Dari Kelas ke Global: Kisah Sukses Alumnus UMM yang Menembus Pasar Dunia

MALANG, PENAJATIM.COM – Abdullah Dzikri, alumnus Agribisnis UMM tahun 2017, membuktikan bahwa ilmu yang ditempa di bangku kuliah mampu menembus pasar global. Ia sukses mengembangkan usaha keripik buah dan sayur berbasis teknologi vacuum frying, dengan produk olahannya telah menembus pasar Singapura. Dzikri memulai usahanya dengan menjual lumpia di kelas, kemudian memperluas penjualannya hingga ke fakultas lain. Pengalaman tersebut membentuk keberanian serta daya juangnya dalam berbisnis. “Saya menjalankan usaha produksi keripik sayur dan buah dengan memanfaatkan teknologi vacuum frying, yaitu metode penggorengan dalam kondisi kedap udara dengan suhu rendah,” kata Dzikri dikutip dari rilis Bagian Humas UMM, Sabtu (7/3/2026). Teknologi ini memungkinkan Dzikri menghasilkan produk dengan kualitas tinggi dan daya simpan yang lebih lama. Ia juga melibatkan pemberdayaan ibu-ibu di sekitar tempat usaha, menciptakan nilai ekonomi dan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Pada Oktober 2025, Dzikri melakukan ekspor perdana sebanyak 12.000 produk keripik ke Singapura. Saat ini, ia tengah menyiapkan berbagai sertifikasi tambahan untuk memperluas pasar hingga ke Australia dan kawasan Timur Tengah. “Pesan saya, mulailah sejak sekarang dan jangan menunggu usaha menjadi sempurna. Justru melalui proses memulai itulah kita belajar memahami dinamika usaha,” tegas Dzikri. (Zai).
Kampung Budaya Polowijen Jadi Inspirasi Kajian Multidisipliner UMM

MALANG, PENAJATIM.COM – Kampung Budaya Polowijen (KBP) kembali menjadi pusat perhatian akademisi melalui seri webinar Ramadhan 1447 H yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Kebudayaan (PSK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan ini mengangkat KBP sebagai objek kajian multidisipliner yang melibatkan berbagai bidang ilmu. Selama empat hari, webinar ini menghadirkan 12 pembicara dari berbagai disiplin keilmuan dan diikuti oleh sekitar 320 peserta dari berbagai kalangan. “Kampung Budaya Polowijen dipilih karena dinilai berhasil mengembangkan praktik pelestarian budaya berbasis komunitas,” kata Kepala PSK UMM, Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si, Sabtu (7/3/2026). Menurutnya, kajian yang dilakukan tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga berbasis pada pengalaman lapangan. Para pembicara melakukan observasi langsung ke KBP dan berdialog dengan pengelola kampung budaya. Hasil kajian akan diterbitkan sebagai artikel ilmiah dan dihimpun menjadi buku yang akan diserahkan kepada pengelola KBP. Pendekatan multidisipliner ini diharapkan mampu memperkuat hubungan antara dunia akademik dan komunitas budaya. (Zai).
Mulai Patrol, Mobil KaCa, Hingga Menu Sahur Premium, Begini Keseruan UMM Sahur Dengan Gerpakkk

Tradisi patrol untuk membangunkan warga bersahur di bulan Ramadan selalu memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia. Membawa semangat tradisi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggandeng Gerakan Pemuda Kampung Kebalen Kota Lama (Gerpakkk) menggelar acara patrol sahur yang unik di kawasan Kebalen Wetan Gang 8, pada 8 Maret lalu. Kegiatan ini sukses menyedot perhatian lebih dari 300 warga yang turut serta berkeliling kampung. Menariknya, warga setempat memiliki lagu patrol khusus yang dihafal oleh hampir seluruh lapisan masyarakat, membuat suasana dini hari itu terasa semakin semarak dan kompak. Kemeriahan tak berhenti pada keliling kampung saja. UMM turut menghadirkan pengalaman sahur premium di tengah permukiman warga melalui pertunjukan live cooking masakan standar hotel bintang empat. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bentuk kontribusi kampus dalam meramaikan budaya lokal di bulan suci. “Selain ikut patrol, kami juga menyediakan live cooking dan makanan dari hotel yang kampus putih miliki, yakni Rayz Hotel UMM. Semoga agenda ini bisa menjadi penyemangat warga, terutama umat muslim, untuk menjaga semangat berpuasa dan beribadah di bulan Ramadan,” tegas Maharina. Tercatat, ada lebih dari 300 porsi hidangan yang dinikmati oleh warga pada pagi itu. Sembari menunggu waktu imsak tiba, warga juga difasilitasi dengan kehadiran perpustakaan keliling, Mobil Kamis Membaca (KaCa) milik UMM. Koordinator Mobil KaCa, Hassanalwildan, memaparkan bahwa fasilitas ini membawa ratusan buku bacaan yang menjadi hiburan edukatif bagi anak-anak. Tak ketinggalan, para ibu juga diajak berpartisipasi dalam ragam games interaktif yang membagikan banyak doorprize. “Sebelumnya, Mobil KaCa ini juga sudah aktif keliling menyediakan bacaan di berbagai kegiatan seperti Ngabuburead di Gresik dan Merjosari, hingga Sahur on The Road bersama komunitas motor beberapa waktu lalu,” tambah wildan sapaan akrabnya. Inovasi sahur bersama ini menuai respons positif dari masyarakat setempat. Naufal Adnan, salah satu peserta patrol, mengaku sangat senang dengan kehadiran UMM yang membawa banyak fasilitas menarik. Ia berharap UMM dapat terus memperluas kolaborasi semacam ini dengan berbagai komunitas lain untuk menyelenggarakan agenda yang lebih unik, tidak hanya terbatas pada momen Ramadan saja. (*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Ketika Kabar Perang Dunia Sampai ke Tangki Kendaraan

Medan, MISTAR.ID Isu mengenai kemungkinan terjadinya Perang Dunia III belakangan ini ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Meskipun isu tersebut masih berada pada ranah spekulasi global, dampaknya ternyata dapat dirasakan hingga pada level masyarakat lokal. Di Kabupaten Asahan, misalnya, mulai muncul kekhawatiran di tengah masyarakat terkait kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kekhawatiran ini terlihat dari meningkatnya aktivitas masyarakat yang mengisi bahan bakar dalam jumlah lebih sering dari biasanya. Fenomena tersebut dalam kajian ekonomi dikenal sebagai panic buying, yaitu perilaku membeli atau mengonsumsi suatu barang secara berlebihan karena rasa takut akan kelangkaan di masa depan. Dalam perspektif ekonomi perilaku (behavioral economics), tindakan ini sering muncul ketika masyarakat menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian. Ketika muncul informasi mengenai potensi konflik global atau gangguan distribusi energi dunia, sebagian masyarakat cenderung mengambil langkah antisipatif dengan memastikan kendaraan mereka selalu terisi penuh. Akibatnya, permintaan terhadap BBM meningkat dalam waktu yang relatif singkat. Di Kabupaten Asahan sendiri, percakapan mengenai potensi kenaikan harga BBM sering muncul di berbagai tempat, mulai dari warung kopi hingga media sosial. Sebagian masyarakat mulai membicarakan kemungkinan dampak konflik internasional terhadap harga energi dunia. Walaupun kondisi distribusi BBM di daerah sebenarnya masih berjalan normal, kekhawatiran tersebut cukup mempengaruhi perilaku masyarakat dalam beberapa hari terakhir. Fenomena ini juga tidak terlepas dari peran media sosial yang saat ini menjadi sumber informasi utama bagi banyak orang. Informasi mengenai konflik internasional, potensi krisis energi, hingga prediksi kenaikan harga sering beredar secara cepat melalui berbagai platform digital. Sayangnya, tidak semua informasi tersebut disertai dengan penjelasan yang lengkap dan akurat. Narasi yang bersifat dramatis seringkali memicu kekhawatiran yang berlebihan di tengah masyarakat. Menariknya, sebagian konten di media sosial juga menampilkan pengalaman masyarakat yang langsung menuju SPBU untuk mengisi bahan bakar kendaraan mereka. Konten semacam ini terkadang memunculkan efek psikologis bagi penonton. Ketika seseorang melihat orang lain mengisi bahan bakar secara berulang atau dalam jumlah besar, muncul dorongan untuk melakukan hal yang sama karena khawatir akan terjadi kelangkaan. Dalam teori ekonomi klasik, perilaku ini dapat dijelaskan melalui hukum permintaan (law of demand). Ketika masyarakat memperkirakan harga suatu barang akan naik atau ketersediaannya akan terbatas, permintaan terhadap barang tersebut akan meningkat secara signifikan. Peningkatan permintaan yang terjadi secara tiba-tiba inilah yang sering menimbulkan antrean atau kepadatan di beberapa SPBU, meskipun sebenarnya pasokan masih tersedia. Selain dari perspektif ekonomi, fenomena ini juga dapat dilihat dari sudut pandang pendidikan. Tingkat literasi informasi masyarakat sangat menentukan bagaimana mereka merespons isu global yang berkembang. Masyarakat yang memiliki kemampuan berpikir kritis dan literasi media yang baik biasanya lebih mampu menyaring informasi sebelum mengambil keputusan. Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar. Pemahaman dasar mengenai ekonomi, distribusi energi, serta literasi media dapat membantu masyarakat melihat suatu isu secara lebih rasional. Sekolah, lembaga pendidikan, maupun tokoh masyarakat dapat berperan dalam memberikan edukasi bahwa tidak semua isu global harus direspons dengan kepanikan. Fenomena meningkatnya aktivitas pengisian BBM di kalangan masyarakat Asahan pada akhirnya menunjukkan bahwa perilaku ekonomi masyarakat sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, dan arus informasi digital. Isu global yang jauh dari kehidupan sehari-hari dapat dengan mudah memicu kecemasan kolektif ketika diperkuat oleh informasi yang tidak terverifikasi. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk tetap tenang, bijak dalam menerima informasi, dan tidak terjebak dalam kepanikan yang berlebihan. (*)
15 Universitas Terbaik di Malang dan Jawa Timur

medanaktual, Malang dikenal sebagai salah satu kota pendidikan di Jawa Timur yang memiliki banyak perguruan tinggi berkualitas. Tidak hanya mahasiswa dari daerah sekitar, kota ini juga menjadi tujuan favorit bagi pelajar dari berbagai wilayah di Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di Malang dan beberapa wilayah lain di Jawa Timur terdapat sejumlah universitas yang memiliki reputasi baik, baik dari segi kualitas pendidikan, fasilitas kampus, maupun prestasi akademik. Berikut ini 15 universitas terbaik di Malang dan Jawa Timur yang dapat menjadi pilihan bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studi. Daftar Universitas Terbaik di Malang dan Jawa Timur Berdasarkan data terbaru dari AppliedHE 2025, QS World University Rankings 2026, dan EduRank, terdapat sejumlah perguruan tinggi terbaik di wilayah Malang dan Jawa Timur yang menjadi referensi utama bagi calon mahasiswa. Penilaian ini didasarkan pada beberapa indikator penting seperti reputasi akademik, kualitas fasilitas pendidikan, serta tingkat kepercayaan dunia kerja (employer reputation) terhadap lulusan dari masing-masing universitas. Berikut daftar universitas terbaik di Malang dan Jawa Timur, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta: Peringkat Nama Universitas Lokasi Kategori Keunggulan Utama 1 Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya Negeri Kedokteran & Hukum 2 Universitas Brawijaya (UB) Malang Negeri Pertanian & Teknik 3 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Negeri Teknologi & Sains 4 BINUS University @Malang Malang Swasta Digital Technopreneur & Global Path 5 Universitas Negeri Malang (UM) Malang Negeri Pendidikan & Psikologi 6 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Malang Swasta Ilmu Sosial & Kedokteran 7 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Malang Negeri Sains & Agama 8 Universitas Surabaya (UBAYA) Surabaya Swasta Farmasi & Bisnis 9 Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Surabaya Negeri Olahraga & Kependidikan 10 Universitas Islam Malang (Unisma) Malang Swasta Manajemen & Pertanian 11 Universitas Jember (UNEJ) Jember Negeri Sains Terapan 12 Universitas Kristen Petra Surabaya Swasta Arsitektur & Desain 13 Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang Malang Swasta Teknik Terapan 14 Universitas Ma Chung Malang Swasta Bisnis Digital 15 Universitas Merdeka (Unmer) Malang Malang Swasta Ekonomi & Kewirausahaan Mengapa Malang Menjadi Kota Favorit untuk Kuliah? Malang dikenal sebagai salah satu kota pendidikan terbaik di Jawa Timur yang setiap tahun menarik ribuan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Kota ini memiliki berbagai kampus ternama dengan kualitas pendidikan yang kompetitif di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu, Malang juga sering masuk dalam daftar kota paling layak huni di Indonesia. Hal ini didukung oleh beberapa faktor seperti iklim yang sejuk dengan suhu rata-rata 18°C hingga 26°C, lingkungan yang nyaman untuk belajar, serta biaya hidup yang relatif lebih terjangkau dibandingkan kota besar lain seperti Jakarta dan Surabaya. Kesimpulan Malang dan wilayah Jawa Timur memiliki banyak pilihan perguruan tinggi berkualitas, baik universitas negeri maupun swasta. Dengan reputasi akademik yang baik, fasilitas pendidikan yang memadai, serta lingkungan kota yang nyaman bagi mahasiswa, tidak heran jika Malang menjadi salah satu destinasi kuliah favorit di Indonesia.
Dokter UMM Soroti Menu Program MBG yang Dinilai Belum Seimbang

timesindonesia – MALANG Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah terus mendapat sorotan dari kalangan tenaga kesehatan. Sejumlah temuan di lapangan menunjukkan menu yang disajikan dinilai belum sepenuhnya memenuhi prinsip gizi seimbang. Dokter sekaligus akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. dr. Febri Endra Budi S., M.Kes., FISPH., FISCM, menyampaikan bahwa makanan bergizi seimbang harus mengandung unsur karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam porsi yang cukup. “Kalau dulu kita mengenal istilah 4 sehat 5 sempurna, yakni terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur mayur, buah, dan susu,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat (7/3/2026). Ia menjelaskan, kebutuhan gizi dasar idealnya terdiri dari sekitar 40 persen karbohidrat, 40 persen protein, dan sisanya lemak. Dalam konteks program MBG, menurutnya, yang perlu diperhatikan secara serius adalah jumlah kalori dalam setiap menu yang disajikan kepada siswa. Dokter Febri menambahkan bahwa kebutuhan kalori harian anak rata-rata sekitar 1.500 kalori. Karena itu, perhitungan nilai kalori dalam menu MBG harus dilakukan secara tepat. Selain komposisi gizi, pemilihan bahan baku makanan juga dinilai penting. Hal ini mengingat sasaran program adalah siswa sekolah yang menjalani aktivitas belajar hingga sore hari. Pemilihan bahan pangan yang kurang tepat berpotensi menimbulkan rasa kantuk setelah makan. “Kadang anak-anak setelah makan MBG justru mengantuk. Bahan pangan yang bisa memicu rasa kantuk sebaiknya dikurangi,” imbuhnya. Ia juga menyoroti menu MBG selama Ramadan yang banyak beredar di media sosial. Sejumlah unggahan menunjukkan menu yang diterima siswa didominasi roti, abon, keripik, hingga makanan ringan. Menurutnya, hal tersebut tidak menjadi masalah selama kandungan gizi dan kalorinya dihitung secara presisi oleh pihak dapur penyedia makanan. Namun ia mengingatkan bahwa beberapa produk seperti abon kerap memiliki kandungan daging yang sangat sedikit karena lebih banyak menggunakan bahan pengisi. Dokter Febri juga mengingatkan agar penggunaan ultra processed food (UPF) atau makanan olahan berlebih tidak terlalu sering dimasukkan dalam menu MBG. “Contohnya roti, harus diperhatikan jenis pengembang yang digunakan serta tanggal kedaluwarsanya. Jangan sampai ada roti berjamur yang disuguhkan,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran ahli gizi dalam pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, setiap menu yang akan disajikan perlu melalui proses monitoring dan evaluasi untuk memastikan keamanan pangan hingga sampai ke tangan siswa. Ia juga menyarankan pemerintah menempatkan ahli gizi di setiap satuan penyedia makanan sebagai pengawas kualitas yang independen. Monitoring dan evaluasi, kata dia, harus dilakukan secara ketat dan transparan agar tujuan meningkatkan kualitas generasi muda dapat tercapai. “Monitoring dan evaluasi harus dilaksanakan secara ketat supaya anggaran yang dikeluarkan tidak sia-sia dan cita-cita mencetak generasi unggul bangsa dapat tercapai,” ucapnya. (*)
UMM Gelar Buka Puasa Bersama Media, Tradisi Silaturahmi Kampus dan Pers Lebih dari 25 Tahun

MAKLUMAT – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar buka puasa bersama dengan insan pers. Kegiatan yang berlangsung di Aula BAU Kampus 3 UMM, Kamis (5/3/2026), menjadi momentum mempererat silaturahmi antara pimpinan kampus, tim Humas UMM, serta wartawan dari berbagai media. Selain menjadi ajang kebersamaan di bulan Ramadan, kegiatan buka puasa bersama tersebut juga menjadi ruang diskusi mengenai peran media dan perguruan tinggi dalam membaca dinamika masyarakat. Suasana berlangsung hangat dengan berbagai percakapan mengenai perjalanan panjang kolaborasi antara kampus dan media. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., mengatakan tradisi buka puasa bersama dengan media telah berlangsung sejak masa kepemimpinan Rektor sebelumnya, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. Tradisi tersebut bahkan telah berjalan lebih dari 25 tahun dan menjadi bagian dari hubungan historis antara UMM dan insan pers. Menjaga Tradisi dan Ukhuwah “Buka puasa bersama dengan media ini sudah dimulai sejak zaman Pak Muhadjir. Artinya tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 25 tahun dan terus dijaga hingga sekarang,” ujarnya. Menurut Nazaruddin, hubungan antara kampus dan media memiliki peran penting dalam perkembangan universitas. Dalam banyak momentum, media menjadi jembatan yang membantu masyarakat memahami berbagai gagasan yang lahir dari perguruan tinggi. Ia menjelaskan bahwa lanskap media di Indonesia telah mengalami perubahan besar. Jika dahulu media cetak menjadi sumber utama informasi masyarakat, kini perkembangan teknologi menghadirkan berbagai bentuk media baru dengan pola produksi informasi yang semakin beragam. Digitalisasi Arus Informasi “Dulu media yang kita amati adalah media mainstream, terutama media cetak. Bahkan membawa kartu pers bisa membuka akses ke banyak tempat. Sekarang situasinya berbeda karena media berkembang menjadi non-mainstream dan semakin tidak terinstitusionalisasi,” jelasnya. Meski demikian, Nazaruddin menilai peran media tetap sangat strategis dalam kehidupan sosial. Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga ikut membentuk cara pandang publik terhadap berbagai isu. Karena itu, melalui kegiatan buka puasa bersama ini, UMM ingin terus menjaga hubungan baik dengan insan pers. Menurutnya, hubungan tersebut dapat diibaratkan sebagai simbiosis kultural yang saling menguatkan antara perguruan tinggi dan media. Hubungan Media dan Kampus “UMM tidak akan seperti sekarang tanpa media. Perubahan media yang semakin beragam juga memengaruhi bagaimana kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Semua itu membawa UMM terus bergerak menjadi universitas yang berdampak,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa menjadi universitas berdampak tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kontribusi nyata bagi masyarakat. Kampus, kata dia, harus mampu menyerap aspirasi sosial dan menerjemahkannya menjadi gagasan serta solusi yang bermanfaat. “Berbuat baik itu ketika kita jauh dari kepentingan pribadi atau golongan. Kebaikan harus dirasakan oleh semua orang. Karena itu kita harus bekerja keras dengan sepenuh hati untuk menghasilkan manfaat bagi banyak pihak,” pungkasnya.
Menyiasati Minder Saat Bukber: Tips dari Psikolog UMM

beritajejakfakta – Buka bersama (bukber) seharusnya menjadi momen mempererat silaturahmi. Namun, tak jarang momen ini justru memicu perbandingan sosial, terutama saat obrolan menyentuh topik karier, bisnis, studi, atau bahkan pernikahan. Lalu, bagaimana cara menyikapi perasaan minder yang mungkin muncul? Menurut Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, rasa minder tidak serta-merta muncul karena acara bukber itu sendiri. Melainkan, karena adanya pertemuan dengan teman-teman yang progres kehidupannya berbeda. Situasi ini tanpa sadar mendorong seseorang melakukan upward social comparison, yakni membandingkan diri dengan orang lain yang pencapaiannya dinilai lebih tinggi. “Sebetulnya penekanan yang membuat minder bukan pada kegiatan bukbernya, tapi pada bagaimana saat kita bertemu dengan orang-orang yang progres kehidupannya berbeda dengan kita. Saat kita melihat ada teman yang lebih sukses, kita jadi membandingkan diri kita dengan orang tersebut. Ketika itu terjadi, perasaan iri, cemas, dan minder sangat mungkin muncul sebagai respons,” ujarnya Jumat (6/3/2026). Atika menambahkan, dorongan untuk membandingkan diri semakin kuat saat bertemu teman lama. Faktor kemiripan membuat perbandingan terasa lebih relevan dan personal. Teman SMA atau kuliah dianggap memiliki titik awal yang sama. Sehingga, secara tidak sadar menjadi tolok ukur keberhasilan hidup saat ini. “Karena merasa punya sejarah yang sama, kita cenderung berpikir seharusnya posisi kita sekarang tidak jauh berbeda,” ucapnya. Padahal, setiap individu memiliki ritme perkembangan yang unik. Meski begitu, perasaan minder dalam interaksi sosial adalah hal yang wajar. Manusia secara alami membandingkan diri untuk memahami posisi dan kondisi diri, termasuk kemampuan, kepribadian, dan sikap. Proses perbandingan diri ini, ditegaskan Atika, tidak selalu berdampak negatif. Membandingkan diri dengan individu yang lebih sukses dapat menjadi motivasi untuk berkembang. Di sisi lain, melihat orang dengan capaian yang berbeda juga bisa menumbuhkan rasa syukur dan kepercayaan diri, asalkan dimaknai secara proporsional. Media sosial, lanjut Atika, juga berperan dalam memperkuat kecenderungan perbandingan sosial. Penelitian menunjukkan bahwa semakin sering seseorang mengamati kehidupan orang lain di media sosial, semakin rendah tingkat self-esteem yang dimilikinya. Padahal, konten yang ditampilkan seringkali hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang dan tidak mencerminkan realitas secara utuh. Untuk menjaga kepercayaan diri saat berinteraksi dengan banyak orang, Atika menyarankan untuk tidak hanya berfokus pada mereka yang pencapaiannya lebih tinggi. Tetapi juga belajar melihat perjalanan hidup orang lain secara lebih proporsional. Selain itu, penting untuk mengalihkan energi pada pengembangan diri. Caranya, dengan menanyakan pada diri sendiri langkah konkret apa yang bisa dilakukan untuk berkembang. Biasakan juga menuliskan setidaknya tiga perkembangan yang telah dicapai sebagai pengingat bahwa setiap individu tumbuh dengan waktu dan ritme yang berbeda. “Jika overthinking berlangsung lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari, maka bantuan profesional selalu tersedia,” ucapnya.
Anti Minder Saat Bukber dengan Meningkatkan Self Esteem

Momentum buka bersama (bukber) adalah hal yang paling ditunggu ketika Ramadan. Namun, tak jarang buka bersama menjadi arena pertandingan untuk unjuk kesuksesan. TIMESINDONESIA, MALANG – Momentum buka bersama (bukber) adalah hal yang paling ditunggu ketika Ramadan. Selain bisa berkumpul, buka bersama juga ruang untuk mempererat persaudaraan bersama keluarga, teman, atau kolega. Namun, tak jarang buka bersama menjadi arena pertandingan untuk unjuk kesuksesan. Obrolan tentang karier, pendidikan, bisnis, hingga pernikahan membuat sebagian orang mempertanyakan posisi mereka. Menanggapi hal tersebut, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari menjelaskan bahwa rasa minder yang muncul bukan karena momentum bukber, tetapi karena bertemu teman yang memiliki progress kehidupan berbeda, sehingga memunculkan upward social comparison ketika melihat pencapaian orang lain lebih tinggi. “Ketika kita melihat teman kita lebih sukses, maka secara tidak langsung kita akan membandingkannya, dan itu yang memunculkan rasa cemas, khawatir, perasaan iri, dan minder,” ujarnya. Menurutnya, dorongan untuk membandingkan diri tersebut semakin kuat ketika pertemuan terjadi dengan teman lama karena adanya faktor kemiripan yang relevan. Lanjut Atika, teman SMA atau kuliah dianggap memiliki titik awal yang sama dan secara tidak sadar menjadi tolok kehidupan saat ini. Semakin besar kemiripan yang dirasakan, maka semakin besar pula kecenderungan menjadikan mereka sebagai benchmark dalam menilai kondisi diri sendiri, baik dari segi karier, relasi, maupun capaian finansial. “Karena kita punya sejarah yang sama, akhirnya kita berpikir seharusnya posisi kita tidak jauh berbeda,” imbuhnya. Dosen psikologi tersebut menjelaskan bahwa sebenarnya setiap orang memiliki ritme hidup yang berbeda. Tetapi ia juga tidak menolak bahwa rasa minder yang dirasakan adalah hal yang wajar. Menurut Atika, proses tersebut tidak selalu berdampak negatif. Membandingkan diri dengan mereka yang lebih sukses dapat menjadi sumber motivasi untuk berkembang. Dan selama individu dapat memaknai hal tersebut secara proporsional, maka dapat menumbuhkan rasa bersyukur dan mempererat kepercayaan diri. Ia juga memperingatkan bahwa peran media sosial dalam hal ini cukup berdampak. Orang yang terlalu sering melihat pencapaian orang lain di media sosial cenderung menurunkan self esteem yang dimiliki. “Sering melihat pencapaian orang lain di media sosial bisa menurunkan self esteem, padahal itu hanya potongan kecil dari kehidupan seseorang,” pungkasnya. Supaya tetap percaya diri, Atika menyarankan untuk tetap agar individu tidak hanya fokus pada mereka yang pencapaiannya lebih tinggi, tetapi juga belajar melihat perjalanan orang lain secara lebih proporsional. Ia juga mengingatkan untuk mengalihkan energi pada pengembangan diri dengan bertanya langkah konkret apa yang bisa dilakukan untuk berkembang. “Bisa menuliskan minimal tiga perkembangan apa yang sudah dilakukan, sebagai pengingat bahwa setiap individu memiliki ritme perkembangan yang berbeda,” tutur Atika. (*)
Kampung Budaya Polowijen Jadi Objek Kajian Multidisipliner Pusat Studi Kebudayaan UMM

Kampung Budaya Polowijen (KBP) kembali menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium kebudayaan bagi kalangan akademisi. Melalui seri webinar Ramadhan 1447 H, Pusat Studi Kebudayaan (PSK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengangkat Kampung Budaya Polowijen sebagai objek kajian multidisipliner yang melibatkan berbagai bidang ilmu. Kegiatan ini diselenggarakan selama empat hari, Selasa hingga Jumat (3–6/3/2026), dengan menghadirkan 12 pembicara dari berbagai disiplin keilmuan. Selama empat hari pelaksanaan, webinar ini diikuti sekitar 320 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, guru, hingga masyarakat umum dari berbagai daerah di Indonesia. Kepala PSK UMM, Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si., menjelaskan bahwa Kampung Budaya Polowijen dipilih karena dinilai berhasil mengembangkan praktik pelestarian budaya berbasis komunitas. Menurutnya, kampung ini tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga mengelola budaya sebagai sumber pembelajaran, pemberdayaan, dan pengembangan masyarakat. “Ini merupakan komitmen Pusat Studi Kebudayaan UMM dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi berbasis komunitas kebudayaan. Kampung Budaya Polowijen telah menunjukkan bagaimana budaya dapat menjadi kekuatan dalam membangun identitas dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya Kajian yang dilakukan tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga berbasis pada pengalaman lapangan. Sebelum pelaksanaan webinar, para pembicara terlebih dahulu melakukan observasi langsung ke Kampung Budaya Polowijen. Mereka berdialog dengan pengelola kampung budaya dan mengamati berbagai aktivitas budaya yang berkembang di sana, mulai dari kesenian, tradisi kuliner, hingga praktik pendidikan berbasis kearifan lokal. Sementara itu, Sekretaris PSK UMM sekaligus PIC kegiatan, Dr. Frida Kusumastuti, M.Si., menjelaskan bahwa setelah observasi lapangan, para akademisi diberi kesempatan untuk melakukan penggalian data lebih lanjut sesuai dengan perspektif keilmuan masing-masing selama kurang lebih dua bulan. “Dari proses itulah lahir berbagai kajian yang kemudian dipresentasikan dalam webinar ini. Semua tulisan nantinya akan diterbitkan sebagai artikel ilmiah dan juga dihimpun menjadi buku yang akan kami serahkan kepada pengelola Kampung Budaya Polowijen,” jelas Frida. Melalui pendekatan multidisipliner, Kampung Budaya Polowijen dilihat dari berbagai sudut pandang. Dari sisi hukum, dibahas mengenai pentingnya regulasi sebagai pilar pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Dari perspektif pendidikan, para peneliti mengkaji nilai-nilai kehidupan dalam tembang macapat serta penerapannya dalam pembelajaran berbasis budaya. Sementara itu, kajian kesehatan menyoroti budaya minum jamu sebagai praktik tradisional yang memiliki potensi meningkatkan imunitas masyarakat. Kajian lain juga membahas makanan tradisional, filosofi budaya, serta praktik kesehatan berbasis kearifan lokal yang masih dijaga oleh masyarakat Polowijen. Dari bidang komunikasi dan teknologi, Kampung Budaya Polowijen dipandang sebagai ruang narasi budaya yang dapat dikembangkan melalui media digital, termasuk pengembangan web galeri interaktif untuk memperluas jangkauan promosi budaya kepada generasi muda. Tidak hanya itu, perspektif sosiologi dan psikologi juga melihat kampung budaya ini sebagai ruang refleksi sosial sekaligus representasi perjalanan nilai-nilai budaya masyarakat. Bahkan tembang-tembang macapat yang hidup di lingkungan kampung tersebut dikaji sebagai refleksi tahapan perkembangan individu dalam perspektif psikologi. Bagi Pusat Studi Kebudayaan UMM, Kampung Budaya Polowijen tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga mitra strategis dalam pengembangan pendidikan kebudayaan berbasis pengalaman langsung. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat hubungan antara dunia akademik dan komunitas budaya, sekaligus mendorong lahirnya berbagai gagasan baru untuk pelestarian dan pengembangan budaya lokal.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman