UMM Sahur On The Road, Ajak Tunawisma hingga Tukang Becak Sahur Bareng dengan Konsep Barbeque

MALANGVOICE– Suasana sahur yang berbeda terlihat di kawasan Pasar Besar Malang pada Kamis dini hari (5/3). Di pinggir jalan, sejumlah orang tampak menikmati makanan yang dimasak langsung dengan konsep barbeque sederhana. Kegiatan tersebut merupakan program Sahur On The Road (SOTR) yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan komunitas Muhammadiyah University Riders (MURID). Tak sekadar membagikan makanan sahur, para relawan juga mengajak tunawisma, tukang becak, hingga pengguna jalan untuk makan bersama. Suasana kebersamaan pun terasa hangat di tengah aktivitas kota pada dini hari. Rombongan Sahur On The Road bergerak mengelilingi sejumlah titik di pusat Kota Malang, terutama di sekitar kawasan alun-alun dan Pasar Besar. Lokasi tersebut diketahui menjadi tempat beristirahat bagi sebagian masyarakat marjinal pada malam hingga dini hari. Para relawan berhenti di beberapa titik untuk membagikan makanan sekaligus mengajak mereka menikmati sahur bersama. Kolaborasi dengan komunitas MURID menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Komunitas yang beranggotakan dosen dan karyawan UMM tersebut ikut bergerak bersama rombongan untuk menjangkau masyarakat di sejumlah lokasi. Ketua komunitas MURID, Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., yang akrab disapa Jack, menjelaskan bahwa MURID merupakan komunitas motor yang menjadi wadah kebersamaan civitas akademika UMM yang memiliki minat pada dunia otomotif sekaligus kegiatan sosial. Menurutnya, komunitas tersebut resmi terbentuk pada 2018, meskipun embrionya sudah muncul dari pertemuan informal antaranggota sebelumnya. “MURID itu komunitas motor yang anggotanya dosen dan karyawan UMM. Kepanjangannya Muhammadiyah University Riders. Filosofinya sederhana, bahwa manusia pada dasarnya adalah murid yang harus terus belajar sepanjang hidup, sejak dari ayunan sampai liang lahat,” ujarnya. Ia menambahkan, penamaan tersebut juga terinspirasi dari pesan dalam tradisi keilmuan Muhammadiyah yang mendorong setiap individu untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat sekaligus mampu berbagi pengetahuan kepada orang lain. Dalam kegiatan sahur bersama ini, makanan dimasak langsung di lokasi menggunakan konsep barbeque sederhana. Cara tersebut menghadirkan pengalaman sahur yang berbeda sekaligus menciptakan suasana yang lebih akrab antara relawan dan masyarakat. “Saya sendiri bahkan baru pertama kali makan sahur dengan konsep seperti ini. Begitu ada undangan dari Humas UMM untuk mengikuti SOTR, saya langsung siap. Rasanya menyenangkan karena kita bisa berbagi sekaligus makan bersama dengan masyarakat,” ungkap Jack. Sementara itu, Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sosial kampus kepada masyarakat, khususnya mereka yang berada dalam kondisi rentan seperti tunawisma. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan kegiatan sosial yang mampu mempertemukan civitas akademika dengan masyarakat secara lebih dekat. “Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Sahur tidak hanya tentang makan, tetapi juga tentang berbagi serta mempererat silaturahmi antara kampus dan masyarakat,” jelasnya. Ia menambahkan, konsep barbeque sengaja dihadirkan agar kegiatan sahur terasa lebih hangat dan tidak sekadar menjadi pembagian makanan. “Dengan memasak bersama di pinggir jalan, masyarakat yang hadir dapat menikmati sahur dalam suasana yang lebih santai dan akrab,” katanya. Melalui kegiatan Sahur On The Road ini, UMM memanfaatkan momentum Ramadan untuk menghadirkan dakwah sosial yang lebih membumi dan inklusif. Kolaborasi bersama komunitas MURID juga menunjukkan bahwa aktivitas kampus tidak hanya berpusat pada ruang akademik, tetapi dapat hadir langsung di tengah masyarakat melalui kegiatan sederhana yang sarat nilai kepedulian dan kebersamaan.(der)
Buka Puasa Bersama: UMM dan Media Perkuat Kolaborasi untuk Perubahan

MALANG (SurabayaPost.id) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjalin silaturahmi dengan insan pers melalui kegiatan buka puasa bersama di Aula BAU Kampus 3 UMM, Kamis (5/3/2025). Kegiatan ini menjadi momentum refleksi mengenai peran media dan perguruan tinggi dalam membaca dinamika masyarakat. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si, mengatakan tradisi buka puasa bersama dengan media telah berlangsung lebih dari 25 tahun dan menjadi bagian dari hubungan historis antara UMM dan insan pers. “Buka puasa bersama dengan media ini sudah dimulai sejak zaman Pak Muhadjir. Artinya tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 25 tahun yang lalu dan terus dijaga hingga sekarang,” ujarnya. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si, mengatakan tradisi buka puasa bersama dengan media telah berlangsung lebih dari 25 tahun. Nazaruddin menjelaskan bahwa perubahan besar dalam dunia media telah memengaruhi cara kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Namun, peran pers tetap sangat penting dalam kehidupan sosial, membentuk pemikiran publik, dan mendorong perubahan sosial. “Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk pemikiran publik dan mendorong perubahan sosial,” tambahnya. Dalam kesempatan ini, Nazaruddin juga menekankan pentingnya kolaborasi antara UMM dan media dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. “UMM tidak ada tanpa media. Perubahan media yang semakin beragam juga memengaruhi bagaimana kampus berkomunikasi dengan masyarakat,” ungkapnya. Kegiatan buka puasa bersama ini dihadiri oleh jajaran pimpinan UMM, tim Humas UMM, dan wartawan dari berbagai media. Suasana akrab dan hangat mewarnai acara ini, dengan diskusi yang mendalam tentang peran media dan perguruan tinggi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Dengan kegiatan ini, UMM berharap dapat mempererat hubungan dengan insan pers dan meningkatkan komitmen untuk menjalin kolaborasi yang saling menguatkan. “Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong perubahan sosial,” tutup Nazaruddin. (lil).
Penelitian UMM Soroti Potensi Kampung Budaya Polowijen Malang sebagai Laboratorium Budaya

TIMESMALANG, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyoroti potensi budaya yang berkembang di Kampung Budaya Polowijen (KBP) melalui kajian akademik yang dilakukan oleh Pusat Studi Kebudayaan UMM. Penelitian tersebut menggali lebih dalam potensi KBP dari berbagai perspektif keilmuan, mulai dari kajian hukum, pendidikan dan bahasa, pemberdayaan masyarakat, kesehatan, komunikasi, sosiologi, tarbiyah, hingga psikologi. Kepala Pusat Studi Kebudayaan UMM, Daroe Iswatiningsih, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma, khususnya pengabdian kepada masyarakat berbasis komunitas budaya. “Ini adalah komitmen dari perguruan tinggi untuk KBP,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan kebudayaan yang bertumpu pada pengalaman langsung serta penulisan kebudayaan sebagai salah satu ciri khas Pusat Studi Kebudayaan yang berada di lingkungan perguruan tinggi. Dalam penelitian ini, Kampung Budaya Polowijen mendapatkan apresiasi atas upaya masyarakatnya dalam membangun infrastruktur sekaligus menjaga keberlanjutan budaya lokal melalui pendekatan komunitas. Proses penggalian data dilakukan para peneliti selama kurang lebih dua bulan. Berbagai topik menarik turut dikaji, mulai dari regulasi pariwisata berbasis komunitas, nilai pendidikan dalam tembang macapat, budaya minum jamu untuk meningkatkan imunitas kesehatan, hingga pengembangan produk minuman fungsional berbasis resep tradisional Polowijen. Selain itu, para peneliti juga menyoroti pentingnya pendidikan berbasis kearifan lokal, pelestarian makanan tradisional, hingga pemanfaatan teknologi melalui web galeri interaktif untuk memperkenalkan budaya Polowijen kepada generasi muda. Hasil penelitian tersebut nantinya akan diterbitkan dalam bentuk artikel ilmiah serta dirangkum menjadi buku yang kemudian diserahkan kepada Kampung Budaya Polowijen sebagai bahan pengembangan di masa mendatang. Sekretaris Pusat Studi Kebudayaan UMM, Frida Kusumastuti, mengatakan bahwa ide-ide dari berbagai disiplin ilmu tersebut diharapkan dapat menjadi pijakan untuk pengembangan kampung budaya secara berkelanjutan. “Nantinya hasil kajian akan kami terbitkan dan serahkan ke KBP. Harapannya ide-ide dari berbagai disiplin ilmu ini secara bertahap dapat dikembangkan di KBP dan Pusat Studi Kebudayaan UMM bersama komunitas lain sehingga semakin menarik perhatian,” ujarnya. Melalui kajian multidisiplin tersebut, Kampung Budaya Polowijen dinilai bukan sekadar kampung yang menjaga tradisi. Lebih dari itu, kawasan ini dipandang sebagai laboratorium budaya yang dapat dikembangkan melalui pendekatan akademik serta kolaborasi lintas bidang ilmu. (*)
UMM dan Komunitas MURID Gelar Sahur On The Road untuk Tunawisma di Kota Malang

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan sahur unik dengan konsep barbeque di pinggir jalan melalui kegiatan Sahur On The Road (SOTR) yang digelar di kawasan Pasar Besar Malang, Kamis dini hari, 5 Maret 2026.Kegiatan yang berlangsung di pusat Kota Malang ini tidak sekadar membagikan makanan sahur kepada masyarakat. Para relawan justru mengajak tunawisma, tukang becak, hingga pengguna jalan untuk duduk bersama menikmati sahur dengan konsep barbeque sederhana di pinggir jalan. Suasana hangat pun tercipta ketika civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang berbaur langsung dengan masyarakat yang menjalani aktivitas di ruang-ruang kota pada waktu dini hari. Kolaborasi Kampus dan Komunitas Motor Kegiatan Sahur On The Road ini juga melibatkan komunitas Muhammadiyah University Riders (MURID), yang menjadi salah satu motor penggerak dalam pelaksanaannya. Komunitas yang beranggotakan dosen dan karyawan UMM tersebut ikut bergerak bersama rombongan relawan untuk menjangkau sejumlah titik di pusat Kota Malang. Ketua komunitas MURID, Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., yang akrab disapa Jack, menjelaskan bahwa MURID merupakan komunitas motor yang dibentuk sebagai wadah kebersamaan civitas akademika UMM yang memiliki minat pada dunia otomotif sekaligus kegiatan sosial. Menurutnya, komunitas tersebut resmi terbentuk pada tahun 2018, meskipun embrionya telah muncul dari berbagai pertemuan informal antaranggota sebelumnya. “MURID itu komunitas motor yang anggotanya dosen dan karyawan UMM. Kepanjangannya Muhammadiyah University Riders. Filosofinya sederhana, bahwa manusia pada dasarnya adalah murid yang harus terus belajar sepanjang hidup, sejak dari ayunan sampai liang lahat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa penamaan tersebut juga terinspirasi dari tradisi keilmuan Muhammadiyah yang mendorong setiap individu untuk terus menjadi pembelajar sepanjang hayat sekaligus mampu berbagi pengetahuan kepada orang lain. Menyasar Masyarakat Marjinal di Pusat Kota Dalam pelaksanaannya, rombongan SOTR mengelilingi sejumlah titik di pusat Kota Malang, khususnya di kawasan sekitar alun-alun dan pasar yang pada malam hingga dini hari sering menjadi tempat beristirahat kelompok masyarakat marjinal. Para relawan berhenti di beberapa lokasi untuk membagikan makanan sahur sekaligus mengajak para tunawisma, tukang becak, serta pengguna jalan yang melintas untuk makan bersama. Konsep barbeque sederhana yang dihadirkan dalam kegiatan ini memberikan pengalaman sahur yang berbeda dari biasanya. Makanan dimasak langsung di lokasi sehingga menghadirkan suasana yang lebih akrab dan penuh kebersamaan. “Saya sendiri bahkan baru pertama kali makan sahur dengan konsep seperti ini. Begitu ada undangan dari Humas UMM untuk mengikuti SOTR, saya langsung siap. Rasanya menyenangkan karena kita bisa berbagi sekaligus makan bersama dengan masyarakat,” ungkap Jack. Ramadan sebagai Momentum Kepedulian Sosial Sementara itu, Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sosial kampus kepada masyarakat, terutama mereka yang berada dalam kondisi rentan seperti para tunawisma. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan kegiatan sosial yang mampu mempertemukan civitas akademika dengan masyarakat secara lebih dekat. “Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Sahur tidak hanya tentang makan, tetapi juga tentang berbagi serta mempererat silaturahmi antara kampus dan masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa konsep barbeque sengaja dihadirkan agar kegiatan sahur terasa lebih hangat dan tidak sekadar menjadi pembagian makanan semata. “Dengan memasak bersama di pinggir jalan, masyarakat yang hadir dapat menikmati sahur dalam suasana yang lebih santai dan akrab,” lanjutnya. Melalui kegiatan Sahur On The Road ini, UMM memanfaatkan momentum Ramadan untuk menghadirkan dakwah sosial yang lebih membumi dan inklusif. Kolaborasi bersama komunitas MURID juga menunjukkan bahwa aktivitas kampus tidak hanya berpusat pada ruang akademik, tetapi dapat hadir langsung di tengah masyarakat melalui kegiatan sederhana yang sarat dengan nilai kepedulian dan kebersamaan. *) Penulis : Faqih *) Editor : Satria
UMM Berkembang bersama Media dan Insan Pers

MALANG, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat hubungan dengan insan pers melalui kegiatan temu media dan buka bersama yang digelar pada Kamis, (5/32026). Kegiatan yang berlangsung di Aula BAU UMM ini dihadiri oleh berbagai media lokal, nasional, influencer, serta media persyarikatan Muhammadiyah. Sejumlah media mainstream dan media persyarikatan yang hadir di antaranya Suara Muhammadiyah, PWMU.CO, Maklumat.id, hingga Majelistabligh.id. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik beserta jajaran wakil rektor. Acara diawali dengan kultum Ramadan yang memberikan penguatan spiritual bagi para tamu undangan sebelum memasuki sesi dialog dan silaturahmi media. Dalam sambutannya, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik menegaskan bahwa hubungan antara UMM dan media bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, melainkan tumbuh secara alami seiring kebutuhan kampus untuk hadir di tengah masyarakat. Menurutnya, sejak lama UMM menyadari pentingnya media sebagai mitra strategis dalam menyampaikan gagasan, aktivitas, serta kontribusi kampus kepada publik. “UMM itu tumbuh bersama media dan insan pers. Ini semua tidak disetting, tetapi memang kebutuhan kampus agar dikenal orang, agar kita bisa memahami masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan, melalui media, kampus juga dapat menangkap berbagai dinamika yang terjadi di tengah masyarakat sehingga dapat meresponsnya secara lebih peka. “Kampus harus memahami masyarakat, memiliki kepekaan terhadap apa yang dialami masyarakat. Kampus harus bisa merasakannya,” tambahnya. Prof. Nazaruddin Malik juga berbagi pengalaman terkait dunia jurnalistik. Ia mengaku pernah merasa cocok menjadi wartawan. Namun, ketika itu ia mendapatkan pesan dari mantan Rektor UMM Prof. Muhadjir Effendy. (diko)
Lewat Sahur on the Road, UMM Ajak Tunawisma Nikmati Sahur Barbeque di Pinggir Jalan

radarmalang – SAHUR di pinggir jalan dengan konsep barbeque menjadi pemandangan yang tidak biasa di kawasan Pasar Besar Malang pada Kamis (5/3). Kegiatan tersebut digelar oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Sahur On The Road (SOTR) yang berkolaborasi dengan komunitas Muhammadiyah University Riders (MURID). Tidak sekadar membagikan makanan sahur, para relawan juga mengajak tunawisma, tukang becak, hingga pengguna jalan untuk menikmati sahur bersama dengan konsep barbeque sederhana di pinggir jalan. Suasana ini menghadirkan kebersamaan yang hangat antara sivitas akademika dan masyarakat yang menjalani aktivitas di ruang-ruang kota pada waktu dini hari. Kolaborasi bersama komunitas MURID menjadi salah satu unsur penting dalam kegiatan tersebut. Komunitas yang beranggotakan dosen dan karyawan UMM ini turut bergerak bersama dalam rombongan SOTR untuk menjangkau sejumlah titik di pusat Kota Malang. Ketua komunitas MURID Zakarija Achmat SPsi MSi yang akrab disapa Jack menjelaskan, MURID merupakan komunitas motor yang dibentuk sebagai wadah kebersamaan civitas akademika UMM yang memiliki minat pada dunia otomotif sekaligus kegiatan sosial. Komunitas ini resmi terbentuk pada tahun 2018 meskipun embrionya telah muncul dari pertemuan informal antaranggota sebelumnya. ”MURID itu komunitas motor yang anggotanya dosen dan karyawan UMM. Kepanjangannya Muhammadiyah University Riders. Filosofinya adalah murid yang harus terus belajar sepanjang hidup, sejak dari ayunan sampai liang lahat. Penamaan itu juga terinspirasi dari pesan dalam tradisi keilmuan Muhammadiyah yang mendorong setiap individu untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat sekaligus mampu berbagi pengetahuan kepada orang lain,” ujarnya. KELILING KOTA: Komunitas Muhammadiyah University Riders (MURID) keliling Kota Malang untuk melakukan SOTR pada Kamis (5/3). (Humas UMM for Radar Malang) Rombongan SOTR bergerak mengelilingi sejumlah titik di pusat Kota Malang, terutama di kawasan sekitar alun-alun dan pasar yang menjadi tempat beristirahat bagi kelompok masyarakat marjinal. Para relawan berhenti di beberapa lokasi untuk membagikan makanan sahur sekaligus mengajak para tunawisma, tukang becak, serta pengguna jalan yang melintas untuk makan bersama. Konsep barbeque sederhana yang dihadirkan dalam kegiatan ini memberikan pengalaman sahur yang berbeda. Makanan dimasak langsung di lokasi sehingga menghadirkan suasana yang lebih akrab dan hangat. ”Saya sendiri bahkan baru pertama kali makan sahur dengan konsep seperti ini. Begitu ada undangan dari Humas UMM, saya langsung siap. Rasanya menyenangkan karena kita bisa berbagi sekaligus makan bersama dengan masyarakat,” ungkap Jack. Sementara itu, Kepala Humas UMM Maharina Novia Zahro MIkom menjelaskan, kegiatan ini merupakan wujud kepedulian sosial kampus kepada masyarakat. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan kegiatan sosial yang dapat mempertemukan sivitas akademika dengan masyarakat. ”Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Sahur tidak hanya tentang makan, tetapi juga tentang berbagi serta mempererat silaturahmi antara kampus dan masyarakat,” ungkap dia. Melalui SOTR ini, UMM memanfaatkan momentum Ramadan untuk menghadirkan dakwah sosial yang lebih membumi dan inklusif. Kolaborasi bersama komunitas MURID juga menunjukkan bahwa aktivitas kampus tidak hanya berpusat pada ruang akademik, tetapi dapat hadir langsung di tengah masyarakat. (*/adn)
UMM Tuan Rumah Silaturahmi Aisyiyah Jatim, Serukan Semangat Ramadhan Berkemajuan dan Integritas Umat

Portalbontang.com, Malang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjadi tuan rumah perhelatan akbar tingkat provinsi pada Rabu, 4 Maret 2026. Kampus putih ini memfasilitasi kegiatan Silaturahmi Aisyiyah Jawa Timur yang dihadiri oleh ratusan audiens dari berbagai daerah. Acara tersebut secara khusus mengangkat tema “Ramadhan Berkemajuan: Menumbuhkan Kesalehan Personal dan Integritas Berdasarkan Aqidah dan Akhlak”. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag., hadir langsung sebagai pembicara utama. Dalam pemaparannya, ia menyoroti pentingnya pemahaman ajaran Islam yang responsif terhadap pesatnya perkembangan zaman. “Islam Berkemajuan menekankan bahwa pemahaman agama harus bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi tetap mampu merespons perubahan zaman. Dari situ lahir masyarakat yang berilmu, moderat, serta memiliki integritas dalam kehidupan sosial,” ujar Dalilah dalam forum tersebut. Ia menambahkan, nilai spiritual harus dipadukan dengan kecerdasan intelektual agar umat mampu menghadapi tantangan global. “Nilai-nilai keislaman tidak boleh berjalan sendiri tanpa didukung kemajuan ilmu pengetahuan. Ketika keduanya berjalan beriringan, umat Islam dapat membangun masyarakat yang terbuka, berintegritas, dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa,” jelasnya. Selain penguasaan teknologi, semangat Islam Berkemajuan juga mengajak umat Islam untuk aktif memecahkan permasalahan yang ada di masyarakat. “Islam Berkemajuan mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada aqidah dan akhlak, tetapi juga aktif berperan dalam menjawab persoalan-persoalan sosial. Umat didorong untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan, memperkuat integritas, dan memanfaatkan teknologi secara positif,” katanya. Momen bulan suci Ramadhan dinilai sebagai waktu yang paling ideal untuk mengimplementasikan seluruh nilai-nilai mulia tersebut. “Ramadhan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat karakter dan tanggung jawab sosial. Dari situ kita belajar bagaimana nilai-nilai agama dapat diwujudkan dalam tindakan nyata,” ungkapnya. Sementara itu, Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistiyaningsih, M.Si., menyoroti peran strategis institusi pendidikan dalam mencetak generasi unggul. “Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai-nilai integritas, moralitas, dan kepedulian sosial. Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat karakter sekaligus memperluas wawasan keislaman yang berkemajuan,” ujarnya. Pihak rektorat berharap sinergi antara kampus dan elemen masyarakat seperti Aisyiyah dapat terus terjalin erat. “Melalui forum seperti ini, diharapkan lahir pemahaman yang lebih komprehensif mengenai nilai-nilai Islam yang mampu mendorong transformasi personal sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan bangsa,” pungkasnya. ***
Bukber Tak Perlu Minder
Lewat Sahur on the Road, UMM Ajak Tunawisma Nikmati Sahur Barbeque di Pinggir Jalan
Puluhan Tahun Bersama Pers, Rektor UMM Tegaskan Kampus Tak Bisa Berdampak Tanpa Media.

Agroredaksi.com-Hubungan panjang antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan insan pers kembali terjalin hangat melalui kegiatan buka puasa bersama yang digelar di Aula BAU Kampus 3 UMM, Kamis (5/3/2025). Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi antara pimpinan universitas, tim Humas UMM, serta wartawan dari berbagai media. Selain mempererat hubungan, forum ini juga menjadi ruang refleksi mengenai peran media dan perguruan tinggi dalam membaca dinamika masyarakat. Suasana berlangsung akrab sekaligus penuh diskusi tentang perjalanan panjang kolaborasi antara kampus dan media. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan tradisi buka puasa bersama dengan media telah berlangsung sejak masa kepemimpinan Rektor sebelumnya, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. Tradisi tersebut bahkan telah berjalan lebih dari 25 tahun dan menjadi bagian dari hubungan historis antara UMM dan insan pers. “Buka puasa bersama dengan media ini sudah dimulai sejak zaman Pak Muhadjir. Artinya tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 25 tahun yang lalu dan terus dijaga hingga sekarang. Dalam setiap etape perjalanan itu selalu lahir hal-hal baru yang memperkaya hubungan antara kampus dan media. Ini menunjukkan bahwa UMM berkembang bersama insan pers,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa perjalanan media di Indonesia mengalami perubahan yang sangat besar dari waktu ke waktu. Pada masa lalu, media cetak menjadi sumber utama informasi bagi masyarakat. Wartawan memiliki posisi penting dalam menyampaikan berita dan sering kali memiliki akses luas di berbagai ruang publik. Namun perkembangan teknologi kemudian mengubah lanskap media secara drastis. “Dulu media yang kita amati adalah media mainstream, terutama media cetak. Bahkan kalau ke mana-mana membawa kartu pers itu sering kali bisa membuka akses ke banyak tempat. Sekarang situasinya berbeda karena media berkembang menjadi non-mainstream dan semakin tidak terinstitusionalisasi. Pola reproduksi informasi juga menjadi semakin beragam,” jelasnya. Meski terjadi perubahan besar dalam dunia media, Nazaruddin menilai peran pers tetap sangat penting dalam kehidupan sosial. Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk pemikiran publik. Dalam berbagai momentum sejarah bangsa, perkembangan gagasan masyarakat juga banyak dipengaruhi oleh media. Karena itu, hubungan antara kampus dan media menjadi sangat strategis. Menurut Nazaruddin, universitas memiliki tanggung jawab untuk peka terhadap kebutuhan masyarakat. Kampus harus mampu menyerap aspirasi sosial dan menerjemahkannya menjadi gagasan serta solusi. Dari proses tersebut lahir berbagai pemikiran yang dapat mendorong perubahan sosial. Universitas juga menjadi ruang penting untuk merawat cita-cita bangsa menuju masyarakat yang lebih sejahtera. Ia menambahkan bahwa hubungan UMM dan media dapat diibaratkan sebagai simbiosis kultural yang saling menguatkan. Perkembangan media yang terus berubah juga memengaruhi cara kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Meski begitu, komitmen UMM untuk menjalin kolaborasi dengan insan pers tetap sama. Menurutnya, keberadaan media turut membawa UMM berkembang menjadi universitas yang berdampak. “UMM sekarang tidak ada tanpa media. Perubahan media yang semakin beragam juga memengaruhi bagaimana kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Pola reproduksi informasi kini sangat beragam. Semua itu membawa UMM terus bergerak menjadi universitas yang berdampak,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa menjadi universitas berdampak tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik, tetapi juga manfaat nyata bagi masyarakat. Semangat tersebut harus dilandasi niat tulus untuk berbuat baik tanpa kepentingan pribadi maupun kelompok. Selain itu, kerja keras juga menjadi nilai penting yang sering kali diabaikan dalam proses pembangunan. “Berbuat baik itu ketika kita jauh dari kepentingan pribadi atau golongan. Kebaikan harus dirasakan oleh semua orang. Karena itu kita harus bekerja keras dengan sepenuh hati untuk menghasilkan manfaat bagi banyak pihak. Nilai kerja keras ini yang sering kali diabaikan,” pungkasnya(hms/sfl)