Khotbah Idul Adha di UMM, Prof Achmad Jainuri Sentil Gaya Hidup Konsumtif Masyarakat Modern

KLIKMU.CO – Di tengah ancaman krisis iklim dan persoalan sampah makanan yang kian mengkhawatirkan di Indonesia, momen Idul Adha tidak lagi sekadar ritual penyembelihan hewan. Pesan kuat mengenai kepedulian ekologis menggema saat ribuan jamaah Shalat Idul Adha 1447 H memadati area Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (27/5/2026). Ibadah ini menjadi momentum refleksi kolektif untuk menyembelih egoisme dan sifat konsumtif yang merusak tatanan bumi. Bertindak sebagai khatib, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof Dr H Achmad Jainuri MA mengingatkan bahwa setiap ibadah dalam Islam memiliki implikasi sosial yang luas, termasuk kewajiban menjaga kelestarian alam. Dia menyoroti ironi masyarakat modern yang kerap membuang makanan dan terjebak gaya hidup konsumtif, sehingga menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil sampah terbesar di dunia. “Kuliner berlebih hanya akan terbuang di tempat sampah. Kita tidak sadar bahwa masyarakat Indonesia termasuk salah satu penghasil sampah terbesar di dunia. Semangat berkurban harus dimaknai sebagai upaya menyembelih kebiasaan yang tidak baik dan merusak lingkungan,” tegasnya. Lebih jauh, Jainuri menjelaskan bahwa kurban merupakan simbol pengorbanan yang menjadi fondasi kebangkitan peradaban. Ia menilai umat Islam mampu mengembalikan kejayaan masa lalu apabila bersedia menyingkirkan egosentrisme yang menghambat kepedulian terhadap sosial dan lingkungan. “Tiada perjuangan tanpa pengorbanan, dan tiada pengorbanan tanpa halangan. Teladan Nabi Ibrahim dimanifestasikan dalam perjuangan menciptakan kebaikan dan menjaga keseimbangan kehidupan dengan menyingkirkan rintangan dalam diri kita sendiri,” paparnya. Sejalan dengan itu, Wakil Rektor II UMM Dr Ahmad Juanda Ak MM CA mengaitkan nilai pengorbanan dengan dunia pendidikan. Dia menegaskan bahwa pencetakan generasi unggul membutuhkan kerja keras berbasis ketauhidan dan kasih sayang, bukan sekadar slogan keagamaan tanpa dampak nyata. “Keislaman bukan terletak pada kerasnya suara dan panjangnya slogan religius, melainkan pada kemampuan menghadirkan kemanfaatan sosial. Ini sejalan dengan fungsi perguruan tinggi sebagai solution center of excellence,” ungkapnya. Perayaan Idul Adha di Kampus Putih ini meninggalkan pesan esensial bagi umat manusia. Menyembelih hewan kurban hanyalah awal, sementara ujian sesungguhnya adalah kemampuan menahan sifat rakus dan ketidakpedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari. Melalui integrasi kesalehan ritual, pendidikan, dan kepedulian ekologis, diharapkan lahir peradaban unggul yang menebar rahmat bagi semesta. (Faqih/AS)

UMM Konsisten Terapkan Go Green Dalam Penyaluran Ribuan Paket Kurban

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui program Kurban berkonsep go green pada perayaan iduladha 1447 Hijriah. Selama enam tahun terakhir, Kampus Putih konsisten meninggalkan penggunaan plastik sekali pakai dalam distribusi daging Kurban. Pada tahun ini, lebih dari 2.500 paket daging Kurban dibagikan menggunakan kemasan tradisional berupa besek bambu yang dialasi daun segar dan diikat menggunakan tali serabut kelapa. Langkah tersebut menjadi jawaban atas persoalan tumpukan sampah plastik yang kerap muncul setiap momentum iduladha. UMM Tinggalkan Kantong Kresek demi Kelestarian Lingkungan Ketua Panitia Kurban 1447 H UMM, Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.Pd.I., M.H.I., menjelaskan bahwa panitia memastikan tidak ada penggunaan kantong kresek hitam yang berbahaya bagi kesehatan maupun lingkungan. Menurutnya, esensi ibadah Kurban tidak hanya sebatas meraih ketakwaan kepada Allah, tetapi juga harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap kelestarian alam dan peradaban. “Alhamdulillah, kita senantiasa mengusung go green. Jadi, spirit kurban bukan hanya untuk meraih takwa, tapi juga menjaga peradaban dan kelestarian lingkungan,” tegasnya kepada Humas UMM, Selasa (27/5/2026). Penyelenggaraan Kurban tahun ini juga mencatat peningkatan jumlah hewan dibanding tahun sebelumnya. Jika tahun lalu terdapat 18 ekor sapi, tahun ini UMM menyiapkan 20 ekor sapi serta sejumlah kambing yang dipastikan dalam kondisi sehat dan tanpa cacat. Distribusi daging Kurban dilakukan tidak hanya untuk lingkungan internal kampus dan masyarakat sekitar, tetapi juga disalurkan ke Lapas Perempuan dan Lapas Laki-laki Malang. Selain itu, UMM turut mendistribusikan enam ekor sapi hidup ke wilayah Sumbawa. Untuk memastikan pembagian berlangsung adil dan merata, panitia menerapkan sistem penghitungan berdasarkan persentase karkas dan daging murni dari total bobot sapi. “Kami memilih sapinya sesuai dengan bobot. Ketika di sini butuh distribusi atau internal sebanyak 200 atau 150 paket, kita ambil sapi yang berbobot 500 kilogram. Jadi kita menyembelih sapi berdasarkan timbangan, bukan sekadar estimasi atau asumsi,” imbuhnya. Paket daging yang dibagikan memiliki takaran bervariasi, mulai dari 0,75 kilogram hingga 1 kilogram daging murni yang dilengkapi tulang dan jeroan. Kesuksesan distribusi ribuan paket daging ramah lingkungan tersebut merupakan hasil sinergi dosen, karyawan, panitia inti, tim teknis, relawan mahasiswa, hingga 12 Juru Sembelih Halal (Juleha). Yasin menjelaskan, seluruh proses pengemasan dikawal secara ketat agar tetap higienis, alami, dan sejalan dengan misi pelestarian lingkungan kampus. “Pakai besek, dialasi daun go green, kemudian talinya pakai tali serabut,” tambahnya. Momentum iduladha di UMM tahun ini dinilai menghadirkan pesan moral yang kuat bagi masyarakat luas. Melalui konsep Kurban go green, UMM membuktikan bahwa ibadah ritual keagamaan dapat berjalan harmonis dengan tanggung jawab sosial dan ekologis. Inovasi penggunaan besek bambu diharapkan mampu menginspirasi instansi maupun masyarakat umum untuk mulai meninggalkan plastik sekali pakai demi menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Iduladha UMM Jadi Seruan Menjaga Bumi, Ribuan Jamaah Penuhi Helipad Kampus Putih

malangpariwara – Iduladha UMM Jadi Seruan Menjaga Bumi, Ribuan Jamaah Penuhi Helipad Kampus Putih MALANG – Lautan jamaah memadati kawasan Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam pelaksanaan Salat Iduladha 1447 Hijriah, Rabu (27/5/2026). Namun, suasana religius di Kampus Putih kali ini tidak hanya diwarnai gema takbir dan semangat berkurban, melainkan juga seruan kuat untuk menyelamatkan lingkungan dari ancaman krisis ekologi dan budaya konsumtif yang semakin mengkhawatirkan. Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Achmad Jainuri, M.A.,(ist) Dalam khutbahnya, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Achmad Jainuri, M.A., menekankan bahwa makna kurban sejatinya tidak berhenti pada penyembelihan hewan semata. Menurutnya, Iduladha harus menjadi momentum menyembelih sifat egois, rakus, serta kebiasaan hidup berlebihan yang berdampak pada kerusakan alam. Ia menyoroti persoalan sampah makanan yang terus meningkat di Indonesia. Fenomena tersebut dinilai sebagai cerminan masyarakat yang belum mampu mengendalikan pola konsumsi secara bijak. Di tengah kondisi bumi yang menghadapi ancaman perubahan iklim, perilaku membuang makanan justru memperparah persoalan ekologis. “Sering kali makanan berlebih akhirnya terbuang sia-sia. Tanpa disadari, Indonesia menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar di dunia. Karena itu, semangat kurban harus dimaknai sebagai upaya memotong kebiasaan buruk yang merusak lingkungan,” ujarnya di hadapan ribuan jamaah. Menurut Jainuri, sejarah peradaban besar selalu lahir dari pengorbanan. Keteladanan Nabi Ibrahim, lanjutnya, bukan hanya tentang kepatuhan spiritual, tetapi juga tentang keberanian menyingkirkan ego dan kepentingan pribadi demi menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas. Ia menilai tantangan umat Islam saat ini bukan sekadar mempertahankan ritual keagamaan, melainkan menghadirkan nilai-nilai Islam yang mampu menjawab problem nyata masyarakat, termasuk persoalan lingkungan hidup dan ketimpangan sosial. “Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Spirit Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa manusia harus berani mengalahkan kepentingan dirinya sendiri demi menjaga keseimbangan kehidupan,” tuturnya. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A.,(ist) Sementara itu, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menyampaikan bahwa nilai pengorbanan juga menjadi fondasi penting dalam dunia pendidikan. Ia menegaskan perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi pusat akademik, tetapi harus mampu melahirkan solusi nyata bagi masyarakat. Menurutnya, keislaman tidak diukur dari kerasnya slogan religius, melainkan dari sejauh mana ajaran tersebut mampu menghadirkan manfaat sosial dan peradaban yang lebih baik. “Perguruan tinggi harus menjadi pusat solusi. Nilai ketauhidan perlu diwujudkan dalam kerja nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat luas,” ungkapnya. Pelaksanaan Salat Iduladha di UMM pun menjadi refleksi bahwa ibadah memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibanding ritual seremonial. Di tengah meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan, Iduladha menjadi pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga bumi dan memperkuat solidaritas sosial. Melalui pesan yang disampaikan dalam khutbah, UMM mengajak masyarakat menjadikan Iduladha sebagai momentum perubahan gaya hidup. Tidak hanya berbagi daging kurban, tetapi juga membangun kesadaran kolektif untuk mengurangi pemborosan, memperkuat kepedulian sosial, serta merawat alam demi keberlanjutan generasi mendatang.(Djoko W)

Terapkan Go Green, UMM Salurkan 2.500 Paket Daging Qurban Tanpa Ciptakan Sampah Plastik

Indonesiandaily.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyalurkan kurang lebih 2.500 paket daging qurban. Dengan menerapkan konsep Go Green yang mengedepankan tanpa menciptakan sampah plastik sama sekali. Ketua Panitia Kurban 1447 H UMM, Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.Pd.I., M.H.I., menjelaskan bahwa pihaknya memastikan tidak ada penggunaan kantong kresek hitam. Ia pun menegaskan bahwa esensi berkurban bukan semata-mata untuk meraih derajat takwa, melainkan juga menjadi wujud nyata kepedulian manusia dalam menjaga kelestarian alam dan peradaban. “Alhamdulillah, kami senantiasa mengusung Go Green. Jadi, spirit qurban bukan hanya untuk meraih takwa, tapi juga menjaga peradaban dan kelestarian lingkungan,” ungkap Yasin, Rabu (27/05). Klik di sini untuk ikuti kami di Instagram @lldikti7 Pada penyelenggaraan kurban tahun ini, panitia juga mencatatkan peningkatan jumlah hewan dari 18 ekor pada tahun sebelumnya menjadi 20 ekor sapi, beserta sejumlah kambing. Distribusi daging mencakup ranah internal kampus, warga sekitar, Lapas Perempuan dan Laki-laki Malang. Hingga mereka sebarkan ke Sumbawa dalam bentuk Sapi hidup sebanyak enam ekor. Manajemen Penyembelihan Secara Presisi Guna memastikan pembagian yang adil dan merata, Yasin memaparkan bahwa manajemen penyembelihan dilakukan secara presisi. Yakni dengan menghitung persentase karkas dan daging murni dari total bobot sapi, bukan sekadar menebak ukuran. “Kami mengambil sapi yang berbobot 500 kilogram. Jadi sapi disembelih berdasarkan timbangan, bukan sekadar estimasi atau asumsi,” imbuhnya. Panitia membagikan paket dengan takaran bervariasi, mulai dari 0,75 kilogram hingga 1 Kg daging murni yang mereka tambahkan dengan tulang dan jeroan. Sinergi dari pendanaan sukarela dosen dan karyawan menghasilkan kesuksesan distribusi ribuan paket daging dalam besek ramah lingkungan ini. Dengan melibatlan 27 panitia inti, 70 anggota tim teknis, relawan mahasiswa, hingga 12 Juru Sembelih Halal (Juleha). Sejalan dengan Misi Pelestarian Lingkungan Yasin merinci bahwa panitia mengawal seluruh proses pengemasan secara ketat agar tetap higienis, natural, dan sejalan dengan misi pelestarian lingkungan kampus. “Kami menggunakan besek, mengalasi dengan daun, kemudian mengikat dengan tali serabut,” tambahnya. Momentum Iduladha di Universitas Muhammadiyah Malang tahun ini memberikan pesan moral yang sangat kuat bagi masyarakat luas. Melalui qurban gGo Green, UMM membuktikan bahwa ibadah ritual keagamaan dapat berjalan harmonis dengan tanggung jawab sosial dan ekologis. Harapannya, inovasi penggunaan besek bambu ini dapat menginspirasi instansi maupun masyarakat umum untuk mulai meninggalkan plastik. Hingga keberkahan qurban dirasakan oleh alam semesta melalui lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari.

UMM Konsisten Terapkan Kurban Go Green, Salurkan 2.500 Paket Daging dengan Besek Bambu

Reportasemalang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui pelaksanaan kurban berkonsep go green pada Iduladha 1447 Hijriah. Memasuki tahun keenam pelaksanaannya, UMM mendistribusikan lebih dari 2.500 paket daging kurban menggunakan kemasan tradisional berupa besek bambu yang dilapisi daun segar dan diikat dengan tali serabut kelapa. Ketua Panitia Kurban 1447 H UMM, Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.Pd.I., M.H.I., mengatakan konsep tersebut diterapkan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, khususnya kantong kresek hitam yang berpotensi membahayakan kesehatan dan lingkungan. Menurutnya, makna kurban tidak hanya sebatas meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi sarana menjaga kelestarian lingkungan dan peradaban. “Alhamdulillah, kita senantiasa mengusung go green. Jadi, spirit kurban bukan hanya untuk meraih takwa, tetapi juga menjaga peradaban dan kelestarian lingkungan,” ujar Yasin, Rabu (27/5/2026). Pada pelaksanaan kurban tahun ini, jumlah hewan yang disembelih meningkat dibanding tahun sebelumnya. Jika pada 2025 sebanyak 18 ekor sapi, tahun ini UMM menyembelih 20 ekor sapi serta 48 ekor kambing atau domba yang telah dipastikan dalam kondisi sehat dan bebas cacat. Ketua Panitia Kurban 1447 H UMM, Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.Pd.I., M.H.I. Distribusi daging kurban tidak hanya menyasar sivitas akademika dan masyarakat sekitar kampus, tetapi juga diberikan kepada penghuni Lapas Perempuan dan Lapas Laki-Laki Malang. Selain itu, UMM juga menyalurkan enam ekor sapi hidup ke Sumbawa sebagai bagian dari program pemerataan manfaat kurban. Untuk menjamin pembagian yang adil dan merata, panitia menerapkan sistem pengelolaan berbasis data bobot hewan. Setiap sapi dipilih sesuai kebutuhan jumlah paket yang akan didistribusikan. “Kami memilih sapi berdasarkan bobotnya. Ketika membutuhkan 150 hingga 200 paket, kami menyesuaikannya dengan sapi berbobot sekitar 500 kilogram. Jadi penyembelihan dilakukan berdasarkan timbangan, bukan sekadar estimasi,” jelasnya. Setiap paket daging kurban berisi antara 0,75 kilogram hingga 1 kilogram daging murni yang dilengkapi tulang dan jeroan. Seluruh proses distribusi melibatkan 27 panitia inti, 70 anggota tim teknis, relawan mahasiswa, serta 12 Juru Sembelih Halal (Juleha). Yasin menambahkan, proses pengemasan dilakukan secara higienis dengan tetap mempertahankan prinsip ramah lingkungan melalui penggunaan bahan-bahan alami. “Pakai besek, dialasi daun, kemudian talinya menggunakan tali serabut,” katanya. Melalui program kurban go green ini, UMM ingin menunjukkan bahwa ibadah keagamaan dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan. Inovasi penggunaan besek bambu diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi berbagai institusi dan masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, sehingga manfaat kurban tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga lingkungan yang lebih bersih dan lestari.

Ribuan Jamaah Padati Helipad UMM, Khotbah Iduladha Sentil Isu Sampah Makanan dan Krisis Ekologi

Di tengah ancaman krisis iklim dan permasalahan sampah makanan yang kian mengkhawatirkan di Indonesia, momen Iduladha tidak lagi sekadar ritual penyembelihan hewan. Pesan tajam mengenai penyelamatan ekologis ini menggema kuat saat ribuan jamaah salat Iduladha 1447 Hijriah memadati area Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 27 Mei 2026. Ibadah ini menjadi momentum refleksi kolektif untuk menyembelih egoisme dan sifat konsumtif yang terus merusak tatanan bumi. Bertindak sebagai khatib, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Achmad Jainuri, M.A., mengingatkan bahwa setiap bentuk ibadah dalam Islam memiliki implikasi sosial yang luas, termasuk kewajiban mutlak menjaga kelestarian alam. Ia menyoroti ironi masyarakat modern yang kerap membuang-buang makanan dan terjebak pada gaya hidup jangka pendek, sehingga menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil sampah terbesar di dunia. “Kuliner berlebih hanya akan terbuang di tempat sampah, kita tidak sadar bahwa masyarakat Indonesia termasuk salah satu penghasil sampah terbesar di dunia. Semangat berkorban yang ditanamkan harus dimaknai sebagai upaya menyembelih kebiasaan yang tidak baik dan merusak lingkungan,” tegasnya. Lebih jauh, Jainuri menguraikan bahwa kurban adalah simbol pengorbanan yang menjadi fondasi kebangkitan sebuah peradaban. Ia menilai umat Islam sesungguhnya mampu mengembalikan kejayaan masa lalu asalkan bersedia menyingkirkan egosentrisme yang selama ini menghalangi kepedulian manusia terhadap tatanan sosial maupun alam sekitar. “Tiada perjuangan tanpa pengorbanan, dan tiada pengorbanan tanpa halangan. Teladan Nabi Ibrahim dimanifestasikan dalam perjuangan untuk menciptakan kebaikan dan melestarikan keseimbangan tatanan kehidupan di alam ini dengan menyingkirkan rintangan serta kesulitan yang ada pada diri kita sendiri,” paparnya. Sejalan dengan napas perjuangan tersebut, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., mengaitkan nilai pengorbanan dengan dedikasi di dunia pendidikan. Ia menjelaskan bahwa mencetak generasi unggul membutuhkan kerja keras yang didasari ketauhidan berbalut kasih sayang, guna menolak praktik keberagamaan yang sekadar mengandalkan slogan tanpa memberikan kemanfaatan yang nyata bagi peradaban. “Keislaman bukan terletak pada kerasnya suara dan panjangnya slogan religius melainkan pada kemampuan menghadirkan kemanfaatan sosial. Ini sangat sejalan dengan fungsi perguruan tinggi agar memberikan dampak langsung, kemanfaatan kepada masyarakat luas, yakni kampus UMM sebagai solution center of excellence,” ungkap Juanda. Pada akhirnya, perayaan Iduladha di Kampus Putih ini menitipkan pesan esensial bagi seluruh umat manusia. Menyembelih hewan kurban hanyalah permulaan, ujian sesungguhnya terletak pada bagaimana manusia secara konsisten memotong sifat rakus dan ketidakpedulian sosial dalam keseharian. Melalui integrasi antara kesalehan ritual, pendidikan, dan kepedulian ekologis, masyarakat diharapkan mampu bergandengan tangan memelopori peradaban unggul yang menebar rahmat bagi semesta, menjadikan setiap keringat perjuangan sebagai solusi konkret atas krisis zaman.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Tinggalkan Kresek, UMM Konsisten Terapkan Go Green Dalam Penyaluran Ribuan Paket Kurban

Masalah tumpukan sampah plastik selalu menjadi bayang-bayang kelam di balik semaraknya perayaan Iduladha setiap tahunnya. Menjawab tantangan krisis lingkungan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sudah 6 tahun konsisten dalan mengambil langkah proaktif dengan menggelar kurban berkonsep go green pada perayaan Iduladha 1447 Hijriah. Meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai, Kampus Putih ini mendistribusikan lebih dari 2.500 paket daging kurban menggunakan kemasan tradisional berupa besek bambu yang dialasi daun segar dan diikat dengan tali serabut kelapa. ​Ketua Panitia Kurban 1447 H UMM, Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.Pd.I., M.H.I., menjelaskan bahwa panitia memastikan tidak ada penggunaan kantong kresek hitam yang berbahaya bagi kesehatan maupun lingkungan. Pihaknya menegaskan bahwa esensi berkurban bukan semata-mata untuk meraih derajat takwa di hadapan Tuhan, melainkan juga wujud nyata kepedulian manusia dalam menjaga kelestarian alam dan peradaban. ​”Alhamdulillah, kita senantiasa mengusung go green. Jadi, spirit kurban bukan hanya untuk meraih takwa, tapi juga menjaga peradaban dan kelestarian lingkungan,” tegas 27 Mei kepada Humas UMM. ​Penyelenggaraan kurban tahun ini juga mencatatkan peningkatan jumlah hewan dari 18 ekor pada tahun sebelumnya menjadi 20 ekor sapi, beserta sejumlah kambing yang disiapkan tanpa cacat. Distribusi daging mencakup ranah internal kampus, warga sekitar, Lapas Perempuan dan Laki-laki Malang, hingga disebar ke Sumbawa dalam bentuk Sapi hidup sebanyak 6 ekor. Untuk memastikan pembagian yang adil dan merata, Yasin memaparkan bahwa manajemen penyembelihan dilakukan secara presisi dengan menghitung persentase karkas dan daging murni dari total bobot sapi, bukan sekadar menebak ukuran. ​”Kami memilih sapinya sesuai dengan bobot. Ketika di sini butuh distribusi atau internal sebanyak 200 atau 150 paket, kita ambil sapi yang berbobot 500 kilogram. Jadi kita menyembelih sapi berdasarkan timbangan, bukan sekadar estimasi atau asumsi,” imbuhnya. ​Paket yang dibagikan memiliki takaran bervariasi, mulai dari 0,75 kilogram hingga 1 kilogram daging murni yang ditambahkan dengan tulang dan jeroan. Kesuksesan distribusi ribuan paket daging dalam besek ramah lingkungan ini merupakan hasil sinergi dari pendanaan sukarela dosen dan karyawan, yang dieksekusi oleh 27 panitia inti, 70 anggota tim teknis, relawan mahasiswa, hingga 12 Juru Sembelih Halal (Juleha). Yasin merinci bahwa seluruh proses pengemasan dikawal ketat agar tetap higienis, natural, dan sejalan dengan misi pelestarian lingkungan kampus. ​”Pakai besek, dialasi daun go green, kemudian talinya pakai tali serabut,” tambahnya. ​Momentum Iduladha di Universitas Muhammadiyah Malang tahun ini memberikan pesan moral yang sangat kuat bagi masyarakat luas. Melalui kurban go green, UMM membuktikan bahwa ibadah ritual keagamaan dapat berjalan harmonis dengan tanggung jawab sosial dan ekologis. Harapannya, inovasi penggunaan besek bambu ini dapat menginspirasi instansi maupun masyarakat umum untuk mulai meninggalkan plastik sekali pakai, sehingga keberkahan kurban turut dirasakan oleh alam semesta melalui lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Salurkan Puluhan Hewan Kurban dari Malang Raya Hingga Sumbawa

Mengusung semangat kepedulian sosial yang inklusif, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyalurkan puluhan hewan kurban secara masif. Pendistribusian tahun ini difokuskan pada perluasan jangkauan, tidak hanya menyasar kantong-kantong persyarikatan dan wilayah pelosok, tetapi juga didistribusikan secara khusus bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) serta sekolah-sekolah mitra. Koordinator Distribusi Hewan Kurban UMM, Ir. Ali Mahmud, S.Pt., M.Pt., memaparkan bahwa pendistribusian puluhan ekor sapi dan kambing tahun ini menjangkau teritori yang sangat luas, membentang dari Malang Raya hingga ke Pulau Sumbawa. Ia menambahkan bahwa penyaluran ini turut mengakomodasi berbagai permintaan dari elemen masyarakat, yayasan, organisasi mahasiswa, hingga sekolah-sekolah yang selama ini menjadi penyumbang mahasiswa terbanyak bagi Kampus Putih. “Tahun ini ada 18 ekor sapi dan kurang lebih 50 ekor kambing atau domba. Itu tersebar mulai dari Sumbawa, lalu di Malang Raya seperti Pimpinan Cabang dan Ranting Muhammadiyah, sekolah-sekolah penyumbang mahasiswa terbanyak seperti SMAN Batu dan SMA Muhammadiyah Gondanglegi, hingga organisasi mahasiswa,” ungkapnya 26 Mei kepada Humas UMM. Selain memastikan pemerataan distribusi, UMM juga sangat menjamin kualitas dan kelayakan seluruh hewan yang disalurkan. Ali menegaskan bahwa seluruh hewan kurban, baik sapi maupun kambing dan domba, telah dipastikan lolos dalam pemeriksaan kesehatan hewan kurban secara ketat. Langkah preventif ini dilakukan guna menjamin bahwa hewan-hewan tersebut berada dalam kondisi prima, terbebas dari segala macam penyakit menular, serta telah memenuhi standar syariat berkurban sebelum diserahkan kepada para penerima manfaat. Lebih lanjut, Ali menjelaskan bahwa UMM memberikan perhatian khusus bagi warga binaan dengan menyesuaikan wujud pendistribusian berdasarkan ketersediaan fasilitas pemotongan di masing-masing lokasi. Lapas khusus laki-laki mendapatkan hewan kurban hidup, sementara Lapas perempuan menerima paket daging siap olah guna menyiasati keterbatasan tenaga jagal. “Untuk Lapas 1 Lowokwaru yang laki-laki, kita akan memberikan satu ekor sapi. Sedangkan untuk Lapas perempuan, karena tidak ada yang memotong, jadi kita berikan paket daging kurban dari hasil pemotongan di kampus,” tegasnya. Di tengah masifnya proses distribusi tersebut, UMM tetap mengedepankan aspek keberlanjutan lingkungan dengan menerapkan konsep kurban Go Green. Kampus Putih mengganti total penggunaan kantong plastik sekali pakai dengan wadah organik yang ramah lingkungan sekaligus membawa dampak ekonomi bagi perajin lokal. “Ini konsisten sudah bertahun-tahun kita laksanakan. Kurbannya Go Green, jadi tidak menggunakan kresek atau plastik, tapi menggunakan besek bambu dari kerajinan tangan UMKM dan daun pisang dari kebun sendiri,” tambah Ali. Dampak positif pendistribusian hewan kurban ini dirasakan langsung oleh berbagai pihak, salah satunya adalah perwakilan institusi pendidikan yang selama ini menjalin sinergi erat dengan UMM. Guru SMA Negeri 1 Kota Batu, Eko, menyatakan apresiasi dan rasa syukurnya atas perhatian kampus putih yang telah menyalurkan hewan kurban ke sekolahnya. “Kami mengucap terima kasih banyak kepada UMM. Semoga hewan kurban yang disalurkan ini bermanfaat bagi umat,” ujar Eko. *(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Tak Hanya Dosen dan Mahasiswa, Tendik UMM Buktikan Diri Tembus 10 Besar Lomba Puisi Nasional

Panggung prestasi tak melulu menjadi milik dosen dan mahasiswa, tenaga kependidikan (tendik) nyatanya juga mampu unjuk gigi dan mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional. Bukti nyata ini ditorehkan oleh Agung Prabowo, seorang tendik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sukses menembus 10 besar harapan dalam kompetisi bergengsi Lomba Menulis Bersama Uda Agus (LMBUA). Kompetisi bergengsi yang digagas oleh komunitas Forum Lingkar Pena sejak tahun 2011 tersebut mengangkat tema besar “Indonesiaku”. Pada ajang tahun ini, peserta dari berbagai penjuru Nusantara bersaing ketat untuk memperebutkan posisi terbaik yang dinilai langsung oleh sastrawan kenamaan nasional, Helvy Tiana Rosa. Agung menjelaskan bahwa karyanya berhasil lolos kurasi dari ratusan naskah yang masuk untuk kemudian dibukukan bersama penulis-penulis hebat lainnya. “Pesertanya sekitar 120 orang, lalu dikurasi menjadi sekitar 70 karya untuk dibukukan oleh Helvy Tiana Rosa. Alhamdulillah, saat diumumkan pada 16 mei lalu, karya saya masuk 10 besar harapan,” ungkapnya. Prestasi ini diraih lewat karya puisinya yang bertajuk “Ironi di Negeriku”. Puisi tersebut menjadi medium kritik sosial terhadap kebijakan pemerintah yang memicu ketimpangan, utamanya dalam menghargai perjuangan di dunia pendidikan formal. Ia menyoroti fenomena di mana gelar akademik seolah kehilangan nilainya di tengah dinamika program-program baru yang menuai pro dan kontra di masyarakat. “Puisi itu tentang ironi negeri ini. Ada program-program yang menurut saya terasa tidak adil bagi mereka yang sudah berjuang menempuh pendidikan sarjana bertahun-tahun,” tegasnya. Bagi pria yang kesehariannya bertugas di balik layar administrasi kampus ini, sastra adalah wadah elegan untuk menyampaikan kritik. Menariknya, rekam jejak Agung sebelumnya lebih banyak berkutat pada literatur nonfiksi, sehingga puisi menjadi medium baru untuk mengeksplorasi kreativitasnya. Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa keuntungan terbesar dari ajang ini adalah kesempatan bersejarah bersanding dengan tokoh sastra Indonesia. “Sebelumnya saya banyak menulis buku nonfiksi. Tapi belakangan ini saya ingin mencoba tantangan baru lewat puisi,” paparnya. Lewat puisinya, Agung tidak sekadar menata kata, tetapi mengirimkan pesan kuat. Ia membuktikan bahwa semangat literasi, ketajaman berpikir kritis, dan prestasi gemilang dapat lahir dari siapa saja yang memiliki tekad, termasuk dari mereka yang selama ini sunyi bekerja menjaga denyut nadi universitas. (*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dua Mahasiswa UMM Sabet Juara Golf Nasional

Olahraga golf acap kali dipandang sekadar sebagai hobi eksklusif kalangan atas atau sekadar jalan santai. Padahal, olahraga ini sejatinya menuntut ketahanan fisik ekstra dan perhitungan presisi di atas padang rumput yang luas. Menepis anggapan miring tersebut sekaligus membuktikan kualitas, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menaklukkan teriknya cuaca Surabaya dan sengitnya persaingan dengan memborong gelar juara. Prestasi membanggakan ini ditorehkan pada ajang bergengsi Pertandingan Golf Piala Wali Kota Surabaya yang digelar di Bukit Darmo Golf, 16–17 Mei 2026 lalu yang diikuti oleh 200 pegolf dari berbagai daerah. Sebagai Kampus Inovasi, Mandiri, dan Berdampak, UMM selalu mewadahi potensi mahasiswanya. Pada kompetisi yang diikuti oleh puluhan peserta unggulan dari berbagai rentang usia tersebut, kontingen Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Golf UMM sukses membawa pulang dua piala sekaligus. Muhammad Fikri Fakhruddin, mahasiswa Program Studi Agribisnis angkatan 2023, tampil apik dengan menyabet juara pada kategori Best Gross Class A+. Kesuksesan ini disempurnakan oleh delegasi lainnya, Aisya Allea, mahasiswa Program Studi Psikologi angkatan 2024, yang mantap mengamankan predikat Runner Up Gross pada kategori Ladies. Pertandingan yang berjalan selama dua hari berturut-turut ini jelas bukan perkara mudah. Para peserta diwajibkan berjalan kaki menempuh 18 hole setiap harinya di bawah sengatan matahari dari siang hingga sore. Menghadapi tantangan berat tersebut, tim UKM Golf UMM telah mematangkan persiapan melalui pemusatan latihan intensif sejak dua minggu sebelum turnamen. Fikri menjelaskan bahwa kunci utama kemenangannya terletak pada kemampuan mengatur strategi manajemen lapangan dan ketepatan memilih alat untuk mencapai target sasaran. “Strateginya yaitu kita melakukan management course di lapangan dengan perhitungan jarak agar bisa menentukan penggunaan stik iron yang tepat untuk mencapai target,” jelas Fikri. Lebih lanjut, kompetisi ini tidak hanya memeras keringat, tetapi juga menjadi ajang melatih seni pengambilan keputusan di bawah tekanan. Akurasi pukulan sangat bergantung pada ketenangan pikiran, sedikit saja fokus goyah akibat rasa lelah, maka strategi yang telah disusun dapat berantakan. Menghadapi hal tersebut, mental juara Fikri tidak lepas dari fasilitas dan ekosistem kampus yang menunjang. Ia menuturkan bahwa dukungan pendanaan penuh dari pihak kampus, mulai dari pendaftaran hingga akomodasi, membuat para atlet bisa bertanding tanpa memikirkan beban biaya logistik yang terbilang sangat mahal dalam olahraga ini. “Atlet ini jika tidak mendapat dukungan kampus pasti benar-benar mengeluarkan banyak biaya karena pengeluaran di golf itu sangat besar, alhamdulillah masalah biaya dari kampus semuanya teratasi,” ungkap pemuda tersebut dengan rasa syukur. Prestasi bergengsi di ajang Piala Wali Kota Surabaya ini bukanlah titik akhir, melainkan sebuah batu loncatan. Ke depannya, Fikri bertekad kuat untuk terus mengasah kemampuannya demi mewujudkan impian besar menjadi atlet golf profesional yang kelak menembus panggung internasional. Menutup perbincangan, ia menitipkan pesan pemantik semangat kepada rekan-rekan mahasiswa lain yang sedang merintis jalan di berbagai bidang minat dan bakat. “Kalau kalian memang memiliki niat, usahakan dengan sungguh-sungguh dan jangan setengah-setengah, agar semua yang dibangun bisa terbentuk secara maksimal,” pungkasnya. Menanggapi torehan gemilang ini, Kepala Bagian (Kabag) Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., turut memberikan apresiasi tinggi. Ia menegaskan bahwa kemenangan ini adalah bukti nyata dari keberhasilan pembinaan dan komitmen institusi dalam mengawal potensi mahasiswa. “UMM senantiasa berkomitmen untuk memfasilitasi dan mengembangkan minat bakat mahasiswa secara penuh, tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga non-akademik. Keberhasilan kontingen UKM Golf memborong juara ini sangat membanggakan. Kami berharap fasilitas dan ekosistem pendukung yang terus disiapkan kampus dapat melahirkan lebih banyak atlet berprestasi yang siap bersaing di level nasional hingga internasional,” tegasnya.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman