalaman. Pintar-pintarlah mengambil kesempatan dan memperluas relasi. Dari situlah peluang besar akan terbuka,” pungkasnya.(*rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Cetak Rekor MURI, Guru Besar UMM Kuasai Mimbar Diskusi Islam Internasional

Konsistensi tanpa henti membuahkan prestasi bertaraf dunia. Guru Besar Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ishomuddin, M.Si., resmi mencatatkan namanya di Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai panelis diskusi daring internasional berkesinambungan terbanyak. Penghargaan bergengsi yang diserahkan pada April lalu menjadi bukti pengakuan atas dedikasi luar biasa. Usai melalui proses verifikasi ketat, ia tercatat telah tampil sebagai panelis sebanyak 97 kali hingga Januari 2026 dalam forum International Deliberation on Islam, dan angka ini masih terus bertambah. International Deliberation on Islam adalah panggung strategis yang mempertemukan ulama, akademisi, dan cendekiawan sejagat. Setiap sesinya menyedot perhatian 400 hingga 500 peserta dari berbagai belahan dunia, yang mayoritas merupakan profesor dan doktor. Di hadapan ratusan cendekiawan inilah, gagasannya terus menggema sejak ia mulai aktif pada 2018. Dalam berbagai diskusinya, ia secara tajam membedah epistemologi Islam. Ia memaparkan tiga paradigma utama studi Islam yakni Bayani (teks), Burhani (logika), dan Irfani (spiritual). Menariknya, ia memberikan penekanan khusus pada pendekatan Irfani yang membumikan praktik spiritual dalam kehidupan sehari-hari. “Pendekatan Irfani ini sering kali terabaikan, padahal ia memiliki kedalaman makna yang sangat krusial dalam memahami Islam secara komprehensif,” tegasnya. Dedikasinya tidak berhenti di podium internasional. Gagasan Irfani ini juga terus ia sebarluaskan kepada mahasiswa, dosen, hingga cendekiawan di tingkat lokal dan nasional. Ketajaman intelektualnya terbukti nyata secara tertulis. Selain menjadi panelis dunia, ia adalah seorang akademisi yang sangat produktif. Sejak tahun 2013, ia telah melahirkan sekitar 100 karya yang tercatat resmi sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Rekam jejak ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai ilmuwan yang berdedikasi penuh pada riset dan pengabdian masyarakat. Melalui kiprahnya di puluhan forum dunia, dosen Fakultas Agama Islam UMM itu mengemban misi besar yakni menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat dan inklusif. Ia berharap ruang-ruang dialog internasional ini terus menjadi mesin penggerak keilmuan bagi umat Islam global. Pencapaian monumental ini sekaligus menegaskan posisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai institusi pendidikan yang tak henti mendorong sivitas akademikanya untuk mendobrak batasan dan memberikan kontribusi nyata di kancah dunia.(*rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman